Showing posts with label kesakitan sunan Drajat. Show all posts
Showing posts with label kesakitan sunan Drajat. Show all posts

Thursday, October 11, 2018

Inilah Kumpulan Kisah Karomah Sunan Kudus (Ja'far Shodiq) Walisongo

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad.

Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Beliau lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah.

Berikut ini adalah kumpulan Kisah Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Kudus (Ja'far Shodiq) :

MENYEMBUHKAN WABAH PENYAKIT DI MAKKAH


Ketika beliau pergi ke Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji, kebetulan di Mekkah sedang terjadi wabah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. sang Amir menjanjikan bagi siapa saja yang berhasil melenyapkan penyakit tersebut dari kota Mekkah, maka orang tersebut akan diberi hadiah harta yang tak ternilai jumlahnya.

Sudah banyak ulama yang datang mencoba untuk menyingkirkan penyakit tersebut dari kota Mekkah. Namun…. belum juga ada yang berhasil melakukannya. Suatu hari, Sunan Kudus datang menghadap penguasa / amir namun kedatangannya disambut sinis oleh penguasa.

“Dengan apa kau akan menyebuhkan penyakit di negeri ini?” kata sang Amir.

“Dengan do’a” jawab Sunan Kudus.

“Kalau hanya dengan doa, kami sudah puluhan kali melakukannya. DI tanah Arab ini banyak sekali para ulama dan Syeikh ternama, tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah ini,” jelas sang Amir.

“Saya mengerti, memang tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada saja kekurangannya sehingga do’a mereka tidak terkabulkan,” ujar Sunan Kudus.

“Hmmm..sungguh berani Tuan berkata demikian,” kata sang Amir dengan nada berang.

“Apa kekurangan mereka,” tanya sang Amir.

“Anda sendiri yang menyebabkannya,” kata Sunan Kudus dengan tenangnya.

“Anda telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga doa mereka tidak ikhlas. Mereka berdoa hanya karena mengharap hadiah bisa jadi,” jelas Sunan Kudus lebih lanjut.

Sang Amir pun terbungkam seribu bahasa dengan jawaban yang diberikan oleh Sunan Kudus.

Akhirnya Sunan Kudus dipersilahkan melaksanakan niatnya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Secara khusus Sunan Kudus berdoa dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo singkat, wabah penyakit yang menyerang negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras secara mendadak langsung sembuh.

Bukan main senangnya hati sang Amir. Rasa kagum mulai menjalar di hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikan kepada Sunan Kudus, namun Sunan Kudus menolaknya dengan halus sekali. Sunan Kudus hanya meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir pun mengijinkannya. Batu itu pun dibawa ke Tanah Jawa, dipasang di pengimaman Masjid Kudus yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.

Rakyat Kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang bergama Hindu dan Budha. Para wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di Kota Kudus. Pada akhirnya, Sunan Kudus lah yang terpilih untuk bertugas dakwah di daerah itu.

MENJADI PANGLIMA PERANG YANG TANGGUH

Pada waktu Sunan Kudus / ja’far shodiq sebagai senopati kerajaan demak bintoro, mampu membuktikan kehebatannya yang tak kalah dengan kepiawaian ayahnya di medan perang. Ia berhasil mengembangkan wilayah kerajaan demak ke arah timur hingga mencapai madura, dan arah barat hingga cirebon.

Kemudian sukses ini memunculkan cerita kesaktiannya. Misalnya, sebelum perang, Ja’far shodiq diberi badong, semacam rompi, oleh sunan gunung jati. Badong itu dibawanya berkeliling arena perang.

Dari badong sakti itu, keluarlah jutaan tikus yang juga sakti. Kalau dipukul maka tikus itu tidak mati, namun mereka semakin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan majapahit ketakutan sehingga mereka lari tunggang langgang.

Ja’far shodiq  mempunyai sebuah peti, yang bisa mengeluarkan jutaan tawon. Banyak prajurit majapahit yang tewas disengat tawon itu. Pada akhirnya, pemimpin pasukan majapahit, yaitu adipati terung menyerah pada pasukan ja’far shodiq.

Kesuksesannya mengalahkan majaphit membuat posisi Ja’far shodiq semakin kuat. Kemudian ia meninggalkan demak karena ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama islam. Lalu, ia pergi menuju ke kudus.

Awalnya, ja’far shodiq hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil di tajug. Jamaah itu merupakan para santri yang dibawanya dari demak. Sebenarnya mereka adalah tentara yang ikut bersama ja’far shodiq memerangi majapahit. Setelah jamaahnya semakin banyak ia kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyabaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja’far shodiq adalah masjid menara kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid ini didirikan pada 956 H yang bertepatan dengan 1549 M.

