Showing posts with label Tanda tanda Orang munafik. Show all posts
Showing posts with label Tanda tanda Orang munafik. Show all posts

Friday, November 16, 2018

Larangan Mengkafirkan Orang Lain dan Hukumnya dalam Islam

Di balik ucapan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa saya lebih baik dari dia; saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar serta akan masuk surga ketimbang dia. Persoalannya darimana kita tahu bahwa amalan ibadah kita "yang banyak sekali itu" pasti diterima Allah dan dosa mereka "yang begitu banyak itu" tidak akan Allah ampuni?


Seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam yang gara-gara persoalan kepemimpinan selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan kemudian terjadi perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang harus kita hormati, namun gara-gara perbedaan politik ada sebagian pihak yang mengkafirkan salah satu atau keduanya. Muncul pula sejumlah hadits palsu hanya sekedar untuk mencaci atau mendukung salah satunya. Ayat suci direduksi menjadi alat politik.

Sepanjang sejarah kita saksikan betapa mudahnya sebagian pihak mengkafirkan Muslim lainnya. Seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari penggalan Hadits Nabi ini:

‎وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

"Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh" (HR Bukhari-Muslim)

Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.

Qadhi Iyad yang bermazhab Maliki menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa. Beliau menukil pendapat para ulama:

‎ونقل القاضي عياض رحمه الله عن العلماء المحققين قولهم:
‎يجب الاحتراز من التكفير في أهل التأويل فإن استباحة دماء المصلين الموحدين خطر، والخطأ في ترك ألف كافر أهون من الخطأ في سفك محجمة من دم مسلم واحد.

"Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta'wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim."

Kitab al-Syifa di atas diberi syarh (penjelasan) salah satunya oleh al-Mulla Ali al-Qari al-Harawi yang bermazhab Hanafi. Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:

قال علماؤنا إذا وجد تسعة وتسعون وجها تشير إلى تكفير مسلم ووجه واحد إلى ابقائه على إسلامه فينبغي للمفتي والقاضي أن يعملا بذلك الوجه وهو مستفاد من قوله عليه السلام ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن وجدتم للمسلم مخرجا فخلوا سبيله فإن الإمام لأن يخطئ في العفو خير له من أن يخطئ في العقوبة رواه الترمذي وغيره والحاكم وصححه

"Berkata para ulama kita jika terdapat 99 hal yg menguatkan kekafiran seorang Muslim, tetapi masih ada satu alasan yang menetapkan keislamannya maka sebaiknya Mufti dan Hakim beramal dengan satu alasan tersebut, dan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: 'Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum Muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang Muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum,' sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan lainnya dan Imam al-Hakim yang mensahihkannya."

Dari penjelasan di atas terlihat jelas kehati-hatian para ulama. Meskipun ada sekian banyak bukti yang mengarah pada kekafiran saudara kita, namun jikalau masih terlihat satu saja alasan untuk menetapkan keislamannya, para ulama memilih satu alasan tersebut dan menahan diri untuk mengkafirkan orang tersebut. Lebih baik kita keliru menyatakan dia tetap Islam ketimbang kita keliru mengatakan dia kafir. Lebih baik kita keliru memaafkan dia ketimbang kita keliru menghukum orang yang tak bersalah.

Ucapan senada juga sudah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang bermazhab Syafi'i dalam kitab al-Iqtishad fil I'tiqad:

‎وقال أبو حامد الغزالي :
‎"والذي ينبغي الاحتراز منه :"التكفير" ما وجد إليه سبيلا، فإن استباحة الدماء والأموال من المصلين إلى القبلة، المصرحين بقول لا إله إلا الله محمد رسول الله خطأٌ، والخطأ في ترك ألفِ كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك دمٍ لمسلم"

"Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta Muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

"tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan..." (HR Abu Dawud, nomor 2170)

Pengkafiran Hanya Hak Allah dan Rasulullah

Sebelum memahami tentang perbuatan mengkafirkan, kita wajib mengetahui terlebih dahulu mengenai kedudukan kaum muslimin di mata Allah. Kaum muslimin ialah kaum yang paling dilindungi dan diberkahi Allah, kaum muslimin selalu mendapat ridho dalam setiap urusannya jika melakukan segala sesuatu sesuai syariat dan aturan islam serta tidak melanggar perintahNya. keutamaan iman dalam islam akan menjauhkan seorang mukmin dari hawa nafsu yang dapat menuju kepada kafir.

