Social Items

Showing posts sorted by relevance for query Silsilah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Silsilah. Sort by date Show all posts

 SILSILAH KETURUNAN SUNAN KALIJAGA KE LELUHUR PARA PEMIMPIN NUSANTARA

Ketika mempelajari data yang obyektif dalam sejarah para Bupati Tuban, dalam Babad Tuban. Penulis menemukan titik temu antara data silsilah Sunan Kalijaga dari berbagai versi. Penulis menyebutnya obyektif karena data tersebut sebenarnya bukanlah data subyektif silsilah Sunan Kalijaga yang versinya amat tergantung dengan keyakinan masing-masing penjaganya, bahkan data tersebut hanya menyebutkan tentang nama para bupatinya saja tanpa menyebut nama Sunan Kalijaga yang bukan merupakan bupati Tuban. Namun demikian karena sudah teramat masyhur di semua versi bahwasanya Sunan Kalijaga adalah putra kandung bupati Tuban yang bernama Wilatikta, sehingga data sejarah tersebut dapat disusun sebagai silsilah genealogis yang akan kita didapati sebagai berikut :
1. Prabu Banjaransari
2. Raden Arya Metahun
3. Bupati Lumajang Tengah Raden Arya Randu Kuning./ Kyai Ageng / Kyai Gede Lebe Lontong
4. Bupati Gumenggeng Raden Arya Bangah; Bekas kabupaten tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung (Kecamatan Rengel)
5. Bupati Lumajang Raden Arya Dandang Miring
6. Bupati Tuban ke-1 Raden Dandang Wacana / Kyai Gede Papringan, BERPUTRI
7. Nyai Ageng Lanang Jaya / Nyai Lanang Baya [Istri Kyai Lanang Baya lihat Jalur Silsilah III, point 20]
8. Bupati Tuban ke-2 Haryo Ronggo Lawe / Rangga Teja Laku / Syeikh Jali Al-Khalwati / Syekh Khawaji [Dimasa ini Tuban di bawah kekuasaan Majapahit]
9. Bupati Tuban ke-3 Haryo Siro Lawe
10. Bupati Tuban ke-4 Haryo Siro Wenang
11. Bupati Tuban ke-5 Haryo Lana / Arya Teja I
12. Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro / Arya Teja II BERPUTRI
13. Raden Ayu Hariyo Tejo berputra (Istri dari Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo / Maulana Mansur, Lihat jalur Silsilah II point)
[Di masa ini & masa putra beliau adalah masa transisi kepenguasaan akan Tuban dari Majapahit ke Demak]
14. Bupati Tuban ke-8 Raden Hariyo Wilatikta / Raden Ahmad Sahuri berputra
15. SUNAN KALIJAGA

Ternyata dari data tersebut di atas point 7 & 13 adalah nenek moyang dari garis perempuan Sunan Kalijaga yang datanya akibat kesubyektifitas dan atau distorsi informasi & komunikasi terbaur antara leluhur dari garis laki & perempuan dalam versi lain. Hal ini kerap terlewatkan, lantas begitu saja menghubungkan Silsilah Sunan Kalijaga ke leluhur beliau sebagai garis laki padahal ada yang berasal dari tautan perempuan dan sebaliknya. Sehingga data ini menjadi acuan penting dalam mencari titik temu tiap-tiap versi yang penulis yakini masing2 memiliki latar belakang kebenaran & latar belakang historis akan penjagaannya.
Bila kita perhatikan data di atas pada point 12-13 dari sumber Babad Tuban, disebutkan bahwa Hariyo Tejo menjadi pemimpin Tuban dikarenakan menikahi putri pemimpin Tuban sebelumnya. Babad Tuban, menyebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama sedangkan muasal beliau disebut sebagai saudara / masih memiliki kekerabatan dengan Sunan Ampel, sehingga data ini amat pas dan menjadi titik temu dengan versi silsilah Sunan Kalijaga sebagai sayyid keluarga Azmatkhan yang bisa dilihat di Jalur Silsilah II.
Lantas bila kita perhatikan data di atas point 6,7, 8 maka akan kita dapati titik temu dengan versi Silsilah Sunan Kalijaga yang bersambung ke Sayyidina Abbas sebagaimana dapat dilihat di Jalur Silsilah III khususnya point 20 & 21. Karena nama terkait di berbagai sumber, masyhur bersambung secara nasab garis laki ke Sayyidina ABBAS.
Sehingga dapat disimpulkan berbagai versi muasal genealogis Sunan Kalijaga baik yang dari versi keturunan local pribumi Jawa, keturunan Nabi Muhammad & keturunan Sayyidina Abbas ternyata sama2 memiliki latar belakang kebenarannya dan titik temunya masing-masing yang selama ini terbaur lantas tidak difahami tautan jalurnya. Hal ini diakibatkan kebudayaan & kebiasaan nusantara yang menisbatkan leluhur baik dari garis laki maupun perempuan lantas terbaur. Ketika ini terfahami & diletakkan pada tempatnya masing-masing, penulis malah menghargai kebiasaan penisbatan tersebut sehingga bisa mengenali leluhur dari suatu tokoh bersejarah secara objektif mana yang dari garis lakinya maupun yang dari garis perempuannya.

 SILSILAH NASAB SUNAN KALIJAGA AZMATKHAN KE NABI MUHAMMAD

Data Pendukung bahwasanya Sunan Kalijaga sayyid keturunan Nabi adalah dari keselarasan dgn kisah Babad Tuban sebagaimana disebut di atas. Kitab Syajaroh & Tarikh Al Azamat Khan dikutip dalam “Sejarah & Silsilah dari Nabi Muhammad SAW ke Walisongo oleh Drs. Aburumi Zainal Lc. – Habib Zainal Abidin Assegaf menuliskan secara jelas nasab beliau sebagaimana di bawah ini, begitu pula Kitab Syamsud Dhahirah, Karya Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur sebagai data Rabithah Alawiyyah dan Kitab Nasab Wali Songo, juga Karya Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini.
Silsilah ini juga sesuai dengan keterangan Profesor Husaini Jayadiningrat didalam bukunya yang menceritakan bahwa dalam tradisi Cirebon terdapat Silsilah Sunan Kalijogo yang diurutkan hingga sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula keterangan Van Den Berg dan Hj de Graff, sesuai dengan kisah Tome Pires.
Sunan Kalijaga juga menikahi 4 Syarifah putri para anggota Walisongo sehingga secara fiqih mengenai pernikahan kafaah nasab pd syarifah, makin menguatkan fakta bahwasanya Sunan Kalijaga adalah Sayyid turunan Nabi Muhammad* [* secara aktual nasab dr garis laki keturunan Ali bin Abi Thalib, namun secara syar’i keturunan Nabi Muhammad meski melalui garis perempuan / putri beliau Fathimah, berdasarkan dalil hadist “SEMUA anak Adam bernasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), KECUALI putra-putra Fatimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”]
1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW berputri
2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra (menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib) berputra turun temurun :
3. Al-Husain
4. Ali Zainal Abidin
5. Muhammad Al-Baqi
6. Ja’far Shadiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad
9. Isa
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidillah
12. Alwi
13. Muhammad
14. Alwi
15. Ali Khali’ Qasam
16. Muhammad Shahib Marbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah
20. Ahmad Jalaluddin
21. Ali Nuruddin
22. Maulana Mansur (8.a,b,c)/ Tumenggung Tuban (8.a,b)/ Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo (1,2,3,4,5,6) / Syekh Subakir alias Muhammad Al-Baqir (8c)
23. Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8)
24. SUNAN KALIJAGA alias Raden Said alias Lokajaya alias Syekh Malaya alias Pangeran Tuban alias Muhammad Abdussyahid (Generasi ke-24 dari Rasul, Turunan Rasul ke-23)

