Social Items

Showing posts with label asal usul gunung Kelud. Show all posts
Showing posts with label asal usul gunung Kelud. Show all posts
Kawah Ijen (Ijen crater) merupakan sebuah danau terbesar di dunia dengan derajat keasaman yang sangat tinggi (pH <0,5) dan juga terisi air yang telah mengalami mineralisasi volkanik.

Di sini Juga terdapat sebuah solfatara permanen di tepi danau, yang terus-menerus menghasilkan belerang murni. Belerang ini ditambang oleh pekerja lokal.

Sesekali juga terjadi ledakan akibat adanya kegiatan freatik, yang terjadi ditengah danau. Aktifitas freaktik ini ditengarai sebagai indikasi ancaman utama dan telah terjadi beberapa kali.

Yang ditulis tentang Kawah Ijen ini merupakan sebuah terjemahan yang dibuat oleh Commission of Volcanic Lakes (Komisi danau Vulkanik) yaitu sebuah komisi dari organisasi dunia IAVCEI (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior).

TERBENTUKNYA KALDERA IJEN.


Genesa Kaldera Gunung Ijen ini dibuat pertama kali oleh Van Bammelen tahun 1941. Kemudian disempurnakan oleh beberapa penulis berikutnya. Dibawah ini gambaran terbentuknya Kawah dan Kaldera Ijen.

Kondisi pada Pra-kaldera (sebelum terbentuk kaldera),  tidak diketahui apa yang terjadi sebelum 300.000 tahun lalu, namun diperkirakan sudah terbentuk  Stratovolcano tunggal (Paleo Ijen) dengan perkiraan ketinggian 3500 m.  Gunung yang berisi lava dan pyroclastics ini berada diatas endapan berumur Miosen (12.5 juta tahun) yang berupa batu gamping.

Pembentukan kaldera diperkirakan terkait dengan letusan dengan volume besar yang menghasilkan (~ 80 km3) endapan aliran piroklastik, yang mencapai ketebalan 100-150 m. Yang paling luas berada di bagian utara lereng  kompleks gunungapi ini.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi beberapa waktu sebelum 50.000 tahun lalu, Ini disimpulkan berdasarkan pada analisa umur dari K-Ar (50 ± 20 ka) dari aliran lava dari Gunung  Blau yang dianggap menjadi unit pasca-kaldera tertua.

Pada saat itu juga diperkirakan terjadi  pembentukan danau di lantai kaldera. Danau sedimen yang terdiri dari serpih, pasir dan saluran sungai endapan yang terkena di daerah utara dekat Blawan.

Kegiatan vulkanik pasca pembentukan kaldera diantaranya  fase letupan phreatomagmatic, freatik, strombolian dan Plinian yang menghasilkan kerucut lingkaran, yang umumnya berupa bangunan-bangunan komposit, dan kerucut dalam, yang sebagian besar adalah dibangun oleh material abu vulkanik.

Gunung berapi ini menghasilkan abu vulkanik muda dan kerucut scoria (batu apung), serta lava, endapan aliran piroklastik dan endapan material hasil longsoran dan puing-puing yang sekarang mencakup aliran kaldera.

Menurut Sitorus (1990) penanggalan radiokarbon dari endapan aliran piroklastik menghasilkan umur> 45.000  BP (di Jampit) 37.900 ± 1850 (di Suket), 29.800 ± 700 (di Ringgih), 24.400 ± 460 (di Pawenen Tua), 21.100 ± 310 (di Malang) dan 2.590 ± 60 (di Ijen).

Kegiatan vulkanik yang tercatat ini adalah terbatas pada gunung berapi Ijen, yang memiliki kandungan asam di kawah danaunya,  setidaknya merupakan catatan dalam 200 tahun terakhir. Letusan bersejarah yang terdokumentasi ini tidak mencacat munculnya anak-anak produk magmatik tetapi terutama hanya freatik.

