Social Items

Tampilkan postingan dengan label Asal Usul KH Hasyim Asy'ari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul KH Hasyim Asy'ari. Tampilkan semua postingan
Zaman dahulu di desa Langgundih, Keramat, Bangkalan, adalah seorang Kiai berbangsa Sayyid bernama Asror bin Abdullah bin Ali Al-Akbar bin Sulaiman Basyaiban. IbuSayyid Sulaiman adalah Syarifah Khadijah binti Hasanuddin bin Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Kuwaluhan.com

Beliau dikenal dengan "Kyai Asror Keramat”, dinisbatkan pada kampung beliau. Kemudian oleh sebagian orang dirubah menjadi "Asror Karomah”, mungkin dalam rangka meng-arab-kan kalimat "Keramat”. Beliau menurunkan ulama-ulama besar Madura dan Jawa.

Kiai Asror memiliki putra dan putri. Diantara mereka adalah Kiai Khotim, ayah dari Kiai Nur Hasan pendiri Pesantren Sidogiri Pasuruan. Diantara mereka pula adalah dua orang putri yang sampai kini belum diketahui nama aslinya melalui riwayat yang shahih.

Salah seorang dari mereka dinikahkan dengan Kiai Hamim bin Abdul Karim Azmatkhan yang bernasab pada Sunan Kudus (garis laki-laki) dan Sunan Cendana (garis perempuan).

Melalui Kiai Abbas, Kiai Asror memiliki cucu bernama Kiai Kaffal. Dan melalui Kiai Hamim, beliau memiliki cucu bernama Kiai Abdul Lathif. Kiai Abdul Lathif memiliki putri bernama Nyai Maryam dan Nyai Sa’diyah. Kemudian Nyai Maryam dinikahkan dengan Kiai Kaffal dan Nyai Sa’diyah dinikahkan dengan seorang Kiai dari Socah, Bangkalan.

Kiai Abdul Lathif adalah seorang da’i keliling. Beliau menjalani kehidupan sufi yang tidak menghiraukan hal-hal keduniaan. Apalagi sepeninggal istri beliau,Ummu Maryam (ibu Nyai Maryam), sejak saat itu beliau lebih aktif da’wah ke kampung-kampung, beliaupun jarang pulang ke rumah karena putri-putri beliau telah bersuami dan telah mandiri.

Pada suatu hari, setelah beberapa tahun Kiai Abdul Lathif tidak pulang ke rumah, tiba-tiba beliau datang dengan membawa seorang anak laki-laki kira-kira berumur tujuh tahunan.Kiyai Abdul Lathif berkata pada Nyai Maryam: " Wahai Maryam, Aku telah menikah lagi dan ini adalah adikmu. Kutinggalkan ia bersama kalian, didiklah dia sebagaimana aku mendidikmu.” Setelah itu Kiyai Abdul Lathif pergi lagi sebagaimana biasa. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kejadian itu,sebagaimana tidak ada yang tahu kapan persisnya Kiai Kholil dilahirkan.

Sebagian sesepuh keturunan Syeh Kholil ada yang memperkirakan bahwa Syeh Kholil lahir pada tahun 1252 H, atau sekitar tahun 1835 M di Kampung Pasar Senen, Desa Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan. Beliau adalah anak Kyai Abdul Latief, semasa pemerintahan Adipati Setjodiningrat III atau dikenal dengan nama Sultan Bangkalan II yang diangkat oleh Raffles.

Sejak kecil, KH Moh Kholil oleh ayahnya diharapkan bisa menjadi pemimpin umat, seperti halnya Sunan Gunung Jati yang merupakan Waliullah, pemimpin dan pejuang Islam terkenal. Dambaan itu mengingat masih ada keturunan dengan Sunan Gunung Jati.