Allah selalu memerintahkan hambaNya untuk tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan, jika sesama muslim saling mengkafirkan atau saling berkhianat tentu tidak akan ada kerukunan dan kedamaian dalam beragama. Contohnya ialah saing tuduh menuduh dan mengkafirkan. “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan RasulNya, oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya”. (Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh hal 198).

Pengkafiran hanya menjadi hak Allah dan RasulNya yang mengetahui isi hati manusia, sesama manusia tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain baik yang berhubungan dengan ajakan atau menuduh. Hal tersebut akan merusak kedudukan kaum muslimin di mata Allah dan mendapat berbagai azab baik di dunia maupun di akherat dimana seharusnya sesama muslim saling menjaga akhlak agar sama sama menjauhi godaan syetan yang terkutuk sehingga akan terkena azab menghina islam.

HUKUM MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM

Hukum mengkafirkan orang lain ialah haram, tidak pernah ada perintah atau teladan Rasulullah dalam hal tersebut manusia tidak berhak memastikan hati dan amalan orang lain, sebab merupakan kuasa Allah semata. Bagaimana mungkin mengajak kepada kemungkaran sementara dia tahu bahwa hidup di  dunia menurut islam hnayaah sementara? Haramnya mengkafirkan orang lain sesuai dengan berbagai hadist dan firman Allah berikut

Kekafiran Kembali Kepada Orang yang Melakukan

“Siapa saja yang berkata pada saudaranya : hai kafir, maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”. (HR Bukhari). Penjelasan dari hadist tersebut ialah seseorang yang mengkafirkan orang lain sekalipun dengan ucapan, hal tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. artinya orang tersebut juga dianggap kafir sebab telah berkata demikian pada sesama muslim yang seharusnya saling mencegah maksiat satu sama lain.

Contoh yang demikian tidak wajib dihindari, tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain walaupun hanya dengan kata kata yang tidak sengaja seperti ucapan yang bercanda. Hal demikian termasuk haram. Agama islam bukan sebagai bahan untuk bercanda, sebab akhlak dan syariat islam adalah bagian yang terdalam dari hati manusia dan menjadi panduan dalam kehidupan sehari hari. menjadikannya sebagai bahan gurauan sama saja seperti mengkafirkan orang lain.

Termasuk Dosa Besar

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya”. (HR Bukhari). Mengkafirkan walaupun hanya dengan menuduh termasuk dosa besar yang hukumannya sama dengan membunuh sebab mengkafirkan telah menjauhkan orang dari jalan Allah yang lurus dan menjerumuskan orang lain kepada jalan yang sesat.

Contoh nyata mengkafirkan orang lain ialah adanya aliran yang mengaku mengikuti syariat islam tetapi dalam segala urusannya sama sekali tidak mengikuti perintah Allah dan RasulNya. Seperti yang dilakukan oleh para teroris yang melakukan pembunuhan dan pengeboman di berbagai tempat yang berawal dari pengaruh bahwa hal tersebut akan membawanya ke surga. Padahal justru hal sebaliknya yang terjadi sebab dia telah menghilangkan nyawa orang banyak.

Larangan Rasulullah

“Tidaklah seorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian”. (HR Bukhari). Penjelasan tersebut ialah larangan untuk mengkafirkan seseorang yang muslim atau memiliki akhlak islam yang baik sebab kekafiran tersebut justru akan kembali kepada dirinya sendiri. contohnya ialah tindakan yang menuduh orang alim atau ulama dengan sesuatu yang buruk.

Hukum mengkafirkan orang lain jelas haram sesuuai sabda Rasulullah walaupun hanya berupa vonis atau tuduhan semata. Setiap manusia wajib menghormati sesama muslim dan mencegah keburukan serta kemaksiatan satu sama lain. jika melakukan kekafiran maka orang tersebut telah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu mengarahkan orang lain kepada kemaksiatan.

Mengingkari Ayat Ayat Allah

“ Dan tiadalah yang mengingkari ayat ayat kami selain orang orang kafir”. (QS Al Ankabut : 47 ). Mengkafirkan orang lain sama saja dengan mengingkari ayat ayat Allah sebab mengingkari perintah yang terdapat dalam firmanNya. Jelas dalam firman Allah diperintahkan untuk mengasihi sesama dan mengajak sesama muslim untuk berbuat kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak mengikuti syariat islam, maka bukan menjadi hak manusia untuk menghakimi atau mengakfirkan melainkan hanya Allah yang berhak menilainya.

