Showing posts with label kisah istri Pandawa Lima. Show all posts
Showing posts with label kisah istri Pandawa Lima. Show all posts

Thursday, July 27, 2017

Kisah Singkat Cinta Sri Krishna dan Radha

Kuwaluhan.com

Radha adalah putri Vrishbhanu gurjar. Ia adalah raja Suchandra di kehidupan sebelumnya. Suchandra dan istrinya telah memperoleh anugerah dari dewa Brahma bahwa di saat Dwapara yuga , dewi Lakshmi akan lahir sebagai putri mereka dalam bentuk Radha. Raja dan Ratu Suchendra Kalavati dilahirkan kembali sebagai Vrishbhanu dan Kirtikumari dan dewi Lakshmi menjelma sebagai Radha .

Dikatakan bahwa saat Radha lahir, ia tidak mau membuka matanya. Kemudian Sri Narada Muni datang menemui Vrishbhanu dan memberitahunya , "Gadis ini adalah penjelmaan dewi keberuntungan. Ia hanya akan membuka matanya jika penjelmaan dari suaminya hadir di hadapannya. Pertemukanlah ia dengan putra Nanda.

Setelah mereka bertemu maka keberuntungan dan kebahagiaan akan selalu menyertai dunia ini. Dan rawatlah ia layaknya engkau merawat dunia." Sesuai dengan saran Narada Muni itu, Vrishbhanu merawat Radha dengan cinta dan kasih sayang.

Nanda yang tinggal di desa terdekat berteman dengan Vrishbanu. Setelah festival Holi ; Vrishbanu pergi ke Gokul untuk bertemu Nanda. Vrishbanu mengajak serta Radha yang masih bayi dan masih tidak mau membuka matanya.

Vrishbanu yang sedang menggendong Radha bertatap muka dengan Nanda yang juga sedang menggendong Krishna. Saat itulah Radha dengan seketika membuka matanya dan melihat Krishna yang ada di hadapannya. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama Radha dan Krishna.

HUBUNGAN CINTA RADHA DENGAN KRISHNA

Cinta Radha terhadap Krishna merupakan cinta spriritual. Cinta dan pengabdian Radha kepada Krishna melebihi cinta dan pengabdian material. Cinta Radha merupakan cinta yang tulus tanpa memandang status apapun. Bagi Radha, Krishna adalah kehidupannya. Bagi Krishna, Radha adalah jiwanya. Itulah sebabnya dikatakan, " Atma Tu Radhika Tasya " ( Radha , Engkau adalah jiwa-Nya ). Radha menempatkan dirinya sebagai seorang pemuja/penyembah Krishna dan dalam bentuk kedua dia adalah pemuja yang dikhususkan oleh Krishna. Vrishbhanu adalah inkarnasi parsial Dewa Vishnu sementara ibunya Kalavati adalah inkarnasi parsial Dewi Laksmi.

Dalam Brihad - Gautamiya Tantra , Radha digambarkan sebagai berikut : " Srimati Radharani adalah mitra langsung dari Sri Krishna. Dia adalah tokoh sentral untuk semua dewi keberuntungan. Dia memiliki semua daya tarik untuk menarik keberuntungan dan kebahagiaan."

Dalam pikiran Radha hanya ada Krishna. Setiap tindakannya akan dipersembahkan kepada Krishna. Krishna pun membalas dengan menyatukan jiwanya dengan Radha. Kemanapun Radha pergi akan selalu diikuti oleh Krishna. "Aku tidak akan pergi dari mu. Engkau dan aku adalah Satu. Kemanapun engkau pergi. Dimanapun namamu disebutkan, namaku akan ada dibelakangmu." Oleh sebab itu, kita semua mengenal nama "Radha Krishna" bukan "Krishna Radha".

KRISNA MENINGGALKAN VRINDAVAN

Dalam berbagai sumber di kisahkan apa yang terjadi kepada Radha ketika Krishna meninggalkan Vrindavan dan tinggal di Mathura. Dalam sumber2 tersebut menjelaskan hal yang berbeda2. Ada yang menjelaskan bahwa setelah Krishna meninggalkan Vrindavan, Radha dengan susah payah kembali ke kehidupan normalnya yakni menikah dan mempunyai anak, namun pikirannya terus berpusat kepada Krishna. Radha melihat suaminya sebagai Krishna dan melayaninya bagaikan ia melayani Krishna.

