Tampilkan postingan dengan label Kematian Satyaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kematian Satyaki. Tampilkan semua postingan
Pada Perang Baratayudha yang berlangsung selama 18 hari, banyak para kesatria yang gugur di medan Pertempuran Kurukshetra, baik dari pihak Kurawa maupun dari pihak Pandawa.


Tak terhitung jumlahnya dari Ribuan pasukan kedua belah pihak. Dari pihak Pandawa sendiri banyak kesatria yang gugur seperti Abimanyu Putra Arjuna, Gatotkaca Putra Werkudara, Raja Wirata, Raja Drupada, Srikandi, Drestadyumna.

KEMATIAN ABIMANYU

Pada hari kedua belas Perang Baratayudha, Duryodana memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha (di zaman sekarang disebut Assam, sebuah wilayah di India). Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya.

Bhagadatta memiliki ribuan gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya, dan ia dianggap sebagai ksatria terkuat di antara seluruh kesatria penunggang gajah pada zamannya.Bhagadatta menyerang Arjuna dengan mengendarai gajah raksasanya yang bernama Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhagadatta terjadi dengan sangat sengit.

Saat Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, di tempat lain, empat Pandawa sulit mematahkan formasi Cakrabyuha yang disusun Drona. Yudistira melihat hal tersebut dan menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk merusak formasi Cakrabyuha, sebab Yudistira tahu bahwa hanya Arjuna dan Abimanyu yang bisa mematahkan formasi tersebut.

Saat Abimanyu memasuki formasi tersebut, empat Pandawa melindunginya di belakang. Namun, keempat Pandawa dihadang Jayadrata sehingga Abimanyu memasuki formasuki Cakrabyuha tanpa perlindungan.Akhirnya, Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa, lalu tewas oleh serangan serentak.

Menjelang akhir hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Sudarma gugur di tangan Arjuna. Sementara itu, Abimanyu gugur karena terjebak dalam formasi Cakrabyuha. Setelah mengetahui kematian putranya, Arjuna marah pada Jayadrata yang menghalangi usaha para Pandawa untuk melindungi Abimanyu. Ia bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari keempat belas. Ia juga bersumpah bahwa jika ia tidak berhasil melakukannya sampai matahari terbenam, ia akan membakar dirinya sendiri.

KEMATIAN GATOTKACA

Kepahlawanan Gatot Kaca berawal dari mulainya kekalahan demi kekalahan di pihak Kurawa. Setelah Resi Drona gugur di tangan Drestajumena, Prabu Sujudana nampak muram dan takut kekalahannya di ambang mata. Akhirnya Adipati Karna maju sebagai panglima perang.

Kresna memberi saran agar Gatot Kaca yang maju menghadapi tantangan Karna. Pasalnya, kesaktian dan kemampuan Gatot Kaca terbang akan mampu menghindari kegesitan Karna dalam memanah.

Sebelum berangkat ke medan laga, Gatot Kaca meminta bantuan Ki Lurah Semar untuk menahan Pandawa dan keturunannnya agar tidak keluar pada malam tersebut. Saat itu ada tiga raksasa, Alembana, Alembusa, dan Srenggiwana yang merupakan anak dari raksasa Jata Sura. Mereka hendak membalas dendam kematian ayah mereka yang tewas di tangan Bima.

Akhirnya Gatot Kaca bersama pasukan Pringgadani menghadapi pasukan Karna bersama prajurit Awangga. Pertempuran berlangsung seimbang.

Karna dan Gatot Kaca seolah mengamuk di medan laga. Karna sangat kesal anak panahnya tak mampu mengenai Gatot Kaca. Bahkan tak diduganya, Gatot Kaca mampu menyemburkan ribuan anak panah dari mulutnya. Anak panah tersebut hampir mengenai lengannya. Karna sangat murka.

Ia menimbang-nimbang untuk menggunakan senjata andalannya, Kontawijaya Danu, apalagi setelah melihat banyaknya prajurit Awangga yang tewas.

Di satu sisi, Gatot Kaca harus membagi konsentrasinya. Ada dua raksasa yang bersiap melumatnya. Satu raksasa, Srenggiwana telah tewas oleh keris sakti Bambang Irawan, putra Arjuna dengan putri Uluwati. Namun, Bambang Irawan juga tak tertolong karena lehernya sempat digigit.

Pertempuran berlanjut setelah matahari terbenam. Saat bulan tampak bersinar, Gatotkaca, putra Bima membunuh banyak kesatria, dan menyerang lewat udara.

