Tampilkan postingan dengan label Kematian Sengkuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kematian Sengkuni. Tampilkan semua postingan
Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. Dia memiliki aji Candra birawa yang dapat menciptakan ribuan raksasa ganas pemangsa manusia.


Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raksasa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raksasa-raksasa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu.

Menurut Kresna sekalipun Salya sakti tiada tanding gagah tak ada lawan, batinnya lebih menyayangi Pandawa. Berpihaknya kepada Kurawa karena terjebak kelicikan Sengkuni. Padahal semula ia akan membantu Pandawa. Untuk mengetahui rahasia kelemahannya, diutuslah nakula Sadewa menghadap Raja Salya.

Tatkala nakula Sadewa menghadap Salya, dengan nada sedih si kembar berkata: “Duh, Paman Prabu, kedatangan hamba menghadap paduka, hanya untuk menyerahkan jiwa raga hamba berdua. Hamba malu oleh saudara-saudara hamba, apabila balatentara Pandawa dan saudara-saudara hamba akan dengan mudah paduka hancurkan. Kesaktian paduka tiada tandingannya. Karena itu hamba berdua ingin didahulukan dibunuh sebelum paduka berhadapan dengan mereka,” ujarnya Nakula Sadewa.

Sejenak Raja Salya berdiam diri wajahnya membersit perasaan haru yang mendalam. Ia melihat dan membayangkan adiknya, madrim yang telah tiada. ia introspeksi diri betapa rakusnya ia menghirup kelezatan duniawi, sementara yang muda harus segera mengakhiri hidupnya.

Terbayang pula kejadian dahulu ia telah memaksa membunuh mertuanya yang baik hati dan berbudi luhur hanya karena berwajah raseksa. Ia mengakui bahwa Ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri, bahwa bentuk luarnya yang buruk ternyata dalamnya berisikan emas.

Lalu ia bersabda: “Keponakanku, sebenarnya aku lebih menyayangi Pandawa. Hanya saja aku telah terjebak oleh kelicikan Sakuni yang memaksa aku berada di pihak Kurawa. Tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur kini aku harus berhadapan dengan mereka yang aku sayangi. Memang kesaktianku takkan ada tandingnya, kecuali oleh seseorang yang memiliki darah putih. Di tangan dialah rahasia kematianku. Sekarang kembalilah engkau ke kubumu dan sampaikan salam kasihku kepada mereka,” kata Raja Salya.

Salya dengan sengaja telah membuka rahasia kematiannya kepada pandawa melalui Nakula Sadewa. Tetapi Salya pun tidak mengetahui, adakah di antara para Pandawa yang memiliki darah putih.

Ketika hal itu disampaikan kepada Pandawa, Kresna langsung menunjuk Yudhistira sebagai lawan raja Mandaraka itu. Maka dengan hati yang amat berat terpaksa Yudhistira maju ke medan perang menghadapi kakak kandung ibu misannya (Madrim).

Ketika Salya telah berada di medan perang, ternyata ia pun tak sampai hati harus berhadapan dengan Yudhistira. Maka dengan berat hati pula terpaksa ia memerintahkan ajiannya raseksa Candra Bairawa.

Sementara itu balatentara pandawa telah siap bertempur dengan raksasa. Tetapi kresna merasa khawatir atas keselamatan tentara Pandawa, karena prajurit-prajurit itu akan dengan mudah menjadi mangsa raksasa-raksasa ganas itu. Segera ia memerintahkan semua tentara membuka pakaian keprajuritannya, karena hanya orang-orang yang berpakaian prajurit saja yang akan menjadi sasarannya.

Tetapi tidak demikian dengan Yudhistira, ia menolak membuka pakaian keprajuritannya, karena itu berarti telah menipu atau membohong yang sangat tabu baginya.