Beliau yang kala itu sudah menunjukkan keistimewaan bila dibanding anak-anak seusianya, dididik sendiri oleh sang ayah dengan pengawasan ketat. Ilmu-ilmu yang diajarkan, terutama Ilmu Fiqih dan Ilmu Nahwu dikuasai dengan luar biasa. Telah hafal dengan baik Nadham Al-fiah Ibnu Malik (1000 Bait Ilmu Nahwu)

Mulai Tahun 1850, Kholil mudah belajar ngaji kepada Kyai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Canga'an, Bangil Pasuruan, dan selanjutnya ke pondok Darus Salam Kebun Candi, Pasuruan. Selama Kholil muda mondok dipesantren meminta orangtuanya agar tidak mengirim apapun. Maksudnya, agar ia hidup mandiri.

Semasa mondok di Candi, beliau juga menambah pengetahuan agamanya ke Sidogiri Pasuruan yang berjarak sekitar 7 KM ditempuhnya dengan jalan kaki setiap hari. Dalam perjalanan itu beliau menyempatkan membaca Surat Yasin hingga khatam berkali-kali.

Keinginan untuk menambah ilmu agama diteruskan ke tanah suci Mekkah, sekaligus ingin menunaikan ibadah haji. Untuk itu Kholil muda pindah lagi di pesantren Banyuwangi yang mempunyai kebun kelapa sangat luas. Selama mondok disana beliau bekerja sebagai pemanjat kelapa yang dapat upah 2,5 sen setiap pohonnya.

Dari penghasilan itu uangnya ditabung untuk naik Haji. Bahkan di Pondok pun beliau menjadi juru masak rekan-rekannya sehingga beliau bisa makan bersama.

Baru tahun 1859 beliau Naik Haji ke Mekkah. Namun sebelumnya oleh Orang Tuanya dinikahkan dengan Nyai Asyek, Putri dari Lodra Putih yang menjadi Patih pada pemerintahan saat itu. Ketika menikah, umur beliau 24 Tahun.

Pernikahan dengan Nyai Asyek dikarunia 2 anak, Siti Fatimah dan Mohammad Hasan. Menginjak dewasa, Siti Fatimah dikawinkan dengan Muntaha yang dikenal dengan sebutan KH. Muhammad Thoha, yang kemudian mengasuh pondok di Jengkebuan Bangkalan yang saat ini diasuh oleh KH. Mahfud Hadi (Saat ini beliau telah meninggal dunia) yang juga anggota DPRD Bangkalan.

Lima tahun berada di Mekkah, KH. Moh Kholil kemudian pulang ke Tanah Air, beliau dikenal sebagai ahli Fikh dan tasawuf membuat disegani kyai-kyai lain. beliau dianggap mempunyai ilmu yang dapat mengetahui sebelum kejadian terjadi.

Sepulang dari Mekkah itulah beliau mendirikan pondok di Demangan. Untuk mendirikan pondok baru ini beliau diberi tanah oleh raja di pinggir jalan tengah kota. Padahal saat itu pondok ditengah kota merupakan hal yang jarang terjadi.

Setelah pondok berdiri dan santri mulai banyak, pada suatu saat beliau bercerita pada para santrinya bahwa pondoknya akan kedatangan macan. Hal inilah yang menjadikan santrinya kebingungan. Ternyata yang datang bukannya macan, tapi Wahab Chasbullah (Mantan Menag) dari Tambak Beras Jombang.

Kedatangan Wahab Chasbullah sebagai santri baru membuat ributnya santri yang lama karena Kyai Kholil meneriaki Wahab sebagai Macan. Teriakan ini disambut oleh para santrinya dengan mengejar-ngejar Wahab. Kejadian ini sempat berulang sampai 3x, yang akhirnya Wahab tertidur dibawah jidor (bedug). Baru keesokan harinya Wahab dipanggil sebagai Santri.