Karna menghadapinya lalu mereka bertarung dengan sengit, sampai akhirnya Karna mengeluarkan Indrastra, sebuah senjata surgawi yang diberikan kepadanya oleh Dewa Indra.

Gatotkaca yang menerima serangan tersebut lalu memperbesar ukuran tubuhnya. Ia gugur seketika kemudian jatuh menimpa ribuan prajurit Korawa.

KEMATIAN RAJA DRUPADA DAN RAJA WIRATA

Pada saat terjadi perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Dalam hal ini Drupada bertindak sebagai salah satu sekutu penting para Pandawa, sedangkan Drona berada di pihak Korawa.

Perang di Kurukshetra atau Baratayuda memakan waktu lebih dari sehari. Pada hari ke-15, Drona bertanding melawan Wirata raja Kerajaan Matsya. Dalam pertempuran tersebut Wirata tewas. Drupada kemudian maju menghadapi Drona. Pertempuran antara keduanya akhirnya dimenangkan oleh Drona. Drupada tewas di tangan bekas sahabatnya.

Drona sendiri akhirnya tewas pula pada hari yang sama setelah kepalanya dipenggal oleh Drestadyumna putra Drupada.

KEMATIAN SRIKANDI

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur.

Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

KEMATIAN DRESTADYUMNA

Setelah perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu Aswatama, bersama dengan Krepa dan Kertawarma, melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-puteri, cucu, dan kerabat Pandawa, termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena sendiri, Srikandi, dan Pancawala. Pembantaian tersebut dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Pandawa sedang tertidur lelap.

Pada perang Bharatayuddha, Drona,ayah Aswatama gugur karena siasat para Pandawa. Mereka sengaja membunuh gajah yang bernama Aswatama, agar Begawan Drona menjadi kehilangan semangat hidup, Resi Drona mengira yang tewas adalah Aswatama puteranya.

Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Setelah perang Bharatayuddha berakhir, Aswatama menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna.

Sejarah Kematian Pihak Pandwa dan Pasukan Pandawa dalam Baratayuda

Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. Dia memiliki aji Candra birawa yang dapat menciptakan ribuan raksasa ganas pemangsa manusia.


Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raksasa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raksasa-raksasa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu.

Menurut Kresna sekalipun Salya sakti tiada tanding gagah tak ada lawan, batinnya lebih menyayangi Pandawa. Berpihaknya kepada Kurawa karena terjebak kelicikan Sengkuni. Padahal semula ia akan membantu Pandawa. Untuk mengetahui rahasia kelemahannya, diutuslah nakula Sadewa menghadap Raja Salya.

Tatkala nakula Sadewa menghadap Salya, dengan nada sedih si kembar berkata: “Duh, Paman Prabu, kedatangan hamba menghadap paduka, hanya untuk menyerahkan jiwa raga hamba berdua. Hamba malu oleh saudara-saudara hamba, apabila balatentara Pandawa dan saudara-saudara hamba akan dengan mudah paduka hancurkan. Kesaktian paduka tiada tandingannya. Karena itu hamba berdua ingin didahulukan dibunuh sebelum paduka berhadapan dengan mereka,” ujarnya Nakula Sadewa.

Sejenak Raja Salya berdiam diri wajahnya membersit perasaan haru yang mendalam. Ia melihat dan membayangkan adiknya, madrim yang telah tiada. ia introspeksi diri betapa rakusnya ia menghirup kelezatan duniawi, sementara yang muda harus segera mengakhiri hidupnya.

Terbayang pula kejadian dahulu ia telah memaksa membunuh mertuanya yang baik hati dan berbudi luhur hanya karena berwajah raseksa. Ia mengakui bahwa Ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri, bahwa bentuk luarnya yang buruk ternyata dalamnya berisikan emas.

Lalu ia bersabda: “Keponakanku, sebenarnya aku lebih menyayangi Pandawa. Hanya saja aku telah terjebak oleh kelicikan Sakuni yang memaksa aku berada di pihak Kurawa. Tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur kini aku harus berhadapan dengan mereka yang aku sayangi. Memang kesaktianku takkan ada tandingnya, kecuali oleh seseorang yang memiliki darah putih. Di tangan dialah rahasia kematianku. Sekarang kembalilah engkau ke kubumu dan sampaikan salam kasihku kepada mereka,” kata Raja Salya.