Rasulullah dan para sahabat sejak jaman terdahulu ketika islam telah disebarkan tidak pernah mengingkari atau meragukan ayat ayat Allah. Rasulullah juga tetap bersikap baik pada setiap orang walaupun orang tersebut bukan pengikutnya atau menjalankan perintah islam. Tetapi rasulullah tidak semata menganggap orang tersebut akan kafir untuk seterusnya sebab beliau menyadari bahwa Allah bisa kapan saja membolak balikkan hati umatNya.

Ikut Menjadi Golongan Kafir

“ Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan dia di akherat termasuk orang orang yang rugi”. (Kasfu Al Qana ). Mengkafirkan orang lain termasuk tindakan mencari agama selain islam, hal tersebut ialah sebuah kerugian dan tidak akan diterima amal kebaikannya di dunia dan di akherat.

contoh dalam masa sekarang ialah seseorang yang mempegaruhi sesama muslim untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
Walaupun hanya sebuah tindakan sepele, tetapi termasuk mengkafirkan sebab menjadi umat muslim ialah berarti keseluruhan dan kesempurnaan amal ibadah seperti menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya.

Dosa orang yang dikafirkan akan ditanggug oleh orang yang mengkafirkan dan keduanya sama sama mendapat azab dari Allah dan menjadi golongan kafir.

Hati Dikunci oleh Allah

“ Dan diantara mereka ada yang mendengar perkataanmu sehingga apabla mereka keluar dari sisimu orang orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan: apakah yang dikatakan tadi? Mereka itulah orang orang yang hatinya dikunci oleh Allah”. (QS Muhammad : 16 ). Hukum mengkafirkan orang lain yang jelas haram membuat orang yang melakukannya sennatiasa berada dalam jalan yang sesat, sulit menerima hidayah karena hatinya telah dikunci oleh Allah.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga tulisan di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : www.dalamislam.com & www.NU.or.id

Inilah Ciri-ciri Orang Munafik dan Azabnya Dalam Islam

Dalam ajaran agama Islam, Munafik merupakan salah satu kategori atau golongan manusia yang diletakkan tarafnya lebih rendah daripada seorang Muslim biasa.


Munafik adalah menampakkan keislaman dan kebaikan, menyembunyikan kekafiran dan kejahatan.
 Seperti istilah yang sering kita dengar “Duri dalam daging”.
Dan ia lebih berbahaya karena merusak agama islam dari dalam.

Munafik ada dua macam :

1.  MUNAFIK KEYAKINAN. 

Ini adalah kemunafikan yang besar, karena pelakunya menampakkan Islam, sedangkan hatinya benci dan mengingkarinya. Orang ini telah keluar dari Islam secara keseluruhan, walaupun sholat dan puasa.
Tempat tinggalnya di neraka yang paling bawah

2. MUNAFIK AMALAN

Yang dimaksud yaitu mengamalkan sebagian dari sifat munafik, akan tetapi hatinya tetap beriman.
Mereka ini tidak  keluar dari Islam, akan tetapi amalan mereka ini merupakan jalan menuju kekufuran.

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat” (Hadits Shahih Bukhari ke-33)

Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai ciri-ciri orang munafik. Pada orang munafik minimal ada satu ciri, sedangkan munafik tulen memiliki ketiga-tiganya. Ketiga ciri tersebut adalah:

1. Bila berbicara selalu bohong. Orang seperti ini tidak bisa dipercayai dalam setiap perkataan yang diucapkannya. Bisa jadi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan hatinya.

2. Bila berjanji, tidak ditepati Orang munafik sulit untuk dipercayai perkataan dan perbuatannya

3.Bila diberi kepercayaan selalu berkhianat. Orang munafik sulit diberikan kepercayaan. Setiap kali kepercayaan yang diberikan tidak dapat dia jaga dengan baik.

Selain itu terdapat 30 ciri orang-orang yang dikategorikan yang dapat disebut munafik melalui petikan hadis Rasulullah s.a.w. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar perkataan "munafik" diucapkan oleh sebagian orang.

