Showing posts with label Kisah Abu Nawas. Show all posts
Showing posts with label Kisah Abu Nawas. Show all posts

Saturday, November 17, 2018

Adzan Pertama Kali Berkumandang, Kisah Bilal Bin Robbah

Bilal bin Rabah adalah seorang budak kulit hitam, dan hampir pasti orang tuanya pun budak juga. Dia diyakini berasal dari Abyssinia (sekarang dikenal sebagai Ethiopia). Orang tua Bilal termasuk tawanan yang dibawa dari Etihopia ke Arabia.


Terlahir dalam perbudakan, dia mungkin tidak pernah mengharapkan bentuk kehidupan untuk ditawarkan kepadanya selain dari sekadar kerja keras, kesakitan, dan kesusahan.

Bilal adalah satu dari sekian banyak orang yang diperbudak oleh seorang kepala suku Quraisy bernama Umayyah bin Khalaf. Umayyah adalah salah seorang pemuka Bani Jumah. Salah satu tugas yang ditugaskan oleh tuannya adalah untuk menggembalakan unta di bawah terik matahari di padang pasir Mekah pada siang hari.

Di malam hari tugasnya menyajikan makanan dan anggur kepada tuannya. Umayyah bin Khalaf diriwayatkan apabila sedang makan dia seperti binatang yang makan dengan rakus sampai kekenyangan, kemudian mabuk dan tertidur.

Dia memperlakukan budaknya secara tidak manusiawi, tidak ada satupun yang bisa mengatakan ‘tidak’ atas perintahnya atau menunjukkan tanda-tanda mengeluh. Umayyah bin Khalaf menyukai Bilal hanya karena tubuhnya yang kuat, jika tidak, dia pasti akan membuangnya seperti kain gombal atau membunuhnya tanpa ampun. Bilal harus melakukan yang terbaik untuk memuaskan tuannya, dia harus menjaga tubuhnya tetap kuat dan sehat sehingga bisa mengurus harta benda tuannya.

Umayyah bin Khalaf membeli Bilal saat masih kecil. Dari saat pertama dia masuk ke dalam rumah tuannya, Bilal menerima semua perlakuan buruk dan kasar dari setiap anggota keluarganya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menghormati atau memberinya waktu istirahat dari banyak beban yang diperintahkannya untuk dipikul.

Seiring berjalannya waktu, Bilal merasa bahwa dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di bawah perbudakan. Dia lemah, tidak punya uang untuk membayar kebebasannya, atau memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya dari kekejaman tuannya.

Bahkan jika dia ingin mencari kebebasan, seluruh masyarakat akan berbalik melawan dia. Dia akan disebut ‘budak yang melarikan diri’. Seperti biasa, Bilal menyembah berhala yang terbuat dari batu karena tuannya menginginkan dia melakukannya.

Namun, Bilal tahu di dalam hatinya bahwa batu-batu semacam itu tidak akan bisa membahayakan dirinya atau pun membuatnya lebih baik. Berkali-kali, dia tertegun di depan berhala dan meminta mereka untuk memberkati dia. Dia yakin bahwa situasi masyarakat di Mekah akan berubah tapi dia tidak tahu bagaimana perubahan semacam itu akan dimulai.

BERITA TENTANG NABI MUHAMMAD

Hari-hari Bilal tidak berbeda dengan budak lainnya. Hari-harinya dilalui dengan rutinitas yang menyengsarakan dan tidak memiliki harapan untuk hari esok. Suatu saat, berita-berita tentang Muhammad yang diceritakan dari mulut ke mulut para penduduk Mekah sampai juga ke telinganya. Dari tamu-tamu yang datang menemui tuannya, Bilal mendengar percakapan mereka yang mengutuk, marah, menuduh, mengancam, dan membenci Muhammad.

Namun, di antara pembicaraan tentang keburukan Muhammad, Bilal juga mendengar tentang ajaran-ajaran yang disampaikan Muhammad. Di antaranya yang dia dengar adalah bahwa Muhammad mengaku dirinya seorang Nabi, dan dia menyeru orang untuk menyembah Allah, Tuhan satu-satunya; Muhammad juga menganjurkan untuk memperlakukan satu sama lain dengan keadilan dan kesetaraan; bahwa semua orang sama di hadapan Pencipta mereka, satu-satunya hal yang membuat seseorang berbeda adalah keyakinannya terhadap Allah dan kebenaran-Nya; Muhammad juga mendesak orang-orang Mekah untuk meninggalkan dewa-dewa palsu mereka, dan menyembah hanya kepada Yang Maha Esa, Pencipta seluruh alam semesta; dan Muhammad juga menyerukan kepada pembesar-pembesar untuk memperlakukan budak mereka dengan baik.

Apa yang disampaikan oleh Muhammad, bagi Bilal itu merupakan suatu hal yang aneh dan baru. Bilal semakin tertarik. Terlebih, walapun Umayyah dan teman-temannya membicarakan sesuatu yang buruk tentang Muhammad, namun mereka juga sebenarnya takjub dengan pribadi Muhammad. “Tidak pernah Muhammad berdusta atau menjadi tukang sihir. Tidak pula sinting atau berubah akal, walau kita terpaksa menuduhnya demikian, demi untuk membendung orang-orang yang memasuki agamanya!” kata salah seorang dari mereka kepada yang lainnya.

Bilal juga mendengarkan percakapan mereka tentang kesetiaan Muhammad menjaga amanat, tentang kejujuran dan ketulusannya, tentang akhlak dan kepribadiannya. Didengarnya juga bisik-bisik mengenai sebab mereka menentang dan memusuhi Muhammad, yaitu karena: pertama, kesetiaan mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyang, dan kedua, khawatir akan merosotnya kemuliaan suku Quraisy sebagai pemegang kuasa pusat tempat ibadah dan ritual haji di jazirah Arab, dan ketiga, kedengkian terhadap Bani Hasyim (keluarga Muhammad), mereka mempertanyakan kenapa Nabi dan Rasul baru tersebut bukannya keluar dari golongan mereka.

