Social Items

Showing posts with label kematian Abimanyu. Show all posts
Showing posts with label kematian Abimanyu. Show all posts
Dalam sejarah Mahabharata, Bimalah yang menghabisi nyawa para Kurawa, Putra Si Buta Dretarastra. Hingga membuat Raja Dretarastra murka setelah perang berakhir, karena semua Keturunannya lenyap di tangan Bima(Werkudara).

Kisah Kematian para Kurawa

Pada suatu hari Dretarastra Marah atas kekalahan pasukan Kurawa, dan ingin membunuh Bima. Namun Sri Krishna tidak tinggal diam. Dengan kesaktiannya, Krishna mampu mengelabui Dretarastra yang ingin menghabisi Bima diganti dengan Patung menyerupai Bima. Patung tersebut hancur seketika jadi debu, karena kesaktiannya. Sedangkan Bima tetap selamat atas bantuan dari Sri Krishna.

Saat Perang Baratayudha berlangsung, Bima tidak segan untuk melenyapkan Kurawa, karena sakit hati yang dialami oleh Pandawa. Seperti Penindasan pada pandwa, direbutnya kerajaan Pandawa dan yang paling menyakitkan adalah Penghinaan terhadap Drupadi yang ditelanjangi oleh Dursasana di depan banyak orang. Dari peristiwa itu lah Bima mengucapkan Sumpahnya "Keturunan Dretarastra akan lenyap di tangan Bima".

Berikut kami sajikan Peristiwa Perang Baratayudha, Kematian dan Kekalahan dari pihak Kurawa :

KEMATIAN KAKEK BISMA

Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan Bisma menyusun suatu strategi. Mereka berencana untuk menempatkan Srikandi di depan kereta Arjuna, sementara Arjuna sendiri akan menyerang Bisma dari belakang Srikandi. Srikandi dipilih sebagai tameng Arjuna sebab ia adalah seorang wanita yang berganti kelamin menjadi pria, dan hal itu membuat Bisma enggan menyerang Srikandi.Disamping itu, Srikandi adalah reinkarnasi Amba, wanita yang mati karena perasaannya disakiti oleh Bisma, dan bersumpah akan terlahir kembali sebagai pembunuh Bisma yang menjadi penyebab atas penderitaannya.

Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak menghiraukan serangannya. Sebaliknya, ia malah tertawa, sebab ia tahu bahwa kehadiran Srikandi merupakan pertanda buruk yang mampu mengantarnya menuju takdir kekalahan. Bisma juga tahu bahwa ia ditakdirkan gugur karena Srikandi, maka dari itu ia merasa sia-sia untuk melawan takdirnya. Bisma yang tidak tega untuk menyerang Srikandi, tidak bisa menyerang Arjuna karena tubuh Srikandi menghalanginya. Hal itu dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu menembus baju zirahnya. Ratusan panah yang ditembakkan Arjuna menembus tubuh Bisma dan menancap di dagingnya.

Bisma terjatuh dari keretanya, namun badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah yang menancap di tubuhnya.Setelah Bisma jatuh, pasukan Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk menempatkan tiga anak panah di bawah kepalanya sebagai bantal. Kemudian, Bisma meminta dibawakan air.

Tanpa ragu, Arjuna menembakkan panahnya ke tanah, lalu menyemburlah air dari tanah ke mulut Bisma.Meskipun tubuhnya ditancapi ratusan panah, Bisma masih mampu bertahan hidup sebab ia diberi anugrah untuk bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, ia memberi wejangan kepada para cucunya yang melakukan peperangan. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu hidup selama beberapa hari sambil menyaksikan kehancuran pasukan Korawa.

KEMATIAN JAYADRATA

Setalah Kematian Abimanyu, Arjuna bersumpah untuk membunuh Jayadrata. Namun waktu yang dibutuhkan Arjuna sangat sedikit, karena Jayadrata bersembunyi. Hal ini membuat Yudhistira cemas, tidak mungkin terompet kerang Kresna dibunyikan tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna. Pasti Arjuna terkena malapetaka, pikir Yudhistira.

Ia memanggil Satyaki dan berkata kepadanya, “Satyaki, engkau sahabat Arjuna yang terdekat. Tak ada yang tak dapat kaulakukan untuk menolong Arjuna. Pergilah engkau segera, bantulah Arjuna!”

Satyaki menjawab, “Wahai Raja yang tak pernah berbuat dosa, aku akan lakukan perintahmu. Apa yang tidak kulakukan demi Arjuna? Tetapi ijinkan aku mengatakan bahwa Kresna dan Arjuna telah berpesan: sesaat pun aku tidak boleh meninggalkanmu sebelum mereka kembali dari menghabisi Jayadrata. Kata mereka, ‘Waspadalah dalam menjaga Yudhistira. Kami percayakan keselamatannya padamu. Durna berniat menculiknya.’ Kalau aku pergi, kepada siapa aku dapat mempercayakan keselamatanmu, Dharmaputra? Tak seorang pun di sini yang dapat menahan serangan Durna kalau ia datang menculikmu. Pikirkanlah masak-masak!”

Yudistira: "Satyaki, aku telah pikirkan masak-masak. Pergilah engkau dengan ijinku. Jangan khawatir, di sini ada Bhima, Drestajumena dan yang lain".

Satyaki: "Bima, jagalah Dharmaputra. Hati-hatilah engkau".

Mengetahui Satyaki pergi, Durna kembali menyerang Yudhistira dengan serangan yang lebih hebat dan pasukan lebih kuat.

Sudah lewat tengah hari, tetapi Arjuna belum juga kembali. Demikian pula Satyaki. Yudhistira cemas dan bingung, lebih-lebih karena pasukan Kurawa yang dipimpin Durna semakin dekat.

Yudistira: "Yayi Bima, aku khawatir Arjuna telah tewas dibunuh musuh. Bunyi trompet Kresna tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna membuatku bingung. Mungkin Kresna sudah mengangkat senjata, padahal ia telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata. Pergilah engkau, bergabunglah dengan mereka dan Satyaki. Lakukan apa yang harus kaulakukan dan kembalilah segera. Jika bertemu mereka dalam keadaaan hidup, mengaumlah seperti singa auman yang biasa engkau perdengarkan".

Bima berangkat memenuhi perintah kakaknya. Saat dihadang Durna, Bima melemparkan gada ke kereta Durna. Kereta itu hancur. Ksatria Jodipati itu maju sampai ke dekat tempat Arjuna bertarung melawan Jayadrata. Segera setelah melihat Arjuna, Bima mengaum bagai singa lapar. Suaranya berkumandang di udara. Kresna dan Arjuna mendengar Bima mengaum, lalu membalas dengan isyarat penuh kegembiraan.

Sayup-sayup Yudistira mendengar auman Bima. Maka hilanglah segala kecemasan dan keraguannya. Serta merta ia memanjatkan doa dan mengucapkan mantra demi keselamatan Arjuna. Mantra ini bersamaan dengan mantra Kresna yang membuat alam menjadi gulita. Jayadrata lengah, dipikirnya senja telah tiba dan Arjuna tidak berhasil melaksanakan sumpahnya, saat lehernya mendongak menatap awan hitam yang bergulung-gulung lepaslah anak panah dari Gandiwa Arjuna, detik itu juga terpenggallah kepala Jayadrata.

KEMATIAN GURU DRONA

Setelah Raja Drupada dan Raja Wirata dibunuh oleh Drona, Bima dan Drestadyumna bertarung dengannya di hari kelima belas.

Karena Drona amat kuat dan memiliki brahamastra (senjata ilahi) yang tak terkalahkan, Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan menyerah apabila Aswatama putranya gugur dalam perang tersebut.

Kemudian Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, dan berteriak dengan keras bahwa Aswatama gugur.

Drona mendekati Yudistira untuk mencari kepastian tentang kematian putranya. Yudistira mengatakan "Ashwathama Hatha Kunjara", namun dua kata terakhir "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna (versi yang berbeda menyebutkan bahwa Yudistira melafalkan kata-kata terakhir tersebut dengan sangat rencana sehingga Drona tidak mendengar kata "gajah").

Sebelum peristiwa tersebut, kendaraan perang Yudistira, yang disebut Dharmaraja (Raja Kebenaran), melayang beberapa inci dari tanah. Setelah peristiwa tersebut, keretannya menyentuh tanah.

Setelah menduga bahwa putranya telah tiada, Drona merasa berdukacita, dan menjatuhkan senjatanya. Kemudian ia dibunuh oleh Drestadyumna untuk membalaskan dendam ayahnya sekaligus melaksanakan sumpahnya.

 KEMATIAN DURSASANA 

Dursasana tewas pada perang baratayuda pada hari ke 16. Dia tewas dibunuh oleh Bima (pandawa). Sebelum dibunuh, dia disiksa terlebih dahulu dengan cara dipotong kedua tangannya, dan kemudian diminum darah nya. Tak hanya itu saja, drupadi juga menyusul ke medan pertempuran untuk mandi darahnya dursasana. Sangat mengerikan dan sadis.

Bima meminum darah dursasana

Pada versi lain pertempuran Barata Yuda Bima berhasil bertemu tanding dengan Dursasana, setelah beberapa saat mereka bertarung, terlihatlah bahwa Bima lebih unggul. Dursasana sudah mulai merasakan kesakitan pada badannya yang melemah.

Bima memandang dengan penuh dendam, teringat perbuatan si Dursasana yang mempermalukan Dewi Drupadi isteri kakaknya Yudistira. Sesaat kemudian berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di sekitarnya,  ia menyeret si Dursasana.

”Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihat inilah  Bima  yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dursasana inilah yang akan aku minum.  Lihatlah!

”Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya.”

“Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dursasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. bah !”

“bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akankah kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? ”

“Mengapa, kamu berusaha untuk bangkit lagi!”

Demikianlah ucapan Bima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dursasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, dia merobek perut itu dengan kukunya yang sangat tajam, pada saat Dursasana masih hidup.

Pada ketika itu Dursasana menjadi tidak sadarkan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan; kemudian setelah perut yang sudah robek itu, dada Dursasana juga di sudet  lebih lebar lagi.

Kelihatannya seolah-olah Dursasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit.

Dan saat itu tiba ketika Bima minum darah orang yang masih hidup itu, Dursasana dengan gelap mata memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bima, padahal badannya sedang berkelojotan sekarat.

Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bima minum darah dan dengan ketetapan hati dan mata merah dan marah, menarik usus Dursasana keluar dari perutnya.

Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar.

Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjulang ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dursasana ke atas, dan jatuh ketempat Suyudana berdiri disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. ”Inilah pembantumu, bah!”
Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya. Telah bertahun-tahun dia menunggu saat ini. Saat penggenapan sumpahnya ketika dia dipermalukan oleh Dursasana. Bahwa dia tidak akan menggelung lagi rambutnya hingga dia bisa keramas dengan darah Dursasana.

”Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya kepada perempuan abdinya, yang segera membawa bokor itu ke arah Bima. Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu.

Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima memeras darah dari mayat Dursasana. Perang memang hanya berisi kekejaman. Benar dan salah hanya kekerasan. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria?

”Inilah air kutukan itu, Dewi.” Bima menyerahkan bokor itu kepada Drupadi yang sedang berada didalam tenda.

Bokor itu berisi darah, namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana, ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya. Maka terjadilah penggenapan sumpahnya dia berkeramas dengan darah Dursasana.

KEMATIAN RAJA ANGGA KARNA

Pada perang Bharatayudha yang ke 17 hari, Karna menyuruh Raja Salya yang menjadi kusir keretanya untuk memacu kencang keretanya agar bisa mendekat kereta yang ditumpangi oleh Arjuna.

Namun baru berjalan beberapa meter, roda kereta kuda yang dikusiri Raja Salya terjerembab dalam sebuah lubang berlumpur. Karna menyuruh Raja Salya untuk mengangkat roda kereta yang masuk dalam lubang tersebut. Namun Salya menolak karena menurutnya ia hanya bertugas menjadi sais kereta saja bukan seorang pesuruh dan menyuruh Karna sendiri yang memperbaiki roda keretanya itu.

Untuk sementara Karna menatap Arjuna dan berharap agar Arjuna mau menahan diri sebelum dirinya benar-benar siap bertarung kembali. Karna pun turun dari keretanya itu, lalu menyimpan busurnya dan mencoba mengangkat sendiri roda kereta yang terjerembab dalam lubang yang penuh lumpur.

Sebagai seorang ksatria, Arjuna faham betul seperti apa tindakan seorang ksatria ketika menghadapi musuhnya yang belum siap, Ia pun hanya memandang Karna dari kejauhan.

Krishna yang bertugas menjadi kusir kereta yang ditumpangi Arjuna berkata, " Inilah waktunya untuk membalaskan kematian Abimanyu, angkat panahmu sekarang, Arjuna. "  Tidak, bhatin Arjuna menjerit, ia tidak sampai hati harus menjadi seorang pengecut dengan membunuh musuh yang belum siap untuk bertempur.

Namun, Krishna tetap mengingatkan Arjuna akan sumpahnya, dan bagaimana Karna dengan teganya membunuh Abimanyu. Hati Arjuna bergolak, namun karena ia masih memikirkan tentang Abimanyu anaknya yang mati muda akhirnya Arjuna pun mengangkat busurnya dan mengarahkan panahnya pada Karna yang masih sibuk mengangkat roda keretanya itu.

Karna sadar, bahwa ia tidak memiliki waktu untuk mengambil senjatanya sehingga ia pun memilih untuk diam menunggu, meski dalam versi lain disebutkan bahwa ia lupa bagaimana memanggil senjata Bramastra. Akhirnya dengan sekelebat panah yang dilepaskan dari busur Arjuna pun menembus leher Karna yang membuatnya terpental menjauh dari keretanya.

KEMATIAN SENGKUNI

Setelah gugurnya Prabu Salya di medan Kurusetra, kini ganti  Patih Sengkuni dengan kereta perangnya  memasuki Medan Kurusetra,  menuju  pertahanan Pandawa.  Ternyata Patih Sengkuni betul betul mahir dalam memainkan segala senjata, dari panah, pedang, juga gada.

Berkali kali senjata senjata Pandawa mengenai tubuh Sengkuni namun, tidak satupun bisa melukai Sengkuni. Bahkan Sengkuni melepaskan berbagai panah ke arah Arjuna dan  Patih Sengkuni berhasil mematahkan serangan panah Arjuna.

Werkudara mencegat kereta perang Sengkuni. Werkudara memaksa Sengkuni turun dari Kereta perang   Sengkuni pun turun. Terjadi perkelahian antara Werkudara dan Sengkuni Berkali-kali Werkudara memukul tubuh Sengkuni dengan Gada Rujakpolo. Namun Sengkuni hanya ketawa-ketawa, ia tidak merasakan kesakitan.

Werkudara terus memukul Sengkuni dari kepala, dada, perut, sampai paha,betis dan telapak kaki, namun kelihatannya tidak merasakan apa apa Werkudara tidak patah semangat. Gada Rujakpolo ditinggalkan, Werkudara maju menghadapi Sengkuni, terjadilah perkelahian, berkali-kali Werkudara menangkap Sengkuni, namun kulit Sengkuni licin bagaikan  belut, sehingga selalu lepas.

Werkudara terus melawan Sengkuni. Werkudara, teringat masa  lalu, kejadian Bale Sigolo golo, yang  hampir membawa korban para Pendawa, itu karena perbuatan Sengkuni.

Perang dadu, itu ide Sengkuni yan mencurangi Pandawa, hingga Pandawa sengsara 13 tahun di hutan. Sedangkan Sengkuni merasa kecewa ketemu Prabu Pandu di Mandura, waktu sayembara memperebutkan Dewi Kunti, Sengkuni menyerahkan  Dewi Gendari, kakaknya pada Pandu, dengan harapan agar kakaknya  bisa berbahagia bersama Pandu. tetapi ternyata kakaknya  di berikan pada Drestarastra.

Andaikata Dewi Gendari tidak diberikan pada Drestarastra, Kurawa itu menjadi anak Pandu. Sehingga Pandu akan memiliki 105 anak. Pastilah Astina sangat kuat. Dan tidak ada perang Barata Yudha. Semua ini gara-gara Pandu. Maka Sengkuni ingin membunuh anak-anak Pandu, yang telah membikin sengsara.

Werkudara capek menghadapi Sengkuni. Tiba-tiba Werkudara ingat, bahwa kulit Sengkuni amat licin, dan peluhnya berbau minyak tolo (sejenis minyak tanah), pasti ada hubungannya waktu Kurawa dan Pendawa masih kecil bermain di sumur tua menemukan cupu minyak tolo milik kakek Abiyasa yang berisi minyak kesaktian. Yang akhirnya minyak tersebut diambil Sengkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya.

Werkudara langsung meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas.

Werkudara memasukkan  kuku Pancanaka  kedalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum minyak tolo,maka dengan mudah   dirobek robeknya sampai kedalam leher dan menembus ke jantungnya. Namun Sengkuni masih hidup. Ia mengerang kesakitan. Werkudara menjadi ngeri dan ketakutan. Walaupun sudah luka berat, Sengkuni tidak mati mati.

Prabu Kresna meminta Werkudara bisa menyempurnakan kematiannya. Werkudara akhirnya mengerti
keadaan ini dikarenakan kesaktian Lengo tolo yang dioleskan kesekujur tubuh Sengkuni. Setelah terkelupas kulitnya, akhirnya Sengkuni pun Gugur.

Dalam kisah lain Perang Baratayudha dikisahkan bahwa Sadewalah yang pertama kali melawan Sengkuni.
Dan Sadewa akhirnya berhasil mengalahkannya.

Di tengah-tengah pertempuran tersebut, Bima meminta Sadewa agar ia diperkenankan untuk melanjutkan pergulatannya dengan Sangkuni. Ya, tentu saja bukan lawan yang sepadan. Sangkuni pun langsung tak berkutik.

Di tengah ketidakberdayaannya inilah Bima menyobek mulut Sangkuni selebar-lebarnya hingga ke ujung telinganya.

Ada juga sebuah versi cerita menyebutkan, Bima juga menguliti Sangkuni dan dibiarkan sekarat. Ia baru mati ketika tubuhnya disandingkan dengan Duryudana yang sama-sama sekarat. Kalau di versi terakhir berarti ia sekarat sehari lebih.

KEMATIAN DURYUDANA

Pada akhir Perang Baratayudha dan Setelah kematian Prabu Salya ditangan Yudistira, tentara Hastina telah kehilangan panglima perangnya. Duryudana dengan ketakutan melarikan diri kedalam hutan dan menghilang. Kubu Kurawa kini tanpa pemimpin dan mengundurkan diri ke perkemahannya. Berhari2 tidak tampak kegiatan dari kubu Hastina untuk melanjutkan pertempuran, selama Kubu Pendawa selalu siap sedia dengan tentaranya, dengan Bima memimpin tentara penggempur, Arjuna di sebelah kanan dan Nakula Sadewa di sisi kiri.

Setelah lewat seminggu, banyak raja dan adipati pendukung Hastina telah pulang kembali ke tempat asal mereka sementara beberapa tentara telah menyerah kepada Pendawa. Melalui tentara yang menyerah diketahui bahwa Duryudana telah menghilang kedalam hutan selama seminggu. Sri Kresna mengerti bahwa inilah saatnya untuk mengakhiri Bharatayuda. Bersama Pendawa, Sri Kresna datang ke perkemahan Hastina. Terlihat tentara2 Hastina sudah tidak ada niat untuk perang dan patah semangat. Dengan mudahnya Sri Kresna menemukan Duryudana yang sedang berendam di dalam sebuah danau di hutan. Ketika disapa, Duryudana terlihat seperti orang linglung. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, Duryudana menjawab, “Aku sedang merenungkan saudara2ku yang telah gugur”.

Sri Kresna kemudian bertanya apa yang akan dilakukan oleh Duryudana, “Aku akan menyerahkan tahta Hastina kepada Yudistira dan akan membuang diriku ke dalam rimba seperti yang dilakukan oleh para Pendawa”. Yudistira yang adil dan bijaksana kemudian berkata bahwa dirinya tidak ingin Hastina, yang diminta hanyalah Indrapasta. Duryudana dipersilahkan memilih salah satu diantara kelima Pendawa sebagai lawan tandingnya, jika Duryudana menang maka dirinya tetap berkuasa di Hastina sementara Pendawa akan menetap di Indrapasta. Setelah berkata itu, Pendawa dan Sri Kresna meninggalakan Duryudana. Duryudana kemudian mulai berpikir siapa yang akan dipilih sebagai lawannya, Yudistira orangnya sabar dan mempunyai ilmu yang aneh, bisa2 dirinya berakhir seperti Prabu Salya. Bima memang Duryudana dendam kepada Bima dan walau kekuatan mereka hampir seimbang, Bima mempunyai ajian2 kekuatan yang berbahaya. Arjuna tidak mungkin karena orangnya sangat sakti dan mempunyai banyak senjata pusaka, dalam sekejap dirinya bisa habis. Nakula Sadewa keduanya amat lincah dan pintar menggunakan pedang dan panah, dirinya bisa diiris2 atau dijadikan sate dengan panah.

Keesokan harinya para Pendawa telah siap di Kuruserta, lengkap dengan senjatanya kecuali Yudistira yang tidak bersenjata tapi tampak tenang2 saja. Kemudian tampak Duryudana dengan gagahnya datang bersenjatakan sebuah gada. Sebagai wasit ialah Prabu Baladewa, orangnya jujur dan menjunjung tinggi keadilan sementara pendiriannya tidak memihak Kurawa maupun Pendawa walau dirinya masih bersaudara dengan Pendawa. Baladewa kemudian bertanya siapakah yang ditantang oleh Duryudana, jawaban Duryudana “Aku memilih Bima yang telah paling banyak membantai saudara2 Kurawa, menghirup darah Durasana dan merobek mulut paman Sangkuni!” Bima yang juga mengharapkan dirinya mendapat kesempatan untuk melawan Duryudana segera maju kedepan membawa gadanya yang sebesar kepala.

Baladewa memberi ketentuan bahwa pertarungan ini adalah antara dua ksatria dan tidak boleh ada pihak ketiga. Ketika mulai, tampak pertarungan berlangsung dengan seimbang, Duryudana yang biasanya pengecut kali ini bertarung mati2an karena menaruh harap untuk menjadi raja di Hastina. Lama kelamaan terlihat bahwa Bima lebih unggul, mahkota Duryudana telah hancur terhantam oleh gada bima kemudian tubuh Duryudana terkena pukulan langsung sehingga terpental. Semua orang mengira Duryudana telah kalah tapi anehnya, Duryudana bangun kembali seperti tidak kesakitan oleh pukulan Bima. Hal ini terjadi berkali2 sehingga akhirnya Bimapun mulai lelah karena pertarungan yang berkepanjangan. Suatu ketika Bima agak lengah sehingga mahkutanyapun hancur dihantam oleh gada Duryudana. Arjuna yang cemas akan keselamatan saudaranya mendekati Sri Kresna dan bertanya kenapa Duryudana tak jatuh2.

Oleh Sri Kresna dijelaskan bahwa ketika bayi Duryudana dimandikan oleh air suci, sehingga kini badannya keras bagaikan besi jika dipukul akan sakit tapi segera sembuh kembali. Arjuna menjadi cemas dan menanyakan bagaimana cara mengalahkannya. Sri Kresna menjawab, “Ketika dimandikan, paha kirinya tertutup oleh sehelai daun, itulah kelemahannya. Sekarang adik Arjuna dekati Bima sambil pura2 menonton dan tepuk paha kiri untuk memberi tanda pada adik Bima”. Arjuna segera melaksanakan perintah Sri Kresna, dan mendekati pertarungan sambil menepuk paha kirinya.

Bima yang otaknya encer segera mengerti maksud Arjuna segera mengeluarkan aji Bayubraja dan dihantamkan sekuat tenaga ke paha kiri Duryudana. Pukulan Bima kena tepat pada paha kiri Duryudana dan Duryudana segera terjatuh sambil berteriak kesakitan. Bima kemudian menghentikan serangannya karena Duryudana sudah tidak berdaya. Duryudana tapi berteriak minta dihabisi karena dirinya sudah tak berdaya, namun sebagai ksatria Bima pantang menyerang orang yang tidak berdaya.

Sri Kresna kemudian menjelaskan bahwa Bima harus mengakhiri nyawa Duryudana karena dalam keadaan seperti itu Duryudana akan menjadi cacat dan selamanya tidak berguna lagi. Sebagai sesama ksatria Bima harus menghormati lawannya dan mengakhiri hidup Duryudana. Bima kemudian mendekati Duryudana dan mengayunkan gadanya ke kepala Duryudana. Baladewa kemudian menghentikan pertarungan dan menyatakan kemenangan Bima. Dengan begitu berakhirlah perang Bharatayuda dengan kemenangan bagi pihak Pendawa.

KEMATIAN ASWATAMA

Aswatama baru muncul setelah mengetahui Kurawa telah hampir ludas dan Duryudana sedang sekarat menghadapi ajal. Lebih-lebih setelah mengetahui bahwa ayahnya telah ajal di tangan Drestajumena. Timbul niatnya ingin membalas. Tapi untuk secara terang-terangan berhadapan dengan pandawa ia merasa tak mampu. Jalan satu-satunya mengadakan gerakan di bawah tanah membuat terowongan yang arahnya menuju ke Pesanggrahan Pandawa dan harus dikerjakan di malam hari untuk tidak diketahui pihak Pandawa. Tapi waktu itu bulan sedang gelap.

Tiba-tiba ia teringat ibunya seorang bidadari dari khayangan untuk dimintai tolong memberi penerangan selama ia bekerja. Dipanggilnya melalui semadi dan seketika itu sang ibu telah berada di hadapannya seraya berkata: “Anakku, ibu mengerti engkau kesulitan membuat jalan di bawah tanah. Tetapi perang telah berakhir lebih baik engkau menyerah supaya engkau selamat,” pintanya.

“Menyerah? Oh tidak. hamba tidak akan menyerah sebelum dapat membalas kematian resi dan raja hamba Duryudana yang sedang sekarat menghadapi ajal,” tolaknya tegas.

“Baiklah jika itu pilihanmu. Ibu akan menerangi dengan cahaya yang terang benderang selama engkau bekerja jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Jika kau langgar, selain cahaya akan lenyap seketika, kau pun akan tercatat sebagai anak durhaka dan akan menerima hukuman yang amat berat,” Aswatama menyanggupi karena pikirnya, apa susahnya tidak menoleh ke belakang.

Maka seketika menggebyarlah cahaya yang amat terang benderang di sekitar itu dan Aswatama pun mulai bekerja membuat lubang. lalu dari mana datangnya cahaya itu? Ternyata cahaya yang terang benderang itu datangnya dari tubuh sang bidadari setelah menanggalkan seluruh busananya kecuali penutup aurat.

Itulah sebabnya Aswatama dilarang menoleh kebelakang. Mula-mula ia bekerja seperti biasa. Tapi lama-lama badan dan kepalanya merasa pegal karena tak bergerak bebas. Di samping itu timbul keingintahuan cahaya dari mana yang diberikan ibunya. Cahaya dari swarga atau lampu dunia. Maka seketika itu ia nekad menoleh ke belakang dan… terdengar suara jerit sang bidadari seiring dengan itu keadaan menjadi gelap gulita. Sang Dewi terbang kembali ke khayangan seraya berkata: “Kau anak durhaka Aswatama.”

Tapi Aswatama tidak menyesal dengan kejadian itu, karena jarak menuju pesanggrahan Pandawa sudah amat dekat dan dalam tempo yang tidak lama, ia telah muncul di permukaan pesanggrahan Pandawa.

Waktu itu para satria sedang tidur lelap tak seorang pun yang terjaga. Maka dengan tenang si anak resi itu membunuh satu persatu para satria Pandawa seperti Drestajumena, Pancawala, Srikandi dan lain-lain. Ketika melangkah ke sebuah kamar, dilihatnya seorang anak bayi yang tak lain Parikesit anak Abimanyu, generasi penerus keturunan Pandawa yang harus segera di lenyapkan. Namun tiba-tiba Dewi Utari terjaga dan menjerit minta tolong sehingga si pembunuh bertangan dingin itu langsung kabur. Sebelum masuk ke hutan ia sempat memberitahu Duryudana yang sedang sekarat, bahwa sakit hatinya telah terbalas dan raja Astina merasa puas kemudian menghembuskan nafasnya.

