Kuwaluhan.com: Daftar pahlawan Banten
Berikut ini adalah daftar nama-nama tokoh Pahlawan Nasional atau Pejuang Nasional yang berasal dari Provinsi Aceh :

1. CUT NYAK DIEN 


Lahir : Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848
Wafat : Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh pada tahun 1848 dan meninggal di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Setelah ditangkap Belanda, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu".

Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. "Ibu Perbu" diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RINo.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

2. CUT NYAK MEUTIA


Lahir : di Pirak, Aceh Utara 1870
Wafat :  di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910

Tjoet Nyak Meutia lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870 dan meninggal di Alue Kurieng, Aceh pada 24 Oktober 1910. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Dan dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Dia diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September1910.

Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000.

3. TEUKU MUHAMMAD HASAN


Lahir : di Pidie, Aceh 4 April 1906
Wafat : di Jakarta, 21 September 1997

Teuku Muhammad Hasan lahir di Pidie, Aceh pada 4 April 1906 dan meninggal di Jakarta pada 21 September 1997 pada umur 91 tahun. Beliau adalah Gubernur Wilayah Sumatera pertama setelah Indonesia merdeka , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Pada usia 25 tahun, T.M Hasan memutuskan untuk bersekolah di Leiden University, Belanda. Selama di Belanda, ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang dipelopori oleh Muhammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat dan Nasir Datuk Pamuntjak. Selain kesibukannya sebagai mahasiswa, Hasan juga menjadi aktivis yang mengadakan kegiatan-kegiatan organisasi baik di dalam kota maupun di kota-kota lain di Belanda

Hasan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) tahun 1933.

Mr. Teuku Muhammad Hasan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.

Sebuah jalan di Banda Aceh dinamakan Jalan Mr. Teuku Muhammad Hasan

4. TEUKU NYAK ARIF


Lahir : 17 Juli 1899 Banda Aceh
Wafat : 4 Mei 1946 Takengon Aceh Tengah

Teuku Nyak Arif adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Ia juga merupakan Residen/gubernur Aceh yang pertama periode 1945–1946. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh.

Teuku Nyak Arief dikenal sebagai orator ulung walaupun selalu berbicara seperlunya saja. Sangat gemar membaca terutama yang menyangkut politik dan pemerintahan serta mendalami pengetahuan Agama. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau dalam usia muda ia telah giat dalam pergerakan.

Ia diangkat menjadi ketua National Indische Partij cabang Kutaraja pada tahun 1919. Setahun kemudian menggantikan Ayahnya sebagai Panglima Sagi 26 Mukim. Kemudian pada tahun 1927 Ia diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat Volksraad sampai dengan tahun 1931.

Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari Fraksi Nasional di Dewan Rakyat yang diketuai oleh Mohammad Husni Thamrin. Dalam berbagai kesempatan yang diperolehnya ini Ia banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan.

Sejak tahun 1932 T. Nyak Arif memimpin gerakan di bawah tanah menentang penjajahan Belanda di Aceh.

Teuku Nyak Arif aktif dalam kegiatan-kegiatan peningkatan pendidikan di Aceh, ia bersama Mr. Teuku Muhammad Hasan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, T. Nyak Arif menjadi sekretaris dengan ketuanya Mr. Teuku Muhammad Hasan.

Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh Teungku Daud Beureu'eh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepangdi Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.

Saat dalam keadaan sakit Teuku Nyak Arief masih memikirkan tawanan lainnya dan keadaan rakyat Aceh pada umumnya. T. Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon. Ia sempat berpesan kepada keluarganya: "Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya".

Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga di Lamreung, dua kilometer dari Lamnyong.

Teuku Nyak Arif dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974.

5. TEUKU UMAR


Lahir : di Meulaboh tahun 1854
Wafat : Meulaboh 11 Februari 1899

Teuku Umar adalah pahlawan asal Aceh yang berjuang dengan cara berpura-pura bekerjasama dengan Belanda & terkenal akan strategi perang gerilyanya. Ia melawan Belanda ketika telah mengumpulkan senjata dan uang yang cukup banyak.

Pada September 1893, Teuku Umar menyerahkan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang Panglima bawahannya, setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan.

Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gubernur Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari Gubernur Belanda.

Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya. Sebagai contoh, dalam peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para Pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.

Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara dihadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai perjuangan.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.

Berita larinya Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.

Pada Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.

Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh.

Atas pengabdian dan perjuangan serta semangat juang rela berkorban melawan penjajah Belanda, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air. Salah satu kapal perang TNI AL dinamakan KRI Teuku Umar (385). Selain itu Universitas Teuku Umar di Meulaboh diberi nama berdasarkan namanya.

6. TEUNGKU CHIK DI TIRO (MUHAMMAD SAMAN)


Lahir : di Pidie 1 Januari 1836
Wafat : Aneuk Galong, Aceh Besar 31 Januari 1891

Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada 1 Januari 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Dengan perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda.

Belanda akhirnya memakai siasat lain dengan cara meracunnya. Muhammad Saman akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.

Itulah beberapa nama tokoh Pahlawan Nasional dari Provinsi Aceh Indonesia.

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Dari Provinsi Aceh

Berikut ini adalah daftar nama-nama tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Daerah Istimewa Jakarta :

1. ABDULRAHMAN SALEH


Lahir : di Jakarta 02 Juli 1909
Wafat : 29 Juli 1947 Sleman

Abdul Rahman Saleh Sp.F lahir di Jakarta, 1 Juli 1909 dan meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 29 Juli 1947 pada umur 38 tahun. Beliau juga sering dikenal dengan nama julukan "Karbol". Abdul Rahman Saleh merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia, tokoh Radio Republik Indonesia (RRI) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini, mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.

Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Timesmemberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.

Abulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 November 1974.

Nama Ia diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yaitu (National Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.

2. ISMAIL MARZUKI


Lahir : Batavia, 11 Mei 1914
Wafat :  Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei1958

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia pada 11 Mei 1914 dan meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta pada 25 Mei 1958 pada umur 44 tahun. Beliau adalah salah seorang komponis besar Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru.

Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

3. MOHAMMAD HUSNI THAMRIN


Lahir : Batavia, 16 Februari 1894
Wafat : Batavia, 11 Januari 1941

Mohammad Husni Thamrin atau Mohammad Hoesni Thamrin, lahir di Weltevreden, Batavia pada 16 Februari 1894 dan meninggal di Senen, Batavia pada 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun. Beliau adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.

Mohammad Husni Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders ("pribumi"). Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).

Pada tanggal 11 Januari 1941 Muhammad Husni Thamrin wafat, setelah sakit beberapa waktu lamanya. Akan tetapi beberapa saat sebelum kewafatannya, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan "sangat kasar" terhadap dirinya. Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar itu, yaitu rumahnya digeledah oleh polisi-polisi rahasia Belanda (PID). Ia memprotesnya, akan tetapi tidak diindahkan.

Sejak itu rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya yang diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, juga termasuk anak perempuannya yang masih juga tidak diperkenankan meninggalkan rumahnya, sekalipun utntuk pergi ke sekolah. Tindakan polisi Belanda itu tentulah sangat menekan perasaannya dan menambah parah sakitnya. Wafatnya Muhammad Husni Thamrin tentulah sangat besar artinya bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang pemimpinnya yang cerdas dan berwibawa

Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.

Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta ("Proyek MHT") pada tahun 1970-an.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 2.000

4. WAGE RUDOLF SUPRATMAN


Lahir : di Jatinegara Batavia 9 Maret 1903
Wafat : Surabaya
Jawa Timur 17 Agustus 1938

Wage Rudolf Supratman adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya", dan pahlawan nasional Indonesia.

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya. Pada waktu itu ia berada di Bandung dan berusia 21 tahun.

Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito).

Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.

Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.

Soepratman diberi gelar Pahlawan Nasionaloleh pemerintah Indonesia dan Bintang Maha Putera Utama kelas III pada tahun 1971.

5. KAPTEN CZI ANUMERTA 
PIERRE ANDREAS TENDEAN


Lahir : Batavia 21 Februari 1939
Wafat : 1 Oktober 1965

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean lahir pada 21 Februari 1939 dan meninggal pada 1 Oktober 1965 pada umur 26 tahun. Beliau adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dengan pangkat letnan satu, ia dipromosikan menjadi kapten anumerta setelah kematiannya. Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965.

Pada pagi tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Jenderal Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah. Ia ditangkap oleh gerombolan G30S yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya. Ia ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.

Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, ia secara anumertadipromosikan menjadi kapten. Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk di Manado, Balikpapan, dan di Jakarta.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Jakarta.

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Dari Daerah Istimewa Jakarta

Berikut ini adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta :

1. PANGERAN DIPONEGORO


Lahir : 1785 di Yogyakarta
Wafat :  1855 di Makassar, Sulawesi Selatan

Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau lebih dikenal dengan nama Diponegoro, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 dan meninggal di Makassar, Hindia Belanda, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Sebagai penghargaan atas jasa Diponegoro dalam melawan penjajahan. Di beberapa kota besar Indonesia terdapat Jalan Pangeran Diponegoro. Kota Semarang sendiri juga memberikan apresiasi agar nama Pangeran Diponegoro akan senantiasa hidup. Nama-nama tempat yang menggunakan namanya antara lain Stadion Diponegoro, Jalan Pangeran Diponegoro, Universitas Diponegoro(Undip), maupun Kodam IV/Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro serta di pintu masuk Undip Tembalang.

Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pada tanggal 8 Januari 1955 pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.

Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya.

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.

2. Hamengkubuwono I


Lahir : tahun 1717 di Kartasura
Wafat : 1792 di Yogyakarta

Sri Sultan Hamengkubuwana I  lahir di Kartasura, 6 Agustus 1717 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792 pada umur 74 tahun. Beliau merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755 - 1792.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataramsejak Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya. Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.

3. Hamengkubuwono IX


Lahir : 1912 di Yogyakarta
Wafat : 1988 di Washington, DC, Amerika Serikat

Sri Sultan Hamengkubuwono IX  lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, tanggal 12 April 1912 dan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Beliau adalah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940–1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973 dan 1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Minggu malam 2 Oktober 1988, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meninggal dunia di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat karena serangan jantung dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri.

4. AHMAD DAHLAN


Lahir : 1868 di Yogyakarta
Wafat : 1934 di Yogyakarta

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 dan meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesiamenetapkannya sebagai Pahlawan Nasionaldengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.

5. KH FAKHRUDDIN


Lahir : 1890 di Yogyakarta
Wafat :  1929 di Yogyakarta

KH Fakhruddin atau sering dipanggil Muhammad Jazuli, lahir di Yogyakarta 1890 dan meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1929. Beliau adalah seorang pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga tokoh Muhammadiyah. Ia tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah umum. Pelajaran agama mula-mula diterima ayahnya, H. Hasyim, kemudian dari beberapa ulama terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Fakhruddin dianggap sebagai seorang tokoh yang serba bisa. Karena itu, silih berganti tugas penting diserahkan kepadanya, antara lain mengurus bagian dakwah, bagian taman pustaka, dan bagian pengajaran. Tahun 1921 ia diutus ke Mekah selama 8 tahun untuk meneliti nasib para jemaah haji yang berasal dari Indonesia karena mereka seringkali mendapat perlakuan kurang baik dari pejabat-pejabat Mekah. Sekembalinya, memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji. Selain itu, ia pernah pula diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam.