Mendengar itu semua, di sela-sela rutinitasnya sebagai budak, keseharian Bilal selanjutnya dipenuhi dengan perenungan tentang Islam. Sepanjang hari ketika sedang menggembala ternak dia terus berpikir tentang ide-ide yang sebelumnya bahkan untuk diimajinasikan saja dia tidak berani. Dia berpikir dalam-dalam tentang Pencipta dan Ciptaannya.

Esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap Tuhan-tuhan kami, sebutlah, ‘Tuhanku Lata dan ‘Uzza’, nanti kami lepaskan dan biarkan engkau sesuka hatimu. Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Bilal hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Ahad…. Ahad….”

Setelah melalui berbagai perenungan yang panjang, pada suatu hari Bilal “menyaksikan” cahaya Ilahi, dan hatinya berkata dengan sebuah dorongan yang murni untuk menemui Muhammad.

Maka di hadapan Sang Nabi, Bilal menyatakan keislmannya, “ʾašhadu ʾal lā ilāha illa l-Lāh wa ʾašhadu ʾanna muḥammadar rasūlu l-Lāh”. Bilal sebagaimana sebagian muslim lainnya pada waktu itu masih merahasiakan keislamannya.

Namun, malang tak dapat dihindarkan, berita mengenai keislaman Bilal tidak dapat disimpan selamanya. Berita rahasia keislaman Bilal terungkap dan beredar di lingkungan para pemuka Quraisy. “Apa? Budak mereka orang Habsyi itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad?” ujar mereka.

Demi Umayyah bin Khalaf yang congkak, berita tentang keislaman Bilal merupakan tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan dirinya serta Bani Jumah. Walaupun demikian, tidak apa, katanya di dalam hati, seraya berkata, “matahari yang terbit hari ini takkan tenggelam dengan Islamnya budak durhaka itu!”.

Di tengah hari, ketika matahari sedang terik-teriknya menyinari padang pasir, mereka membawa Bilal ke luar dan menelanjanginya. Kemudian mereka melemparkan Bilal ke atas pasir yang seolah menyala karena saking panasnya. Beberapa orang lelaki mengangkat batu besar yang sangat panas dan menindihkannya ke atas tubuh dan dadanya.

“Engkau akan tetap dalam keadaan begini sampai engkau mati, atau engkau menyumpahi Islam,” kata Umayyah.[5]Riwayat lainnya mengatakan bahwa Umayyah berkata, “aku tak akan membebaskan engkau sampai engkau mati seperti ini atau menolak agama Muhammad dan menyembah Lata dan ‘Uzza.” Mendapat perlakuan sedemikian rupa, Bilal menjawabnya hanya dengan dua kata yang jelas membuktikan kekokohan imannya. Ia berkata, “Ahad! Ahad!” (Yakni, Allah itu Esa.)

Bilal tidak bergeming, dia kokoh pada pendiriannya dan tidak ingin mengikuti perintah para penyiksanya untuk meninggalkan Islam. Sehingga, tuan dan para penyiksanya harus mengulang terus-menerus penyiksaan terhadap Bilal selama beberapa hari ke depannya.

Konon, Abu Jahal pun suatu waktu turut serta dalam penyiksaan tersebut, dia berkata, “ingkarilah Tuhan Muhammad!” namun jawaban dari Bilal tetap sama, “Ahad! Ahad!”

Dengan penyiksaan yang terus menerus seperti itu, beberapa algojo menaruh kasihan pada Bilal. Sehingga mereka membujuk Bilal dan berjanji akan melepaskannya asalkan dia mau menyebutkan nama Tuhan mereka secara baik-baik, tidak apa-apa walaupun hanya sepatah kata, karena mereka hampir putus asa dengan kegigihan dan kekeraskepalaan Bilal. Sebab, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang Quraisy lainnya? Apabila mereka mengalah dan tunduk kepada seorang budak hitam yang hina. Mereka khawatir apabila ini dibiarkan mereka akan jadi buah bibir di kalangan Quraisy dan nama baik mereka tercemar.

Tapi apa yang dikatakan Bilal ketika dibujuk? Masih tetap sama, “Ahad! Ahad!” Para penyiksa pun sampai berteriak seolah-olah seperti memohon, “sebutlah Lata dan ‘Uzza!” “Ahad! Ahad!” jawaban Bilal masih sama. “Sebutlah apa yang kami sebut!” pinta mereka. Bilal dengan lirih menjawab, “lidahku tak dapat mengucapkannya.” Maka ditinggalkannya lah Bilal sepanjang hari di padang pasir dengan batu panas yang terus menindihnya.

Orang-orang takjub akan kegigihan budak hitam ini, tawanan orang yang berhati bengis. Demikianlah sehingga Waraqah bin Naufal, pendeta Arab, menangisi keadaan Bilal seraya berkata kepada Umayyah, “demi Allah! Bila Anda membunuhnya dalam kondisi demikian, aku akan jadikan kuburannya tempat keramat untuk dikunjungi peziarah.”

Mendengar itu, Umayyah malah bertindak lebih keras. Ketika sore tiba, mereka dirikan Bilal, dan diikatkanlah tali ke leher Bilal, lalu mereka menyuruh anak-anak untuk menyeret dan mengaraknya keliling bukit-bukit dan jalan-jalan di sekitar kota Mekah. Sementara bibir Bilal terus bersenandung, “Ahad…. Ahad…. ”

Hingga malam tiba, para penyiksa menawarkan kepada Bilal, “esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap Tuhan-tuhan kami, sebutlah, ‘Tuhanku Lata dan ‘Uzza’, nanti kami lepaskan dan biarkan engkau sesuka hatimu. Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Bilal hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Ahad…. Ahad….”

