Social Items

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Kesultanan Pajang adalah satu kesultanan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keratonnya pada zaman ini tinggal tersisa berupa batas-batas fondasinya saja yang berada di perbatasan Kelurahan Pajang - Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Dalam Sejarah, Nama Pajang telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, bahwasanya pada zaman tersebut adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja merupakan ibu dari Wikramawardhana (raja Majapahit selanjutnya).

Berdasar naskah-naskah babad, bahwa negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang melegenda menyebut bahwa Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), bahwa nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan bahwa putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.

Atas jasanya itu, kemudian Jaka Sengara diangkat oleh Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.

Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di daerah Pasisir.

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.

Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.

Sepeninggal Trenggana tahun 1546, selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta. Namun Sultan Prawoto kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.

Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Hadiwijaya selanjutnya menjadi pewaris takhta Demak. Pada masa kepemimpinan Hadiwijaya ini, ibu kota Demak dipindahkan ke Pajang.

Pada awal berdirinya atau pada tahun 1549, bahwa wilayah Pajang yang terkait eksistensi Demak pada masa sebelumnya, hanya meliputi sebagian Jawa Tengah. Hal ini disebabkan karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.

Pada tahun 1568 Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Hadiwijaya.

Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya.

RUNTUHNYA KERAJAAN PAJANG

Sepeninggal Hadiwijaya, terjadilah persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan akibat kemelut tersebut. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning atau adik Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram, di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Awal Mula Berdiri Dan Runtuhnya Kerajaan Pajang

Prabu Anglingdarma adalah seorang legenda Jawa dan Nusantara, yang merupakan titisan Batara Wisnu. Terdapat Gua NagaRaja tepatnya di Sukolilo, Pati. Makam dan Peninggalan Prabu Angling Dharma berada di Desa Baleadi, Kec. Sukolilo, Kab. Pati, Jawa Tengah.

Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.

Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.

KELAHIRAN ANGLING DARMA

Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.

Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.

Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.

Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.

Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum beberapa kesaktian yang telah dimiliki oleh Prabu Angling Darma dari berbagai sumber :

1. Mengerti bahasa Hewan atau disebut Aji Gineng
2. Bisa merubah wajah nya menjadi yang diinginkan (Malih Rupo)
3. Ajian Ngrogoh Sukma
4. Ajian Saipi Angin
5. Mampu Menangkal Ajian Pancasona dan Rawarontek.

Sedangkan Senjata Ampuh yang dimiliki Prabu Angling Darma adalah :

1. Tombak Nagagini
2. Mustika Nagagini
3. Cincin
4. Pusaka Gigi Gajah

Itulah beberapa kesaktian dan Senjata Ampuh yang dimiliki Prabu Angling Darma.

Inilah Kesaktian Dan Senjata Ampuh Angling Darma

Gajah Mada adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih.

Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih kontroversial. Banyak masyarakat Indonesia masa sekarang yang menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia dan persatuan Nusantara.

Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Dari cerita-cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di wilayah Probolinggo ini memang terdapat air terjun bernama Madakaripura yang airnya jatuh dari tebing yang tinggi.

Di balik air terjun yang mengguyur bak tirai itu terdapat deretan ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai sebagai wanaprastha (menyepi tinggal di hutan) hingga akhir hayatnya.

Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum beberapa kesaktian Patih Gajah Mada :

1. Memiliki Ajian Saipi Angin
2. Aji Mundri
3. Kebal terhadap senjata
4. Ajian Gelap Ngampar
5. Ilmu Brajamusti
6. Ajian Rawarontek

Itulah beberapa kesaktian Patih Gajah Mada, jika ada kekeliruan silahkan berkomentar.

Inilah Kumpulan Kesaktian Patih Gajah Mada Dari Majapahit

Aji Saka adalah legenda Jawa yang mengisahkan tentang kedatangan peradaban ke tanah Jawa, dibawa oleh seorang raja bernama Aji Saka. Kisah ini juga menceritakan mengenai mitos asal usul Aksara Jawa.

Asal Usul Aji Saka disebutkan berasal dari Bumi Majeti. Bumi Majeti sendiri adalah negeri antah-berantah mitologis, akan tetapi ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka). Legenda ini melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa saka atau soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".

Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa dengan mengalahkan raja raksasa jahat yang menguasai pulau ini. Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa. Kerajaan Medang Kamulan mungkin merupakan kerajaan pendahulu atau dikaitkan dengan Kerajaan Medang dalam catatan sejarah.

