Social Items

Prabhu Guningbhaya adalah raja Kadiri bawahan Tumapel (sekitar tahun 1230-an). Namanya ditemukan dalam naskah prasasti Mula Malurung (1255).

Slamet Muljana dalam buku Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979) mengidentifikasi tokoh Guningbhaya dengan Agnibhaya dalam naskah Pararaton.

Disebutkan dalam prasasti Mula Malurungtokoh Guningbhaya naik takhta Kadirimenggantikan kakaknya yang bernama Bhatara Parameswara. Sepeninggal Guningbhaya, yang menjadi raja Kadiri adalah kakaknya yang bernama Tohjaya. Ketiga raja itu disebut sebagai paman Raja Wisnuwardhana.

Berdasarkan data di atas, tokoh Guningbhaya dapat disamakan dengan Agnibhaya yang dijumpai dalam naskah Pararaton. Dalam naskah itu disebutkan kalau Agnibhaya adalah adik Mahisa Wunga Teleng (putra Ken Arok dan Ken Dedes). Keduanya merupakan paman dari Ranggawuni alias Wisnuwardhana.

Tokoh Bhatara Parameswara sendiri juga telah diidentifikasi sebagai Mahisa Wunga Teleng.

Dengan ditemukannya prasasti Mula Malurung maka tokoh Agnibhaya masuk dalam jajaran tokoh penting dalam sejarah kerajaan Tumapel atau Singhasari. Semula tokoh ini hanya sekadar putra Ken Arok dan Ken Dedes dalam Pararaton.

Slamet Muljana juga menganalisis mengapa takhta Kadiri jatuh ke tangan Guningbhaya adik Bhatara Parameswara. Kemungkinan besar saat itu putra Bhatara parameswara masih kecil sehingga untuk sementara takhta dipegang Guningbhaya. Namun kemudian takhta jatuh kepada Tohjaya yang disebut sebagai kakak Guningbhaya.

Biasanya takhta jatuh kepada yang lebih muda. Kemungkinan besar Tohjayamelakukan kudeta terhadap Guningbhaya. Hal ini dikarenakan Tohjaya menurut Pararatonhanyalah putra selir. Sehingga ia tidak memiliki hak atas takhta Kadiri.

Jika benar apa yang dikisahkan Pararatontentang kudeta disertai pembunuhan yang dilakukan Tohjaya, maka seharusnya Tohjayamelakukannya terhadap Guningbhaya, bukan terhadap Anusapati.

Asal Usul Prabu Guningbhaya Raja Kediri Bawahan Kerajaan Singasari

Prabhu Guningbhaya adalah raja Kadiri bawahan Tumapel (sekitar tahun 1230-an). Namanya ditemukan dalam naskah prasasti Mula Malurung (1255).

Slamet Muljana dalam buku Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979) mengidentifikasi tokoh Guningbhaya dengan Agnibhaya dalam naskah Pararaton.

Disebutkan dalam prasasti Mula Malurungtokoh Guningbhaya naik takhta Kadirimenggantikan kakaknya yang bernama Bhatara Parameswara. Sepeninggal Guningbhaya, yang menjadi raja Kadiri adalah kakaknya yang bernama Tohjaya. Ketiga raja itu disebut sebagai paman Raja Wisnuwardhana.

Berdasarkan data di atas, tokoh Guningbhaya dapat disamakan dengan Agnibhaya yang dijumpai dalam naskah Pararaton. Dalam naskah itu disebutkan kalau Agnibhaya adalah adik Mahisa Wunga Teleng (putra Ken Arok dan Ken Dedes). Keduanya merupakan paman dari Ranggawuni alias Wisnuwardhana.

Tokoh Bhatara Parameswara sendiri juga telah diidentifikasi sebagai Mahisa Wunga Teleng.

Dengan ditemukannya prasasti Mula Malurung maka tokoh Agnibhaya masuk dalam jajaran tokoh penting dalam sejarah kerajaan Tumapel atau Singhasari. Semula tokoh ini hanya sekadar putra Ken Arok dan Ken Dedes dalam Pararaton.

Slamet Muljana juga menganalisis mengapa takhta Kadiri jatuh ke tangan Guningbhaya adik Bhatara Parameswara. Kemungkinan besar saat itu putra Bhatara parameswara masih kecil sehingga untuk sementara takhta dipegang Guningbhaya. Namun kemudian takhta jatuh kepada Tohjaya yang disebut sebagai kakak Guningbhaya.

Biasanya takhta jatuh kepada yang lebih muda. Kemungkinan besar Tohjayamelakukan kudeta terhadap Guningbhaya. Hal ini dikarenakan Tohjaya menurut Pararatonhanyalah putra selir. Sehingga ia tidak memiliki hak atas takhta Kadiri.

Jika benar apa yang dikisahkan Pararatontentang kudeta disertai pembunuhan yang dilakukan Tohjaya, maka seharusnya Tohjayamelakukannya terhadap Guningbhaya, bukan terhadap Anusapati.

No comments

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham