Kuwaluhan.com: Pahlawan dari Jatim
Berikut ini adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta :

1. PANGERAN DIPONEGORO


Lahir : 1785 di Yogyakarta
Wafat :  1855 di Makassar, Sulawesi Selatan

Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau lebih dikenal dengan nama Diponegoro, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 dan meninggal di Makassar, Hindia Belanda, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Sebagai penghargaan atas jasa Diponegoro dalam melawan penjajahan. Di beberapa kota besar Indonesia terdapat Jalan Pangeran Diponegoro. Kota Semarang sendiri juga memberikan apresiasi agar nama Pangeran Diponegoro akan senantiasa hidup. Nama-nama tempat yang menggunakan namanya antara lain Stadion Diponegoro, Jalan Pangeran Diponegoro, Universitas Diponegoro(Undip), maupun Kodam IV/Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro serta di pintu masuk Undip Tembalang.

Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pada tanggal 8 Januari 1955 pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.

Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya.

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.

2. Hamengkubuwono I


Lahir : tahun 1717 di Kartasura
Wafat : 1792 di Yogyakarta

Sri Sultan Hamengkubuwana I  lahir di Kartasura, 6 Agustus 1717 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792 pada umur 74 tahun. Beliau merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755 - 1792.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataramsejak Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya. Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.

3. Hamengkubuwono IX


Lahir : 1912 di Yogyakarta
Wafat : 1988 di Washington, DC, Amerika Serikat

Sri Sultan Hamengkubuwono IX  lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, tanggal 12 April 1912 dan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Beliau adalah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940–1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973 dan 1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Minggu malam 2 Oktober 1988, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meninggal dunia di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat karena serangan jantung dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri.

4. AHMAD DAHLAN


Lahir : 1868 di Yogyakarta
Wafat : 1934 di Yogyakarta

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 dan meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesiamenetapkannya sebagai Pahlawan Nasionaldengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.

5. KH FAKHRUDDIN


Lahir : 1890 di Yogyakarta
Wafat :  1929 di Yogyakarta

KH Fakhruddin atau sering dipanggil Muhammad Jazuli, lahir di Yogyakarta 1890 dan meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1929. Beliau adalah seorang pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga tokoh Muhammadiyah. Ia tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah umum. Pelajaran agama mula-mula diterima ayahnya, H. Hasyim, kemudian dari beberapa ulama terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Fakhruddin dianggap sebagai seorang tokoh yang serba bisa. Karena itu, silih berganti tugas penting diserahkan kepadanya, antara lain mengurus bagian dakwah, bagian taman pustaka, dan bagian pengajaran. Tahun 1921 ia diutus ke Mekah selama 8 tahun untuk meneliti nasib para jemaah haji yang berasal dari Indonesia karena mereka seringkali mendapat perlakuan kurang baik dari pejabat-pejabat Mekah. Sekembalinya, memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji. Selain itu, ia pernah pula diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam.

Kesibukannya mengurus Muhammadiyah dan usahanya, membuatnya kurang memperhatikan kesehatannya. Menjelang kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit. Pada tanggal 28 Februari 1929, ia akhirnya meninggal dunia di Yogyakarta dan dikebumikan di Pakuncen, Yogyakarta.

6. KI BAGUS HADIKUSUMO


Lahir : 1890 di Yogyakarta
Wafat : 1954 di Jakarta

Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus Hadikusumo lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun. Beliau adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI.

Setelah meninggal, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.

7. KI HAJAR DEWANTARA


Lahir : 1889 di Paku alam
Wafat : 1959 di Yogyakarta

Ki Hajar Dewantoro; lahir di Pakualama, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertaspecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

8. SUGIYONO MANGUNWIYOTO


Lahir : 1926 di Gunung Kidul
Wafat : 1965 di Yogyakarta

Kolonel Inf. (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul, 12 Agustus 1926 dan meninggal di Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 39 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban peristiwa Gerakan 30 September. Ia merupakan mantan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas.

