Thursday, April 11, 2019

Hukum Dan Azab Mengerikan Pesugihan (Siryik)

Dalam pandangan Islam, menyekutukan Allah merupakan dosa besar, dosa berat. Bahkan, perbuatan menyekutukan Tuhan dalam Islam adalah dosa terberat nomor satu dari ratusan jenis dan macam-macam dosa yang dilakukan manusia.

Dosa seorang pembunuh, pezina, memakan riba, memakan harta anak yatim, durhaka kepada orang tua, dan macam-macam dosa besar lainnya, masih besar dosanya seorang yang syirik kepada Allah. Orang yang syirik disebut juga musyrik.

Menurut Al Quran dalam Surat An Nisaa ayat 48, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.”

Dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 72 juga dijelaskan, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah pasti mengharamkan surga kepadanya, dan neraka adalah tempatnya.”

Menurut Al Qur’an Surat Luqman ayat 13, Allah juga berfirman: ” Sesungguhnya menyekutukan (Allah) merupakan sebuah kedzaliman besar.”

Bahkan, segala amal baiknya berupa pahala dihapuskan ketika ia menjadi seorang yang musyrik. Allah dalam QS Al An’am ayat 88 berfirman: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, maka lenyap amalan yang telah mereka kerjakan.”

Dalam pesugihan, sudah jelas manusia menyekutukan Allah dengan bangsa gaib seperti jin, setan atau iblis. Bahkan, mereka mengorbankan anggota keluarganya seperti anak untuk dijadikan tumbal. Pengorbanan selain untuk Allah, itu juga bagian dari syirik besar.

Tidak ada syarat dalam pesugihan yang dilakukan dengan cara islami. Sebagian besar syarat-syaratnya jauh dari agama Islam. Misalnya, berzina, mengorbankan keluarga kepada makhluk halus pemberi rejeki, dan ritual-ritual musyrik lainnya.

Bahkan, dosa dari perbuatan pesugihan berlipat ganda, tidak hanya syirik saja. Bila dalam pesugihan mensyaratkan tumbal, maka ia juga melakukan pembunuhan. Bila ada syarat berhubungan intim dengan bukan istrinya, berarti dia berzina.

Semua syarat-syarat untuk mendapatkan pesugihan memang jauh dari syariat Islam. Cara-cara seperti itu memang menjadi bagian dari cara syetan, iblis yang ingin menyesatkan manusia ke dalam gelombang kenistaan dan material yang hanya sementara.

Padahal, Allah sudah mengatakan bila semua kekayaan alam yang melimpah di dunia ini sudah disediakan untuk manusia agar bisa hidup dan menyembah-Nya. Kita sebagai manusia hanya berikhtiar, kerja keras, dan tidak lupa berdoa supaya usahanya diberikan kemudahan oleh Tuhan.

Pesugihan yang sejati berasal dari Allah. Namun, Allah tidak kemudian mengabulkan berupa kemudahan yang nyata seperti meminta kepada syetan. Allah menghendaki adanya proses, sehingga alam berjalan sesuai dengan sunatullah. Manusia harus berikhtiar, hasilnya diserahkan kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada dalam dirinya mereka.” Dalil ini yang dinamakan proses alam, sunatullah, dan ikhtiar.

AZAB PESUGIHAN (SIRYIK)

Menurut Alquran, syirik dalam hal keyakinan (syirik besar) mengakibatkan sanksi-sanksi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Sanksi-sanksi  tersebut ialah sebagi berikut:

Dosa yang disebabkan oleh syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Ini berlaku bagi yang tidak bertaubat atau meninggal dalam dosa itu.


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, “ (Qs. An-Nisa’, 48).

Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan sebab nuzul ayat ini. Bahwa Ibnu Abi Hatim dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang dan menghadap Rasul dan berkata kepada beliau: “Saya tidak mempunyai keponakan laki-laki yang tidak henti-hentinya melakukan keharaman.” Rasul bertanya: “Agamanya apa?” Orang itu lantas menjawab, “Dia shalat dan beriman bahwa Allah adalah satu.” Rasul kemudian berkata kepada laki-laki tersebut: “Mintalah agamanya darinya.” Lalu laki-laki itu meminta agama anak saudaranya itu, nemun anak saudaranya itu enggan memberitahukannya. Akhirnya laki-laki itu kembali menghadap Rasul lagi dan berkata: ”Dia memang erat agamanya.” Lalu turunlah ayat ini.

Ayat di atas menegaskan bahwa setiap orang yang melakukan dosa yang sangat besar dan berada di bawah keputusan Allah. Apabila Dia berkehendak, maka Allah akan mengampuninya. Namun apabila tidak, maka Allah akan menyiksanya selagi dosa besar tersebut tidak berupa kemusyrikan.

Terkait aturan balasan orang yang melakukan dosa, Allah jelaskan di ayat lain, seperti dalam firman-Nya:

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا ٣١

Artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga) (Qs. An-Nisa’, 31).


Tidak boleh melakukan perkawinan dengan wanita atau laki-laki Muslim

وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

حَتَّىٰ يُؤۡمِنُواْۚ وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ

وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٢١

Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran, “ (Qs. Al-Baqarah, 221).

Di akhirat mereka akan meraskan azab yang berat.

وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوۡءِۚ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۖ وَغَضِبَ

ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَلَعَنَهُمۡ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ٦

Artinya: “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali (Qs. Al-Fath, 6).

Mereka dimasukkan ke dalam neraka.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk,’”(Qs. Al-Bayyinah, 6).

Diharamkan bagi mereka masuk surga.

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ

مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun, “ (Qs. Al-Maidah, 72).

Syirik  sebagai najis yang musti dijauhi.

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَيۡلَةٗ

فَسَوۡفَ يُغۡنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦٓ إِن شَآءَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٢٨

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Qs. At-Taubah, 28).

Mereka masuk dalam orang-orang yang sesat.

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١١٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya,” (Qs. An-Nisa’, 116).

Masih menurut Wahbah Zuhaili menegaskan bahwa surat An-Nisa’ ayat 116 ini dilatarbelakangi oleh kasus Thu’mah bin Ubairiq yang melakukan pencurian, ketika Rasulullah menjatuhkan vonis hukuman potong tangan terhadap dirinya, lalu ia melarikan diri ke Makkah dan murtad. Ketika di Makkah, ia membobol sebuah rumah, lalu orang orang musyrik penduduk Makkah berhasil menangkapnya, lalu membunuhnya. Lalu turunlah ayat ini.

Wallohua'lam Bisshowab

Monday, February 5, 2018

Inilah Pedihnya Azab dan Siksaan Memakan Harta Anak Yatim dalam Islam

Salah satu golongan hamba Allah yang sangat dimuliakan Allah SWT. adalah anak yatim. Anak yatim adalah salah satu orang yang memiliki kedudukan terbaik disisi Allah dan sebagai orang yang dikasihi oleh Allah SWT, maka oleh dari itu sudah sepantasnya anak yatim bersyukur atas nikmat lain yang dikaruniakan Allah terhadapnya meskipun telah kehilangan orang yang meraka cintai. Karena itu semua adalah ujian Allah SWT.


Anak yatim banyak disebutkan dalam Al-qur’an bahkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.. termasuk disana menjelaskan tentang azab dan dosa bagi orang yang menganiaya anak yatim. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-qur’an surat Al-ma'un aya 1 dan 2 berikut ini.

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim" (Q.S. Al-ma’un ayat 1 dan 2)

Salah satu di antara rasa belas kasihan yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka ialah, Allah melarang harta anak yatim dimakan. Siapa saja yang berani memakan harta anak yatim akan mendapat dosa yang amat besar dan di hari kelak kiamat akan mendapat siksaan yang pedih.

Allah telah berfirman sehubungan dengan perihal anak-anak yatim ini :

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar”. (Q.S. 4 : 2).

Selain itu Allah-pun mengancam dengan siksaan yang keras kepada orang yang berani memakan harta anak yatim secara dzalim, untuk itu Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (QS. 4 : 10).

