Social Items

Dalam Al Quran disebutkan nama 25 orang nabi. Tetapi itu tidaklah berarti bahwa nabi-nabi hanya sejumlah 25. Sebelum Nabi Muhammad SAW, Allah mengutus nabi dan rasul kepada setiap bangsa.

Kuwaluhan.com

Nabi Ibrahim AS adalah bapak dari 18 orang nabi, yaitu Nabi-Nabi:

  • Isma‘il, 
  • Ishaq, 
  • Ya’qub, 
  • Yusuf, 
  • Ayyub, 
  • DzulKifli, 
  • Syu’aib, 
  • Yunus, 
  • Musa, 
  • Harun, 
  • Ilyas, 
  • Ilyasa’, 
  • Daud, 
  • Sulayman, 
  • Zakariyya, 
  • Yahya, 
  • Isa ‘Alahi Salam, 
  • Muhammad SAW.


Berikut ini adalah silsilah keturunan Nabi Ibra-hiym AS.

Nabi Ibrahim AS mempunyai 3 orang putera, yaitu Nabi Isma‘il AS beribukan Hajar, Nabi Isha-q AS beribukan Sarah dan Madyan (bukan nabi), beribukan Katurah.

GENERASI PERTAMA SESUDAH NABI IBRA-HIYM AS

Nabi Isma‘il AS menurunkan:
  • Haidar – Jamal – Sahail – Binta – Salaman – Hamyasa – ‘Adad – ‘Addi – Adnan – Ma’ad – Nizar – Mudhar – Ilyas – Mudrikah – Khuzaimah – Kinanah – Nadhar – Malik – Fihir – Ghalib – Luaiy – Ka’ab – Murrah – Kilab – Qushay – ‘Abdul Manaf – Hasyim – ‘Abdul Muththalib – ‘Abdullah – NABI MUHAMMAD SAW.
Nabi Isha-q AS mempunyai 2 orang putera yaitu Isu (bukan nabi) dan Nabi Ya’qub AS, kemudian bernama Isra-iyl, sehingga keturunannya dinamakan Bani Israil.

Madyan menurunkan: 

  • Nabit – Iya – Syafun – Nabi Syu’aib AS (menjadi mertua Nabi Musa AS)


GENERASI KEDUA SESUDAH NABI IBRAHIM AS

Isu menurunkan:

  • Anwas – Nabi Ayyuwb AS – Nabi Dzulkifli AS, Nabi Ya’quwb AS, (Israil) mempunyai 12 orang putera, dan dari ke-12 orang ini terbentuklah 12 suku Bani Israil. Yang disebutkan di sini hanya 4 orang di antaranya saja, yaitu yang menjadi nabi dan mempunyai keturunan nabi: 
1. Nabi Yusuf AS,
2. Lawi (Wardun),
3. Yahuza (Ra’sun), dan
4. Bunyamin.

GENERASI KETIGA SESUDAH NABI IBRAHIM AS

Nabi Yuwsuf AS mempunyai tiga orang anak. Ketiga anaknya tidak ada yang menjadi nabi.

Lawi (Wardun) menurunkan: 

  • Kahis 
  • Yashar 
  • Imran. 


Adapun Imran mempunyai 2 orang anak semuanya menjadi nabi, yaitu Nabi Musa AS (keturunannya tidak ada yang nabi) dan Nabi Ha-ruwn AS(17).

Nabi Ha-ruwn AS menurunkan: 

  • Izhar 
  • Fanhas. 


Adapun Fanhas ini berputra 2 orang yaitu Yasin dan Ukhtub. Yasin memperanakkan Nabi Ilya-s AS, sedangkan Yasin memperanakkan Nabi Ilyasa-‘AS.

Yahuza (Ra’sun) menurunkan: 

  • Baras
  • Hasrun 
  • Raum 
  • Umainizab 
  • Yawksawn 
  • Salmun 
  • Yu’ar 
  • Ufiz
  • Isya 
  • Nabi Da-wud AS
  • Nabi Sulayma-n AS

Bunyamin menurunkan:

  •  Abumatta 
  • Matta 
  • Nabi Yunus AS


Silsilah selanjutnya dimulai dari Nabi Sulaiman AS yaitu:

GENERASI KE-14 SETELAH NABI IBRAHM AS

Nabi Sulayma-n menurunkan:

  • Raji’un (Roboam)  
  • Ababa (Abia).


