Showing posts with label Kesenian Tradisional Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Kesenian Tradisional Jawa Tengah. Show all posts

Tuesday, October 23, 2018

Sejarah dan Asal Usul Kesenian Jaranan Kuda Lumping

Jaranan pada zaman dahulu adalah selalu bersifat sakral. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. Pada zaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton.


Dalam praktik sehari-harinya para seniman jaranan adalah orang-orang abangan yang masih taat kepada leluhur. Mereka masih menggunakan danyangan atau punden sebagai tenpat yang dikeramatkan. Mereka masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap roh-roh nenek moyangnya. Mereka juga masih melaksanakan praktik-praktik slametan seperti halnya dilakukan oleh orang-orang dahulu.

Pada kenyataanaya seniman jaranan yang ada di kediri adalah para pekerja kasar semua. Mereka sebagian besar adalah tukang becak dan tukang kayu. Ada sebagian dari mereka yang bekerja sebagai sebagai penjual makanan ringan disepanjang jalan Bandar yang membujur dari utara ke selatan.

Cliford Geertz mengidentifikasi mereka dengan sebutan abangan. Geertz memberikan penjelasan tentang praktik abangan. Masayarakat abangan adalah suatu sekte politio-religius di mana kepoercayaan jawa asli melebur dengan Marxisme yang Nasionalistis yang memungkinkan pemeluknya sekaligus mendukung kebijakan komunisdi Indonesia. Sambil memurnikan upacara-upacara abangan dari sisa-sisa Islam (Geertz 1983).

Dalam perkembanganya kesenian jaranan mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan kondisi social masyarakat yang sudah berubah dalam memaknai dan mengambangkan jaranan. dari tahun-ke tahun jaranan mulai berubah dari yang sifatnya tuntunan menjadi tontonan dan yang paling menarik adalah jaranan sebagai alat untuk menarik simpatisan dan untuk pengembangan pariwisata.

Jaranan pada tahun 1960-an menjadi alat politik PKI untuk menopang kekuasaanya dan menarik masa. Pada tahun-tahun itu kebijakan Sukarno tentang Nasakom sangat mempengaruhi keberadaan lembaga-lembaga yang ada di bawah. Dari nasionalisme, Agama dan komunis ini, memiliki lembaga-lembaga sendiri. Kelompok itu memiliki basis kesenian sendiri-sendiri. Lekra, lesbumi dan LKN adalah lembaga kesenian yang ada di tingkat bawah.

Pada tahun itu jaranan sudah ada dan kebetulan bernaung dibawah pengawasan Lekra. Jaranan pada saat itu sudah sangat digemari masyarakat. Bahkan dikediri pada saat itu sudah berdiri beberapa kelompok jaranan. kelompok jaranan ini banyak digawangi oleh orang-orang yang berada di lembaga kesenian. Dari ketiga lembaga kesenian yang ada, semuanya memiliki kesenian sendiri-sendiri yang sesuai dengan misinya masing-masing.

Pada tahun 60an itu masing-masing kelompok jaranan berkontestasi dengan sehat. Walaupun mereka berasal dari lembaga kesenian yang berbeda, tapi pada saat itu mereka masih bisa berbagi ruang dan berkontestasi. Mereka saling mendukung dan mengembangkan kreatifitasnya dalam berkesenian. Jaranan pada saat itu masih tampil dengan polos sekali. Pemainya hanya mengenakan celana kombor dan tanpa make up. Tidak ada batas antara pemain, penabuh dan penonton. Mereka sama-sama berada di tanah. Mereka bisa saling tukar main antara satu dengan lainya. Berbeda dengan zaman jepang pada yang masih menggunakan goni sebagai pakaiannya. Pada tahun-tahun 60an jaranan bisa tampil vulgar di manapun dia berada.

Pada tahun 1965 terjadi peristiwa pembersihan dari kalangan agamawan kepada kelompok-kelompok abangan. Pembersihan ini dilakukan tas kerjasamama Negara dengan kaum agamawan. Akibat dari pembersihan itu masyarakat abangan yang ada di Kediri pada saat itu sempat kocar-kacir. Terlebih pada orang-orang yang memang bergelut di lembaga PKI ataupun pernah terlibat.

Orang-orang yang terlibat sebagai anggota partai komunis dibunuh. Para seniman-seniman yang berada dibawah PKI yaitu Lekra dihabisi semua. Danyangan dan beberapa punden banyak yang dirusak. Bahkan patung-patung dan arca yang sekarang berada di museum Airlangga terlihat banyak yang hancur. Ini adalah akibat pertikaian politik 1965. segala property yang berhubungan dengan tradisi orang abangan dimusnahkan. Termasuk didalamnya adalah jaranan.

Setelah kejadian berdarah tahun 1965 itu jaranan yang dahulu adalah kesenian yang sangat dibangggakan masyarakat hilang seketika. Jaranan adalah representasi dari kaum abangan yang mencoba untuk memberikan eksistensi dirinya pada kesenian. Mereka benar-benar mengalami trauma yang berkepanjangan. Sehingga kesenian jaranan pada paska 65 mundur. Kondisi politik 65 ini telah membawa jaranan pada titik kemandekanya. Kecuali jaranan yang bernaung di bawah komunis aman dari pembersihan ini. Keberadaan jaranan pada saat itu juga masih relative sedikit. Trauma itu ternyata tidak dirasakan oleh orang-orang yang berasal dar lekra saja. Seniman dari lesbumi dan LKN waktu itu juga agak ketakutan untuk tampil di public. Kebanyakan dari seniman yang ada dikediri pada waktu itu juga berhenti dari kesenian untuk semantara waktu.

