Social Items

Showing posts with label kematian drona. Show all posts
Showing posts with label kematian drona. Show all posts
Setelah Peristiwa kemenangan Arjuna atas serangan Hastinapura di kerajaan Wirata telah membuat Pangeran Utara berubah menjadi seorang yang pemberani. Ia ikut terjun dalam perang besar di Kurukshetra membantu pihak Pandawa.

Dalam perang hari pertama, pangeran Utara telah membunuh banyak prajurit Kurawa.


Namun sebelum Matahari terbenam pada Perang Baratayuda hari pertama, Pangeran Utara melihat kelicikan dari pihak Kurawa yang telah mengeroyok Pangeran Yudistira beradu Gada, di sisi lain Raja Salya menyerang Yudistira dari kejauhan atas desakan Sengkuni. Pangeran Utara mencoba membantu dan menghadang serangan dari Raja Salya yang telah melemparkan senjatanya ke arah pangeran Yudistira.

Namun naas, senjata dari raja Salya yang ditujukan kepada Pangeran Yudistira telah mengenai Pangeran Utara dan menancap di dadanya. Seketika Pangeran Utara tumbang dan Utara gugur di tangan Salya raja dari Kerajaan Madra.

Kematian Utara membuat saudaranya yang bernama Sweta mengamuk dan membunuh banyak musuh. Namun ia akhirnya mati pula di tangan Bisma. Saudara Utara yang lain, yaitu Sangka juga tewas di tangan Drona.

Dalam versi pewayangan Jawa, tokoh Uara merupakan putra Matsyapati raja Kerajaan Wirata. Ia memiliki seorang kakak bernama Seta dan dua orang adik bernama Wratsangka dan Utari. Sedangkan istrinya bernama Sindusari.

Kisah Penyebab Kematian Pangeran Utara Dalam Perang Baratayuda

Drupada adalah putra dari Prisata, raja Kerajaan Pancala. Sewaktu muda ia belajar bersama dengan Drona, seorang brahmanamiskin putra Baradwaja.


Keduanya pun menjalin persahabatan akrab. Bahkan Drupada berjanji jika kelak ia menjadi raja menggantikan ayahnya, Drona akan diberinya sebagian dari wilayah Pancala.

Drupada akhirnya benar-benar menjadi raja Pancala sepeninggal ayahnya. Sementara itu, Drona menikah dengan Krepi adik perempuan Krepa, seorang brahmana di Kerajaan Kuruatau Hastinapura.

Drona yang telah menikah dengan Krepi dikaruniai seorang putra bernama Aswatama. Demi untuk mencukupi makanan istri dan anaknya yang masih kecil, Drona datang ke Pancala meminta Drupada menepati janji persahatannya dulu. Namun, Drupada justru menghina Drona dengan mengatakan kalau persahabatan hanya berlaku di antara orang-orang yang sederajat.

Drona kecewa dan menetap di Hastinapura. Di sana ia menjadi guru para pangeran Korawadan Pandawa. Beberapa tahun kemudian, Drona mengirim para Korawa untuk menangkap Drupada. Meskipun Korawa membawa banyak pasukan Hastinapura, namun Drupada dengan dibantu panglimanya yang bernama Satyajit berhasil memukul mundur mereka semua.

Para Pandawa ganti berangkat untuk menyerang Pancala. meskipun tanpa membawa pasukan, kelima putra Pandutersebut berhasil menangkap Drupada dan menyerahkannya kepada Drona. dengan demikian, Drona telah berhasil merebut kekuasaan Pancala. Ia pun memberikan setengah dari wilayah kekuasaannya tersebut kepada Drupada.

Drupada merasa sangat terhina atas perlakuan Drona kepadanya. Ia juga iri mengetahui Drona memiliki banyak murid yang patuh dan setia, sedangkan dirinya hanya memiliki seorang anak yang bersifat waria.

Drupada kemudian bertapa di hutan di mana ia bertemu dua orang pendeta bernama Yodya dan Upayodya. Keduanya sanggup membantu Drupada mencapai cita-citanya.

Maka diadakanlah upacara putrakama yang dipimpin oleh kedua pendeta tersebut. Dari dalam api pengorbanan kemudian muncul seorang pemuda membawa senjata lengkap. Disusul berikutnya seorang putri cantik di belakangnya.