Ada pula yang menjelaskan bahwa semenjak kehilangan Krishna, Radha menjadi gila akan kerinduannya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia meminta kepada dewi sungai Yamuna untuk mengijinkannya menenggelamkan diri. Dan hal itupun terjadi. Namun krn cintanya kepada Krishna ia terlahir kembali menjadi salah satu istri Krishna yakni Jambhawati.

Akhir dari Radha yang sebenarnya adalah menyatu dengan Krishna (apapun bentuknya) di Vrindavan. Krishna selamanya tidak akan pernah meninggalkan Vrindavan, dan sebagaimana yang dijanjikan oleh Krishna, walaupun secara fisik mereka tidak saling berdekatan, jiwa mereka selalu bersama. Kemanapun Radha pergi akan selalu di ikuti oleh Krishna. Radha dan Krishna adalah pasangan tak terpisahkan.

Thursday, June 15, 2017

Kisah Istri dan Keturunan Yudistira dalam Mahabharata



Yudhistira adalah anak tertua Pandu dan Kunti, raja dan ratu dari Dinasti Kuru, dengan pusat administrasi di Hastinapura. Bagian pertama dari Buku Mahabharata (Adiparwa) menceritakan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh seorang brahmana bernama Resi Kindama secara tidak sengaja. Sang brahmana dilanda panah Pandu saat dia dan istrinya berkopulasi dalam bentuk sepasang rusa.

Pada saat kematiannya, Resi Kindama telah mengutuk Pandu bahwa suatu hari ia akan meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Dengan menyesal, Pandu meninggalkan tahta Hastinapura dan memulai kehidupan sebagai pertapa di hutan untuk mengurangi nafsu.

Kedua istrinya, Kunti dan Madri, dengan setia mengikutinya. Setelah lama tidak berproduksi, Pandu mengungkapkan niatnya untuk memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya. Mantra adalah ilmu pemanggil para dewa untuk mendapatkan seorang putra.

Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil membawa Dewa Dharma dan mendapatkan hadiah dari anak itu tanpa melalui hubungan intim. Putra pertama bernama Yudhistira. Dengan demikian, Yudhistira menjadi putra sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, tuhan keadilan dan kebijaksanaan.

MASA MUDA YUDHISTIRA 

Yudhistira dan keempat adiknya, Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula, dan Sadewa kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal dunia. Saat itu, Hastinapura dipimpin oleh Dretarastra, saudara buta Pandu.

Kelima anak Pandu-yang dikenal sebagai Pandawa - membuat sepupu mereka, anak-anak Dretarastra (seratus Kaurava dipimpin oleh Duryodana) iri. Bisma (Penatua Dinasti Kuru) dan Widura (perdana menteri) lebih memilih Yudhishta daripada anak Dretarastra, jadi Duryodana merasa cemas saat Yudhistira dinobatkan sebagai putra mahkota. Duryodana mencoba menyingkirkan lima Pandawa, terutama Bima yang paling kuat.

Yudhistira, di sisi lain, selalu berusaha agar Bima tidak membalas tindakan Kaurava. Pandawa dan Kaurava kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan administrasi negara daripada Crepi Rishi. Dalam pendidikannya, Yudhistira tampil sebagai murid paling cerdas. Krepa sangat mendukung jika tahta Hastinapura diserahkan ke Pandawa tertua.

Setelah itu, Pandawa dan Kauravas belajar ilmu perang ke Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid paling cerdas, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudhistira sendiri lebih ahli dalam menggunakan senjata tombak.

PERNIKAHAN YUDISTIRA 

Setelah bertahan dalam pembunuhan konspirasi oleh Duryodana dan Sangkuni, Pandawa dan Kunti melewati kota Ekachakra, kemudian tinggal sementara di kerajaan Panchala.

Arjuna berhasil memenangkan kontes di kerajaan dan memperoleh seorang putri cantik bernama Dropadi. Kunti secara tidak sengaja memerintahkan agar Draupadi dibagi menjadi lima. Akibatnya, Draupadi menjadi istri kelima Pandawa. Dari pernikahan ke Yudhistira, Draupadi melahirkan Pratiwindya. Istri keduanya bernama Dewika, putri Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki seorang putra bernama Yodeya.

MENJADI RAJA INDRAPRASTA 

Setelah menikahi Draupadi, Pandawa kembali ke Hastinapura dan menerima sambutan yang luar biasa, kecuali Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Kaurava di atas takhta Hastinapura kembali terjadi. Para tetua akhirnya setuju untuk memberi Pandawa bagian dari kerajaan. Korawa mendapat istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapat hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meski daerahnya sangat gersang dan angker, namun Pandawa rela menerima daerah tersebut.

Selain wilayahnya yang hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibu kota bekas kerajaan Kuru, sebelum Hastinapura. Pandawa dibantu oleh sepupu mereka, yaitu Krishna dan Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha ke permukiman baru. Pandawa kemudian mendapatkan bantuan dari Wiswakarma, master bangunan terampil dari surga, dan juga Anggaraparna dari negara Gandharwa. Maka dibuat sebuah istana megah dan indah yang disebut Indraprastha, yang berarti "kota dewa Indra".

Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat.

Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani.

Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.

Sunday, May 21, 2017

Kisah Asal Usul Abimanyu Putra Arjuna (Pandawa Lima) dari lahir hingga tewas

Kuwaluhan.com

Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi mematikan yang sulit ditembus bernama Chakrawyuha dari Arjuna. Mahabharata menjelaskan bahwa dari dalam rahim, ia menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian Subadra (ibu Abimanyu) tertidur maka sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang bernama Arjuna yang merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan keluarga Raja Wirata, saat pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan ksatria-ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka.

Peran Abimanyu dalam perang Baratayudha

Dalam perang Baratayuda, dikisahkan Abimanyu sengaja disembunyikan oleh kedua orangtuanya dan didukung oleh saudara-saudaranya kadang Pandawa. Abimanya menjadi pewaris tahta kerajaan Amarta, sehingga keselamatan Abimanyu menjadi sangat berarti bagi Keluarga Kerajaan Amarta. Abimanyu menjadi simbul kemenangan Kadang Pandawa sehingga pantaslah dalam perang besar baratayuda itu ia disembunyikan di tempat yang sangat rahasia dijaga oleh istrinya Dewi Utari  dan ibunya Woro Subodro ia tidak boleh keluar dari tempat sembunyi tersebut.


 Dewi Utari istri Abimanyu kebetulan sedang mengandung, sehingga ia tidak mau lepas dari suami yang tercinta walaupun sebentar saja. Semua orang tua Pandawa memberikan “wanti-wanti” (pesan yang sangat tidak boleh dilanggar) kepada Abimanyu, bahwa ia tidak boleh ikut berperang melawan Kurawa.

Setiap manusia memang memiliki kisah sendiri-sendiri. Sebelum beristri dengan Dewi Utari sebenarnya Abimanyu telah memiliki istri yang bernama Siti Sendari. Pada waktu kenalan dengan Dewi Utari Abimanyu mengaku sebagai perjaka. Pada waktu itu Dewi Utaripun curiga dan tidak percaya kepada Abimanyu karena Dewi Utari kurang yakin jika Abimanyu belum memiliki istri. Karena terlanjur cinta kepada Dewi Utari Abimanyu terpaksa berbohong, untuk meyakinkan Dewi Utari ia bersumpah :

“Dewi Utari,ingsun isih legan durung duwe kromo.., yen ora percaya aku wani mati dikrocok gaman sewu”(Dewi Utari saya masih perjaka belum punya istri jika tidak percaya saya berani sumpah mati ditumbak seribu senjata".

Sumpah kebohongan Abimanyu disaksikan bumi, langit, laut, dan gunung. Seketika terdengar petir yang menggelegar..,, kilat menyambar-nyambar. Dewi Utari termakan bujuk rayu dan sumpah palsu Abimanyu, sehingga terwujud keduanya menjadi pasangan suami istri.

Pada waktu terjadi perang besar antara pandawa dan kurawa Abimanyu berada pada persembunyian yang dirahasiakan. Setiap manusia memang memiliki rencana tetapi Tuhan-Pun memiliki rencana : “wamakaru wamakarullahi, wawallahu khairul makirin” (orang-orang itu merencanakan kejahatan, Allah-Pun merencakan pula, maka sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.) Dalam persembunyian hati Abimanyu tidak merasa tentram, makan tidak selera, tidurpun tidak bisa nyenyak. Yang ia pikirkan hanya “Tegal Kuru Setra” tempat saudara-saudara berjihad perang melawan kebatilan. Sebagai seorang yang masih berdarah muda hatinya terpanggil, untuk ikut berperang dimedan laga untuk membela bangsa dan Negara. Dalam hatinya terjadi perang batin antara mengikuti pesan orang tua atau membela Negara. Jika ia minta ijin kepada istrinya atau ibunya mustahil keduanya memberikan ijin.

Abimanyu berdiam diri termenung memikirkan langkah apa yang terbaik bagi dirinya dan Negaranya. Dalam keadaan tersebut tiba-tiba ia melihat seekor “undur-undur”  (binatang kecil yang berjalan dengan cara mundur biasanya berada pada tanah yang berdebu). Binatang tersebut memberikan inspirasi kepada Abimanyu untuk segera pergi ke medan pertempuran dengan cara mundur-mundur, artinya dia meninggalkan tempat persembunyiannya dari sedikit demi sedikit setelah istri dan ibunya terlena segera ia cepat-cepat lari keluar dari persembunyian menuju medan pertempuran.

Kematian Abimanyu

   Abimanyu sudah memakai pakaian perang dengan mengendarai kuda. Dengan gagah berani ia segera menerjang dan memporak porandakan musuhnya yaitu para kurawa. Pasukan Pandawa yang semula sudah terdesak kini dapat mendesak pasukan Kurawa. Pasukan Kurawa kalang kabut banyak korban berjatuhan, banyak bala tentara yang mati seperti “babadan pacing” tumbuhan perdu yang roboh setelah ditebas dengan pedang.

Senopati Kurawa Bagawan Durna mengumpulkan para jendral untuk mengadakan “briefing” apa yang menyebakan, langkah/strategi apa yang harus segera ditempuh untuk mengalahkan Pandawa. Hasil dari briefing tersebut diputuskan strategi perang yang baru. Apa yang menyebabkan kekuatan Pandawa tiba-tiba meledak-ledak ternyata ada perwira muda yang gagah berani yaitu Abimanyu.


Bagawan Durna memutuskan strategi yaitu Pasukan Pandawa harus dipancing dipecah menjadi 3 bagian, Arjuna dipancing musuhnya keluar dari Tegal Kurusetra lari kearah pantai, Werkudara dipancing musuhnya lari keselatan kearah pegunungan. Tinggal Abimanyu sendiri ditinggal di Tegal Kurusetra. Pasukan Kurawa menggunakan gelar perang “tepung gelang”. Abimanyu yang seorang diri dipancing untuk masuk ke perangkap yang dirancang Bagawan Durna.

Bagawan Durna memerintahkan kepada Adipati Karna untuk melepaskan anak panah yang ditujukan ke arah kuda yang ditunggangi Abimanyu. Kuda Abimanyu roboh seketika ke tanah setelah terkena anak panah tepat mengenai lehernya. Hati Abimanyu terasa teriris-iris setelah mengetahui kudanya tewas terkena anak panah. “aja mati dewe tak belani” (jangan mati sendiri aku membelamu). Abimanyu segera melompat sambil memegang sebuah pedang mengejar prajurit Kurawa. Siasat perang Bagawan Durna benar-benar terlaksana, dengan dipancing seorang prajurit Abimanyu masuk ke perangkap yang dinamakan pasukan “tepung gelang”. Abimanyu seorang diri dikepung ribuan prajurit yang membentuk lingkaran besar dengan anak panah siap melesat dari busurnya.

Bagawan Durna memberi aba-aba satu..,dua…,tigaaaa….,semua prajurit melepaskan anak panah kearah Abimanyu yang berada di tengah-tengah. Abimanyu terkena panah dari segala arah. Seluruh tubuh Abimanyu sudah tidak ada bagian yang tidak terkena anak panah. Darah mengalir membasahi tubuh Abimanyu. Menurut kisah busur panah yang digunakan prajurit Kurawa sengaja dibuat dari kayu “sempu”, kayu tersebut yang menyaksikan ketika Abimanyu bersumpah kepada Dewi Tari =

Adinda Dewi Tari percayalah kepadaku tidak ada orang yang paling kucinta selain dirimu…, siang malam aku selalu memikirkanmu, aku tidak bisa lepas dari bayangan wajahmu! Kata Abimanyu.

 “Baik.., Kakang Abimanyu. Saya percaya kalau Kakang mencintaiku.., tetapi Kakang Abimanyu sudah punya istri aku tidak mau menyakiti perasaan wanita, karena aku juga seorang wanita yang memiliki perasaan.” Kata Dewi Tari

“Aku masih perjaka Dinda.., Aku belum beristri ! Abimanyu merayu.

“Aku tidak yakin Kakang Abimanyu masih perjaka…!” kata Dewi Tari

“Kalau Dinda tidak yakin…, aku berani bersumpah yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, samudera, dan kayu sempu ini.., Aku bersumpah bahwa aku masih perjaka jika aku berbohong aku berani mati dengan dikrocok gaman sewu (ditumbak senjata yang sangat banyak)” kata Abimanyu.

Sumpah Abimanyu menjadi doa yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, dan samudera. Sehingga berhati-hatilah jika kita berbicara ada pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Abimanyu tidak dapat roboh meskipun terkena ribuan anak panah karena tubuhnya ditopang oleh ribuan anak panah yang tertancap di badannya. Prajurit Kurawa segera mendekat karena mengira Abimanyu sudah mati berdiri. Tidak ketinggalan putera mahkota Kurawa Pangeran Lesmana Mandrakumara ikut mendekat melihat dari dekat Abimanyu yang sudah tidak berujud manusia tersebut. Dengan kata-kata yang penuh kesombongan dan menyakitkan Lesmana Mandrakumara menantang Abimanyu. Dengan pongah ia menantang =

katanya kamu pasukan khusus…, hayo mana sekarang kekuatanmu. Ternyata kamu hanya jago ayam potong…, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. Hayo mana kekuatanmu lawan aku..! kata Lesmana Mandrakumara.

Abimanyu hanya tertunduk malu, dalam hatinya berkata bunuhlah aku biar aku dapat mati sempurna sebagai prajurit yang membela kebenaran, keadilan, sebagai prajurit yang “netepi kesaguhan” mati membela bangsa dan Negara. Air mata Abimanyu mengalir menetes di sela-sela anak panah yang tertancap di wajahnya. Ia teringat akan pesan ayahnya Arjuna dan Ibunya Sembodro yang karena cinta kepadanya ia disembunyikan ditempat rahasia. Tetapi ia sudah terlanjur menjadi korban peperangan. Abimanyu berkata lirih :

Ayah….., Ibu…., jangan marah, jangan sedih …, ananda mati lebih dahulu…, jangan salahkan aku karena aku netepi sumpahku.”

“Jangan menangis kau Abimanyu.., kau prajurit cengeng…, dimana keberanian kamu…, saat ini kamu pasti akan mati…, aku bersumpah jika kau mati istrimu yang cantik itu akan aku rebut, istrimu akan aku boyong ke Kurawa..!” kata Lesmana Mandrakumara.

                 

Mendengar kata-kata Lesmana Mandrakumara hati Abimanyu menjadi marah karena ada kata-kata akan merebut istri yang ia cintai, istri yang menyebabkan ia rela mengorbankan segalanya. Seperti ada kekuatan yang datang, tiba-tiba Abimanyu menebaskan pedang yang masih ia gengam sebelumnya tepat mengenai leher Lesmana Mandrakumara, seketika ia roboh bersimbah darah. Lesmana Mandrakumara tewas seketika. Mengetahui putra mahkota menjadi korban Jayajatra prajurit pengawal raja menghujamkan tombak ke arah dada Abimanyu. Abimanyu roboh seketika iapun meninggal dunia.

Balas Dendam Arjuna

Berita kematian Abimanyu segera sampai ketelinga Kadang Pandawa. Dewi Sembodro ibu Abimanyu langsung lari ke medan pertempuran mencari jasad anaknya. Pasukan pengawal keluarga kerajaan mengejar Dewi Sembodro. Di tengah tanah lapang ditemukan jasad anaknya yang penuh dengan luka “tatune arang kranjang”

anakku yang malang…, mengapa engkau tidak percaya nasehat ibumu….,kalau kau mati ibumu ikut mati saja……..” Sembodro jatuh pingsan dekat jasad anaknya.

“Prajurit.., angkat Tuan Putri bawa ke perkemahan” kata Kresna.

Arjuna segera berlari ikut mendekat jasad anaknya karena ia baru datang dari tempat yang jauh mengejar musuhnya. “Dimana anakku….., oh ngger…, mengapa seperti ini…., jangan mati sendiri, aku akan membalas untuk kamu, Aku bersumpah sebelum matahari terbenam aku harus dapat membunuh Jayajatra kalau tidak lebih baik aku  mati bunuh diri dengan mati obong(masuk kedalam api yang berasal dari tumpukan kayu yang dibakar).”

Berita sumpah Arjuna sampai juga ke telinga prajurit Kurawa, untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan Jayajatra untuk sementara disembunyikan di “Gedong Wojo” semacam bunker/bangunan bawah tanah yang letaknya tersembunyi. Orang tua Jayajatra yang bernama Bagawan Sempani selalu berdzikir meminta kepada sang pencipta agar anaknya tidak mati. Hanya saja kadang dzikirnya tidak sesuai karena menggunakan bahasa Indonesia : Tu-han, Tu-han, Tu-han menjadi han-tu, han-tu, han-tu…,anakku Jayajatra hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup,………………….dst.

Hari sudah mulai sore tetapi Arjuna belum dapat membalas kematian anaknya, Kresna yang menjadi botohnya Pandawa merasa kawatir kalau sampai matahari tenggelam Jayadrata tidak dapat dibunuh Arjuna harus netepi jiwa kesatriyanya dengan mati obong. Kresna dengan kekuatan batinnya menciptakan mendung hitam gelap sehingga tampak hari sudah hampir malam. Beliau minta kadang Pandawa untuk menyiapkan kayu bakar dan para prajurit agar berteriak sekeras-kerasnya = Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, suara itu terdengar sampai ke perkemahan prajurit Kurawa karena mengira hari sudah malam, prajurit Kurawa berbondong-bondong mendekat ke perapian ingin melihat dari dekat Arjuna mati obong.

Jayadrata yang berada di Gedong Wojopun mendengar sayup-sayup Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…! Ingin rasanya ia mengetahui apa yang terjadi. Jayadrata memberanikan diri membuka jendela untuk melihat apa yang terjadi dari balik jendela. Bagawan sempani tak henti-hentinya berdzikir kepada Tuhan agar sampai matahari tenggelam nanti anaknya selamat.

Kresna tahu bahwa Jayadrata tidak akan mati jika ayahnya (Bagawan Sempani) berdzikir dengan selalu mengucapkan kata-kata hidup, hidup, hidup…maka Jayadrata tidak akan mati.

Tetapi tidak kurang akal, Kresna mengubah wujudnya menjadi seekor lalat yang mengganggu Bagawan Sempani yang sedang berdzikir. Lalat tersebut hinggap dibibir Bagawan Sempani, sebentar terbang hinggap di mata sebentar hinggap di bibir kanan Bagawan Sempani, ketika dipukul pakai tangan lalat tersebut hinggap di pelipis.

Pada saat dzikir Bagawan Sempani selalu mengucapkan kata-kata = “Anakku Jayajatra hidup, hidup, hidup” tiba-tiba lalat hinggap dipupu Bagawan Sempani, sejenak dzikir Bagawan Sempani terdiam sebentar, kemudian dengan mengambil ancang-ancang Bagawan Sempani memukul lalat tersebut dengan tangannya “mati, mati, mati kamu” seketika lalat berubah wujud menjadi Kresna dengan berkata “Bagawan Sempani anakmu Jayadrata mati.”


Ditempat yang terpisah Arjuna sudah bergerilya mengintip persembunyian Jayadrata di Gedong Wojo. Jayadrata berusaha membuka jendela untuk mengetahui apa benar Arjuna mati obong. Pada waktu Jayadrata membuka jendela secepat kilat melesat panah Arjuna tepat mengenai leher Jayadrata bersamaan dengan Dzikir Bagawan Sempani berucap mati, mati, mati,… maka tewaslah Jayadrata dan lunaslah sumpah Arjuna. Ternyata hari belum malam, setelah mendung hilang matahari tampak bersinar ikut menyaksikan tewasnya sang angkara murka Jayadrata.

Gugurnya Abimanyu dalam perang Baratayuda dalam khasanah budaya jawa akibat sumpah palsu yang pernah ia lontarkan kepada Dewi Utari sebagai pembelajaran “ngunduh wohing pakarti, sing nandur kabecikan ngunduh kabecikan sing nandur ala bakale ciloko”