SILSILAH TAUTAN SUNAN KALIJAGA KE SAYYIDINA ABBAS PAMAN NB MUHAMMAD

(disertai sumber untuk memperlengkap versi penulisan silsilah jalur ini yang seringkali kurang lengkap)
1. Sayyidina ABBAS r.a bin Abdul Muthalib [Paman dari Nabi Muhammad SAW.
Menurut sumber, Sayyidina Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah :
a. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.
b. Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.
c. Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.
d. Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand
e. Ma’bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Mekkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika
Silsilah Sunan Kalijaga yang bersambung ke Abbas menyebutkan melalui nama Abdullah, ada yang menuliskan dengan tambahan “Al-Baghdadi” yang bermaksud leluhur beliau pernah di negeri Irak, secara fakta Abdullah bin Abbas adalah satu2nya Putra Abbas yang pernah menjabat sebagai Gubernur di Irak, namun lebih tepatnya di Basrah-Irak. Istilah Al-Baghdadi pada silsilah leluhur Sunan Kalijaga mengindikasikan leluhur beliau adalah keturunan dari Sayyidina Abbas yang dari jalur daerah Irak. Ada yang menduga leluhur Sunan Kalijaga adalah dari Dinasti Abbasiyah Baghdad, namun penelitian penulis dari nama-nama leluhur yang tercantum tidak mengindikasikan kepada para Sultan Dinasti Abbasiyyah Baghdad yang penulis juga pegang datanya.
Datata leluhur Sunan Kalijaga versi ke Sayyidina Abbas yang ada, hanya mengindikasikan leluhur beliau dari daerah Irak, tidak ada yang mengindikasikan sebagai keturunan para atau beberapa Sultan Dinasti Abbasiyyah. Lantas bila kemudian kita temukan nama leluhur Sunan Kalijaga yang tidak lazim secara bahasa Arab, itu mengindikasikan leluhur beliau ada yang pindah & berbaur ke daerah Persia yang tidak begitu jauh dari Irak, bahkan pada masa tertentu Irak adalah bagian dari Persia. (Contoh nama Kharmia / Kharmis dll adalah nama dari daerah Persia).
(Istilah Al-Akbar, Azhar, & Wahid sama2 mempunyai makna yang merujuk sebagai yang paling besar, karena beliau mempunyai adik yang lebih kecil juga bernama sama yakni Abdullah dengan gelar Abdullah Al-Ashgar yang pergi ke daerah Syam.
5. Wakhis / Syekh Waqid Arumni
6. Mudzakir / Syekh Mudzakir Arumni 
7. Abdullah
8. Kharmia / Kharmis
9. Mubarak
10. Abdullah
11. Ma’ruf / Madhra’uf
12. Arifin 
13. Hasanuddin 
14. Jamal
15. Ahmad
16. Abdullah
17. Abbas
18. Kouramas / Khurames / Syekh Kharamis 
19. Syekh Abdullah 
20. Syekh Abdurrahman / Abdur Rakhim / Kyai Lanang Baya / Arya Wiraraja (Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka) / Banyak Wide 
[Suami dari Nyai Lanang Baya dengan jalur lihat Silsilah I Point 7]
21. Bupati Tuban ke-2 Haryo Ronggo Lawe / Rangga Teja Laku  / Syeikh Jali Al-Khalwati / Syekh Khawaji 
[Sumber 4&6 tidak membahas silsilah beliau ke atas, sebagaimana ditulis diatas, namun hampir semua sumber silsilah Kalijaga yang terkait, baik ke data leluhur local maupun ke leluhur zuriyyat bani Abbas memiliki titik temu pada nama terakhir diatas. Sumber 5&6 menyebut beliau sebagai cucu dari garis ibu beliau ke penguasa lokal Tuban sebelumnya yakni Raden Dandang Wacana / Kyai Gede Papringan. Semua sumber lain yang terkait, masyhur mengenal beliau sebagai keturunan arab melalui Sayyidina Abbas yang bekerja di bawah pemerintahan Majapahit dengan silsilah secara garis besar sebagaimana tersebut di atas]
[Pada masa ini Tuban memang berada di bawah kekuasaan Majapahit]
22. Bupati Tuban ke-3 Haryo Siro Lawe 
23. Bupati Tuban ke-4 Haryo Siro Wenang 
24. Bupati Tuban ke-5 Haryo Lana /Arya Teja I
25. Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro / Arya Teja II BERPUTRI 
[Putri beliau sebagai istri dari penguasa Tuban selanjutnya yang dari Arab secara objektif dapat kita temukan pada sumber no.6 pada Babad Tuban yang menjelaskan tentang sejarah para Bupati Tuban]
26. Raden Ayu Haryo Tejo [Istri dari Bupati Tuban ke-7 Haryo Tejo Kusumo / Arya Teja III
[Pada masa ini & masa putra beliau adalah masa transisi kepenguasaan akan Tuban dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak]
27. Bupati Tuban ke-8 Tumenggung Wilatikta
28. SUNAN KALIJAGA / Raden Said / Jaka Said / Syekh Malaya / Lokajaya / Raden Abdurraman / Pangeran Tuban / Muhammad Abdussyahid
Sebagai perbandingan Sunan Kalijaga disini sebagai turunan sepupu nabi Abdullah bin Abbas ke 26 generasi ke 27 sedangkan dari Nabi Muhammad turunan ke 23 generasi ke 24.. Hal ini masih masuk akal secara karena diantara sesame turunan nabi lazim ditemukan sejamannya generasi ke 38 dgn yg ke 42.
Alasan-alasan Silsilah ke atas Sunan Kalijaga ke Rasul di kalangan keluarga besar keturunannya kurang dikenal adalah karena :
1. dikarenakan kerabat keluarga besar beliau amat jarang mengedepankan nasab, demi dakwah membaur & merakyat, sehingga sebagian besar keturunan kehilangan data silsilah ke atas beliau yang bersambung ke Nabi Muhammad, apalagi Sunan Kalijaga merupakan anggota Walisongo yang paling membaur dengan rakyat kebanyakan, termasuk dalam budayanya.
2. Selain itu kerabat keluarga besar beliau di daerah asal beliau Tuban, para penguasa Tuban selepas ayahnya adalah dzuriyyat keturunan Haryo Dikoro yang bukan merupakan itrah keturunan Nabi Muhammad. Sehingga jalur silsilah leluhur para pemimpin Tuban ke Abbas atau ke leluhur lokal Jawa mereka lebih dikenal, lantas silsilah nasab keturunan Sunan Kalijaga terbaur dengan silsilah nasab keluarga besar mereka di Tuban, dikarenakan pula pembauran dengan budaya Jawa yang menyambungkan keturunan baik dari garis laki & perempuan sehingga datanya terbaur
3. Kemungkinan lain akibat pengaruh penjajah pula sehingga silsilah Sunan Kalijaga ke Rasul amat jarang dikenal oleh keluarga keturunannya kecuali oleh sedikit yang terpercaya kredibilitasnya dalam kepedulian akan pelestarian data nasab keluarga ini serta telah banyak berkorban, sehingga Habaib ahli nasab yang meneliti & mempelajari secara hati-hati Silsilah Walisongo ke Rasul turut pula yakin menyertakan Sunan Kalijaga & putra beliau Sunan Muria sebagai Sayyid keturunan Nabi Muhammad, bagian dari Keluarga Besar garis laki Azmatkhan Ba’alawy Al-Husaini.
4. Ada yang meyakini Sunan Kalijaga bukan keturunan langsung Nabi akibat kisah subjektif daerah tertentu yang mengisahkan Sunan Kalijaga tidak dapat bertahan sebagai Wali Qutub sebagaimana gurunya akibat bukan keturunan langsung Nabi. Menurut pendapat penulis setiap kisah tentang posisi maqam spiritual anggota walisongo tertentu yang lebih tinggi dari yang lain lantas berbeda-beda di tiap daerah & tiap keturunannya, merupakan hal yang dekat dengan peranan pengaruh penjajah dalam memecah belah dzuriyyat keluarga besar keturunan Walisongo. Al-Quran saja di ayat terakhir ke-2 Surat Al-Baqarah melarang kita untuk membeda-bedakan nabi-Nya, begitu pula seharusnya terhadap Wali-Nya.