Maka dengan sekejap saja Yudhistira telah berada dalam lingkaran para raseksa siap untuk dimangsa. Tapi tiba-tiba raseksa itu terperanjat karena mencium bau darah putih seperti darah Bagaspati pemilik aji Candra Bairawa. Maka dengan serempak si raseksa itu berkata: “WAhhh, dia gusti kita,” serunya berulang kali. Dan seketika itu musnahlah makhluk-makhluk itu masuk ke dalam tubuh Yudhistira.

Dari kejauhan Salya menyaksikan ajiannya telah menyatu dengan Yudhistira. Ia semakin yakin, bahwa kematiannya ada di tangan manusia berbudi luhur adil palamarta yang ternyata berdarah putih.

Lalu ia berkata” “Anakku, lepaslah panahmu. Aku telah waspada engkaulah satu-satunya ksatria yang akan mengantarku ke alam asal,” ujarnya pasrah. Dengan memejamkan kedua matanya, Yudhistira melepas panah dan rebahlah raja mandaraka itu di atas kereta perangnya.

Ia mati dengan tersenyum. Sebaliknya Yudhistira sangat sedih karena seumur hidup jangan pun membunuh, memukul pun tak pernah. Kresna segera menghibur dengan mengatakan, bahwa Yudhistira telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Sejarah Penyebab Kematian Raja Salya Dalam Perang Baratayudha

Drestadyumna merupakan kakak bagi Dropadi dan Srikandi, keturunan Raja Drupada yang berasal dari Kerajaan Panchala. Ia berada di pihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Dialah yang membunuh Resi Drona.

Saat Sang Resi tertunduk lemas dan kehilangan seluruh daya kekuataanya, sebagai akibat dari kabar bohong tentang meninggalnya sang putera Aswatama, Drestadyumena maju dan memenggal leher Sang Resi Drona.


Dengan taktik Kresna juga, Begawan Drona, ayah Aswatama meninggal di tangan Drestadyumna putera Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Kresna meminta Bima untuk membunuh gajah bernama Aswatama. Sebelum perang dimulai Begawan Drona pernah berkata bahwa ia tidak akan mengangkat senjata jika menerima kabar buruk dari orang yang diakui kejujurannya.

Bima melakukan perintah Kresna, ia membunuh gajah bernama Aswatama, setelah itu ia teriak sekeras-kerasnya, bahwa Aswatamatelah tewas. Kabar itu terdengar oleh Begawan Drona, maka ia pun bertanya kepada Yudhistira yang terkenal akan kejujurannya, Yudhistira kemudian menjawab bahwa benar Aswatama telah tewas, tetapi ia tidak bisa memastikan apakah manusia atau bukan.Karena kabar itulah, Begawan Drona kehilangan semangat hidupnya dan ia gugur di tangan Drestadyumna.

Mengetahui bahwa ayahnya tewas di tangan Drestadyumna, Aswatama marah dan ingin membalas dendam. Dengan izin Doryudana, Aswatama berhasil membalaskan dendamnya, ia membunuh Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir. Ia juga membunuh putera  kelima Pandawa dengan Dropadi yang dikenal dengan Pancawala setelah perang berakhir.

Pandawa marah dengan apa yang dilakukan oleh Aswatama, Arjuna memburu dan terjadilah pertarungan diantara keduanya. Dalam pertarungan itu, Aswatama memanggil senjata “Brahmasta” begitu juga dengan Arjuna, takut akan kehancuran dunia, Begawan Byasa (Abiyasa) meminta keduanya agar segera menarik senjatanya kembali.

Arjuna berhasil melakukannya, tetapi Aswatama kurang pandai menguasai senjata itu sehingga tidak bisa menariknya. Ia kemudian diberi pilihan agar senjata itu menyerang target lain untuk dihancurkan. Masih dengan penuh rasa dendamnya, Aswatama mengarahkan senjata itu kearah rahim  Utara, menantu Arjuna, istri Abimanyu.

Senjata itu membakar janin Utara, Namun Kresna berhasil menghidupkannya kembali. Aswatama kemudian dikutuk oleh kresna agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 6000 tahun sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang.