Keadaan menjadi gempar, Bima, Arjuna dan Kresna segera mengejar si pembunuh ke dalam hutan. Akhirnya Aswatama tak berdaya dihajar Bima walau dapat meloloskan diri. Namun sebuah panah yang dilepas Arjuna tidak dapat dihindari menancap di dadanya. Sewaktu sukmanya akan berpisah dari raganya, Kresna mengutuknya hingga sukmanya amblas ke dasar bumi bersatu dengan binatang-binatang kotor merana salam tiga ribu tahun lamanya.

Sejarah Kematian Kurawa dan Pasukan Kurawa, kisah Mahabharata

Srikandi atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma.

Kuwaluhan.com

Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk femininnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

KELAHIRAN SRIKANDI

Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya.

Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

PERAN SRIKANDI DALAM PERANG BARATAYUDHA


Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur.

Kuwaluhan.com

Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

SRIKANDI VERSI JAWA

Menurut kisah pewayangan Jawa, Srikandi lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.

Kuwaluhan.com

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.

Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.

Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha. Sedangkan dalam kisah Mahabharata versi India, Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

Kisah Kelahiran dan Kematian Srikandi Mahabharata

Yudhistira cemas, tidak mungkin terompet kerang Kresna dibunyikan tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna. Pasti Arjuna terkena malapetaka, pikir Yudhistira.

Ia memanggil Satyaki dan berkata kepadanya, “Satyaki, engkau sahabat Arjuna yang terdekat. Tak ada yang tak dapat kaulakukan untuk menolong Arjuna. Pergilah engkau segera, bantulah Arjuna!

Satyaki menjawab, “Wahai Raja yang tak pernah berbuat dosa, aku akan lakukan perintahmu. Apa yang tidak kulakukan demi Arjuna? Tetapi ijinkan aku mengatakan bahwa Kresna dan Arjuna telah berpesan: sesaat pun aku tidak boleh meninggalkanmu sebelum mereka kembali dari menghabisi Jayadrata. Kata mereka, ‘Waspadalah dalam menjaga Yudhistira. Kami percayakan keselamatannya padamu. Durna berniat menculiknya.’ Kalau aku pergi, kepada siapa aku dapat mempercayakan keselamatanmu, Dharmaputra? Tak seorang pun di sini yang dapat menahan serangan Durna kalau ia datang menculikmu. Pikirkanlah masak-masak!”

Yudistira: "Satyaki, aku telah pikirkan masak-masak. Pergilah engkau dengan ijinku. Jangan khawatir, di sini ada Bhima, Drestajumena dan yang lain".

Satyaki: "Bima, jagalah Dharmaputra. Hati-hatilah engkau".

Mengetahui Satyaki pergi, Durna kembali menyerang Yudhistira dengan serangan yang lebih hebat dan pasukan lebih kuat.

Sudah lewat tengah hari, tetapi Arjuna belum juga kembali. Demikian pula Satyaki. Yudhistira cemas dan bingung, lebih-lebih karena pasukan Kurawa yang dipimpin Durna semakin dekat.

Yudistira: "Yayi Bima, aku khawatir Arjuna telah tewas dibunuh musuh. Bunyi trompet Kresna tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna membuatku bingung. Mungkin Kresna sudah mengangkat senjata, padahal ia telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata. Pergilah engkau, bergabunglah dengan mereka dan Satyaki. Lakukan apa yang harus kaulakukan dan kembalilah segera. Jika bertemu mereka dalam keadaaan hidup, mengaumlah seperti singa auman yang biasa engkau perdengarkan".

Bima berangkat memenuhi perintah kakaknya. Saat dihadang Durna, Bima melemparkan gada ke kereta Durna. Kereta itu hancur. Ksatria Jodipati itu maju sampai ke dekat tempat Arjuna bertarung melawan Jayadrata. Segera setelah melihat Arjuna, Bima mengaum bagai singa lapar. Suaranya berkumandang di udara. Kresna dan Arjuna mendengar Bima mengaum, lalu membalas dengan isyarat penuh kegembiraan.

Sayup-sayup Yudistira mendengar auman Bima. Maka hilanglah segala kecemasan dan keraguannya. Serta merta ia memanjatkan doa dan mengucapkan mantra demi keselamatan Arjuna. Mantra ini bersamaan dengan mantra Kresna yang membuat alam menjadi gulita. Jayadrata lengah, dipikirnya senja telah tiba dan Arjuna tidak berhasil melaksanakan sumpahnya, saat lehernya mendongak menatap awan hitam yang bergulung-gulung lepaslah anak panah dari Gandiwa Arjuna, detik itu juga terpenggallah kepala Jayadrata.

Kuwaluhan.com

Kematian Jayadrata membuat Durna murka merasa gagal melindungi, segera dikerahkan segenap daya menyerbu Arjuna, dari kiri kanan depan dan belakang senopati-senopati tangguh Kurawa mengeroyok Arjuna, Satyaki yang berada di dekat Arjuna segera berhadapan dengan Burisrawa. Secara licik, Burisrawa membokong Satyaki dari belakang, tendangannya mendarat di tengkuk Satyaki, dengan pongah diseretnya tubuh Satyaki yang setengah pingsan. Secepat kilat Arjuna melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat cepat, menyambar dan memotong tangan Burisrawa. Kesatria itu jatuh terpelanting ke tanah sambil memegangi pedangnya. Bhrisrawa menoleh ke arah Arjuna .

hei anak Dewi Kunti, aku tidak mengira serangan ini datangnya dari engkau. Menyerang dari belakang tidak sesuai dengan watak ksatria. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menahan pengaruh iblis dalam dirinya, tidak juga engkau yang sebenarnya patut dihormati."

Arjuna: "Wahai Burisrawa, engkau telah uzur, usia tua membuat penilaianmu berkarat. Ketahuilah, tidak mungkin aku diam saja, jika di hadapanku kawan yang hendak menolongku terancam jiwanya. Kawanku hendak kau sembelih, padahal ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Lebih baik aku masuk neraka jika tidak bisa menghalangi perbuatanmu".

Setelah ia kautundukkan sampai tak sadarkan diri, dengan keji kau berniat menebas lehernya. Watak kesatria seperti apa yang mengijinkan kamu menginjak-injak tubuh orang yang tak sadarkan diri? Tidakkah kau ingat bagaimana prajurit Kurawa bersorak-sorak dan menari-nari seperti iblis mengeroyok anakku, Abhimanyu, yang sudah tidak berdaya dan tanpa senjata.

Mendengar kata-kata Arjuna, Bhurisrawa terdiam. Kemudian ia bangkit dan meletakkan anak panahnya dekat kakinya. Lalu ia duduk di atas anak panah itu, seolah-olah duduk di tikar dengan kaki bersila. Kesatria tua itu bersamadi dan melakukan yoga. Melihat tindakan Bhurisrawa, pasukan Kurawa bersorak memujinya dan mengejek Arjuna dengan kata-kata pedas.

Arjuna berkata lagi kepada Bhurisrawa, dengan cukup keras agar bisa didengar oleh mereka yang ada di sekitar situ,

Engkau kesatria hebat. Engkau membela siapa pun yang datang meminta bantuanmu. Engkau seharusnya sadar, apa yang terjadi sekarang ini adalah akibat kesalahanmu. Tidak adil dan tidak benar jika kau menyalahkan aku. Kalau kau mau jujur, seharusnya kau berani menyalahkan dan mengutuk kekerasan dan nafsu perang yang menguasai kehidupan seluruh bangsa kesatria.”

Burisrawa menatap wajah Arjuna, lalu memberi hormat kepadanya dengan menundukkan kepala. Pada saat itulah Satyaki siuman. Ia segera bangkit. Melihat Burisrawa ada di dekatnya, kebencian dan amarahnya seketika memuncak. Tanpa menunggu-nunggu, dia mengambil pedang dari dekat situ lalu secepat kilat menebaskannya ke leher Burisrawa yang sedang duduk bersila dan bersamadi. Sebelum Arjuna dan Kresna sempat merampas pedang Satyaki, kepala Burisrawa telah lebih dulu terguling ke tanah. Ajaib! Badannya tetap dalam posisi beryoga.

Burisrawa gugur sebagai ksatria terhormat di medan laga, mengakhiri perang hari ke 14. Sesuai doa ibunya Dewi Setyawati, bahwa wadagnya boleh berujud denawa, tapi akhir hidupnya akan menjadi ksatria terhormat menuju nirwana.

Kematian Dan Kekalahan Jayadrata, kisah Mahabharata

Setelah sekian lama para Pandawa merasakan Penghinaan dan Penindasan oleh Saudara nya sendiri yaitu Kurawa, akhirnya Perang pun tidak bisa di hindari lagi. Perang di Kurukshetra Ini memakan waktu cukup lama, dan banyak kesatria yang gugur dikedua belah pihak.


Pertempuran hari pertama

Setelah isyarat penyerangan diumumkan, kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang tentara Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu putra Arjuna melihat hal tersebut dan menyuruh para pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya, namun usaha para kesatria Pandawa tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan.

Putra Raja Wirata – Utara – maju menghadapi Salya Raja Madra. Utara yang menaiki gajah perang, mencoba melumpuhkan kereta perang Salya. Setelah keretanya lumpuh, Salya meluncurkan senjata lembingnya ke arah Utara. Senjata tersebut menembus baju zirah Utara. Kemudian, Salya menyerang gajah tunggangan Utara dengan panah-panahnya. Utara dan gajahnya pun gugur seketika. Setelah Utara gugur, Sweta mengamuk. Dengan nafsu membunuh, ia mengejar Salya. Para kesatria Korawa yang menyadari hal itu segera melindungi Salya, namun tidak ada yang mampu mengatasi kemarahan Sweta. Akhirnya Bisma turun tangan. Dengan senjata khusus, ia memanah Sweta sehingga kesatria tersebut gugur seketika.