PARA BUPATI TUBAN SELEPAS WILATIKTA YANG MERUPAKAN DZURIYYAT AHLUL BAYT ITRAH SAYYIDINA ABBAS RA

(Pergantian kepemimpinan selain antara ayah ke anak juga antara mertua ke menantu, kakak ke adik serta paman ke keponakan)
* Bupati Tuban ke-9 Kyai Ageng Ngraseh BIN Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro (Adik Ipar Bupati Tuban ke-7, Paman jalur ibu sekaligus menantu dari Bupati Tuban sebelumnya / Bupati ke-8 Tumenggung Wilatika)
* Bupati Tuban ke-10 Kyai Ageng Gegilang BIN Bupati Tuban ke-9
* Bupati Tuban ke-11 Kyai Ageng Batabang BIN Bupati Tuban ke-10
* Bupati Tuban ke-12 Raden Hariyo Balewot BIN Bupati Tuban ke-11; mempunyai 2 orang putra yakni Pangeran Sekartanjung (Bupati Tuban ke-13) dan Pangeran Ngangsar (Bupati Tuban ke-14)
* Bupati Tuban ke-13 Pangeran Sekartanjung BIN Bupati Tuban ke-12 [mempunyai putra 2 orang yaitu Pangeran Hariyo Permalat (Bupati Tuban ke-15) dan Hariyo Salampe (Bupati Tuban ke-16)
* Bupati Tuban ke-14 Pangeran Ngangsar BIN Bupati Tuban ke-12 (adik dari Bupati sebelumnya)
* Bupati Tuban ke-15 Pangeran Hariyo Permalat BIN Bupati Tuban ke-13 (keponakan dari Bupati sebelumnya); menikahi putri Sultan Pajang Jaka Tingkir berputra Pangeran Dalem (Bupati Tuban ke-17)
[Pada masa ini Tuban berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajang, karena Kerajaan Pajang tidak bertahan lama, lantas penguasaan akan daerah Jawa secara umum dan Tuban secara khusus, digantikan oleh Kerajaan Mataram]
* Bupati Tuban ke-16 Hariyo Salampe BIN Bupati Tuban ke-13 (adik dari Bupati sebelumnya)
* Bupati Tuban ke-17 Pangeran Dalem BIN Bupati Tuban ke-15 (keponakan dari Bupati sebelumnya)
[Pada masa ini Tuban melakukan perlawanan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram]
Tahun 1619 Pangeran Dalem kalah dalam perlawanan beliau melawan Pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Pojok (lantas menjadi Bupati Tuban ke-18) dari Mataram pada masa kekuasaan Sultan Agung Mataram. Pangeran Dalem lantas melarikan diri ke Pulau Bawean. Tetapi di Pulau Bawean beliau tidak lama tinggal, kemudian pergi ke Desa Rajekwesi (Bojonegoro sekarang). Pada waktu itu Rajekwesi masih merupakan hutan dan di bawah pemerintahan Jipang Panolan. Setelah menetap 5 tahun lamanya di Rajekwesi, Pangeran Dalem mangkat dan dimakamkan di Desa Kadipaten terletak di sebelah timur Kota Bojonegoro. Hingga kini makam tersebut masih ada, terkenal dengan nama makam Buyut Dalem. (Dengan sebutan “buyut” besar kemungkinan beliau meninggalkan keturunan yang masytur)
Selepas Bupati Tuban ke-17, Tuban tidak lagi dipimpin oleh Trah keturunan dari leluhur pemuka Tuban di atas, namun oleh para pemimpin yang ditunjuk Penguasa yang memiliki otoritas akan Tuban. Seandainya pun memiliki kekerabatan dengan keluarga ini setidaknya hubungan tersebut belum dikenal.

MENGENAI LEMBU SURO – [HUBUNGAN KEKERABATAN ANTARA PEMIMPIN TUBAN – RAJA SURABAYA – RAJA MAJAPAHIT & KELUARGA SUNAN AMPEL]

Terdapat versi yang menyebutkan diantara leluhur Sunan Kalijaga ke para pemimpin Tuban diantaranya terdapat yang menjadi Pemimpin Surabaya di masa lalu, yakni Lembu Suro (ada yang menyebut beliau sebagai Gubernur ada yang menyebut beliau sebagai RAJA), Hal ini merupakan pembauran data. Berdasarkan Data dari (5)poster silsilah Rabitah Azmatkhan yang disusun dari berbagai sumber, ternyata Lembu Suro adalah Ayah mertua dari Haryo Tejo (kakek Sunan Kalijaga) dari istri lain beliau.
Jadi Haryo Tejo tercatat memiliki 2 istri yakni :
1. Putri Bupati Tuban (binti Haryo Dikoro)
2. Putri Raja Surabaya (binti Haryo Lembu Suro).
Kedua istri beliau tersebut ternyata diketahui sama-sama berjalur keturunan dari Ronggo Lawe alias Teja Laku alias Syeikh Jali Khalwati keturunan Sayyidina Abbas. Namun karena berbeda ibu, Tumenggung Wilatikta & putra beliau Sunan Kalijaga sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan Lembu Suro, namun diakibatkan Lembu Suro dikenal di beberapa masyarakat umum sebagai ayah dari Haryo Tejo, (padahal ayah mertua dr istri lain beliau) sehingga nama beliau di sebagian versi terbaur dalam data silsilah Sunan Kalijaga.

Putri dari Lembu Suro hasil dari pernikahannya dengan Putri dari Prabu Brawijaya III Majapahit ; dinikahi oleh Haryo Tejo Bupati Tuban ke-7 lantas menghasilkan seorang Putri (saudari lain ibu dari wilatikta) bernama Dewi Condrowati yang lantas dinikahi Sunan Ampel dan menghasilkan beberapa keturunan antara lain Sunan Bonang, Sunan Drajat dll. Dari sini menjadi jelas beberapa keturunan Sunan Ampel (beliau juga punya beberapa istri lainnya) memiliki tautan darah dari garis perempuan ke Sayyidina Abbas pula, namun bukan melalui para Bupati Tuban di atas Haryo Tejo seperti yang diduga sebelumnya namun melalui jalur Lembu Suro Raja Surabaya yang juga keturunan Sayyidina Abbas.

Garis keturunan dan Silsilah Sunan Kalijaga , Raden Said

Syarif Hidayatullah adalah putera dari Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alim yang bergelar Sultan Mahmud (Sultan Hud) dan merupakan penguasa Mesir yang menikah dengan Nyi Mas Rara Santang puteri dari Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja yang setelah menikah dengan Syarif Abdullah bergelar Syarifah Mudaim.

Kuwaluhan.com

Ayah Syarif Hidayatullah adalah seorang penguasa Mesir, putera dari Ali Nurul Alim bin Jamaluddin Akbar al-Husaini, seorang keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhandan Alwi Amir Fakih Mesir.

Pada masa lalu terdapat puluhan naskah yang menjelaskan tentang silsilah Syarif Hidayatullah yang diklaim oleh beberapa pihak dan menimbulkan kesimpangsiuran sehingga pada masa pertemuan agung para cendekiawan, sejarahwan, bangsawan dan alim ulama senusantara dan mancanegara  pertama yang dimulai pada tahun 1677 di Cirebonmaka Pangeran Raja Nasiruddin (bergelar Wangsakerta) mengadakan penelitian dan penelusuran serta pengkajian naskah-naskah tersebut bersama para ahli-ahli dibidangnya.

Hasilnya pada tahun 1680 disusunlah kitab Negara Kertabumi yang didalamnya memuat bab tentang silsilah Syarif Hidayatullah (Tritiya Sarga) yang sudah diluruskan dari kesimpangsiuran klaim oleh banyak pihak.

Pelusuran sejarah tentang asal-usul Syarief Hidayatullah telah dilakukan oleh Pangeran Raja (PR) Nasiruddin dengan melakukan penelitian terhadap naskah naskah yang ada dengan dibantu oleh para ahli di bidangngnya dalam pertemuan agung Gotra Sawala pertama di Cirebon, penelusuran tersebut menghasilkan sebuah kitab yang diberi nama Negara Kertabhumi yang memuat bab tentang silsilah Syarief Hidayatullah dalam Tritiya Sarga, isinya sebagai berikut ;


  • Syarif Hidayatullah / Sayyid Al-Kamil / Susuhunan Jati / Susuhunan Cirebon, 
  • Syarif Abdullah + Nyi Hajjah Syarifah Mudaim binti Raja Pajajaran Sunda (Nyi Mas Rara Santang)
  • Ali Nurrul Alim + Puteri Mesir,
  • Jamaluddin Al-Husein,
  • Al-Amir Akhmad Syekh  Abdullah Jalaludin,
  • Amir Abdullah Khanuddin
  • Abdul Malik (India), 
  • Alwi Amir Fakih Mesir, 
  • Muhammad Alwi
  • Al-Gazam 
  • Ubaidillah 
  • Ahmad Al-Muhajir 
  • Isa Al-Bakir 
  • Idris Al-Muhammad An-Nakib 
  • Kasim Al-Kamil / Ali Al-Uraid
  • Jaffarus Sadik dari Parsi (Persia) 
  • Muhammad Al-Bakir
  • Zainal Abiddin 
  • Husein As-Sabti
  • Sayyidah Fatimah Al-Zahra RA  
  • Nabi Muhammad Rasulullah SAW 
  • Abdul Muthalib 
  • Hasyim
  • Abdul Manaf 
  • Kusyaiyi 
  • Kyai Kilab
  • Mauroh 
  • Kangab 
  • Luayyi 
  • Galib 
  • Fihir 
  • Malik 
  • Nadir 
  • Kinanah 
  • Khujaimah
  • Mudrikah 
  • Ilyas 
  • Mudar 
  • Nijar 
  • Mangad 
  • Adnan 
  • Addi 
  • Adad 
  • Hamyas 
  • Salaman 
  • Bista 
  • Sahail 
  • Jama 
  • Nabi Ismail
  • Nabi Ibrahim 
  • Tarikka 
  • Nakur,
  • Sarug,
  • Abir,
  • Syalik,
  • Pinan,
  • Arfakasyadz,
  • Sam,
  • Nabi Nuh,
  • Lamik,
  • Matuslak,
  •  Mahnauk,
  • Yaridz,
  • Mahkail,
  • Kinan
  • Anwas 
  • Syits
  • Nabi Adam dan Siti Hawa.