Karena tak dapat menahan gusar dan amarah, maka Umayyah meninju Bilal dan berkata, “kesialan apa yang menimpa kami disebabkanmu, hai budak celaka! Demi Tuhan Lata dan ‘Uzza, akan kujadikan kau contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” Mendengar itu, Bilal hanya berkata, “Ahad…. Ahad….”

“Bawahlah dia! Demi Lata dan ‘Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,”

Segala acara dilakukan oleh Umayyah bin Khalaf untuk membuat Bilal meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama penyembah berhala. Meskipun itu hanya sekedar di bibir Bilal saja Umayyah tidak peduli, yang paling penting adalah menyelamatkan mukanya dari cibiran Quraisy lainnya karena mempunyai seorang budak yang beragama Islam dan tidak menurut terhadap perintah tuannya untuk menyembah Lata dan ‘Uzza.

Setelah disiksa dengan ditindih batu panas, dibujuk, diarak keliling kota, dan dipukul, Bilal tidak juga bergeming, dia masih saja berkata, “Ahad… Ahad….” Hingga akhirnya Umayyah menyusun skenario, disuruhnyalah beberapa orang dari Bani Jumah untuk menemui Bilal. Mereka berpura-pura seolah-olah menaruh kasihan terhadap Bilal. Kemudian mereka berkata, “Biarkanlah dia wahai Umayyah! Demi Lata dan ‘Uzza! Mulai saat ini dia takkan disiksa lagi! Bilal ini anak buah kami, bukankah ibunya sahaya kami? Nah, dia takkan rela bila dengan keislamannya itu nama kami menjadi ejekan dan cemoohan bangsa Quraisy.”

Bilal mengetahui bahwa itu semua sekedar tipu muslihat, dia marah dan membelalakkan matanya menantang mereka semua. Namun dia segera tersadar, maka dibuanglah segala kemarahan dan ketegangannya, kemudian dia menyunggingkan sebuah senyuman. Dan dengan ketenangan yang teramat sangat, dia kembali berkata, “Ahad… Ahad….”

Keesokan harinya, di tengah hari Bilal kembali digelandang menuju padang pasir untuk menerima hukuman yang sama dengan hari kemarin, ditelanjangi kemudian ditindih dengan batu panas. Namun Bilal tetap sabar, tenang, dan tidak tergoyahkan. Sementara dia disiksa, datanglah Abu Bakar as-Shiddiq, dia berseru, “apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?” Kemudian dia berkata kepada Umayyah, “terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan dia!”

Mendengar itu Umayyah malah merasa lega dan beruntung, karena dia sudah mulai putus asa dapat menundukkan Bilal. Apalagi Umayyah adalah seorang saudagar, dia melihat peluang keuntungan di sana, ketimbang membunuhnya, lebih baik dia menjualnya karena akan mendatangkan uang. Umayyah setuju dengan penawaran Abu Bakar.

“Bawahlah dia! Demi Lata dan ‘Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,” kata Umayyah. Abu Bakar kemudian menjawab, “demi Allah, seandainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!” Demikianlah akhirnya Bilal memperoleh kebebasannya.

Kemudian pergilah Abu Bakar sambil mengepit Bilal untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal sebagai orang merdeka. Momen itu adalah momen yang tak ubah bagai hari raya besar.

Riwayat dalam versi lain mengatakan bukan Abu Bakar yang membebaskan Bilal, namun Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Berikut ini adalah kisahnya, suatu hari, ketika Bilal disiksa, Rasulullah SAW kebetulan melihatnya. Kemudian Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan membebaskan Bilal.”

Kemudian Rasulullah SAW datang ke rumah Abbas dan mengatakan, “bebaskanlah Bilal untukku!” Abbas, kemudian datang ke wanita pemilik Bilal. Dalam kondisi hampir meninggal dunia disebabkan siksaan pedih yang dideritanya, Abbas datang membebaskan Bilal. Setelah wanita itu mencaci dan menghina Bilal, dia pun menjualnya kepada Abbas. Bilal terbebas dari siksaah lantaran kesabarannya. Sepanjang sisa hidup Rasulullah, kemudian Bilal mengabdi kepadanya sebagai orang yang merdeka.

Di kemudian hari, diriwayatkan bahwa Umayyah bin Khalaf terbunuh dalam perang Badar oleh Bilal. Sementara dalam versi lain, meskipun dalam latar belakang yang sama, yakni perang Badar, Umayyah dibunuh oleh pasukan Muslim. Berikut ini adalah kisahnya, Umayyah bin Khalaf dan putranya tertangkap oleh ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf. Karena latar belakang persahabatan, ‘Abd ar-Rahman bermaksud membawa keduanya ke luar dari medan pertempuran hidup-hidup sebagai tawanan.

Bilal melihat Umayyah dan menyadari bahwa ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf hendak menolongnya. Karena itu, Bilal berteriak keras-keras, “wahai para sahabat Allah! Umayyah adalah salah seorang pemimpin kafir. Ia tak boleh dibiarkan hidup.” Kemudian pasukan Muslim mengepung Umayyah lalu membunuhnya beserta putranya.

Versi lainnya lagi, Umayyah dan putranya tidak dibunuh ketika perang Badar sedang berlangsung, namun dia dan putranya menjadi tawanan perang. Sebagian Muslim tak menghendaki Umayyah dibunuh, namun Bilal mengatakan, “dia pemimpin kafir yang harus dibunuh.” Berdasarkan desakan Bilal, ayah dan anak itu akhirya dibunuh.