Kota Tajug pun mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi kudus. Kemudian pada akhirnya ja’far shodiq sendiri dikenal dengan sebutan sunan Kuuds.

MENYEBARKAN ISLAM DENGAN "TUTWURI HANDAYANI"

Dalam menyebarkan agama islam, sunan kudus mengikuti gaya sunan kalijaga, yakni menggunakan model “tutwuri handayani”. Artinya, sunan kudus tidak melakukan perlawanan keras, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit. Sebab, ia memang banyak berguru pada sunan kalijaga .

Cara berdakwah sunan kudus pun yang meniru cara yang dilakukan sunan kalijaga, yaitu menoleransi budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus. Itu sebabnya para wali menunjuk dirinya untuk berdakwah di kota kudus.

Ketika itu, masyarakat kudus masih banyak yang menganut agama Hindu. Maka, sunan kudus berusaha memadukan kebiasaan merelakan ke dalam syariat islam secara halus. Misalnya, ia justru menyembelih kerbau bukan sapi ketika hari raya idul qurban. Itu merupakan dari penghormatan sunan kudus kepada para pengikut Hindu. Sebab, ajaran agama hindu memerintahkan untuk menghormati sapi.

Setelah berhasil menarik umat hindu memeluk agama islam, sunan kudus bermaksud menjaring umat budha untuk memeluk islam juga. Ia memiliki cara yang cukup unik untuk menarik perhatian mereka. Setelah sunan kudus mendirikan masjid, ia membuat padasan (tempat berwudhu), dengan pancuran berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca di atasnya.

Mengapa sunan kudus melakukan ini? Ternyata, sunan kudus ingin menarik simpati umat Buddha karena dalam ajaran budha terdapat delapan ajaran yang dinamakan asta sanghika marga. Isi ajaran tersebut adalah seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar dan menghayati agama dengan benar.

Akhirnya, usaha itu pun membuahkan hasil, sehingga banyak orang yang bergama budha berbondong-bondong memeluk islam. Demikian pula dalam hal adapt istiadat, ia tidak langsung menentang masyarakat yang melenceng dari ajaran islam secara keras. Sebagai contoh, masyarakat sering menambur bunga di perempatan jalan, mengirim sesajen di kuburan dan adapt lain yang melenceng dari ajaran islam. Sunan kudus tidak langsung menentang adat itu, tetapi ia mengarahkannnya sesuai ajaran islam dengan pelan-pelan.

Misalnya, sunan kudus mengarahkan agar sesajen yang berupa makanan diberikan kepada orang yang kelaparan. Ia juga mengajarkan bahwa meminta permohonan bukan kepada ruh, tetapi kepada Allah SWT

Dengan cara yang simpatik tersebut membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama islam dari sunan kudus. Surat Al Baqarah yang dalam bahasa arab berarti sapi, sering dibacakan oleh Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar yang beragama Hindu. Bahkan membangun masjid kudus dengan tidak meninggalkan unsure aristektur Hindu. Sebab , bentuk menaranya tetap menyisakan arsitektur gaya hindu.

Pada tahun 1550, Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di Masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud. kemudian dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit gambaran mengenai Karomah Sunan Kudus, semoga bermanfaat.

Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Drajat (Raden Qosim) Walisongo

Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam ia menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Berikut ini adalah beberapa kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat (Raden Qosim) :

DISELAMATKAN OLEH IKAN TALANG DAN CUCUT


Pada waktu Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia emban, walau hati menyanyikannya, berat suci menegakkan kalimat Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke dusun barat Gresik, ada ada dearah yang menunggu kerja dakwahmu, titah Sunan Ampel kepada putranya yang sebahu muridnya itu. Raden Qosim berbakat, ia pun berkemas untuk berangkat.

Dengan menumpang wisatawan dari Raden Qosim berlayar, ia berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, harus dilakukan dengan amanah. Segala rintangan yang akan menghadang akan di hadapinya dengan hati tabah.

Angin yang baik akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa Cuaca akan memburuk, tetapi laut memang menyimpan seribu misteri, dan manusia hanya bisa menganggap-duga. Saat berada di tengah-tengah rimba lautan, tiba-tiba tiba-tiba muncul badai yang sangat dahsyat, biduk itu terombang-ambing, dipermainkan ombak tanpa ada daya sedikitpun, terang saja biduk itu menjadi seperti korek api dalam aliran sungai, diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.

Akhirnya sebuah pulau membuat perahu itu hancur berkeping-keping, sang nelayan terlempar tak kenal nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Beberapa saat lamanya di tengah gemuruh badai yang mengamuk, Raden Qosim bertahan dengan hari itu, sampai kemudian pertolongan yang tak di duga-duga datang menghampiri.