Pasca peristiwa berdarah itu seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan. dari kalangan agamawan. Para agamawan beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. Sehingga wajar jika pada saat itu para agamawan terlebih ansor menghabisi seniman-seniman yang berbau komunis di kediri.

Negara yang mulai memberikan pengngontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. Dengan memberikan NIS ini pemerintah bisa mengontrol lebih jauh seniman yang terlibat dengan komunis. Bagi yang tidak memiliki NIS biasanya mereka dikasih nomor aktif sebagai seniman. "Tanpa memiliki kartu ini, seniman tidak boleh tampil di ruang publik" kata Mbah Ketang.

Praksis paska 65 jaranan jarang sekali tampil di ruang public. Seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN mungkin masih bisa berunjuk kebolehanya di ruang public. Misalnya jaranan Sopongiro di Bandar dan jaranan Turnojoyo Pakelan. Dua jaranan ini bisa eksis dan tidak terberangus pada tahun 65 karena mereka adalah kelompok kesenian yang berasal dari LKN.

Stigmatisasi yang dikembangkan oleh agamawan dan Negara rupanya telah meberangus nalar masyarakat. Paska 65 masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan. Mereka masih menganggap bahwa kesenian jaranan itu adalah kesenian milik PKI.

Masyarakat tidak mau dicap merah oleh pemerintah dan kaum agamawan sebagai pengikut PKI. Akhirnya kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat. Pasca terjadi peristiwa berdarah rtahun 1965 itu, kesenian jaranan mulai lumpuh total. Baru pada tahun 1977 jaranan mulai menggeliat lagi. Jaranan menjadi sebyuah idiom baru yang tampil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jaranan pada tahun sebeliumnya banyak berafiliasi dengan komunis akan tetapi pada tahun itu jaranan mulai menggandeng militer untuk dijadikan alat untuk melindungi dirinya.

dan musikpun sudah mulai dilakukan. Para seniman jaranan mulai memodifikasi jaranan dari pakaian, make up, dan tarian serta musiknya. Dalam berebagai pertunjukan jaranan pemain jaranan harus memiliki sifat yang arif, sopan dan memiliki tata karama yang tinggi kepada masyarakat dan para penanggap. Sifat itu harus diperankan oleh para Dalam rangka memperbaiki citra jaranan di muka masyarakat, seniman jaranan mulai menghaluskan jaranan. Pada senimaSelainn dalam berbagai waktu dan kesempatan.

SEJARAH AWAL MULA JARANAN

Seni Jaranan itu mulai muncul sejak abad ke 10 Hijriah. Tepatnya pada tahun 1041. atau bersamaan dengan kerajaan Kahuripan dibagi menjadi 2 yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura.

Pada zaman dahulu Raja Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sangga Langit. Dia adalah orang kediri yang sangat cantik. Pada waktu itu banyak sekali yang melamar, maka dia mengadakan sayembara. Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti. Mereka sama-sama memiliki kekuatan yang tinggi. Dewi Songgo Langit sebenarnya tidak mau menikah dan dia Ingin menjadi petapa saja. Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit Untuk menikah. Akhirnya dia mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya.

Ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit. Diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar. Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit.

Dari beberapa pelamar itu mereka bertemu dijalan dan bertengkar dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam peperangan itu Pujangganom menang dan Singo Ludoyo kalah. Pada saat kekalahan Singo Ludoyo itu rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker.

Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Pada zaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dan jaranan.

Dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom itu, Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, tetapi ternyata dia masih sampai di Gunung Liman. Dia marah-marah pada waktu itu sehingga dia mengobrak-abrik Gunung Liman itu dan sekarang tempat itu menjadi Simoroto. Akhirnya sebelum dia sampai ke tanah Wengker dia kembali lagi ke Kediri. Dia keluar digua Selomangklung. Sekarang nama tempat itu adalah selomangkleng.

Karena Dewi Songgo Langit sudah diboyong ke Wengker oleh Pujangganom dan tidak mau menjadi raja di Kediri, maka kekuasaan Kahuripan diberikan kepada kedua adiknya yang bernama Lembu Amiluhut dan Lembu Amijaya. Setelah Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wengker Bantar Angin, Dewi Sangga Langit mengubah nama tempat itu menjadi Ponorogo Jaranan muncul di kediri itu hanya untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin. Pada saat boyongan ke Wengker, Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana diarak oleh Singo Barong. Pengarakan itu dilakukan dengan menerobos dari dalam tanah sambil berjoget. Alat musik yang dimainkan adalah berasal dari bambu dan besi. Pada zaman sekarang besi ini menjadi kenong.

Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya dengan Klana Sewandono atau Pujangga Anom inilah masyarakat kediri membuat kesenian jaranan. Sedangkan di Ponorogo Muncul Reog. Dua kesenian ini sebenarnya memiliki akar historis yang hampir sama. Seni jaranan ini diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini.

ASAL USUL JARANAN SAMBOYO PUTRO

Pada tahun 70an gerakan untuk merevitalisasi jaranan sudah mulai diupayakan. Penghalusan dalam wilayah tarian, dandanan dan musikpun sudah mulai dilakukan. Para seniman jaranan mulai memodifikasi jaranan dari pakaian, make up, dan tarian serta musiknya. Dalam berebagai pertunjukan jaranan pemain jaranan harus memiliki sifat yang arif, sopan dan memiliki tata karama yang tinggi kepada masyarakat dan para penanggap. Sifat itu harus diperankan oleh para seniman dalam berbagai waktu dan kesempatan.