Rasulullah bersabda, memberikan perhatian kepada orang-orang yang berani memakan harta anak yatim :

 اجتنبوا السبع الموبقات وذكر منها : (اكل مال اليتيم) (رواه البخارى و مسلم

Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak”. lalu Rasulullah SAW menyebut salah satu di antara ialah : “Memakan harta anak yatim”( Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Pahala menanggung penghidupan anak yatim : Ketika Islam melarang orang-orang memakan harta anak yatim dengan cara zalim, dari segi lain Islam meminta perhatian kepada orang-orang yang dibebani memelihara anak-anak yatim.

Allah berfirman sehubungan dengan hal ini :

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. 4 : 9).

Ayat di atas menganjurkan kepada orang-orang yang memelihara anak-anak yatim agar takut kepada Allah dalam hal anak-anak yatim. Janganlah mereka berani memakan harta anak-anak yatim dengan cara batil. Peliharalah mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka memelihara anak-anak mereka sendiri.

Dalam Surat An Nisa ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًۭا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًۭا

"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka itu adalah api neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa'ir." (an-Nisa': 10)

Dari Abu Syuraih, iaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya saya sangat memberatkan dosa (kesalahan) orang yang menyia-nyiakan haknya dua golongan yang lemah, iaitu anak yatim dan orang perempuan."


Pernah dalam perjalanan isra dan miraj beliau Nabi Muhammad SAW, Allah memperlihatkan siksa bagi orang-orang yang hidup di dunia sesuai amal perbuatannya termasuk didalamnya orang-orang yang  memakan harta anak yatim.

Keadaan mereka sangat mengerikan dengan kedua tangan mereka dibelenggu dan begitu juga dengan kaki-kaki mereka. Diatas punggung mereka diletakkan setrika yang panasnya luar biasa membara. Tentu saja dalam waktu sekejap atau sebentar saja kulit akan rontok dan melepuh. Seketika, kulit kembali udah sebagaimana sedia kala, dan diletakkan kembali setrika yang maha panas tadi diatas punggungnya, begitulah seterusnya terjadi hingga pengulangan kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama. Yaitu sesuai kejahatannya.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda:

"Api kalian yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah sepertujuh puluh dari panas api Jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, bila sepanas ini saja sudah cukup wahai Rasulullah saw. Beliau bersabda: Sesungguhnya panas api tersebut masih tersisa sebanyak enam puluh sembilan bagian, panas masing- masing sama dengan api ini"
Hadis dalam kitab Sahih Muslim

Dan janganlah berbuat sembarangan terhadap harta anak-anak yatim yang diserahkan kepada mereka. Mereka harus menjaganya baik-baik, agar jangan sampai di kala ia mati, akan meninggalkan anak-anak dalam keadaan tak punya apa-apa.

Bukanlah termasuk perbuatan yang zalim apabila seseorang wali anak yatim mengambil harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya, dengan syarat ia membutuhkannya dan harta yang diambil itu sebagai ganti jerih payah dalam memelihara.

Adapun jika keadaan wali itu serba cukup atau kaya, maka Islam menganjurkannya agar berbuat ‘Iffah (suci/ tidak mau mengambil harta anak yatim). Dan barang atau harta yang diambil oleh wali yang miskin harus dengan perkiraan menurut kebiasaan yang berlaku.

Kemudian Rasulullah SAW memberi semangat kepada orang-orang yang memelihara anak yatim, bahwa mereka akan diberi pahala yang agung di sisi Allah. Untuk itu beliau bersabda :

 انا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا واشار باصبعيه السبابة والوسطى وفرج بينهما 

Aku dan orang yang memelihara anak yatim dalam surga seperti ini”, setelah itu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk serta jari tengahnya sambil merenggangkan kedua jari tersebut”.( Hadits riwayat Bukhari )

Beliau juga bersabda di lain kesempatan :