Kesibukannya mengurus Muhammadiyah dan usahanya, membuatnya kurang memperhatikan kesehatannya. Menjelang kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit. Pada tanggal 28 Februari 1929, ia akhirnya meninggal dunia di Yogyakarta dan dikebumikan di Pakuncen, Yogyakarta.

6. KI BAGUS HADIKUSUMO


Lahir : 1890 di Yogyakarta
Wafat : 1954 di Jakarta

Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus Hadikusumo lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun. Beliau adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI.

Setelah meninggal, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.

7. KI HAJAR DEWANTARA


Lahir : 1889 di Paku alam
Wafat : 1959 di Yogyakarta

Ki Hajar Dewantoro; lahir di Pakualama, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertaspecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

8. SUGIYONO MANGUNWIYOTO


Lahir : 1926 di Gunung Kidul
Wafat : 1965 di Yogyakarta

Kolonel Inf. (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul, 12 Agustus 1926 dan meninggal di Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 39 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban peristiwa Gerakan 30 September. Ia merupakan mantan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas.

9. SITI WALIDAH (Istri Ahmad Dahlan)


Lahir : 1872 di Kauman, Yogyakarta
Wafat : 1946 di Kauman, Yogyakarta

Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, 3 Januari 1872 dan meninggal di Kauman, Yogyakarta, dan meninggal pada 31 Mei 1946 pada umur 74 tahun atau juga lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Beliau adalah tokoh emansipasi perempuan, istri dari pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan dan juga seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada 10 November 1971, Nyai Ahmad Dahlan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Suharto sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971.  Ahmad Dahlan telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional sepuluh tahun sebelumnya. Penghargaan tersebut diterima oleh cucunya, M Wardan. Dia telah dibandingkan dengan pembela hak perempuan, Kartini dan gerilyawan, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.

10. SULTAN AGUNG


Lahir : 1591 di Kuta gede
Wafat : 1645 di Bantul

Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, lahir di Kutagede, Kesultanan Mataram tahun 1593 dan wafat di Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram tahun 1645. Beliau adalah Sultan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.

Menjelang tahun 1645 Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trahMataram.

Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram selanjutnya, bergelar Amangkurat I.

Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesiaberdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

11. SURYOPRANOTO (Soerjopranoto)


Lahir : 1871 di Paku alam
Wafat : 1959 di Cimahi

Raden Mas Soerjapranata juga sering ditulis Soerjopranoto lahir di Pakualaman pada 11 Januari 1871 dan meninggal di Tjimahi pada 15 Oktober 1959 pada umur 88 tahun. Beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-3 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 310 Tahun 1959, tanggal 30 November 1959.

12. WAHIDIN SUDIROHUSODO


Lahir : 1852 di Sleman
Wafat : 1917 di Yogyakarta

dr. Wahidin Soedirohoesodo lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta pada 7 Januari 1852 dan meninggal di Yogyakarta pada 26 Mei 1917 pada umur 65 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.

13. IGNATIUS JOSEPH KASIMO


Lahir : 1900 di Yogyakarta
Wafat : 1986 di Jakarta

Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono lahir di Yogyakarta, Hindia Belanda pada 10 April 1900 dan meninggal di Jakarta pada 1 Agustus 1986 umur 86 tahun. Beliau adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu, beberapa kali ia menjabat sebagai Menteri setelah Indonesia merdeka. Ia jugalah yang memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai beginselatau prinsip yang harus dipegang teguh.

IJ Kasimo meninggal pada Jumat Kliwon, 1 Agustus 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Karena perjuangannya, Kasimo mendapat anugerah Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II dan diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung.

Sementara oleh Pemerintah Indonesia, ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

14. RAJIMAN WEDIODININGRAT


Lahir : 1879 di Yogyakarta
Wafat : 1952 di Ngawi

Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 dan meninggal di Ngawi, Jawa Timur pada 20 September 1952 saat umur 73 tahun. Beliau adalah seorang dokter yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia.

Dr. Radjiman juga merupakan salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketuanya pada tahun 1914-1915.

Pada masa setelah kemerdekaan RI Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Daerah istimewa Yogyakarta.

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Asal Yogyakarta

Berikut ini adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Timur Indonesia :

1. IR Sukarno


Lahir : 1901 di Surabaya.
Wafat : 1970 di Jakarta.
Peran : Aktivis kemerdekaan yang membacakan Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Indonesia pertama.

Dr Ir Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1967. Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya. Soekarno meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun

2. Abdul Wahab Hasbullah


Lahir : tahun 1888 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1971 di Kabupaten Jombang.
Peran : Tokoh Islam, salah seorang pendiri Nadhlatul Ulama.

Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah lahir di Jombang, 31 Maret 1888 dan meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun. Beliau adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

3. Sutomo (Bung Tomo)


Lahir : 1920 di Surabaya.
Wafat : 1981 di Arab Saudi.
Peran : Pemimpin militer yang memimpin perlawanan dalam Pertempuran Surabaya.

Sutomo lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 dan meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun. Suomo lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, dia merupakan pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

4. Basuki Rahmat


Lahir : 1921 di Kabupaten Tuban.
Wafat : 1969 di Jakarta.
Peran : Jenderal, saksi dari Supersemar.

