Tampilkan postingan dengan label Asal Usul Bangsa Yadawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul Bangsa Yadawa. Tampilkan semua postingan
Kertawarma merupakan putra dari Herdika raja Kerajaan Bhoja, yang juga masih keturunan bangsa Wresni, sama halnya dengan Kresna dan Satyaki. Dalam perang Baratayuda, Kertawarma memihak Korawa, sedangkan Kresna dan Satyaki memihak Pandawa.


Setelah perang berakhir, sekutu Korawa yang tersisa hanya tinggal Kertawarma, Krepa, dan Aswatama. Aswatama menemukan ide untuk membalas kekalahan Korawa, yaitu dengan cara menyerbu perkemahan Pandawa pada malam hari.

Dalam serangan malam tersebut, Aswatama masuk ke dalam perkemahan, sedangkan Kertawarma dan Krepa menunggu di luar. Dalam serangan mendadak itu Aswatama berhasil membunuh Drestadyumna, Srikandi, Yudamanyu, Utamauja, dan kelima Pancakumara. Kertawarma dan Krepa kemudian pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Tiga puluh enam tahun kemudian, Kertawarma ikut serta dalam pesta bangsa Wresni atau Yadawa. Dalam keadaan sama-sama mabuk, ia dan Satyaki saling mengejek. Satyaki mengejek Kertawarma sebagai pengecut karena pernah menyerang perkemahan Pandawa di malam hari. Sementara itu, Kertawarma mengejek Satyaki berbuat curang telah membunuh Burisrawayang sedang dalam keadaan meditasi.

Satyaki yang sudah mabuk berat akhirnya memenggal kepala Kertawarma. Pembunuhan Kertawarma inilah yang menyebabkan pesta berubah menjadi perang saudara yang menewaskan semua orang yang hadir.

DALAM PEWAYANGAN JAWA

Dalam pewayangan Jawa, tokoh Kertawarma kadang dieja dengan Kartawarma atau Kartamarma. Menurut versi ini, Kartawarma adalah putra pasangan Dretarastra dan Gandari. Dengan kata lain, Kertawarma versi Jawa adalah salah satu di antara seratus orang Korawa.

Dalam pemerintahan Duryudana, Kartamarma menjabat sebagai Juru Panitisastra, atau semacam juru tulis Kerajaan Hastina. Tempat tinggalnya bernama Kasatriyan Tirtatinalang.

Setelah perang Baratayuda berakhir, Kartamarma kembali ke Hastina untuk mengambil kakak iparnya, yaitu istri Duryudana yang bernama Banowati. Di lain pihak, Aswatama juga datang untuk membunuh Banowati yang dianggapnya sebagai mata-mata para Pandawa. Maka terjadilah perkelahian di antara keduanya.

Perkelahian antara Aswatama dan Kartamarma berhenti karena Banowati telah melarikan diri dan dijemput Arjuna. Mereka berdua pun kembali rukun dan bertemu Krepayang mengabarkan bahwa Duryudana telah tewas.

Aswatama memutuskan untuk menyerang perkemahan Pandawa pada malam hari. Kartamarma mendukung hal itu, sedangkan Krepa terpaksa mengikuti karena diancam hendak dikeroyok oleh keduanya. Ketiganya kemudian menyusup ke dalam perkemahan Pandawa dan berhasil membunuh Srikandi, Drestadyumna, Pancawala, dan juga Banowati.

Aswatama akhirnya tewas ketika hendak membunuh Parikesit, cucu Arjuna yang masih bayi. Krepa tertangkap sedangkan Kartamarma berusaha melarikan diri. Bimasena berhasil mengejar Kartamarma dan memukulnya dengan gada hingga sekarat.

Kresna yang marah mengutuk Kartamarma akan terlahir kembali sebagai binatang hina. Kutukan Kresna pun menjadi kenyataan. Kartamarma meninggal karena luka yang ia derita dan kemudian terlahir kembali sebagai cacing tanah.

Sumber : WIKIPEDIA

Sejarah Asal Usul Kertawarma Dalam Mahabharata

Mathura adalah kota suci di Uttar Pradesh, negara bagian India. Terletak sekitar 50 km dari sebelah utara Agra, dan 150 km ke selatan dari Delhi.


Kota tersebut merupakan pusat administrasi dari Distrik Mathura di Uttar Pradesh. Selama zaman kuno, kota ini merupakan pusat perekonomian karena terletak di jalur perdagangan yang penting.