 خير بيت فى المسلمين بيت فيه يتيم محسن اليه, وشر بيت فى المسلمين بيت فيه يتيم يساء اليه (رواه ابن ماجه

Rumah yang paling baik di kalangan kaum muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim dipelihara dengan baik-baik. Dan rumah yang paling jelek di kalangan muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim diperlakukan dengan jelek.( Hadits riwayat Ibnu Majah)”

Alangkah luhurnya apa yang dianjurkan oleh Islam, yaitu kita harus berlaku hati-hati jangan sampai memakan harta anak yatim, dan kita dibebani agar menanggung mereka serta memelihara mereka dengan baik-baik seolah-olah kita memelihara anak-anak kita sendiri.

Karena dengan perlakuan yang baik dari kita, mereka akan merasakan penderitaannya akan hilang dan hatinya menjadi terhibur, sehingga mereka bisa tumbuh dengan wajar dan kelak mereka akan bisa menjadi orang-orang yang berguna.

Wallohua'lam Bisshowab


Sunday, January 7, 2018

Dosa Besar Syirik (Menyekutukan) Alloh SWT dan Hukumnya dalam Islam

Apabila Seseorang telah berbuat syirik dan tidak segera bertaubatan Nasukha sebelum mati, maka dosa orang itu tidak akan diampuni. Hal ini berbeda dengan seseorang yang melakukan dosa besar di bawah kesyirikan seperti korupsi, zina dan minum minuman keras (Mendem).


Alloh Ta'ala telah berfirman,

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

" Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. "(QS An Nisa ': 48).

DOSA SYIRIK YANG DIBAWA MATI


Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,:
"Allah Ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu saat seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan bersama syirik."
(Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).

Maksud ayat ini adalah Ibnuul Jauzi yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan.

Ini berarti jika sebelum dunia meninggal, ia sudah bertaubat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka dia selamat.

Yang dimaksud dengan " mengampuni " dalam ayat di atas, Allah akan menutup dan memaafkan. Jika dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik berarti Allah tidak akan memaafkan dan orang yang digaji syirik pada-Nya.

Syirik yang ada di sini adalah syirik dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma 'wa shifat. Karena mentauhidkan Allah adalah seutama-kaki kewajiban. Jika ada yang sama syirik (sebagai lawan dari tauhid), maka Allah tidak akan mengampuninya berbeda dengan perbuatan maksiat lainnya yang berada di bawah syirik atau selain syirik.

YANG TERMASUK BENTUK SYIRIK:

1 - Jika ada yang saya percaya adalah langit itu Allah dan penguasa bumi adalah selain Allah, atau meyakini langit langit adalah berserikat antara Allah dan makhluk, atau meyakini bahwa Allah itu memiliki penolong dalam pengertian langit dan bumi, maka ia musyrik. Ini syirik dalam rububiyah.

2 - Sujud untuk selain Allah, nadzar kepada selain Allah, menyembelih tumbal di selain Allah, beribadah hanya untuk mencari muka atau pujian (riya '), maka itu termasuk syirik. Riya 'termasuk syirik sewa tekstual hadits. Ini syirik dalam uluhiyah.

3 - Meyakini ada yang semisal Allah dalam nama dan sifat, atau kata yang menetapnya Allah di atas 'Arsy seperti menetapnya makhluk di atas ranjang, atau kata yang turunnya Allah ke langit dunia seperti turunnya makhluk, maka ini pun syirik. Demikian keterangan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam Tafsir Surat An Nisa'.

DOSA DI BAWAH SYIRIK

Allah SWT telah berfirman :

ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

" Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya ".

Ayat ini bisa berarti Allah mengampuni dosa selain syirik atau di bawah syirik.

Kalau seandainya ayat tersebut ditafsirkan dengan " selain syirik ", maka kufur juhud (karena penentangan), umpamanya karena wajib shalat tidak termasuk syirik, maka diampuni. Lepas dosa kufur juhud ini sejajar syirik.

Atau kufur juhud lain seperti meyakini bahwa Allah tidak mengutus Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam . Jika ditafsirikan 'selain syirik' berarti juga diampuni. . Kamu lebih tepat, kita artikan dengan " di bawah syirik ", makna lengkapnya: " Dan Allah mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya".