9. SITI WALIDAH (Istri Ahmad Dahlan)


Lahir : 1872 di Kauman, Yogyakarta
Wafat : 1946 di Kauman, Yogyakarta

Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, 3 Januari 1872 dan meninggal di Kauman, Yogyakarta, dan meninggal pada 31 Mei 1946 pada umur 74 tahun atau juga lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Beliau adalah tokoh emansipasi perempuan, istri dari pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan dan juga seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada 10 November 1971, Nyai Ahmad Dahlan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Suharto sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971.  Ahmad Dahlan telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional sepuluh tahun sebelumnya. Penghargaan tersebut diterima oleh cucunya, M Wardan. Dia telah dibandingkan dengan pembela hak perempuan, Kartini dan gerilyawan, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.

10. SULTAN AGUNG


Lahir : 1591 di Kuta gede
Wafat : 1645 di Bantul

Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, lahir di Kutagede, Kesultanan Mataram tahun 1593 dan wafat di Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram tahun 1645. Beliau adalah Sultan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.

Menjelang tahun 1645 Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trahMataram.

Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram selanjutnya, bergelar Amangkurat I.

Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesiaberdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

11. SURYOPRANOTO (Soerjopranoto)


Lahir : 1871 di Paku alam
Wafat : 1959 di Cimahi

Raden Mas Soerjapranata juga sering ditulis Soerjopranoto lahir di Pakualaman pada 11 Januari 1871 dan meninggal di Tjimahi pada 15 Oktober 1959 pada umur 88 tahun. Beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-3 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 310 Tahun 1959, tanggal 30 November 1959.

12. WAHIDIN SUDIROHUSODO


Lahir : 1852 di Sleman
Wafat : 1917 di Yogyakarta

dr. Wahidin Soedirohoesodo lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta pada 7 Januari 1852 dan meninggal di Yogyakarta pada 26 Mei 1917 pada umur 65 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.

13. IGNATIUS JOSEPH KASIMO


Lahir : 1900 di Yogyakarta
Wafat : 1986 di Jakarta

Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono lahir di Yogyakarta, Hindia Belanda pada 10 April 1900 dan meninggal di Jakarta pada 1 Agustus 1986 umur 86 tahun. Beliau adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu, beberapa kali ia menjabat sebagai Menteri setelah Indonesia merdeka. Ia jugalah yang memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai beginselatau prinsip yang harus dipegang teguh.

IJ Kasimo meninggal pada Jumat Kliwon, 1 Agustus 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Karena perjuangannya, Kasimo mendapat anugerah Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II dan diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung.

Sementara oleh Pemerintah Indonesia, ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

14. RAJIMAN WEDIODININGRAT


Lahir : 1879 di Yogyakarta
Wafat : 1952 di Ngawi

Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 dan meninggal di Ngawi, Jawa Timur pada 20 September 1952 saat umur 73 tahun. Beliau adalah seorang dokter yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia.

Dr. Radjiman juga merupakan salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketuanya pada tahun 1914-1915.

Pada masa setelah kemerdekaan RI Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Daerah istimewa Yogyakarta.

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Asal Yogyakarta

Berikut adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Bali :

1. I GUSTI NGURAH RAI 


Lahir : 30 Januari 1917
Wafat : 20 November 1946

 I Gusti Ngurah Rai lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 dan meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November 1946 pada umur 29 tahun. Dia adalah seorang pahlawan Indonesiadari Kabupaten Badung, Bali.

Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama pasukan "Ciung Wanara" yang melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali, berarti "habis-habisan", sedangkan Margarana berarti "Pertempuran di Marga"; Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali) Di tempat puputan tersebut lalu didirikan Taman Pujaan Bangsa Margarana.