DANAU KAWAH IJEN


Danau Kawah berada pada ketinggian (2200 m dpl) memiliki bentuk oval yang teratur (600 x 1000 m), luas permukaan 41 x 106 m2 dan volumenya diperkirakan antara 32 dan 36 x 106 m3. Pada tahun 1921 dibangun bendungan oleh Belanda untuk mengatur tingkat air dan mencegah melimpah bencana selama musim hujan.

Awalnya pintu air yang digunakan tetapi ini konstruksi tetapi sekarang tidak dapat dioperasionalkan lagi karena danau ini bocor !. Kesamaan antara peta topografi 1920 (Kemmerling, 1921) dan 1994 (VSI) menunjukkan bahwa morfologi kawah tidak banyak berubah di terakhir meskipun sejarah peristiwa letusan freatik telah terjadi berulang-ulang.

Sebaliknya, morfologi dasar danau kawah telah mengalami perubahan yang signifikan. Kedalaman soundingpada tahun 1925 mencatat kedalaman maksimum 198 meter pada titik terdalam, yang kemudian berada di sebelah timur dari pusat.

Pada tahun 1938 titik terdalam telah bergerak ke barat dengan hasil bahwa danau lebih dalam di pusat (~ 200 m) dan di beberapa titik di bagian barat. Pengukuran kedalaman terbaru yang dilakukan pada tahun 1996 (Takano, data tidak dipublikasikan) menunjukkan bahwa kedalaman maksimum sedikit ber kurang.


Berikut ringkasan didasarkan pada Laporan Kegiatan Vulkanik dari Smithsonian Institution Program Global Vulkanisme:


  1. Tahun 1796 : terjadi letusan freatik T
  2. Tahun1817 15-16 Januari: Letusan freatik (banjir lumpur menuju Banyuwangi, cukup besar volume air danau dibuang ke Sungai Banyupahit)
  3. Tahun 1917 25 Februari – 14 Maret: danau tampak mendidih; letusan freatik berulang, lumpur dilemparkan hingga 8-10 m di atas permukaan danau.
  4. Tahun 1921-1923 Peningkatan suhu air danau; uap gas di atas permukaan air danau.
  5. Tahun 1936 5-25 November 1936: Letusan freatik lahar memproduksi mirip dengan 1796 dan 1817
  6. Tahun 1952 22 April 1952: letusan uap sampai 1 km tinggi, lumpur dilemparkan hingga 7 m di atas permukaan danau
  7. Tahun 1962 13 April 1962 : 7 m erupsi tinggi; gas gelembung di permukaan danau, sekitar 10 m dengan diameter 18 April: gelembung air hingga 10 m tinggi, perubahan cat air.1
  8. Tahun 1976 30 Oktober: air mendidih pada Silenong selama 30 menit
  9. Tahun 1991 15,21,22 Maret: gelembung air dan mengubah warna air, gas yang tinggi 25-50 m pencurahan pada kecepatan tinggi; kegiatan ini tercatat sebagai gempa seismik antara 16 dan 28 Maret. 
  10. Tahun 1993 3,4,7 Juli dan 1 Agustus: letusan freatik, perubahan warna air danau, Pencurahan, kebisingan booming, uap menggumpal, semua terpusat di tengah danau
  11. Tahun 1994 Februari 3: letusan freatik kecil dari bagian selatan danau. Bersamaan dengan letusan, tingkat danau naik ~ 1 m. 
  12. Tahun 1977 Akhir Juni 1997: periode aktivitas seismik meningkat, perubahan warna air danau; gas gelembung dan daerah sampai dipipinya; kuat bau belerang; burung terlihat jatuh ke air, satu atau lebih pekerja belerang dekat puncak melaporkan pusing dan sakit kepala. 
  13. Tahun 1999 28 Juni: letusan freatik di dua lokasi. Sebuah ledakan yang menyertainya terdengar di pertambangan belerang km 2 situs dari puncak dan tremor vulkanik direkam dengan amplitudo 0.5-1 mm. Minggu berikutnya, 06-12 Juli, kuning abu-abu emisi sulfur yang diamati dari kawah dan keras “jagoan” terdengar suara. Air danau kawah adalah putih kecoklatan dan telah mengambang menggumpalkan belerang pada permukaan. Kegempaan meningkat dimulai pada awal April. Jumlah tipe B acara tetap tinggi (lebih dari 34/week) untuk sebagian periode melalui pertengahan Juni. Kemudian secara bertahap menurun kegempaan sampai pertengahan Juli, setelah mana jumlah mingguan B-jenis acara tetap stabil pada rata-rata 9/week. Selama periode 18 Mei sampai pekan yang berakhir pada tanggal 21 Juni sebuah “abu membanggakan putih” naik 50-100 m.

