Showing posts with label Sejarah SUNAN Bonang. Show all posts
Showing posts with label Sejarah SUNAN Bonang. Show all posts

Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim) Walisongo

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura.

Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Berikut ini adalah beberapa kisah karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim) :

MEMILIKI TONGKAT SAKTI (MERUBAH BUAH AREN JADI EMAS)


Sunan Bonang Merupakan Guru dari Sunan Kalijaga yang kala itu awal pertemuannya adalah sebagai perampok. Raden Said ingin merampok Tongkat Sunan Bonang yang berlapis emas. Namun ternyata karomah Sunan Bonang yang satu itu jauh lebih hebat dari apapun.

Tongkat Sunan Bonang memang sangat sakti, beliau bahkan bisa mengubah benda apa saja menjadi emas berlian. Tongkat tersebut berlapis emas, dan membuat siapa saja tergiur untuk memiliki tongkat sakti itu termasuk Raden Said. Awal pertemuan mereka adalah di Hutan.

Melihat Tongkat berlapis emas, tentunya Raden Said ingin mengambil paksa tongkat tersebut dari tangan Sunan Bonang. Dengan sekali tunjung buah kolang kaling yang ada di hadapan Sunan Bonang, seketika itu pula buah kolang kaling pun berubah menjadi segerombolan emas.

Ternyata, kesaktian Tongkat Sunan Bonang terletak pada hati sang Sunan yang memang sangat suci, ketaatan, keimanan dan ketaqwaan Sunan Bonang pada Allah SWT sangatlah luar biasa. Dan ini membuat beliau dikaruniai ALLAH berupa karomah. Karomah yang bisa mengubah apa saja menjadi emas. Andaikata Tongkat sakti itu dipegang selain Sunan Bonang tentu saja serta merta kekuatannya akan hilang. Tongkat itu tak lagi bisa mengubah benda menjadi emas.

Melihat kesaktian sang Sunan melalui Tongkat Sunan Bonang, seketika itu juga Raden Said menyatakan bahwa dirinya siap menjadi murid sang Sunan. Sunan Bonang memang tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah. Karena ibadah dzikir beliau inilah yang membuat Allah menurunkan rof rof satir emas dari langit ke tujuh kepada Sunan Bonang.

Selain tongkat Sunan Bonang, sebenarnya hati sang Sunan itulah yang mampu mengubah segalanya jadi emas. Karomah yang sangat berharga bagi beliau adalah emasnya budi pekerti, adab, tata krama terhadap Allah dan terhadap sesama makluk Allah. Karomah ini yang sering kita lupakan dari sosok Aulia Sunan bonang dan wali songo lainnya.

MENGALAHKAN SEORANG BRAHMANA


Cerita lain mengisahkan seorang brahmana bernama Sakyakirti yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.

“Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian,” sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.

“Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya,” sumpah sang Brahmana.

Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di Perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat.

Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya.

Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut.

Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.

Walaupun pada akhirnya dia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah ikut tenggelam ke dasar laut.

Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.

Dia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Dia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang.

Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan dia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sambil membawa tongkat.

Dia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?” tanya sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu.

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan,” jawab sang Brahmana.

“Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan,” kata sang Brahmana.

Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?,” tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Sementara itu para murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja meminum air jernih yang memancar itu.

Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.

“Segar…Aduuh…segarnya…” seru murid-murid sang Brahmana.

Brahmana Sakyakirti termenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Dia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.

Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.

Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.

Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir.

Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.

Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati. Dengan perasaan takut dan was-was, dia menatap wajah lelaki berjubah itu.

“Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?,” gumannya dalam hati.

Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?,” tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.

“Tuan berada di Pantai Tuban,” jawab lelaki berjubah putih itu.

Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.

“Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku. Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung,” kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.

“Ampun…Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya…,” ujar sang Brahmana meminta dikasihani.

“Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?,” tukas Sunan Bonang.

“Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya,” kata Brahmana Sakyakirti.

“Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang,” ujar Sunan Bonang.

Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama Islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan. Lalu sang brahmana dan pengikutnya menjadi murid dari Sunan Bonang.

MENAKLUKAN PEMIMPIN PERAMPOK

Sunan Bonang menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat.

Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh Kebondanu dan anak buahnya, Sunan Bonang hanya memperdengarkan tembang Dharma ciptaannya.

Seketika itu juga Kebondanu dan seluruh anak buahnya tidak dapat bergerak. Kaki dan tangan serta seluruh anggota badannya terasa kaku, tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu para perampok tersebut tidak dapat berbuat lain kecuali berteriak minta ampun kepada Sunan Bonang. ”Ampun… hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,” begitu konon kata Kebondanu.

Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Bonang.

MENENDANG KAPAL LAUT SAUDAGAR CHINA HINGGA HANCUR

Dahulu kala, ada seorang saudagar kaya yang bernama Dampo Awang yang berasal dari China.

Dia ingin pergi tanah Jawa untuk mengajarkan ajaran Khong Hu Cu bersama para pengawal setianya. Suatu hari, dia sampai di tanah Jawa bagian timur.

Dampo Awang sangat senang akan daerah itu sehingga bermaksud untuk berlabuh di sana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Kemudian Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang.

Dampo Awang takut jika ajaran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama Islam.

Kemudian Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang, tetapi dengan mudah Sunan Bonang dapat mengalahkan pengawal-pengawal termasuk Dampo Awang.

Lalu Dampo Awang pulang ke negeri China untuk menyusun stategi dan kekuataan baru. Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah Jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Pada saat sampai di tanah Jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk di daerah itu sudah menganut agama Islam.

Dampo Awang marah lalu mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak bisa menahan amarahnya ketika bertemu dengan Sunan Bonang, sehingga dia langsung menyerangnya lebih dahulu.

Tetapi Sunan Bonang tetap bisa mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya. Kemudian Dampo Awang diikat di dalam kapalnya, lalu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh bagian kapal tersebar kemana-mana.

Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “Kerem (Tenggelam)”, sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “Kemambang (Terapung)”.

Kemudian lambat laut, masyarakat menyebut Rembang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya, daerah tersebut dinamakan Rembang yang sekarang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah.

Jangkarnya, sekarang ada di Taman Kartini, sedangkan layar kapalnya berada di Batu atau biasanya sering disebut “Watu Layar” dan kapalnya konon menjadi Gunung Bugel yang berada di Kecamatan Pancur, karena bentuknya menyerupai sebuah kapal besar.

MAKAM SUNAN BONANG TIDAK MEMPAN DIBAKAR DAN MEMBAWA BERKAH

Komplek Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur yang di bangun tahun 1525 M diceritakan secara turun menurun menyimpan berbagai keajaiban. Salah satu keajaiban itu adalah tidak mempan dibakar meski sudah terbakar sebanyak dua kali.

“Kejadian mistis itu biasa. Pernah dibakar zaman Gestapu awalnya api kelihatan besar. Setelah itu padam sendiri dan enggak ada bekas terbakar,” ungkap Juru Kunci Makam Sunan Bonang Abdul Muchith ketika di temui di kompleks makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Selain itu, tahun 2013 silam. Ada orang berkelainan mental masuk ke dalam kompleks makam dan menumpahkan emosinya di sana.

“Dua tahun yang lalu dibakar orang gila. Bakarnya pakai minyak tanah. Tapi anehnya tidak terbakar,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Abdul Muchith dulu di bagian belakang makam Sunan Bonang tumbuh pohon besar sekali. Posisi pohon itu hingga menjangkau tepat di atas cungkup makam. Namun ketika musim hujan lebat, angin membuat pohon itu tumbang.

“Waktu ada puting beliung, kok bisa pohonnya malah roboh menjauhi makam,” ujarnya.

Ada pula cerita seseorang yang bernazar akan ziarah ke makam Sunan Bonang jika anaknya sembuh dari penyakit keras. Kejaiban mendadak datang selang tak lama dari waktu dia bernazarnya.

“Kalau sembuh dari kanker otak bakal diajak ziarah ke makam Sunan Bonang. Enggak lama ternyata sembuh. Ibunya cerita ke saya waktu mampir sini,” tuturnya.

Selain itu pernah ada juga orang dari Sumatera yang dulunya sulit mendapat keturunan. Kemudian dia bernazar akan ke makan Sunan Bonang jika dihadiahi momongan. Peristiwa tersebut diketahui oleh Abdul Muchith ketika ada orang yang tiba-tiba memintanya menyembelih kambing akikah. Ternyata kambing tersebut adalah akikah dari anaknya.

WAFATNYA SUNAN BONANG

Sunan Bonang wafat karena usia lanjut saat berdakwah di Pulau Bawean pada tahun1525. Beritanya, segera tersebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di pulau tersebut.

Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah, mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan oleh orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban.

Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah mungkin karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah sedikit kisah mengenai kisah Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Wednesday, December 20, 2017

Kisah dan Riwayat Wali Abdal yang Gagal karena Nafsu

Pada suatu zaman dahulu ada seorang nelayan tua yang kehidupannya hanya menangkap ikan sambil bertasbih. Pekerjaannya itu dilakukan sehari-hari dengan istiqamah.


Tiba-tiba ia di datangi oleh 39 orang berpakaian gamis dan jubah dengan menggunakan surban. Seorang pemimpin dari mereka langsung berkata kepada nelayan tua itu: “Kami dari para Wali Abdal ingin mencari (anggota) sahabat yang baru.

Jumlah kami sebelumnya adalah 40 orang, tetapi setelah salah seorang di antara kami meninggal maka jumlah kami sekarang 39 orang. Maukah anda ikut dengan kami dan diangkat menjadi seorang Wali Allah?” Betapa tercengangnya nelayan itu dan langsung menyetujuinya.

Namun sebelum itu ia menanyakan: “Katanya seorang Wali itu bisa berjalan di atas air, apakah saya bisa melakukannya setelah menjadi seorang Wali?” Maka jawab pemimpin Wali Abdal itu: “Oh tentu, Insya Allah. Silahkan buktikan”. Setelah itu nelayan tua itu membuktikan kebenaran ucapan Wali tersebut.

Dan ternyata benar, kakinya tidak tenggelam ke dasar laut. Dengan serta merta ia berujar dengan gembiranya: “Baiklah, aku mau ikut bersama kalian”. Pemimpin Wali itu berkata: “Kalau kamu ingin ikut dengan kami, ada satu syarat yang harus kamu penuhi.

Jika tidak, kami tidak mengakuimu lagi sebagai anggota dari kami. Yaitu, jangan engkau membantah (berkomentar) atas apapun yang akan terjadi. Apakah kamu sanggup?” Karena merasa ringan akan syarat tersebut maka nelayan tua itu menyetujuinya. Lalu ikutlah ia bersama para Wali Abdal tersebut, yang sekarang telah genap berjumlah 40 orang.

Belum lama dari peristiwa tersebut, 40 Wali tadi berdzikir bersama di atas sebuah kapal dan melakukan ibadah ritual lainnya. Pemimpin Abdal, setelah acara selesai berkata: “Kini tibalah waktunya kita makan bersama”. Seketika itu datanglah sebuah hidangan dari langit yang berisi ikan yang amat besar”.