Versi kitab Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait

Sebagaimana yang tercatat dalam silsilah Syarif Hidayatullah di sebuah organisasi peneliti nasab Naqobatul Asyrof al-Kubrodan Rabithah Alawiyah, yang juga tercantum dalam kitab Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait karya ulama Yaman, Sayyid Abdurrohman bin Muhammad al-Masyhur, silsilah lengkap Syarif Hidayatullah adalah sebagai berikut :


  • Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati putera dari,
  • Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan binSayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin, 
  • Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin,
  • Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin,
  • Sayyid Abdullah Azmatkhan bin, 
  • Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin,
  • Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin,
  • Sayyid Muhammad Shahib Mirbath(Hadramaut) bin,
  • Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin,
  • Sayyid Alawi ats-Tsani bin,
  • Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin,
  • Sayyid Alawi Awwal bin,
  • Sayyid al-Imam ‘Ubaidillah bin,
  • Sayyid Ahmad al-Muhajir bin,
  • Sayyid ‘Isa Naqib ar-Rumi bin,
  • Sayyid Muhammad an-Naqib bin,
  • Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin,
  • Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin,
  • Sayyidina Muhammad al-Baqir bin,
  • Sayyid Ali Zainal Abidin bin,
  • Sayyid Husain bin,
  • Sayyidina Ali bin Abi Thalib 
  • Sayyidah Fatimah az-Zahra binti 
  • Sayyidina Muhammad S.A.W.

KETURUNAN SUNAN GUNUNG JATI DARI BEBERAPA ISTRINYA


Menurut sumber-sumber primer sejarah Cirebon, Sunan Gunungjati selama hidupnya pernah menikah sebanyak 6 kali, adapun wanita-wanita yang pernah diperistri beliau adalah sebagai berikut:

  1. Nyimas Babadan,
  2. Nyimas Pakungwati,
  3. Nyimas Rara Jati,
  4. Nyimas Kawunganten
  5. Nyimas Rara Tepasan,
  6. Ongtien

Dari keenam isti-istriya tersebut itulah kemudian sunan Gung Jati mendapatkan keturunan. Anak-anak Sunan Gunungjati itu dikemudian hari yang laki-laki ada yang menjadi Raja di Pulau Jawa, atau Penguasa wilayah, smentara anak-anak perempuan sunan Gunungjati kelak dikemudian hari ada yang dinikahi Sultan di Kesultanan Demak maupun diperistri oleh para pembesar diwilayah kerajaan Cirebon. 

1. Keturunan Dari Nyimas Babadan

Nyimas Babadan adalah anak dari Ki Gede Babadan, Babadan ini adalah suatu wilayah yang sekarang menjadi Desa Babadan, masuk pada wilayah Kabupaten Indramayu, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa Babadan ini terletak di wilayah Propinsi Banten. 

Perkawinan Sunan Gunungjati dengan Nyimas Babadan terjadi ketika Sunan Gunungjati keluar dari Istana dan menyebarkan Islam kepelosok-pelosok kampung. Dari Nyimas Babadan Sunan Gunung Jati diceritakan tidak mendapatkan keturunan.  

2. Keturunan Dari Nyimas Pakungwati 

Nyimas Pakungwati adalah anak perempuan dari Uwak Sunan Gunungjati yang bernama pangeran Walangsungsang, yang mana beliau ini ternyata mempunyai banyak julukan diantara julukan-julukan beliau adalah Ki Cakrabwana, Mbah Kuwu dan lain sebagaiya. 

Dari Nyimas Pakungwati, Sunan Gunungjati tidak mendapatkan keturunan, dikhabarkan Nyimas Pakungwati meninggal sebelum mempunyai keturunan. Nama Pakungwati kemudian diabadikan sebagai nama Istana Kesultanan Cirebon. 

3. Keturunan Dari Nyimas Rara Jati  

Nyimas Rara Jati merupakan anak Ki Gede Jati, beliau merupakan Syah Bandar pelabuhan Muara Jati Cirebon, dari perkawinan ini beliau memiliki dua anak laki-laki yang bernama :
  • Pangeran Jaya Kelana, Pangeran ini selama hidupnya membuat gempar Cirebon karena kenakalannya 
  • Pangeran Bratakelana dikenal juga dengan sebutan Pangeran Sedang Luat, karena beliau meninggal dilautan akibat di rampok.

4. Keturunan Dari Nyimas Kawunganten 

Nyimas Kawunganten, adalah merupakan Puteri  Permadi yang merupakan Raja Cangkuang beliau juga merupakan adik Pucukumun atau Bupati Wunganten (Sekarang Banten), beliau menikahi Nyimas Kawunganten ketika beliau menyebarkan agama Islam di Banten. 

Dari perkawinan ini beliau memperoleh dua anak yaitu :
  • Ratu Winahon 
  •  Pangeran Sebakingkin yang mempunyai nama lain Pangeran Hasanudin. Kelak Pangeran Sebakingkin ini kemudian menjadi Sultan Banten Pertama.

5. Keturunan Dari Nyi Rara Tepasan 

Nyi Rara Tepasan adalah anak dari Ki Gede Tepasan Dari Majapahit, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Rara Tepasan dikarunia dua anak yaitu :
  1.  Ratu Ayu Wanguran 
  2.  Pangeran Pasarean. 

6. Keturunan Dari Ongtien 

Ongtien dalam sumber-sumber primer sejarah Cirebon diceritakan sebagai anak dari penguasa Cina, beliau datang ke Cirebon beserta pengawalnya untuk meminta dinikahi oleh Sunan Gunungjati, dalam perkawinan dengan Ongtien ini, terdapat perbedaan pendapat, ada yang menyatakan punya anak akan tetapi meninggal semenjak bayi, ada juga yang berpendapat mempunyai anak, dan anak tersebut kemudian dinamakan Arya Kemunig atau Arya Kuningan, Arya Kuningan ini diceritakan pernah menjadi Panglima Perang Kerajaan Cirebon, dan kemudian diangkat menjadi Adipati di Kuningan.

Wallohua'lam Bisshowab

Silsilah dan Garis Keturunan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Mengenai silsilah nenek moyang Prabu Jayabaya dari berbagai sumber, jika dilacak pada manusia pertama di bumi yaitu Nabi Adam As, maka diperoleh sebuah silsilah bahwa Raja Jayabaya adalah keturunan ke-23 dari Nabi adam.

Dalam sebuah kisah diceritakan mengenai nenek moyang (asal-usul) Jayabaya sebagai berikut :

Diceritakan bahwa Hyang Guru adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rakti. Maka, setelah dewasa dan cukup berpengetahuan, ia datang ke Jawa dan mendirikan sebuah kerajaan. Pemerintah yang begitu luas terutama dipegang oleh putra bungsunya bernama Bhatara Brahma.

Menurut babad Jawa dan paham-paham yang diturunkan dalam buku kuno Jawa, ada yang meyakini bahwa Bhatara Brahma adalah nenek moyang dari raja-raja di tanah Jawa. Bhatara Brahma menikah menikah dengan Dewi Larasati dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Sri Brahmana Raja.

Selanjutnya Sri Brahmana menikah dengan Dewi Sri Huma dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Hyang Wisnumurti. Dialah yang menggantikan ayahnya di kala wafat dengan gelar Prabu Tetrusta, sedangkan kerajaannya diberi nama Kerajaan Diling Jaya.

Prabu Tetrusta pun menikah dengan Retnawidati, yaitu putri dari Hyang Sumantra. Dari pernikahan tersebut lahirlah Prabu Parikenan. Selanjutnya Prabu Parikenan menikah dengan bibinya, putri dari Hyang Wisnu. Mereka memperoleh seorang putra bernama Resi Manumanasa.

Resi ini akhirnya juga menikah dengan bidadari bernama Retna Nilawati, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Putra Sakri. Setelah dewasa Putra Sakri menikah dengan Dewi Sakti dan memperoleh keturunan Prabu Ngastina yang bergelar Prabu Palasara.