Dalam versi lain diceritakan bahwa Aswatama dikutuk Kresna agar hidup sampai akhir zaman Kaliyuga. Legenda juga mengatakan bahwa Aswatama mengembara ke daerah yang sekarang dikenal senagai semenanjung Arab. Dalam legenda lain mengatakan, bahwa Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan.

Sebuah benteng kuno dekat Burhanpur India yang dikenal dengan Asirgarh memiliki kuil suci Siwa di puncaknya. Konon setiap subuh Aswatama mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. 

Orang yang bisa menyaksikan peristiwa itu konon akan menjadi buta atau kehilangan suaranya. Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan konon masih hidup di sana sebagai seorang Chiranjiwin.

Setelah perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu Aswatama, bersama dengan Krepa dan Kertawarma, melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-puteri, cucu, dan kerabat Pandawa, termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena sendiri, Srikandi, dan Pancawala. Pembantaian tersebut dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Pandawa sedang tertidur lelap. 

Pada perang Bharatayuddha, Drona,ayah Aswatama gugur karena siasat para Pandawa. Mereka sengaja membunuh gajah yang bernama Aswatama, agar Begawan Drona menjadi kehilangan semangat hidup (Resi Drona mengira yang tewas adalah Aswatama puteranya).

Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Setelah perang Bharatayuddha berakhir, Aswatama menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (Pembunuh ayahnya), 

Kisah Penyebab Kematian Drestadyumna Dalam Perang Baratayudha

Srikandi atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma.

Kuwaluhan.com

Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk femininnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

KELAHIRAN SRIKANDI

Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya.

Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

PERAN SRIKANDI DALAM PERANG BARATAYUDHA


Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur.

Kuwaluhan.com

Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

SRIKANDI VERSI JAWA

Menurut kisah pewayangan Jawa, Srikandi lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.

Kuwaluhan.com

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.

Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.

Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha. Sedangkan dalam kisah Mahabharata versi India, Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

Kisah Kelahiran dan Kematian Srikandi Mahabharata

Dursasana adalah adik pertama dari Duryodana yang merupakan 100 kurawa. Dia memiliki sifat yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, tapi agak bodoh orang nya.

Sebelum perang baratayuda berlangsung, dursasana yang memaksa drupadi ke arena perjudian, dan kemudian menarik pakaian drupadi dengan tujuan untuk membuat telanjang. Hal tersebut disaksikan oleh seluruh orang istana baik para pandawa, 100 kurawa, kakek bisma, guru drona, dan destrarasta (ayah kurawa).

Pada saat itu, Bima bersumpah akan membunuh 100 kurawa dan akan memotong kedua tangan dursasana saat perang baratayuda. Dan akan meminum darah nya. Tak hanya bima saja yang bersumpah, drupadi juga demikian. Dia bersumpah akan mandi darah dari darahnya dursasana.

Setelah lama nya waktu berlalu, dan para pandawa menghabiskan hidupnya dihutan karena diusir dari Hastinapura selama bertahun-tahun, akhir nya perang baratayuda tak dapat dielakkan.

Perang baratayuda merupakan perseteruan sengit antara satu keluarga besar pada kerajaan hastinapura. Perang tersebut dilatarbelakangi banyak hal, utamanya motif balas dendam dan juga motif ingin berkuasa di kerajaan hastinapura.

Dursasana tewas pada perang baratayuda pada hari ke 16. Dia tewas dibunuh oleh Bima (pandawa). Sebelum dibunuh, dia disiksa terlebih dahulu dengan cara dipotong kedua tangannya, dan kemudian diminum darah nya. Tak hanya itu saja, drupadi juga menyusul ke medan pertempuran untuk mandi darahnya dursasana. Sangat mengerikan dan sadis.

BIMA MEMINUM DARAH DURSASANA

Pada versi lain pertempuran Barata Yuda Bima berhasil bertemu tanding dengan Dursasana, setelah beberapa saat mereka bertarung, terlihatlah bahwa Bima lebih unggul. Dursasana sudah mulai merasakan kesakitan pada badannya yang melemah.