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Basuki Rahmat lahir di Tuban, Jawa Timur, Hindia Belanda, 4 November 1921 dan meninggal di Jakarta, Indonesia, 8 Januari 1969 pada umur 47 tahun. Beliau adalah Jenderal Tentara Nasional Indonesia dan menjadi saksi penandatanganan Supersemar dokumen serah terima kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.

5. Cokroaminoto atau Oemar Said Tjokroaminoto


Lahir : 1883 di Kabupaten Ponorogo.
Wafat : 1934 di Yogyakarta.
Peran : Politisi, pemimpin Sarekat Islam, mentor Sukarno.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1883 dan meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 51 tahun. Dalam Buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, karangan Drs. Mansur, MA. Penerbit Pustaka Pelajar, 2004; halaman 13. Beliau lebih dikenal dengan nama H.O.S Cokroaminoto yang merupakan salah satu pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI).

Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia.

6. Ernest Douwes Dekker / Danudirja Stiabudi atau Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker


Lahir : 1879 di Pasuruan.
Wafat : 1950 di Bandung.
Peran : Jurnalis dan politisi Indo yang membantu kemerdekaan Indonesia.

Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir di Pasuruan, Hindia Belanda, 8 Oktober 1879 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun. Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Beliau juga merupakan salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20, penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda, wartawan, aktivis politik, serta penggagas nama "Nusantara" sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah salah satu dari "Tiga Serangkai" pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.

7. Harun Bin Said atau Harun Tohir


Lahir : 1947 di Bawean, Kabupaten Gresik.
Wafat : 1968 di Singapura.
Peran : Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia.

Kopral Dua KKO atau Harun Tohir bin Mandar lahir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 14 April 1943 dan meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun. Dia adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando; kini disebut Korps Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Kopral KKO TNI Anumerta Harun bin Said alias Thohir bin Mandar Anggota Korps Komando AL-RI Harun bin Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta, dan kini nama ia diabadikan menjadi nama Jalan di depan Markas Korps Marinir (Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun), Kwitang, Jakarta Pusat, Kapal Republik Indonesia, KRI Usmman-Harun (359) dan Bandar Udara Harun Thohir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.

8. Halim Perdanakusuma


Lahir : 1922 di Kabupaten Sampang.
Wafat : 1947 di Malaysia.
Peran : Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional.

Abdul Halim Perdanakusuma lahir di Sampang, 18 November 1922 dan meninggal di Malaysia, 14 Desember 1947 pada umur 25 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia saat menjalankan tugas semasa perang Indonesia- Belanda di Sumatera, yaitu ketika ditugaskan membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dengan pesawat terbang dari Thailand.

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Halim, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma.

9. KH Hasyim Asy’ari


Lahir : 1871 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1947 di Kabupaten Jombang.
Peran : Ulama Pemimpin Islam, pendiri Nahdlatul Ulama.

Kiai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871 dan meninggal di Jombang, Jawa Timur, 21 Juli 1947 pada umur 76 tahun; 24 Dzul Qo'dah 1287 H- 3 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Beliau adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

10. Iswahyudi


Lahir : 1918 di Surabaya.
Wafat : 1947 di Malaysia.
Peran : Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional.19759.

Marsekal Muda TNI (Anumerta) R. Iswahjoedi lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 Juli 1918 dan meninggal di Perak, Malaysia, 14 Desember 1947 pada umur 29 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Bersama Adisoetjipto, Abdoelrahman Saleh, dan Husein Sastranegara, Iswahyudi dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia.

Awal tahun 1947, Iswahjoedi diangkat menjadi Komandan Lanud Maospati Madiun dengan dibantu oleh Wiweko Soepono dan Nurtanio. Pada tahun ini juga, kembali Iswahyudi ditugaskan menjadi Komandan di Lanud Gadut Bukittinggi. Marsekal Mada Iswahjoedi meninggal di Tanjung Hantu, Malaysia, 14 Desember 1947 karena pesawatnya Avro Anson RI-003 jatuh tertembak. Namun Jenazahnya tidak ditemukan hingga saat ini.

Namun Secara simbolik sebagai bentuk penghargaan pangkat keduanya dinaikkan menjadi Laksamana Muda (U) Anumerta (kini Marsekal Muda Anumerta). Atas perjuangannya hingga detik-detik terakhir maka ditempatkan makam pahlawan di TMP Kalibata. Pada 10 November 1960, pemerintah Indonesia mengabadikan nama Iswahyudi dengan mengganti nama Lanud Maospati berganti nama menjadi Lanud Iswahyudi, Madiun.

11. Supriyadi / Sodancho Suprijadi


Lahir : 1925 di Trenggalek.
Wafat : Hilang, belum ditemukan.
Peran : Pemimpin pemberontakan melawan pasukan pendudukan Jepang di Blitar.

Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancho Soeprijadi lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial, tetapi digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumopada 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

12. Suroso


Lahir : 1893 di Porong, Sidoarjo.
Wafat : 1981 di Indonesia.
Peran : Politisi dan aktivis kemerdekaan.

Raden Pandji Soeroso  lahir di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 November 1893 dan meninggal di Indonesia, 16 Mei 1981 pada umur 87 tahun. Beliau adalah mantan GubernurJawa Tengah, mantan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan mantan anggota BPUPKI/PPKI. Ia juga bertugas sebagai wakil ketua BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

Pemerintah Indonesia telah mengangkat Raden Pandji Soeroso sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, melalui Surat Keputusan Presiden No. 81/TK/1986. Ia juga dikenal sebagai Pendiri sekaligus ketua Induk Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.

13. Ario Soerjo


Lahir : 1898 di Kabupaten Magetan.
Wafat : 1948 di Kabupaten Ngawi.
Peran : Gubernur Jawa Timur saat Revolusi Nasional.