Drupada mengakui keduanya sebagai anak. Yang laki-laki diberi nama Drestadyumna, sedangkan yang perempuan diberi nama Kresna, namun kemudian lebih terkenal dengan sebutan Dropadi, yang bermakna "anak Drupada".

Drestadyumna kemudian berguru kepada Drona, musuh ayahnya. Drona menyadari bahwa Drestadyumna dilahirkan ke dunia untuk membunuhnya. Namun ia tetap menerimanya sebagai murid dan mengajarinya segala jenis ilmu perang sebagaimana ia telah mengajari Korawa dan Pandawa sebelumnya.

KEMATIAN RAJA WIRATA DAN DRUPADA PADA PERANG BARATAYUDHA

Beberapa tahun kemudian terjadi perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Dalam hal ini Drupada bertindak sebagai salah satu sekutu penting para Pandawa, sedangkan Drona berada di pihak Korawa.

Perang di Kurukshetra atau Baratayuda memakan waktu lebih dari sehari. Pada hari ke-15, Drona bertanding melawan Wirata raja Kerajaan Matsya. Dalam pertempuran tersebut Wirata tewas. Drupada kemudian maju menghadapi Drona. Pertempuran antara keduanya akhirnya dimenangkan oleh Drona. Drupada tewas di tangan bekas sahabatnya.

Drona sendiri akhirnya tewas pula pada hari yang sama setelah kepalanya dipenggal oleh Drestadyumna putra Drupada.

Sejarah Penyebab Kematian Raja Drupada dan Wirata Dalam Perang Baratayudha

Raja Drupada yang pada waktu mudanya bernama Arya Sucitra, adalah putra Arya Dupara dari Hargajambangan, dan merupakan turunan ke tujuh dari Bathara Brahma. Arya Sucitra bersaudara sepupu dengan Bambang Kumbayana/Resi Drona dan menjadi saudara seperguruan sama-sama berguru pada Resi Baratmadya.


Untuk mencari pengalaman hidup, Arya Sucitra pergi meninggalkan Hargajembangan, mengabdikan diri ke negara Astina kehadapan Prabu Pandudewanata. Ia menekuni seluk beluk tata kenegaraan dan tata pemerintahan.

Sewaktu muda ia belajar bersama dengan Drona, seorang brahmana miskin putra Baradwaja. Keduanya pun menjalin persahabatan akrab. Bahkan Drupada berjanji jika kelak ia menjadi raja menggantikan ayahnya, Drona akan diberinya sebagian dari wilayah Pancala.

Drupada akhirnya benar-benar menjadi raja Pancala sepeninggal ayahnya. Sementara itu, Drona menikah dengan Krepi adik perempuan Krepa, seorang brahmana di Kerajaan Kuruatau Hastinapura.

Karena kepatuhan dan kebaktiannya kepada negara, oleh Prabu Pandu ia di jodohkan/dikawinkan dengan Dewi Gandawati, putri sulung Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Drupadi, Dewi Srikandi dan Arya Drestadyumna.

Ketika Prabu Gandabayu wafat, dan berputra mahkota Arya Gandamana menolak menjadi raja, Arya Sucitra dinobatkan menjadi raja Pancala dengan gelar Prabu Drupada. Dalam masa kekuasaanya, Prabu Drupada berselisih dengan Resi Drona, dan separo dari wilayah negara Pancala direbut secara paksa melalui peperangan oleh Resi Drona dengan bantuan anak-anak Pandawa dan Kurawa.

DRUPADA MENJADI MUSUH RESI DRONA

Drona yang telah menikah dengan Krepi dikaruniai seorang putra bernama Aswatama. Demi untuk mencukupi makanan istri dan anaknya yang masih kecil, Drona datang ke Pancala meminta Drupada menepati janji persahabatannya dulu. Namun, Drupada justru menghina Drona dengan mengatakan kalau persahabatan hanya berlaku di antara orang-orang yang sederajat.