Mathura terkenal dengan tempat kelahiran Kresna, Krishnajanmabhoomi. Kuil Keshav Dev dibangun di sebuah lokasi yang dianggap sebagai tempat kelahiran Kresna (sebuah penjara bawah tanah).

Seperti dalam wiracarita Mahabharata, Mathura merupakan ibukota Kerajaan Surasena, dipimpin oleh Kamsa, paman Kresna.

KERAJAAN SURASENA

Kerajaan Surasena adalah sebuah kerajaan Wangsa Yadawa yang muncul dalam kisah epik Mahabharata. Ibukota kerajaan Surasena bernama Mathura, didirikan oleh Satrughna, adik Raja Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala pada zaman Treta Yuga.

Ia mendirikan kerajaan tersebut setelah mengalahkan Raja Asura Madhu yang tinggal di sebuah hutan bernama hutan Madhu, sesuai dengan namanya. Pada zaman Dwapara Yuga, kerajaan ini diambil alih kekuasaanya dari keturunan Satrughna oleh Wangsa Yadawa. Kota Mathura yang merupakan ibukota kerajaan tersebut kini terletak di Uttar Pradesh.

Raja yang terkenal adalah Kamsa (dalam Mahabharata), yang sempat memerintah di Kerajaan Surasena. Karena Kamsa lalim, ia dibunuh oleh Kresna, putra Wasudewa. Setelah itu Kresna mengambil alih pemerintahan Surasena.

Ketika invasi Raja Jarasanda, wangsa Yadawa mengungsi ke Dwarka dan mendirikan kerajaan di sana, bernama Kerajaan Dwaraka.

Sejarah Asal Usul Kerajaan Mathura Dalam Mahabharata

Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yang didirikan bangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha.


Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Basudewa selama zaman Dwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, dan beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, dan sebagian wilayahnya berada di darat dan berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta.

Wilayah tersebut terlihat seperti negara Yunani yaitu negeri dengan pulau-pulau kecil dan sebagian berupa wilayah daratan. Kerajaan Dwaraka kira-kira terletak di sebelah Barat Laut Gujarat. Ibukotanya bernama Dwarawati (dekat Dwarka, Gujarat). Tapi kalau dilihat dari namanya, Dwaraka yang adalah bahasa Sanskrit ini berarti pintu-pintu, mirip babilon yang juga berarti pintu (baab).

Selama masa jayanya, Dwaraka adalah kota yang dikelilingi tembok dan berisikan taman yang indah, parit yang dalam, dan beberapa kolam istana (Wisnu Purana), namun diyakini telah tenggelam setelah kepergian Krishna. Karena pentingnya sejarah dan hubungan dengan Mahabharata, Dwaraka terus menarik arkeolog dan sejarawan selain ilmuwan.

Sri Krishna membunuh Kamsa (paman dari pihak ibu) dan menobatkan Ugrasena (kakek dari pihak ibu-Nya) menjadi raja Mathura. Hal ini membuat Marah mertua Kamsa, Jarasanda (raja Magadha) bersama dengan temannya Kalayawana menyerang Mathura 17 kali. Untuk keselamatan bangsanya Yadawa, Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.

Sri Krishna dan kaumnya, Yadawa meninggalkan Mathura dan tiba di pantai Saurashtra. Mereka memutuskan untuk membangun kota mereka di daerah pesisir dan dipanggillah Wiswakarma, dewa konstruksi. Namun, Wiswakarma mengatakan bahwa tugas bisa diselesaikan hanya jika Samudra dewa, penguasa laut, menyediakan beberapa tanah.

Sri Kresna membujuk Samudrad ewa, dan dengan senang Samudra dewa memberi mereka tanah berukuran 12 yojanas dan selanjutnya, dibangunlah oleh Wiswakarma kota Dwaraka, sebuah kota emas.

Dwaraka kemudian dikenal sebagai salah satu tempat suci selain Mathura dan Wrindawana pada masa itu.

TENGGELAMNYA KOTA DWARAKA

Setelah Sri Krishna pergi ke tempat tinggal-Nya dan Yadawa utama kepala tewas dalam perkelahian di antara mereka sendiri, Dwaraka menjadi tenggelam di laut. Ini adalah gambaran yang diberikan oleh Arjuna dalam Mahabharata:

“Laut, yang menghantam pantai, tiba-tiba memecahkan batas yang ditetapkan oleh alam. Laut itu bergegas dan memasuki kota dan memenuhi jalan-jalan kota yang indah, Laut menutupi segala sesuatu di kota.” Arjuna melihat bangunan indah tenggelam satu per satu Dia lalu mengamati istana Krishna.