Ketidakmampuan Pandawa melawan Bisma, serta kematian Utara dan Sweta di hari pertama, membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.


Pertempuran hari kedua

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali.

Bima yang melihat keadaan tersebut menyongsong Drestadyumna dan menyelamatkan nyawanya. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Satyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.


Pertempuran hari ketiga

Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna.

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri.

Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna. Kemudian kereta Arjuna diserbu oleh berbagai panah dan tombak. Dengan kemahirannya yang hebat, Arjuna membentengi keretanya dengan arus panah yang tak terhitung jumlahnya.

Abimanyu dan Satyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bima dan putranya, Gatotkaca, menyerang Duryodana yang berada di barisan belakang. Panah Bima melesat menuju Duryodana yang menukik di atas keretanya. Kusir keretanya segera membawanya menjauhi pertempuran.

Tentara Duryodana melihat pemimpinnya menjauhi pertarungan. Bisma melihat hal tersebut lalu menyuruh agar pasukan bersiap siaga dan membentuk kembali formasi, kemudian Duryodana datang kembali dan memimpin tentaranya. Duryodana marah kepada Bisma karena masih segan untuk menyerang para Pandawa. Bisma kemudian sadar dan mengubah perasaannnya kepada para Pandawa.

Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bisma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil sejata cakranya dan berlari ke arah Bisma. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.


Pertempuran hari ke empat

Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima.

Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para kesatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur.
Pada hari itu, Duryodana merasa sedih telah kehilangan saudara-saudaranya.

Saat pertempuran di hari itu berakhir, Duryodana yang diliputi duka dan kekecewaan datang menemui Bisma untuk menanyakan penyebab Pandawa mampu bertahan dan mengalahkan kekuatan pasukan Korawa yang konon amat dahsyat. Bisma menjawab bahwa Pandawa bertindak di bawah panji kebenaran, sehingga lebih baik mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Namun Duryodana yang keras kepala tidak mau menuruti nasihat tersebut.


Pertempuran hari kelima

Pada hari kelima, pertempuran terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Satyaki berhadapan dengan Drona dan kesulitan untuk membalas serangannya. Bima pergi meninggalkan Srikandi yang menyerang Bisma. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Satyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawa dan kemudian Satyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Satyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.


Pertempuran hari keenam

Yudistira menyuruh Drestadyumna agar membentuk formasi Makara, dengan Drupada dan Arjuna sebagai pemimpin garis depan. Untuk menandingi kekuatan Yudistira, Bisma menginstruksikan agar pasukan Korawa membentuk formasi burung bangau, dengan Balhika dan angkatan perangnya sebagai pemimpin garis depan.

Bima bertarung melawan Drona dengan sengit. Bima memanah kusir kereta Drona sehingga tewas seketika. Drona mengambil alih kedudukan kusirnya, lalu menghancurkan sebagian besar pasukan Pandawa. Serangan Drona dihadapi oleh Drestadyumna. Sementara itu, Bima melancarkan serangan ke garis pertahanan yang terdiri dari putra-putra Dretarastra, yaitu:
Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Duskarna, Karna (Karna adik Duryodana, bukan Karna sahabat Duryodana).

Mereka semua mengepung Bima dari segala penjuru. Bima meloncat turun dari keretanya sambil membawa gada. Di tengah pasukan musuh, Bima mengamuk sehingga pasukan Korawa kacau-balau. Melihat Bima dalam bahaya, Drestadyumna segera meninggalkan Drona dengan maksud membantu Bima. Dengan bantuan Drestadyumna, Bima menghancurkan pasukan Korawa dengan lebih mudah.

Setelah menyaksikan Bima dalam bahaya, Yudistira mengirim Abimanyu untuk membantu pamannya tersebut. Abimanyu melawan para putra Dretarastra, sementara Duryodana dihadapi oleh lima putra Dropadi, yaitu Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika, dan Srutakirti. Menjelang sore hari, Bisma masih mengamuk menghancurkan pasukan Pandawa. Akhirnya, matahari terbenam dan seluruh pasukan ditarik mundur pada malam hari itu.


Pertempuran hari ketujuh

Pada hari ketujuh, pasukan Korawa di bawah instruksi Bisma membentuk formasi Mandala. Untuk mengantisipasinya, Yudistira menginstruksikan agar pasukan Pandawa membentuk formasi Bajra. Arjuna berhasil merusak formasi Mandala, sehingga Bisma maju untuk menghadapinya. Sementara itu, Drona bertarung menghadapi Wirata Raja Matsya. Dengan serangan panahnya, Drona membuat kereta perang Wirata lumpuh.

Kemudian Wirata meloncat dari keretanya untuk berpindah ke kereta Sangka, putranya. Meskipun Wirata dan Sangka sudah menggabungkan kekuatan, namun Drona masih tak terkalahkan. Sebaliknya, Drona berhasil menembakkan empat batang panah penembus baju zirah ke arah Sangka. Panah tersebut bersarang di dada Sangka, kemudian merenggut nyawanya.

Sementara itu, Satyaki bertarung menghadapi raksasa Alambusa, sedangkan Drestadyumna menghadapi Duryodana. Satyaki berhasil mengalahkan raksasa Alambusa, sementara Drestadyumna berhasil melukai tubuh Duryodana dengan tujuh anak panah. Kemudian panah-panah menembus tubuh kuda dan kusir kereta Duryodana sehingga kendaraan tersebut lumpuh. Duryodana meloncat dari keretanya lalu diselamatkan oleh pamannya, Sangkuni dari Gandhara.

Di tempat lain, Srikandi maju menghadapi Bisma. Bisma tidak menghiraukan Srikandi karena kesatria tersebut bersifat kewanitaan, sehingga ia lebih memilih menghancurkan pasukan Srinjaya, sekutu Pandawa.

Pada hari tersebut, para kesatria Korawa lebih banyak menderita kekalahan dibandingkan pihak Pandawa. Hal tersebut membuat Dretarastra, ayah para Korawa merasa sedih. Sanjaya, penasihat Dretarastra mengatakan bahwa ia tidak perlu bersedih sebab kehancuran putra-putranya disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Sanjaya menambahkan, bahwa kematian para kesatria yang gugur di medan perang akan membuka jalan surga bagi mereka.


Pertempuran hari kedelapan

Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra, yaitu: Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka dan Wisalaksa. Sunaba, Adityaketu, Aparajita dan Wisalaksa gugur dengan kepala terpenggal, sedangkan yang lainnya gugur karena senjata panah yang diluncurkan Bima. Setelah menyaksikan kematian mereka, Duryodana memerintahkan para saudaranya yang masih hidup untuk membunuh Bima. Namun tak satu pun putra Dretarastra yang berani maju menghadapi Bima setelah mereka menyaksikan kematian delapan saudaranya.

Sementara itu, Sangkuni putra Subala, dengan didampingi oleh putra Hredika dari kerajaan Satwata, menyerbu pasukan Pandawa. Pasukan penyerbu tersebut merupakan kavaleri gabungan dari berbagai kerajaan di India, seperti Kamboja, Sindhu, Mahi, Aratta, dll. Untuk menandinginya, Irawan putra Arjuna maju ke medan laga sambil membawa pasukan berkuda dalam jumlah besar. Dengan pedang dan panah, Irawan berhasil membunuh para saudara Sangkuni, kecuali Wresaba.

Setelah pasukan putra Subala kacau balau, Duryodana mengirim raksasa Alambusa untuk membunuh Irawan. Kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Irawan melawan Alambusa. Keduanya sama-sama menggunakan kekuatan sihir, sama-sama sakti dan saling menghancurkan.

Saat Irawan memunculkan seekor naga raksasa, Alambusa menanggapinya dengan menjelma menjadi seekor burung garuda raksasa. Burung siluman tersebut berhasil membunuh naga siluman yang dipanggil Irawan. Hal itu membuat Irawan terpaku menyaksikan kekalahannya. Pada saat itu juga, Alambusa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenggal leher Irawan.


Pertempuran hari kesembilan

Pada hari kesembilan, Abimanyu putra Arjuna menghancurkan laskar Korawa sambil mengamuk. Para kesatria terkemuka di pihak Korawa tidak mampu menghadapinya, karena seolah-olah Abimanyu merupakan Arjuna yang kedua. Melihat prajuritnya tercerai-berai, Duryodana memutuskan untuk mengirim raksasa Alambusa, putra Resyasringga. Raksasa tersebut menuruti perintah Duryodana. Ribuan prajurit Pandawa mati di tangannya, sehingga lima putra Dropadi bertindak.

Mereka mencoba menahan serangan raksasa tersebut, namun tidak berhasil. Sebaliknya, justru nyawa mereka yang terancam. Setelah melihat para saudara tirinya sedang terancam, Abimanyu segera datang membantu mereka sekaligus menghadapi raksasa Alambusa. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Abimanyu melawan raksasa Alambusa. Dengan kemahirannya menggunakan senjata panah, Abimanyu berhasil mengalahkan Alambusa sehingga raksasa tersebut turun dari keretanya sambil melarikan diri karena kesakitan.

Setelah Alambusa mengalami kekalahan, Bisma segera menghadapi Abimanyu. Dengan dikawal oleh para kesatria tangguh dari pihak Korawa, Bisma maju menerjang Abimanyu. Pada saat itu juga, Arjuna datang membantu Abimanyu. Kemudian Krepa menyerang Arjuna sehingga terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. melihat keadaan tersebut, Satyaki datang membantu Arjuna. Aswatama putra Drona, datang membantu Krepa dengan meluncurkan panah-panahnya.