KISAH AJI SAKA DENGAN RAJA SILUMAN

Setelah pulau Jawa dipakukan ke tempatnya, pulau ini menjadi dapat dihuni. Akan tetapi bangsa pertama yang menghuni pulau ini adalah bangsa denawa (raksasa) yang biadab, penindas, dan gemar memangsa manusia. Kerajaan yang pertama berdiri di pulau ini adalah Medang Kamulan, dipimpin oleh raja raksasa bernama Prabu Dewata Cengkar, raja raksasa yang lalim yang punya kebiasaan memakan manusia dan rakyatnya.

Pada suatu hari datanglah seorang pemuda bijaksana bernama Aji Saka yang berniat melawan kelaliman Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka berasal dari Bumi Majeti. Suatu hari menjelang keberangkatannya ia memberi amanat kepada kedua abdinya yang bernama Dora dan Sembodo, bahwa ia akan berangkat ke Jawa. Ia berpesan bahwa saat ia pergi mereka berdua harus menjaga pusaka milik Aji Saka.

Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Setelah tiba di Jawa, Aji Saka menuju ke pedalaman tempat ibu kota Kerajaan Medang Kamulan. Ia kemudian menantang Dewata Cengkar bertarung. Setelah pertarungan yang sengit, Aji Saka akhirnya berhasil mendorong Prabu Dewata Cengkar ke laut Selatan (Samudra Hindia). Akan tetapi Dewata Cengkar belum mati, ia berubah wujud menjadi Bajul Putih (Buaya Putih). Maka Aji Saka naik takhta sebagai raja Medang Kamulan.

KISAH AJI SAKA DENGAN ULAR RAKSASA

Sementara itu seorang perempuan tua di desa Dadapan, menemukan sebutir telur. Ia meletakkan telur itu di lumbung padi. Setelah beberapa waktu telur itu hilang dan sebagai gantinya terdapat seekor ular besar di dalam lumbung itu. Orang-orang desa berusaha membunuh ular itu, akan tetapi secara ajaib ular itu dapat berbicara: "Aku anak dari Aji Saka, bawalah aku kepadanya!" Maka diantarkanlah ia ke istana. Aji Saka mau mengakui ular itu sebagai putranya dengan syarat bahwa ular itu dapat mengalahkan dan membunuh Bajul Putih di Laut Selatan. Ular itu menyanggupi, setelah berkelahi dengan sangat sengit dengan kedua pihak memperlihatkan kekuatan yang luar biasa, ular itu akhirnya dapat membunuh Bajul Putih.

Sesuai janjinya ular itu diangkat anak oleh Aji Saka dan diberi nama Jaka Linglung (anak lelaki yang bodoh). Di istana Jaka Linglung dengan rakus memangsa semua hewan peliharaan istana. Sebagai hukumannya sang raja mengusir dia ke hutan Pesanga. Ia diikat erat hingga tak dapat bergerak, lalu Aji Saka bersabda bahwa ia hanya boleh memakan benda apa saja yang masuk ke mulutnya.

Suatu hari ada sembilan orang bocah lelaki bermain di hutan. Tiba-tiba turun hujan, mereka pun berlarian mencari tempat berteduh. Untungnya mereka menemukan sebuah gua. Hanya delapan anak yang masuk berteduh ke gua itu. Seorang anak yang menderita penyakit kulit dilarang ikut masuk ke dalam gua. Tiba-tiba gua runtuh dan menutup pintu keluarnya. Delapan orang bocah itu hilang terkurung di gua. Sesungguhnya gua itu adalah mulut Jaka Linglung.

AWAL MULA AKSARA JAWA

Sementara setelah Aji Saka memerintah di Medang Kamulan, Aji Saka mengirim utusan pulang ke rumahnya di Bumi Majeti untuk mengabarkan kepada abdinya yang setia Dora and Sembodo, untuk mengantarkan pusakanya ke Jawa. Utusan itu bertemu Dora dan mengabarkan pesan Aji Saka. Maka Dora pun mendatangi Sembodo untuk memberitahukan perintah Aji Saka.