Dalam hitungan beberapa saat semuanya berakhir. laut itu sekarang menjadi tenang seperti danau. tidak ada bekas . kota yang indah Dwarka, yang telah menjadi tempat favorit dari semua Pandawa, kini hanya nama, hanya kenangan “.  Mausala Parwa, Mahabharata.

PENELITIAN DWARAKA

Kota Dwaraka telah diselidiki oleh para sejarawan sejak awal abad ke-20. Lokasi yang tepat dari kota pelabuhan telah menjadi perdebatan untuk waktu yang lama. Beberapa referensi sastra, terutama dari Mahabharata, telah digunakan untuk menunjukkan lokasi yang tepat.

Dwaraka disebutkan dalam Mahabharata (Mausala Parwa) dan lampiran epik, Hariwamsa, mengacu pada penenggelaman Dwaraka oleh laut. Dwaraka adalah sebuah negara kota membentang hingga ke Bet Dwaraka (Sankhoddhara) di utara dan Okhamadhi di selatan. ke timur hingga Pindata. 30 hingga 40 meter tinggi bukit di sisi timur Sankhoddhara yang tingginya 30-40 meter mungkin adalah Raivataka seperti yang dimaksud dalam Mahabharata.

Sejarah Asal Usul Kerajaan Dwaraka Tenggelam dan Musnah

Setelah Perang Baratayudha Selesai, Krishna kembali ke negrinya dan memerintah di negaranya selama tiga puluh enam tahun sesudah perang besar Kurukshetra. Selama ia memegang tampuk pemerintahan rakyat merasa bahagia.


Suku-suku Wrishni dan Bhoja yang merupakan cabang bangsa Yadawa, di mana Krishna termasuk di dalamnya, terkenal sebagai suku-suku yang suka bersenang-senang dan bergembira.

Sejak Krishna memerintah mereka jadi makmur, dan kemakmuran mereka ini menyebabkan mereka suka pada barang-barang mewah, makan makanan yang serba lezat dan minum-minuman keras.

Lambat laun mereka menjadi bangsa yang sembrono, angkuh, liar tidak berdisiplin, suka mabuk dan melampiaskan hawa nafsu. Pejabat pemerintahan korup, para pedagang main suap, wanita jalang, pemuda-pemuda suka pesiar dan remaja banyak morfinis.

Pada suatu hari seorang resi dari negri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Ia dipermainkan oleh segerombolan orang kota. Mereka memperolok-olokkan dan mengejek resi itu dengan suatu lelucon yang tidak lucu. Salah seorang di antara mereka laki-laki muda diberi pakaian perempuan hamil yang perutnya besar, diganjal dengan bantal, lalu dihadapkan di muka brahmana itu.

Mereka. bersorak-sorak, tertawa kegirangan dengan olok-olok mereka, di mana “perempuan” bunting itu dengan genit menari-nari di depan brahmana, seraya bertanya kepadanya : “Wahai Resi yang Mahabijaksana, ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan ini akan punya anak lakl-laki atau perempuan”. Sang brahmana merasa tersinggung hatinya dan dengan kutuk pastu menjawab: “Orang ini akan melahirkan sebuah gada, bukan seorang laki-Iaki atau perempuan. Gada itu adalah Batara Yama, yang akan memusnahkan bangsamu ini, termasuk engkau sekalian”.

Mereka yang hadir di situ merasa kaget mendengar jawaban Resi itu. Mereka menyesal dan banyak di antara mereka yang mendengar kutuk pastu sang brahmana merasa ketakutan, yang mulanya hanya mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dari hasil olok-olok mereka.

Benarlah hari-hari berikutnya, pemuda Samba yang diberi pakaian perempuan bunting oleh teman-temannya itu, merasa sakit pada perutnya seperti orang hendak melahirkan. Alangkah paniknya mereka ketika benar-benar melihat pemuda Samba melahirkan sebuah gada, alat perang yang kuat perkasa, dan bukan bayi laki-Iaki atau perempuan.

Kejadian itu menimbulkan teror dalam jiwa mereka, sebab seperti yang diramalkan oleh Resi yang misterius itu, bangsa mereka akan musnah, termasuk mereka sendiri.

Beramai-ramai mereka hancurkan gada itu sehingga menjadi abu. Mereka semufakat untuk membuang abu itu jauh-jauh. Abu, hancuran gada ajaib itu, dihamburkan di laut secara terpisah-pisah, ditebarkan dimana-mana.

