Showing posts with label Runtuhnya kerajaan Kediri. Show all posts
Showing posts with label Runtuhnya kerajaan Kediri. Show all posts

Monday, December 25, 2017

Kisah Asal usul Prabu Kertajaya dan Silsilah Dari Raja Jawa

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1194-1222. Pada akhir pemerintahannya, ia dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel atau Singhasari, yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kadiri.

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama(1365) yang dikarang ratusan tahun setelah zaman Kadiri.

Bukti sejarah keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan ditemukannya prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), dan prasasti Wates Kulon (1205).

Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI

Dalam Pararaton Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis. Dikisahkan pada akhir pemerintahannya ia menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan Buddha. Tentu saja keinginan itu ditolak, meskipun Dandhang Gendis pamer kesaktian dengan cara duduk di atas sebatang tombak yang berdiri.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dandhang Gendis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri.

Dandhang Gendis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Siwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Perang antara Tumapel dan Kadiri terjadi dekat desa Ganter tahun 1222. Para panglima Kadiri yaitu Mahisa Walungan (adik Dandhang Gendis) dan Gubar Baleman mati di tangan Ken Arok. Dandhang Gendis sendiri melarikan diri dan bersembunyi naik ke kahyangan.

Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam dewalaya (tempat dewa).

Kedua naskah tersebut memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kiranya yang dimaksud adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau mungkin Kertajaya tewas dan menjadi penghuni alam halus (akhirat)

KETURUNAN KERTAJAYA


Sejak tahun 1222 Kadiri menjadi daerah bawahan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat Ken Aroksebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang. Pada tahun 1292 Jayakatwangmemberontak dan mengakhiri riwayat Tumapel.

Berita tersebut tidak sesuai dengan naskah prasasti Mula Malurung (1255), yang mengatakan kalau penguasa Kadiri setelah Kertajaya adalah Bhatara Parameswara putra Bhatara Siwa (alias Ken Arok). Adapun Jayakatwang menurut prasasti Penanggungan adalah bupati Gelang-Gelangyang kemudian menjadi raja Kadiri setelah menghancurkan Tumapel tahun 1292.

Saturday, December 23, 2017

Kisah Asal usul Keris Mpu Gandring dan Korban Jiwanya

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur.


Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.

Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgaweadalah titisan wisnu.

Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu.

Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut.

Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya).

Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :

TERBUNUHNYA TUNGGUL AMETUNG

Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel(cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kerajaan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum.

Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo, dengan keris pusaka itu.

TERBUNUHNYA KEN AROK

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.

Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring.

Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal.

Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang.

Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.

Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat.

Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.

Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal.

Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui keberadaanya.

Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata hanya ada 6 (enam) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring:

- Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris.
- Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
- Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel saat itu.
- Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
- Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok.
- Anusapati, Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok.
- Tohjaya, putera Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini, namun terluka oleh lembing, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya.

Satu lagi yang terakhir adalah KEN DEDES yang mati oleh keris itu. Dan keris itu diambil oleh RAJA JAWA dari Keturunan Raja Kediri yang memiliki kesaktian luar biasa untuk memusnahkan keris itu ke dalam Kawah Gunung Kelud.

Wallohua'lam Bisshowab

Thursday, December 7, 2017

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kediri dan Runtuhnya Kerajaan

Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan yang masyarakatnya menganut agama Hindu. Pusat kerajaan ini ada di tepi Sungai Brantas, Provinsi Jawa Timur. Jika dilihat dari catatan sejarahnya, kerajaan ini mulai berdiri sejak abad ke-12. Kerajaan Kediri adalah salah satu bagian dari Kerajaan Mataram Kuno.


Sejarah Kerajaan Kediri Dari Awal Berdiri Hingga Keruntuhannya tentunya sudah banyak dicatat di berbagai sumber sejarah di Indonesia. Kerajaan Kediri berdiri setelah adanya putusan Raja Airlangga sebagai Raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno. Raja Airlangga diketahui membagi Kerajaan Mataram Kuno menjadi dua bagian yakni Kerajaan Panjalu atau Kediri dan Jenggala atau Kahuripan.

Awal mula pembagian wilayah kekuasaan ini dikarenakan adanya perebutan tahta kerajaan antara kedua anak Raja Airlangga pada tahun 1042. Agar tidak ada peperangan antar saudara tersebut, Raja Airlangga membagi kerajaanya menjadi dua bagian. Dimana Kerajaan Jenggala diberikan pada anaknya yang bernama Mapanji Garasakan dan Kerajaan Panjalu diberikan kepada anaknya yang bernama Sri Samarawijaya.