Aku, Bilal, budak Umayyah, akan memberitahumu tentang hari-hari yang harus dikagumi, aku ada di sana–dua puluh dua tahun mendampingi—ketika Muhammad, Rasulullah, berjalan di atas muka bumi, aku mendengar apa yang beliau katakan dan melihat apa yang beliau lakukan….”

Pada tahun 622 M, orang-orang Islam di Mekah melakukan Hijrah ke Madinah. Hijrah dilakukan secara bertahap selama dua bulan dari sejak peristiwa Baiat Aqabah Kubra. Baiat Aqabah Kubra adalah peristiwa Baiat terhadap penduduk Yastrib (Madinah) oleh Rasulullah mengenai pengesahan jalinan agama dan militer di bukit Aqabah, Mekah.

Setelah semua Muslim berhijrah ke Madinah, yang tersisa di Mekah hanya tinggal tiga orang, yakni Nabi Muhammad SAW sendiri, Abu Bakar as-Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib. Mereka bertiga menetap di Mekah karena belum mendapat perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Suatu hari datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, dia mengabarkan bahwa perintah berhijrah telah turun, seraya berkata, “janganlah engkau tidur di tempat tidurmu malam ini seperti biasanya.”

Nabi Muhammad SAW kemudian memberi perintah kepada Ali, beliau berkata, “tidurlah di atas tempat tidurku, berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari Hadhramaut ini. Tidurlah dengan berselimut mantel itu. Sesungguhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.” Demikianlah Ali menjadi pengganti Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy.

Tengah malamnya, sebelas orang Quraisy hendak melakukan pembunuhan berencana terhadap Nabi Muhammad SAW. Di antara sebelas orang itu terdapat mantan majikan Bilal, yaitu Umayyah bin Khalaf. Atas izin Allah, mereka semua tidak dapat melihat Nabi ketika beliau keluar rumah.

BILAL MENGUMANDANGKAN ADZAN PERTAMA KALI

Kemudian mereka masuk ke dalam rumah Nabi hendak membunuh orang yang sedang tertidur yang mereka kira Nabi. Ali kemudian bangkit dari tempat tidur dan langsung dikepung. Mereka bertanya keberadaan Muhammad. Ali menjawab, “aku tidak tahu.”

Singkat cerita, pada akhirnya hampir seluruh Muslim dapat berhijrah ke Madinah, dan dari kota itulah secara perlahan umat Muslim dapat bangkit dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Kembali kepada kisah Bilal bin Rabah, setelah kemerdekaannya, Bilal sangat setia terhadap Nabi Muhammad SAW, ke mana pun Nabi pergi, Bilal selalu mengikutinya.

“Aku, Bilal, budak Umayyah, akan memberitahumu tentang hari-hari yang harus dikagumi, aku ada di sana–dua puluh dua tahun mendampingi—ketika Muhammad, Rasulullah, berjalan di atas muka bumi, aku mendengar apa yang beliau katakan dan melihat apa yang beliau lakukan….” kata Bilal.

Ketika Masjid Nabawi di Madinah selesai dibangun, Rasulullah telah mengambil keputusan akan menggunakan naqus(lonceng) sebagai alat untuk memanggil orang-orang untuk shalat. Namun Rasul sendiri tidak menyukainya karena menyerupai orang Nasrani. Hingga salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih bermimpi, di dalam mimpinya itu dia didatangi seorang laki-laki.

“Laki-laki itu memakai baju hijau di tangannya membawa naqus. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Abdullah, apakah engkau mau menjual naqus itu?’ Orang itu menjawab, ‘akan kau gunakan untuk apa?’ Aku menjawab, ‘untuk memanggil orang buat shalat.’ Dia berkata, ‘maukah aku tunjukkan kepadamu cara yang lebih baik? Sebutlah Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar…. (diteruskan sampai dengan kalimat Adzan yang kita kenal hari ini).’ Maka aku bangun pagi, lalu pergi kepada Rasulullah. Aku kabarkan kepadanya mengenai mimpi itu. Lalu Rasulullah bersabda, ‘sesungguhnya mimpi itu betul, insya Allah.’…. ,” kata  Abdullah bin Zaid.

Kemudian Rasulullah memberikan perintah kepada Abdullah bin Zaid, “dapatkan Bilal dan katakan padanya apa yang telah engkau lihat, ajari dia kata-katanya sehingga dia bisa memberikan panggilan, karena dia memiliki suara yang indah.” Abdullah bin Zaid menemui Bilal dan mengajari kata-katanya.

Setelah diajari, mulailah Bilal Adzan, “Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Asyhadu an laa illaaha illallaah. Asyhadu an laa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.  Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Hayya ‘alas-shalaah. Hayya ‘alas-shalaah. Hayya ‘alal-falaah. Hayya ‘alal-falaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah.” Adzan tersebut adalah Adzan pertama dalam sejarah Islam, dan dilakukan oleh mantan budak yang sebelumnya dihinakan.

Umar bin Khattab mendengar seruan itu saat masih berada di rumahnya, dia buru-buru keluar, menyeret jubahnya di belakangnya, berkata, “demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, aku melihat mimpi yang sama.” Nabi Muhammad SAW senang dan berkata, “segala puji bagi Allah.”

Wallohua'lam Bisshowab

Monday, December 18, 2017

Asal usul Abu Nawas dan Kisah Lengkap Kepandaian Abu Nawas

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya.


Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah.

Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.


Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual.

Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.

Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M.

Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad. Berikut ini adalah beberapa kisah Abu Nawas :

ABU NAWAS DISURUH MENANGKAP DAN MEMENJARAKAN ANGIN

Secara logika tugas baginda raja ini tak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangkap angin dan diperlihatkan hasil tangkapannya kepada raja.

Namun, bukanlah Abu Nawas kalau tak bisa sukses menjalankan tugas yang pelik seperti ini. Akankah Abu Nawas berhasil menunaikan titah raja?

Asal mula tugas berat ini adalah karena raja sering banget mengalami gangguan perut. Bisa dikatakan saja kalau raja sering masuk angin apalagi ketika sering bertugas ke lapangan di waktu musim dingin.

"Abu Nawas, aku ingin kamu untuk menangkap angin dan memenjarakannya, "kata raja.

Abu Nawas kaget, tugas ini tak masuk akal.
"Bagaimana cara membuktikannya kalau angin benar-benar telah aku tangkap? "guman Abu Nawas.

Abu Nawas berpikir keras karena hanya 3 hari waktu yang diberikan oleh baginda raja. Lama berpikir, Abu Nawas berguman.
"Bukankah jin itu juga tak terlihat?"

Tiba-tiba saja Abu Nawas senyum dan berjingkrak kegirangan. Rupanya beliau sudah menemukan cara untuk menangkap angin dan sekaligus membuktikannya kepada raja.

Keesokan harinya Abu Nawas menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah Tuanku, "jawab Abu Nawas sambil mengeluarkan botol dari balik bajunya.

"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini Tuanku, "jawab Abu Nawas.
"Mana? aku tak melihat apa-apa, "kata raja.

"Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, akan tetapi jika Paduka ingin tahu angin yang saya tangkap, maka tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu."

Setelah dibuka, raja mencium adanya bau tak sedap keluar dari dalam botol tersebut. Baunya sangat menyengat. Ternyata Abu Nawas sengaja memberinya angin yang busuk agar bisa tercium dengan mudah.

BERKEBUN DARI ISTANA

Sebagai putra dari mantan kadi, Abu Nawas pun ditunjuk oleh raja menjadi kadi juga menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia. Namun dengan sopan Abunawas menolaknya.

Meskipun Abu Nawas tidak mau, namun raja tetap gigih dan meminta Abu Nawas untuk menjadi penasehat raja. Akhirnya Abunawas menerima tawaran tersebut.

Dan karena jabatan baru tersebut, Abu Nawas harus menghabiskan waktu lebih banyak di istana karena setiap saat raja membutuhkannya untuk berdiskusi, Abu Nawas tada dan siap.

Otomatis waktu bersama dengan istrinya sangat sedikit sekali. Biasanya untuk mengobati rasa rindu, Abu Nawas mengirimkan surat kepada istrinya dan begitu pula sebaliknya.

Namun belakang ini, surat-surat yang akan dikirim rupanya telah dibaca terlebih dahulu oleh pengawal bahkan terkadang oleh ketua pengawal raja sendiri. Padahal surat tersebut bersifat privasi.

Abu Nawas geram, dan menyusun taktik agar si pembaca suratnya jera. Dan hari yang ditunggu pun telah tiba manakala sang istri menanyakan,
"Suamiku, kapan saatnya menanam di kebun kita?, "tanya istri.
"Istriku sayang, janganlah sekali-kali menanam di kebun kita karena di situ aku menyimpan rahasia negara," kata Abu Nawas.

Jawaban yang singkat tersebut membuat terkejut para pengawal raja. Secara diam-diam, para pengawal pergi ke kebun Abu Nawas dan mencangkul seluruh sudut kebun tersebut.

Namun apa yang terjadi?
Mereka tak menemukan apa-apa selain lelah, keringat bercucuran saja.

CANGKULAN GRATIS

Pada keesokan harinya, istri Abu Nawas kembali mengirimkan surat dan mengabarkan kejadian yang terjadi di kebun. Surat tersebut kembali disensor oleh pengawal.

Begini isi suratnya,
Suamiku, kemarin beberapa prajurit dan pengawal raja datang datang ke rumah serta menggali setiap sudut kebun kita."

Balasan surat,
"Nah, sekarang kebun kita sudah dicangkuli dan kita siap menanaminya."

Istri Abu Nawas kini dapat memulai menanam di kebun tanpa perlu susah payah mencangkul.

Sementara itu, rupanya raja mengetahui akan kelakuan pengawal-pengawalnya. Raja menilai pengawalnya tak memberikan data atau berita yang akurat.

Karenanya, raja memberhentikan mereka semua. Keputusan ini disambut gembira oleh Abu Nawas. Kini surat-suratnya benar-benar aman terkendali.

MIMPI YANG TERINDAH

Tamu tak diundang. Pada suatu hari, Abu Nawas kedatangan tamu yang tak diundang. Mereka bukanlah orang biasa saja, namun juga memiliki kharisma.
Yaitu si ahli yoga dan seorang lagi pendeta.

Oh ternyata mereka berdua, si tamu ini memiliki tujuan untuk menemui Abu Nawas. Rupanya mereka sangat penasaran akan kecerdikan Abu Nawas yang terkenal tersebut. Pada waktu itu Abu Nawas sedang melakukan shalat Dhuha di rumahnya.

Istrinya yang setia mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk. Setelah Abu Nawas selesai shalat, ditemuilah mereka berdua dengan hati berbahagia.

"Kami sebenarnya ingin mengajak Anda untuk melakukan pengembaraan suci. Kalau Anda tak keberatan, ayo bergabunglah dengan kami, "kata ahli yoga.

Dengan penuh semangat Abu Nawas menerima ajakan tersebut. Kemudian pada keesokan harinya, mereka berangkat bersama. Abu Nawas memakai jubah sufi, ahli yoga dan pendeta memakai seragam mereka masing-masing.