Setelah itu mereka lupalah akan lelucon mereka. Pemuda Samba hidup sebagai seorang laki-Iaki biasa lagi. Tahun berganti tahun, musim panen berganti musim kering, rakyat hidup makmur dan bahagia. Di tempat di mana abu gada ditebarkan, lambat-laun tumbuh rumput raksasa dengan sangat rimbunnya, dengan batangnya sebesar-besar batang bambu.

Di antara bangsa Yadawa, selain Krishna sendiri dan bala tentaranya yang ikut mengambil bagian dalam perang di medan Kurukshetra, juga Kritawarma bersama pasukannya bertempur di pihak Kaurawa, sedangkan Satyaki dengan pasukannya pula di pihak Pandawa.

Sewaktu kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan untuk melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, di mana pada hari-hari tertentu mereka diijinkan minum minuman keras.

Sebagai bangsa yang periang dan gemar bersuka ria, pada suatu hari mereka mengadakan darmawisata ke tepi pantai tempat tumbuhnya rumput raksasa yang lebat itu. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum-minuman keras, sehingga mabuk-mabuk.

Dalam keadaan mabuk-mabuk itu terjadilah pertengkaran mulut, yang tumbuh menjadi perkelahian yang hebat. Mula-mula baku-tinju, tetapi kemudian, dengan batang-batang rumput raksasa yang diruncingi, mereka baku-tusuk.

Pangkal mula pertengkaran, yang kemudian menjadi pertempuran itu, adalah disebabkan oleh percekcokan mulut antara Kritawarma dan Satyaki, yang sama-sama dalam keadaan mabuk. Satyaki berkata: “Apakah seorang kesatria sejati akan mau menyerang dan membunuh musuhnya yang sedang tidur nyenyak? Engkau Kritawarma, telah membawa malu kepada bangsa kita buat selama-lamanya“ dengan mengejek, yang diikuti oleh kawan-kawannya yang lain. Kritawarma tidak tahan akan ejekan itu, membalas dengan pedas: “Engkau seperti tukang potong sapi saja, telah membunuh Bhurisrawas yang dalam keadaan duduk bersila dengan samadinya. Engkau Satyaki, pengecut, masih juga berlagak kesatria”, dan kawan-kawannya tidak ketinggalan membakari semangat Kritawarma.

Perkelahian mulut ini ternyata tidak bisa dibatasi di situ saja. Ia menjadi sungguh-sungguh dan kemudian pertempuran yang sengit antara dua pihak meledak: pro Kritawarma atau Satyaki. Putra Krishna, Pardyumna juga ada di situ bermaksud menolong, menyelamatkan Satyaki, terlibat dalam pertempuran itu sehingga ia menemui ajalnya: kutuk pastu resi yang pernah mereka hinakan rupa-rupanya mulai membuahkan hasilnya.

Batang rumput yang diruncingi ujungnya, merupakan senjata utama dalam pertempuran ini. Demikianlah kedua belah pihak mati di ujung senjata tajam itu, tidak terkecuali, laki dan perempuan, tua dan muda, kesatria dan bukan pahlawan atau pengecut, sehingga bangsa Yadawa musnah seluruhnya.

Balarama, yang menyaksikan peristiwa ini merasa sangat malu, meninggalkan tempat itu, pergi menghabiskan hidupnya dengan yoga di bawah pohon kayu besar hingga saat-saat terakhirnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri.

Dan setelah ia mengetahui kakaknya Balarama sudah meninggalkan dunia mayapada ini, ia sendiri pergi mengembara ke dalam hutan. Di tengah-tengah hutan belantara ia merebahkan dirinya sambil berkata : “Kini telah tiba waktunya bagiku untuk pergi buat selama-lamanya meninggalkan dunia ini”.

Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan liwat di dekat-dekat tempat Krishna merebahkan dirinya. Jaras melepaskan anak panahnya yang tepat menembus kaki dan tubuh Krishna yang disangkanya seekor rusa sedang beristirahat.

Pada saat itu juga Basudewa menghembuskan nafasnya yang penghabisan untuk meninggalkan dunia manusia ini. Arjuna datang ke Dwaraka untuk melakukan upacara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemudian, seluruh negri Dwaraka dilanda banjir dan ombak samudra yang dahsyat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Sejarah Asal Usul Bangsa Yadawa Musnah Tenggelam