Sejarah Asal usul Terbentuknya Gunung Dan Kawah Ijen Jawa Timur

Gunung Kelud memiliki legenda yang panjang di negeri ini. Saat Kerajaan Majapahit berjaya, Gunung Kelud juga sempat meletus. Letusan Kelud menjadi perhatian raja terbesar Kerajaan Majapahit saat itu: Hayam Wuruk.

Konon kawah gunung Kelud dijadikan tempat membrangus aura jahat keris Mpu Gandring oleh Raja Singosari saat itu: Wisnuwardana.


Keris Mpu Gandring sendiri terbuat dari bongkahan logam yang jatuh dari langit atau meteorit. Bongkahan logam itu diduga memiliki aura yang sangat jahat dan haus darah. Terbukti, nyawa sang empu alias yang membuat keris Mpu Gandring tewas oleh keris ini.

Selain itu Keris Mpu Gandring juga menewaskan prajurit Keboijo, Ken Arok dan Anusapati. Setelah membunuh Anusapati dengan keris Empu Gandring, Tohjaya naik tahta menjadi Raja Singosari.

Belum genap setahun menjabat sebagai Raja Singosari, Tohjaya tewas dalam sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni yang merupakan anak Anusapati.

Ranggawuni yang membalaskan dendam ayahnya tersebut akhirnya menjadi Raja Singosari dan bergelar Wisnuwardhana (1248-1268).

Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana inilah perseteruan antar-keluarga dalam dinasti Rajasa berakhir. Wisnuwardhana menikah dengan putri kerajaan Kadiri yang hilang riwayatnya setelah dikalahkan oleh Ken Arok, pendiri Kerajaan (Tumapel) Singosari.

Berabad-abad silam, Jawadwipa (Pulau Jawa) dikisahkan selalu dalam kondisi tidak stabil. Daratannya terombang-ambing, timbul tenggelam terayun oleh gelombang samudera. Kalangan dewata di kahyangan pusing tujuh keliling, hingga akhirnya muncul ide cemerlang dari Betara Guru.

"Jawadwipa, harus diberi pemberat, biar tidak terus terombang-ambing," demikian ide cemerlang Betara Guru. "Mahameru yang ada di Jambhudwipa (India), harus dipindahkan ke Jawadwipa," lanjut sang betara menjelaskan gagasannya.

Para dewata sepakat Gunung Mahameru dipindahkan ke Pulau Jawa. Namun, dalam proses pemindahannya, bagian gunung berguguran di sepanjang perjalanan, hingga menjadi gunung-gunung lain di Jawa. Satu di antara gunung-gunung itu adalah Kampud (Kelud).

Sementara yang lainnya adalah Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kawi, Arjjunai (Arjuno) dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring. Menyandar pada Gunung Brahma (Bromo), hingga akhirnya menjadi Gunung Sumeru (Semeru). Sedang puncak Mahameru didirikan, hingga menjadi Pawitra atau Gunung Penanggungan.

Soal keberadaan Gunung Kelud, konon, kawah gunung itu sebenarnya merupakan kuburan dari keris Mpu Gandring. Meski kebenaran atas kisah ini masih perlu pembuktian, namun banyak warga yang terlanjur mempercayainya. Tetapi sejarah mencatat, betapa haus darahnya keris ciptaan empu itu.