Selain strategi berselingkuh dengan militer, jaranan juga memiliki strategi lain yaitu dengan cara menghaluskan tarianya, musiknya, dan danadananya serta tingkah lakunya harus lebih baik. Penghalusan ini dilakukan oleh seniman jaranan karena pada saat-saat itu monitoring dari pewemerintah masih sangat kuat. Untuk menghilangkan stigma itu seniman harus melakukan strategi itu untuk menjaga kesenian jaranan.

Kemudian pada tahun 1977 setelah berdirinya Samboyo Putro, jaranan mulai mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah. Jaranan Samboyo Putro ini didirikan oleh mantan polwil Kediri dari Bandar Lor yang bernama pak Sukiman (samboyo). Dengan adanya jaminan dari pihak kepolisian inilah jaranan mulai berani bertengger di kediri bersaing dengan kesenian lainya. Jaranan Samboyo itu dahulu mendapatkan wangsit dari Pamenang Joyoboyo. Pak Sukiman mendapatkan wahyu dari Pamenang agar mendirikan jaranan dan menguri-uri kesenian asli kediri ini dan untuk memperbaiki citra kesenian jaranan yang dahulu dianggap jelek atau ilmu sesat di mata masyarakat.

Atas wangsit yang berasal dari Pamenang itulah Sukiman berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan citra negative masyarakat terhadap kesenian jaranan. Pak sukiman mulai berafiliasi dengan pemerintah, agamawan serta masyarakat untuk mendukung eksistensi jaranan di kediri.pasca tahun 1977 inilah jaranan mulai bisa dipercayai sepenuhnya oleh masyarakat kediri sebagai kesenian yang bebas dari komunis.

Dahulu sebelum ada pertunjukan jaranan seluruh personel jaranan pasti pergi ke pamenang terlebih dahulu. Kalau sekarang hanya dilakukan oleh para gambuhnya saja. Perubahan ini disebabkkan lebih pada ketakutan pemain jika menjadi korban pamenang. Pemain-pemain itu takut kalu suatu saat dia mengingkari janjinya dengan pamenang.

Pada saat berdirinya jaranan samboyo putro tahun 1977 itu, Pak sukiman berusaha keras. Usaha ini lebih dimaksudkan untuk mengambalikan citra jaranan yang sudah buruk di muka masyarakat. Salah satu cara pak Samboyo pada saat itu adalah dengan cara mengadakan dukun tiban. Inspirasi tentang dukun tiban itu dia dapatkan dari pamenang. (Pardi dan Endah)

Pada masa kejayaan Samboyo Putro pernah memperoleh beberapa prestasi yang gemilang. Beberapa tahun setelah berdirinya Samboyo, langsung mendapatkan Juara 1 festifal jaranan sejawa Timur. Kemudian dalam perjalananya mulai tahun 1977 sampai 1990 Samboyo Putro pernah tanggapan sebanyak 1674 kali. Selain itu Samboyo Putro Personelnya banyak yang melatih jaranan ke komunitas-komunitas kesenian jaranan lain di Kediri.

Hingga kini masyarakat menyakini bahwa jaranan samboyo Putro itu memiliki jasa yang sangat besar untuk mengambalikan citra jaranan di kediri. Pandangan agamawan dan Negara serta masyarakat yang dahulu memandang jaranan sebagai kesenian yang jelek, akhirnya berubah haluan. Paska tahun 1977 ini, masyarakat mulai memandang bahwa jaranan ini adalah kesenian yang berasal dari kediri. Keberadaan kesenian ini harus tetap dilestarikan keberadaanya.

Pada masa kejayaan Samboyo putro pada tahun 1985 pak sukiman dahulu memiliki hubungan erat dengan pak sudiono (ngetrep lor-prambon-nganjuk). yang sekarang menjadi pemimpin samboyo putro dari tahun 1990-an sampai sekarang). hubungan erat seperti keluarga sendiri,karena sebelum pak sudiono menjadi pemimpin samboyo putro pengganti pak sukiman,pak sudiono dulu bekerja sebagai bisnis kayu,apabila pak sudiono mengadakan tebang pilih pohon dihutan,pak sukiman selalu memberikan izin tebang pohon,sebaliknya. Apabila pak sukiman membutuhkan bahan baku untuk membuat barongan/klono,pak sudiono selalu membantu memilih kayu.

Ketika diacara pementasan Samboyo Putro, pak sukiman selalu mengundang pak sudiono supaya hadir diacara tersebut, padahal waktu itu pak sudiono kurang berminat dengan kesenian jaranan. Kemudian di sela-sela acara, ketika pementasan berlangsung pak sukiman berkata sambil bercanda "No..!!! samboyo ki mbesok sing ngopeni wong nganjuk loh...!" pak sudiono tidak tahu kalau yang dimaksut pak sukiman adalah dirinya sendiri, kemudian pak sukiman mengajak pak sudiono ke petilasan sri aji joyoboyo di pamenang. "olehku biyen ki ko kene loh...!" kata pak sukiman,pak sudiono tidak mengerti apa yang dimaksud. ketika perjalanan pulang, pak sudiono tidur kaget dalam mimpi pak sudiono memegang pecut/cemethi dan memakai baju bopo/gambuh. yang diartikan generasi penerus samboyo putro setelah pak sukiman adalah pak sudiono sendiri.

Pada tahun 1990 Pak samboyo atau pak sukiman meninggal,dan samboyo putro hampir bubar, karena personel/gambuh banyak yang tidak mau meneruskan,mereka memilih bubar atau mendirikan grup jaranan lain. kemudian samboyo putro sementara dipimpin oleh pak sumantri atau pak tri,tetapi tidak berangsur lama,setelah banyak konflik-konflik yang berlanjut,akhirnya pak tri hanya memimpin samboyo putro selama 2 tahun.