Melihat kejadian itu terkagum-kagum nelayan tua itu, dikarenakan baru menyaksikan hal itu seumur hidupnya. Baru saja ikan itu dihidangkan, Pak tua itu langsung mencicipi ikan tadi. Kontan dari mulutnya mengatakan: “Wah, ikannya memang besar, tapi lebih lezat lagi kalau dikasih garam”.

Pada saat itulah para Wali tadi menghadapkan wajahnya kepada Pak tua, dan berkatalah pemimpin Abdal: “Wahai Pak tua, tak pantas rasanya seorang Wali mengucapkan perkataan itu, padahal rizqi yang datang di hadapan kita ini Allah yang memberi dan kita tinggal menerima. Anda mencela rizqi dariNya berarti anda mencelaNya. Maka sudah kukatakan sebelumnya bahwa syarat mengikuti kami adalah jangan membantah (mengomentari) apa-apa yang akan terjadi. Dengan sangat menyesal kami tidak dapat menerimamu di hadapan kami”. Setelah itu Pak Tua menjadi nelayan kembali.

Wallohu a’lam Bisshowab.

Pengertian Wali Abdal, Ciri-ciri dan Tugas Wali Abdal dalam Islam

Wali abdal adalah Wali Alloh yang jumlahnya mencapai 40, jika salah satu dari mereka Wafat maka Alloh SWT akan menggantikan posisi nya yang Wafat tersebut hingga jumlahnya tetap 40 dan akan terus ada sampai Hari Kiamat.


Dalam Kitab Alhawi Lilfatawa karya syehk jalaluddin assuyuthy :

فقد بلغني عن بعض من لا علم عنده إنكار ما اشتهر عن السادة الأولياء من أن منهم أبدالا ونقباء ونجباء وأوتادا وأقطابا 

"sesungguhnya telah sampai kabar kepadaku tentang ulah sebagian orang orang yang tidak mempunyai ilm berani ingkar akan adanya penghulu para wali adapun dari pemimpin para auliya itu adalah wali abdal,wali nuqaba' wali nujaba' wali awtad dan wali aqthab atau wali qutb".

وقد وردت الأحاديث والآثار بإثبات ذلك فجمعتها في هذا الجزء لتستفاد 

"dan kami akan menuturkan hadist hadist serta astar tentang dalil adanya petunjuk tentang hal di atas dan kami kumpulkan dalil dalilnya pada bagian ini supaya bisa di ambil ke manfaatannya"

"suatu ketika Ahli syam disebut-disebut di hadapan sayyidina Ali (ketika beliau di Irak) lalu penduduk Irak berkata : laknatlah mereka wahai amirul mukminin. Sayyidina Ali menjawab : tidak, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah mengganti tempatnya dengan orang lain. Karena merekalah penduduk syam diberi hujan, karena mereka penduduk syam ditolong dari musuh dan karena mereka penduduk syam dihindarkan dari siksa"

قال ابن عساكر في تاريخه أنا أبو القاسم الحسيني ثنا عبد العزيز بن أحمد الكناني أنا أبو محمد بن أبي نصر أنا الحسن بين حبيب ثنا زكريا بن يحيى ثنا الحسن بن عرفة ثنا إسماعيل بن عياش عن صفوان بن عمرو السكسكي عن شريح بن عبيد الحضرمي قال ذكر أهل الشام عند علي بن أبي طالب فقالوا يا أمير المؤمنين العنهم فقال لا إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أن الأبدال بالشام يكونون وهم أربعون رجلا بهم تسقون الغيث وبهم تنصرون على أعدائكم ويصرف عن أهل الأرض البلاء والغرق 

Artinya : "suatu ketika Ahli syam disebut-disebut di hadapan sayyidina Ali (ketika beliau di Irak) lalu penduduk Irak berkata : laknatlah mereka wahai amirul mukminin. Sayyidina Ali menjawab : tidak, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, Karena merekalah penduduk syam diberi hujan, karena mereka penduduk syam ditolong dari musuh dan karena mereka penduduk syam dihindarkan dari bala' dan dihindarkan dari tenggelam

 قال ابن أبي الدنيا في كتاب الأولياء حدثني أبو الحسن خلف بن محمد الواسطي ثنا يعقوب بن محمد الزهري ثنا مجاشع بن عمرو عن ابن لهيعة عن إبراهيم عن عبد الله بن زرير عن علي سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الأبدال قال هم ستون رجلا 

"dari sayyidina aly bertanya pada rasulullah salallahu alaihi wa salam tentang kejelasan wali abdal maka rasulullah bersabda '' wali abdal itu berjumlah 60 laki laki "

(‏طريق أخرى عنه موقوفة‏)‏‏:‏ وبه إلى أبي عمرو السعيدي ثنا زياد بن يحيى أبو الخطاب ثنا أبو داود الطيالسي عن الفرج بن فضالة ثنا عروة ابن رويم اللخمي عن رجاء بن حيوة عن الحارث بن حومل عن علي بن أبي طالب قال لا تسبوا أهل الشام فإن فيهم الأبدال‏.‏ 

"Sayyidina Ali berkata janganlah kalian berkata kasar pada penduduk syam karena didalam negri tersebut ada beberapa wali abdal"