Selain merenggut jiwa si penciptanya, Mpu Gandring sendiri, juga merenggut jiwa si pemesan, Ken Arok dan beberapa Raja Singosari lainnya.

Sejarah Keberadaan Keris Mpu Gandring Berada di Gunung Kelud


Kediri merupakan wilayah yang berada di bagian barat Jawa Timur. Pada zaman Dahulu, kawasan Kediri adalah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Medang yang dipimpin oleh Prabu Airlangga. Sang Prabu berasal dari Pulau Bali. Ia menjadi Raja Medang setelah menikah dengan putri Raja Medang.

Prabu Airlangga adalah sosok yang religius, saat usianya beranjak senja, ia ingin menjadi seorang pertapa. Tahta Kerajaan Medang akan diserahkan kepada putri dari permaisurinya. Putri yang cantik jelita itu bernama Dyah Sangramwijaya.

Dyah Sangrama wijaya menolak keinginan ayahandanya. Ia tidak mempunyai keinginan memimpin kerajaan. Sebaliknya Dyah Sangramwijaya ingin menjadi seorang pertapa sama seperti sang ayah.

Kemudian ia meminta restu ayahandanya menjadi pertapa di Goa Selomangleng ( di kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Kilisuci.

Setelah mendengar keinginan putrinya, Prabu Airlangga berfikir bahwa ia harus menyerahkan tahta kerajaan kepada putra dari selirnya. Sang Prabu memiliki dua putera bernama Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara. Prabu merasa bingung untuk memilih salah satu yang akan diberi tahta Kerajaan Medang.

Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha pergi ke Bali untuk meminta tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali. Rencananya tahta kerajaan di Bali akan diberikan kepada salah satu puteranya.

Namun, tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga ternyata sudah diberikan kepada adiknya. Prabu Airlangga tidak merasa marah, tetapi Prabu meminta bantuan kepada Empu Baradha untuk membagi Kerajaan Medang menjadi dua bagian untuk kedua puteranya.

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa kendi ( teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Medang. Ajaibnya, tanah yang terkena tumpahan air kendi berubah menjadi sungai. Sungai tersebut semakin besar dan alirannya deras. Masyarakat menyebutnya Sungai Brantas.

Kerajaan Medang terbagi menjadi dua bagian dengan dibatasi Sungai Brantas. Prabu Airlangga menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Medang itu kepada Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara. Bagian Kerajaan Medang sebelah timur sungai diserahkan kepada Raden Jayengrana, kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Jenggala.

Sedangkan bagian barat sungai diserahkan kepada Raden Jayanagara, kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Kadiri (sekarang dikenal dengan nama Kediri). Dengan demikian, Prabu Airlangga merasa tenang pergi dari Kerajaan Medang untuk menjadi seorang pertapa.

Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.

ASAL USUL NAMA KEDIRI

Nama Kediri berasal dari kata kedi yang artinya mandul atau wanita yang tidak berdatang bulan. Menurut Kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, kedi berarti orang kebiri. Di dalam lakon Wayang, Arjuno pernah menyamar menjadi guru tari di Negara Wirata, bernama Kedi Wrihanala.

Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, kedi berarti suci atau wadad. Disamping itu kata Kediri berasal dari kata diriyang berarti adeg, angdhiri, menghadiri atau menjadi raja (bahasa Jawa Jumenengan).

HARI JADI KABUPATEN DAN KOTA KEDIRI

"Ing Saka 706 Cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban", artinya: pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban . Nama Kediri banyak tersedia dalam literatur kuno Jawa Kuno seperti: Buku Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Buku Calon.

Demikian pula beberapa prasasti menyebutkan nama Kediri seperti: Prasasti Ceker, tahun 1109 berada di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini disebutkan, karena Rakyat Ceker membayar kepada Raja, mereka menerima hadiah tersebut, "Tanah Kesabaran" . Dalam prasasti tertulis "Sri Emperor Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" berarti raja telah kembali ke masa jabatannya, atau harapannya di Bhumi Kadiri. Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kecamatan Trenggalek yang berangkat pada 1116, tepatnya menurut Damais pada 31 Agustus 1194.