Bima memandang dengan penuh dendam, teringat perbuatan si Dursasana yang mempermalukan Dewi Drupadi isteri kakaknya Yudistira. Sesaat kemudian berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di sekitarnya,  ia menyeret si Dursasana.

”Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihat inilah  Bima  yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dursasana inilah yang akan aku minum.  Lihatlah!

”Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya.”

“Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dursasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. bah !”

“bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akankah kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? ”


“Mengapa, kamu berusaha untuk bangkit lagi!”

Demikianlah ucapan Bima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dursasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, dia merobek perut itu dengan kukunya yang sangat tajam, pada saat Dursasana masih hidup.

Pada ketika itu Dursasana menjadi tidak sadarkan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan; kemudian setelah perut yang sudah robek itu, dada Dursasana juga di sudet  lebih lebar lagi.

Kelihatannya seolah-olah Dursasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit.

Dan saat itu tiba ketika Bima minum darah orang yang masih hidup itu, Dursasana dengan gelap mata memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bima, padahal badannya sedang berkelojotan sekarat.

Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bima minum darah dan dengan ketetapan hati dan mata merah dan marah, menarik usus Dursasana keluar dari perutnya.

Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar.

Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjulang ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dursasana ke atas, dan jatuh ketempat Suyudana berdiri disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. ”Inilah pembantumu, bah!”
Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya. Telah bertahun-tahun dia menunggu saat ini. Saat penggenapan sumpahnya ketika dia dipermalukan oleh Dursasana. Bahwa dia tidak akan menggelung lagi rambutnya hingga dia bisa keramas dengan darah Dursasana.

”Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya kepada perempuan abdinya, yang segera membawa bokor itu ke arah Bima. Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu.

Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima memeras darah dari mayat Dursasana. Perang memang hanya berisi kekejaman. Benar dan salah hanya kekerasan. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria?

”Inilah air kutukan itu, Dewi.” Bima menyerahkan bokor itu kepada Drupadi yang sedang berada didalam tenda.

Bokor itu berisi darah, namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana, ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya. Maka terjadilah penggenapan sumpahnya dia berkeramas dengan darah Dursasana.



Pada senja di hari kematian Dursasana itu, orang-orang melihat cahaya berkilat menyemburat ke langit dari tenda Drupadi. Cahaya terang yang memancar-mancar. Para pengawal berlarian menuju tenda itu. Namun mereka berpapasan dengan dayang-dayang yang berwajah pucat.

”Dewi Drupadi…”
”Kenapa Dewi Drupadi?”
”Mandi darah.”

Pengawal pertama yang menyibak tenda terkejut melihat Drupadi sedang bersamadi dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Cahaya memancar dari tubuhnya, semburat ke tenda dan menembus tenda ke angkasa.

"lunas sudah piutangmu Dursasana
tak terlunaskan piutang pada kesucian
Semua kejahatan ada bayarannya
Meski kebaikan tidak minta balasan"

Pada malam harinya Drupadi berkumpul dengan suami dan saudaranya. Hari itu Karna juga telah gugur…. dikalahkan oleh Arjuna ….

”Apa hasil perang ini,” kata Drupadi,

”putra-putra Pandawa yang perkasa seperti Irawan, Abimanyu, dan Gatotkaca telah gugur”.

“Kita akan menang, tapi apa arti kemenangan ini,  selain pelampiasan dendam yang tidak terpuaskan? ”

“Orang-orang yang kita hormati telah tiada… Kemenangan ini akan kita persembahkan kepada siapa?”

Kresna menunduk dan mulai bicara.