Sebagaimana diketahui, Dewi Sakti adalah putri Raja Sri Wedari yang terkenal dengan gelar Prabu Parta Wuijaya. Palasara (Prabu Ngastina) selanjutnya menikah lagi dengan Dewi Durgandini, yaitu putri Basukiswara dari Kerajaan Wirata.

Dari pernikahan ini, mereka mempunyai keturunan bernama Krisnadipayana. Putra ini kemudian menikah dengan Dewi Ambika, seorang putri dari Raja Glantipura. Dari mereka lahirlah tiga putra, di antaranya adalah Dewantara.

Dewantara menikah dengan dua istri sekaligus, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Perkawinannya dengan Dewi Kunti melahirkan para kesatria, yaitu : Prabu Yudhistira, Arya Werkudara, dan Dananjaya (Arjuna). Sementara dari Dewi Madrim berputrakan Arya Nakula dan Arya Sadewa.

Satu dari kelima putra ini ada yang beristrikan tujuh perempuan, yaitu Dananjaya alias Arjuna. Dari salah satu istrinya yaitu Dewi Sembadra, Dananjaya memiliki keturunan dengan nama Arya Abimanyu, yang setelah dewasa beristrikan Siti Sundari dan Dewi Hutari. Dari Dewi Hutari Abimanyu memperoleh keturunan bernama Arya Parikesit yang selanjutnya menjadi Prabu di Hastina.

Arya Parikesit pun memiliki lima orang istri. Namuin hanya dari istrinya yang bernama Dewi Tapen ia mempunyai seorang puttra yang kemudian menjadi Prabu Yudana. Prabu ini mempunyai keturunan bernama Gendrayana dan Sudarsana. Dari sinilah poin yang penting mengenai sosok Jayabaya. Sebab Jayabaya adalah keturunan dari Gendrayana.

Sebenarnya Gendrayana atau Raja Widarba memiliki saembilan istri yang masing-masing melahirkan seorang putra, diantaranya Raden Noyorono. Dialah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Widarba dan bergelar Prabu Jaya Purusa, yang pada akhirnya mendirikan satu kerjaan bernama Daha atau Kediri.

Karena pada akhirnya Prabu Jaya Purusa semakin terkenal dan dipandang sebagai raja seorang bangsawan, maka namanya diganti menjadi Prabu Jayabaya.

Baca juga Kerajaan Kediri

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat ditarik suatu urutan silsilah Raja Jayabaya dari awal (Nabi Adam) sapai keturunannya raja-raja Kediri sebagai berikut :
  1. Nabi Adam (sang Hyang Janmawalijaya atau sang Hyang Adhama)
  2. Nabi Sis (sang Hyang Syta)
  3. Sayid Anwar (sang Hyang Nur Cahya)
  4. Sang Hyang Nurasa
  5. Sang Hyang Wenang (sang Hyang Wisesa)
  6. Sang Hyang Manik Maya (Bhatara Guru)
  7. Bhatara Brahma atau Sri Maha Punggung atau Dewa Brahma
  8. Bhatara Sadana (Brahmanisita)
  9. Bhatara Satapa (Tritusta)
  10. Bambang Parikenan
  11. Resi Manumayasa
  12. Resi Sekutrem
  13. Begawan Sakri
  14. Begawan Palasara
  15. Begawan Abiyasa (Maharaja Sanjaya)
  16. Pandu Dewanata
  17. Dananjaya (Raden Arjuna)
  18. Raden Abimanyu
  19. Prabu Parikesit
  20. Prabu Yudayana
  21. Prabu Yudayaka (Jaya Darma)
  22. Prabu Gendrayana
  23. Prabu Jayabaya
  24. Prabu Jaya Amijaya
  25. Prabu Jaya Amisena
  26. Raden Kusumawicitra
  27. Raden Citrasuma
  28. Raden Pancadriya
  29. Raden Anglingdriya
  30. Prabu Suwelacala
  31. Prabu Sri Maha Punggung
  32. Prabu Kandihawan (Jayalengkara)
  33. Resi Gatayu
  34. Resi Lembu Amiluhur
  35. Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati)
  36. Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman)
  37. Raden Banjaran Sari
  38. Raden Munding Sari
  39. Raden Munding Wangi
  40. Prabu Pamekas
  41. Raden Jaka Sesuruh (Raden Wijaya, raja Majapahit)
  42. Prabu Taruma (Bhre Kumara)
  43. Prabu Hardaningkung (Brawijaya I)
  44. Prabu Hayam Wuruk
  45. Raden Putra
  46. Prabu Partawijaya
  47. Raden Angkawijaya (Damarwulan)
  48. Bhatara Kathong
Demikianlah silsilah keturunan Jayabaya. Dari urutan tersebut, dapat diketahui bahwa Jayabaya kemudian melahirkan raja-raja Majapahit. Namun, silsilah ini dari versi Jawa yang mungkin berbeda dengan versi-versi yang lain.

Silsilah keturunan Raja JAYABAYA hingga Nabi Adam

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islamke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.

Kuwaluhan.com

Silsilah dan Garis Keturunan Sunan Kalijaga (Raden Sahid)

Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Umar Syahid. Nama kecil beliau ialah Raden Prawoto.

Menurut Solichin Salam di dalam buku Sekitar Wali Sanga terbitan Menara Kudus, Sunan Muria adalah putera kepada Sunan Kalijaga hasil pernikahan beliau dengan Dewi Saroh, puteri kepada Maulana Ishak.


Dari itu, Sunan Muria adalah berpangkat anak saudara kepada Sunan Giri kerana Maulana Ishak adalah ayahanda kepada Sunan Giri.

Setelah dewasa, Sunan Muria telah bernikah dengan Dewi Sujinah, puteri kepada Sunan Ngudung, dan telah memperolehi seorang putera yang bernama Pangeran Santri, dan yang di kemudian hari telah diberikan nama julukan Sunan Ngadilangu.

Oleh karena itu, Sunan Muria juga memiliki pertalian keluarga dengan Sunan Kudus, kerana Sunan Kudus adalah putera kepada Sunan Ngudung (Raden Usman Haji).

SILSILAH SUNAN MURIA

Dalam "Pustoko Darah Agung" Silsilah Sunan Muria dijelaskan sebagai berikut:

1. Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad saw).
2. Berputera Sayid Abbas.
3. Berputera Sayid Abdul As-har.
4. Berputera, Syekh Wais ( Syekh Wakhid?).
5. Berputera Syekh Mudzakir.
6. Berputera Syekh Abdullah.
7. Berputera Syekh Kurames.
8. Berputera Syekh Mubarak.
9. Berputera Syekh Abdullah.
10. Berputera Syekh Ma'ruf.
11. Berputera Syekh Arifin.
12. Berputera Syekh Hasanuddin.
13. Berputera Syekh Jamal.
14. Berputera Syekh Ahmad.
15. Berputera Syekh Abdullah.
16. Berputera Syekh Abbas.
17. Berputera Syekh Abdullah.
18. Berputera Syekh Kurames, pendeta di Makkah.
19. Berputera Abdur Rakhman Kemudian beliau ini ke P. Jawa (Majapahit), mendapat gelar Ario (Arya), berganti nama Teja, alias Ario Teja, kemudian menjadi Bupati Tuban.
20. Berputera Ario Teja I, Bupati Tuban.
21. Berputera Ario Tejo Laku, Tuban.
22. Berputera Ario Tejo, Bupati Tuban.
23. Berputera Raden Tumenggung Wilotikto, Bupati Tuban.
24. Berputera Raden Mas Said (Sunan Kalijaga).
25. Dan akhirnya berputera Raden Umar Said alias Sunan Muria.

ISTRI DAN KETURUNAN SUNAN MURIA

Menurut catatan yang dapat dipercaya, isteri Sunan Muria bernama Dewi Sujinah, puteri Sunan Ngudung alias Raden Usman Haji. Jadi Sunan Muria adalah iparnya Sunan Kudus, karena Dewi Sujinah itu kakaknya Sunan Kudus. Dewi Sujinah dimakamkan di belakang Masjid Menara Kudus, yakni di komplek makam Sunan Kudus.

1. Pangeran Santri

Dalam pernikahannya dengan Dewi Sujinah itu Sunan Muria mempunyai seorang putera yang bernama Pangeran Santri yang kemudian dinamakan pula Sunan Ngadilangu. Dengan sebutan Sunan Ngadilangu ini, maka dapat menguatkan pula pendapat bahwa Sunan Muria adalah puteranya Sunan Kalijaga yang berdomisili di Kadilangu Demak. Terbukti cucunya Sunan Kalijaga ini (yakni Pangeran Santri) diberi paraban atau julukan pula dengan Sunan Ngadilangu.