Dalam prasasti tersebut juga disebutkan namanya, Kediri, yang diserang oleh raja kerajaan timur. "Aka ni satru sangke kala sangke purnowo" , maka sang raja meninggalkan istananya di Katangkatang("ketika sampai pada sifat yang sama dari kerajaan kaisar").

Menurut Pak Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari kelahiran Kediri" muncul dari tiga prasasti ABC pertamaHarinjing , namun pendapatnya, nama Kadiri paling baik ditampilkan pada tiga prasasti tersebut.

Alasan Prasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 M, dianggap lebih tua dari prasasti B dan C, yaitu 19 September 921 dan 7 Juni 1015 M.Dilihat dari tiga tanggal tersebut nama Kediri ditetapkan pada tanggal 25 Maret 804 M. Ketika Bagawanta Bhari menerima hibah dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang ditulis pada tiga prasasti Harinjing.

Nama Kediri kembali kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal sampai sekarang.

Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung danWilang , hanya dikenakan "I mas Suwarna" kepada Sri Maharaja setiap bulan "Kesanga" (Centra) .Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa "Kring Padammaduy" (Iuran Pemadam Kebakaran), "Tapahaji erhaji" (Iuran yang berhubungan dengan air), "Tuhan Tuha dagang" (Kepala perdagangan), "Tuha hujamman" (Ketua Kelompok masyarakat), "Manghuri" (Pujangga Kraton), "Pakayungan Pakalangkang" (Iuran lumbung padi),(Beads, permata) dan pajak lainnya.

Saat itu belum ada piagam untuknya. Kemudian sebagai pengingat akan jasanya maka dibuat prasasti sebagai "The Watchman" (Pengingat). Prasasti itu diberi nama " HARINJING B"yang pada tahun 19 September 921 M. Dan itu disebut" Tahun bahagia dari masa lalu 843, bulan Asuji, hari kelima belas cahaya, cupid Humen, Umanis (manis). Budhawara (Rabo Day), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewi ahnibudhana, yoga wrsa.

Menurut penelitian para ahli institut jender, Drs. MM Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada bulan Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itu, Kediri mulai disebut sebagai tempat atau nama negara. Tidak ada sumber resmi seperti prasasti atau dokumen tertulis lainnya yang bisa disebutkan, padahal sebenarnya Kediri benar-benar merupakan pusat pemerintahan maupun tempat tempatnya. Dari prasasti ditemukan, tidak ada pemisahan wilayah administratif seperti sekarang ini.

Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi "Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri." 

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten dan Kota Kediri Jawa Timur

Malang merupakan salah satu tempat yang memiliki banyak tempat Wisata Populer Di Jawa Timur, karena banyaknya tempat Wisata yang terdapat di Malang tak heran jika banyak Turis dari mancanegara yang datang berkunjung ke Kota ini untuk berlibur. Salah satu tempat wisata yang cukup Populer adalah Coban Rondo yang berada di Kecamatan Pujon, Malang.
Di dalam keindahannya, ternyata Air Terjun Coban Rondo ini memiliki sejarah panjang di masa lalu. Berikut adalah sejarah asal usul Air Terjun Coban Rondo yang cukup melegenda di kalangan masyarakat sekitar :


Pada zaman dahulu hiduplah seorang wanita cantik yang bernama Dewi Anjarwati. Saat dia berdiri di depan cermin, Ia mengenakan kerudung putih berenda pemberian suaminya. Rambut yang biasanya panjang tergerai, kini tertutup kerudung. Hanya beberapa helai rambut di atas dahi yang terlihat bergoyang diterpa angin.

“Tidak bisakah kamu tunda keinginanmu, Nak?” tanya ibu Dewi Anjarwati sambil memasukkan nasi ke dalam rantang. Kepulan nasi dikibas-kibaskannya dengan caping agar uapnya hilang.

Dewi Anjarwati menoleh, lalu berjalan mendekati ibunya. Kedua tangannya meraih tangan ibunya. “Maafkan saya, Ibu. Kali ini saya dan Kang Mas Baron harus berangkat. Mumpung belum masuk musim penghujan. Kata Kang Mas, jalan menuju Gunung Anjasmoro agak terjal.”

Ibu Dewi Anjarwati menghela napas. Berat baginya melepas kepergian anak semata wayangnya. Meski ia tahu bahwa kepergian anaknya ditemani suaminya, Raden Baron Kusumo, orang  sakti dari Gunung Anjasmoro. Namun, ia khawatir hal buruk akan menimpa anaknya. Mengingat usia pernikahan keduanya baru selapan atau tiga puluh lima hari.

“Baiklah. Kalau memang keinginanmu tidak bisa ditunda, Ibu dan Bapak merestuimu. Hati-hatilah di jalan!” nasihat ibu Dewi Anjarwati.

Dewi Anjarwati tersenyum, lantas memeluk ibunya. “Matur nuwun, Bu” ucapnya lirih.

Setelah mendapatkan restu kedua orang tuanya, Dewi Anjarwati bersama suaminya berangkat menuju Gunung Anjasmoro. Untuk sampai tujuan, keduanya harus menuruni Gunung Kawi, menyeberangi pulau, dan melewati perkampungan sebelah timur Jawa. Jika tak ada aral melintang, perjalanan tersebut bisa ditempuh dalam waktu lima hari.


Setengah hari perjalanan telah mereka lewati. Karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, Dewi Anjarwati tampak kelelahan. Kerudung yang dikenakannya tampak basah. Keringat di dahinya meleleh hingga melintasi pipi. Melihat istrinya kelelahan, Raden Baron Kusumo memutuskan untuk beristirahat sejenak.

“Kang Parjo, sampeyan ikut saya mencari air. Yang lain silakan istirahat di sini. Tolong jaga baik-baik istri saya,” pesan Raden Baron Kusumo kepada rombongan punakawan yang menyertainya.

Seusai pamit pada Dewi Anjarwati, Raden Baron Kusumo bersama Parjo kemudian menuju sumber air. Dari tempat mereka berhenti memang sudah terdengar gemuruh suara air. Tidak lama keduanya sampai di sumber air yang dimaksud. Ternyata suara gemuruh tersebut adalah suara coban atau air terjun. Penat dan dahaga seketika sirna saat keduanya melihat coban dari dekat.

Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar coban, Raden Baron Kusumo mengajak Parjo kembali ke tempat semula. Keduanya menenteng kendi penuh air.

Dua puluh langkah dari tempat rombongan beristirahat, Raden Baron Kusumo melihat seorang laki-laki tak dikenal mengganggu istrinya. Para punakawan berusaha menghalangi. Namun, laki-laki bertubuh kekar tersebut terlihat memaksa. Merasa istrinya diganggu orang lain, Raden Baron Kusumo bergegas mendekat.

“Hei kisanak, menjauhlah! Berani-beraninya sampeyan mendekati istriku,” teriak Raden Baron Kusumo.
Laki-laki tak dikenal itu kaget mendengar suara lantang Raden Baron Kusumo. Tak lama kemudian ia tertawa. “Ha ha ha. Siapa sampeyan, anak muda? Tak kenalkah sampeyan dengan Joko Lelono?” ucapnya keras sambil menepuk dada.

Raden Baron Kusumo jengkel melihat senyuman di wajah Joko Lelono. “Jangan dekat-dekat dengan istriku! Atau sampeyan akan tahu akibatnya,” hardik Raden Baron Kusumo.

Merasa dirinya ditantang, Joko Lelono langsung mendaratkan pukulan ke arah Raden Baron Kusumo. Hampir saja serangan mendadak tersebut mengenai bahu lawannya jika Raden Baron Kusumo tak gesit menghindar.

“Sampeyan mengajak tanding rupanya? Ayo, saya siap meladeni,” ucap Raden Baron Kusumo dengan nada geram.