Salya dengan sengaja telah membuka rahasia kematiannya kepada pandawa melalui Nakula Sadewa. Tetapi Salya pun tidak mengetahui, adakah di antara para Pandawa yang memiliki darah putih.

Ketika hal itu disampaikan kepada Pandawa, Kresna langsung menunjuk Yudhistira sebagai lawan raja Mandaraka itu. Maka dengan hati yang amat berat terpaksa Yudhistira maju ke medan perang menghadapi kakak kandung ibu misannya (Madrim).

Ketika Salya telah berada di medan perang, ternyata ia pun tak sampai hati harus berhadapan dengan Yudhistira. Maka dengan berat hati pula terpaksa ia memerintahkan ajiannya raseksa Candra Bairawa.

Sementara itu balatentara pandawa telah siap bertempur dengan raksasa. Tetapi kresna merasa khawatir atas keselamatan tentara Pandawa, karena prajurit-prajurit itu akan dengan mudah menjadi mangsa raksasa-raksasa ganas itu. Segera ia memerintahkan semua tentara membuka pakaian keprajuritannya, karena hanya orang-orang yang berpakaian prajurit saja yang akan menjadi sasarannya.

Tetapi tidak demikian dengan Yudhistira, ia menolak membuka pakaian keprajuritannya, karena itu berarti telah menipu atau membohong yang sangat tabu baginya.

Maka dengan sekejap saja Yudhistira telah berada dalam lingkaran para raseksa siap untuk dimangsa. Tapi tiba-tiba raseksa itu terperanjat karena mencium bau darah putih seperti darah Bagaspati pemilik aji Candra Bairawa. Maka dengan serempak si raseksa itu berkata: “WAhhh, dia gusti kita,” serunya berulang kali. Dan seketika itu musnahlah makhluk-makhluk itu masuk ke dalam tubuh Yudhistira.

Dari kejauhan Salya menyaksikan ajiannya telah menyatu dengan Yudhistira. Ia semakin yakin, bahwa kematiannya ada di tangan manusia berbudi luhur adil palamarta yang ternyata berdarah putih.

Lalu ia berkata” “Anakku, lepaslah panahmu. Aku telah waspada engkaulah satu-satunya ksatria yang akan mengantarku ke alam asal,” ujarnya pasrah. Dengan memejamkan kedua matanya, Yudhistira melepas panah dan rebahlah raja mandaraka itu di atas kereta perangnya.

Ia mati dengan tersenyum. Sebaliknya Yudhistira sangat sedih karena seumur hidup jangan pun membunuh, memukul pun tak pernah. Kresna segera menghibur dengan mengatakan, bahwa Yudhistira telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Sejarah Penyebab Kematian Raja Salya Dalam Perang Baratayudha

Setelah Perang Baratayudha Selesai, Krishna kembali ke negrinya dan memerintah di negaranya selama tiga puluh enam tahun sesudah perang besar Kurukshetra. Selama ia memegang tampuk pemerintahan rakyat merasa bahagia.


Suku-suku Wrishni dan Bhoja yang merupakan cabang bangsa Yadawa, di mana Krishna termasuk di dalamnya, terkenal sebagai suku-suku yang suka bersenang-senang dan bergembira.

Sejak Krishna memerintah mereka jadi makmur, dan kemakmuran mereka ini menyebabkan mereka suka pada barang-barang mewah, makan makanan yang serba lezat dan minum-minuman keras.

Lambat laun mereka menjadi bangsa yang sembrono, angkuh, liar tidak berdisiplin, suka mabuk dan melampiaskan hawa nafsu. Pejabat pemerintahan korup, para pedagang main suap, wanita jalang, pemuda-pemuda suka pesiar dan remaja banyak morfinis.

Pada suatu hari seorang resi dari negri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Ia dipermainkan oleh segerombolan orang kota. Mereka memperolok-olokkan dan mengejek resi itu dengan suatu lelucon yang tidak lucu. Salah seorang di antara mereka laki-laki muda diberi pakaian perempuan hamil yang perutnya besar, diganjal dengan bantal, lalu dihadapkan di muka brahmana itu.