Kemudian pak sudiono mendapat wangsit dari pamenang. Dalam wangsitnya pak samboyo harus meneruskan generasi samboyo putro,tetapi dalam arti samboyo putro harus diboyong di daerah asal pak sudiono di ngetrep lor-prambon-nganjuk. karena pada saat masa itu banyak sekali saingan antar grup jaranan dan konflik yang berlanjut,akhirnya pak sudiono memboyong semua peralatan samboyo putro dari bandar lor (kediri kota) ke ngetrep lor-kurungrejo-prambon (nganjuk) dan memulailah pak sudiono merintis kembali samboyo putro yang dulu vakum selama satu tahun kemudian dihidupkan kembali. untuk mengenang jasa pak sukiman,pada barongan samboyo putro (barongan samboyo putro yang bernama mbah legi,pak dhe sukiman,dan pakdhe cokro miharjo) diberi nama "bhayangkara" yang artinya keberanian melawan bebaya/marabahaya. Dahulu samboyo putro pernah mendapatkan penghargaan dari sinuwun Hamengku Buwono X berupa kenang-kenangan berwujud logo keraton ngayogjakarta. barongan mbah legi mendapatkan sematan langsung dari sinuwun H.B X sendiri.

Setelah pak sukiman pendiri samboyo putro meninggal pada tahun 1990. sebagian grup ini bereankarnasi dan terpecah belah menjadi grup jaranan lain di bandar lor seperti SANJOYO PUTRO yang dahulu didirikan oleh pak sarpan.

Sebelum samboyo berdiri jaranan pakelan adalah jaranan yang sudah bisa berdiri dengan eksis di kediri. Para pemain jaranan pakelan itu rata-rata dahulu berasal dari LKN. Samboyo bubar pada tahun 1990an bersamaan dengan meninggalnya bapak Samboyo sebagai pimpinan jaranan itu. Pasca Samboyo bubar, kesenian jaranan sudah mulai merebak hampir diseluruh desa yang ada di kota kediri memiliki jaranan masing-masing. Akan tetapi mereka juga masih berkiblat dan memiliki karakter seperti jaranan Samboyo.

Sumber : Wikipedia.org

Tuesday, April 17, 2018

14 Daftar Kesenian Tradisional Khas Asal Provinsi Banten, Indonesia

Provinsi Banten yang dulunya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat ini sebenarnya adalah sebuah Provinsi kecil dengan banyak sekali pesona kesenian tradisionalnya. Kesenian tradisional tersebut sudah kami rangkum di bawah ini :

1. Rampak Bedug


Kata “Bedug” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga bangsa Indonesia. Seperti di Banten, Bedug hampir terdapat pada setiap masjid. Rampak Bedug adalah salah satu kesenian yang hanya terdapat di daerah Banten. Kata “Rampak” memiliki arti “serempak” dan juga “banyak” jadi Rampak Bedug adalah seni menabuh nedug yang ditabuh secara serempak sehingga menghasilkan irama yang enak di dengar.

Rampak Bedug pertama kali dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Namun karena seni rampak bedug ini mengundang banyak penonton, maka kesenian ini menjadi sering ditampilkan dalam suatu acara pementasan.

2. Angklung Gubrag


Angklung Gubrag adalah salah satu kesenian tradisional yang sudah langka, namun masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Desa kemuning, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Padahal sebenarnya kesenian ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pada zaman dahulu, kesenian Angklung Gubrag dilaksanakan pada saat ritual penanaman padi dengan maksud agar hasil panen akan berlimpah nantinya. Sekarang  Angklung Gubrag biasa dimainkan saat acara khitanan dan selamatan kehamilan.

3. Tari Cokek


Tarian ini biasanya dimainkan oleh sepuluh orang penari wanita, dan tujuh orang laki-laki pemegang gamang kromong, alat musik yang mengiringinya. Tari Cokek merupakan jenis tarian khas yang berasal dari daerah Tangerang yang pada awalnya berkembang di daerah betawi.

Di daerah Tangerang, tari  Cokek biasanya dimainkan sebagai pertunjukkan hiburan saat warga Cina benteng menyelenggarakan acara, khususnya acara pernikahan. Warga Cina Benteng merupakan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang.

4. Debus Surosowan


Debus Surosowan yang terkenal dengan atraksi atraksi kekebalan tubuh, yang berupa menusukkan paku bumi ke arah perut, menahan sayatan bilah golok pada beberapa anggota tubuh, menyiramkan air keras kesekujur tubuh dan banyak lagi atraksi lainnya yang cukup menengangkan bagi para penontonnya.

5. Rudat Banten


Rudat adalah semacam tarian dengan alat musik berupa ganjring atau terbang besar, rebana dan kecrekan, alat alat ini ditabuh mengikuti irama lagu arab yang syair-syairnya kebanyakan puji-pujian, yang ditabung secara harmonis pada saat pertunjukan.

6. Patingtung / Pencak Silat

Patingtung adalah sebuah irama musik yang biasa digunakan sebagai pengiring tarian pencak silat biasa di sebut Kendang Pencak, yang terdiri dari dua buah gendang kecil, sebuah gong kecil dan sebuah kulenter.


Biasanya pertunjukan memperlihatkan kebolehan para pesilat memperagakan gerak jurus pencak silat tradisional asli Banten yaitu Bandrong dan di di tambah atraksi-atraksi lainnya.

