Social Items

Showing posts with label Kesenian Adat Banda Aceh. Show all posts
Showing posts with label Kesenian Adat Banda Aceh. Show all posts
Kabupaten Aceh Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Sebelum pemekaran, Aceh Barat mempunyai luas wilayah 10.097.04 km² atau 1.010.466 Ha dan merupakan bagian wilayah pantai barat dan selatan pulau Sumatera yang membentang dari barat ke timur mulai dari kaki gunung Geurutee (perbatasan dengan Aceh Besar) sampai ke sisi Krueng Seumayam (perbatasan Aceh Selatan) dengan panjang garis pantai sejauh 250 km. Sesudah dimekarkan luas wilayah menjadi 2.927,95 km².

SEJARAH BERDIRINYA ACEH BARAT

1. Masa kesultanan Aceh

Wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam mulai dibuka dan dibangun pada abad ke-16 atas prakarsa Sultan Saidil Mukamil (Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588-1604), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (Sultan Aceh yang hidup tahun 1607-1636) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie.

Daerah ramai pertama adalah di teluk Meulaboh (Pasi Karam) yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat diakhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang,
yaitu : 
  • Kluang; 
  • Lamno; 
  • Kuala Lambeusoe; 
  • Kuala Daya; 
  • Kuala Unga; 
  • Babah Awe; 
  • Krueng No; 
  • Cara' Mon; 
  • Lhok Kruet; 
  • Babah Nipah; 
  • Lageun; 
  • Lhok Geulumpang; 
  • Rameue; 
  • Lhok Rigaih; 
  • Krueng Sabee; 
  • Teunom; 
  • Panga; 
  • Woyla; 
  • Bubon; 
  • Lhok Bubon; 
  • Meulaboh; 
  • Seunagan; 
  • Tripa; 
  • Seuneu'am; 
  • Tungkop; 
  • Beutong; 
  • Pameue; 
  • Teupah (Tapah); 
  • Simeulue; 
  • Salang; 
  • Leukon; 
  • Sigulai.


2. Silsilah Raja Meulaboh

Raja-raja yang pernah bertahta di kehulu-balangan Kaway XVI hanya dapat dilacak dari T. Tjik Pho Rahman, yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama T.Tjik Masaid, yang kemudian diganti oleh anaknya lagi yang bernama T.Tjik Ali dan digantikan anaknya oleh T.Tjik Abah (sementara) dan kemudian diganti oleh T.Tjik Manso yang memiliki tiga orang anak yang tertua menjadi Raja Meulaboh bernama T.Tjik Raja Nagor yang pada tahun 1913 meninggal dunia karena diracun, dan kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Teuku Tjik Ali Akbar, sementara anak T.Tjik Raja Nagor yang bernama Teuku Raja Neh, masih kecil.

Saat Teuku Raja Neh (ayah dari H.T.Rosman. mantan Bupati Aceh Barat) anak dari Teuku Tjik Raja Nagor besar ia menuntut agar kerajaan dikembalikan kepadanya, namun T.Tjik Ali Akbar yang dekat dengan Belanda malah mengfitnah Teuku Raja Neh sakit gila, sehingga menyebabkan T Raja Neh dibuang ke Sabang.

Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Meulaboh, T.Tjik Ali Akbar dibunuh oleh Jepang bersama dengan Teuku Ben dan pada tahun 1978, mayatnya baru ditemukan di bekas Tangsi Belanda atau sekarang di Asrama tentara Desa Suak Indrapuri, kemudian Meulaboh diperintah para Wedana dan para Bupati dan kemudian pecah menjadi Aceh Selatan, Simeulue, Nagan Raya, Aceh Jaya. (teuku dadek)

Dimasa penjajahan Belanda, melalui suatu perjanjian (Korte Verklaring), diakui bahwa masing-masing Uleebalang dapat menjalankan pemerintahan sendiri (Zelfsbestuur) atau swaparaja (landschap).

Oleh Belanda Kerajaan Aceh dibentuk menjadi Gouvernement Atjeh en Onderhorigheden (Gubernemen Aceh dan Daerah Taklukannya) dan selanjutnya dengan dibentuknya Gouvernement Sumatera, Aceh dijadikan Keresidenan yang dibagi atas beberapa wilayah yang disebut afdeeling (provinsi) dan afdeeling dibagi lagi atas beberapa onderafdeeling (kabupaten) dan onderafdeeling dibagi menjadi beberapa landschap (kecamatan).