Mereka. bersorak-sorak, tertawa kegirangan dengan olok-olok mereka, di mana “perempuan” bunting itu dengan genit menari-nari di depan brahmana, seraya bertanya kepadanya : “Wahai Resi yang Mahabijaksana, ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan ini akan punya anak lakl-laki atau perempuan”. Sang brahmana merasa tersinggung hatinya dan dengan kutuk pastu menjawab: “Orang ini akan melahirkan sebuah gada, bukan seorang laki-Iaki atau perempuan. Gada itu adalah Batara Yama, yang akan memusnahkan bangsamu ini, termasuk engkau sekalian”.

Mereka yang hadir di situ merasa kaget mendengar jawaban Resi itu. Mereka menyesal dan banyak di antara mereka yang mendengar kutuk pastu sang brahmana merasa ketakutan, yang mulanya hanya mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dari hasil olok-olok mereka.

Benarlah hari-hari berikutnya, pemuda Samba yang diberi pakaian perempuan bunting oleh teman-temannya itu, merasa sakit pada perutnya seperti orang hendak melahirkan. Alangkah paniknya mereka ketika benar-benar melihat pemuda Samba melahirkan sebuah gada, alat perang yang kuat perkasa, dan bukan bayi laki-Iaki atau perempuan.

Kejadian itu menimbulkan teror dalam jiwa mereka, sebab seperti yang diramalkan oleh Resi yang misterius itu, bangsa mereka akan musnah, termasuk mereka sendiri.

Beramai-ramai mereka hancurkan gada itu sehingga menjadi abu. Mereka semufakat untuk membuang abu itu jauh-jauh. Abu, hancuran gada ajaib itu, dihamburkan di laut secara terpisah-pisah, ditebarkan dimana-mana.

Setelah itu mereka lupalah akan lelucon mereka. Pemuda Samba hidup sebagai seorang laki-Iaki biasa lagi. Tahun berganti tahun, musim panen berganti musim kering, rakyat hidup makmur dan bahagia. Di tempat di mana abu gada ditebarkan, lambat-laun tumbuh rumput raksasa dengan sangat rimbunnya, dengan batangnya sebesar-besar batang bambu.

Di antara bangsa Yadawa, selain Krishna sendiri dan bala tentaranya yang ikut mengambil bagian dalam perang di medan Kurukshetra, juga Kritawarma bersama pasukannya bertempur di pihak Kaurawa, sedangkan Satyaki dengan pasukannya pula di pihak Pandawa.

Sewaktu kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan untuk melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, di mana pada hari-hari tertentu mereka diijinkan minum minuman keras.

Sebagai bangsa yang periang dan gemar bersuka ria, pada suatu hari mereka mengadakan darmawisata ke tepi pantai tempat tumbuhnya rumput raksasa yang lebat itu. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum-minuman keras, sehingga mabuk-mabuk.

Dalam keadaan mabuk-mabuk itu terjadilah pertengkaran mulut, yang tumbuh menjadi perkelahian yang hebat. Mula-mula baku-tinju, tetapi kemudian, dengan batang-batang rumput raksasa yang diruncingi, mereka baku-tusuk.

Pangkal mula pertengkaran, yang kemudian menjadi pertempuran itu, adalah disebabkan oleh percekcokan mulut antara Kritawarma dan Satyaki, yang sama-sama dalam keadaan mabuk. Satyaki berkata: “Apakah seorang kesatria sejati akan mau menyerang dan membunuh musuhnya yang sedang tidur nyenyak? Engkau Kritawarma, telah membawa malu kepada bangsa kita buat selama-lamanya“ dengan mengejek, yang diikuti oleh kawan-kawannya yang lain. Kritawarma tidak tahan akan ejekan itu, membalas dengan pedas: “Engkau seperti tukang potong sapi saja, telah membunuh Bhurisrawas yang dalam keadaan duduk bersila dengan samadinya. Engkau Satyaki, pengecut, masih juga berlagak kesatria”, dan kawan-kawannya tidak ketinggalan membakari semangat Kritawarma.

Perkelahian mulut ini ternyata tidak bisa dibatasi di situ saja. Ia menjadi sungguh-sungguh dan kemudian pertempuran yang sengit antara dua pihak meledak: pro Kritawarma atau Satyaki. Putra Krishna, Pardyumna juga ada di situ bermaksud menolong, menyelamatkan Satyaki, terlibat dalam pertempuran itu sehingga ia menemui ajalnya: kutuk pastu resi yang pernah mereka hinakan rupa-rupanya mulai membuahkan hasilnya.