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau biasa dikenal dengan nama Gubernur Soerjo lahir di Magetan, Jawa Timur, 9 Juli 1898 dan meninggal di Bago, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, 10 September 1948 pada umur 50 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dan gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga tahun 1948. Sebelumnya, ia menjabat Bupati di Kabupaten Magetan dari tahun 1938 hingga tahun 1943. Ia adalah menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah menjabat bupati Magetan, ia menjabat Su Cho Kan Bojonegoro (Residen) pada tahun 1943.

14. Mas Isman

Lahir : 1924 di Kabupaten Bondowoso.
Wafat : 1982 di Surabaya.
Peran : Pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda.


Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 12 Desember 1982 pada umur 58 tahun. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timuryang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

15. Mas Mansoerr ( Mas Mansur )


Lahir : 1896 di Surabaya.
Wafat : 1946  di Surabaya.
Peran : Sarjana Islam, pemimpin Muhammadiyah.

Kiai Haji Mas Mansoer lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 dan meninggal di Surabaya, 25 April 1946 pada umur 49 tahun. Beliau adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia.

Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya. Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda (NICA). Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Kalisosok. Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya.

Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama teman seperjuangannya, yaitu KH. Fakhruddin.

16. Mas Tirtodarmo Haryono


Lahir : 1924 di Surabaya.
Wafat : 1965 di Lubang Buaya, Jakarta.
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September.

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 41 tahun. Beliau adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada persitiwa G30S. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.

17. Sukarni


Lahir : 1916 di Kabupaten Blitar.
Wafat : 1971 di Jakarta.
Peran : Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi.

Soekarni (EYD: Sukarni; lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 dan meninggal di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun), yang nama lengkapnya adalah Soekarni Kartodiwirjo. Beliau adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia disematkan oleh Presiden Joko Widodo, pada 7 November 2014 kepada perwakilan keluarga di Istana Negara Jakarta.

Pada masa Orde Baru, Sukarni dibebaskan dan larangan Murba dicabut (direhabilitasikan 17 Oktober 1966). Kemudian Sukarni ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung(DPA, 1967) yang merupakan jabatan resmi terakhir. Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputra kelas empat ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.

18. Wahid Hasyim


Lahir : 1914 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1953 di Kota Cimahi.
Peran : Pemimpin Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Indonesia pertama.

K. H. Abdul Wahid Hasjim atau Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 dan meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Beliau merupakan ayah dari presiden keempat Indonesia, yaitu KH Abdurrahman Wahid dan anak dari Mohammad Hasyim Asy'ari, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila sebagai pengganti dari "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasjim. Wahid dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.

Wahid Hasjim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi tanggal 19 April 1953.

19. Untung Surapati


Lahir : 1660 di Bali.
Wafat : 1706 di Bangil, Pasuruan.
Peran : Memimpin beberapa pemberontakan melawan VOC.

Untung Surapati atau Untung Suropati lahir di Bali, 1660 dan meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun. Beliau adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung /Bupati Pasuruan.

Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

20. Soetomo


Lahir : 1888 di di Ngepeh, Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Wafat : 1938 di Surabaya.
Peran : mendirikan Budi Utomo.

Dr. Soetomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Juli 1888 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 30 Mei 1938 pada umur 49 tahun. Beliau adalah tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia.

Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club (dalam bahasa Belanda Indonesische Studie Club atau Kelompok Studi Indonesia) di Surabaya, pada tahun 1930 mendirikan Partai Bangsa Indonesia dan pada tahun 1935 mendirikan Parindra (Partai Indonesia Raya).

21. Mustopo


Lahir : 1913 di Ngadiluwih, Kediri.
Wafat : 1986 di Bandung.
Peran : Pemimpin saat Pertempuran Surabaya, mendirikan Kampus Kedokteran Gigi Dr. Moestopo.

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. DR. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, 13 Juni 1913 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 29 September 1986 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang dokter gigi Indonesia, pejuang kemerdekaan, dan pendidik. Dia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2007.

Ketika hubungan rusak dan Presiden Soekarno dipanggil ke Surabaya untuk memperbaikinya, Moestopo ditawari pekerjaan sebagai penasihat tetapi tidak diterimanya. Selama perang ia menjabat beberapa posisi lainnya, termasuk memimpin satu skuadron tentara reguler, pencopet, dan pelacur untuk menyebarkan kebingungan di jajaran pasukan Belanda. Setelah perang, Moestopo meneruskan bekerja sebagai dokter gigi, dan pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Moestopo. Dia meninggal di Bandung pada tahun 1986.

22. Supeni Pudjobuntoro


Lahir : di Tuban, Jawa Timur, 17 Agustus 1917
Wafat : di Jakarta, 25 Juni 2004
Peran :  politikus Indonesia.

Supeni Pudjobuntoro atau yang dikenal juga dengan nama Supeni lahir di Tuban, Jawa Timur, 17 Agustus 1917 dan meninggal di Jakarta, 25 Juni 2004 pada umur 86 tahun. Dia adalah politikus Indonesia. Supeni dikenal sebagai politikus wanita yang menduduki berbagai jabatan penting di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR sekaligus anggota Konstituante melalui partai PNI. Sebagai diplomat, ia pernah menjabat sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Amerika Serikat dan duta besar keliling pada zaman Presiden Soekarno.

Itulah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Timur Indonesia berdasarkan banyak sumber. 