“Kang Mas, jangaaan! Tak ada gunanya meladeni orang sepertinya,” teriak Dewi Anjarwati cemas melihat suaminya hendak berkelahi dengan Joko Lelono.

Raden Baron Kusumo tidak menanggapi larangan istrinya. Baginya, perseteruan ini menyangkut harga dirinya sebagai seorang suami.

“Parjo, bawa istriku dan punakawan yang lain ke tempat aman!” perintah Raden Baron Kusumo. “Kuselesaikan dulu urusan ini.”

Kaki Dewi Anjarwati seketika lemas. Ia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada suaminya. Namun, keputusan itu harus ia hargai. Ia pun pergi bersama para punakawan sesuai perintah suaminya.

Di sekitar coban, Dewi Anjarwati duduk di atas batu besar. Air matanya tak henti menetes. Sesenggukan ia menangisi suami yang baru memperistrinya tiga puluh lima hari silam.

“Seandainya aku menuruti nasihat Bapak dan Ibu, kejadian seperti ini tidak akan terjadi,” sesalnya dalam hati.

Nasi sudah menjadi bubur. Sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi. Hanya doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang bisa dilakukan. Dewi Anjarwati pun komat-kamit merapal doa demi keselamatan suaminya. Sedih dan lelah yang mendera membuat Dewi Anjarwati jatuh tertidur di atas batu.

Dewi Anjarwati terbangun saat pagi menjelang. Melalui Parjo, ia dikabari bahwa suaminya telah gugur. Tidak ada yang menang dalam perkelahian itu. Joko Lelono pun dikabarkan telah mati. Sejak saat itu, Dewi Anjarwati menjadi seorang janda.

Air terjun tempat persembunyian Dewi Anjarwati saat ini dikenal dengan sebutan Coban Rondo. Coban artinya air terjun. Sedangkan Rondo artinya janda. Coban Rondo saat ini menjadi tempat wisata menarik yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur.

Itulah sejarah asal usul mengenai air terjun Coban Rondo Malang, jika anda berkunjung ke Malang tidak ada salahnya mampir ke tempat wisata unik ini.

Sejarah Asal Usul Air Terjun Coban Rondo Malang Jawa Timur

Gunung kelud adalah gunung yang berada di kabupaten Kediri Jawa Timur ini terakhir meletus pada tahun 2014 lalu. Gunung ini menjadi obyek wisata menarik yang patut dikunjungi jika anda sedang liburan di kota Kediri, banyak kisah dan keindahan alam yang tersimpat disini salah satunya adalah kusah unik sebuah sejarah Gunung Kelud.


Cerita Rakyat Kediri Bagi warga Jawa Timur, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut Sejarah gunung kelud bukan berasal dari sebuah gundukan tanah meninggi secara alami, seperti Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat. Namun legenda dan asal usul Gunung Kelud terbentuk dari sebuah mitos pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro.

Informasi dari berbagai sumber, dari desa setempat menceritakan kala itu, dikisahkan Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar sang dewi bukanlah dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya seorang raja berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Sejarah dan legenda gunung kelud di lanjutkan dengan adanya sebuah sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa kepada mereka berdua yang diadakan oleh sang dewi, karena sang Dewi Kilisuci sendiri memiliki tujuan untuk menolak lamaran tersebut. Isi dari sayembara tersebut adalah membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.

Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman di atas Gunung Kelud, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Akhir dari kisah Sejarah dan legenda Gunung Kelud: Karena mereka berdua terpedaya dengan rayuan sang Dewi, keduanya pun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro di Sumur dari hasil buatannya itu sendiri di atas Gunung Kelud.

Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan (dalam bahasa jawa) “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”. yang artinya (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau.

Sejarah dan Legenda Gunung Kelud


Hal ini membuat para masyarakat setempat percaya dan akhirnya para penduduk setempat yang berada dilereng Gunung Kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan sura oleh masyarakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja digebyarkan oleh Bupati Kediri untuk meningkatkan pamor wisata daerahnya. Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke kota Kediri.

Sejarah Asal Usul dan Legenda Gunung Kelud Kediri