2. Panembahan Pengulu Patih

Menurut sumber dari Kadilangu Demak ('Tustoko Darah Agung"), Panembahan Pengulu Patih adalah putera Sunan Muria. Yang disebutkan hanya satu orang itu. Dan tentunya ini tidak membuka kemungkinan bahwa Sunan Muria mempunyai putera lain selain Panembahan Pengulu Patih, yang tentunya dari isteri yang lain. (Namun dalam catatan tidak disebutkan bahwa Sunan Muria mempunyai isteri-isteri lagi selain Dewi Sujinah).

Sumber tersebut tertulis sebagai berikut :

1. Raden Umar Said Sunan Muria
2. Berputera Panembahan Pengulu Patih
3. Berputera Panembahan Jogodipo, di Colo
4. Berputera Pangeran Sokusumo alias Pangeran Agung
5. Berputera Pangeran Wongsokusumo, di Jatikambang
6. Berputera Pangeran Joyotruno, di Jatipandak
7. Berputera Pangeran Hartokusumo.

3. Raden Ayu Nasiki

Menurut Juru Kunci makam Sunan Muria (Karto Dirono), makam (jirat nisan) yang ada di sisi (sebelah timumya) pasareyan atau nisannya Sunan Muria, adalah puterinya Sunan Muria juga yang bernama Raden Ayu Nasiki.

4. Dewi Roroyono

Tentang Dewi Roroyono yang konon menurut cerita rakyat adalah isteri Sunan Muria, ini memang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah yang ada.

5. Raden Ayu Nawangsih

Juga Raden Ayu Nawangsih dan Kebonabrang yang juga menurut cerita rakyat adalah sebagai putera Sunan Muria, hal ini tidak tercatat dalam buku sejarah. Mungkin masih ada isteri atau para putera Sunan Muria yang lain, tetapi itu semua terdapat dalam dongeng cerita rakyat.

Itulah Garis Silsilah dan Keturunan Sunan Muria, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan. 

Silsilah dan Garis Keturunan Sunan muria

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.

Kuwaluhan.com

Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura.

Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia.

Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad.

SILSILAH KETURUNAN SUNAN BONANG

Silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:


  • Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
  • Sunan Ampel (Raden Rahmat) 
  • Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
  • Maulana Malik Ibrahim bin
  • Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
  • Ahmad Jalaludin Khan bin
  • Abdullah Khan bin
  • Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
  • Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
  • Ali Kholi' Qosam bin
  • Alawi Ats-Tsani bin
  • Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
  • Alawi Awwal bin
  • Ubaidullah bin
  • Muhammad Syahril
  • Ali Zainal 'Abidin bin
  • Hussain bin
  • Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW)


KETURUNAN SUNAN BONANG

Sunan Bonang (Raden Mahdum Ibrohim)  menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil, dan mempunyai 2 orang putra namun belum jelas nama ibunya yaitu :

  • Dewi Ruhil 
  • Jayeng Katon 
  • Jayeng Rono

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah Silsilah dan Keturunan Sunan Bonang, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan. 

Silsilah Dan Garis Keturunan Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)

Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.

Kuwaluhan.com

Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka ia dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut/selat bali sekarang ini.

Versi lain menyatakan bahwa pernikahan Maulana Ishaq-Dewi Sekardadu tidak mendapat respon baik dari dua patih yang sejatinya ingin menyunting dewi sekardadu (putri tunggal Menak sembuyu sehingga kalau jadi suaminya, merekalah pewaris tahta kerajaan. Ketika Sunan Giri lahir, untuk mewujudkan ambisinya, kedua patih membuang bayi sunan giri ke laut yang dimasukkan ke dalam peti.

Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) - yakni sabar dan sobir - dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudro.

Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudro dibawa ibunya ke Ampeldenta (kini di Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu.

Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudro. Di sinilah, Joko Samudro yang ternyata bernama Raden Paku mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.

SILSILAH SUNAN GIRI

Beberapa babad menceritakan pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.

Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan :

  • Husain bin Ali, 
  • Ali Zainal Abidin, 
  • Muhammad al-Baqir, 
  • Ja'far ash-Shadiq, 
  • Ali al-Uraidhi, 
  • Muhammad an-Naqib, 
  • Isa ar-Rumi, 
  • Ahmad al-Muhajir, 
  • Ubaidullah, 
  • Alwi Awwal, 
  • Muhammad Sahibus Saumiah, 
  • Alwi ats-Tsani, 
  • Ali Khali' Qasam, 
  • Muhammad Shahib Mirbath, 
  • Alwi Ammi al-Faqih, 
  • Abdul Malik (Ahmad Khan), 
  • Abdullah (al-Azhamat) Khan, 
  • Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), 
  • Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), 
  • Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), 
  • Maulana Ishaq, 
  • Ainul Yaqin (Sunan Giri). 

Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut.

Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai (Jeumpa?) dan Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera.

Putera ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian melahirkan Pangeran Giri. Putri Pasai adalah puteri Sultan Pasai yang diambil isteri oleh Raja Majapahit yang bernama Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Mangkubumi Majapahit masa itu adalah Patih Maudara.

KETURUNAN SUNAN GIRI DAR BEBERAPA ISTRINYA 

Sunan Giri disebutkan memiliki dua orang istri, yaitu Dewi Murtasiah binti Sunan Ampel dan Dewi Wardah binti Ki Ageng Bungkul.

Melalui istrinya Dewi Murtasiyah, Sunan Giri memiliki delapan anak, yaitu :

1. Ratu Gede Kukusan
2. Sunan Dalem.
3. Sunan Tegalwangi.
4. Nyai Ageng Seluluhur
5. Sunan Kidul
6. Ratu Gede Saworasa
7. Sunan Kulon (Panembahan Kulon)
8. Sunan Waruju

Sementara dari Dewi Wardah, beliau memiliki dua anak bernama :

1. Pangeran Pasirbata
2. Siti Rohbayat.

Menurut Serat Centini, Sunan Giri digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Dalem (Maulana Zainal Abidin), yang memiliki 10 orang anak, yaitu :

1. Sunan Sedamargi
2. Sunan Prapen Adi
3. Nyai Ageng Kurugangurun
4. Nyai Ageng Kulakan
5. Pangeran Lor
6. Pangeran Dheket
7. Pangeran Bongkok
8. Nyai Ageng Waru
9. Pangeran Bulu
10. Pangeran Sedalaut.

Itulah Silsilah Sunan Giri dan Keturunannya dari beberapa istrinya.  Wallohua'lam Bisshowab

Silsilah Dan Garis Keturunan Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)

Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja.

Kuwaluhan.com

Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati).

Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo.

Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakankeponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Merujuk kepada salah satu sumber tentang silsilah keturunan dari Sunan Ampel ini memang cukup panjang, namun pada puncaknya berhubungan langsung dengan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad Saw.

Silsilah keturunan Sunan Ampel sampai Nabi Muhammad Saw :


  • Sunan Ampel ialah putra Maulana Malik Ibrahim
  • Maulana Malik Ibrahim putra dari Syaikh Jumadil Qubro
  • Syaikh Jumadil Qubro putra dari Ahmad Jalaludin Khan.
  • Ahmad Jalaludin Khan sendiri ialah putra dari Abdullah Khan,
  • Abdullah Khan putra dari Abdul Malik Al-Muhajir nan berasal dari Nasrabad, India.
  • Abdul Malik Al-Muhajir ini ialah putra dari Alawi Ammil Faqih dari Hadralmaut, Yaman.
  • Alawi Ammil Faqih ialah putra dari Muhammad Sohib Mirbath nan merupakan putra dari Ali Kholi Qosam.
  • Ali Kholi Qosam sendiri ialah putra dari Alawi Ats-Tsani.
  • Alawi Ats-Tsani ialah putra Muhammad Sohibus Saumiah
  • Muhammad Sohibus Saumiah ialah putra dari Alawi Awwal
  • Alawi Awwal merupakan putra dari Ubaidullah
  • Ubaidullah putra dari Ahmad al-Muhajir.
  • Ahmad al-Muhajir ialah putra Isa Ar-Rumi
  • Isa Ar-Rumi putra dari Muhammad An-Naqib.
  • Muhammad An-Naqib ialah putra dari Ali Uraidhi
  • Ali Uraidhi putra Jafar ash-Shadiq nan tidak lain putra dari Muhammad al-Baqir.
  • Muhammad al-Baqir ini ialah putra dari Ali Zainal Abidin
  • Ali Zainal Abidin ialah putranya Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra bin Muhammad.
  • Semenatar Fatimah Az-Zahra ialah putri bungsu Nabi Muhammad Saw dan Khadijah.