Berikut ciri-ciri dan hadits-haditsnya :

BERDUSTA

Hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad yang baik:

"Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa."

Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslimpula), Rasulullah bersabda:

"Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."

BERKHIANAT

Sabda Rasulullah s.a.w.:

"Dan apabila berjanji, dia berkhianat."

Petikan hadis ini menjelaskan bahawa barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, sama ada kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada sesiapa sekalipun, kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i atau halangan yang benar-benar menghalang tanpa dikehendakinya, maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

FUJUR

Fujur adalah keluar dari kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Maka, sabda Rasulullah s.a.w. tentang kemunafikan:

"Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampaui batas."

INGKAR JANJI

Sabda Rasulullah SAW:

"Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat."

MALAS BERIBADAH

Firman Allah s.w.t:

"Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas."

Jika orang munafik pergi ke masjid atau surau, dia mudah terasa berat dan seolah-olah mahu menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu dengan rantai. Apabila tiba di masjid atau surau, dia gemar memilih saf yang paling akhir. Dia tidak mahu mengetahui apa yang dibaca di dalam solat.

RIYA' (PAMER)

Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

JARANG BERZIKIR

Firman Allah s.w.t.:

"Dan apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."

MEMPERCEPAT SHOLAT

Orang-orang munafik juga adalah orang yang mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun, tiada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah di dalamnya. Fikiran dan hatinya pula tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah dalam solatnya.

Hadits Nabi SAW:

"Itulah sholat orang munafik, ... lalu mempercepat empat rakaat (sholatnya)"

MENCELA ORANG TAAT DAN SOLEH

Kaum munafik ini gemar memperolok orang-orang yang taat dengan ungkapan yang mengandung cemuhan dan celaan. Termasuk dalam kategori orang-orang taat di sini adalah mereka yang memiliki komitmen dalam menjalankan syari'at Allah dan Rasul-Nya, serta mereka yang berdakwah dan berjuang keras di jalan Allah (fi sabilillah). Maka, dalam setiap pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya mencela orang-orang soleh ini sebagai orang-orang yang kolot, kuno, ekstrim, fanatik, fundamentalis, dan lain-lain gelaran yang tidak menyenangkan.

Allah berfirman di dalam al-Quran:

"Orang-orang (munafik) yang mencela sebahagian dari orang-orang yang beriman mengenai sedekah-sedekah yang mereka berikan dengan sukarela, dan (mencela) orang-orang yang tidak dapat (mengadakan apa-apa untuk disedekahkan) kecuali sedikit sekadar kemampuannya, serta mereka mengejek-ejeknya, - Allah akan membalas ejek-ejekan mereka, dan bagi mereka (disediakan) azab siksa yang tidak terperi sakitnya."

MEMPERMAINKAN AL-QUR'AN, AS-SUNAH, dan NABI MUHAMMAD SAW

Kes kemunafikan ini adalah termasuk dalam kategori istihzaa' iaitu adalah memperolok-olok atau mempermainkan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu dianggap jatuh kafir.

Firman Allah:

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. "

BERSUMPAH PALSU

Firman Allah SWT: "Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 & Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: "Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."

ENGGAN BERINFAQ

Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.

TIDAK MENGHIRAUKAN NASIB SESAMA KAUM MUSLIMIN

Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.

MEMPERBESAR KESALAHAN ORANG LAIN

Orang munafik suka memperbesar sesuatu peristiwa atau kejadian. Jika ada orang yang tersilap tutur katanya secara tidak sengaja, maka si munafik ini akan memperbesarkannya dalam apabila bertemu dengan lain dan mengajuk kesalahan tersebut. Dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, walau bagaimanapun, si munafik itu tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat melainkan kesilapan saja.

Firman Allah s.w.t:

"Demi sesungguhnya, jika orang-orang munafik, dan orang-orang yang ada penyakit (syak ragu-ragu) dalam hatinya, serta orang-orang yang menyebarkan berita-berita dusta di Madinah itu tidak berhenti (dari perbuatan jahat masing-masing), nescaya Kami akan mendesakmu memerangi mereka; sesudah itu mereka tidak akan tinggal berjiran denganmu di Madinah lagi melainkan sebentar sahaja."

