Tampilkan postingan dengan label Kesaktian Arjuna Pandawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaktian Arjuna Pandawa. Tampilkan semua postingan
Nakula adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putra Madri dan Pandu. Ia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putra Dewa Aswin, dewa tabib kembar.

Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya.

Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Mahaprasthanikaparwa. Selain tampan, Nakula juga memiliki kemampuan dan Kesaktian khusus dalam merawat kuda dan astrologi.
Kuwaluhan.com

Senjata yang dimiliki Nakula adalah :
- Pedang
- Cupu "Air Kehidupan"

Nakula merupakan titisan Batara Aswin, dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mempunyai Kekuatan Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi Banyu Panguripan atau "Air kehidupan" pemberian Batara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta.

KESAKTIAN DAN SENJATA SADEWA

Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistirabahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Wrehaspati, guru para dewa.

Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu meramalkan kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua.
Senjata Yang dimiliki Sadewa adalah Pedang.
Kuwaluhan.com

Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya, Sadewa berperan sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Ia menyadari bahwa penderitaan para Pandawa adalah akibat ulah licik Sangkuni. Maka ia pun bersumpah akan membunuh orang itu apabila meletus perang saudara melawan Korawa.

Setelah masa hukuman berakhir, pihak Korawa menolak mengembalikan hak-hak Pandawa. Upaya perundingan pun mengalami kegagalan. Perang di Kurukshetra pun meletus. Meskipun jumlah kekuatan pihak Pandawa lebih sedikit, namun mereka memperoleh kemenangan.

Pada hari ke-18 Sangkuni bertempur melawan Sadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni dengan pedangnya. Sementara itu dalam pewayangan Jawa, Sangkuni bukan mati di tangan Sadewa, melainkan di tangan Bimasena atau Werkudara.

Kesaktian Dan Senjata Ampuh yang dimiliki Nakula Sadewa dalam Mahabharata

Raden Werkudara atau Bima merupakan putra kedua dari Dewi Kunti dan Prabu Pandudewanata. Tetapi ia sesungguhnya adalah putra Batara Bayu dan Dewi Kunti sebab Prabu Pandu tidak dapat menghasilkan keturunan.

Ini merupakan kutukan dari Begawan Kimindama. Namun akibat Aji Adityaredhaya yang dimiliki oleh Dewi Kunti, pasangan tersebut dapat memiliki keturunan.

Kuwaluhan.com

Pada saat lahirnya, Werkudara berwujud bungkus. Tubuhnya diselubungi oleh selaput tipis yang tidak dapat disobek oleh senjata apapun. Hal ini membuat pasangan Dewi Kunthi dan Pandu sangat sedih. Atas anjuran dari Begawan Abiyasa, Pandu kemudian membuang bayi bungkus tersebut di hutan Mandalasara.

Selama delapan tahun bungkus tersebut tidak pecah-pecah dan mulai berguling kesana kemari sehingga hutan yang tadinya rimbun menjadi rata dengan tanah. Hal ini membuat penghuni hutan kalang kabut. Selain itu para jin penghuni hutan pun mulai terganggu, sehingga Batari Durga, ratu dari semua makhluk halus, melapor pada Batara Guru, raja dari semua dewa.

Lalu, raja para dewa itu memerintahkan Batara Bayu, Batari Durga, dan Gajah Sena, anak dari Erawata, gajah tunggangan Batara Indra, serta diiringi oleh Batara Narada untuk turun dan memecahkan bungkus bayi tersebut.

Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain;
- Kuku Pancanaka
- Gada Rujakpala
- Alugara
- Bargawa (kapak besar) 
- Bargawasta, 

Sedangkan Ilmu Kesaktian yang dimiliki Werkudara adalah ;
- Bandung bandawasa
- Ketuk lindu 
- Blabak pangantol-antol. 

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu;
- Gelung Pudaksategal
- Pupuk Jarot Asem
- Sumping Surengpati
- Kelatbahu Candrakirana
- ikat pinggang Nagabanda
- Celana Cinde Udaraga

Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain;
- Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji
- Gelang Candrakirana
- Kalung Nagasasra
- Sumping Surengpati 
- pupuk Pudak Jarot Asem.