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Dari Jawa Timur

Berikut ini adalah daftar nama-nama Tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi jawa Tengah/Jateng :

KH Ahmad Rifa'i


lahir: 1786,
wafat: 1870,
Peran: Pemikir dan penulis Islam yang dikenal karena pernyataan anti-Belandanya, penetapan menjadi pahlawan: 2004

Kiai Haji Ahmad Rifa'i lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1786 dan meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1859. Ahmad Rifa'i merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri , penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan.

Sejak kecil ia sudah dididik oleh ayahnya, KH Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja ia sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, ia menunaikan ibadah hajikemudian memperdalam ilmu agama di Mekkah dan Madinah selama 8 tahun. Setelah itu ia juga menimba ilmu di Mesir.


Ia Dimakamkan di Pekuburan Jawa Tondanodi Kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Nyi Ageng Serang


lahir : 1752,
wafat : 1828,
peran : Pemimpin gerilyawan Jawa yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan, penetapan menjadi pahlawan: 1974

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lahir di Purwodadi, Jawa Tengah tahun 1752  dan wafat  di Yogyakart tahun 1828.

Beliau merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien tetapi ia sangat berjasa bagi negeri ini.Warga Kulon Progo mengabadikan monumennya di tengah kota Wates berupa patungnya yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.

Ahmad Yani


lahir : 1922,
wafat : 1965,
peran: Pemimpin Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani  atau Achmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah tanggal 19 Juni 1922 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun. Beliau adalah komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, dan dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September saat mencoba untuk menculik dia dari rumahnya.

Alimin


Lahir : 1889,
wafat: 1964,
Peran: Pendukung kemerdekaan, politisi, dan tokoh Partai Komunis Indonesia, penetapan menjadi pahlawan tahun 1964

Alimin bin Prawirodirdjo lahir di Surakarta Jawa Tengah tahun 1889 dan meninggal di Jakarta tanggal 24 Juni 1964.
Beliau adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunis Indonesia. Berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26 Juni 1964, Alimin tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Setelah tidak lagi aktif di PKI, Alimin menikah dengan Hajjah Mariah dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Tjipto dan Lilo, dan ia tinggal di Jakarta hingga wafatnya pada tahun 1964. Pada saat wafatnya Alimin, Soekarno, Presiden RI pertama menganugerahkan gelar pahlawan nasionalberdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 163 tanggal 26 Juni 1964 dan dimakamkan di TMP Kalibata.

Cipto Mangunkusumo


lahir: 1886,
wafat: 1943,
Peran: Politisi Jawa, mentor Sukarno, penetapan menjadi pahlawan tahun 1964

Tjipto Mangoenkoesoemo (EYD: Cipto Mangunkusumo) lahir di Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah tahun 1886 dan meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943.
Beliau adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.

Gatot Subroto


Lahir: 1907,
Wafat: 1962,
Peran: Jenderal, deputi ketua staff Angkatan Darat, penetapan menjadi pahlawan: 1962

Jenderal TNI (Purn.) Gatot Soebroto lahir di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah tanggal 10 Oktober 1907 dan meninggal di Jakarta, 11 Juni 1962 pada umur 54 tahun.
Beliau adalah tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Ungaran, kabupaten Semarang.

Usman Janatin


Lahir: 1943,
wafat: 1968,
peran: Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia, penetapan menjadi pahlawan : 1968

Sersan Dua KKO (Anumerta) Usman Jannatin bin H. Muhammad Ali lahir di Banyumas, Jawa Tengah tanggal 18 Maret tahun 1943 dan meninggal di Singapura tanggal 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun.

Beliau adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando; kini disebut Korps Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Harun Thohir, ia di hukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965.

Harjo Djatikoesoemo 


Lahir : 1917,
wafat : 1992,
Peran : Jenderal Angkatan Darat dan politisi, penetapan menjadi pahlawan : 2002

Jenderal TNI (Purn.) Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta, 4 Juli 1992 pada umur 75 tahun.
Dia adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949) dan mantan Duta Besar RI untuk Singapura (1958-1960).

Djatikoesoemo merupakan putra bangsa yang berdarah keraton, terlahir sebagai putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

RA Kartini


Lahir: 1879,
wafat: 1904,
peran: Tokoh hak asasi perempuan Jawa, penetapan menjadi pahlawan : 1964

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini. Dia adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Katamso Darmokusumo


Lahir: 1923,
Wafat: 1965,
Peran: Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan : 1965

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari 1923 dan meninggal di Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 42 tahun. Dia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia, Ia merupakan mantan Komandan Korem 072/Pamungkas. Katamso termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro 


Lahir: 1904,
wafat: 1957,
Peran: Pengajar bersama dengan Budi Utomo dan Taman Siswa, menteri pemerintahan, penetapan menjadi pahlawan : 2011

Ki Mangunsarkoro atau Sarmidi Mangunsarkoro lahir 23 Mei 1904 dan meninggal 8 Juni 1957 pada umur 53 tahun. Dia adalah pejuang di bidang pendidikan nasional, ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949 hingga tahun 1950.

Perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, di antaranya pada tahun 1930-1938 menjadi Anggota Pengurus Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan penganjur gerakan Kepanduan Nasional yang bebas dari pengaruh kolonialisme Belanda. Selanjutnya pada tahun 1932-1940 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Pengajaran Majelis Luhur Tamansiswa merangkap Pemimpin Umum Tamansiswa Jawa Barat. Pada tahun 1933 Ki Sarmidi Mangunsarkoro memegang Kepemimpinan Taman Dewasa Raya di Jakarta yang secara khusus membidangi bidang Pendidikan dan Pengajaran.