Drona kecewa dan menetap di Hastinapura. Di sana ia menjadi guru para pangeran Korawadan Pandawa. Beberapa tahun kemudian, Drona mengirim para Korawa untuk menangkap Drupada. Meskipun Korawa membawa banyak pasukan Hastinapura, namun Drupada dengan dibantu panglimanya yang bernama Satyajit berhasil memukul mundur mereka semua.

Para Pandawa ganti berangkat untuk menyerang Pancala. meskipun tanpa membawa pasukan, kelima putra Pandu tersebut berhasil menangkap Drupada dan menyerahkannya kepada Drona. dengan demikian, Drona telah berhasil merebut kekuasaan Pancala. Ia pun memberikan setengah dari wilayah kekuasaannya tersebut kepada Drupada.

SAYEMBARA DRUPADI

Kecantikan Dropadi yang luar biasa membuat banyak orang ingin menikahinya. Drupada pun mengadakan sayembara memanah untuk memilih siapa yang paling tepat menjadi menantunya. Sayembara tersebut hampir saja dimenangkan oleh Karna, sahabat para Korawa. Namun Dropadi dengan tegas menolak menjadi istri anak seorang kusir kereta.

Karna yang sakit hati mengumumkan bahwa Dropadi akan menjadi perawan tua karena sayembaranya terlalu sulit dan tidak ada lagi yang mampu memenangkannya. Drupada merasa khawatir mendengar ucapan Karna. Ia pun membuka pendaftaran baru untuk mengikuti sayembara memanah yang berhadiahkan Dropadi. Pendaftaran ini tidak hanya sebatas untuk kaum ksatriya saja, melainkan siapa saja boleh mendaftar.

Akhirnya yang berhasil memenangkan sayembara memanah ialah Arjuna, salah satu dari Pandawa yang saat itu sedang menyamar menjadi pendeta muda. Dropadi pun diserahkan kepadanya. Namun karena kesalah pahaman, ia diperistri oleh kelima Pandawa sekaligus. Dengan kata lain, sejak saat itu Drupada menjadi mertua Pandawa lima.

KEMATIAN DRUPADA DI KURU SHETRA

Beberapa tahun kemudian terjadi perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Dalam hal ini Drupada bertindak sebagai salah satu sekutu penting para Pandawa, sedangkan Drona berada di pihak Korawa.

Perang di Kurukshetra atau Baratayuda memakan waktu lebih dari sehari. Pada hari ke-15, Drona bertanding melawan Wirata raja Kerajaan Matsya. Dalam pertempuran tersebut Wirata tewas. Drupada kemudian maju menghadapi Drona. Di dalam perang besar Bharatayuda, Prabu Drupada tampil sebagai senapati perang Pandawa. Pertempuran antara keduanya akhirnya dimenangkan oleh Drona. Drupada tewas di tangan bekas sahabatnya.

Drona sendiri akhirnya tewas pula pada hari yang sama setelah kepalanya dipenggal oleh Drestadyumna putra Drupada.

Sejarah Asal Usul Drupada dalam kisah Mahabharata

Drona dilahirkan dalam keluarga brahmana(kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putera dari pendeta Bharadwaja, lahir di kota yang sekarang disebut Dehradun (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).


Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata. Bharadwajapergi bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak.

Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militerbersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.

Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki putera bernama Aswatama.

KISAH DRONA DENGAN DRUPADA

Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.

Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, "Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama". Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil.

Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmanadaripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.

PERAN DRONA PADA PERANG BARATAYUDHA

Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia merencanakan cara yang curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga belas.

Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, "Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya". Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona.

Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, "Aswatama mati".

Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, "naro va, kunjaro va" — "entah gajah atau manusia"). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.

Sejarah Asal Usul Guru Drona Dalam Kisah Mahabharata

Yudhistira cemas, tidak mungkin terompet kerang Kresna dibunyikan tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna. Pasti Arjuna terkena malapetaka, pikir Yudhistira.

Ia memanggil Satyaki dan berkata kepadanya, “Satyaki, engkau sahabat Arjuna yang terdekat. Tak ada yang tak dapat kaulakukan untuk menolong Arjuna. Pergilah engkau segera, bantulah Arjuna!