Namun ternyata Satyaki mampu bertahan, bahkan membalas serangan Aswatama secara bertubi-tubi. Setelah Aswatama lelah menghadapinya, Drona muncul untuk membantu putranya tersebut. Sedangkan dari pihak Pandawa, Arjuna maju membantu Satyaki. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Arjuna melawan Drona. Meskipun demikian, baik Arjuna maupun Drona mampu bertahan hidup sebab mereka sama-sama sakti.

Kemudian, Kresna mengingatkan Arjuna untuk segera membunuh Bisma. Maka dari itu, Arjuna segera memerintahkan Kresna untuk menjalankan keretanya menuju Bisma. Saat menghadapi Bisma, Arjuna masih segan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya, sehingga pertarungan terlihat tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Melihat keadaan itu, Kresna menjadi marah. Ia turun dari keretanya sambil membawa cemeti dengan tujuan membunuh Bisma. Bisma tidak mengelak saat melihat tindakan Kresna. Sebaliknya, ia ikhlas apabila nyawanya melayang di tangan Kresna.

Menanggapi hal tersebut, Arjuna segera meloncat dari keretanya, lalu memeluk kaki Kresna untuk menghentikan gerakan Kresna. Sekali lagi, Arjuna memohon agar Kresna meredam amarahnya. Kresna hanya diam setelah mendengar permohonan Arjuna. Kemudian mereka kembali menaiki kereta untuk melanjutkan peperangan.

Pertempuran hari kesepuluh


Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan Bisma menyusun suatu strategi. Mereka berencana untuk menempatkan Srikandi di depan kereta Arjuna, sementara Arjuna sendiri akan menyerang Bisma dari belakang Srikandi. Srikandi dipilih sebagai tameng Arjuna sebab ia merupakan seorang wanita yang berganti kelamin menjadi pria, dan hal itu membuat Bisma enggan menyerang Srikandi. Disamping itu, Srikandi merupakan reinkarnasi Amba, wanita yang mati karena perasaannya disakiti oleh Bisma, dan bersumpah akan terlahir kembali sebagai pembunuh Bisma yang menjadi penyebab atas penderitaannya.

Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak menghiraukan serangannya. Sebaliknya, ia malah tertawa, sebab ia tahu bahwa kehadiran Srikandi merupakan pertanda buruk yang mampu mengantarnya menuju takdir kekalahan. Bisma juga tahu bahwa ia ditakdirkan gugur karena Srikandi, maka dari itu ia merasa sia-sia untuk melawan takdirnya. Bisma yang tidak tega untuk menyerang Srikandi, tidak bisa menyerang Arjuna karena tubuh Srikandi menghalanginya. Hal itu dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu menembus baju zirahnya. Ratusan panah yang ditembakkan Arjuna menembus tubuh Bisma dan menancap di dagingnya.

Bisma terjatuh dari keretanya, namun badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah yang menancap di tubuhnya. Setelah Bisma jatuh, pasukan Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk meletakkan tiga anak panah di bawah kepalanya sebagai bantal. Kemudian, Bisma meminta dibawakan air. Tanpa ragu, Arjuna menembakkan panahnya ke tanah, lalu menyemburlah air dari tanah ke mulut Bisma. Meskipun tubuhnya ditancapi ratusan panah, Bisma masih mampu bertahan hidup sebab ia diberi anugrah untuk bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia memberi wejangan kepada para cucunya yang melakukan peperangan. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu hidup selama beberapa hari sambil menyaksikan kehancuran pasukan Korawa.

Pertempuran hari kesebelas

Setelah kekalahan Bisma pada hari kesepuluh, Karna memasuki medan laga dan melegakan hati Duryodana. Ia mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Membunuh Yudistira di medan laga hanya membuat para Pandawa semakin marah, sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi perang.

Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira. Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana Duryodana.

Pertempuran hari kedua belas

Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta — Susarma — bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, gugur di tangan Arjuna. Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.


Pertempuran hari ketiga belas.

Duryodana memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha (di zaman sekarang disebut Assam, sebuah wilayah di India). Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki ribuan gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya, dan ia dianggap sebagai kesatria terkuat di antara seluruh kesatria penunggang gajah pada zamannya. Bhagadatta menyerang Arjuna dengan mengendarai gajah raksasanya yang bernama Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhagadatta terjadi dengan sangat sengit.

Saat Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, di tempat lain, empat Pandawa sulit mematahkan formasi Cakrabyuha yang disusun Drona. Yudistira melihat hal tersebut dan menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk merusak formasi Cakrabyuha, sebab Yudistira tahu bahwa hanya Arjuna dan Abimanyu yang bisa mematahkan formasi tersebut.

Saat Abimanyu memasuki formasi tersebut, empat Pandawa melindunginya di belakang. Namun, keempat Pandawa dihadang Jayadrata sehingga Abimanyu memasuki formasuki Cakrabyuha tanpa perlindungan. Akhirnya, Abimanyu dikepung oleh para kesatria Korawa, lalu terbunuh oleh serangan serentak.

Menjelang akhir hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susarma gugur di tangan Arjuna. Sementara itu, Abimanyu gugur karena terjebak dalam formasi Cakrabyuha. Setelah mengetahui kematian putranya, Arjuna marah pada Jayadrata yang menghalangi usaha para Pandawa untuk melindungi Abimanyu. Ia bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari keempat belas. Ia juga bersumpah bahwa jika ia tidak berhasil melakukannya sampai matahari terbenam, ia akan membakar dirinya sendiri.

Pertempuran hari keempat belas

Saat berusaha mencari Jayadrata di medan pertempuran, Arjuna menghancurkan satu aksauhini (109.350 tentara) prajurit Korawa. Pasukan Korawa melindungi Jayadrata dengan baik, untuk mencegah Arjuna menyerangnya. Akhirnya, menjelang sore, Arjuna mendapati bahwa Jayadrata dikawal oleh Karna dan lima kesatria perkasa lainnya. Setelah melihat keadaan temannya, Kresna mengangkat Sudarsana Cakra-nya untuk menutupi matahari, menipu seolah-olah matahari terbenam. Seluruh prajurit menghantikan pertempuran karena merasa bahwa siang hari telah berakhir. Dengan demikian, Jayadrata tanpa perlindungan. Saat matahari menampakkan sinar terakhirnya di hari tersebut, Arjuna menembakkan panah dahsyatnya yang kemudian memenggal kepala Jayadrata.

Pertempuran berlanjut setelah matahari terbenam. Saat bulan tampak bersinar, Gatotkaca, putra Bima membunuh banyak kesatria, dan menyerang lewat udara. Karna menghadapinya lalu mereka bertarung dengan sengit, sampai akhirnya Karna mengeluarkan Indrastra, sebuah senjata surgawi yang diberikan kepadanya oleh Dewa Indra. Gatotkaca yang menerima serangan tersebut lalu memperbesar ukuran tubuhnya. Ia gugur seketika kemudian jatuh menimpa ribuan prajurit Korawa.

Pertempuran hari kelima belas

Setelah Raja Drupada dan Raja Wirata dibunuh oleh Drona, Bima dan Drestadyumna bertarung dengannya di hari kelima belas. Karena Drona amat kuat dan memiliki brahamastra (senjata ilahi) yang tak terkalahkan, Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan menyerah apabila Aswatama – putranya – gugur dalam perang tersebut. Kemudian Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, dan berteriak dengan keras bahwa Aswatama gugur.

Drona mendekati Yudistira untuk mencari kepastian tentang kematian putranya. Yudistira berkata "Ashwathama Hatha Kunjara", namun dua kata terakhir "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna (versi yang berbeda menyebutkan bahwa Yudistira melafalkan kata-kata terakhir tersebut dengan sangat pelan sehingga Drona tidak mendengar kata "gajah"). Sebelum peristiwa tersebut, kereta perang Yudistira, yang disebut Dharmaraja (Raja Kebenaran), melayang beberapa inci dari tanah. Setelah peristiwa tersebut, keretanya menyentuh tanah. Setelah menduga bahwa putranya telah tiada, Drona merasa berdukacita, dan menjatuhkan senjatanya. Kemudian ia dibunuh oleh Drestadyumna untuk membalaskan dendam ayahnya sekaligus melaksanakan sumpahnya.

Setelah perang di hari itu berakhir, Kunti (ibu para Pandawa) secara rahasia pergi menemui Karna, putra yang dibuangnya, dan memintanya untuk mengampuni nyawa para Pandawa, karena mereka adalah adiknya. Karna berjanji pada Kunti bahwa ia akan mengampuni nyawa para Pandawa, kecuali Arjuna.

Pertempuran hari  keenam belas

Pada hari keenam belas, Karna menjadi panglima tertinggi pasukan Korawa. Ia membunuh banyak prajurit pada hari itu. Sebuah pertempuran sengit terjadi antara Arjuna melawan Karna. Bahkan Kresna memuji Karna atas keberaniannya. Akhirnya Karna berhasil memutuskan tali busur Arjuna. Tepat saat Karna akan membunuh Arjuna, matahari terbenam. Karena memperhatikan peraturan peperangan, Karna mengampuni nyawa Arjuna.

Ada versi berbeda mengenai akhir hari kedelapan belas. Diceritakan bahwa Karna bertempur dengan gagah berani meski dikelilingi para jendral pasukan Pandawa. Mereka semua tidak mampu melawannya. Karna memberi serangan mematikan pada pasukan Pandawa sehingga mereka melarikan diri. Kemudian Arjuna berhasil mematahkan senjata Karna dengan senjatanya sendiri, dan juga memberikan serangan mematikan pada pasukan Korawa. Tak lama kemudian matahari terbenam, dan karena kegelapan dan debu membuat pertempuran berlangsung dengan sulit, maka pasukan Korawa ditarik mundur, dengan tujuan menghindari pertempuran di malam hari.