Mangkunegara I


lahir: 1725,
wafat: 1795,
Peran: Melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dan antek-anteknya di Jawa Tengah, penetapan menjadi pahlawan: 1988

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (nama lahir Raden Mas Said, lahir di Kartasura, 7 April 1725 dan meninggal di Surakarta, 23 Desember 1795 pada umur 70 tahun. Dia adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di Jawa bagian tengah selatan, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara dari Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.

Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, perwakilan VOC, karena di dalam peperangan R.M. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Muhammad Mangundiprojo


lahir: 1905,
wafat: 1988,
Peran : Pejuang kemerdekaan, pemimpin Pertempuran Surabaya, penetapan menjadi pahlawan : 2014

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Raden Muhammad Mangoendiprodjo (EYD: Muhammad Mangundiprojo lahir di Sragen Jawa Tengah 5 Januari 1905 dan meninggal di Bandar Lampung, 13 Desember 1988 pada umur 83 tahun. Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan perwira militer Indonesia yang ikut serta dalam Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

Muwardi


lahir: 1907,
wafat: 1948,
Peran: Menangani keamanan saat Proklamasi Kemerdekaan, membangun sebuah rumah saat di Surakarta, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Dr. Moewardi lahir di Pati, Jawa Tengah, 1907 dan meninggal Surakarta, Jawa Tengah, 13 Oktober 1948. Dia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Moewardi adalah seorang dokter lulusan STOVIA. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan Spesialisasi Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Selain itu aa adalah ketua Barisan Pelopor tahun 1945 di Surakarta dan terlibat dalam peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam acara tersebut, ia juga turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu.

Pakubuwono VI


lahir: 1807,
wafat: 1849,
Peran: Susuhunan Surakarta, memberontak melawan pasukan kolonial Belanda, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Sri Susuhunan Pakubuwana VI atau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono VI lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807 dan meninggal di Ambon, 2 Juni 1849 pada umur 42 tahun. Dia adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata.

Sunan Pakubuwana VI telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.

Pakubuwono X


lahir: 1866,
wafat: 1939,
Peran: Susuhunan Surakarta, mendukung berbagai proyek untuk kepentingan Pribumi Indonesia, penetapan menjadi pahlawan: 2011

Sri Susuhunan Pakubuwana X lahir di Surakarta, 29 November 1866 dan meninggal di Surakarta, 22 Februari 1939 pada umur 72 tahun. Dia adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1893 – 1939.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 1939. Ia disebut sebagai Sinuhun Wicaksana atau raja besar dan bijaksana. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya, GRM. Antasena (KGPH. Hangabehi), yang kemudian bergelar Pakubuwana XI. Pakubuwana X mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Indonesiapada tahun 2011 atas jasa-jasanya dalam mendukung perjuangan organisasi pergerakan nasional.

Saharjo


lahir: 1909,
wafat: 1963,
Peran: Menteri Kehakiman, pelopor pengesahan pembaruan di negara tersebut, penetapan menjadi pahlawan: 1963

Dr. Sahardjo, SH lahir di Solo, Jawa Tengah, 26 Juni 1909 dan meninggal di Jakarta, 13 November 1963 pada umur 54 tahun. Dia adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi ManusiaIndonesia pada Kabinet Kerja I (10 Juli 1959–18 Februari 1960), Kabinet Kerja II (18 Februari 1960–6 Maret 1962), Kabinet Kerja III(6 Maret 1962–13 November 1963).

Saharjo merupakan tokoh penting dalam bidang hukum di Indonesia. Hasil buah pemikirannya yang penting adalah Undang-undang Warga Negara Indonesia pada tahun 1947 dan Undang-undang Pemilihan Umum pada tahun 1953
Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Samanhudi


lahir: 1878,
wafat: 1956,
Peran: Pengusaha, mendirikan Sarekat Islam, penetapan menjadi pahlawan: 1961

Samanhudi atau sering disebut Kyai Haji Samanhudi lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 1868 dan meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956. Dia adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Nama kecilnya ialah Sudarno Nadi.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islamdengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.
Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.

Siswondo Parman


lahir: 1918,
wafat: 1965,
Peran: Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 47 tahun, atau lebih dikenal dengan nama S. Parman. Beliau adalah salah satu pahlawan revolusiIndonesia dan tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh pada persitiwa Gerakan 30 September dan mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Parman merupakan salah satu dari enam jenderal yang dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September pada malam 30 September-1 Oktober 1965. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September-1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah rumah Parman di Jalan Syamsurizal no.32

Siti Hartinah


lahir: 1923,
wafat: 1996,
Peran: Istri presiden Suharto, aktif dalam karya sosial, mendirikan Taman Mini Indonesia Indah, penetapan menjadi pahlawan: 1996

Raden Ayu Siti Hartinah lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1996 pada umur 72 tahun. Dia adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil Ibu Tien Soehartomerupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya.

Slamet Riyadi


lahir: 1927,
wafat: 1950,
Peran: Brigadir Jeneral Angkatan Darat, terbunuh ketika putting down pemberontakan di Sulawesi, penetapan menjadi pahlawan: 2007

Brigadir Jenderal TNI Ignatius Slamet Rijadi atau Slamet Riyadi lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 dan meninggal di Ambon, 4 November 1950 pada umur 23 tahun. Dia adalah seorang tentara Indonesia. Rijadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, putra dari seorang tentara dan penjual buah. "Dijual" pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Rijadi tumbuh besar di rumah orangtuanya dan belajar di sekolah milik Belanda. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda, Rijadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Jendral Sudirman


lahir: 1916,
wafat: 1950,
Peran: Komandan Ketua Tentara Nasional Indonesia pada saat Revolusi Nasional, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Jenderal Besar Raden Soedirman lahir 24 Januari 1916 dan meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Beliau adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesiapertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasadi Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.