Dalam Sejarah Kerajaan Kediri ini, juga disebutkan bahwa Panjalu dikuasai oleh Jenggala. Hal ini tercatat dalam Prasasti Meaenga. Sementara nama raja Panjalu sebelumnya yakni Raja Mapanji Garasakan juga diabadikan. Kemudian, peperangan masih berlanjut dan akhirnya Kerajaan Panjalu Kediri sukses menguasai semua tahta Airlangga.

Untuk menghindari pertikaian antara dua kerajaan, lokasi kedua kerajaan ini dibatasi dengan Sungai Brantas dan Gunung Kawi. Kerajaan Janggala atau yang dikenal juga sebagai kerajaan Kahuripan wilayahnya terdiri atas wilayah sekitar Delta Sungai Brantas dan Malang.

Jika dipelajari lebih dalam, dapat diketahui bahwa wilayah Kerajaan Jenggala pada mulanya adalah pelabuhan Surabaya, Pasuruhan dan Rembang dengan Ibu Kota Kahuripan. Sementara wilayah Kerajaan Panjalu atau yang dikenal dengan nama Kerajaan Kediri diantaranya adalah wilayah Madiun dan Kediri dengan ibu kota Daha.

Dalam Sejarah Kerajaan Kediri  juga menjelaskan tentang pengaruh dari Kerajaan Kediri pada masa Raja Jayabaya yang sangat luas bahkan sampai ke wilayah Sumatera yang pada masa itu masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Pengaruh Kerajaan Kediri ini ada dalam kronik artefak Cina tahun 1178 M berama Chou Ku-fei.

Dalam kronik tersebut, diceritakan bahwa pada masa Kerajaan Kediri terdapat negeri yang paling kaya raya. Dimana negeri tersebut dikuasai oleh Raja bernama Sri Jayabaya. Tak hanya wilayah kekuasaannya saja yang sangat luas, seni sastra yang ada pada masa itu juga begitu terkenal hingga penjuru negeri. Hal inilah yang membuat Kerajaan Kediri begitu dihormati dan disegani oleh berbagai wilayah.

Raja pertama kerajaan Kediri adalah Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabu. Setelah itu, raja-raja yang diketahui menguasai Kerajaan Kediri diantaranya adalah Kameshwara, Jayabaya, Prabu Krhoncharyadipa, Srengga Kertajaya dan Prabu Sarwaswera. Masa kejayaan Kediri adalah pada pemerintahan Raja Jayabaya. 

Kekuasaannya semakin luas dari yang sebelumnya hanya Jawa kemudian berkembang pesat di hingga hampir ke seluruh wilayah di daerah Pulau Jawa.

RAJA RAJA KERAJAAN KEDIRI :

Pada saat Daha menjadi ibu kota kerajaan yang masih utuh
- Airlangga
Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu
- Sri Samarawijaya Pamwatan 1042
- Sri Jayawarsa Sirah Keting 1104
- Sri Bameswara Padelegan I 1117 Panumbangan 1120 Tangkilan 1130
- Sri Jayabhaya Ngantang1135 Talan 1136 Kakawin Bharatayuddha 1157
- Sri Sarweswara prasasti Padelegan II 1159 Kahyunan 1161
- Sri Aryeswara Angin 1171
- Sri Gandra Jaring 1181
- Sri Kameswara Ceker 1182 Kakawin Smaradahana
- Sri Kertajaya Galunggung 1194 Kamulan 1194 Palah 1197 Wates Kulon 1205

RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri runtuh pada masa pemerintahaan Raja Kertajaya, dimana terjadi pertentangan antara raja dengan Kaum Brahmana. Raja Kertajaya dianggap melanggar agama dengan memaksakan mereka menyembah kepadanya sebagai dewa. 

Kaum Brahmana meminta pertolongan kepada Ken Arok, pemimpin daerah Tumapel yang ingin memisahkan diri dari Kediri. Kemudian terjadilah perang antara rakyat Tumapel yang dipimpin Ken Arok dengan Kerajaan Kediri. Akhirnya pada tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri menjadi wilayah bawahan Tumapel atau Singhasari.

Sebagai pemimpin di Kerajaan Singhasari, Ken Arok mengangkat Jayasabha (putra Kertajaya) sebagai bupati Kediri. Jayasabha digantikan oleh putranya Sastrajaya pada tahun 1258. Kemudian Sastrajaya digantikan putranya Jayakatwang (1271). 

Jayakatwang berusaha ingin membangun kembali Kerajaan Kediri dengan memberontak Kerajaan Singhasari yang dipimpin Kertanegara. Terbunuhlah Raja Kertanegara dan Kediri berhasil dibangun oleh Jayakatwang.