Batang rumput yang diruncingi ujungnya, merupakan senjata utama dalam pertempuran ini. Demikianlah kedua belah pihak mati di ujung senjata tajam itu, tidak terkecuali, laki dan perempuan, tua dan muda, kesatria dan bukan pahlawan atau pengecut, sehingga bangsa Yadawa musnah seluruhnya.

Balarama, yang menyaksikan peristiwa ini merasa sangat malu, meninggalkan tempat itu, pergi menghabiskan hidupnya dengan yoga di bawah pohon kayu besar hingga saat-saat terakhirnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri.

Dan setelah ia mengetahui kakaknya Balarama sudah meninggalkan dunia mayapada ini, ia sendiri pergi mengembara ke dalam hutan. Di tengah-tengah hutan belantara ia merebahkan dirinya sambil berkata : “Kini telah tiba waktunya bagiku untuk pergi buat selama-lamanya meninggalkan dunia ini”.

Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan liwat di dekat-dekat tempat Krishna merebahkan dirinya. Jaras melepaskan anak panahnya yang tepat menembus kaki dan tubuh Krishna yang disangkanya seekor rusa sedang beristirahat.

Pada saat itu juga Basudewa menghembuskan nafasnya yang penghabisan untuk meninggalkan dunia manusia ini. Arjuna datang ke Dwaraka untuk melakukan upacara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemudian, seluruh negri Dwaraka dilanda banjir dan ombak samudra yang dahsyat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Sejarah Asal Usul Bangsa Yadawa Musnah Tenggelam

Satyaki adalah putra Satyaka, sedangkan Satyaka adalah putra Sini, seorang pemuka bangsa Wresni. Sini merupakan tokoh yang melamar Dewaki sebagai istri Basudewa. Dalam peristiwa itu ia harus bersaing dengan Somadatta ayah Burisrawa. Dari perkawinan Basudewa dan dewaki kemudian lahirlah Kresna.


Menurut versi Jawa, Satyaki adalah putra Satyajit raja Kerajaan Lesanpura. Satyajit merupakan adik termuda Basudewadan Kunti. Dengan kata lain, Satyaki adalah adik sepupu Kresna dan para Pandawa.

KELAHIRAN SATYAKI

Dalam buku Mahabharata di kisahkan ketika Warsini mengandung, ia mengidam ingin bertamasya menunggang macan putih. Satyajit mendatangkan para keponakannya, yaitu Kresna, Baladewa dan para Pandawauntuk ikut membantu. Ternyata yang berhasil menangkap macan putih idaman Warsini adalah Kresna.

Namun, macan putih tersebut penjelmaan Singamulangjaya, patih Kerajaan Swalabumi yang diutus rajanya, yaitu Prabu Satyasa untuk menculik Warsini. Singamulangjaya segera membawa Warsini kabur begitu naik ke punggungnya.

Kresna yang dicurigai Satyajit segera mengejar Singamulangjaya. Di tengah jalan, Singamulangjaya mencoba mengeluarkan isi kandungan Warsini. Lahirlah seorang bayi yang bukannya mati, namun justru bertambah besar setelah dihajar Singamulangjaya.

Akhirnya, bayi tersebut berubah menjadi pemuda dan membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya bersatu ke dalam diri pemuda itu.

Warsini memberi nama putranya yang sudah dewasa dalam waktu singkat itu dengan nama Satyaki. Kresna pun menemukan mereka berdua. Bersama mereka menyerang dan membunuh Satyasa sebagai sumber masalah. Satyaki kemudian menduduki Kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya.

SAYEMBARA MENDAPATKAN SATYABOMA

Dalam versi Jawa dikisahkan Satyaboma dilamar oleh Drona dengan dukungan para Korawa. Tujuan lamaran ini hanya sekadar untuk menjadikan Kerajaan Lesanpura sebagai sekutu Kerajaan Hastina. Satyaki segera mengumumkan sayembara bahwa jika ingin menikahi kakaknya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dulu.

Satu per satu para Korawa maju namun tidak ada yang mampu mengalahkan Satyaki. Bahkan, Drona sekalipun dikalahkannya. Arjuna selaku murid Drona maju atas nama gurunya. Satyaki yang gentar meminta bantuan Kresna. Maka, Kresna pun meminjamkan Kembang Wijayakusuma kepada Satyaki.

Dengan berbekal bunga pusaka milik Kresna, Satyaki dapat menahan serangan Arjuna, bahkan berhasil mengalahkan Arjuna tersebut. Ternyata Kresna juga melamar Satyaboma untuk dirinya sendiri. Dalam pertarungan adu kesaktian, Kresna berhasil mengalahkan Satyaki dan mempersunting Satyaboma.