 Sembodo menolak memberikan pusaka itu karena ia ingat pesan Aji Saka: tidak ada seorangpun kecuali Aji Saka sendiri yang boleh mengambil pusaka itu. Dora dan Sembodo saling mencurigai bahwa masing-masing pihak ingin mencuri pusaka tersebut. Akhirnya mereka bertarung, dan karena kedigjayaan keduanya sama maka mereka sama-sama mati. Aji Saka heran mengapa pusaka itu setelah sekian lama belum datang juga, maka ia pun pulang ke Bumi Majeti.

Aji saka terkejut menemukan mayat kedua abdi setianya dan akhirnya menyadari kesalahpahaman antara keduanya berujung kepada tragedi ini. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya maka Aji Saka menciptakan sebuah puisi yang jika dibaca menjadi Aksara Jawa hanacaraka. Susunan alfabet aksara Jawa menjadi puisi sekaligus pangram sempurna, yang diterjemahkan sebagai berikut :

Hana caraka; Ada dua utusan
data sawala; Yang saling berselisih
padha jayanya; (Mereka) sama jayanya (dalam perkelahian)
maga bathanga; Inilah mayat (mereka).

secara rinci:

hana / ana = ada
caraka = utusan (arti sesungguhnya, 'orang kepercayaan')
data = punya
sawala = perbedaan (perselisihan)
padha = sama
jayanya = 'kekuatannya' atau 'kedigjayaannya', 'jaya' dapat berarti 'kejayaan'
maga = 'inilah'
bathanga = mayatnya

Itulah kisah singkat cerita Aji Saka yang melegenda, jika ada kekeliruan silahkan berkomentar.

Kisah Cerita Dan Asal Usul Aji Saka Legenda Jawa

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah beberapa kesaktian Prabu Jayabaya yang kami dapatkan dari berbagai sumber :

1. Meramalkan Keadaan Nusantara, yang disebut "Jangka Jayabaya",
2. Tidak Pernah Kalah Setiap Perang,
3. Menyabda Seorang Putri Dari Kadipaten Lodoyo Menjadi Batu (Arca Totok Kerot)
4. Mengetahui Sesuatu Yang Belum Terjadi
5. Bisa Mengalahkan Dan Menyatukan Kembali Kerajaan Jenggala.

Itulah beberapa kesaktian Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri, jika menurut anda tulisan di atas keliru silahkan berkomentar di kotak yang disediakan.

Inilah Kesaktian Prabu Jayabaya Dari Kerajaan Kediri

Batara Guru adalah Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bṛhaspati.

Menurut mitologi Jawa, Bathara Guru merupakan Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan Dewi Umaranti. Bathara Guru mempunyai beberapa anak.

Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.

KELAHIRAN BHATARA GURU

Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya. Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung(Togog) yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya.

Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya.

Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya.

Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.

KETURUNAN BHATARA GURU

Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

- Bhatara Cakra
- Batara Sambu
- Batara Brahma
- Batara Indra
- Batara Bayu
- Batara Wisnu
- Batara Ganesha
- Batara Kala
- Hanoman

Kisah Asal Usul Batara Guru (Manikmaya) Dalam Hindu

Mungkin banyak yang belum begitu mengenal siapa sebenarnya Maharaja Prabu Lingga Buana tersebut termasuk orang sunda sendiri, padahal kita sering mendengar raja sunda yang gugur di Bubat, waktu perang melawan Patih gajah Mada dari Majapahit. Dengan demikian yang akan dibahas selanjutnya adalah Raja yang gugur di medan Bubat.

Banyak sejarah tentang Prabu Wangi ini yang belum diungkap ke publik, terutama dari sumber kuno yang hingga kinipun tidak pernah dipakai, karena masalah politik dan dominasi di negara kita ini. Tetapi dalam kisah Prabu Lingga Buana disini akan banyak menampilkan sejarah atau kisah yang diungkapkan oleh naskah kuno yang bernama Kidung sunda atau kidung sundayana, yang ditulis oleh sejarawan Bali, yang waktu itu ada di majapahit, ketika sama sama akan menghadiri acara pernikahan Hayam Wuruk, Raja dari majapahit dan Dyah Pitaloka putri dari kerjaan Sunda.