SEDANGKAN KETURUNAN SUNAN AMPEL YAITU :

Isteri Pertama, yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:


  • Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang
  • Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
  • Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
  • Siti Muthmainnah
  • Siti Hafsah


Isteri Kedua adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:


  • Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
  • Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fatah
  • Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
  • Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
  • Pangeran Tumapel
  • Raden Faqih

Itulah Silsilah dan Garis Keturunan Sunan Ampel, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan. 

Garis Silsilah dan Keturunan Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Dalam Al Quran disebutkan nama 25 orang nabi. Tetapi itu tidaklah berarti bahwa nabi-nabi hanya sejumlah 25. Sebelum Nabi Muhammad SAW, Allah mengutus nabi dan rasul kepada setiap bangsa.

Kuwaluhan.com

Nabi Ibrahim AS adalah bapak dari 18 orang nabi, yaitu Nabi-Nabi:

  • Isma‘il, 
  • Ishaq, 
  • Ya’qub, 
  • Yusuf, 
  • Ayyub, 
  • DzulKifli, 
  • Syu’aib, 
  • Yunus, 
  • Musa, 
  • Harun, 
  • Ilyas, 
  • Ilyasa’, 
  • Daud, 
  • Sulayman, 
  • Zakariyya, 
  • Yahya, 
  • Isa ‘Alahi Salam, 
  • Muhammad SAW.


Berikut ini adalah silsilah keturunan Nabi Ibra-hiym AS.

Nabi Ibrahim AS mempunyai 3 orang putera, yaitu Nabi Isma‘il AS beribukan Hajar, Nabi Isha-q AS beribukan Sarah dan Madyan (bukan nabi), beribukan Katurah.

GENERASI PERTAMA SESUDAH NABI IBRA-HIYM AS

Nabi Isma‘il AS menurunkan:
  • Haidar – Jamal – Sahail – Binta – Salaman – Hamyasa – ‘Adad – ‘Addi – Adnan – Ma’ad – Nizar – Mudhar – Ilyas – Mudrikah – Khuzaimah – Kinanah – Nadhar – Malik – Fihir – Ghalib – Luaiy – Ka’ab – Murrah – Kilab – Qushay – ‘Abdul Manaf – Hasyim – ‘Abdul Muththalib – ‘Abdullah – NABI MUHAMMAD SAW.
Nabi Isha-q AS mempunyai 2 orang putera yaitu Isu (bukan nabi) dan Nabi Ya’qub AS, kemudian bernama Isra-iyl, sehingga keturunannya dinamakan Bani Israil.

Madyan menurunkan: 

  • Nabit – Iya – Syafun – Nabi Syu’aib AS (menjadi mertua Nabi Musa AS)


GENERASI KEDUA SESUDAH NABI IBRAHIM AS

Isu menurunkan:

  • Anwas – Nabi Ayyuwb AS – Nabi Dzulkifli AS, Nabi Ya’quwb AS, (Israil) mempunyai 12 orang putera, dan dari ke-12 orang ini terbentuklah 12 suku Bani Israil. Yang disebutkan di sini hanya 4 orang di antaranya saja, yaitu yang menjadi nabi dan mempunyai keturunan nabi: 
1. Nabi Yusuf AS,
2. Lawi (Wardun),
3. Yahuza (Ra’sun), dan
4. Bunyamin.

GENERASI KETIGA SESUDAH NABI IBRAHIM AS

Nabi Yuwsuf AS mempunyai tiga orang anak. Ketiga anaknya tidak ada yang menjadi nabi.

Lawi (Wardun) menurunkan: 

  • Kahis 
  • Yashar 
  • Imran. 


Adapun Imran mempunyai 2 orang anak semuanya menjadi nabi, yaitu Nabi Musa AS (keturunannya tidak ada yang nabi) dan Nabi Ha-ruwn AS(17).

Nabi Ha-ruwn AS menurunkan: 

  • Izhar 
  • Fanhas. 


Adapun Fanhas ini berputra 2 orang yaitu Yasin dan Ukhtub. Yasin memperanakkan Nabi Ilya-s AS, sedangkan Yasin memperanakkan Nabi Ilyasa-‘AS.

Yahuza (Ra’sun) menurunkan: 

  • Baras
  • Hasrun 
  • Raum 
  • Umainizab 
  • Yawksawn 
  • Salmun 
  • Yu’ar 
  • Ufiz
  • Isya 
  • Nabi Da-wud AS
  • Nabi Sulayma-n AS

Bunyamin menurunkan:

  •  Abumatta 
  • Matta 
  • Nabi Yunus AS


Silsilah selanjutnya dimulai dari Nabi Sulaiman AS yaitu:

GENERASI KE-14 SETELAH NABI IBRAHM AS

Nabi Sulayma-n menurunkan:

  • Raji’un (Roboam)  
  • Ababa (Abia).


Adapun Ababa memperanakkan Sahfasat dan Radim.

Sahfasat menurunkan: 
Salum – Nakhur – Shadiqah – Muslim – Sulaiman – Daud – Yaksan – Shaduk – Muslim – Adam – Yahya – Nabi Zakariya AS – Nabi Yahya AS.

Radim menurunkan: 
Yahusafat – Barid – Nausa – Nawas – Amsaya – Izazaya – Au’am – Ahrif – Hizkil – Misyam – Amur – Sahim – ‘Imra-n – Maryam – Nabi’Isa AS.

Selanjutnya silsilah asal-usul Nabi Ibrahim AS.

Silsilah ini menanjak ke atas hingga Nabi Adam AS


  • Nabi Ibrahim AS 
  • Tarikh (Thara) 
  •  Nakhur – Sarugh 
  • Urghu (Ragau) 
  • Falikh 
  • Abir 
  • Syalikh (Sala) 
  • Finan 
  • Arfakhsyadz 
  • Sam 
  • Nabi Nuh AS
  •  Lamik 
  • Matusalkh 
  • Mahanaukh (Enoch) – – – –dan – – – seterusnya, berapa jumlah generasi antaranya hanya Allah Yang Maha Tahu – Yarid – Mahkail – Qinan – Anwas – Syisy (Seth) – Nabi Adam AS.


Sebagai tambahan, dari Yarid hingga sejumlah beberapa generasi ke bawah – Yardukil – Nabi Idris AS.

Adapun Sam selain memperanakkan Arfakhsyadz juga memperanakkan antara lain Iram, Amu dan Kursyun.

Iram menurunkan: 
Aush – Ad – Khulud – Riba – ‘Abdullah – Nabi Hud AS – Haran – Nabi Luth AS.

Amu menurunkan:
Tsamud – Hadzir – ‘Ubayd – Masih – Asif – Ubaid – Nabi Shalih AS.
Kursyun menurunkan: 
San’ar – Kana’an – Namruj, yaitu raja yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Garis Keturunan Nabi Ibrahim As

Raden Patah adalah seorang berdarah campuran China dan Jawa yang lahir di Palembang pada tahun 1455. Ia merupakan pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.


Raden Patah dikenal dengan banyak nama dan gelar antara lain Jin Bun, Pate Rodim, Tan Eng Hwa, dan Aryo Timur. Kisah hidupnya sangat menarik untuk kita pelajari. Perjuangan, kerja keras, dan sikap toleransinya sangat baik untuk diteladani, oleh karenanya mari kita simak silsilah, biografi, hingga makam dan akhir hayat dari pendiri Masjid Agung Demak ini.

SILSILAH RADEN FATAH

Raden Patah merupakan silsilah anak dari Raja Brawijaya dengan selir China bernama Siu Ban Ci. Raja Brawijaya sendiri merupakan raja terakhir dari kerajaan Majapahit yang memerintah sejak tahun 1408 hingga 1501.

Hubungan antara Raja Brawijaya dengan selirnya ini membuat Ratu Dwarawati, isteri Brawijaya cemburu. Karena kecemburuannya itu, Raja dipaksa untuk membuang selir itu agar tidak tetap tinggal di istana. Meski tengah hamil besar, Siu Ban Ci terpaksa harus angkat kaki menuju Palembang untuk tinggal di anak Brawijaya yang merupakan bupati Palembang masa itu, yakni Arya Damar.

Setelah melahirkan Raden Patah, Siu Ban Ci kemudian menikah dengan anak tirinya sendiri yang tak lain adalah Arya Damar. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putra bernama Raden Kusen.

Seiring berjalannya waktu, Raden Patah tumbuh dewasa. Di masa itu, ia diminta menggantikan ayah tirinya menjadi bupati Palembang, namun dengan berbagai alasan ia menolaknya. Ia memilih kabur dan pergi kembali ke Tanah Jawa.