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan. Detail perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti "Bergerilya Bersama Ngurah Rai" (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih "Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993", buku "Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai" (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku "Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946" yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Bali, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan nama kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai.

2. I Gusti Ketut Pudja


Lahir : 19 Mei 1908
Wafat : 4 Mei 1977

I Gusti Ketut Pudja lahir 19 Mei 1908 dan meninggal 4 Mei 1977 pada umur 68 tahun. Dia adalah pahlawan nasional Indonesia. Ia ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil ,saat ini Bali dan Nusa Tenggara.

I Gusti Ketut Pudja juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Ia kemudian diangkat Soekarno sebagai Gubernur Sunda Kecil. Pada tahun 2011, I Gusti Ketut Pudja ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional bersama 6 orang lainnya. Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang logam rupiah baru, pecahan Rp. 1.000.

3. Ide Anak Agung Gde Agung 


Lahir : 24 Juli 1921
Wafat : 22 April 1999

Dr. Ida Anak Agung Gde Agung lahir di Gianyar, Bali, 24 Juli 1921 dan meninggal 22 April 1999 pada umur 77 tahun. Dia adalah ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Di Bali ia juga berposisi sebagai raja Gianyar, menggantikan ayahnya Anak Agung Ngurah Agung. Anaknya, Anak Agung Gde Agung, adalah Menteri Masalah-masalah Kemasyarakatan pada Kabinet Persatuan Nasional.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri maupun Menteri Luar Negeri pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Selain itu ia pernah menjabat pula sebagai Dubes RI di Belgia (1951), Portugal, Prancis (1953), dan Austria.

Pada tanggal 9 November 2007, almarhum dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


4. UNTUNG SUROPATI


Lahir : di Bali, 1660
Wafat : 5 Desember 1706

Untung Surapati atau Untung Suropati  lahir di Bali, 1660 dan meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun. Dia adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung (Bupati) Pasuruan.

Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.

Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia(sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati.

5. I GUSTI KETUT JELANTIK


Lahir : sekitar thn 1800
Wafat : 1849
Jagaraga, Buleleng

I Gusti Ketut Jelantik adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849.

I Gusti Ketut Jelantik adalah pahlawan nasional Indonesia. Dia mendapatkan penghargaan berupa gelar Pahlawan Nasional menurut SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 karena memang layak disematkan pada berkat usahanya yang tetap teguh membela tanah kelahiran atas kekuasaan Belanda kala itu.

6. I Gusti Ngurah Made Agung


Lahir : Bali, 5 April 1876
Wafat : Bali, 22 September 1906

I Gusti Ngurah Made Agung lahir di Denpasar, Bali, 5 April 1876 dan meninggal di Badung, Bali, 22 September 1906 pada umur 30 tahun. Dia adalah Raja Badung VII dan seorang pejuang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015. Dia menentang penjajahan Belanda melalui karya sastranya, seperti Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Kakawin Atlas, dan Geguritan Hredaya Sastra.

Itulah daftar nama tokoh pahlawan yang berasal dari Provinsi Bali Indonesia.

Inilah Kumpulan Tokoh Pahlawan Nasional Dari Provinsi Bali

Berikut ini adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Timur Indonesia :

1. IR Sukarno


Lahir : 1901 di Surabaya.
Wafat : 1970 di Jakarta.
Peran : Aktivis kemerdekaan yang membacakan Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Indonesia pertama.

Dr Ir Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1967. Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya. Soekarno meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun

2. Abdul Wahab Hasbullah


Lahir : tahun 1888 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1971 di Kabupaten Jombang.
Peran : Tokoh Islam, salah seorang pendiri Nadhlatul Ulama.

Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah lahir di Jombang, 31 Maret 1888 dan meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun. Beliau adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

3. Sutomo (Bung Tomo)


Lahir : 1920 di Surabaya.
Wafat : 1981 di Arab Saudi.
Peran : Pemimpin militer yang memimpin perlawanan dalam Pertempuran Surabaya.