MENGINGKARI TAKDIR

Orang munafik selalu membantah dan tidak redha pada takdir Allah s.w.t. Maka, apabila ditimpa musibah atau ujian, dia mengatakan: "Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, nescaya akan menjadi begini." Dia pun selalu mengeluh kepada manusia lain. Hal ini jelas menunjukkan bahawa dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Qadar.

Firman Allah s.w.t.:

Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari kemurkaan Allah jika Dia mahu menimpakan bala bencana kepada kamu, atau (siapakah yang dapat menahan kemurahan Allah) jika Dia hendak memberikan rahmat kepada kamu? " Dan (ingatkanlah) mereka (yang munafik) itu: bahawa mereka tidak akan beroleh sesiapapun - yang lain dari Allah - yang akan menjadi pelindung atau penolong mereka.

MENCACI KEHORMATAN ORANG SOLEH

Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh, dia akan mencaci maki, mengejek, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka semasa bertemu dengan orang lain.

Allah s.w.t. berfirman:

"Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan."

SELALU MENINGGALKAN SOLAT BERJEMAAH

Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu yang terluang, dan tidak memiliki uzur syar'i, namun tidak mahu hadir ke masjid atau surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.

MEMBUAT KERUSAKAN Di BUMI DENGAN DALIH MENGADAKAN PERBAIKAN

Orang munafik akan selalu berusaha mengadu domba dan menghamburkan fitnah di antara sesama manusia. Dia juga sering memberikan kesaksian palsu, menyebabkan pertikaian antara seseorang dan saudaranya, atau antara ayah dan anaknya, serta selalu berusaha memfitnah dan menjelek-jelekkan nama seseorang. Firman Allah SWT: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).

TIDAK SESUAI ANTARA ZAHIR DENGAN BATHIN SECARA ZAHIR

Mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.

TAKUT TERHADAP KEJADIAN

Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun.

Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih baik.

MENGELAK DENGAN ALASAN YANG BOHONG

Firman Allah s.w.t.:

"Di antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Neraka Jahanamitu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir."

MENYURUH KEMUNGKARAN Dan MENCEGAH KEMAKRUFAN

Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah porno (semi-porno) dan narkoba.

BAKHIL (PELIT, KIKIR)

Orang-orang munafik sangat bakhil dalam masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.

MELALAIKAN ALLOH SWT

Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (berdzikir) Allah SWT, kecuali sebagai tipu daya kepada sewsama manusia semata.

MENDUSTAKAN JANJI ALLAH Dan RASUL

Firman Allah s.w.t.:

"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya'."

LEBIH MEMPERHATIKAN ZAHIR

Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rusak dan lain sebaginya.

SOMBONG DALAM BERBICARA

Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.

BERPURA-PURA DALAM DOSA

Watak inilah yang paling penting membedakan antara orang munafik dan orang mukmin.

Orang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang melawan hukum Allah, menentang-Nya dengan melakukan pelbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan sebaliknya; iaitu berpura-pura taat.

Firman Allah SWT:

"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. "

Seseorang mukmin selalu merasa bahawa dirinya diawasi oleh Allah, baik ketika bersendirian mahupun bersama-sama orang lain. Malah, dia merasa lebih diawasi dan diperhatikan oleh Allah ketika seorang diri.

SENANG MELIHAT ORANG LAIN SUSAH

Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau." Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur karena musibah itu.

AZAB BAGI ORANG MUNAFIK



 ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪَّﺭْﻙِ ﺍﻷﺳْﻔَﻞِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺠِﺪَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺼِﻴﺮًﺍ
(146) ﺇِﻻ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﺎﺑُﻮﺍ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺤُﻮﺍ ﻭَﺍﻋْﺘَﺼَﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﺧْﻠَﺼُﻮﺍ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢْ ﻟِﻠَّﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺳَﻮْﻑَ ﻳُﺆْﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
(147) ﻣَﺎ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻌَﺬَﺍﺑِﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﺷَﻜَﺮْﺗُﻢْ ﻭَﺁﻣَﻨْﺘُﻢْ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺷَﺎﻛِﺮًﺍ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ

“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka (145). Kecuali orang orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah, maka mereka itu adalah bersama-sama orang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman pahala yang besar (146). Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui (147)” . ( QS AN-NISA’ 145-147)

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita dijauhkan dari sifat munafik dan selalu dalam lindungan Alloh SWT. Amin Ya Robbal'Alamin...