Prabu Linggabuana terkenal sebagai seorang yang perkasa. Naskah Wangsakerta melukiskan dirinya sebagai berikut: ” Di medan perang bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya  diperintah dan dijajah  orang lain.” Ia tidak merasa takut berhadapan dengan pasukan majapahit meskipun berada dikandang lawan (di daerah majapahit). Ia juga tidak merasa gentar meskipun pasukannya tidak dipersiapkan untuk berperang (ia membawa pasukan hanya untuk mengantar penganten), dan dalam jumlah yang sedikit, melawan pasukan Majapahit yang memang sudah dipersiapkan untuk berperang. Ia tidak gentar mengahadapi pasukan majapahit yang dipimpin  oleh Patih Gajah Mada  yang jumlahmya tidak terhitung.

Pada tahun 1339 M Sang Raja Sunda sangat bahagia ketika menyaksikan kelahiran sang bayi wanita, cucunya  yang sangat cantik. Sang raja tersebut tersebut kemudian memberi nama bayi tersebut dengan nama  Citraresmi.

Sang Raja yang berbahagia tersebut diatas bernama Maharaja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa. Ia merupakan raja Kerajaan Sunda  yang berkuasa  dari tahun 1340 hingga tahun 1350 M. Dan anak wanita tersebut merupakan putri dari putra Mahkota, Pangeran Linggabuana.

Maharaja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa, dalam naskah Carita parahiyangan di sebut Sang Aki Kolot. Ia berkuasa di tanah Sunda dan galuh selama 10 tahun. Ia menggantikan menjadi raja menggantikan ayahnya Prabu Ajiguna Wisesa atau Sang Mokteng Kidding (yang hilang di kidding) yang berkuasa dari tahun 1333-1340 M. Sang Aki Kolot atau Prabu Ragamulya Luhur Prabawa merupakan putra dari Ajigunana wisesa dengan putri Rimamelati.      Setelah meninggal, ia dikenal  dengan Salumah Ing  Taman, karena ia meninggal di Taman.

RagamulyaLuhur Prabawa atau sang aki kolot mempunyai adik yang bernama Prabu Suryadewata, yang diangkat menjadi raja Galuh. sang adik raja atau  Prabu Suryadewata inilah di kemudian hari yang menurunkan raja raja kerajaan Talaga.  Dan Prabu Suryadewata ini juga yang merupakan cikal bakal dari kerajaan Sumedang larang. Prabu Suryadewata sebelum kepindahan keraton Galuh ke Pakuan, menginstruksikan kepada Prabu Aji Putih untuk membangun kabuyutan di Tembong Agung, yang merupakan cikal bakal kerajaan Sumedang larang.

Pada tahun 1350 M, Sang raja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa meninggal dunia. Dan ia kemudian digantikan oleh anaknya pangeran Linggabuana. Sang Pangeran dinobatkan menjadi raja  pada  tanggal 14 bagian terang bulan palguna tahun 1272 Saka (22 Februari 1350 M), dengan nama penobatan Prabu Linggabuana Wisesa.

Dalam melaksanakan pemerintahannya sehari hari Sang Raja  baru tersebut di bantu oleh adik iparnya, yang menjadi mangkubumi, yaitu Sang Bunisora yang bergelar Mangkubumi Saradipati.

Dalam naskah carita Parahiyangan Prabu Linggabuana hanya disebut Prabu Maharaja saja.

 Sebagai berikut: “....Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat,

 Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

 Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.....“

Prabu Maharaja Linggabuana berprameswarikan Dewi Lara Linsing, darinya ia mempunyai 4 orang anak, tetapi anak kedua dan ketiganya meninggal pada usia 1 tahun. Anak pertamanya seorang wanita yang terkenal dalam sejarah, yaitu Dyah Pitaloka, lahir tahun 1339 M, oleh kakeknya diberi nama Citraresmi, dan anak terakhirnya ( yang ke-empat) seorang laki-laki yang dikemudian hari menjadi raja yang sangat terkenal, yaitu Wastukencana yang lahir tahun 1348 M.

HAYAM WURUK JATUH HATI PADA PUTRI PRABU LINGGABUANA

Di ibukota majapahit, telah beredar lukisan seorang wanita cantik. Masyarakat ibukota Majapahit merasa kagum terhadap kecantikan wanita dalam lukisan  yang begitu sempurnanya. Seolah di seluruh negeri Majapahit tidak ada yang menandinginya. Lukisan tersebut adalah karya maestro waktu itu yang bernama Sungging Prabangkara, yang secara diam diam ia melukis Sang Putri Sunda ketika berkunjung ke Pakuan, ibukota kerajaan Sunda.