Pertempuran hari  ketujuh belas

Karna mendorong roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur pada saat perang Baratayuda sebelum kematiannya

Pada hari ketujuh belas, Karna mengalahkan Bima dan Yudistira dalam pertempuran, tetapi nyawa mereka diampuni. Kemudian, Karna melanjutkan pertarungannya melawan Arjuna. Saat bertarung, roda kereta Karna terperosok ke dalam lumpur sehingga Karna meminta izin untuk menghentikan pertarungan sejenak. Melihat kesempatan tersebut, Kresna mengingatkan Arjuna tentang sikap Karna yang tidak berbelas kasihan pada Abimanyu saat Abimanyu terbunuh setelah kehilangan senjata dan keretanya.

Terungkitnya kenangan pahit tersebut membuat hati Arjuna perih kembali. Kemudian, Arjuna menembakkan panahnya untuk memenggal Karna, pada saat Karna berusaha mengangkat roda keretanya yang terprosok ke dalam lumpur. Pada hari yang sama, Bima menghancurkan kereta Dursasana dengan gadanya. Bima menangkap Dursasana lalu membunuhnya, sehingga terpenuhilah sumpah yang dibuatnya saat Dropadi dipermalukan.


Pertempuran hari kedelapan belas

Pada hari kedelapan belas, Salya Raja Madra diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa, menggantikan posisi Karna. Pada hari itu juga, Yudistira membunuh Raja Salya, Sadewa membunuh Sangkuni, dan Bima membunuh para adik Duryodana yang masih bertahan. Setelah sadar bahwa ia telah dikalahkan, Duryodana lari dari medan pertempuran lalu beristirahat di sebuah danau. Ahirnya para Pandawa berhasil menangkapnya. Di bawah pengawasan Baladewa, pertandingan gada berlangsung antara Bima melawan Duryodana, dimana akhirnya Duryodana mengalami kekalahan.

Aswatama, Krepa, dan Kertawarma bertemu Duryodana pada saat kesatria tersebut sedang sekarat. Mereka berjanji akan membalaskan dendamnya. Kemudian pada malam hari, mereka menyerang perkemahan para Pandawa, lalu membunuh lima putra Pandawa (Pancawala), Drestadyumna dan Srikandi.

Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.

Pada malam hari, Aswatama bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.


Akhir Perang Baratayudha

Pada akhir hari ke-18, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Kripa dan Kritawarma. Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura.

Akhir kisah perang Mahabharata termuat dalam 8 kitab Astadasaparwa yaitu :

Kitab Striparwa

berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.

Santiparwa

Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran.

Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.

Anusasanaparwa

Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.

Aswamedhikaparwa

Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.

Asramawasikaparwa

Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.

Mosalaparwa

Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.

Mahaprastanikaparwa

 Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.

Swargarohanaparwa

Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.

Setelah memerintah selama beberapa lama, Yudistira menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit.

Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali Yudistira, meninggal dalam perjalanan. Akhirnya Yudistira berhasil mencapai puncak Himalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.

Sejarah Perang Baratayudha Sampai 18 hari

Kuwaluhan.com

Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi mematikan yang sulit ditembus bernama Chakrawyuha dari Arjuna. Mahabharata menjelaskan bahwa dari dalam rahim, ia menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian Subadra (ibu Abimanyu) tertidur maka sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang bernama Arjuna yang merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan keluarga Raja Wirata, saat pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan ksatria-ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka.

Peran Abimanyu dalam perang Baratayudha

Dalam perang Baratayuda, dikisahkan Abimanyu sengaja disembunyikan oleh kedua orangtuanya dan didukung oleh saudara-saudaranya kadang Pandawa. Abimanya menjadi pewaris tahta kerajaan Amarta, sehingga keselamatan Abimanyu menjadi sangat berarti bagi Keluarga Kerajaan Amarta. Abimanyu menjadi simbul kemenangan Kadang Pandawa sehingga pantaslah dalam perang besar baratayuda itu ia disembunyikan di tempat yang sangat rahasia dijaga oleh istrinya Dewi Utari  dan ibunya Woro Subodro ia tidak boleh keluar dari tempat sembunyi tersebut.


 Dewi Utari istri Abimanyu kebetulan sedang mengandung, sehingga ia tidak mau lepas dari suami yang tercinta walaupun sebentar saja. Semua orang tua Pandawa memberikan “wanti-wanti” (pesan yang sangat tidak boleh dilanggar) kepada Abimanyu, bahwa ia tidak boleh ikut berperang melawan Kurawa.

Setiap manusia memang memiliki kisah sendiri-sendiri. Sebelum beristri dengan Dewi Utari sebenarnya Abimanyu telah memiliki istri yang bernama Siti Sendari. Pada waktu kenalan dengan Dewi Utari Abimanyu mengaku sebagai perjaka. Pada waktu itu Dewi Utaripun curiga dan tidak percaya kepada Abimanyu karena Dewi Utari kurang yakin jika Abimanyu belum memiliki istri. Karena terlanjur cinta kepada Dewi Utari Abimanyu terpaksa berbohong, untuk meyakinkan Dewi Utari ia bersumpah :

“Dewi Utari,ingsun isih legan durung duwe kromo.., yen ora percaya aku wani mati dikrocok gaman sewu”(Dewi Utari saya masih perjaka belum punya istri jika tidak percaya saya berani sumpah mati ditumbak seribu senjata".

Sumpah kebohongan Abimanyu disaksikan bumi, langit, laut, dan gunung. Seketika terdengar petir yang menggelegar..,, kilat menyambar-nyambar. Dewi Utari termakan bujuk rayu dan sumpah palsu Abimanyu, sehingga terwujud keduanya menjadi pasangan suami istri.

Pada waktu terjadi perang besar antara pandawa dan kurawa Abimanyu berada pada persembunyian yang dirahasiakan. Setiap manusia memang memiliki rencana tetapi Tuhan-Pun memiliki rencana : “wamakaru wamakarullahi, wawallahu khairul makirin” (orang-orang itu merencanakan kejahatan, Allah-Pun merencakan pula, maka sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.) Dalam persembunyian hati Abimanyu tidak merasa tentram, makan tidak selera, tidurpun tidak bisa nyenyak. Yang ia pikirkan hanya “Tegal Kuru Setra” tempat saudara-saudara berjihad perang melawan kebatilan. Sebagai seorang yang masih berdarah muda hatinya terpanggil, untuk ikut berperang dimedan laga untuk membela bangsa dan Negara. Dalam hatinya terjadi perang batin antara mengikuti pesan orang tua atau membela Negara. Jika ia minta ijin kepada istrinya atau ibunya mustahil keduanya memberikan ijin.

Abimanyu berdiam diri termenung memikirkan langkah apa yang terbaik bagi dirinya dan Negaranya. Dalam keadaan tersebut tiba-tiba ia melihat seekor “undur-undur”  (binatang kecil yang berjalan dengan cara mundur biasanya berada pada tanah yang berdebu). Binatang tersebut memberikan inspirasi kepada Abimanyu untuk segera pergi ke medan pertempuran dengan cara mundur-mundur, artinya dia meninggalkan tempat persembunyiannya dari sedikit demi sedikit setelah istri dan ibunya terlena segera ia cepat-cepat lari keluar dari persembunyian menuju medan pertempuran.

Kematian Abimanyu

   Abimanyu sudah memakai pakaian perang dengan mengendarai kuda. Dengan gagah berani ia segera menerjang dan memporak porandakan musuhnya yaitu para kurawa. Pasukan Pandawa yang semula sudah terdesak kini dapat mendesak pasukan Kurawa. Pasukan Kurawa kalang kabut banyak korban berjatuhan, banyak bala tentara yang mati seperti “babadan pacing” tumbuhan perdu yang roboh setelah ditebas dengan pedang.

Senopati Kurawa Bagawan Durna mengumpulkan para jendral untuk mengadakan “briefing” apa yang menyebakan, langkah/strategi apa yang harus segera ditempuh untuk mengalahkan Pandawa. Hasil dari briefing tersebut diputuskan strategi perang yang baru. Apa yang menyebabkan kekuatan Pandawa tiba-tiba meledak-ledak ternyata ada perwira muda yang gagah berani yaitu Abimanyu.


Bagawan Durna memutuskan strategi yaitu Pasukan Pandawa harus dipancing dipecah menjadi 3 bagian, Arjuna dipancing musuhnya keluar dari Tegal Kurusetra lari kearah pantai, Werkudara dipancing musuhnya lari keselatan kearah pegunungan. Tinggal Abimanyu sendiri ditinggal di Tegal Kurusetra. Pasukan Kurawa menggunakan gelar perang “tepung gelang”. Abimanyu yang seorang diri dipancing untuk masuk ke perangkap yang dirancang Bagawan Durna.

Bagawan Durna memerintahkan kepada Adipati Karna untuk melepaskan anak panah yang ditujukan ke arah kuda yang ditunggangi Abimanyu. Kuda Abimanyu roboh seketika ke tanah setelah terkena anak panah tepat mengenai lehernya. Hati Abimanyu terasa teriris-iris setelah mengetahui kudanya tewas terkena anak panah. “aja mati dewe tak belani” (jangan mati sendiri aku membelamu). Abimanyu segera melompat sambil memegang sebuah pedang mengejar prajurit Kurawa. Siasat perang Bagawan Durna benar-benar terlaksana, dengan dipancing seorang prajurit Abimanyu masuk ke perangkap yang dinamakan pasukan “tepung gelang”. Abimanyu seorang diri dikepung ribuan prajurit yang membentuk lingkaran besar dengan anak panah siap melesat dari busurnya.