GURU GURU SYEKH KHOLIL

Berikut ini adalah guru-guru beliau sewaktu belajar di Makkah Al-Mukarramah, yaitu:

1. Syekh Ali Al-Mishri,
2. Syekh Umar As-Sami,
3. Syekh Khalid Al-Azhari,
4. Syekh Al-Aththar,
5. Syekh Abun-Naja,
6. Syek Ali Ar-Rahbini,

SILSILAH SYECH KHOLIL

Silsilah Kiai kholil dalam kemursyidan thariqoh Qodariyyah wan Naqsabandiyyah dari jalur Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah sebagai berikut :

1. Nabi Muhammad SAW.
2. Ali Bin Abi Thalib.
3. Husein Bin Ali.
4. Zaenal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir.
6. Ja’far Ash-Shodiq.
7. Imam Musa Al-Kazhim.
8. Abu Hasan Ali Ar-Ridho
9. Ma’ruf Karkhi
10. Sari As-Saqoti
11. Abu Qosim Junaid Al-Baghdadi
12. Abu Bakar Asy-Syibli
13. Abu Fadly Abd Wahidi At-Tamimi
14. Abu Farazi At-Thurthusil
15. Abu Hasan Ayyub
16. Abu Said Al-Mubarok
17. Abdul Qodir Al-Jailani
18. Abdul Aziz
19. Muhammad Al-Hattak
20. Syamsudin
21. Syarifudin
22. Nurudin
23. Waliyyuddin
24. Hisyammuddin
25. Yahya
26. Abu Bakar
27. Abdurrahim
28. Utsman
29. Abdul Fattah
30. Muhammad Muraad
31. Syamsudin
32. Ahmad Khatib Sambas
33. Muhammad Kholil Bangkalan

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah dan Silsilah dari Syekh Kholil, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan.

Kisah Asal Usul Syekh Kholil Bangkalan Madura

K.H Hasjim Asy'ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy'ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah.


Sementara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy'ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkir juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng).

Berikut ini adalah silsilah K.H. Hasjim Asy'ari berdasarkan garis keturunan dari ibu:

Hasjim Asy'ari putra Halimah putri Layyinah putri Sihah Putra Abdul Jabar putra Ahmad putra Pangeran Sambo putra Pengeran Benowo putra Joko Tingkir (Mas Karebet) putra Prabu Brawijaya V (Lembu peteng).

Beliau menikah tujuh kali dan kesemua istrinya adalah putri dari ulama. Empat istrinya bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Salah seorang putranya, Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama, sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Indonesia.

PENDIDIKAN KH HASYIM ASY'ARI

K.H. Hasjim Asy'ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.

Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy'ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.[5].

Di Makkah, awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar di bawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Beliau mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, di mana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini.[6]. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

K.H. Hasjim Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Pada masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H. Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh.

Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.

Gurunya yang lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu.

PERJUANGAN KH HASYIM ASY'ARI

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, K.H. Hasjim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.

Pada tahun 1926, K.H Hasjim Asy'ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

HASIL KARYA BELIAU

K.H. Hasjim Asy'ari banyak membuat tulisan dan catatan-catatan. Sekian banyak dari pemikirannya, setidaknya ada empat kitab karangannya yang mendasar dan menggambarkan pemikirannya; kitab-kitab tersebut antara lain:

- Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid'ah).
- Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW).
- Adab al-alim wal Muta'allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta'limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar).
- Al-Tibyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan).
- Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar dia tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU.
- Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, tentunya memiliki makna khusus sehingga akhirnya mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam kitab ini.
- Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat, edisi 15 Agustus1959.
- Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Hidup ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.
- Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Kitab ini menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.

RIWAYAT KH HASYIM ASY'ARI

Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'ari adalah Tokoh Ulama Besat Indonesia yang Lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada tanggal 10 April 1875. Beliau Wafat di Jombang, Jawa Timur tanggal 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang).

Beliau merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren beliau dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

Kisah Asal Usul dan Silsilah KH Hasyim Asy'ari Pendiri Nhadhotul Ulama (NU) Indonesia

Loading...