Kesaktian dan Senjata Bima (Werkudara), kisah Mahabharata

Yudistira adalah ksatria tertua dari para Pandawa dan merupakan salah satu tokoh Protagonis dalam Cerita Mahabarata. Yudistira adalah putra dariPandu dan Dewi Kunti . Ia adalah raja dari kerajaan Kuru yang pemerintahannya berpusat di Hastinapura. Dalam pewayangan, Yudistira mendapat gelar "Prabu" dan dikenal sebagai Puntadewa .Dan kerajaannya disebut Kerajaan Amarta.


Dalam bahsa Sansekerta, Yudistira berarti"teguh atau kokoh dalam peperangan" .Yudistira juga dikenal dengan sebutanDharmaraja yang berarti "raja Dharma", karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya. 

Yudistira memiliki banyak julukan, dan diantaranya adalah:

- Ajataśatru , "yang tidak memiliki musuh". 
- Bharata , "keturunan Maharaja Bharata". 
-  Dharmawangsa atau Dharmaputra , "keturunan Dewa Dharma". 
-  Kurumukhya , "pemuka bangsa Kuru". 
-  Kurunandana , "kesayangan Dinasti Kuru". 
- Kurupati , "raja Dinasti Kuru". 
-  Pandawa , "putera Pandu". 
-  Partha , "putera Prita atau Kunti". 
- Puntadewa , "derajat keluhurannya setara para dewa". 
- Yudistira , "pandai memerangi nafsu pribadi". 
- Gunatalikrama , "pandai berbicara bahasa". 
-  Samiaji , "menghormati orang lain bagai diri sendiri". 

SIFAT DAN KESAKTIAN YUDISTIRA

Sifat yang dimiliki Yudistira sudah tercermin dalam nana -nama julukannya. Namun sifat yang paling menonjol dari yudistira adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. 

Dalam Mahabarata , Yudistira memiliki kelebihan atau kemampuan dalam memainkan tombak, sedangkan dalam pewayangan Jawa, Yudistira memiliki kesaktian atau kemampuan batin, misalnya ia pernah dikisahkan mampu menjinakkan kewan-hewan buas di hutan Wanamarta hanya dengan meraba kepala mereka. 

Yudistira memiliki beberapa pusaka, antara lain :
- jamus Kalimasada 
- Tunggulnaga 
- robyong Mustikawarih 
- Tombak

Pusaka Jamus Kalimasada itu berupa kitab, Tunggulnaga berupa payung, seedangkan Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang ada di dalam kulit Yudistira.
Kalimasada dan Tunggulnaga menjadi pusaka utama pemerintah Amarta, sedangkan Robyong Mustikawarih adalah pusaka pemberian Gandarma , patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Ketika Yudistira sudah sampai pada ambang batas kesabarannya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu berubah menjadi raksasa besar yang berkulit putih bersih. 

Ada perbedaan kisah tentang kelahiran Yudistira, Dalam kitab Mahabarata bagian pertama atau Adiparwa , mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu, ayah Yudistira yang tanpa sengaja telah membunuh Brahmana bernama Resi Kindama saat itu (Resi Kindama) dan istrinya sedang bersenggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya, Resi Kindama mengutuk pandu, bahwa ia akan mati ketika mengawini istrinya.Dengan penuh penyesalan, pandu kemudian meniggalkan tahta Hastinapura untuk pergi bertapa demi mengurangi hawa nafsunya. Kedua istrinya yaitu Kuntidan Madri pun setia mengikuti Pandu. 

Pada suatu hari, Pandu mengutarakan ingin memiliki anak, Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya dengan mantra itu.Mantra iru adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama mereka itu diberi nama Yudistira. Dharma adalah dewa keadilan dan kebijaksanaan, dan Yudistira pun mewarisi sifat Dharma sepanjang hidupnya. 

Dalam versi pewayangan Jawa,Puntadewa atau Yudistira adalah anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Bathara Dharma hanya sekedar menolong kelahiran Puntadewa dan member restu untuknya. Berkat bantuan Dharma, Puntadewa lahir dari ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa juga melukiskan bahwa Yudistira adalah seorang manusia berdarah putih, yang berarti sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran. 

Yudhistira dan para Pandawa yang lain mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata Negara kepada Resi Krepa bersama dengan saudara-saudara sepupu mereka yaitu Korawa. Dalam pendidikan ini, Yudistira adalah murid yang paling pandai.Setelah itu, Pamdawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam hal ini, Arjuna adalah murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah, sementara Yudistira lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.

Kesaktian Yudistira Pandawa Lima dan Senjata Ampuhnya