(‏طريق أخرى عن علي موقوفة‏)‏‏:‏ قال ابن أبي الدنيا ثنا الحسن بن أبي الربيع أنا عبد الرزاق أنا معمر عن الزهري عن عبد الله بن صفوان قال‏:‏ قال رجل يوم صفين اللهم العن أهل الشام فقال علي لا تسب أهل الشام فإن بها الأبدال فإن بها الأبدال فإن بها الأبدال أخرجه البيهقي والخلال وابن عساكر، وله طرق عن الزهري وفي بعضها عن صفوان بن عبد الله بدل عبد الله بن صفوان وفي بعضها عن الزهري عن أبي عثمان بن سنة عن علي وفي بعضها عن الزهري عن علي‏.‏

"berkatalah seorang lelaki pada waktu perang shiffin ''ya allah laknatlah penduduk negeri syam mendengar kalimat tersebut maka sayyidina aly berkata ''janganlah kalian berkata kasar pada ahli syam karena di dalam negeri syam ada beberapa wali abdal ,karena sesungguhnya di dalam syam da beberapa wali abdal , karena sesungguhnya di dalam syam ada beberapa wali abdal".

(‏طريق أخرى‏)‏‏:‏ قال الخلال ثنا علي بن عمرو بن سهل الحريري ثنا علي بن محمد بن كلس ثنا الحسن بن علي بن عفان ثنا زيد بن الحباب حدثني ابن لهيعة عن خالد بن يزيد السكسكي عن سعيد بن أبي هلال عن علي رضي الله تعالى عنه قال قبة الإسلام بالكوفة والهجرة بالمدينة والنجباء بمصر والإبدال بالشام وهم قليل- أخرجه ابن عساكر من طريق أبي سعيد بن الأعرابي عن الحسن بن علي بن عفان به‏.‏

"Sayyidina aly radhiallhu anhu berkata '' qubbatul islam itu berada di kuffah adpun hijrah itu adanya di madinah sedangkan wali nujaba' itu ada di mesir adapun wali abdal itu ada di syam dan mereka itu jumlahnya sedikit".

. ‏(‏طريق أخرى عنهم‏)‏‏:‏ قال ابن عساكر أنا نصر بن أحمد بن مقاتل عن أبي الفرج سهل بن بشر الأسفراييني أنا أبو الحسن علي بن منير بن أحمد الخلال أنا الحسن بن رشيق ثنا أبو علي الحسين بن حميد العك ثنا زهير بن عباد ثنا الوليد بن مسلم عن الليث بن سعد عن عياش بن عباس القتياني أن علي بن أبي طالب قال الأبدال من الشام والنجباء من أهل مصر والأخيار من أهل العراق‏.‏ 

"sesungguhnya sayyidina aly berfatwa '' wali abdal itu berada di syam adapun wali nujaba' itu di mesir sedangkan orang orang terpilih ada di iraq "

عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال البدلاء أربعون رجلا اثنان وعشرون بالشام وثمانية عشر بالعراق كلما مات منهم واحدا أبدل الله مكانه آخر فإذا جاء الأمر قبضوا كلهم فعند ذلك تقوم الساعة‏.‏ 

rasulullah bersabda '' wali abdal itu 22 laki laki di negeri syam dan 18 lelaki ada di iraq ketika dari mereka ada yang meninggal dunia maka allah akan mengangkat wali abdal lagi karena untuk mengisi tempat yang telah di tinggalkan wali yang telah wafat tadi dan apabila saatnya telah tiba maka allah akan mewafatkan mereka tanpa ada diangkatnya seorang pengganti dan saat itulah kiamat telah tiba".

 (‏طريق ثان عنه‏)‏‏:‏ قال الحافظ أبو محمد الخلال في كتاب كرامات الأولياء أنا أبو بكر بن شاذان ثنا عمر بن محمد الصابوني ثنا إبراهيم بن الوليد الجشاش ثنا أبو عمر الغداني ثنا أبو سلمة الخراساني عن عطاء عن أنس قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الأبدال أربعون رجن وأربعون امرأة كلما مات رجل أبدل الله مكان رجل ولكما ماتت امرأة أبدل الله مكانها امرأة- أخرجه الديلمي في مسند الفردوس من طريق أخرى عن إبراهيم بن الوليد‏.‏ 

"Abdal ada empat puluh lelaki dan empat puluh perempuan. Apabila salah seorang lelaki itu meninggal, Alloh menggantikan tempatnya dengan lelaki lain dan apabila salah seorang perempuan itu meninggal, Alloh menggantikan tempatnya dengan perempuan lain"

. (‏طريق ثالث عنه‏)‏‏:‏ قال ابن لال في مكارم الأخلاق ثنا عبد الله بن يزيد بن يعقوب الدقاق ثنا محمد بن عبد العزيز الدينوري ثنا عثمان ين الهيثم ثنا عوف عن الحسن عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن بدلاء أمتي لم يدخلوا الجنة بكثرة صلاتهم ولا صيامهم ولكن دخولها بسلامة صدورهم وسخاوة أنفسهم- أخرجه ابن عدي والخلال وزاد في آخره والنصح للمسلمين‏.‏ 

"Diriwayatkan dari 'Ali bin Ahmad bin Abdan dari Ahmad bin 'Ubaid dari Abi Syaibah dari Muhammad bin Imran bin Abi Laeli dari Salmah bin Raja dari Shalih al-Mary dari Hasan dari Abi Sa'id al-Khudri (atau dari yang lainya), Rosululloh saw bersabda," sesungguhnya (wali) Abdal dari umatku tidak akan masuk surga karena amal (nya), tetapi ia masuk surga karena kebersihan hati dan karena kemurahan jiwa, serta karena nasehatnya pada sesama orang-orang muslim"