Ketika sore hari, di tengah perjalanan, mereka diserang rasa lapar yang sangat. Maklumlah ketiganya tak membawa bekal makanan barang sedikit pun.

"Wahai Abu Nawas, bagaiman jika Anda mengumpulkan sedekah? Sementara kami mengadakan kebaktian," kata pendeta.
Abu Nawas setuju saja, mengetuk pintu dari rumah ke rumah.

Setelah dirasa cukup untuk membeli makanan, Abu Nawas segera pergi ke warung makan. Tak lama kemudian Abu Nawas menghampiri teman-temannya.

Abu Nawas mengajak mereka menyantap makanan, namun mereka menolaknya dengan alasan mereka sedang berpuasa. Abu Nawas memelaas, meminta jatahnya saja tapi tetap tidak boleh.

(Memang ada maunya).
"Bagaiman mana kalau kita mengadakan perjanjia?" kata pendeta.
Pendeta menjelaskan bahwa siapa bermimpi terbaik maka akan mendapat jatah makan terbanyak dan begitu juga sebaliknya.

Malam semakin larut, Abu Nawas tidak bisa tidur karena lapar. Setelah yakin dilihat teman-temannya tidur lelap, Abu Nawas langsung menyantap makanan hingga habis.

Keesokan harinya ketika mereka bangun, ahli yoga bercerita tentang mimpinya yang memasuki alam nirwana, dimana didalamnya ada sebuah taman indah.

Pendeta memujinya.
Pendeta bermimpi telah menembus batas ruang dan waktu, lalu bertemu dengan pencipta agamanya. Ahli yoga memuji mimpi dari pendeta.

Abu Nawas hanya diam saja.
Sekarang giliran Abu Nawas bercerita.
Menurut Abu Nawas, dia bertemu nabi Daud as yang ahli puasa. Dalam mimpinya itu, Nabi Daud menyuruh Abu Nawas agar segera berbuka puasa.

"Karena yang menyuruhku adalah nabi yang agung, aku tak berani membantahnya. Langsung saja aku bangun dan menyantap makanan yang ada di depan itu," kata Abu Nawas.

Alamak !!!
Sadarlah pendeta dan ahli yoga. Kini mereka kelaparan, sambil menyesal serta mengakui kehebatan betapa cerdiknya orang yang bernama Abu Nawas.

ABU NAWAS LEBIH SUKA MASUK PENJARA

Raja Baginda Harun Al Rasyid mempunyai dua orang putra dari permaisurinya. Anak pertama bernama Al Ma’mun dan yang kedua bernama Al Amin. Kedua putra beliau tersebut mempunyai kepribadian yang berbeda. Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas sedangkan Al Ma,mun terkenal rajin dan pintar dalam bidang ilmu sastra.

Karena kecerdasan Al Ma’mun sang rajapun lebih menyukainya dari pada Al Amin. Hal ini membuat permaisuri tidak suka, karena sang Raja dianggap pilih kasih. Terjadilah percakapan antara permaisuri dengan sang Raja.

“Suamiku kenapa anda tidak begitu menyayangi Al Amin?” Tanya sang permaisuri Zubaidah.

“Karena ia tidak bisa membuat syair dan tidak kenal ilmu sastra” jawab sang Raja.

“Suamiku, sebenarnya kalau mau Al Amin akan lebih menguasai ilmu sastra daripada saudaranya. Sebenarnya ia lebih cerdas. Ia hanya malas saja,” kata sang permaisuri mencoba membela Al Amin,

“Apa buktinya?.”

“Baik, tidak lama lagi anda akan melihat buktinya.”

Pada suatu siang permaisuri memanggil putranya Al Amin.

“Aku baru saja berdebat dengan ayahmu mengenai dirimu,” kata sang permaisuri kepada putranya tersebut. “Aku tidak rela kamu dipandangnya sebelah mata dan dibandingkan dengan kakakmu. Karena itu kamu harus bisa menandinginya. Mulai sekrang kamu harus tekun mempelajari ilmu sastra, supaya menjadi seorang penyair yang hebat.”

Sorenya Al Amin pergi meninggalkan istana menuju ke sebuah tempat yang sepi. Ditempat itulah ia mencoba mengasah pikirannya yang bebal. Ia berusaha menulis bait bait syair tanpa seorang guru dan tanpa bimbingan siapapun.

Beberapa minggu kemudian setelah merasa mampu menguasai ilmu sastra dan menulis bait-bait syair, Al Amin pulang ke istana.

“Jadi kamu sekarang sudah bisa menulis syair, putraku?” Tanya sang permaisuri Zubaidah ketika menyambut kedatangan putranya tersebut dengan gembira.

“Sudah,” jawab Al Amin.

“Kalau begitu biar besok aku panggil Abu Nawas untuk menguji karya syairmu.”

Esoknya pagi-pagi sekali Abu Nawas sudah muncul di istana memenuhi panggilan permaisuri.

“Abu Nawas, coba kamu dengarkan karya syair putraku ini, “ kata sang permaisuri dengan bangga.

“Baiklah Silahkan,” kata Abu Nawas.

Al Amin lalu membacakan beberapa bait syair sebagai berikut :

“kami adalah keturunan Bani Abbas.

Kami duduk di atas kursi.”

Abu Nawas hampir tidak sanggup menahan tawanya mendengar syair tersebut.

“Bagaimana?” Tanya Al Almin kepada Abu Nawas.

“Ya, begitulah. Kalian memang dari keturunan yang mulia” jawab Abu Nawas ngeledek. “Tapi coba teruskan”.

“Kami berperang dengan pedang dan tombak pendek.”

“Syair macam apa itu!” Celutuk Abu Nawas yang sudah tidak mau berbasa basi lagi.

Al Amin marah sekali mendengar cemooh Abu Nawas tersebut. Lalu ia menyuruh pasukan istana untuk menangkap dan memasukkan Abu Nawas ke dalam penjara.

Selama beberapa hari Abu Nawas tidak pernah muncul di istana, sehingga Raja Harun Ar Rasyid merasa rindu. Belakangan sang Raja mendengar kabar bahwa Abu Nawas dimasukkan ke penjara oleh Al Amin. Ia kemudian mengajak putranya itu ke penjara untuk menjenguk Abu Nawas.

“Kenapa kamu memenjarakannya?” Tanya sang Raja.

Al amin kemudian menceritakan semuanya.

“Yang sangat menyakitkan adalah ia berani mencemooh syair karyaku, ayahanda,” kata Al Amin.

“Tentu saja karena memang karya syairmu jelek. Dia itu kan seorang penyair yang hebat, jadi bisa menilai syair yang bagus dan tidak bagus. Lagi pula apa yang ia katakan itu jangan kamu anggap sebagai ejekan, melainkan sebuah kritikan yang harus kamu terima dengan lapang dada,” kata sang Raja menasehati.

“Baik. Kalau begitu beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku,” kata Al Amin sambil beranjak pergi.

Untuk kedua kalinya Al Amin pergi ke tempat yang sepi guna mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra agar bisa menulis syair yang benar-benar bagus, tidak seperti sebelumnya. Dan beberapa pekan kemudian ia kembali ke istana.

Esok paginya baginda Raja Harun Ar Rasyid, Abu Nawas dan beberapa penyair sudah berada di istana. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh sang permaisuri Zubaidah. Ian ingin mereka mendengarkan karya syair putranya yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.

“Dengarkan karya syair putraku Al Amin,” kata sang permaisuri Zubaidah.

“Baiklah, silahkan,” sahut Abu Nawas.

Al Amin pun mulai membaca karya syairnya,

“Hai bintang yang duduk bersimpuh

Rasanya tidak ada yang setolol kamu

Kamu seperti hidangan kinafah

Yang diolesi dengan minyak biji hardal dan minyak sapi yang kental

Seperti warna seekor kuda belang.”

Begitu selesai mendengar syair tersebut Abu Nawas lalu bangkit dan beranjak dari tempatnya.

“Kemana kamu Abu Nawas?” Tanya sang Raja

“Saya lebih suka balik ke penjara saja, daripada mendengar syair macam itu. Toh, sebentar lagi putramu ini pasti akan menyuruh polisi membawaku ke sana,” jawab Abu Nawas.

Raja tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Abu Nawas itu. Sementara sang permaisuri Zubaidah hanya bisa duduk bengong. Kini ia sadar dan yakin bahwa putranya Al Amin memang bodoh.

ABU NAWAS LOLOS DARI HUKUMAN PANCUNG

Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain. Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan orang.

Keputusan yang dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat. Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat. Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghirup udara kebebasan di luar. Istri Abu Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat dirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akan membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah. Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Raja langsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saat ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payung untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja.

Pada hari itu Abu Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib. Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat panggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai orang yang handal dalam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli ramal yang jitu.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja Harun Al Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa membahayakan kerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap. Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini bemiat akan menghabisi riwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawas sudah mempersiapkan tameng. Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju tempat kematian.

Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang baru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang. Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda juga bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapi detik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang, Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.

Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri menghadapi pedang algojo?"

"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira." jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.

"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba, maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke liang lahat, karena hamba tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang. Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukuman pancung dibatalkan.

Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar Abu Nawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya Abu Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa tinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada penjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisa jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas setelah mendengar penuturan penjaga penjara.

ABU NAWAS MENANAM KENTANG

Pagi itu cuaca cerah, Abu Nawas dan istrinya sedang berkebun di ladang milik mereka. Ladang yang terletak tepat di belakang rumah mereka itu cukup luas untuk menanam hasil bumi yang dapat menunjang hidup sekeluarga.

Sambil menyeka keringat yang mulai membasahi kening dan sekujur tubuhnya, Abu Nawas berkata dalam hati "Enak betul orang kaya yang bergelimang harta, mereka tanpa bekerja keras seperti Aku bisa makan enak, hidup nyaman tanpa harus capek bekerja di ladang seperti Aku"�.

"Kita sudah mencangkul dari pagi, hingga siang hari begini baru sepertiga bagian saja yang bisa Kita cangkul ya istriku"�. Abu Nawas berkata kepada istrinya. Istrinya hanya tersenyum sambil menjawab " Iya suamiku, Kita harus bekerja lebih keras agar dua hari lagi kita dapat menanam bibit kentang Kita".

Abu Nawas dan istrinya tidak tahu kalau pengawal kerajaan sedang menuju rumah mereka. Setelah sampai didepan rumah Abu Nawas , para pengawal kerajaan segera berteriak memanggil si empunya rumah. "Abunawas . . .Abunawas . . . Dimana Kau . . . lekas kemari!" Abu Nawas yang mendengar teriakkan memanggil namanya bergegas datang.

Betapa terkejutnya Abu Nawas begitu mendekat sumber suara yang memanggilnya tadi, tanpa diduga tiba-tiba ia disergap dan ditangkap seperti layaknya penjahat.

"Hai apa-apaan ini lepaskan Aku, apa salahku?" Sambil berontak Abu Nawas berusaha melawan dan melepaskan diri. "Diam Kau Abu Nawas , tidak usah berontak . . . Kami kesini ditugaskan Sultan untuk menangkapmu!" bentak pengawal yang merangket Abu Nawas .