Sutomo lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 dan meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun. Suomo lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, dia merupakan pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

4. Basuki Rahmat


Lahir : 1921 di Kabupaten Tuban.
Wafat : 1969 di Jakarta.
Peran : Jenderal, saksi dari Supersemar.

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Basuki Rahmat lahir di Tuban, Jawa Timur, Hindia Belanda, 4 November 1921 dan meninggal di Jakarta, Indonesia, 8 Januari 1969 pada umur 47 tahun. Beliau adalah Jenderal Tentara Nasional Indonesia dan menjadi saksi penandatanganan Supersemar dokumen serah terima kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.

5. Cokroaminoto atau Oemar Said Tjokroaminoto


Lahir : 1883 di Kabupaten Ponorogo.
Wafat : 1934 di Yogyakarta.
Peran : Politisi, pemimpin Sarekat Islam, mentor Sukarno.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1883 dan meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 51 tahun. Dalam Buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, karangan Drs. Mansur, MA. Penerbit Pustaka Pelajar, 2004; halaman 13. Beliau lebih dikenal dengan nama H.O.S Cokroaminoto yang merupakan salah satu pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI).

Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia.

6. Ernest Douwes Dekker / Danudirja Stiabudi atau Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker


Lahir : 1879 di Pasuruan.
Wafat : 1950 di Bandung.
Peran : Jurnalis dan politisi Indo yang membantu kemerdekaan Indonesia.

Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir di Pasuruan, Hindia Belanda, 8 Oktober 1879 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun. Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Beliau juga merupakan salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20, penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda, wartawan, aktivis politik, serta penggagas nama "Nusantara" sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah salah satu dari "Tiga Serangkai" pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.

7. Harun Bin Said atau Harun Tohir


Lahir : 1947 di Bawean, Kabupaten Gresik.
Wafat : 1968 di Singapura.
Peran : Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia.

Kopral Dua KKO atau Harun Tohir bin Mandar lahir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 14 April 1943 dan meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun. Dia adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando; kini disebut Korps Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Kopral KKO TNI Anumerta Harun bin Said alias Thohir bin Mandar Anggota Korps Komando AL-RI Harun bin Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta, dan kini nama ia diabadikan menjadi nama Jalan di depan Markas Korps Marinir (Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun), Kwitang, Jakarta Pusat, Kapal Republik Indonesia, KRI Usmman-Harun (359) dan Bandar Udara Harun Thohir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.

8. Halim Perdanakusuma


Lahir : 1922 di Kabupaten Sampang.
Wafat : 1947 di Malaysia.
Peran : Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional.

Abdul Halim Perdanakusuma lahir di Sampang, 18 November 1922 dan meninggal di Malaysia, 14 Desember 1947 pada umur 25 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia saat menjalankan tugas semasa perang Indonesia- Belanda di Sumatera, yaitu ketika ditugaskan membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dengan pesawat terbang dari Thailand.

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Halim, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma.

9. KH Hasyim Asy’ari


Lahir : 1871 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1947 di Kabupaten Jombang.
Peran : Ulama Pemimpin Islam, pendiri Nahdlatul Ulama.

Kiai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871 dan meninggal di Jombang, Jawa Timur, 21 Juli 1947 pada umur 76 tahun; 24 Dzul Qo'dah 1287 H- 3 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Beliau adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

10. Iswahyudi


Lahir : 1918 di Surabaya.
Wafat : 1947 di Malaysia.
Peran : Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional.19759.

Marsekal Muda TNI (Anumerta) R. Iswahjoedi lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 Juli 1918 dan meninggal di Perak, Malaysia, 14 Desember 1947 pada umur 29 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Bersama Adisoetjipto, Abdoelrahman Saleh, dan Husein Sastranegara, Iswahyudi dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia.

