Sebuah terowongan kuno diduga peninggalan masa kolonial Belanda ditemukan di bawah permukiman padat penduduk di Dusun Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Klaten. Terowongan itu diperkirakan dibangun bersama dengan Pabrik Gula Cokro Tulung atau tahun 1840.


"Dari pengamatan sementara itu memang struktur bangunan kolonial. Diperkirakan pendiriannya sama dengan PG Cokro," kata anggota tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng Deny Wahyu Hidayat pada detikcom, Sabtu (18/1/2020).

Deny menuturkan tim dari BPCB sudah mengecek ke lokasi. Dilihat dari jenis batu bata dan bligon atau campuran material bangunan terowongan itu dibuat era kolonial Belanda.

"Bligon atau campuran pasir, gamping bakar dan semen merah atau gepukan batu bata merah sangat kuat. Tidak kalah dengan semen PC, terbukti sekian lama masih utuh," ujar Deny yang juga kepala Unit Candi Sewu BPCB itu.

Terpisah, warga menyebut terowongan itu sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Hanya saja warga tidak pernah menengok terowongan tersebut.

"Waktu kecil sudah ada. Tapi tidak tersentuh orang sudah 30 tahunan," ucap Danang Heri Subiantoro (53).

Mulanya mulut terowongan itu tertutup sedimen pasir yang tinggi. Sehingga warga yang ingin masuk harus merangkak. Akhirnya warga sepakat untuk melakukan kerja bakti membersihkan sedimen tersebut.

"Sedimen kita cek bertujuh dengan masuk merangkak membawa tabung oksigen. Tinggi mulut terowongan sekitar 1,9 meter tetapi karena tertutup lumpur sedimen 1,7 meter sehingga kita harus masuk merangkak," jelas Danang.

Saat ini sebagian area terowongan sudah dibersihkan. Warga yang masuk pun bisa berdiri dan melihat tiga cabang terwongan tersebut. Namun, hingga saat ini cabang dari terowongan itu belum dibuka warga karena masih ditutup tembok. Diduga panjang terowongan itu mencapai sekitar 800-900 meter.

"Yang sudah bisa kita buka panjangnya sekitar 100 meter tapi total panjangnya diperkirakan sekitar 800-900 meter tapi bercabang-cabang sampai di bekas pabrik gula di utara dusun. Panjang aslinya belum bisa dipastikan sebab belum semua bisa ditelusuri," ujar Danang.

Penemuan terowongan kuno peninggalan Belanda di kab Klaten

Sebuah terowongan kuno diduga peninggalan masa kolonial Belanda ditemukan di bawah permukiman padat penduduk di Dusun Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Klaten. Terowongan itu diperkirakan dibangun bersama dengan Pabrik Gula Cokro Tulung atau tahun 1840.


"Dari pengamatan sementara itu memang struktur bangunan kolonial. Diperkirakan pendiriannya sama dengan PG Cokro," kata anggota tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng Deny Wahyu Hidayat pada detikcom, Sabtu (18/1/2020).

Deny menuturkan tim dari BPCB sudah mengecek ke lokasi. Dilihat dari jenis batu bata dan bligon atau campuran material bangunan terowongan itu dibuat era kolonial Belanda.

"Bligon atau campuran pasir, gamping bakar dan semen merah atau gepukan batu bata merah sangat kuat. Tidak kalah dengan semen PC, terbukti sekian lama masih utuh," ujar Deny yang juga kepala Unit Candi Sewu BPCB itu.

Terpisah, warga menyebut terowongan itu sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Hanya saja warga tidak pernah menengok terowongan tersebut.

"Waktu kecil sudah ada. Tapi tidak tersentuh orang sudah 30 tahunan," ucap Danang Heri Subiantoro (53).

Mulanya mulut terowongan itu tertutup sedimen pasir yang tinggi. Sehingga warga yang ingin masuk harus merangkak. Akhirnya warga sepakat untuk melakukan kerja bakti membersihkan sedimen tersebut.

"Sedimen kita cek bertujuh dengan masuk merangkak membawa tabung oksigen. Tinggi mulut terowongan sekitar 1,9 meter tetapi karena tertutup lumpur sedimen 1,7 meter sehingga kita harus masuk merangkak," jelas Danang.

Saat ini sebagian area terowongan sudah dibersihkan. Warga yang masuk pun bisa berdiri dan melihat tiga cabang terwongan tersebut. Namun, hingga saat ini cabang dari terowongan itu belum dibuka warga karena masih ditutup tembok. Diduga panjang terowongan itu mencapai sekitar 800-900 meter.

"Yang sudah bisa kita buka panjangnya sekitar 100 meter tapi total panjangnya diperkirakan sekitar 800-900 meter tapi bercabang-cabang sampai di bekas pabrik gula di utara dusun. Panjang aslinya belum bisa dipastikan sebab belum semua bisa ditelusuri," ujar Danang.