Satyaki menjawab, “Wahai Raja yang tak pernah berbuat dosa, aku akan lakukan perintahmu. Apa yang tidak kulakukan demi Arjuna? Tetapi ijinkan aku mengatakan bahwa Kresna dan Arjuna telah berpesan: sesaat pun aku tidak boleh meninggalkanmu sebelum mereka kembali dari menghabisi Jayadrata. Kata mereka, ‘Waspadalah dalam menjaga Yudhistira. Kami percayakan keselamatannya padamu. Durna berniat menculiknya.’ Kalau aku pergi, kepada siapa aku dapat mempercayakan keselamatanmu, Dharmaputra? Tak seorang pun di sini yang dapat menahan serangan Durna kalau ia datang menculikmu. Pikirkanlah masak-masak!”

Yudistira: "Satyaki, aku telah pikirkan masak-masak. Pergilah engkau dengan ijinku. Jangan khawatir, di sini ada Bhima, Drestajumena dan yang lain".

Satyaki: "Bima, jagalah Dharmaputra. Hati-hatilah engkau".

Mengetahui Satyaki pergi, Durna kembali menyerang Yudhistira dengan serangan yang lebih hebat dan pasukan lebih kuat.

Sudah lewat tengah hari, tetapi Arjuna belum juga kembali. Demikian pula Satyaki. Yudhistira cemas dan bingung, lebih-lebih karena pasukan Kurawa yang dipimpin Durna semakin dekat.

Yudistira: "Yayi Bima, aku khawatir Arjuna telah tewas dibunuh musuh. Bunyi trompet Kresna tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna membuatku bingung. Mungkin Kresna sudah mengangkat senjata, padahal ia telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata. Pergilah engkau, bergabunglah dengan mereka dan Satyaki. Lakukan apa yang harus kaulakukan dan kembalilah segera. Jika bertemu mereka dalam keadaaan hidup, mengaumlah seperti singa auman yang biasa engkau perdengarkan".

Bima berangkat memenuhi perintah kakaknya. Saat dihadang Durna, Bima melemparkan gada ke kereta Durna. Kereta itu hancur. Ksatria Jodipati itu maju sampai ke dekat tempat Arjuna bertarung melawan Jayadrata. Segera setelah melihat Arjuna, Bima mengaum bagai singa lapar. Suaranya berkumandang di udara. Kresna dan Arjuna mendengar Bima mengaum, lalu membalas dengan isyarat penuh kegembiraan.

Sayup-sayup Yudistira mendengar auman Bima. Maka hilanglah segala kecemasan dan keraguannya. Serta merta ia memanjatkan doa dan mengucapkan mantra demi keselamatan Arjuna. Mantra ini bersamaan dengan mantra Kresna yang membuat alam menjadi gulita. Jayadrata lengah, dipikirnya senja telah tiba dan Arjuna tidak berhasil melaksanakan sumpahnya, saat lehernya mendongak menatap awan hitam yang bergulung-gulung lepaslah anak panah dari Gandiwa Arjuna, detik itu juga terpenggallah kepala Jayadrata.

Kuwaluhan.com

Kematian Jayadrata membuat Durna murka merasa gagal melindungi, segera dikerahkan segenap daya menyerbu Arjuna, dari kiri kanan depan dan belakang senopati-senopati tangguh Kurawa mengeroyok Arjuna, Satyaki yang berada di dekat Arjuna segera berhadapan dengan Burisrawa. Secara licik, Burisrawa membokong Satyaki dari belakang, tendangannya mendarat di tengkuk Satyaki, dengan pongah diseretnya tubuh Satyaki yang setengah pingsan. Secepat kilat Arjuna melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat cepat, menyambar dan memotong tangan Burisrawa. Kesatria itu jatuh terpelanting ke tanah sambil memegangi pedangnya. Bhrisrawa menoleh ke arah Arjuna .

hei anak Dewi Kunti, aku tidak mengira serangan ini datangnya dari engkau. Menyerang dari belakang tidak sesuai dengan watak ksatria. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menahan pengaruh iblis dalam dirinya, tidak juga engkau yang sebenarnya patut dihormati."

Arjuna: "Wahai Burisrawa, engkau telah uzur, usia tua membuat penilaianmu berkarat. Ketahuilah, tidak mungkin aku diam saja, jika di hadapanku kawan yang hendak menolongku terancam jiwanya. Kawanku hendak kau sembelih, padahal ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Lebih baik aku masuk neraka jika tidak bisa menghalangi perbuatanmu".