Adapun Ababa memperanakkan Sahfasat dan Radim.

Sahfasat menurunkan: 
Salum – Nakhur – Shadiqah – Muslim – Sulaiman – Daud – Yaksan – Shaduk – Muslim – Adam – Yahya – Nabi Zakariya AS – Nabi Yahya AS.

Radim menurunkan: 
Yahusafat – Barid – Nausa – Nawas – Amsaya – Izazaya – Au’am – Ahrif – Hizkil – Misyam – Amur – Sahim – ‘Imra-n – Maryam – Nabi’Isa AS.

Selanjutnya silsilah asal-usul Nabi Ibrahim AS.

Silsilah ini menanjak ke atas hingga Nabi Adam AS


  • Nabi Ibrahim AS 
  • Tarikh (Thara) 
  •  Nakhur – Sarugh 
  • Urghu (Ragau) 
  • Falikh 
  • Abir 
  • Syalikh (Sala) 
  • Finan 
  • Arfakhsyadz 
  • Sam 
  • Nabi Nuh AS
  •  Lamik 
  • Matusalkh 
  • Mahanaukh (Enoch) – – – –dan – – – seterusnya, berapa jumlah generasi antaranya hanya Allah Yang Maha Tahu – Yarid – Mahkail – Qinan – Anwas – Syisy (Seth) – Nabi Adam AS.


Sebagai tambahan, dari Yarid hingga sejumlah beberapa generasi ke bawah – Yardukil – Nabi Idris AS.

Adapun Sam selain memperanakkan Arfakhsyadz juga memperanakkan antara lain Iram, Amu dan Kursyun.

Iram menurunkan: 
Aush – Ad – Khulud – Riba – ‘Abdullah – Nabi Hud AS – Haran – Nabi Luth AS.

Amu menurunkan:
Tsamud – Hadzir – ‘Ubayd – Masih – Asif – Ubaid – Nabi Shalih AS.
Kursyun menurunkan: 
San’ar – Kana’an – Namruj, yaitu raja yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Garis Keturunan Nabi Ibrahim As

Raden Patah adalah seorang berdarah campuran China dan Jawa yang lahir di Palembang pada tahun 1455. Ia merupakan pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.


Raden Patah dikenal dengan banyak nama dan gelar antara lain Jin Bun, Pate Rodim, Tan Eng Hwa, dan Aryo Timur. Kisah hidupnya sangat menarik untuk kita pelajari. Perjuangan, kerja keras, dan sikap toleransinya sangat baik untuk diteladani, oleh karenanya mari kita simak silsilah, biografi, hingga makam dan akhir hayat dari pendiri Masjid Agung Demak ini.

SILSILAH RADEN FATAH

Raden Patah merupakan silsilah anak dari Raja Brawijaya dengan selir China bernama Siu Ban Ci. Raja Brawijaya sendiri merupakan raja terakhir dari kerajaan Majapahit yang memerintah sejak tahun 1408 hingga 1501.

Hubungan antara Raja Brawijaya dengan selirnya ini membuat Ratu Dwarawati, isteri Brawijaya cemburu. Karena kecemburuannya itu, Raja dipaksa untuk membuang selir itu agar tidak tetap tinggal di istana. Meski tengah hamil besar, Siu Ban Ci terpaksa harus angkat kaki menuju Palembang untuk tinggal di anak Brawijaya yang merupakan bupati Palembang masa itu, yakni Arya Damar.

Setelah melahirkan Raden Patah, Siu Ban Ci kemudian menikah dengan anak tirinya sendiri yang tak lain adalah Arya Damar. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putra bernama Raden Kusen.

Seiring berjalannya waktu, Raden Patah tumbuh dewasa. Di masa itu, ia diminta menggantikan ayah tirinya menjadi bupati Palembang, namun dengan berbagai alasan ia menolaknya. Ia memilih kabur dan pergi kembali ke Tanah Jawa.