Awal tahun 1947, Iswahjoedi diangkat menjadi Komandan Lanud Maospati Madiun dengan dibantu oleh Wiweko Soepono dan Nurtanio. Pada tahun ini juga, kembali Iswahyudi ditugaskan menjadi Komandan di Lanud Gadut Bukittinggi. Marsekal Mada Iswahjoedi meninggal di Tanjung Hantu, Malaysia, 14 Desember 1947 karena pesawatnya Avro Anson RI-003 jatuh tertembak. Namun Jenazahnya tidak ditemukan hingga saat ini.

Namun Secara simbolik sebagai bentuk penghargaan pangkat keduanya dinaikkan menjadi Laksamana Muda (U) Anumerta (kini Marsekal Muda Anumerta). Atas perjuangannya hingga detik-detik terakhir maka ditempatkan makam pahlawan di TMP Kalibata. Pada 10 November 1960, pemerintah Indonesia mengabadikan nama Iswahyudi dengan mengganti nama Lanud Maospati berganti nama menjadi Lanud Iswahyudi, Madiun.

11. Supriyadi / Sodancho Suprijadi


Lahir : 1925 di Trenggalek.
Wafat : Hilang, belum ditemukan.
Peran : Pemimpin pemberontakan melawan pasukan pendudukan Jepang di Blitar.

Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancho Soeprijadi lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial, tetapi digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumopada 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

12. Suroso


Lahir : 1893 di Porong, Sidoarjo.
Wafat : 1981 di Indonesia.
Peran : Politisi dan aktivis kemerdekaan.

Raden Pandji Soeroso  lahir di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 November 1893 dan meninggal di Indonesia, 16 Mei 1981 pada umur 87 tahun. Beliau adalah mantan GubernurJawa Tengah, mantan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan mantan anggota BPUPKI/PPKI. Ia juga bertugas sebagai wakil ketua BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

Pemerintah Indonesia telah mengangkat Raden Pandji Soeroso sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, melalui Surat Keputusan Presiden No. 81/TK/1986. Ia juga dikenal sebagai Pendiri sekaligus ketua Induk Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.

13. Ario Soerjo


Lahir : 1898 di Kabupaten Magetan.
Wafat : 1948 di Kabupaten Ngawi.
Peran : Gubernur Jawa Timur saat Revolusi Nasional.

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau biasa dikenal dengan nama Gubernur Soerjo lahir di Magetan, Jawa Timur, 9 Juli 1898 dan meninggal di Bago, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, 10 September 1948 pada umur 50 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dan gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga tahun 1948. Sebelumnya, ia menjabat Bupati di Kabupaten Magetan dari tahun 1938 hingga tahun 1943. Ia adalah menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah menjabat bupati Magetan, ia menjabat Su Cho Kan Bojonegoro (Residen) pada tahun 1943.

14. Mas Isman

Lahir : 1924 di Kabupaten Bondowoso.
Wafat : 1982 di Surabaya.
Peran : Pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda.


Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 12 Desember 1982 pada umur 58 tahun. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timuryang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

15. Mas Mansoerr ( Mas Mansur )


Lahir : 1896 di Surabaya.
Wafat : 1946  di Surabaya.
Peran : Sarjana Islam, pemimpin Muhammadiyah.

Kiai Haji Mas Mansoer lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 dan meninggal di Surabaya, 25 April 1946 pada umur 49 tahun. Beliau adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia.

Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya. Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda (NICA). Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Kalisosok. Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya.

Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama teman seperjuangannya, yaitu KH. Fakhruddin.

16. Mas Tirtodarmo Haryono


Lahir : 1924 di Surabaya.
Wafat : 1965 di Lubang Buaya, Jakarta.
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September.

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 41 tahun. Beliau adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada persitiwa G30S. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.

17. Sukarni


Lahir : 1916 di Kabupaten Blitar.
Wafat : 1971 di Jakarta.
Peran : Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi.