Dari perkawinan antara Kresna dan Satyaboma lahir seorang putra bernama Satyaka.

PERAN SATYAKI DALAM BARATAYUDA

Dalam perang Baratayuda yang meletus di Kuruksetra, Satyaki memihak para Pandawa. Ia bahkan dipercaya memimpin salah satu di antara tujuh aksohini pasukan Pandawa.

Peran Satyaki tampak menonjol pada hari ke-14 di mana ia ditugasi Arjuna untuk menjaga Yudistira dari serangan Drona. Menurut versi Mahabharata, Arjuna merupakan guru Satyaki dalam ilmu memanah. Sementara itu menurut versi Jawa, murid Arjuna adalah Srikandi yang kemudian menjadi istrinya.

Pada hari tersebut Arjuna bergerak mencari Jayadrata yang telah menyebabkan putranya, yaitu Abimanyu tewas. Satyaki sendiri mati-matian melindungi Yudistira yang hendak ditangkap hidup-hidup oleh Drona sebagai sandera.

Drona adalah guru Arjuna, sedangkan Satyaki adalah murid Arjuna. Namun, dalam pertempuran itu Drona memuji kesaktian Satyaki setara dengan Parasurama, yaitu guru Drona sendiri.

Setelah keadaan aman, Yudistira memaksa Satyaki pergi membantu Arjuna. Dalam keadaan letih, Satyaki menerobos barisan sekutu Korawa yang menghadangnya. Tidak terhitung jumlahnya yang mati. Namun ia sendiri bertambah letih.

Burisrawa maju menghadang Satyaki. Pertarungan tersebut akhirnya dimenangkan Burisrawa. Dengan pedang di tangan ia siap membunuh Satyaki yang sudah jatuh pingsan. Adapun Burisrawa merupakan putra Somadatta yang dulu dikalahkan Sini kakek Satyaki sewaktu melamar Dewaki.

Arjuna yang mengendarai kereta dengan Kresna sebagai kusir sudah mendekati tempat persembunyian Jayadrata. Kresna memintanya untuk berbalik membantu Satyaki. Mula-mula Arjuna menolak karena hal itu melanggar peraturan.

Namun, Kresna berhasil meyakinkan Arjuna bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk menolong Satyaki yang sudah bersusah payah datang membantunya.

Arjuna akhirnya memanah lengan Burisrawa sampai putus. Burisrawa terkejut dan menuduh Arjuna berbuat curang. Arjuna membantah karena Burisrawa sendiri hendak membunuh Satyaki yang sudah pingsan serta kemarin ikut serta mengeroyok Abimanyu.

Burisrawa sadar atas kesalahannya. Ia pun duduk bermeditasi. Tiba-tiba Satyaki sadar dari pingsan dan langsung memungut potongan lengan Burisrawa yang masih memegang pedang. Dengan menggunakan pedang itu ia membunuh Burisrawa.

Menurut versi Bharatayuddha, Satyaki membunuh Burisrawa menggunakan pedang Mangekabhama, menurut versi Serat Bratayuda menggunakan panah Nagabanda, sedangkan menurut versi pewayangan menggunakan gada Wesikuning.

KEMATIAN SATYAKI

Kematian Satyaki terdapat dalam Mahabharata bagian ke-16 berjudul Mausalaparwa. Dikisahkan selang 36 tahun setelah pertempuran di Kurukshetra berakhir, bangsa Wresni dan Yadawa mengadakan upacara di tepi pantai Pramanakoti. Meskipun ada larangan untuk tidak membawa minuman keras, namun tetap saja ada yang melanggar.

Akibatnya, mereka pun berpesta mabuk-mabukan. Dalam keadaan tidak sadar, Satyaki mengejek Kretawarma yang dulu memihak Korawa sebagai pengecut karena menyerang perkemahan Pandawa pada waktu malam. Sebaliknya, Kretawarma juga mengejek Satyaki yang membunuh Burisrawa secara licik.

Satyaki yang sudah sangat mabuk segera membunuh Kretawarma. Akibatnya, orang-orang pun terbagi menjadi dua,sebagian membela Satyaki, sebagian membela Kretawarma. Mereka semua akhirnya saling bunuh dan semua tumpas.

Sejarah Asal Usul Satyaki Dalam Kisah Mahabharata