”Bharatayudha adalah suatu penebusan, Drupadi…”

“Resi Bhisma menebus kelalaiannya kepada Dewi Amba. Mahaguru Durna menebus kesalahannya kepada Ekalaya dari Nisada. Esok pagi Salya akan menebus kebenciannya terhadap Bagaspati, mertuanya sendiri. ”

“Kita hidup dalam lingkaran karma. Kodrat tak terhindarkan, tapi tidak untuk disesali. Bahkan Salya pun tidak punya niat jahat, karena ia dulu adalah Sumantri yang mengingkari Sukasrana. Bagaimanakah caranya kita menghindari diri kita Drupadi? Tidak bisa… ”

“Bharatayudha hanyalah jalan bagi setiap orang untuk memenuhi karmanya, melengkapkan perannya, untuk membersihkan dunia. Kelak anak Utari yang bernama Parikesit akan menjadi raja, saat itu dunia bersih bagai tanpa noda, tapi tetap saja ada yang bernama malapetaka…”

“Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu. Perang ini penuh perlambang baik dan jahat..”

“Siapakah yang lebih jahat Drupadi, Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang menghirup darah Dursasana?  Perang ini menyimpan sebuah pertanyaan. Apakah jalan kekerasan para ksatria itu bisa dibenarkan?..”

Drupadi tertunduk menjawab, dengan hati galau..

”Aku Drupadi, seorang perempuan, terus terang menghendaki darah Dursasana, untuk memberi pelajaran kepada penghinaan.”


”Jawabannya bisa lebih panjang Drupadi. Engkau seorang perempuan telah memberi pelajaran tentang bagaimana perempuan menghidupkan diri dengan dendam. Sama seperti dendam Amba kepada Bhisma, sama seperti dendam Gandari kepada penglihatan karena mendapat suami dalam kebutaan. ”

“Perang ini memberi peringatan, wahai Drupadi, betapa dendam bisa begitu mengerikan. Para Pandawa adalah ahli bertapa, namun di seluruh anak benua ini tiada pembunuh yang lebih kejam daripada mereka.”

”Kresna yang bijak, ingatlah bahwa para Pandawa selalu membela kebenaran.”

”Tidak ada yang keliru, duhai Drupadi yang cerdas, bahkan mereka akan selalu dilindungi para dewa. Tapi renungkanlah kembali makna dari sebuah kekerasan.”

”Dunia ini memang penuh kekerasan, Kresna. Terutama aku, perempuan, yang selalu jadi korban.”

”Maka memang menjadi pilihan, Drupadi, kita akan menggunakan kekerasan atau berusaha menghindari  kekerasan.”

Drupadi berdiri, kesal karena merasa disalahkan karena dendamnya ke Dursasana.

”Kresna, engkau sungguh pandai bicara. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. Itulah masalahmu Kresna, engkau mengerti segalanya, namun engkau tidak pernah merasakannya.

“Aku adalah korban, dan aku menggunakan hak diriku sebagai korban untuk menjawab nasibku dengan kemarahan. Engkau mengatur segala-galanya. Kau korbankan Gatotkaca, agar Karna melepaskan Konta, sehingga Arjuna bisa menandinginya.”

“Apakah engkau tidak pernah mendendam Kresna, engkau memutar leher Sishupala hanya karena kata-kata, engkau membunuh Salwa orang bodoh yang mengacau Dwaraka. Itukah pelajaranmu untuk dunia? Aku sudah menjadi korban, dan dari seseorang yang sudah menjadi korban, engkau memintanya agar berjiwa besar.?”

“Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Biarlah Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa besar, tapi aku Drupadi, seorang perempuan, menggunakan hak diriku sebagai korban untuk melakukan pembalasan.”

”Itu hanya membuktikan, wahai Drupadi, bukan hanya kejantanan yang menjadi korban kekerasan.” Jawab Kresna.

”Kresna, Kresna, bagimu pelaku kekerasan adalah korban. Lantas harus diberi nama apa korban kekerasan itu sendiri?” Tukas Drupadi kesal.

Yudhistira berdiri. Hatinya bergolak kesana kemari… disatu sisi dia merasa terpuaskan karena si durhaka Dursasana yang menghina isterinya telah tak bernyawa, disatu sisi perasaan kemanusiaan tidak rela mengijinkan hal itu terjadi.