Namun, kerajaan Kediri tidak berdiri lama, Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) berhasil meruntuhkan kembali Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang. Setelah itu, Kerajaan Kediri tidak berdiri lagi.

Tuesday, April 11, 2017

Sejarah asal usul Kerajaan KEDIRI, Kerajaan Nusantara

Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu yang pusatnya berada di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-12 dan merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno.


Berdirinya Kerajaan Kediri diawali dengan putusan Raja Airlangga selaku pemimpin dari Kerajaan Mataram Kuno yang terakhir. Dia membagi kerajaan menjadi dua bagian, yaitu menjadi Kerajaan Jenggala atau Kahuripan dan Panjalu atau Kediri.

Hal ini bermula pada tahun 1042. Kedua putra Raja Airlangga memperebutkan tahta kerajaan Mataram Kuno. Sehingga dengan terpaksa Raja Airlangga membelah kerajaan menjadi dua bagian.

Hasil dari perang saudara tersebut, Kerajaan Panjalu diberikan kepada Sri Samarawijaya dan  Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Garasakan.

AWAL BERDIRINYA KERAJAAN KEDIRI

Sebagaimana tertulis dalam Prasasti Meaenga disebutkan Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan nama Raja Mapanji Garasakan diabadikan. Namun, pada peperangan selanjutnya, Kerajaan Panjalu Kediri berhasil menguasai seluruh tahta Airlangga.

Kedua kerajaan ini dipisahkan dengan dengan Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya agar tidak ada pertikaian. Kerajaan Janggala atau Kahuripan terdiri atas Malang dan wilayah Delta Sungai Brantas.

Secara terperinci, wilayah Kerajaan Jenggala bermula dari pelabuhan Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, dan Ibu Kotanya Kahuripan. Sedangkan Kerajaan Panjalu atau Kediri meliputi wilayah Kediri, Madiun, dan Ibu Kotanya Daha.

PENGUASA KERAJAAN KEDIRI

Raja Kediri yang pertama bernama Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabu dan mengklaim dirinya sebagai titisan Wisnu. Tahta berikutnya setelah raja pertama antara lain Kameshwara, Jayabaya, Prabu Sarwaswera, Prabu Krhoncharyadipa, dan Srengga Kertajaya.

MASA KEJAYAAN KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Raja Jayabaya. Daerah kekuasaannya semakin meluas yang berawal dari Jawa Tengah meluas hingga hampir ke seluruh daerah Pulau Jawa.

Bahkan, pengaruh Kerajaan Kediri di masa Raja Jayabaya juga sampai ke daerah Sumatera yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya.

Hal ini tercatat dalam catatan dari kronik artefak Cina bernama Chou Ku-fei pada tahun 1178 M. dikisahkan bahwa ada negeri paling kaya di masa kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Sri Jayabaya.

Bukan hanya daerah kekuasaannya saja yang besar. Seni sastra di masa itu pun cukup mendapat perhatian dari seantero negeri. Dengan demikian, Kerajaan Kediri di masa itu semakin disegani.

RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri runtuh pada masa pemerintahan Raja Kertajaya. Hal ini bermula saat terjadi pertentangan antara raja dengan Kaum Brahmana. Raja Kertajaya dianggap melanggar aturan agama dengan memaksa mereka menyembah kepadanya sebagai dewa.

Kaum Brahmana kemudian meminta pertolongan kepada Ken Arok, yang saat itu menjadi pemimpin di kadipaten Tumapel. Karena Ken Arok juga memiliki kepentingan untuk melepaskan diri dari Kediri, maka peperangan pun tidak dapat dielakkan.

Akhirnya pada tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri menjadi wilayah bawahan Tumapel yang kemudian beralih nama menjadi Kerajaan Singhasari.

Sebagai pemimpin di Kerajaan Singhasari, Ken Arok lalu mengangkat Jayasabha, putra mendiang  Kertajaya sebagai bupati Kediri. Jayasabha digantikan oleh putranya Sastrajaya pada tahun 1258. Dan selanjutnya Sastrajaya digantikan putranya Jayakatwang.

Di masa Jayakatwang, Kediri kemudian berusaha membangun kembali Kerajaannya dengan memberontak Kerajaan Singhasari yang saat itu dipimpin oleh Kertanegara. Terbunuhlah Raja Kertanegara dan Kediri berhasil dibangun  kembali oleh Jayakatwang.

Namun, kerajaan Kediri tidak berdiri lama, Menantu dari Raja Kertanegara bernama Raden Wijaya berhasil meruntuhkan kembali Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang. Setelah itu, tidak ada lagi Kerajaan Kediri untuk selamanya.

Itulah sejarah singkat tentang KERAJAAN KEDIRI.
Semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita.