Social Items

Tampilkan postingan dengan label Kelahiran dewa Brahma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelahiran dewa Brahma. Tampilkan semua postingan
Dewa Yama adalah satu dari Dewa-dewa Hindu yang mengembara paling jauh ke dunia dibandingkan dengan dewa-dewa lainnya. Yamaraja memiliki tugas untuk mengadili jiwa-jiwa,menentukan apakah jiwa tersebut harus dijatuhi hukuman neraka atau di kirim ke sorga.

Kuwaluhan.com

Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada para roh pendosa berdasarkan dosa-dosa yang telah mereka lakukan semasih hidup di dunia. Karena Yamaraja memiliki kemampuan dalam menentukan jenis hukuman yang dijatuhkan kepada para roh pendosa sesuai dengan aturan-aturan agama, maka Yamaraja juga dikenal dengan nama Dharmaraja. Alhasil, Yamaraja menjadi Dewa yang paling andal dalam hal mengadili para roh.

Meskipun bagi sebagian masyarakat penganut ilmu modern Dewa Yama dianggap sebagai tokoh khayalan belaka, namun berdasarkan catatan-catatan dalam sastra suci dan penyelidikan langsung oleh para orang suci, maka telah terbukti bahwa Dewa Yama memang benar-benar ada

Dalam purana-purana diceritakan bahwa Yamaraja adalah putera Dewa Matahari, Vivasvat. Ia juga memiliki saudara kembar perempuan bernama Yami atau Sungai Yamuna. Keduanya, Yama dan Yami disebutkan sebagai pasangan manusia pertama yang menjadi asal muasal dari ras manusia. Yama adalah orang pertama yang mengalami kematian dan juga yang pertama menuju alam kematian sehingga ia behasil menemukan dunia bawah.

Karena ia adalah orang yang tiba di dunia bawah tersebut, ia pun mendapatkan anugrah kekuatan untuk memimpin keseluruhan wilayah di dunia bawah tersebut dan mendapatkan jubah Dewa Kematian. Dalam menjalani perannya sebagai Dewa Kematian, Dewa yama bekerjasama dengan Sang Penghancur/Pelebur, Dewa Siva.

Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada roh pendosa dengan sangat adil dan bijaksana berdasarkan dosa-dosa yang mereka perbuat dalam kehidupan mereka di Bumi. Hukuman yang diberikan oleh Dewa Yamadapat berupa siksaan-siksaan yang terlihat sangat kejam, misalnya roh-roh pendosa dibakar dalam samudra minyak mendidih, dipukul tanpa henti dengan tulang bergerigi, dan lain-lain.

Yamaraja adalah Raja bagi para pitra dan bertempat tinggal di Pitraloka bersama para prajurit pribadinya, Yamaduta. Ia diberi kekuatan resmi sebagai hakim di bagian selatan (bagian bawah) alam semesta, yaitu di Patala. Lebih tepatnya, ia berdiam di Samyamani, sebelah selatan gunung Sumeru dengan dikelilingi oleh sabuk abadi yang bernama Sungai Vaitarani di depan pintu masuk planet kediamanYamaraja.

GAMBARAN DEWA YAMA


Menurut pengalaman para waskita dan juga merujuk pada catatan-catatan dalam kitab suci Hindu, Dewa Yama pada umunya muncul sebagai sosok yang menakutkan. Bagi para roh pendosa, yamaraja terlihat sebagai sosok hitam dengan tangan dan kaki yang sangat besar, bibir yang bergetar, mata yang cekung sedalam antariksa, dan rambut yang berupa kobaran api.

Namun, bagi para roh yang baik, Yamaraja akan mewujudkan diri sebagai sosok yang tampan menyerupai Wishnu dengan empat lengan dan sepasang mata yang indah. Namun pada umumnya, Yamaraja sering digambarkan sebagai sosok berwarna hijau dan berpakaian merah dengan mengendarai seekor kerbau. Tangannya memegang gada (Yamadunda) dan tali jerat untuk membebaskan roh dari badan wadagnya ketika sedang dalam proses kematian.

Yamaraja memiliki dua ekor anjing rakus, yang mana masing-masing dari anjing tersebut mempunyai empat mata dan lubang hidung yang sangat besar. Kedua anjing tersebut menjaga jalan di sekitar kediaman Dewa yama.

Disebutkan bahwa anjing-anjing Dewa Yama turut berkeliaran di antara manusia sebagai pembawa pesan kematian dengan mengirimkan seekor burung yang menandakan bahwa Dewa Yama akan segera datang.

KEDIAMAN DEWA YAMA


Dewa Yama tinggal di dunia bawah, di kota Yamapura. Di kerajaan yang bernama Kalichi, ia tinggal bersama beberapa istrinya, yaitu Hemamala, Sushila dan Vijaya, dan beliau sendiri duduk diatas takhta pengadilan bernama Vicharabhu.

Dalam menjalankan tugasnya, Dewa Yama dibantu oleh penasehat dan tukang catat semua perbuatan manusia di bumi,Chitragupta. Ia juga didampingi oleh seorang ketua pelayan (Canda atau Mahacanda) dan seorang penjaga (Kalapurusha). Selain itu, ada pula Yavana sebagai pelayan Yamaraja dan para Yamaduta sebagai prajurit dan pembawa pesan.

PENGADILAN DI KEDIAMAN DEWA YAMA


Yamaraja dan para Yamaduta mengambil roh seseorang menuju ke tempat pengadilan.Setiba di kediaman Yamaraja, pintu pengadilan pun ditutup dan dijaga oleh seorang penjaga pintu bernama Vaidhyata. Lalu, Chitragupta, sang pencatat atau perekam semua perbuatan sang roh mulai membacakan catatannya dari buku besar bernama Agrasandhani.

Kemudian Yamaraja menentukan apakah roh tersebut akan dikirim ke tempat kediaman para pitri (pitriloka) atau ke salah satu dari ribuan planet neraka berdasarkan dosa yang diperbuatnya, atau juga akan dilahirkan kembali ke dunia dalam bentuk tubuh yang lain.

Yogi Sampurna memuji keagungan Yamaraja sebagai Dewa Kematian yang menjalankan tugasnya dengan dharma. Yamaraja memimpin dunia bawah bersama para prajurit dan pembantunya menjatuhi hukuman kepada para roh pendosa dengan seadil-adilnya, yang tujuannya adalah menyucikan roh-roh tersebut sehingga mereka dapat kembali ke jalan Tuhan.

Meskipun Yamaraja terkenal sebagai sosok yang menjadi terror bagi hampir semua orang yang takut menghadapi kematian, namun ternyata Dewa Kematian ini adalah juga Bhakta agung dari Tuhan, yaitu sebagi Mahajana dan Vaisnava. Dewa Yama yang gagah perkasa dan ditakuti ini tidak akan mampu berbuat apa-apa dihadapan para penyembah Tuhan, atau mereka yang teguh menginginkan pengetahuan tentang kesadaran atma dan wanita yang setia kepada suaminya.

Yamaraja melarang para prajuritnya mendekati dan ataupun menyentuh para Bhakta Tuhan yang walaupun karena suatu kesalahan atau dikaburkan oleh kebingungan dan ilusi pada suatu kesempatan melakukan perbuatan berdosa. Para Bhakta ini terlindungi dari reaksi dosa karena mereka selalu mengula-ulang nama suci Tuhan atau senantisa merenungkan-Nya.

Kisah Asal Usul Dewa Yama, dalam Ajaran Hindu

Dalam ajaran agama Hindu,dewa Indra adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Dia adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.

Kuwaluhan.com

Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindudan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewamenghadapi kaum raksasa.

Indra juga disebut dewa perang, karena Dia dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang ResiDadici. Kendaraan Dia adalah seekor gajahputih yang bernama Airawata. Istri Dia DewiSaci.

Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.

Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, dia disamakan dengan Sakra.

KELAHIRAN DEWA INDRA

Tepat setahun setelah perkawinan Batara Guru dengan Batari Uma lahirlah seorang putra yang diiringi dengan gempa bumi melanda banyak tempat. Putra pertama itu diberi nama Batara Sambu, yang kemudian dimandikan dengan air keabadian Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung tumbuh menjadi dewasa seketika.

Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan lagi seorang putra yang diiringi dengan letusan gunung berapi di banyak tempat. Putra kedua itu diberi nama Batara Brahma, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung berubah dewasa.

Dua tahun berikutnya Batari Uma melahirkan seorang putra yang diiringi dengan hujan petir dan banjir besar melanda di banyak tempat. Putra ketiga itu diberi nama Batara Indra, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu pula sehingga langsung berubah dewasa seketika.

Dua tahun setelah itu, Batari Uma kembali melahirkan seorang putra yang diiringi dengan angin topan dan badai melanda di banyak tempat. Putra keempat itu diberi nama Batara Bayu, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung berubah menjadi dewasa seketika.

NAMA LAIN DÉWA INDRA

Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan mitologi yang terkait dengannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:


  • Sakra (yang berkuasa)
  • Swargapati (raja surga)
  • Diwapati (raja para Dewa)
  • Meghawahana (yang mengendarai awan)
  • Wasawa (pemimpin para Wasu).


DALAM WEDA

Indra adalah dewa pemimpin dalam Regweda(disamping Agni). Ia senang meminum Soma, dan mitos yang penting dalam Weda adalah kisah kepahlawanannya dalam menaklukkan Wretra, membebaskan sungai-sungai, dan menghancurkan Bala, sebuah pagar batu di mana Panis memenjarakan sapi-sapi dan Usas (dewa fajar). Ia adalah dewa perang, yang telah menghancurkan benteng milik Dasyu, dan dipuja oleh kedua belah pihak dalam Pertempuran Sepuluh Raja.

Regweda sering menyebutnya Śakra: yang perkasa. Saat zaman Weda, para dewa dianggap berjumlah 33 dan Indra adalah pemimpinnya (secara ringkas Brihadaranyaka Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra juga dijuluki Wasawa.

Pada zaman Wedanta, Indra menjadi patokan untuk segala hal yang bersifat penguasa sehingga seorang raja bisa disebut "Manawèndra" (Manawa Indra, pemimpin manusia) dan Rama, tokoh utama wiracaritaRamayana, disebut "Raghawèndra" (Raghawa Indra, Indra dari klan Raghu). Dengan demikian Indra yang asli juga disebut Déwèndra (Dewa Indra, pemimpin para dewa).

DALAM PURANA

Dalam kitab Purana, Indra adalah pemimpin para dewa, putra Aditi dan Kasyapa. Kekuasaannya digulingkan oleh Bali, cucu Hiranyakasipu, raksasa yang dibunuh Dewa Wisnu. Atas permohonan Aditi, Wisnu menjelma sebagai anak Aditi yang disebut Wamana, yang disebut pula Upendra (secara harfiah berarti adik Indra). Upendra menghukum Bali untuk mengembalikan kekuasaan Indra. Karena kemurahan hati Dewa Wisnu, Bali diberi anugerah bahwa ia berhak menjabat sebagai Indra pada Manwantara berikutnya.

Dalam kitab Bhagawatapurana (dan Puranalainnya), Indra beserta para putra Aditi (para dewa) berseteru dengan para putra Diti (detyaatau raksasa). Sukra, guru para raksasa memiliki ilmu yang mampu menghidupkan orang mati sehingga setiap prajurit raksasa yang gugur dapat dihidupkan kembali, sementara laskar para dewa tidak dapat hidup lagi.

Para dewa kecewa dengan keadaan tersebut, sehingga mereka memohon petunjuk Dewa Wisnu. Atas petunjuk dia, para dewa bernegosiasi dengan para raksasa untuk mencari minuman keabadian yang disebut amerta di samudra susu. Pada akhirnya, minuman tersebut jatuh ke tangan para raksasa. Atas bantuan awatara(penjelmaan) Wisnu yang bernama Mohini, para dewa berhasil merebut tirta tersebut dan mendapatkan keabadian.

Dalam kitab Markandeyapurana disebutkan bahwa setiap manwantara (satuan waktu) akan dipimpin oleh seorang Indra. Jadi jabatan Indra berganti seiring bergantinya manwantara. Manwantara sekarang adalah manwantara ketujuh, yang terdiri dari 71 mahayuga. Indra yang menjabat sekarang disebut Purandara, dan pada manwantara berikutnya akan digantikan oleh Bali alias Mahabali.

Dalam kitab Brahmawaiwartapurana, setelah mengalahkan Wretra, Indra menjadi angkuh dan meminta Wiswakarma, arsitek para dewa untuk membangun suatu kediaman megah untuknya. Indra kurang puas dengan pekerjaan Wiswakarma sehingga Indra tidak mengizinkannya pergi sebelum ia mampu menyelesaikan pekerjaannya.

Wiswakarma memohon bantuan Dewa Brahma agar ia terbebas dari jerat Indra. Brahma pun meminta bantuan Wisnu, sehingga Wisnu menemui Indra dalam wujud seorang brahmana kecil. Indra menyambutnya tanpa mengetahui bahwa brahmana itu adalah penjelmaan Wisnu.

Wisnu memuji kemegahan istana Indra yang dibangun oleh Wiswakarma, dan berkata bahwa Indra sebelumnya tidak memiliki kediaman semegah itu. Karena tidak memahami maksudnya, Indra pun bertanya tentang Indra sebelumnya. Wisnu menjelaskan bahwa dalam setiap alam semesta, ada satu Indra yang berkuasa dengan umur 70 yuga sehingga jumlah Indra tak terhitung, bagai partikel dalam debu.

Kemudian tampak serombongan semut lewat dan Wisnu berkata bahwa mereka adalah reinkarnasi Indra pada masa lampau. Indra yang sekarang pun sadar bahwa kemewahan yang dimilikinya tidak berarti sehingga ia membiarkan Wiswakarma pergi.

Kisah Asal Usul Dewa Indra, dalam Ajaran Hindu

Dewa Bayu dalam agama Hindu adalah Dewa utama, bergelar sebagai Dewa angin. Udara (Vāyu) atau angin(Pāvana) merupakan salah satu unsur dalam Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar dalam ajaran agama Hindu.


Bayu sering disejajarkan dengan dengan Akasha, dewa aether; Jala, dewa air; Agni, dewa api; dan Prithvi, dewa bumi.
Bayu juga kadang disebut sebagai Prana atau Pavana yang berarti Sang Pemurni.

Bayu biasanya digambarkan sebagai seorang pria tampan dengan kulit sedikit ungu. Dia memiliki kereta menakjubkan yang ditarik oleh seribu kuda ungu dan putih.

Bayu biasanya mengenakan perhiasan indah dan sering digambarkan memiliki empat lengan, dengan dua lengan memegang bendera kecil. Ketika tidak sedang dibawa dalam kereta, Bayu akan mengendarai seekor kijang.

Bayu dikisahkan sebagai dewa yang menggelora dan sering menampakkan kemarahan yang tidak bisa ditahan.

Salah satu mitos mengisahkan Bayu yang memutuskan meniup puncak gunung mitos Meru. Dia meniup dan meniup, tapi dewa burung Garuda mempertahankannya.
Saat Garuda beristirahat, Bayu yang dikuasai kemarahan meniup puncak gunung Meru, menerbangkannya, untuk kemudian mendarat dan membentuk pulau Sri Lanka.

Bayu juga dikenal memiliki banyak pasangan. Salah satu anaknya yang paling terkenal adalah dewa kera, Hanuman. Bayu juga menjadi bapak Bima, salah satu anggota Pandawa dalam kisah Mahabharata.

Bayu adalah dewa angin yang memiliki makna lebih dari sekedar angin yang bertiup kencang.
Dia juga dipandang sebagai dewa nafas kehidupan. Salah satu cerita yang paling terkenal mengilustrasikan pentingnya nafas bagi setiap sesuatu yang hidup.

Terdapat sebuah cerita bahwa semua dewa yang memberikan sebagian kekuasaannya kepada manusia berkumpul pada suatu hari.

Masing-masing dewa mengklaim lebih kuat dibanding yang lain. Untuk menentukan siapa sebenarnya yang paling kuat, mereka setuju untuk berkompetisi.

Dewa yang bertanggung jawab atas kemampuan manusia untuk mendengar akan mencabut pemberiannya sehingga membuat manusia menjadi tuli. Meskipun tuli, namun manusia masih tetap bisa hidup.

Satu demi satu para dewa bergiliran mencabut pemberiannya kepada manusia, hingga akhirnya datang giliran Bayu.

Saat Bayu mencabut pemberiannya, manusia mulai tercekik kemudian kehilangan kemampuan berpikir, melihat, mendengar, dan akhirnya mati.

Akhirnya para dewa mengakui kekuasaan Bayu dan setuju bahwa napas kehidupan adalah yang terpenting di antara semua pemberian dewa.

Kisah Asal Usul Dewa Bayu, Dalam Agama Hindu

Brahma adalah dewa yang menduduki tempat pertama dalam susunan dewa-dewa Trimūrti, sebagai dewa pencipta alam semesta. Mitologi tentang Brahma muncul pertama kali dan berkembang pada zaman Brahmāna. Brahma dianggap sebagai


perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya. Menurut kitab Satapatha Brahmāna, dikatakan bahwa Brahmalah yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas para dewa. Sebaliknya, di dalam kitab Mahabharata dan Purana dikatakan bahwa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Wisnu. Sebagai pencipta dunia, Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati.

Pencipta Dunia


Dalam kitab suci Bhagawadgita, Dewa Brahma muncul dalam bab 8 sloka ke-17 dan ke-18; bab 14 sloka ke-3 dan ke-4; bab 15 sloka ke-16 dan ke-17. Dalam ayat-ayat tersebut, Dewa Brahma disebut-sebut sebagai Dewa pencipta, yang menciptakan alam semesta atas berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Bhagawadgita juga disebutkan, siang hari bagi Brahma sama dengan satu Kalpa, dan Brahma hidup selama seratus tahun Kalpa, setelah itu beliau wafat dan dikembalikan lagi ke asalnya, yakni Tuhan Yang Maha Esa

Dalam ajaran-ajaran Weda dikatakan bahwa pada mulanya di saat dunia masih diselubungi oleh kegelapan, ketiak belum tercipta apa pun, Ia, makhluk yang ada dengan sendirinya yang tanpa awal dan akhir, berkeinginan mencipta alam semesta dari tubuhnya sendiri.

Mula-mula ia menciptakan air, kemudian menyebarkan bermacam-macam benih-benihan. Dari benih-benih ini kemudian muncul telur emas yang bersinar seperti cahaya matahari. Dari telur emas inilah Brahma lahir yang merupakan perwujudan dari Sang Pencipta itu sendiri. Menurut kitab Wişņu Purāna, telur emas itu merupakan tempat tinggal Sang pencipta selama ribuan tahun yang akhirnya pecah, dan muncullah Brahma dari dalamnya untuk mencipta dunia dengan segala isinya.

Brahma, seperti juga Çiwa dan Wişņu, memiliki bermacam-macam nama sebutan, di antaranya adalah Atmabhu (yang ada dengan sendirinya), Annawūrti (pengendara angkasa), Ananta (yang tiada akhir), Bodha (guru), Bŗhaspat (raja yang agung), Dhātā(pencipta), Druhina (sang pencipta), Hiranyagarbha (lahir dari telur emas), Lokesha(raja seluruh dunia), Prajāpati (raja dari segala makhluk), dan Swayambhū (yang ada dengan sendirinya). Di dalam mitologi Hindu dikatakan bahwa wahana (kendaraan) Brahma adalah hamsa (angsa).

Binantang-binantang yang dijadikan sebagai kendaraan para dewa pada kenyataannya merupakan manifestasi dari sifat-sifat para dewa itu sendiri. Hamsa adalah simbol dari “kebebasan” untuk hidup kekal. Sifat seperti ini dimiliki oleh Brahma. Hamsa merupakan binatang yang dapat hidup di dua alam, dapat berenang di air, dan terbang ke angkasa. Di air ia dapat berenang semaunya dan di angkasa ia dapat terbang ke mana saja ia suka. Ia mempunyai kebebasan, baik di bumi (= air) maupun di angkasa.

Dewa berkepala empat


Brahma dikenal juga sebagai dewa berkepala empat dengan masing-masing muka menghadap keempat arah mata angin. Keempat muka Brahma merupakan simbol dari empat kitab Weda, empat Yuga, dan empat warna. Karena memiliki empat kepala, brahma juga dikenal sebagai catur anana atau catur mukha atau asta karna (delapan telinga).

Kitab Matsya Purana menyebutkan bahwa kepala Brahma berjumlah lima, tapi tinggal empat karena dipotong Çiwa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Brahma mencipta seorang wanita dari tubuhnya sendiri yang diberinya lima buah nama; Satarupā, Sawitri, Saraswatī, Gāyatri, dan Brāhmani. Karena cantiknya, Brahma merasa tertarik, sehingga sang dewi terus dipandang.

Satarupā yang merasa terus diperhatikan menghindar ke sebelah kanan. Dewa Brahma sebagai dewa besar malu untuk menoleh ke kanan dan karena itu muncul kepala Brahma ke dua di sebelah kanan. Begitu pula ketika Satarupāmenghindar ke kiri, ke belakang, dan akhirnya muncul kepala Brahma yang kelima ketika Satarupā menghindar dengan terbang ke angkasa.

Menurut kitab Padma Purāna, ketika terjadi perselisihan antara Brahma dan Wişņu, Çiwa datang melerai keduanya dengan mengabulkan permintaan keduanya. Brahma sangat gembira, sehingga lupa memberi penghormatan kepada Çiwa. Çiwa merasa kurang senang lalu menghampiri Brahma dan kemudian memotong salah satu kepalanya dengan kuku jari kirinya dan berkata’ “Kepala ini terlalu terang, akan memberikan kesulitan kapada dunia karena sinarnya yang terang melebihi seribu cahaya matahari.”

Brahma yang dikenal sebagai salah seorang dewa Trimūrti ini bila dibandingkan dengan dewa-dewa Trimūrti lainnya, yaitu Çiwa dan Wişņu, tidaklah sebesar dan sepenting keduanya. Tidak ada kuil atau bangunan suci untuk memujanya, juga tidak ada aliran yang khusus memuja Brahma seperti yang terjadi pada aliran-aliran Çiwait maupun Wişņuit. Walaupun tidak ada bangunan suci yang diperuntukkan kepadanya, dalam relung-relung kuil-kuil untuk Çiwa dan Wişņu, umumnya di relung utara diletakkan arca Dewa Brahma yang kadang-kadang juga dipuja.

Kisah Kelahiran Brahma


Dalam Manusmrti (Manavadharmasastra) buku I sloka 9 disebutkan:

"Tad andam abhavad haiman,

Sahasramsusamaprabham,

tasmin jajna svayam brahma,

sarva loka pita maha"

yang memiliki arti bebas: Benih menjadi telur alam semesta yang Maha Suci, cemerlang laksana jutaan sinar. Dari dalam telur itu Ia menjadikan dirinya sendiri menjadi Brahma, pencipta cikal bakal jagat raya ini.

Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya.

Menurut Kitab Satapatha Brahmana, disebutkan bahwa Dewa Brahma yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas dewa-dewi lainnya.

Sedangkan dalam kitab Mahabharata dan Purana, dikatakan bahwa Dewa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Dewa Wisnu, sebagai pencipta dunia Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati.

Keturunan Dewa Brahma



  • Marici, Angirasa, Atri, Pulastya, Pulaha , dan Kratu lahir dari Pikiran Dewa Brahma. 
  • Dhata dan Vidhataidhata Daksa lahir dari jari kaki kanan Dewa Brahma. 
  • Svayambhu ManuKandarpa/Kamadewa Dewa Asmara yang lahir dari ego Dewa Brahma. 
  • Bhrgu lahir dari api pemujaan Brahma. 
  • Madhuka dan GolikaJambavan terlahir dari Keringat Dewa Brahma dan lain-lain.


Brahma dalam Bhagawadgita


Dalam kitab suci Bhagawadgita, Dewa Brahma muncul dalam bab 8 sloka ke-17 dan ke-18; bab 14 sloka ke-3 dan ke-4; bab 15 sloka ke-16 dan ke-17. Dalam ayat-ayat tersebut, Dewa Brahma disebut-sebut sebagai Dewa pencipta, yang menciptakan alam semesta atas berkah dari Tuhan Yang Maha Esa (Brahman). Dalam Bhagawadgita juga disebutkan, siang hari bagi Brahma sama dengan satu Kalpa, dan Brahma hidup selama seratus tahun Kalpa, setelah itu dia wafat dan dikembalikan lagi ke asalnya, yakni TuhanYang Maha Esa.

Nama Lain Dewa Brahma


-  ATMABHU= Dia yang lahir sesuai keinginannya.
- SURAJYESTHA = yang berwujud mendahului seluruh Dewata.
- PARAMESTHIN = Dia yang tinggal dalam dunia kebenaran.
- PITAMAHAHA = Kakek moyang seluruh arwah.
- HIRANYAGARBHA = telur keemasan.
- LOKESA = Penguasa Alam
- `SVAYAMBHU = Melahirkan dirinya sendiri.
- CATURANANA/CATURMUKHA = Memiliki empat wajah.
- ABJAYONI = Lahir dari Bunga Teratai.
- DRUHINA = yang membunuh segala macam Raksasa (kejahatan).VIRANCI = Sang Pencipta.
- KAMALASANA = yang duduk di atas Bunga Teratai.
- SRSTA = yang menciptakan.
- PRAJAPATIH = Penguasa semua Mahkluk.
- VIDHATA = yang menjadikan segala sesuatu.
- VISVASRT = Dia yang menciptakan dunia.
- VIDHI = Dia yang menciptakan dan mengadili.
- NABHIJANMA= yang lahir dari pusar Wisnu.
- ANDAJA = yang muncul dari Telur.
- HAMSAVAHANA = yang mengendarai Angsa.
- AGNI = Sang Api.
- VISVAKARMA = Arsitek Alam Semesta.

Kisah Lain Dewa Brahma


Dalam Bhagavata Purana disebutkan sistem Catur Warna lahir dari mulut Dewa Brahma.Dewa Brahma memberi nama Indrajit kepada anak Rahwana karena mampu mengalahkan Dewa Indra.Dewa Brahma pernah mengutus Dewa Maut untuk menyamar dihadapan Sri Rama saat menjelang akhir kehidupannya.Dewa Brahma yang meminta Maharsi Vyasa untuk menyusun epos besar Mahabharata.

Sumber : upadhana.blogspot.co.id dan Wikipedia

Kisah Asal Usul Dewa Brahma, Dalam Kepercayaan Hindu

Loading...