7. Syaman


Biasanya dipertunjukan dalam upacara-upacara adat keagaman. Para pemain duduk berkeliling sambil berdzikir semakin lama irama dzikirnya semakin cepat, kemudian mereka bergerak berkeliling mengikuti irama dzikir mereka.
Terbang Gede Kesenian ini biasanya dipergunakan dalam pawai arak-arakan, dalam pernikahan atau khitanan dengan irama puji-pujian. Alat yang digunakan adalah sepasang gendang dan tiga buah terbang yang sangat besar.

8. Ketimpring


Ketimpring adalah alat rebana yang berjumlah 12 buah yang terdiri dari terbang besar dan terbang kecil, akan tetapi yang menjadi alat utama hanyalah empat, yaitu pancer, penelu, penyela dan indung, biasanya yang dibawakan adalah lagu-lagu puji-pujian kata-kata arab. Kesenian ini dipergunakan dalam pawai dan arak-arakan, pesta pernikahan dan khitanan dan lain sebagainya.

9. Baca Syekh

Baca syekh yaitu pembacaan cerita kehidupan syekh Abdul Kadir Zaelani atau Umar Maya, cerita dibacakan dengan beberapa tahapan jika selesai di bacakan satu tahapan narasuber memberikan penjelasan atau komentar tentang apa yang dibacakan, biasanya bacaan ini merupakan nasehat, bacaan ini ada yang menggunakan bahasa arab ada juga bahasa sunda/jawa. Prosesi Baca Syeh banyak di lakukan pada acara-acara mencari berkah keselamatan rumah ataupun lainnya.

10. Panjang Mulud

Salah satu budaya kebanggan masyarakat Banten, ritual ini biasa dilakukan pada saat bulan Maulid Nabi, yaitu memperingati lahirnya nabi Muhammad SAW, biasanya mereka membuat panjang yang berisikan makanan dan telur yang dihias dengan keretas krip yang menyerupai bunga dan banyak ragam hias yang lainnya.

11. Mawalan

Alat-alat yang digunakan adalah beberapa rebana, kesenian ini dimainkan oleh pria dan wanita, biasanya antara 6 – 8 orang, sebelum acara dimulai ayat-ayat suci Al-quran dikumadangkan terlebih dahulu. Kemudian sambil menabuh rebana orang orang menyanyi, kesenian yang populer ini biasa dipertunjukan pada acara khitanan.

12. Buka Pintu

Kesenian tradisional buka pintu merupakan salah satu kesenian yang bernafaskan islam yang sampai sekarang masih ada dan merupakan adat yang biasa digunakan pada saat acara pernikahan. Kegiatan ini kurang lebih 30 menit, jumlah permainan 2 sampai 8 orang, pada saat pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita maka saat itulah dilakukan buka pintu yaitu melakukan tanya jawab perwakilan pengantin pria dengan perwakilan pengantin wanita dengan menggunakan bahasa arab.

13. Mawaris

Mawaris hamir sama dengan syaman biasanya dipertunjukan dalam upacara-upacara adat keagaman. Para pemain duduk berkeliling sambil berdzikir semakin lama irama dzikirnya semakin cepat, setelah selesai berzikir bisanya para pemain melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

14. Marhaban

Marhaban adalah sebuah ritual keagamaan yang dipadu dengan kebudayaan, acara marhaban dilakukan pada saat cukuran dan pemberian nama pada bayi, yaitu melantunkan puji-pujian yang semakin lama irama puji-pujiannya semakin cepat, setelah selesai melantukan puji-pujian barulah bayi dipotong rambutnya secara simbolis, pemotongan ramut ini bergiliran.

Demikianlah beberapa kesenian tradisional yang berada di wilayah Banten Indonesia.

Sumber : wisatabanten.com dan debustitb.wordpress.com

Inilah 14 Kesenian Tradisional Khas Jawa Barat, Indonesia

Berikut adalah beberapa kesenian Tradisional Masyarakat Jawa barat yang masih eksis hingga sekarang :

1. Wayang Golek


Wayang golek mirip dengan wayang kulit ya. Tapi 2 jenis wayang ini ternyata berbeda bentuk lho. Wayang itu sendiri mengandung arti boneka tiruan manusia yang terbuat dari pahatan kayu atau kulit. Nah, sekarang tau kan perbedaan wayang kulit dan wayang golek. Dalam pertunjukan wayang golek, sang dalang selalu menggunakan bahasa daerahnya.

Ciri-ciri kesenian wayang adalah selalu membutuhkan bantuan Dalang yaitu sebutan untuk orang yang mengendalikan para wayang. 1 dalang bisa memainkan 4-10 karakter wayang. Namun sayang, dengan karakter suara yang berbeda-beda dari tiap karakter wayang, membuat kesenian ini kian sepi. Suara yang berubah-rubah membuat profesi dalang sedikit peminatnya. Tidak putus asa disini, ternyata ada perkumpulan untuk orang-orang yang ingin belajar menjadi dalang lho namanya Yayasan Citra Dangiang Seni. Kamu pecinta seni sunda? Lestarikan budaya sunda. Kalau bukan kita, siapa lagi?

2. Tari Jaipongan


Jaipongan adalah jenis tarian traidisional Sunda, tepatnya dari Karawang. Lahir dari tangan kreatif H. Suanda pada tahun 1976. Tarian Jaipongan adalah campuran dari seni lain seperti pencak silat, topeng banjet, ketuk tilu, wayang golek dan lain-lain. Tarian ini sangat pesat berkembangnya, musiknya pun diiringi oleh degung, ketuk, rebab, gendang, kecrek, sinden, dan goong. Cocok ya, tari tradisional iringan musiknya juga tradisional, pakaiannya pun menggunakan pakaian tradisional Sunda yang terdiri dari sampur, apok dan sinjang. Biasanya penari berlenggak lenggok mengikuti instrumen musiknya. Walau terdengar gampang, sebenarnya tarian ini lebih susah karena membutuhkan kelenturan tubuh.