Soekarni (EYD: Sukarni; lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 dan meninggal di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun), yang nama lengkapnya adalah Soekarni Kartodiwirjo. Beliau adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia disematkan oleh Presiden Joko Widodo, pada 7 November 2014 kepada perwakilan keluarga di Istana Negara Jakarta.

Pada masa Orde Baru, Sukarni dibebaskan dan larangan Murba dicabut (direhabilitasikan 17 Oktober 1966). Kemudian Sukarni ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung(DPA, 1967) yang merupakan jabatan resmi terakhir. Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputra kelas empat ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.

18. Wahid Hasyim


Lahir : 1914 di Kabupaten Jombang.
Wafat : 1953 di Kota Cimahi.
Peran : Pemimpin Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Indonesia pertama.

K. H. Abdul Wahid Hasjim atau Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 dan meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Beliau merupakan ayah dari presiden keempat Indonesia, yaitu KH Abdurrahman Wahid dan anak dari Mohammad Hasyim Asy'ari, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila sebagai pengganti dari "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasjim. Wahid dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.

Wahid Hasjim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi tanggal 19 April 1953.

19. Untung Surapati


Lahir : 1660 di Bali.
Wafat : 1706 di Bangil, Pasuruan.
Peran : Memimpin beberapa pemberontakan melawan VOC.

Untung Surapati atau Untung Suropati lahir di Bali, 1660 dan meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun. Beliau adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung /Bupati Pasuruan.

Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

20. Soetomo


Lahir : 1888 di di Ngepeh, Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Wafat : 1938 di Surabaya.
Peran : mendirikan Budi Utomo.

Dr. Soetomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Juli 1888 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 30 Mei 1938 pada umur 49 tahun. Beliau adalah tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia.

Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club (dalam bahasa Belanda Indonesische Studie Club atau Kelompok Studi Indonesia) di Surabaya, pada tahun 1930 mendirikan Partai Bangsa Indonesia dan pada tahun 1935 mendirikan Parindra (Partai Indonesia Raya).

21. Mustopo


Lahir : 1913 di Ngadiluwih, Kediri.
Wafat : 1986 di Bandung.
Peran : Pemimpin saat Pertempuran Surabaya, mendirikan Kampus Kedokteran Gigi Dr. Moestopo.

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. DR. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, 13 Juni 1913 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 29 September 1986 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang dokter gigi Indonesia, pejuang kemerdekaan, dan pendidik. Dia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2007.

Ketika hubungan rusak dan Presiden Soekarno dipanggil ke Surabaya untuk memperbaikinya, Moestopo ditawari pekerjaan sebagai penasihat tetapi tidak diterimanya. Selama perang ia menjabat beberapa posisi lainnya, termasuk memimpin satu skuadron tentara reguler, pencopet, dan pelacur untuk menyebarkan kebingungan di jajaran pasukan Belanda. Setelah perang, Moestopo meneruskan bekerja sebagai dokter gigi, dan pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Moestopo. Dia meninggal di Bandung pada tahun 1986.

22. Supeni Pudjobuntoro


Lahir : di Tuban, Jawa Timur, 17 Agustus 1917
Wafat : di Jakarta, 25 Juni 2004
Peran :  politikus Indonesia.

Supeni Pudjobuntoro atau yang dikenal juga dengan nama Supeni lahir di Tuban, Jawa Timur, 17 Agustus 1917 dan meninggal di Jakarta, 25 Juni 2004 pada umur 86 tahun. Dia adalah politikus Indonesia. Supeni dikenal sebagai politikus wanita yang menduduki berbagai jabatan penting di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR sekaligus anggota Konstituante melalui partai PNI. Sebagai diplomat, ia pernah menjabat sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Amerika Serikat dan duta besar keliling pada zaman Presiden Soekarno.

Itulah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Timur Indonesia berdasarkan banyak sumber. 

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Dari Jawa Timur

Subscribe Our Newsletter