Istri Abu Nawas yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak dan menangis. "Lepaskan suamiku . . . lepaskan suamiku, tuan . . . apa salahnya sehingga tuan menangkapnya?" Pengawal yang sedang berusaha mengikat Abu Nawas ke kudanya itu segera melotot ke arah istri Abu Nawas. "Diam Kau . . . Kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap dan menghukum Abu Nawas !"

Akhirnya dengan diiringi tangis istrinya, Abu Nawas ditangkap dan dibawa kepenjara kerajaan. Abu Nawas hanya bisa mengumpat dalam hati, Lihat saja kalian . . . akan kubalas perbuatan kalian . . . istriku sabarlah pasti Aku pulang kerumah secepatnya."

Abu Nawas hanya bisa berjalan terseok-seok dengan tangan terikat yang ditarik kuda para pengawal kerajaan itu. Para pengawal terus tertawa senang melihat penderitaan Abu Nawas sambil terus mempermainkan tali ikatan tangan Abu Nawas. Sehingga sesekali Abu Nawas terjatuh atau terseret karena kelakuan para pengawal tersebut.

Setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam dan tiga kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya sampailah mereka ke penjara kerajaan. Segera Abu Nawas dimasukkan dalam sel yang lembab, kotor, sempit dan gelap.  Hai sampai kapan Aku di kurung di sini . . . apa salahku? teriak Abu Nawas ketika para pengawal itu mau meninggalkanya.  Pikir saja sendiri apa salah mu Ali . . . dan sampai kapan Kau di sini kami tidak peduli! Jawab pengawal itu ketus sambil berlalu.

Abun Nawas hanya bisa merenungi nasibnya sambil berpikir bagaimana caranya supaya ia dapat keluar dari penjara itu. Ia teringat istrinya dirumah, kasihan istrinya tentu ia merasa sedih dan bingung atas kejadian yang menimpanya kini. Abu Nawas juga teringat ladangnya yang belum selesai ia tanami kentang, dan membayangkan betapa repotnya sang istri mengurus ladang seorang diri.

Setelah lama merenung dan berpikir akhirnya Abu Nawas menemukan ide. Segera ia menulis surat untuk istrinya di rumah, dan isi surat itu berbunyi,

AWAL SURAT ABU NAWAS

Istriku tercinta,

Jangan bersedih dengan keadaanku sekarang ini, Aku baik-baik saja. Sepeninggalku tak usah Kamu kuatir bagaimana kamu menghidupi dirimu sendirian.

Istriku tercinta,

Ketahuilah kalau Kita masih punya simpanan harta karun yang berupa emas, permata dan berlian. Semua itu Aku kubur di ladang kentang di belakang rumah Kita. Cobalah Kau gali pasti Kau akan menemukannya. Gunakanlah untuk mencukupi kebutuhannmu selama Aku di sini.

Suamimu tercinta,
Abu Nawas

AKHIR SURAT ABU NAWAS

Setelah selesai menuliskan surat tersebut, Abu Nawas memanggil penjaga dan memintanya untuk mengantarkan surat itu kepada istrinya. Penjaga yang dititipi surat itu penasaran dan membuka surat Abu Nawas untuk istrinya tersebut. Setelah mengetahui isi surat tersebut, sang penjaga melaporkan kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Begitu membaca surat Abu Nawas untuk istrinya tersebut Sultan memerintahkan beberapa pengawalnya untuk pergi kerumah Abu Nawas. Para pengawal tersebut diperintahkan untuk menggali ladang kentang milik Abu Nawas dan mengambil harta karun yang ada di ladang tersebut.

Tak berapa lama kemudian sampailah para pengawal kerajaan di rumah Abu Nawas. Tanpa permisi mereka lalu menuju ke ladang kentang milik Abu Nawas. Mereka menggali ladang kentang tersebut. Istri Abu Nawas yang tidak tau apa-apa heran melihat banyak pengawal menggali ladang kentangnya. Tapi dalam hatinya senang juga karena pekerjaan mencangkul ladang sekarang sudah ada yang mengerjakannya meskipun Abu Nawas tidak ada dirumah.

Sudah seluruh tanah di ladang milik Abu Nawas digali tapi tidak ada harta karun yang dijumpai. Akhirnya para pengawal itu memutuskan untuk menghentikan penggalian dan kembali ke kerajaan dan melaporkan kejadian itu kepada Sultan.

Abu Nawas yang mendengar para pengawal sudah kembali dari rumahnya kemudian menulis surat lagi untuk istrinya.

AWAL SURAT ABU NAWAS

Istriku tercinta,

Sultan sudah sangat baik mengirimkan para pengawalnya untuk membantu Kita mengolah tanah di ladang. Sekarang ladang Kita sudah dicangkul semua.

Sekarang Kamu tentu lebih mudah menanam kentang, tidak usah repot lagi mencangkul ladang sebegitu luas.

Sabarlah istriku, Aku akan cepat pulang karena Sultan orang yang bijaksana. Beliau tahu kalau Aku tidak bersalah. Pasti sebentar lagi Aku akan dibebaskan.
Suamimu,
Abu Nawas

AKHIR SURAT ABU NAWAS

Surat itu lalu dititipkan kepada penjaga penjara untuk disampaikan kepada istrinya di rumah. Dan sesuai dugaan Abu Nawas, surat itu disampaikan ke Sultan oleh penjaga penjara. Setelah tahu isi surat itu, Sultan merasa malu kepada dirinya sendiri.

Sebagai seorang Sultan yang berkuasa tidak sepantasnyalah Beliau penjarakan Abu Nawas dengan alasan yang tidak jelas. Beliau sadar akan kekeliruannya itu, kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan Abu Nawas dari penjara.