3. Degung


Seperti yang pernah dibahas pada artikel sebelumnya tentang alat musik tradisional Bandung, Degung menjadi alat tradisional Bandung yang sudah terkenal di penjuru Indonesia. Degung pertama kali dibuat oleh H.J Oosting sejak 1879. Diambil dari bahasa belanda “De Gong” artinya gamelan. Alat musik ini kian marak hingga sekarang dan mengundang banyak peminat seni.

Kalau didengar bunyinya sih, bisa mengiringi musik dangdut, Jaipongan, mengiringi Sinden, dan lain-lain. Berkesan tradisional, tapi ini lhooo identitas kesenian Sunda.

4. Rampak Gendang


Alat tradisional sunda yang satu lagi yaitu rampak gendang. Kata rempak gendang diambil dari kalimat gendang serempak. Yang terdiri dari beberapa gendang, gong, saron dan dimainkan secara serempak. Tidak jarang alat musik ini dimainkan banyak orang bahkan bisa lebih dari 10 orang. Mereka berkolaborasi memadukan musiknya.

Kendang yang dipakaipun terdiri dari 2 kendang, yaitu kendang berdiri dan duduk. Rempak gendang biasanya dipadukan dengan berbagai alat musik seperti gitar, gamelan degung, rebab. Akhir-akhir ini rempak gendang dikolaborasikan dengan tari jaipong, musik dangdut, sampai lagu pop. Alat musik ini berkesan energik, keren dan bersemangat.

5. Sisingaan


Sisingaan mulai diciptakan pada tahun 1975, berasal dari kota Subang. Sebelum terciptanya kesenian ini, para seniman berdiskusi tentang kesenian Reog di Jawa Timur yang sangat menarik minat, maka diciptakanlah kesenian yang mampu menunjukan identitas khas Sunda.

Menurut perkembangannya kesenian Sisingaan sangat cepat merambat ke setiap daerah. Ciri khasnya membawa boneka-boneka Singa diiringi 4 penggotong pada 1 singa. Sisingaan pun terbuat dari beberapa jenis. Kayu penggotong terbuat dari bambu, singa tersebut juga terbuat dari kayu, bulu-bulu ekornya terbuat dari benang rafia, dan badannya dibungkus oleh kain hingga benar-benar mirip Singa.

Tradisi ini biasanya diadakan untuk menerima tamu khusus, khitanan/sunatan, hari besar dan acara khusus kesenian. Bila kamu ingin melihat secara langsung kesenian Sisingaan, masyarakat Subang selalu mengadakannya pada tanggal 5 April tiap hahunnya, lokasinya di setiap kecamatan di daerah Subang.

6. Kuda Renggong

Kesenian lain yang berasal dari Sunda adalah Kuda renggong, tarian ini berasal dari Sumedang, Renggong disini artinya keterampilan, kuda yang digunakan telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik, kuda yang dipilih pun tidak berbadan loyo, rata-rata berbadan tegap dan kuat.


Musik yang mengiringinya adalah kendang, tapi dengan berkembangannya zaman musik yang digunakan pun bisa apa saja. Kalau dilihat selintas, acara ini bisa bikin ketawa karena kuda bisa jingkrak-jingkrak, geleng-geleng kepala mengikuti alunan musik.

Sejarah kuda renggong ini pertama kali muncul dari desa Cikurubuk hingga menyebar ke kabupaten Sumedang.

7. Bajidoran


Bajidoran adalah sebuah kesenian rakyat yang berasal dari Subang dan Karawang. Para penari atau yang biasa disebut Ronggeng akan melenggak lenggok menari mengikuti tabuhan gendang dan gamelan. Para pria mendekati dan menyawerkan uang pada Renggong, seseorang yang menyawerkan uang biasanya di sebut Bajidor.

Menurut sejarahnya, Bajidoran lahir pada tahun 1990-an. Kesenian ini perpaduan dari dangdut, jaipongan dan ketuk tilu. Di zaman sekarang kesenian Bajidoran sudah sangat kurang peminatnya, ada pun yang melestarikan tarian ini tidak seperti dulu. Jika zaman dulu sangat memperdulikan ketukan tabuhan gendang, sekarang bisa dikombinasikan dengan tabuhan gendang beraliran pop.

8. Cianjuran


Cianjuran adalah kesenian dari Cianjur, sebenarnya nama alat musik ini adalah mamaos. Alat musik khas sunda sejak tahun 1930. Alat musik ini terdiri dari kecapi ricik, dipadukan dengan suling, rebab, dan kacapi indung. Dibarengi oleh penyanyi dengan berbahasa Sunda, bernyanyi dengan cengkok mirip Sinden. Bila didengar selintas, kecapi ini mirip lho dengan kecapi tradisional khas China.

Seni cianjuran awalnya hanya menyanyikan seni Pantun yang dilagukan. Lirik diambil dari kisah pantun Mundinglaya Dikusumah. Terdengarnya sih seperti gampang, tapi coba deh. Di Sunda itu sendiri, biasanya Cianjuran digunakan di perayaan pernikahan, khitanan, hiburan dan upacara adat. Bagaimana? Mau coba seni musik Cianjuran?

9. Kacapi Suling


Jika kita selidiki, hampir semua kesenian khas sunda, terutama seni vokal selalu ada cengkok-cengkoknya. Kenapa ya? Mungkin disini nilai estetikanya. Inilahhh… salah satu kesenian yang benar-benar menggambarkan budaya Sunda. Sesuai namanya, kecapi suling yang terdiri dari instrument kecapi dan suling.