Ini berarti dosa-dosa yang sejajar syirik seperti kufur juhud sama-sama tidak diampuni jika dibawa mati. Sementara dosa di bawah syirik seperti zina, minum khomr, maka masih di bawah masyi'ah yaitu kehendak Allah.

Jika Allah menghendaki, maka akan dimaafkan. Jika Allah menghendaki, maka akan disiksa. Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin dalam Tafsir Surat An Nisa', 1: 388-389.

TAKUTLAH PADA SYIRIK

Syaikh 'Abdurrahman bin Qosim rahimahullah mengatakan , "Jika seseorang mati dalam keadaan sama syirik tidak akan diampuni, maka tentu saja ini menunjukkan kita mesti sangat peduli terhadap syirik karena begitu besarnya dosa tersebut di sisi Allah. (Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 48).

Syaikh 'Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah mengatakan , "Syirik adalah dosa yang amat besar karena Allah sampai mengatakan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi siapa yang tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut.

Sedangkan dosa di bawah syirik, maka itu masih di bawah kehendak Allah. Jika Allah kehendaki saat ia berjumpa dengan Allah, maka bisa diampuni. Jika tidak, maka ia akan disiksa. Jika demikian seseorang yang sangat takut terhadap syirik karena besarnya dosa tersebut di sisi Allah. "(Fathul Majid, hal 85).

Ayat di atas berisi pelajaran penting, yaitu agar kita waspada terhadap kesyirikan. Namun anehnya saat ini, banyak yang tidak tahu satu hal itu syirik. Sampai disangka jimat itu sebagai penolong, Pak Kyai-lah yang berkah, do'a lebih baik dengan tawassul melalui wali yang sudah mati, sedekah laut itu ada tradisi untuk menghilangkan musibah, semua ini malah disangka sebagai hal biasa dan bukan dosa.

Namun, syirik bukan sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan lagi. Bahkan dosa korupsi dianggap sebagai perkara yang lebih besar bahayanya dibandingkan dengan berbagai macam klenik, jimat, dan bentuk syirik lainnya.

Syirik begitu besar dosanya dalam ayat-ayat lainnya :

ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون

" Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS Al An'am: 88).

ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين

" Dan sesungguhnya sudah diwahyukan dan bukan (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi ." (QS. Az Zumar: 65).

Dalam hadits dari Jabir, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة ومن مات يشرك بالله شيئا دخل النار

" Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak sama syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan bersama syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka "(HR Muslim no 93).

AZAB DOSA SYIRIK (MUSRYIK)

Islam berpendapat bahwa meng-esa-kan Tuhan adalah merupakan salah satu rukun iman. Dan menduakan Tuhan, berarti perbuatan syirik (Berbuat syirik terhadap Allah ialah menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya baik para Nabi atau para Auliya’ atau para Malaikat atau batu, kayu dan lain sebagainya.) yang merupakan dosa paling besar dan tidak diampuni.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S. 4 : 48).

Al-Qur’an juga memberikan gambaran kepada kita mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan :

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang amat jauh”. (Q.S. 22 : 30).

Rasulullah juga mengatakan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang berada di atas dosa-dosa besar lainnya:

أَلاَاُنَبِّئُكُمْ بِاَكْبَرِالْكَبَائِرِ ثَلاَثًا: اَلإِشْرَاكُ بِا اللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ (رواه المسل

“Ingatlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar – beliau mengulanginya tiga kali – yaitu syirik (menyekutukan Allah), menyakiti kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu (Hadits riwayat Muslim)”.

Rasulullah juga memperingatkan umatnya untuk jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah.

Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah yang Maha Agung.

Di dalam Al-Qur’an dikatakan :

 “Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sekutukan”. (Q.S. 7 : 190)

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita dihindarkan dari dosa-dosa besar seperti Dosa yg kita bahas di atas ini yaitu perbuatan Syirik (Menyekutukan Alloh).