Kepergiannya itu kemudian disusul oleh adik tirinya setelah beberapa bulan kemudian. Baik Raden Patah dan Raden Kusen, keduanya pergi ke Jawa dan menolak menjadi bupati tidak lain adalah karena ingin memperdalam ilmu agama Islam.

Islam kala itu memang tengah mengalami perkembangan pesat di tanah air. Mereka berdua belajar ke Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa tahun mengaji, Raden Kusen kemudian kembali ke kerajaan kakeknya, yakni Brawijaya di Majapahit, sedangkan Raden Patah malah menuju Jawa Tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi dan menjadikannya sebagai tempat syiar Islam dengan mendirikan pesantren.

Raden Patah, Raja Pertama Kerajaan Demak Seiring berjalan sang waktu, Raden Kusen kini telah menetap di kerajaan Majapahit dan telah diangkat sebagai adipati. Bersamaan dengan itu, pesantren yang didirikan Raden Patah pun berkembang dengan pesat dan maju.

Mengingat kemajuan pesantren tersebut, Raja Brawijaya yang tak lain adalah ayah dari Raden Patah khawatir jika pesantren tersebut akan digunakan oleh Raden Patah sebagai alat untuk melakukan pemberontakan.

Untuk menghindari hal itu, Raja Brawijaya pun menyuruh cucunya, yang tak lain adalah adik tiri dari Raden Patah – Raden Kusen, untuk mengundang Raden Patah.

Sesampainya di Istana, Raja Brawijaya sangat-sangat kagum dengan sosok Raden Patah yang sangat sederhana, santun, berwibawa, dan berbudi. Brawijaya pun sangat senang melihat anak dari selirnya itu memiliki kepribadian kuat.

Menyadari hal itu, Brawijaya pun mengangkat Raden Patah sebagai bupati Glagah Wangi. Tak berselang lama, Raden Patah pun merubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dan menetapkan ibukotanya di Bintara.

Di bawah pimpinan Raden Patah, Demak berkembang sangat pesat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Perang antara Kerajaan Majapahit dan Demak Perang antara Demak dan Kerajaan Majapahit dikisahkan di dalam Babad Jawi.

PEMBERONTAKAN TERHADAP MAJAPAHIT

Dalam babad tersebut, diketahui bahwa Sunan Ampel pernah berpesan pada Raden Patah untuk tidak memberontak ke kerajaan Majapahit, karena bagaimanapun Raja Brawijaya adalah ayahnya sendiri –meski berbeda agama.

Pesan itu bertahan dan digubris oleh Raden Patah selama Sunan Ampel hidup. Namun setelah sunan Ampel wafat, pesan itu terpaksa harus diingkari karena beberapa hal. Secara terpaksa Raden Patah pun memberontak pada kerajaan Majapahit, dan Raja Brawijaya meningal pada pemberontakan itu.

Semenjak pemberontakan itu, kerajaan Demak semakin berkembang pesat. Kerajaan tersebut menjadi pusat perkembangan agama islam dipulau Jawa dan menjadi kerajaan islam pertama di Jawa.

Beberapa bangunan bukti kemajuan kerajaan demak masih dapat kita jumpai saat ini, contohnya Masjid Agung Demak yang pada 1479 diresmikan oleh Raden Patah Sendiri.

Keturunan Raden Patah Menurut naskah babad Jawa, Raden Patah mempunya 3 istri yang antara lain: Putri Sunan Ampel yang kemudian melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana. Kedua anak dari isteri pertama ini secara berurutan kemudian naik takhta. Raden Surya bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Raden Trenggana bergelar Sultan Trenggana.

Seorang putri dari Randu Sanga yang kemudian melahirkan Raden Kanduruwan yang pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa dalam menaklukkan Sumenep, Madura. Putri bupati Jipang yang kemudian melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyowo. Wafat dan Makam Raden Patah Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun karena sakit yang dideritanya.

Ia dimakamkan tidak jauh dari masjid Agung Demak dan hingga saat ini makam raden patah tersebut masih tetap terawat dengan baik dan ramai dikunjungi banyak orang.

Sejarah Asal usul dan Silsilah Raden Fatah, Pendiri Kerajaan Demak

Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Jogya, Sultan HB III atau Sultan Raja dari seorang selir. Dengan demikian dia adalah cucu Sultan HB II (Sultan Sepuh) dan cicit Sultan HB I (Sultan Swargi).

Kuwaluhan.com

Ibunya disebut-sebut bernama R.A. Mangkarawati yang menurut Peter Carey asal-usulnya masih kabur. Dikatakan putri itu berasal dari Majasta di daerah Pajang, dekat makam keramat Tembayat (Carey, 1991:2).

Dalam naskah lain Carrey mengatakan dia adalah keturunan Ki Ageng Prampelan dari Pajang (Carey, 1974:74). Sagimun MD. memberitakan bahwa dia berasal dari Pacitan, putri seorang Bupati yang konon masih berdarah Madura (Sagimun, 1986:36).

R. Tanojo dalam Sadjarah Pangeran Dipanagara Darah Madura mengatakan bahwa darah Madura yang mengalir pada Diponegoro bukan berasal dari pihak ibu tetapi justeru dari pihak ayah. Menurut silsilah, nenek Diponegoro, yakni Ratu Kedaton (permaisuri HB II) adalah generasi ke enam keturunan Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura (Tanojo, t.t:4).

BERIKUT INI ADALAH SILSILAH PANGERAN DIPONEGORO SAMPAI NABI MUHAMMAD :

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
• Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin
• Adipati Andayaningrat / Kyai Ageng Penging Sepuh / Syarif Muhammad Kebungsuan II bin
• Raden Kebo Kenongo / Sultan Prabu Wijoyo I + Nyai Ageng Penging Binti Sunan Lawu
• Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir + Ratu Mas Cempo binti Sultan Trenggono Demak
• Pangeran Benowo / Sultan Prabu Adiwijaya I
• Pangeran Mas Putra Adipati Pajang ( terkenal dengan sebutan Mbah Sambu Lasem )
• Panembahan Raden Sinare ing Dalem Kajoran Klaten + Raden Ayu Panembahan Raden Kajoran
• Pangeran Harya Wiramenggala I ( Menantu Pangeran Kajoran ) sinare ing Dalem Kajoran Klaten
• Pangeran Puger bergelar KS. Paku Buwono I ing Surakarta Hadiningrat
• Kandjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Djawi ing Kartosuro @Susuhunan Prabu Amangkurat IV
• Sri Sultan Hamengku Buwono I @Pangeran Mangkubumi
• Sri Sultan Hamengku Buwono II
• Sri Sultan Hamengku Buwono III + Raden Ayu Mangkarawati Pacitan
• Pangeran Diponegoro @Raden Mas Sayyid Antawirya ( 11 Nopember 1785 )

Nama asli Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Dia lahir di keraton Jogyakarta pada hari Jum'at Wage, tanggal 7 Muharram Tahun Be atau 11 Nopember 1785 Masehi sebagai putera sulung Sultan HB III (Carey, 1991:1). 1) Pada tahun 1805 Sultan HB II mengganti namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.

Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah dinikahi oleh Pangeran Diponegoro. Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta.

Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu Diponegoro masih berada di Tegalrejo.

Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun.

Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat Pangeran Diponegoro. Oleh Pangeran Diponegoro bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.

Isteri Keelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828.

Berikut adalah Keturunan Pangeran Diponegoro dari beberapa istrinya :


  • RM MADJID / DIPONEGORO ANOM,
  • RM. DIPOATMAJA / DIPOKUSUMA/PANGERAN ABDUL AZIS,
  • RM. SURYAATMAJA / DIPONINGRAT,
  • RM. SODEWO / SINGLON / PANGERAN ALIP
  • RM. DJONET DIPOMENGGOLO,
  • RM. ROUB/RM. RAAB,
  • RA. IMPUN / RA. BASAH,
  • RA. JOYOKUSUMO,
  • RA. SUPADMI / RA. RETNA KUSUMA,
  • RA. MUNTENG / RA. SITI FADILAH / RA. GUSTI
  • RA. HERJUMINTEN,
  • RA. HERJUMEROT,
  • RA. HANGRENI MANGUNJAYA,
  • RM. KINDAR,
  • RM. SARKUMA,
  • RM. MUNTAWARIDIN,
  • RA. PUTRI MUNADIMA,
  • RA. DULKABI,
  • RM. RAJAB,
  • RM. RAMAJI,
  • RA. MANGKUKUSUMO,
  • RA. PADMODIPURO,
  • RA. PONCOKUSUMO,

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah Silsilah dan Garis Keturunan PANGERAN DIPONEGORO, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan.

Silsilah dan Garis Keturunan Pangeran Diponegoro