10. Jentreng Tarawangsa


Kesenian Jenreng Tarawangsa atau Tarawangsa (saja) biasanya dipentaskan pada acara syukuran tradisional, seperti, Ngaruat, Ngalaksa, Ngarosulkeun, Buku Taun, Panenan atau Pada acara syukuran seperti Pernikahan dan Sunatan.

Perpaduan alat musik jentreng dan tarawangsa yang khas. Menghasilkan suara yang klasik dan sekilas terdengar Mistis. Kesenian ini terdapat dibeberapa daerah Sunda, seperti, Rancakalong (Sumedang), Tasikmalaya Selatan, Kanekes (Banten) dan Banjaran.

11. Calung

Calung merupakan alat musik yang mirip angklung. Cara memainkannya dengan memukul batang dari ruas-ruas tabung bambu yang disusun menurut tangga nada pentatonik (da-mi-na-ti-la).

Seni pertunjukan calung awalnya dipentaskan pada upacara ritual adat sunda, namun kini calung digunakan sebagai alat hiburan dan pementasan.

Maestro kesenian calung sunda salah satunya adalah Hendarso atau masyarakat sunda mengenalnya dengan nama abah Darso (Alm), beliau dianggap sebagai tokoh sunda yang paling berjasa mempopulerkan seni calung ini.

12. Lengser

Kesenian Lengser dengan tokoh utamanya Ki Lengser dipentaskan di acara-acara upacara pernikahan adat sunda atau pun acara-acara formal untuk menyambut tamu-tamu penting seperti pejabat ataupun semacamnya.

Ki Lengser memiliki ciri khas khusus yaitu baju kampret yang berwarna hitam-hitam serta berdandan dengan janggut, rambut dan kumis yang memutih seperti orang tua. biasanya dia akan ditemani juga oleh seorang lain yang berperan sebagai “Ambu” istri Ki Lengser.

Mereka akan melenggak lenggok dengan tarian-tarian sunda yang dibawakan dengan jenaka yang pastinya mengundang tawa orang-orang yang menontonnya.

13. Tari Merak

Tari merak adalah salah satu tarian tradisional yang bentuk pakaian dan gerakannya terinspirasi dari burung Merak yang selalu melebarkan bulu ekornya ketika ingin menarik perhatian lawan jenisnya.

Tari yang terkenal baik di dalam ataupun diluar negeri ini dibuat oleh R. Tjetje Somantri dan biasanya dipentaskan oleh 3 orang penari atau lebih. Masing-masing penari ada yang memerankan karakter jantan dan karakter betina.

14. Tutunggulan

Tutungulan merupakan kesenian musik tradisional khas Sunda, Tutunggulan adalah bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh benturan antara lesung dan alu. Ketika keduanya dibenturkan dibagian tertentu.

Permainan yang biasanya dimainkan oleh beberapa orang Wanita ini akan menghasilkan
musik yang semarak. Apalagi diiringi kawih-kawih yang dinyanyikan bersama oleh para pemainnya.

Itulah daftar Kesenian Tradisional Yang ada di provinsi Jawa Barat.

Sumber : Salamadian.com dan Ragamseni.com

Monday, April 16, 2018

Daftar 18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah, Indonesia

Jawa Tengah sebagai provinsi dibentuk sejak zaman Hindia Belanda. Hingga tahun 1905, Jawa Tengah terdiri atas 5 wilayah (gewesten) yakni Semarang, Pati, Kedu, Banyumas, dan Pekalongan.

Surakarta masih merupakan daerah swapraja kerajaan (vorstenland) yang berdiri sendiri dan terdiri dari dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran, sebagaimana Yogyakarta. Masing-masing gewest terdiri atas kabupaten-kabupaten. Waktu itu Pati Gewest juga meliputi Regentschap Tuban dan Bojonegoro.


Di Jawa Tengah sendiri juga memiliki Kesenian Tradisional yang cukup populer, seperti Wayang Kulit, Tari Serimpi dan masih banyak lagi. Berikut kami merangkum kumpulan kesenian Khas Jawa Tengah :

1. Tari Serimpi

Tari Serimpi merupakan tari l jawa klasik yang berasal dari Surakarta. Pada awalnya, tari Serimpi dibawa oleh Kesultanan Mataram yang selanjutnya dilestarikan oleh empat istana pewarisnya yakni di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tari Serimpi ini memiliki gerakan yang lemah gemulai karena tari Serimpi mencerminkan makna kesopanan, kelemah lembutan, dan kehalusan budi yang terlihat dari gestur gerakannya serta diiringi oleh merdunya suara gamelan.

2. Kethoprak


Kethoprak merupakan salah satu kesenian khas dari Jawa Tengah. Sebagian orang berkata bahwa kethoprak semacam operanya masyarakat Jawa. Kethoprak apabila di Jakarta, semacam kegiatan lenong. Cerita yang dibawakan dalam kethoprak ini berdasakan dari cerita yang ada di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Awal mula terbentuknya kesenian kethoprak ini adalah dari perjuangan masyarakat Jawa dimana pada zaman dahulu, masyarakat sangat susah untuk berkumpul tanpa dibubarkan paksa karena pada masa itu.

3. Sendratari Ramayana


Sendratari Ramayana merupakan sebuah pertunjukan tari yang digabung dengan drama tanpa dialog. Kegiatan ini diselenggarakan pada bulan-bulan musim kemarau. Cerita yang disajikan dalam pertunjukan ini diangkat dari kisah Ramayana.