 (‏حديث عبادة بن الصامت‏)‏‏:‏ قال الإمام أحمد في مسنده ثنا عبد الوهاب بن عطاء أنا الحسن بن ذكوان عن عبد الواحد بن قيس عن عبادة بن الصامت عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الأبدال في هذه الأمة ثلاثون مثل إبراهيم خليل الرحمن كلما مات رجل أبدل الله مكانه رجلا‏.‏ وأخرجه الحكيم الترمذي في نوادر الأصول والخلال في كرامات الأولياء ورجاله رجال الصحيح غير عبد الواحد وقد وثقة العجلي وأبو زرعة‏.‏ 

Diceritakan dari 'Abdul Wahab bin 'Atho' dari hasan bin dakwan dari 'Abdul Wahid bin Qais dari 'Ubadah bin Shamat dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda," "Abdal dari umatku ada tiga puluh orang laki-laki, hati mereka seperti hati Ibrahim Kholilur Rahman, Apabila salah seorang itu meninggal,maka Alloh Tabaroka Wata'ala menggantikan tempatnya dengan lelaki lain".

 (‏طريق ثان عنه‏)‏‏:‏ قال الطبراني في الكبير ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني محمد بن الفرح ثنا زيد بن الحباب أخبرني عمر البزار عن عبيسة الخواص عن قتادة عن أبي قلابة عن أبي الأشعث عن عبادة بن الصامت قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الأبدال في أمتي ثلاثون بهم تقوم الأرض وبهم تمطرون وبهم تنصرون، 

"Diceritakan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari Muhammad bin al-Faraz dari Zaid bin al-Hubab dari 'Umar al-Bazar dari 'Ubaisah al-Khawashi dari Qatadah dari Abi Qulabah dari Abi al-'Asyas dari 'Ubadah bin Shamat, ia berkata: bersabda Rasulullah saw."al-Abdal dari umatku ada tiga puluh orang: mereka memelihara bumi,menurunkan hujan dan memberi pertolongan"

(‏حديث أبي سعيد الخدري‏)‏‏:‏ قال البيهقي في شعب الإيمان أنا علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد ثنا ابن أبي شيبة ثنا محمد بن عمران بن أبي ليل أنا سلمة بن رجاء كوفي عن صالح المزي عن الحسن عن أبي سعيد الخدري أو غيره قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أبدال أمتي لم يدخلوا الجنة بالأعمال إنما دخولها برحمة الله وسخاوة الأنفس وسلامة الصدور ورحمة لجميع المسلمين، قال البيهقي رواه عثمان الدارمي عن محمد بن عمران فقال عن أبي سعيد لم يقل أو غيره وقيل عن صالح المزي عن ثابت عن أنس‏.‏ 

"Diriwayatkan dari 'Ali bin Ahmad bin Abdan dari Ahmad bin 'Ubaid dari Abi Syaibah dari Muhammad bin Imran bin Abi Laeli dari Salmah bin Raja dari Shalih al-Mary dari Hasan dari Abi Sa'id al-Khudri (atau dari yang lainya), Rosululloh saw bersabda," sesungguhnya (wali) Abdal dari umatku tidak akan masuk surga karena amal (nya), tetapi ia masuk surga karena rahmat Alloh, kemurahan jiwa, kebersihan hati dan karena nasehatnya pada orang-orang muslim"

(‏حديث أبي الدرداء‏)‏‏:‏ قال الحكيم الترمذي في نوادر الأصول ثنا عبد الرحيم ابن حبيب ثنا داود بن محبر عن ميسرة عن أبي عبد الله الشامي عن مكحول عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال أن الأنبياء كانوا أوتاد الأرض فلما انقطعت النبوة أبدل الله مكانهم قوما من أمة محمد صلى الله عليه وسلم يقال لهم الأبدال لم يفضلوا الناس بكثرة صوم ولا صلاة ولا تسبيح ولكن بحسن الخلق وبصدق الورع وحسن النية وسلامة قلوبهم لجميع المسلمين والنصيحة لله‏.‏ 

diceritakan dari abi darda' bahwasanya para nabi adalah tali (penguat) bumi maka dikala kenabian telah usai maka allah menempatkan ummat muhammad pada posisi tugasnya dan mereka yang mendapat tugas ini di sebut wali abdal yang mana mereka ini bukanlah orang yang banyak berpuasa atau solat ataupun bertasbih namun mereka ini adalah orang orang yang baik budi pekertinya dan benar benar wira'i serta baik niat hatinya serta bersih jiwanya pada seluruh orang islam dan mau menasehati dengan lillahi ta'ala".

CIRI CIRI WALI ABDAL

Ada beberapa indikasi atau ciri-ciri yang di miliki oleh wali Abdal. Ciri-ciri itu di antaranya adalah ikhlas, pemaaf, dermawan, bersih jiwanya, suka memberi nasihat tanpa memaksakan kehendak / mengajak / menyuruh, dan mereka masuk surga bukan karena amalnya ibadahnya (bukan karena sholat, puasa atau shadaqoh), tetapi mereka masuk surga karena rohmat Alloh, kemurahan hati, kebersihan jiwa, dan karena suka memberi nasihat dalam contoh sehari''.

Menurut Sahl bin Abdulloh, seseorang itu bisa menjadi Abdal karena empat hal, yaitu: pertama, sedikit bicara, kedua, sedikit makan, ketiga, sedikit tidur, dan keempat, mengasingkan diri (kholwah).
Menurut Ma'ruf al-Kurkhi, barang siapa yang berdo'a:

( اللهم اصلح امة محمد اللهم فرج عن امة محمد اللهم ارحم امة محمد )

"setiap hari sebanyak sepuluh kali, maka ia termasuk Abdal."