”Kresna kakakku, Drupadi istriku. Janganlah diteruskan lagi. Masih banyak yang harus kita atasi..”

Drupadi menarik nafas. Wajahnya terang dan bercahaya, dengan rambut tergelung, dalam tatapan kagum suaminya, yang melihat isterinya yang dulu saat hatinya masih murni tanpa dendam.

Penyebab Kematian dan Kekalahan Dursasana, Kisah Mahabharata

Sebagai anak Resi kesaktian dan kegagahannya tak mudah dikalahkan lawan. Bersama ayahnya ia bergabung dengan Kurawa hingga tatkala pecah perang Barata ia membantu Kurawa melawan Pandawa.

Kuwaluhan.com

Suatu waktu terjadi insiden dimana antara dia dengan Prabu Salya raja Mandaraka. Aswatama menuduh Salya telah bekhianat ketika menjadi kusir kereta perang Adipati Karna ketika perang dengan Arjuna. Setiap Karna melepas senjata, Salya selalu mencambuk kudanya hingga kereta bergoyang dan arah panah pun berbelok tidak mengenai sasaran. Tuduhan itu membuat Salya murka dan hampir terjadi baku hantam. Duryudana melerai dan menyalahkan Aswatama hingga si anak resi itu pun ditundung dan angkat kaki tak pernah muncul kembali.

Ia baru muncul setelah mengetahui Kurawa telah hampir ludas dan Duryudana sedang sekarat menghadapi ajal. Lebih-lebih setelah mengetahui bahwa ayahnya telah ajal di tangan Drestajumena. Timbul niatnya ingin membalas. Tapi untuk secara terang-terangan berhadapan dengan pandawa ia merasa tak mampu. Jalan satu-satunya mengadakan gerakan di bawah tanah membuat terowongan yang arahnya menuju ke Pesanggrahan Pandawa dan harus dikerjakan di malam hari untuk tidak diketahui pihak Pandawa. Tapi waktu itu bulan sedang gelap.

Tiba-tiba ia teringat ibunya seorang bidadari dari khayangan untuk dimintai tolong memberi penerangan selama ia bekerja. Dipanggilnya melalui semadi dan seketika itu sang ibu telah berada di hadapannya seraya berkata: “Anakku, ibu mengerti engkau kesulitan membuat jalan di bawah tanah. Tetapi perang telah berakhir lebih baik engkau menyerah supaya engkau selamat,” pintanya.

“Menyerah? Oh tidak. hamba tidak akan menyerah sebelum dapat membalas kematian resi dan raja hamba Duryudana yang sedang sekarat menghadapi ajal,” tolaknya tegas.

“Baiklah jika itu pilihanmu. Ibu akan menerangi dengan cahaya yang terang benderang selama engkau bekerja jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Jika kau langgar, selain cahaya akan lenyap seketika, kau pun akan tercatat sebagai anak durhaka dan akan menerima hukuman yang amat berat,” Aswatama menyanggupi karena pikirnya, apa susahnya tidak menoleh ke belakang.

Maka seketika menggebyarlah cahaya yang amat terang benderang di sekitar itu dan Aswatama pun mulai bekerja membuat lubang. lalu dari mana datangnya cahaya itu? Ternyata cahaya yang terang benderang itu datangnya dari tubuh sang bidadari setelah menanggalkan seluruh busananya kecuali penutup aurat.

Itulah sebabnya Aswatama dilarang menoleh kebelakang. Mula-mula ia bekerja seperti biasa. Tapi lama-lama badan dan kepalanya merasa pegal karena tak bergerak bebas. Di samping itu timbul keingintahuan cahaya dari mana yang diberikan ibunya. Cahaya dari swarga atau lampu dunia. Maka seketika itu ia nekad menoleh ke belakang dan… terdengar suara jerit sang bidadari seiring dengan itu keadaan menjadi gelap gulita. Sang Dewi terbang kembali ke khayangan seraya berkata: “Kau anak durhaka Aswatama.”