Setelah ia kautundukkan sampai tak sadarkan diri, dengan keji kau berniat menebas lehernya. Watak kesatria seperti apa yang mengijinkan kamu menginjak-injak tubuh orang yang tak sadarkan diri? Tidakkah kau ingat bagaimana prajurit Kurawa bersorak-sorak dan menari-nari seperti iblis mengeroyok anakku, Abhimanyu, yang sudah tidak berdaya dan tanpa senjata.

Mendengar kata-kata Arjuna, Bhurisrawa terdiam. Kemudian ia bangkit dan meletakkan anak panahnya dekat kakinya. Lalu ia duduk di atas anak panah itu, seolah-olah duduk di tikar dengan kaki bersila. Kesatria tua itu bersamadi dan melakukan yoga. Melihat tindakan Bhurisrawa, pasukan Kurawa bersorak memujinya dan mengejek Arjuna dengan kata-kata pedas.

Arjuna berkata lagi kepada Bhurisrawa, dengan cukup keras agar bisa didengar oleh mereka yang ada di sekitar situ,

Engkau kesatria hebat. Engkau membela siapa pun yang datang meminta bantuanmu. Engkau seharusnya sadar, apa yang terjadi sekarang ini adalah akibat kesalahanmu. Tidak adil dan tidak benar jika kau menyalahkan aku. Kalau kau mau jujur, seharusnya kau berani menyalahkan dan mengutuk kekerasan dan nafsu perang yang menguasai kehidupan seluruh bangsa kesatria.”

Burisrawa menatap wajah Arjuna, lalu memberi hormat kepadanya dengan menundukkan kepala. Pada saat itulah Satyaki siuman. Ia segera bangkit. Melihat Burisrawa ada di dekatnya, kebencian dan amarahnya seketika memuncak. Tanpa menunggu-nunggu, dia mengambil pedang dari dekat situ lalu secepat kilat menebaskannya ke leher Burisrawa yang sedang duduk bersila dan bersamadi. Sebelum Arjuna dan Kresna sempat merampas pedang Satyaki, kepala Burisrawa telah lebih dulu terguling ke tanah. Ajaib! Badannya tetap dalam posisi beryoga.

Burisrawa gugur sebagai ksatria terhormat di medan laga, mengakhiri perang hari ke 14. Sesuai doa ibunya Dewi Setyawati, bahwa wadagnya boleh berujud denawa, tapi akhir hidupnya akan menjadi ksatria terhormat menuju nirwana.

Kematian Dan Kekalahan Jayadrata, kisah Mahabharata

Perang Baratayudha

Tepat pada perang Bharatayudha yang ke 17 hari, Karna menyuruh Raja Salya yang menjadi kusir keretanya untuk memacu kencang keretanya agar bisa mendekat kereta yang ditumpangi oleh Arjuna.

Namun baru berjalan beberapa meter, roda kereta kuda yang dikusiri Raja Salya terjerembab dalam sebuah lubang berlumpur. Karna menyuruh Raja Salya untuk mengangkat roda kereta yang masuk dalam lubang tersebut. Namun Salya menolak karena menurutnya ia hanya bertugas menjadi sais kereta saja bukan seorang pesuruh dan menyuruh Karna sendiri yang memperbaiki roda keretanya itu.

Untuk sementara Karna menatap Arjuna dan berharap agar Arjuna mau menahan diri sebelum dirinya benar-benar siap bertarung kembali. Karna pun turun dari keretanya itu, lalu menyimpan busurnya dan mencoba mengangkat sendiri roda kereta yang terjerembab dalam lubang yang penuh lumpur.

Sebagai seorang ksatria, Arjuna faham betul seperti apa tindakan seorang ksatria ketika menghadapi musuhnya yang belum siap, Ia pun hanya memandang Karna dari kejauhan.

Krishna yang bertugas menjadi kusir kereta yang ditumpangi Arjuna berkata, " Inilah waktunya untuk membalaskan kematian Abimanyu, angkat panahmu sekarang, Arjuna. "  Tidak, bhatin Arjuna menjerit, ia tidak sampai hati harus menjadi seorang pengecut dengan membunuh musuh yang belum siap untuk bertempur.