Pertunjukan Sendratari Ramayana rutin dipentaskan sejak tahun 1961, sampai sekarang. Lokasi pertujukan kesenian ini adalah di dekat Candi Prambanan.

4. Tari Rancak Denok

Tari Rancak Denok yang berasal dari Semarang merupakan sebuah seni tari yang terinspirasi oleh seni topeng. Sebagai sebuah hasil kreasi, tari Rancak Denok banyak mengambil ide dari berbagai jenis seni tari yang menggunakan topeng sebagai propertinya, seperti halnya tari Betawi dan Jawa Barat.

5. Tari Rong Tek

Nama tarian rong tek mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Jawa Tengah. Tetapi jika ditelisik lebih jauh lagi, tari rong tek merupakan tari kreasi yang berakar dari tari lengger Banyumasan.

Secara etimologi, nama rong tek berasal dari dua kata, yaitu “Rong” yang diambil dari suku pertama kata “ronggeng”, dalam bahasa Banyumas dapat diartikan sebagai lengger atau penari. Sementara, kata “tek” diambil dari suara kentongan bambu yang menjadi properti utama dalam pementasan.

6. Tari topeng lengger

Masyarakat Wonosobo mempunyai sebuah tarian yang dianggap sangat sakral. Tari tersebut adalah tari topeng lengger, tarian ini menceritakan kisah asmara antara Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun.

Di mana, Galuh Candra Kirana merupakan seorang putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang merupakan seorang pemimpin Kerajaan Jenggolo Manik, sedangkan Panji Asmoro Bangun adalah putra dari Prabu Ami Luhur yang merupakan seorang pemimpin dari Kerajaan Jenggolo Puro.

7. Tayuban

Tari tayub banyak dilakukan di daerah Jawa Tengah seperti Sragen, Karanganyar, Pati, dan Blora. Pertunjukan tari tayub banyak diselenggarakan oleh masyarakat pedesaan atau daerah pinggiran untuk kepentingan pesta misalnya sunatan, perkawinan dan pertanian.

8. Srandul

Kesenian srandul memiliki kekhasan, yakni para pemain mengenakan kostum yang compang-camping, namun ada pula di daerah lain kostumnya cukup indah. Pertunjukan dilaksanakan pada malam hari, para pemainnya menggunakan topeng karena untuk menyembunyikan identitas diri pemain.

9. Tembang Dolanan

Tembang dolanan ada bermacam-macam, biasanya dinyanyikan anak-anak pada waktu bulan purnama. Tembang dolanan itu antara lain jamuran, cublak-cublak suweng, dan tembang menggunakan nini thowok untuk mengundang roh.

10. Tari Ebeg 

Ebeg adalah tarian rakyat yang berkembang di Banyumasan, merupakan varian dari tari Jaran Kepang. Ebeg terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan.

11. Laisan

Laisan adalah kesenian yang menyertai Ebeg. Laisan berdandan seperti wanita. Laisan di daerah lain bernama sintren.

12. Lengger Calung 

Tarian lengger-calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu). Gerakan tariannya sangat lincah dan dinamis mengikuti irama calung. Rambut penari lengger digelung, mengenakan jarit dan kemben, tanpa mengenakan baju, dan ada sampur atau selendang di bahu. Jumlah pemain lengger calung 7 orang yang berperan sebagai penabuh gamelan dan penari.

13. Tari Angguk 

Tarian angguk ada sejak abad 17 disebarkan oleh para ulama agama Islam yang datang dari daerah wilayah Mataram. Tari Angguk berfungsi sebagai alat dakwah agama Islam. Jumlah pemain minimal 10 orang penari laki-laki.

14. Begalan

Begalan biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu pada saat pengantin pria dan rombongan memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Kesenian begalan berasal dari kata begal yang berarti rampok. Begalan merupakan seni tari dan seni tutur.

Upacara Begalan dilaksanakan pada upacara pernikahan warga Banyumas. Tidak semua acara pernikahan dilakukan upacara Begalan, tetapi hanya dilaksanakan jika pengantin putri masuk dalam kategori yang perlu diruwat.

15. Rengkong

Rengkong merupakan kesenian bunyi-bunyian khas seperti suara kodok ngorek yang dihasilkan dari pikulan bambu. Rengkong adalah kesenian khas petani, diadakan pada pesta perayaan panen atau hari-hari besar nasional.

16. Dengklung

Dengklung merupakan salah satu bentuk kesenian yang bersifat religius. Kesenian tersebut merupakan perpaduan antara musik rakyat dengan irama Timur Tengah. Alat yang dipergunakan pada seni Dengklung adalah kendang buntung.

17. Jathilan (Kuda Lumping)

Jathilan adalah salah satu jenis tarian rakyat yang bila ditelusur latar belakang sejarahnya termasuk tarian yang sudah lama ada di Jawa. Penari Jathilan semula hanya diperagakan oleh 2 orang saja, tetapi seiring dengan perkembangan zaman jathilan dilakukan lebih dari dua orang dan dilakukan secara berpasangan. Tarian jathilan dilakukan dengan cara para penari menaiki kuda kepang dan bersenjatakan pedang.

18. Wayang Jemblung 

Wayang Jemblung merupakan tradisi yang turun-temurun dilaksanakan apabila ada kelahiran seorang bayi. Untuk memohon keselamatan atas kelahiran seorang bayi, mula-mula diadakan acara nguyen. Acara nguyen dilaksanakan sebagai bentuk tirakatan pada malam hari yang dilaksanakan oleh para tetangga dekat dan handai taulan hingga semalam suntuk.

Itulah Kesenian Tradisional yang Khas di Wilayah Jawa Tengah.