Seekor ikan Talang tiba-tiba tiba-tiba muncul dan berenang Raden Qosim, putra Sunan Ampel yang mulai di dera kepanikan ini segera menemukan bahwa ikan yang dikirim Allah swt untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk di naiki Raden Qosim. Pria berhati lembut itu dengan senang hati menaikinya.


Konon, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, ikan Cucut juga mempersilahkan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai. Tak Terkadang Lama Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah karomah paling masyhur Raden Qosim yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus yang juga ditimpa badai, ikan Paus kemudian menelan Nabi Yunus, namun ia tetap selamat sampai di bawa ke tepi pantai.

Kisah penyelamatan ikan ini dilakukan pada tahun 1485 M. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, yaitu mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk islam dan melayani dia membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.

Sebuah surau kemudian didirikan oleh Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya, surau yang di dirikan pria yang berhati lembut itu seperti memanggil orang-orang untuk mengenal Allah swt dan agamanya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pesantren.

MAMPU MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT

Desa Drajat adalah daerah terpencil, yang memilih desa yang tinggi dataran itu. Raden Qosim mendapat petunjuk melalu mimpi. Dalam mimpinya Sunan Drajar bertemu dengan Sunan Giri yang mengambarkan dirinya membuka sebuah komunitas islam baru di sisi selatan perbukitan di desa Drajat. Daerah yang ditunjuk Sunan Giri ternyata adalah hutan angker, tidak ada orang yang berani menginjakkan umpan disana.

Pembukaan hutan itupun diwarnai dengan hal-hal gaib. Konon, penghuni hutan marah dan mendatangkan balak berupa penyakit pada penduduk. Mungkin Sunan Drajat yang ikhlas dapat lolos ujian itu dengan baik. Hutan angker itu diubah menjadi pusat penyebaran islam di tendai dengan berdirinya sebuah masjid. Permukiman baru pun di bangun.

Karomah Sunan Drajat sebagai wali yang dikaruniai kesaktian dan ilmu penyembuhan memang terkenal sampai ke seantero negeri. Kerap ia dipenggil untuk melatih orang yang sedang tertimpa sakit. Kelembutan stres dan pengetahuannya terhadap ramuan-ramuan dari akar dan daun-daunan membuat semua penyakit bisa disembuhkan. Tak lupa ia selalu berpesan untuk si pasien agar selalu berdoa dan tidak meninggalkan shalat.

MEMINDAHKAN MASJID DALAM WAKTU SEMALAM

Suatu ketika Sunan Sendang Dhuwur mendatangi Sunan Drajat. Dia menyampaikan keinginannya agar bisa mempunyai masjid di Desa Sendang Dhuwur. Kemudian Sunan Drajat merekomendasikan agar dia meminta Masjid Mbok Rondo Manthingan.

Masjid tersebut merupakan milik bangsawan Jepara. Datanglah Sunan Sendang Dhuwur ke Jawa Tengah, tempat masjid indah itu berada. Dia berterus terang dan meminta pada Mbok Rondo Manthingan agar masjid itu bisa dibawanya pulang.

Mbok Rondo Manthingan atau Nimas Ratu Kalinyamat membolehkan Sunan Sendang Dhuwur meminta masjid miliknya. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut ialah masjid tersebut harus sudah dipindahkan dalam waktu semalam. Selain itu, ketika memindah masjid, tidak boleh ada secuil pun serpihan bangunan yang tercecer di jalan.

“Iya, atas bantuan Allah masjid itu pindah gitu aja ke Sendang Dhuwur,” kata penjaga museum Sunan Drajat, Nurhayati di Museum Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Lantas Sunan Sendang Dhuwur senang bukan kepalang. Kemudian dalam waktu tak sampai semalam, masjid tersebut sudah tertancap kuat di tanah Desa Sendang Dhuwur.

Esok harinya masyarakat terkaget, bagaimana bisa ada masjid yang kemarin tak ada. Mereka terkesima dan terheran-heran dengan adanya masjid dadakan itu. Kemudian mereka mempergunakan masjid tersebut untuk salat dan berbagai kegiatan umat Islam yang lain.

MENGAMBIL BUAH DENGAN MENEPUK POHONNYA

Terdapatlah seorang sakti yang di Tanah Jawa bernama Raden Noer Rahmad. Sunan Drajat penasaran dengan kesaktian Raden Noer Rahmad yang sudah populer di kalangan masyarakat. Dia berniat mengujinya. Pergilah ia dengan para pengawalnya ke Kampung Patunon.

Ketika sudah bertemu dengan Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat meminta izin untuk menikmati air nira dan buah siwalan. Dia ingin mengambilnya sendiri. Dengan senang hati Raden Noer Rahmad mempersilakan.