Tapi Aswatama tidak menyesal dengan kejadian itu, karena jarak menuju pesanggrahan Pandawa sudah amat dekat dan dalam tempo yang tidak lama, ia telah muncul di permukaan pesanggrahan Pandawa.

Waktu itu para satria sedang tidur lelap tak seorang pun yang terjaga. Maka dengan tenang si anak resi itu membunuh satu persatu para satria Pandawa seperti Drestajumena, Pancawala, Srikandi dan lain-lain. Ketika melangkah ke sebuah kamar, dilihatnya seorang anak bayi yang tak lain Parikesit anak Abimanyu, generasi penerus keturunan Pandawa yang harus segera di lenyapkan. Namun tiba-tiba Dewi Utari terjaga dan menjerit minta tolong sehingga si pembunuh bertangan dingin itu langsung kabur. Sebelum masuk ke hutan ia sempat memberitahu Duryudana yang sedang sekarat, bahwa sakit hatinya telah terbalas dan raja Astina merasa puas kemudian menghembuskan nafasnya.

Keadaan menjadi gempar, Bima, Arjuna dan Kresna segera mengejar si pembunuh ke dalam hutan. Akhirnya Aswatama tak berdaya dihajar Bima walau dapat meloloskan diri. Namun sebuah panah yang dilepas Arjuna tidak dapat dihindari menancap di dadanya. Sewaktu sukmanya akan berpisah dari raganya, Kresna mengutuknya hingga sukmanya amblas ke dasar bumi bersatu dengan binatang-binatang kotor merana salam tiga ribu tahun lamanya.

Adapun makana cahaya yang keluar dari tubuh Wilutama adalah lambang cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, bahwa sejak bayi lahir dari kandungannya, si ibu telah memberi sinar menerangi perjalanan hidup anaknya melalui air susunya. Karena itua nak wajib menghormati orang tuanya.

Versi lain dalam pedalangan menjelaskan, ketika Aswatama memasuki sebuah kamar ia melihat seorang anak bayi yang tak lain Parikesit anak Abimanyu. Aswatama tidak melihat bahwa di dekat kaki bayi ada senjata Pasupati warisan dari kakeknya (Arjuna) yang sengaja ditaruh di situ sebegai penunggu, Maka begitu Aswatama mengayunkan senjatanya ke tubuh si bayi, mendadak si bayi terbangun dan seperti ada kekuatan yang luar biasa, kakinya menendang Pasupati hingga terpental menembus dada Aswatama dan seketika menemui ajalnya, maka selamatlah si bayi yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan Astinapura.

Penyebab Kematian dan Kekalahan Aswatama, Kisah Mahabharata


Sengkuni adalah penyebab terjadinya Perang Besar antara Pandawa Lima dengan Kurawa.

Setelah gugurnya Prabu Salya di medan Kurusetra, kini ganti  Patih Sengkuni dengan kereta perangnya  memasuki Medan Kurusetra,  menuju  pertahanan Pandawa.  Ternyata Patih Sengkuni betul betul mahir dalam memainkan segala senjata, dari panah, pedang, juga gada.

Patih Sengkuni dikala mudanya, satria dari Gandara, bernama Sri Gantalpati, seorang pemuda yang tampan dan sakti pula. Ia mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti di kerajaan Mandura. Namun gagal, ia dikalahkan oleh Pandu.

Berkali kali senjata senjata Pandawa mengenai tubuh Sengkuni namun, tidak satupun bisa melukai Sengkuni. Bahkan Sengkuni melepaskan berbagai panah ke arah Arjuna dan  Patih Sengkuni berhasil mematahkan serangan panah Arjuna.

Werkudara mencegat kereta perang Sengkuni. Werkudara memaksa Sengkuni turun dari Kereta perang   Sengkuni pun turun. Terjadi perkelahian antara Werkudara dan Sengkuni Berkali-kali Werkudara memukul tubuh Sengkuni dengan Gada Rujakpolo. Namun Sengkuni hanya ketawa-ketawa, ia tidak merasakan kesakitan.