Bagawan Durna memberi aba-aba satu..,dua…,tigaaaa….,semua prajurit melepaskan anak panah kearah Abimanyu yang berada di tengah-tengah. Abimanyu terkena panah dari segala arah. Seluruh tubuh Abimanyu sudah tidak ada bagian yang tidak terkena anak panah. Darah mengalir membasahi tubuh Abimanyu. Menurut kisah busur panah yang digunakan prajurit Kurawa sengaja dibuat dari kayu “sempu”, kayu tersebut yang menyaksikan ketika Abimanyu bersumpah kepada Dewi Tari =

Adinda Dewi Tari percayalah kepadaku tidak ada orang yang paling kucinta selain dirimu…, siang malam aku selalu memikirkanmu, aku tidak bisa lepas dari bayangan wajahmu! Kata Abimanyu.

 “Baik.., Kakang Abimanyu. Saya percaya kalau Kakang mencintaiku.., tetapi Kakang Abimanyu sudah punya istri aku tidak mau menyakiti perasaan wanita, karena aku juga seorang wanita yang memiliki perasaan.” Kata Dewi Tari

“Aku masih perjaka Dinda.., Aku belum beristri ! Abimanyu merayu.

“Aku tidak yakin Kakang Abimanyu masih perjaka…!” kata Dewi Tari

“Kalau Dinda tidak yakin…, aku berani bersumpah yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, samudera, dan kayu sempu ini.., Aku bersumpah bahwa aku masih perjaka jika aku berbohong aku berani mati dengan dikrocok gaman sewu (ditumbak senjata yang sangat banyak)” kata Abimanyu.

Sumpah Abimanyu menjadi doa yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, dan samudera. Sehingga berhati-hatilah jika kita berbicara ada pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Abimanyu tidak dapat roboh meskipun terkena ribuan anak panah karena tubuhnya ditopang oleh ribuan anak panah yang tertancap di badannya. Prajurit Kurawa segera mendekat karena mengira Abimanyu sudah mati berdiri. Tidak ketinggalan putera mahkota Kurawa Pangeran Lesmana Mandrakumara ikut mendekat melihat dari dekat Abimanyu yang sudah tidak berujud manusia tersebut. Dengan kata-kata yang penuh kesombongan dan menyakitkan Lesmana Mandrakumara menantang Abimanyu. Dengan pongah ia menantang =

katanya kamu pasukan khusus…, hayo mana sekarang kekuatanmu. Ternyata kamu hanya jago ayam potong…, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. Hayo mana kekuatanmu lawan aku..! kata Lesmana Mandrakumara.

Abimanyu hanya tertunduk malu, dalam hatinya berkata bunuhlah aku biar aku dapat mati sempurna sebagai prajurit yang membela kebenaran, keadilan, sebagai prajurit yang “netepi kesaguhan” mati membela bangsa dan Negara. Air mata Abimanyu mengalir menetes di sela-sela anak panah yang tertancap di wajahnya. Ia teringat akan pesan ayahnya Arjuna dan Ibunya Sembodro yang karena cinta kepadanya ia disembunyikan ditempat rahasia. Tetapi ia sudah terlanjur menjadi korban peperangan. Abimanyu berkata lirih :

Ayah….., Ibu…., jangan marah, jangan sedih …, ananda mati lebih dahulu…, jangan salahkan aku karena aku netepi sumpahku.”

“Jangan menangis kau Abimanyu.., kau prajurit cengeng…, dimana keberanian kamu…, saat ini kamu pasti akan mati…, aku bersumpah jika kau mati istrimu yang cantik itu akan aku rebut, istrimu akan aku boyong ke Kurawa..!” kata Lesmana Mandrakumara.

                 

Mendengar kata-kata Lesmana Mandrakumara hati Abimanyu menjadi marah karena ada kata-kata akan merebut istri yang ia cintai, istri yang menyebabkan ia rela mengorbankan segalanya. Seperti ada kekuatan yang datang, tiba-tiba Abimanyu menebaskan pedang yang masih ia gengam sebelumnya tepat mengenai leher Lesmana Mandrakumara, seketika ia roboh bersimbah darah. Lesmana Mandrakumara tewas seketika. Mengetahui putra mahkota menjadi korban Jayajatra prajurit pengawal raja menghujamkan tombak ke arah dada Abimanyu. Abimanyu roboh seketika iapun meninggal dunia.

Balas Dendam Arjuna

Berita kematian Abimanyu segera sampai ketelinga Kadang Pandawa. Dewi Sembodro ibu Abimanyu langsung lari ke medan pertempuran mencari jasad anaknya. Pasukan pengawal keluarga kerajaan mengejar Dewi Sembodro. Di tengah tanah lapang ditemukan jasad anaknya yang penuh dengan luka “tatune arang kranjang”

anakku yang malang…, mengapa engkau tidak percaya nasehat ibumu….,kalau kau mati ibumu ikut mati saja……..” Sembodro jatuh pingsan dekat jasad anaknya.

“Prajurit.., angkat Tuan Putri bawa ke perkemahan” kata Kresna.

Arjuna segera berlari ikut mendekat jasad anaknya karena ia baru datang dari tempat yang jauh mengejar musuhnya. “Dimana anakku….., oh ngger…, mengapa seperti ini…., jangan mati sendiri, aku akan membalas untuk kamu, Aku bersumpah sebelum matahari terbenam aku harus dapat membunuh Jayajatra kalau tidak lebih baik aku  mati bunuh diri dengan mati obong(masuk kedalam api yang berasal dari tumpukan kayu yang dibakar).”

Berita sumpah Arjuna sampai juga ke telinga prajurit Kurawa, untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan Jayajatra untuk sementara disembunyikan di “Gedong Wojo” semacam bunker/bangunan bawah tanah yang letaknya tersembunyi. Orang tua Jayajatra yang bernama Bagawan Sempani selalu berdzikir meminta kepada sang pencipta agar anaknya tidak mati. Hanya saja kadang dzikirnya tidak sesuai karena menggunakan bahasa Indonesia : Tu-han, Tu-han, Tu-han menjadi han-tu, han-tu, han-tu…,anakku Jayajatra hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup,………………….dst.

Hari sudah mulai sore tetapi Arjuna belum dapat membalas kematian anaknya, Kresna yang menjadi botohnya Pandawa merasa kawatir kalau sampai matahari tenggelam Jayadrata tidak dapat dibunuh Arjuna harus netepi jiwa kesatriyanya dengan mati obong. Kresna dengan kekuatan batinnya menciptakan mendung hitam gelap sehingga tampak hari sudah hampir malam. Beliau minta kadang Pandawa untuk menyiapkan kayu bakar dan para prajurit agar berteriak sekeras-kerasnya = Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, suara itu terdengar sampai ke perkemahan prajurit Kurawa karena mengira hari sudah malam, prajurit Kurawa berbondong-bondong mendekat ke perapian ingin melihat dari dekat Arjuna mati obong.

Jayadrata yang berada di Gedong Wojopun mendengar sayup-sayup Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…! Ingin rasanya ia mengetahui apa yang terjadi. Jayadrata memberanikan diri membuka jendela untuk melihat apa yang terjadi dari balik jendela. Bagawan sempani tak henti-hentinya berdzikir kepada Tuhan agar sampai matahari tenggelam nanti anaknya selamat.

Kresna tahu bahwa Jayadrata tidak akan mati jika ayahnya (Bagawan Sempani) berdzikir dengan selalu mengucapkan kata-kata hidup, hidup, hidup…maka Jayadrata tidak akan mati.

Tetapi tidak kurang akal, Kresna mengubah wujudnya menjadi seekor lalat yang mengganggu Bagawan Sempani yang sedang berdzikir. Lalat tersebut hinggap dibibir Bagawan Sempani, sebentar terbang hinggap di mata sebentar hinggap di bibir kanan Bagawan Sempani, ketika dipukul pakai tangan lalat tersebut hinggap di pelipis.

Pada saat dzikir Bagawan Sempani selalu mengucapkan kata-kata = “Anakku Jayajatra hidup, hidup, hidup” tiba-tiba lalat hinggap dipupu Bagawan Sempani, sejenak dzikir Bagawan Sempani terdiam sebentar, kemudian dengan mengambil ancang-ancang Bagawan Sempani memukul lalat tersebut dengan tangannya “mati, mati, mati kamu” seketika lalat berubah wujud menjadi Kresna dengan berkata “Bagawan Sempani anakmu Jayadrata mati.”


Ditempat yang terpisah Arjuna sudah bergerilya mengintip persembunyian Jayadrata di Gedong Wojo. Jayadrata berusaha membuka jendela untuk mengetahui apa benar Arjuna mati obong. Pada waktu Jayadrata membuka jendela secepat kilat melesat panah Arjuna tepat mengenai leher Jayadrata bersamaan dengan Dzikir Bagawan Sempani berucap mati, mati, mati,… maka tewaslah Jayadrata dan lunaslah sumpah Arjuna. Ternyata hari belum malam, setelah mendung hilang matahari tampak bersinar ikut menyaksikan tewasnya sang angkara murka Jayadrata.

Gugurnya Abimanyu dalam perang Baratayuda dalam khasanah budaya jawa akibat sumpah palsu yang pernah ia lontarkan kepada Dewi Utari sebagai pembelajaran “ngunduh wohing pakarti, sing nandur kabecikan ngunduh kabecikan sing nandur ala bakale ciloko”

Kisah Asal Usul Abimanyu Putra Arjuna (Pandawa Lima) dari lahir hingga tewas