Sungging Prabangkara adalah Seorang seniman dan pelukis profesional, yang senang mengembara ke berbagai negeri untuk melukis berbagai hal yang menarik dari negeri negeri yang dikunjunginya. Ia tidak hanya melukis kecantikan putri sunda saja, tetapi banyak juga koleksinya tentang putri putri raja atau bangsawan di berbagai negeri yang ia kunjungi. Dan yang mendapat respon yang paling besar dari lukisannya adalah lukisan tentang putri sunda tersebut.

Tentang lukisan wanita cantik begitu terkenalnya. Banyak orang yang memperbicangkan bahwa wanita itu cocok untuk Sang Raja yang baru dilantik menjadi raja. Apalagi sang raja belum punya pasangan. Tidak hanya di masyarakat banyak, ternyata lukisan tersebut juga menjadi perbincangan yang hangat di kalangan istana majapahit. Sejumlah pangeran banyak yang begitu mengaguminya, termasuk Sang raja Muda Majapahit, yaitu Hayam Wuruk, yang waktu itu masih bujangan.

 Melihat lukisan tersebut seolah memberikan jawaban tentang angan angan sang raja untuk mempersunting seorang wanita yang cantik, yang ia rasakan belum ada yang cocok di lingkungan kerajaan Majapahit.  Padahal banyak bangsawan dan raja bawahan majapahit yang mengidolakan sang raja untuk menjadi menantu mereka. Dan hal ini juga sangat diharap oleh kaum mudi Majapahit dan putri putri bangsawan serta raja bawahan Majapahit. Tetapi seolah semua putri bangsawan dan raja bawahan tidak membuat Sang raja tertarik. Justru Sang Raja sangat mengidolakan lukisan karya maestro, Sungging Prabangkara tersebut.

Setelah menjadi raja, seolah Hayam Wuruk merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia begitu merindukan sosok pendamping yang ia idolakan. Seolah tidak ada yang menarik hatinya di sekitar istana Majapahit. Dan hal ini seolah mendapat jawaban dari karya sang pelukis tersebut.

Karena itu ia mengutus para mentrinya untuk mendatangkan sang pelukis ke istana. Apakah memang benar benar lukisannya itu nyata, atau hanya khayalan sang pelukis belaka. Sang pelukis meyakinkan bahwa memang benar adanya. Menurutnya, ia telah mengembara ke berbagai negeri, dan ia begitu terpesona tentang kecantikan Diah Pitaloka, putri Sang Raja Sunda yang begitu cantiknya, sehingga ia melukisnya.

Mendengar penjelasan dari sang pelukis, sang raja seolah ingin meyakinkan tentang kebenaran lukisan wanita tersebut. Maka sang raja kemudian mengutus pelukis istana, dan orang orang kepercayaannya sang raja untuk meyakinkannya. Disamping pelukis, orang kepercayaan yang diustus oleh sang raja terdiri dari 5 orang, yaitu:Gajah Enggon yang menjabat sbagai pimpinan utusan, Ma Panji Elam (sang Arya Rajapakrama), Pu Kapasa (stys suradhiraja), Pu Menur (sang Arya Wangsaprana), Pu Kapat (Sng arya Patipati).

Setelah utusan kembali ke Majapahit dan meaporkan tentang kebenaran Sang Putri Sunda yang cantik tiada taranya. Maka dengan persetujuan keluarganya, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada maharaja Linggabuan untuk meminang putri Sunda melalui perantara tuan Anepaken. Dan rombongan utusan kedua dipimpin oleh Patih Madu yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan dimana pesta perkawinan antara raja Hayam Wuruk dan putri akan dilangsungkan.

Setelah pinangan dari Haayam Wuruk diterima, akhirnya disepakati bersama bahwa Raja Linggabuana, permaisuri dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan Putri, sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibukota Majapahit.

Raja Sunda, Prabu Linggabuana adalah seorang ksatria, yang sangat menjunjung tinggi moral. Ia sangat mempercayai maksud dan tujuan Raja Majapahit untuk menjadikan putrinya menjadi istri raja majapahit tersebut. Tidak ada rasa takut, karena kelurusan hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa nantinya akan dikhianati justru sudah nyampai tujuan.

Dan Sang Raja juga menerima pinangan karena untuk mempererat tali persaudaraan, karena pendiri Majapahit, atau kakek sang Raja Majapit tersebut adalah merupakan keturunan dari Raja Sunda. Dengan demikian dengan jauh dari rasa prasangka seolah persaudaraan turunan sedarah seolah akan dieratkan lagi dengan acara perkawinan di antara kedua negara.