ثلاث من كن فيه فهو من الأبدال الذين هم قوام الدنيا وأهلها : الرضا بالقضاء والصبر عن محارم الله والغضب في ذات الله , 

"Ada tiga perkara apabila seseorang memilikinya, ia termasuk dari al-Abdal, mereka (abdal) yaitu orang yang menjaga dunia dan penduduknya. (tiga perkarara itu adalah): orang yang ridho dengan qodho' & qodar (ketetapan Alloh), sabar atas sesuatu yang diharamkan oleh Alloh dan orang yang marah hanya karena Alloh".

علامة أبدال أمتي أنهم لا يلعنون شيئا أبدا  

  Dalam kitab Su'bul Iman, al-Baihaqi meriwayatkan,

أخبرنا علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد نا بن أبي شيبة نا محمد بن عمران بن أبي ليلى أنا سلمه بن رجاء كوفي عن صالح المري عن الحسن عن أبي سعيد الخدري أو غيره قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أبدال أمتي لم يدخلوا الجنة بالأعمال ولكن إنما دخلوها برحمة الله وسخاوة الأنفس وسلامة الصدور ورحمة لجميع المسلمين ( شعب الإيمان الإمام البيهقي)

"Diriwayatkan dari 'Ali bin Ahmad bin Abdan dari Ahmad bin 'Ubaid dari Abi Syaibah dari Muhammad bin Imran bin Abi Laeli dari Salmah bin Raja dari Shalih al-Mary dari Hasan dari Abi Sa'id al-Khudri (atau dari yang lainya), Rosululloh saw bersabda," sesungguhnya (wali) Abdal dari umatku tidak akan masuk surga karena amal (nya), tetapi ia masuk surga karena rahmat Alloh, kemurahan jiwa, kebersihan hati dan karena rahmat orang-orang muslim"

لا يزال أربعون رجلا من أمتي قلوبهم على قلب إبراهيم عليه السلام يدفع الله بهم عن أهل الأرض يقال لهم الأبدال ) إنهم لن يدركوها بصلاة ولا صوم ولا صدقة قالوا : يارسول الله فبم أدركوها ؟ قال : بالسخاء والنصيحة للمسلمين .

NAMA-NAMA WALI SELAIN "AL-ABDAL"

(الذين آمنوا‪‬‪‬)

“Yaitu orang-orang yang beriman,”.
 Beriman kepada Allah Ta`ala, beribadah semata-mata karenaNya (ikhlas karena Alloh),

وكانوا يتقون

"Dan mereka selalu bertaqwa"

 Mereka membuktikan keimanan mereka tadi dengan melakukan ketaqwaan kepada Alloh Jalla wa `Alaa dengan cara melaksanakan segala perintah Nya serta mejauhi segala bentuk larangan-Nya. Serta mengikuti perintah Rosul-Nya

صلى الله عليه و سلم 

dan menjauhi segala larangannya.

Asal kata "al-Wilayah" adalah al-Qurb yang artinya dekat. Adapun lawan dari kata "al-Wilayah" adalah "al-'Adawah" artinya permusuhan.

 Ahlu wilayah (para wali) yakni orang yang selalu mendekatkan diri kepada Alloh dengan keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits qudsi, hadits ini dikenal dengan "hadits wali"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ"
رواه البخاري

 Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Rodhiallohu 'anhu, beliau berkata, telah bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wasallam , sesungguhnya Alloh 'azza wa jalla berfirman,

 “Siapa yang memusuhi seorang kekasihKu, maka Aku menyatakan perang kepadanya, dan tiada mendekat kepadaku seorang hambaku, dengan sesuatu yang lebih kusukai daripada melaksanakan kewajibannya, dan selalu hambaku mendekat kepadaku dengan melakukan sunah – sunah sehingga Aku sukai, maka apabila Aku telah kasih kepadanya, Akulah yang menjadi pendengaranNya, dan penglihatanNya, dan sebagai tangan yang digunakanNya dan kaki yang di jalankanNya, dan apabila ia memohon kepadaku pasti Ku kabulkan dan jika berlindung kepadaKu pasti Ku lindungi” (HR. al-Bukhari).

Maka hendaklah setiap manusia untuk selalu berhati-hati untuk tidak memerangi, menyakiti, mengolok-olok wali Alloh atau hamba-hamba Alloh yang sholih. Wali Alloh adalah orang Yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Alloh, menegakkan sunnah, berbakti kepada orangtuanya dan selalu melakukan ketaatan-ketaatan lainnya. Dan janganlah kalian mengolok-olok orang yang selalu berbuat ketaatan serta menegakkan sunnah, karena bisa jadi orang yang diolok-olok itu adalah orang yang terbaik dimuka bumi.

 Hendaknya kita mencintai orang-orang yang sholih dan menyelamatkan hati kita dari iri, dengki, dan hasad.

 Sesungguhnya wali Alloh itu ada dua derajat.
Derajat pertama: Adalah orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh dengan amalan Yang wajib dan menjauhi segala larangannya, derajat ini disebut dengan "al- Muqtasid (pertengahan)"
 Derajat kedua: Lebih tinggi dari derajat pertama, adalah orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh dengan amalan yg sunnah setelah mengerjakan yg wajib, derajat ini disebut dengan "as-Saabiquuna bil khoiroot (lebih cepat berbuat kebaikan)".
 Sebagaimana firman Alloh Ta'ala:

مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَ مِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ

"Diantara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan”. (QS. Fathir:32).