Albertus Sugiyapranata

lahir: 1896,
wafat: 1963,
Peran: Uskup Katolik Jawa dan nasionalis, penetapan menjadi pahlawan: 1963

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ atau Albertus Sugiyapranata lahir pada tanggal 25 November 1896 dan meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun. Beliau lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi uskup agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut "100% Katolik, 100% Indonesia".

Suharso

lahir: 1912,
wafat: 1971,
Peran: Pelopor pengobatan prostesis, penetapan menjadi pahlawan: 1973

Prof. Dr. Suharso lahir di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 13 Mei 1912 dan meninggal di Solo, Jawa Tengah, 27 Februari 1971 pada umur 58 tahun. Beliau adalah dokter ahli bedah, pahlawan nasional Indonesia, dan pendiri Pusat Rehabilitasi Profesor Dokter Suharso yang merupakan tempat merawat penderita cacat jasmani.

Sukarjo Wiryopranoto

lahir: 1903,
wafat: 1962,
Peran: Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi, penetapan menjadi pahlawan: 1962

Sukarjo Wiryopranoto lahir di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, 5 Juni 1903 dan meninggal di New York, Amerika Serikat, 23 Oktober 1962 pada umur 59 tahun. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Tamatan Sekolah Hukum tahun 1923 ini kemudaian bekerja di Pengadilan Negeri di beberapa kota sampai akhirnya mendirikan sendiri kantor pengacara "Wisnu" di Malang, Jawa Timur.

Sukardjo menjadi anggota Volksraad pada tahun 1931. Selain itu bersama Dr. Soetomoia mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia(PBI).

Ia juga pernah menjabat sebagai Perwakilan Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sampai akhir hayatnya.
Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Supeno

lahir: 1916,
wafat: 1949,
Peran: Menteri pemerintahan, terbunuh ketika perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional, penetapan menjadi pahlawan: 1970

Soepeno lahir di Kota Pekalongan, 12 Juni1916 dan meninggal di Ganter, Ngliman, Sawahan, Nganjuk, 24 Februari 1949 pada umur 32 tahun. Beliau adalah Menteri Pembangunan dan Pemuda pada Kabinet Hatta I, dan juga tokoh pemuda pada saat Pergerakan Nasional. Dia meninggal dunia sewaktu masih menjabat dalam jabatan tersebut akibat Agresi Militer Belanda II.

Supomo

lahir: 1903,
wafat: 1958,
Peran: Menteri Kehakiman Pertama, membantu penulisan Konstitusi, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Prof. Mr. Dr. Soepomo atau Supomo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 dan meninggal di Jakarta, 12 September 1958 pada umur 55 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Soepomo dikenal sebagai arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama dengan Muhammad Yamin dan Soekarno.

Suprapto

lahir: 1920,
wafat: 1965,
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920 dan meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 45 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam G30S/PKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sutoyo Siswomiharjo

lahir: 1922,
wafat: 1965,
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun. Beliau adalah seorang perwira tinggi TNI-AD yang diculik dan kemudian dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September di Indonesia.

Tirto Adhi Suryo

lahir: 1880,
wafat: 1918,
Peran: Jurnalis, diasingkan karena editorial anti-Belanda buatannya, penetapan menjadi pahlawan: 2006

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, 1880 dan meninggal tahun 1918. Beliau adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula.

Pada 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Urip Sumoharjo

lahir: 1893,
wafat: 1948,
Peran : Pemimpin Angkatan Darat Indonesia, komandan kedua setelah Sudirman, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Jenderal TNI (Anumerta) Oerip Soemohardjo atau Urip Sumoharjo lahir 22 Februari1893 dan meninggal 17 November 1948 pada umur 55 tahun. Beliau adalah seorang jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Lahir di Purworejo, Hindia Belanda.

Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Yos Sudarso

lahir: 1925,
wafat: 1962,
Peran : Komodor Angkatan Laut, terbunuh saat konfrontasi dengan Belanda di Nugini Belanda, penetapan menjadi pahlawan : 1973

Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925 dan meninggal di Laut Aru, 15 Januari 1962 pada umur 36 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia gugur di atas KRI Macan Tutul dalam peristiwa pertempuran Laut Aru setelah ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Everstenmilik armada Belanda pada masa kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan menjadi nama KRI dan pulau.

AGUSTINUS ADISUCIPTO

Lahir : 1916 di Salatiga, Jawa Tengah
Wafat : 1947 di Bantul, Yogyakarta

Marsekal Muda (Anumerta) Agustinus Adisoetjipto, lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916 dan meninggal di Bantul, Yogyakarta, 29 Juli 1947 pada umur 31 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional dan seorang komodor udara Indonesia. Ia adalah seorang penganut agama Katolik.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisujipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya. Sehingga pesawat baru berangkat kembali pada pukul13.00, pesawat ini mengangkut total 9 orang.

Sementara itu, di Lanud Maguwo, Kepala Staf S. Suryadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut. Ini mengingat bahwa di dalam pesawat, ada dua tokoh penting AURI, yakni A. Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh.

Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat. Tiba-tiba dari arah utara, muncul dua pesawat Kittyhaw km milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, yang langsung menembaki pesawat tersebut. Akibatnya pesawat hilang kendali dan akhirnya pesawat jatuh di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo dan langsung terbakar. Semua orang di pesawat meninggal dunia, hanya pesawatnya yang berhasil selamat.

Ia dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.


Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah Indonesia.

Inilah Daftar Tokoh Pahlawan Dari Jawa Tengah (Jateng)

Subscribe Our Newsletter