Seperti telah diceritakan sebelumnya, bahwa Raden Wijaya adalah ketrunan dari Raja Sunda. Ayahnya  Pangeran Jayadarma, yang merupakan putra mahkota dari kerajaan Sunda meninggal akibat di racun, ketika Rade Wijaya masih kecil. Karena itu, ibunya yang berasal dari Singasari, meminta kembali pulang ke daerah asalnya, Singasari. pangeran jayadarma merupakan putra dari raja Prabu Darmasiksa.

Tentang rencana keberangkatan Sang raja ke Majapahit, pada awalnya ditentang oleh piak dewan kerajaan Sunda, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Kaarena menurut adat yang berlaku, tidak lazim pihak pengantin wanita datang ke pengantin laki-laki. Menurut mereka kemungkinan hal itu merupakan jebakan dari pihak majapahit yang saat itu ingin menguasai tanah sunda, karena dari beberapa peperangan seblumnya Majapahit pernah dikalahkan.

Tetapi Sang Raja Linggabuana sangatlah berjiwa besar, apalagi bahwa pendiri Majapahit masih merupakan bangsawan Sunda. Dengan alasan silaturahmi untuk mempererat persaudaraan. Sebagai bangsa besar yang tidak pernah dikalahkan, seolah Sang Raja terlalu percaya diri akan kebaikan orang lain. Apalagi masih keturunan yang sama. Dan akhirnya iia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur kedua negara tersebut.

Prabu Lingga Buana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima dan ditempatkan dipasanggrahan Bubat. Rombongan Sang raja disamping diikuti oleh oleh Prameswarinya, juga diikuti oleh pembesar Sunda lainnya.

KESALAHPAHAMAN GAJAH MADA

Mengetahui bahwa Raja sunda beserta rombongan tidak membawa senjata lengkap, karena bertujuan untuk mengantar sang penganten. Timbullah niatnya untuk untuk memamfaatkan kesempatan. Karena waktu itu kerajaan Sunda adalah salah satu negara terkuat di Jawa, untuk menyerang ke negaranya kemungkinan akan kalah seperti yang dialami sebelumnya (Kisah peperangan antara majapahit dengan Sunda, pernah terjadi seperti yang diungkapkan oleh salah seorang patih Sunda yang memaki Gajahmada (lihat Naskah Kidung Sundayana yang ditulis oleh orang Bali)).

Karena itu seolah kesempatan yang ditunggu tunggu justru datang sendiri. Karena itu seolah sudah disetting sbelumnya, bahwa kerajaan Sunda ditempatkan di pasanggarahan Bubat, karena jika terjadi peperangan akan mudah diserang di berbagai penjuru.

Gajah Mada juga memamfaatkan keberadaan raja sunda yang ada dekat pusat kerajaan Majapahit. Dengan demikian, jika terjadi pertempuranpun akan mudah mendatangkan seluruh pasukan Majapahit ke medan perang.

Etika dalam perang bukanlah budaya yang dikembangkan oleh Gajah Mada, menjunjung sikap ksatria juga bukanlah jiwa dari sang patih ini. Justru mengembangkan sikap Ajimumpung. Sikap mumpung Sang raja Sunda tidak bersenjata untuk perang. Karena itu ia dengan gagah beraninya membuat suatu kepustusan bahwa kedatangan sang Raja sunda ke tanah majapahit sebagai suatu tanda takluk kepada Majapahit.

Tentu sikap Patih Gajah mada ini membuat Sang Raja Marah, dan karen itu ia mengutus sang Patih untuk menemui Patih Gajah Mada. Patih Sunda dengan gagah berani tanpa sedikitpun takut meski di negeri orang memaki maki Gajah Mada yang tidak mengembangkan sikap seorang ksatria, seperti yang diungkapkan dalam Naskah Kidung Sundayana.

Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kami ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti sama seperti dari Nusantara. Kami lain, kami orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.

Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.

Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.

Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

Dari perkataan sang Patih Sunda ini,  (yang terdapat dalam Kidung Sundayana ini) kita jadi mengetahui, bahwa telah terjadi peperangan antara Majapahit dan kerajaan Sunda sebelumnya. Dimana pasukan Majapahit dikejar kejar dan diburu orang Jipang. Dan kemudian pasukan sunda kembali dan balatentara Majapahit Mundur. Kedua mentriMajapahit yang bernama Les dan Beleteng diparang dan mati. Pasukan Majapahit bubar dan melarikan diri, ada yang masuk ke jurang dan kena duri. Dimana mana pasukan majapahit merengek rengek minta dkasihani untuk hidup.

Sang Patih Sunda seolah tidak takut terhadap Gajah Mada meskipun mereka di daerah Majapahit. Cuma Dia menyayangkan  sikap Gajah Mada yang hianat, tidak sopan. Sehingga sang Patih mempertanyakan tentang ajaran yang dianut oleh sang patih, seolah tidak beragama dan tidak punya etika sebagai ksatria, yang senang menipu orang yang berbudi sahdu.

TERJADINYA PERANG BUBAT

Sumber yang paling banyak menceritakan tentang perang Bubat adalah naskah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali. Dalam Kitab pararthon dikisahkan peristiwa Bubat terjadi padaa tahun saka 1257 atau 1357 M.

Dalam naskah-naskah kuno, yang dibuat pada masa majapahit, baik oleh para pujangga, tidak memasukan kerajaan sunda pada negara-negara nusantara. Kerajaan Sunda tidak pernah kalah perang melawan majapahit, bahkan dimungkinkan Majapahit  pernah mengalami kekalahan yang tragis, seperti apa yang diungkapkan oleh Patih Anepaken kepada Gajah Mada, naskah Kidung Sunda dari Bali menceritakan dengan jelas tentang itu.

Patih anepaken merupahan mahapatih Sunda yang mengikuti rombongan maharaja Linggabuana untuk mengantar putri ke Majapahit. Ia tidak merasa takut meskipun hanya diiringi oleh 300 pasukan untuk melawan ribuan yang dipersiapkan oleh Gajah Mada.

 Dari perkataan yang dikutip dalam kidung Sunda tersebut, maka ada beberapa kesimpulan:

Pertama Patih Anepaken ingin mengatakan bahwa kerajaan Sunda adalah kerajaan besar, yang tidak ada satu negarapun yang dapat menguasai Sunda, demikian juga Majapahit.

Kedua: Kritikannya terhadap moralitas Majapahit yang  mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menantang perang kepada lawan yang tidak membawa senjata perang, dan dengan harapan persaudaraan (perkawinan).

Ketiga. Ingin mengingatkan bahwa tempo dulu ketika majapahit berperang dengan kerajaan Sunda, dengan kekalahan yang telak, dimana para mantrinya dengan meminta belas kasihan dari para prajurit Sunda.

Keempat: Gajah mada sangat mengetahui kehebatan kerajaan Sunda, karena tidak mungkin mengalahkan mereka, bahkan pernah kalah sebelumnya. Karena itu ia bagaikan mendapat durian runtuh ketika rombongan raja Sunda datang ke kandangnya dengan tidak bersenjata lengkap, karena hendak mengantar penganten, suatu kesempatan untuk  balas dendam.

PENGARUH DARI PERANG BUBAT

Perang bubat diyakini mengakibatkan akhir dari karir patih Gajah Mada. Ia dipersalahkan  karena peristiwa itu. Meskipun masih menjabat patih hingga beberapa tahun berikutnya, tetapi pamornya sangat menurun.

Dan perang Bubat ini membuat pamor dari Majapahit menurun drastis, dan dalam perkembangannya tidak terlalu lama majapahit hancur dan hilang seolah ditelan Bumi.

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, dan dimakamkan di Tayung (daerah Kediri sekarang). Ia digantikan oleh menantunya dan juga keponakannnya, Wikrawardhana, (suami dari anak perempuannya). Dan anaknya dari selirnya, Bhre Wirabhumi, diber kekuasaan di ujung Jawa timur. Dan dalam perkembangannya sering terjadi perang antara kedaton kulon (Wikramardhana) dan kedaton wetan (Bhre Wirabhumi), untuk memperebutkan keekuasaannya. Dengan demikian Setelah hayam Wuruk wilayah Majapahit hanyalah kekuasaan yang meliputi jawa tengah dan jawa timur.

Patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1364 M (7 tahun setelah perang bubat).

Kisah Asal Usul Prabu Linggabuana Dari Kerajaan Sunda

Loading...