“Itu pohonnya diketuk tiga kali, langsung buahnya jatuh sendiri. Seluruh buah di pohon itu yang jatuh enggak tersisa,” ungkap juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Setelah buahnya berjatuhan, Raden Noer Rahmad bukannya heran akan tetapi dia malah geram. Raden tersebut berkata pada Sunan bahwa jika cara mengambilnya semacam itu, maka anak cucu kita kelak tak akan bisa menikmati buah siwalan dan air legen. Pasalnya Sunan telah menjatuhkan seluruh buah dari tiap pohon siwalan.

Setelah itu Raden Noer Rahmad menghampiri salah satu pohon siwalan. Dia mengelus pohon itu sebanyak tiga kali. Seketika pohon siwalan tersebut merunduk di hadapannya. Kemudian Sunan Drajat diminta untuk mengambil air legen dan buah siwalan sebanyak yang dibutuhkan saja. Setelah buah dipetik, pohon itu kembali tegak seperti sediakala.

Akhirnya Sunan Drajat menyaksikan sendiri kesaktian yang dimiliki Raden Noer Rahmad. Atas ujian yang mampu dilewati oleh Raden Noer Rahmad tersebut, Sunan Drajat memberinya gelar sebagai Sunan Sendang Duwur.

Kejadian ini membuat keduanya kompak, dalam banyak hal akhirnya Sunan Sendang Duwur membantunya. Dulu Desa Patunon lebih sering disebut Sendang Duwur oleh masyarakat. Kini desa tersebut menjelma menjadi sebuah pemukiman yang semakin padat penduduk sehingga membutuhkan ulama lain yang dapat membantu Sunan Drajat.

Tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam di Lamongan kemudian tidak hanya dipegang Sunan Drajat semata, tetapi juga Sunan Sendang Duwur.

TEMBANG PANGKUR

Sunan Drajat biasa menyampaikan ajaran Islam melalui tembang Pangkur. Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi Isine Quran . Dalam hal ini bisa diartikan sebagai upaya untuk sungguh-sungguh untuk mendalami makna Alquran. Tembang tersebut biasa dinyanyikan bersama alunan gamelan Singo Mengkok miliknya.

Banyak yang menyebut gamelan tersebut mengandung kekuatan magis. Apalagi jika disatukan dengan bacaan tembang Pangkur.

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang penjahat sakti bernama Duratmoko. Tingkah lakunya sering merugikan dan meresahkan masyarakat, akhirnya Sunan Bonang berniat memberi pelajaran pada berandal tersebut. Apalagi Duratmoko selama ini tidak mau mengakui perbuatan buruk yang dia lakukan pada masyarakat.

Sunan Drajat mengutus para pengawalnya untuk menangkap Duratmoko. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil membawa Duratmoko ke hadapan Sunan Drajat.

Kepada Duratmoko Sunan Drajat justeru menyanyikan tembang Pangkur diiringi lantunan suara gamelan Singo Mengkoknya.

“Kanjeng Sunan Drajat waktu itu menyampaikan pitutur melalui tembang Pangkur. Sederhana memang saran beliau sampaikan melalui lirik dan diiringi alat musik,” ujar juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ketika ditemui di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Namun Duratmoko masih membisu, tidak mau mengakui kesalahannya. Akhirnya tembang Pangkur dinyanyikan lebih keras. Temponya dibuat lebih cepat.

Isi tembang tersebut kurang lebih mengenai saran untuk jadi penolong bagi sesama. Hidup tidak boleh menyakiti dan memeras orang lain. Kita harus saling berdampingan tolong-menolong. Alunan tembang Pangkur dan gamelan Singo Mengkok akhirnya membuat Duratmo menyerah.

“Dia seperti kesurupan. Karomah Kanjeng Sunan Drajat menembus sukanya. Akhirnya dia jera dan mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian meminta maaf kepada Kanjeng Sunan dan masyarakat,” ungkapnya.

Berandal yang gagah perkasa itu takluk. Dia meminta ampun dan meminta dijadikan pemeluk Islam. Akhirnya Duratmo menjadi murid Sunan Drajat. Duratmo kemudian diberi Sunan Drajat nama menjadi Ki Sulaiman.

Namun tak lama setelah kejadian itu, Ki Sulaiman jatuh sakit. Dalam keadaan koma dia meminta agar ketika dia meninggal nanti, dia berharap ada yang membiarkan penutup kepalanya terbuka. Bagi Ki Sulaiman, dia ingin agar masyarakat tahu bahwa sekuat apapun berandal pasti akan takluk juga di hadapan Allah, di hadapan kematian.

MEMBUAT MATA AIR ABADI

Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi.

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.