 Di dalam hadits qudsi diatas dijelaskan pula balasan kepada para wali Alloh, bahwasanya mereka akan mendapatkan cinta Alloh, dan jika Alloh mencintainya, maka Alloh akan selalu menuntun pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya, dan Alloh senantiasa mengabulkan doa dan melindunginya. Inilah kemuliaan YG senantiasa Alloh Ta'ala berikan kepada para walinya.

 Beliau menerangkan bahwa para wali-wali Alloh tidak akan menganggap dirinya suci, atau menganggap bahwa dirinya adalah wali Alloh. Alloh Ta'ala berfirman:

فلا تزكّوا أنفسكم

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci". (QS. an-Najm:32).

TUGAS WALI ABDAL


Yang memperoleh darjat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal.

 Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darjat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

Friday, September 29, 2017

Sejarah Asal Usul Sunan Geseng, Murid Sunan Kalijaga

Pada dahulu kala Sunan Kalijogo syiar agama Islam di suatu daerah, beliau bertemu dengan seorang hamba Allah yang bernama Ki Cokrojoyo, istrinya bernama Rubiyah dan memiliki seorang putra bernama Joko Bedug.


Pekerjaan Ki Cokrojoyo menyadap gula kelapa, walau hanya dengan kehidupan yang sederhana keluarganya tentram dan bahagia, karena Ki Cokrojoyo dan keluarganya “ nrimo ing pandum ” dengan ketentramannya itu Ki Cokrojoyo senang bersenandung ( uro-uro ), dalam perjalanan syiarnya Kanjeng Sunan Kalijogo bertemu dengan Ki Cokrojoyo, yang akhirnya diajarkan Kalimat Dzikir yang dilantunkan dengan pujian.

Hari demi hari Ki Cokrojoyo selalu pujian dengan kalimat yang diajarkan oleh Wali Allah Sunan Kalijogo, dan suatu saat keajaiban terjadi dengan amalan itu saat Ki Cokrojoyo mengambil hasil panennya yang dibuat gula kelapa tiba-tiba berubahlah gula kelapa itu menjadi emas, namun Ki Cokrojoyo tidak menjadi bangga malah beliau langsung bersiku dan berpamitan pada istri dan anaknya untuk mencari Kanjeng Sunan Kalijogo.

Setelah ketemu Kanjeng Sunan Kalijogo menerima Ki Cokrojoyo di terima sebagai murid dan disuruhnya bertapa, yang insya allah dilakukan satu tahun. Setelah satu tahun Kanjeng Sunan Kalijogo teringat akan kondisi muridnya yang bertapa lalu dicarinya dalam pencarian tempat yang digunakan bertapa telah menjadi hutan alang-alang yang akhirnya dibakar oleh Kanjeng Sunan Kalijogo.

Setelah habis alang-alangnya, barulah tampak Ki Cokrojoyo masih dalam kondisi bertapa dan gosong, karena terbakarnya dengan ilalang dan pada saat itu dibangunkannya Ki Cokrojoyo dengan ucapan salam Kanjeng Sunan Kalijogo yang akhirnya terbangun dan langsung sungkem terhadap Gurunya.

Setelah itu Kanjeng Sunan Kalijogo memerintahkan untuk mandi dan menyuruh pulang menemui keluarganya, setelah ketemu keluarga diceritakannya segala kejadian pada istrinya dan anaknya. Istri dan anak ikut bersyukur kehadirat Allah atas diselamatkannya Ki Cokrojoyo atas bimbingan Kanjeng Sunan Kalijogo.

Dari perjalanan itu diangkatlah derajat Ki Cokrojoyo di hadapan Allah menjadi Wali Allah, maka Ki Cokrojoyo di beri nama oleh Kanjeng Sunan Kalijogo menjadi Sunan Geseng untuk mengingat laku dan ketawadukannya terhadap Guru sehingga bisa mencapai derajat mulia.

Dan setelah itu di tugaskannya Sunan Geseng oleh Sunan Kalijogo untuk syiar Islam, khususnya mengajak masyarakat untuk bertauqid membaca dua kalimat syahadat yang terkenal ajakan Sunan Geseng yaitu masalah ( sasahidan ) membaca dua kalimah syahadat dan menjalankan ajaran Rosul Muhammad SAW.

Selain Sunan Geseng ada murid-murid Sunan Kalijogo yang terkenal lagi yaitu Sunan Bayat (Klaten), Syekh Jangkung (Pati) dan Ki Ageng Selo (Demak). Dari riwayat itulah maka kami jama’ah Dzikrurrohmah sedikit mengingat sejarah beliau karena beliau termasuk Wali Allah yang juga berjasa dalam pengembangan Islam di Tanah Jawa.

CARA DAKWAH SUNAN GESENG

Sunan Geseng berdakwah dengan sangat santun dan arief, yaitu melakukan pendekatan budaya dengan masyarakat jawa. Seperti yang di lakukan Gurunya Kanjeng Sunan Kalijogo, Berda’wah dengan menggunakan wayang kulit, melakukan selamatan yang tujuannya untuk bersedekah dan muji syukur kehadirat Allah, serta memuliakan tamu-tamu santri, umat, masyarakat, pejabat yang diajak berdzikir dan puji-pujian. Dengan cara itulah masyarakat jawa yang tadinya hindu, budha diajak menyeberang ke Islam.