Kepergiannya itu kemudian disusul oleh adik tirinya setelah beberapa bulan kemudian. Baik Raden Patah dan Raden Kusen, keduanya pergi ke Jawa dan menolak menjadi bupati tidak lain adalah karena ingin memperdalam ilmu agama Islam.

Islam kala itu memang tengah mengalami perkembangan pesat di tanah air. Mereka berdua belajar ke Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa tahun mengaji, Raden Kusen kemudian kembali ke kerajaan kakeknya, yakni Brawijaya di Majapahit, sedangkan Raden Patah malah menuju Jawa Tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi dan menjadikannya sebagai tempat syiar Islam dengan mendirikan pesantren.

Raden Patah, Raja Pertama Kerajaan Demak Seiring berjalan sang waktu, Raden Kusen kini telah menetap di kerajaan Majapahit dan telah diangkat sebagai adipati. Bersamaan dengan itu, pesantren yang didirikan Raden Patah pun berkembang dengan pesat dan maju.

Mengingat kemajuan pesantren tersebut, Raja Brawijaya yang tak lain adalah ayah dari Raden Patah khawatir jika pesantren tersebut akan digunakan oleh Raden Patah sebagai alat untuk melakukan pemberontakan.

Untuk menghindari hal itu, Raja Brawijaya pun menyuruh cucunya, yang tak lain adalah adik tiri dari Raden Patah – Raden Kusen, untuk mengundang Raden Patah.

Sesampainya di Istana, Raja Brawijaya sangat-sangat kagum dengan sosok Raden Patah yang sangat sederhana, santun, berwibawa, dan berbudi. Brawijaya pun sangat senang melihat anak dari selirnya itu memiliki kepribadian kuat.

Menyadari hal itu, Brawijaya pun mengangkat Raden Patah sebagai bupati Glagah Wangi. Tak berselang lama, Raden Patah pun merubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dan menetapkan ibukotanya di Bintara.

Di bawah pimpinan Raden Patah, Demak berkembang sangat pesat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Perang antara Kerajaan Majapahit dan Demak Perang antara Demak dan Kerajaan Majapahit dikisahkan di dalam Babad Jawi.

PEMBERONTAKAN TERHADAP MAJAPAHIT

Dalam babad tersebut, diketahui bahwa Sunan Ampel pernah berpesan pada Raden Patah untuk tidak memberontak ke kerajaan Majapahit, karena bagaimanapun Raja Brawijaya adalah ayahnya sendiri –meski berbeda agama.

Pesan itu bertahan dan digubris oleh Raden Patah selama Sunan Ampel hidup. Namun setelah sunan Ampel wafat, pesan itu terpaksa harus diingkari karena beberapa hal. Secara terpaksa Raden Patah pun memberontak pada kerajaan Majapahit, dan Raja Brawijaya meningal pada pemberontakan itu.

Semenjak pemberontakan itu, kerajaan Demak semakin berkembang pesat. Kerajaan tersebut menjadi pusat perkembangan agama islam dipulau Jawa dan menjadi kerajaan islam pertama di Jawa.

Beberapa bangunan bukti kemajuan kerajaan demak masih dapat kita jumpai saat ini, contohnya Masjid Agung Demak yang pada 1479 diresmikan oleh Raden Patah Sendiri.

Keturunan Raden Patah Menurut naskah babad Jawa, Raden Patah mempunya 3 istri yang antara lain: Putri Sunan Ampel yang kemudian melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana. Kedua anak dari isteri pertama ini secara berurutan kemudian naik takhta. Raden Surya bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Raden Trenggana bergelar Sultan Trenggana.

Seorang putri dari Randu Sanga yang kemudian melahirkan Raden Kanduruwan yang pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa dalam menaklukkan Sumenep, Madura. Putri bupati Jipang yang kemudian melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyowo. Wafat dan Makam Raden Patah Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun karena sakit yang dideritanya.

Ia dimakamkan tidak jauh dari masjid Agung Demak dan hingga saat ini makam raden patah tersebut masih tetap terawat dengan baik dan ramai dikunjungi banyak orang.

Sejarah Asal usul dan Silsilah Raden Fatah, Pendiri Kerajaan Demak

Subscribe Our Newsletter