Namun, Krishna tetap mengingatkan Arjuna akan sumpahnya, dan bagaimana Karna dengan teganya membunuh Abimanyu. Hati Arjuna bergolak, namun karena ia masih memikirkan tentang Abimanyu anaknya yang mati muda akhirnya Arjuna pun mengangkat busurnya dan mengarahkan panahnya pada Karna yang masih sibuk mengangkat roda keretanya itu.

Karna sadar, bahwa ia tidak memiliki waktu untuk mengambil senjatanya sehingga ia pun memilih untuk diam menunggu, meski dalam versi lain disebutkan bahwa ia lupa bagaimana memanggil senjata Bramastra. Akhirnya dengan sekelebat panah yang dilepaskan dari busur Arjuna pun menembus leher Karna yang membuatnya terpental menjauh dari keretanya.

Kisah Mahabharata

Sesaat semuanya hening, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain hanya terdiam menyaksikan tubuh Karna yang terbaring, begitu juga Duryudana yang terkejut menyaksikan kematian sahabatnya itu.

Dalam keheningan, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang tampak sedang mencari anaknya, " Anakku .... dimana kau anakku, " katanya sambil terlihat mencari-cari seseorang. Dan ketika melihat tubuh Karna yang terbaring ia langsung menjerit, "Anakku...!!,"


Para pandawa yang melihat peristiwa tersebut kaget bukan kepalang, melihat sang ibunda menghampiri tubuh Karna lalu membaringkan tubuhnya dipangkuannya.

Terdengar dialog antara ibu dengan anak yang sudah lama berpisah itu, yang intinya adalah penyesalan dari Kunti yang telah membuang anaknya itu. Bayangan-bayangan lama pun muncul menceritakan bagaimana Kunti merasa sangat menyayangi anak yang telah dibuangnya itu.

Arjuna, dan para pandawa yang lain kembali terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Karna yang selama ini menjadi musuh mereka ternyata adalah saudara kandung dan kakak tertua mereka. Betapa sakitnya hati mereka menyaksikan kondisi Karna yang tengah sekarat, dan menyesalkan keadaan yang harus membuat mereka yang adalah saudara kandung menjadi musuh bebuyutan.

Di hadapan Karna yang sekarat, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain berjanji akan memperlakukan jenazahnya sebagaimana perlakukan seorang saudara kandung.
Dan mataharipun mulai tenggelam, meninggalkan kepedihan yang terjadi di antara ibu dan anak-anaknya itu.

Sejarah Kekalahan dan Kematian Karna Mahabharata


Setelah Raja Drupada dan Raja Wirata dibunuh oleh Drona, Bima dan Drestadyumna bertarung dengannya di hari kelima belas.

Karena Drona amat kuat dan memiliki brahamastra (senjata ilahi) yang tak terkalahkan, Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan menyerah apabila Aswatama - putranya - gugur dalam perang tersebut.


Kemudian Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, dan berteriak dengan keras bahwa Aswatama gugur.

Drona mendekati Yudistira untuk mencari kepastian tentang kematian putranya. Yudistira mengatakan "Ashwathama Hatha Kunjara", namun dua kata terakhir "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna (versi yang berbeda menyebutkan bahwa Yudistira melafalkan kata-kata terakhir tersebut dengan sangat rencana sehingga Drona tidak mendengar kata "gajah").

Sebelum peristiwa tersebut, kendaraan perang Yudistira, yang disebut Dharmaraja (Raja Kebenaran), melayang beberapa inci dari tanah.Setelah peristiwa tersebut, keretannya menyentuh tanah.


Setelah menduga bahwa putranya telah tiada, Drona merasa berdukacita, dan menjatuhkan senjatanya. Kemudian ia dibunuh oleh Drestadyumna untuk membalaskan dendam ayahnya sekaligus melaksanakan sumpahnya.

VERSI LAIN KEMATIAN DRONA

Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuddha. Ia tampil sebagai senapati perang Pandawa, menghadapi senapati perang Korawa, yaitu Resi Drona.

Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.

Penyebab kekalahan dan Kematian guru Drona dalam Perang Baratayudha