Begitulah bijaknya Sunan Geseng Wali Allah tidak mematikan budaya-budaya yang baik dan luhur. Yang dilakukan dengan tidak melanggar aqidah dan syariat, tapi sangat ampuh untuk menyatukan, umat masyarakat. Dengan kondisi seperti itu, maka jama’ah Dzikrurrohmah Sunan Geseng di Kediri, melajutkan cara yang bijak tersebut dengan mengadakan kegiatan pada Bulan Muharom ( suro ), melakukan barokahan amaliyah Dzikrurrohmah dan membaca Sholawat Nabi 1000 kali, secara berjama’ah selama 40 malam yang dilakukan di Aula Sunan Geseng, Kediri.

Setelah mencapai hari ke-40 diadakan khataman dengan bersedekah 40 tumpeng komplit yang pada acara itu untuk memuliakan para tamu, santri, dan kalangan pejabat, ulama, kyai dan masyarakat luas dengan makan bersama, yang juga dihibur dengan musik jemblung dengan lantunan puji-pujian sholawat Nabi, serta diadakan pengajian, untuk menambah khasanah tentang agama Islam, sebagai agama Rohmatan Lil’alamin.

Kondisi yang dijalankan jama’ah Dzikrurrohmah seperti itu, bertujuan memperkuat ukhuwah, menyambung silaturohmi mengajak bersedekah. Dan berdzikir bersama sesuai anjuran Kanjeng Rosul Muhammad SAW.

Dan masih ada kegiatan ibadah yang dilakukan jama’ah yaitu amaliyah di Bulan Maulud dan Bulan Romadhon, serta Haul Kanjeng Sunan Geseng. Alhamdulillah telah mendapat dukungan dari umat masyarakat, kyai dan para pejabat Pemerintah Kota Kediri.

WALLOHUA'LAM BHISSOWAB

Wednesday, April 12, 2017

Kisah Sunan Bonang lengkap, Walisongo


Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga


Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.


Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.

Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.

                Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Beliau adalah putera Sunan Ampel yang beristri Nyai Ageng Manila seorang putera Arya Teja, salah seorang Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban dan sekitarnya. Menurut sejarah wali songo Sunan Bonang lahirh pada tahun 1465 dan wafat pada tahun 1525. Semasa hidupnya Sunan Bonang menyebarkan Agama Islam di daerah pesisir Jawa Timur sekitar Tuban sampai perbatasan hingga ke daerah Lasem Jawa Tengah.
           Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Sebagai halnya Sang ayah Sunan Ampel, Sunan Bonang mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban dan mendidik murid-muridnya yang kelak juga ikut menyebarkan Agama Islam ke pelosok Pulau Jawa. Konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama nama nahas/sial, nama dewa-dewa menurut kepercayaan Hindu menjadi nama-nama malaikat serta nabi-nabi.Hal ini dimaksudkan untuk mendekati rakyat Jawa waktu itu dan mengenalkan ajaran baru sehingga memeluk Islam. Desa Bonang sebagai salah satu tempat wisata ziarah Sunan Bonang terletak di Kecamatan Lasem, Rembang. Terletak di antara jalan penghubung pantura antara Lasem ke Tuban Jawa Timur.

Semasa hidupnya dikatakan Sunan Bonang pernah belajar ke Pasai. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam bangsawan dari Keraton Majapahit dan mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul murid-muridnya.Perjuangan Sunan Bonang menanamkan pengaruh ke dalam. Siasat Sunan Bonang adalah memberikan didikan Islam kepada Raden Patah putera Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit serta mendirikan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dengan Demak sebagai pusat pemerintahan Islam.

Objek wisata pantai bahari di Kabupaten Rembang antara lain memiliki hamparan pantai utara dengan panjang 60 km dengan kekayaan alam lain berupa perbukitan, hutan serta peninggalan sejarah petilasan Makam Sunan Bonang ini. Dengan potensi wisata alam Pemkab Rembang mengelompokkan daerah ini menjadi 3 sub sistem yaitu subsistem Rembang, Lasem dan Bonang. Setiap subsistem wisata budaya dan sejarah terangkai dalam kesatuan segregasi kewilayahan. Kekayaan potensi alam dan sejarah ini kini menjadi modal utama untuk pengembangan wisata.

             Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Untuk menjangkau objek wisata ini sangatlah mudah. Bila berkendara baik roda dua maupu empat, setelah tiba di Lasem arahkan kendaraan Anda menyusuri pantai sepanjang 5 km ke timur hingga tiba di desa Bonang yang terletak di pinggir laut. Jarak Lasem-Bonang sekitar 5 km. Subsistem Bonang misalnya memiliki objek pemandangan laut yang indah. Di samping makam Sunan Bonang ada juga makam Putri Chempa, salah seorang pengikut setia Sunan Bonang. Selain makam ada juga petilasan batu pasujudan Sunan Bonang dan Bende Beca.

Sunan Bonang wafat dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di halaman rumah kediamannya yang terletak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Sekarang situs peninggalan makam Sunan Bonang hanya berupa pelataran yang dikelilingi oleh batu bata merah. Sunan Bonang mempunyai banyak murid. Mereka berasal dari daerah yang ada di Pulau Jawa.Tetapi yang paling banyak berasal dari daerah Tuban, Rembang dan Madura. Ketika Sunan Bonang meninggal, jenazahnya menjadi rebutan murid-muridnya yang berasal dari berbagai daerah. Mereka ingin memakamkan Sang Guru di tempat masing-masing. Ketika terjadi rebutan, setiap murid merasa berhasil mendapatkan jenazah Sunan Bonang. Setelah itu mereka pulang ke daerah asal untuk memakamkan jenazah.