KEDIRI JATIM - Pemerintah Kota Kediri menegaskan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri di tahun 2018 mencapai Rp291,48 juta per kapita, unggul ketimbang Kota Surabaya yang hanya Rp132,48 juta per kapita.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik hasil survei periode lima tahunan 2014 – 2018 ini menempatkan Kota Kediri menjadi Kabupatan/Kota terkaya ke-3 di Indonesia, sementara Surabaya duduk di peringkat ke-16.

Salah satu faktor yang menggerakkan sektor usaha sekunder adalah prodamas dengan memberikan dana Rp50 juta per RT per tahun yang dimulai sejak ABDULLAH ABU BAKAR menjabat Wali Kota Kediri pada 2014.

Dan, dilanjutkan dalam prodamas plus. Industri tembakau selama ini identik dengan Kota Kediri.

Namun, di Kota Kediri saat ini sektor usaha mikro kecil menengah di Kota Kediri yang justru menggeliat.

Dari data yang dirilis BPS, jumlah lapangan usaha sekunder di Kota Kediri mencapai lebih dari 80 persen, paling tinggi di Jawa Timur.

Kontribusi sektor usaha sekunder dalam menyumbang pundi-pundi kekayaan Kota Kediri juga bukan pekerjaan instan, mengingat pada hasil survei periode sebelumnya atau tahun 2014 BPS masih menempatkan Kota Kediri di peringkat ke-6 dengan PDRB Rp 242,83 juta per kapita.

Selain bantuan dana prodamas, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) serta Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri juga mengimbanginya dengan mengadakan beragam program pelatihan kewirausahaan dan keterampilan.

 Pemerintah Kota Kediri juga aktif dengan membuat banyak kegiatan guna memamerkan produk UMKM.

Pendapatan Per Kapita, Kediri Peringkat 3 Terkaya se-Indonesia

KEDIRI JATIM - Pemerintah Kota Kediri menegaskan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri di tahun 2018 mencapai Rp291,48 juta per kapita, unggul ketimbang Kota Surabaya yang hanya Rp132,48 juta per kapita.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik hasil survei periode lima tahunan 2014 – 2018 ini menempatkan Kota Kediri menjadi Kabupatan/Kota terkaya ke-3 di Indonesia, sementara Surabaya duduk di peringkat ke-16.

Salah satu faktor yang menggerakkan sektor usaha sekunder adalah prodamas dengan memberikan dana Rp50 juta per RT per tahun yang dimulai sejak ABDULLAH ABU BAKAR menjabat Wali Kota Kediri pada 2014.

Dan, dilanjutkan dalam prodamas plus. Industri tembakau selama ini identik dengan Kota Kediri.

Namun, di Kota Kediri saat ini sektor usaha mikro kecil menengah di Kota Kediri yang justru menggeliat.

Dari data yang dirilis BPS, jumlah lapangan usaha sekunder di Kota Kediri mencapai lebih dari 80 persen, paling tinggi di Jawa Timur.

Kontribusi sektor usaha sekunder dalam menyumbang pundi-pundi kekayaan Kota Kediri juga bukan pekerjaan instan, mengingat pada hasil survei periode sebelumnya atau tahun 2014 BPS masih menempatkan Kota Kediri di peringkat ke-6 dengan PDRB Rp 242,83 juta per kapita.

Selain bantuan dana prodamas, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) serta Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri juga mengimbanginya dengan mengadakan beragam program pelatihan kewirausahaan dan keterampilan.

 Pemerintah Kota Kediri juga aktif dengan membuat banyak kegiatan guna memamerkan produk UMKM.