Werkudara terus memukul Sengkuni dari kepala, dada, perut, sampai paha,betis dan telapak kaki, namun kelihatannya tidak merasakan apa apa Werkudara tidak patah semangat. Gada Rujakpolo ditinggalkan, Werkudara maju menghadapi Sengkuni, terjadilah perkelahian, berkali-kali Werkudara menangkap Sengkuni, namun kulit Sengkuni licin bagaikan  belut, sehingga selalu lepas.

Werkudara terus melawan Sengkuni. Werkudara, teringat masa  lalu, kejadian Bale Sigolo golo, yang  hampir membawa korban para Pendawa, itu karena perbuatan Sengkuni.

Perang dadu, itu ide Sengkuni yan mencurangi Pandawa, hingga Pandawa sengsara 13 tahun di hutan. Sedangkan Sengkuni merasa kecewa ketemu Prabu Pandu di Mandura, waktu sayembara memperebutkan Dewi Kunti, Sengkuni menyerahkan  Dewi Gendari, kakaknya pada Pandu, dengan harapan agar kakaknya  bisa berbahagia bersama Pandu. tetapi ternyata kakaknya  di berikan pada Drestarastra.

Andaikata Dewi Gendari tidak diberikan pada Drestarastra, Kurawa itu menjadi anak Pandu. Sehingga Pandu akan memiliki 105 anak. Pastilah Astina sangat kuat. Dan tidak ada perang Barata Yudha. Semua ini gara-gara Pandu. Maka Sengkuni ingin membunuh anak-anak Pandu, yang telah membikin sengsara.

Werkudara capek menghadapi Sengkuni. Tiba-tiba Werkudara ingat, bahwa kulit Sengkuni amat licin, dan peluhnya berbau minyak tolo (sejenis minyak tanah), pasti ada hubungannya waktu Kurawa dan Pendawa masih kecil bermain di sumur tua menemukan cupu minyak tolo milik kakek Abiyasa yang berisi minyak kesaktian. Yang akhirnya minyak tersebut diambil Sengkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya.

Werkudara langsung meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas.

Werkudara memasukkan  kuku Pancanaka kedalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum minyak tolo,maka dengan mudah   dirobek robeknya sampai kedalam leher dan menembus ke jantungnya. Namun Sengkuni masih hidup. Ia mengerang kesakitan. Werkudara menjadi ngeri dan ketakutan. Walaupun sudah luka berat, Sengkuni tidak mati mati.

Prabu Kresna meminta Werkudara bisa menyempurnakan kematiannya. Werkudara akhirnya mengerti
keadaan ini dikarenakan kesaktian Lengo tolo yang dioleskan kesekujur tubuh Sengkuni. Setelah terkelupas kulitnya, akhirnya Sengkuni pun Gugur.

Dalam kisah lain Perang Baratayudha dikisahkan bahwa Sadewalah yang pertama kali melawan Sengkuni.
Dan Sadewa akhirnya berhasil mengalahkannya.

Di tengah-tengah pertempuran tersebut, Bima meminta Sadewa agar ia diperkenankan untuk melanjutkan pergulatannya dengan Sangkuni. Ya, tentu saja bukan lawan yang sepadan. Sangkuni pun langsung tak berkutik.


Di tengah ketidakberdayaannya inilah Bima menyobek mulut Sangkuni selebar-lebarnya hingga ke ujung telinganya.

Ada juga sebuah versi cerita menyebutkan, Bima juga menguliti Sangkuni dan dibiarkan sekarat. Ia baru mati ketika tubuhnya disandingkan dengan Duryudana yang sama-sama sekarat. Kalau di versi terakhir berarti ia sekarat sehari lebih.

Dari tokoh jahat hanya Dursasana, Sangkuni, dan Aswatama (anak Dorna) yang paling tragis kematiannya pada perang Baratayudha.

Kisah Kekalahan dan Kematian Sengkuni paling Tragis pada Perang Baratayudha