3. Masa Penjajahan Belanda

Aceh Barat sangat berkaitan dengan sejarah Meulaboh, Ibukota Kabupaten Aceh Barat yang terdiri dari Kecamatan Johan Pahlawan, sebagian Kaway XVI dan sebagian Kecamatan Meureubo adalah salah satu Kota yang paling tua di belahan Aceh bagian Barat dan Selatan.

Menurut HM.Zainuddin dalam Bukunya Tarih Atjeh dan Nusantara, Meulaboh dulu dikenal sebagai Negeri Pasir Karam. Nama tersebut kemungkinan ada kaitannya dengan sejarah terjadinya tsunami di Kota Meulaboh pada masa lalu, yang pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi kembali.

Meulaboh sudah berumur 402 tahun terhitung dari saat naik tahtanya Sultan Saidil Mukamil (1588-1604), catatan sejarah menunjukan bahwa Meulaboh sudah ada sejak Sultan tersebut berkuasa.

Pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), demikian HM.Zainuddin negeri itu ditambah pembangunannya. Di Meulaboh waktu itu dibuka perkebunan merica, tetapi negeri ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi Negeri Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus.

Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Djamalul Alam, Negeri Pasir Karam kembali ditambah pembangunannya dengan pembukaan kebun lada. Untuk mengolah kebun-kebun itu didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar.

4. Karesidenan Aceh

Seluruh wilayah Keresidenan Aceh dibagi menjadi 4 (empat) afdeeling yang salah satunya adalah Afdeeling Westkust van Atjeh atau Aceh Barat dengan ibukotanya Meulaboh.

Afdeeling Westkust van Atjeh (Aceh Barat) merupakan suatu daerah administratif yang meliputi wilayah sepanjang pantai barat Aceh, dari gunung Geurutee sampai daerah Singkil dan kepulauan Simeulue serta dibagi menjadi 6 (enam) onderafdeeling, yaitu :


  1. Meulaboh dengan ibukota Meulaboh dengan Landschappennya Kaway XVI, Woyla, Bubon, Lhok Bubon, Seunagan, Seuneu'am, Beutong, Tungkop dan Pameue; 
  2. Tjalang dengan ibukota Tjalang (dan sebelum tahun 1910 ibukotanya adalah Lhok Kruet) dengan Landschappennya Keluang, Kuala Daya, Lambeusoi, Kuala Unga, Lhok Kruet, Patek, Lageun, Rigaih, Krueng Sabee dan Teunom;
  3. Tapaktuan dengan ibukota Tapak Tuan;
  4. Simeulue dengan ibukota Sinabang dengan Landschappennya Teupah, Simalur, Salang, Leukon dan Sigulai;
  5. Zuid Atjeh dengan ibukota Bakongan;
  6. Singkil dengan ibukota Singkil.


6. Masa Penjajahan Jepang

Di zaman penjajahan Jepang (1942 - 1945) struktur wilayah administrasi ini tidak banyak berubah kecuali penggantian nama dalam bahasa Jepang, seperti Afdeeling menjadi Bunsyu yang dikepalai oleh Bunsyucho, Onderafdeeling menjadi Gun yang dikepalai oleh Guncho dan Landschap menjadi Son yang dikepalai oleh Soncho.

7. Masa kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Sumatera Utara, wilayah Aceh Barat dimekarkan menjadi 2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan.

Kabupaten Aceh Barat dengan Ibukota Meulaboh terdiri dari tiga wilayah yaitu Meulaboh, Calang dan Simeulue, dengan jumlah kecamatan sebanyak 19 (sembilan belas) Kecamatan yaitu Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya; Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang. Sedangkan Kabupaten Aceh Selatan, meliputi wilayah Tapak Tuan, Bakongan dan Singkil dengan ibukotanya Tapak Tuan.

Pada Tahun 1996 Kabupaten Aceh Barat dimekarkan lagi menjadi 2 (dua) Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat meliputi kecamatan Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya dengan ibukotanya Meulaboh dan Kabupaten Adminstrtif Simeulue meliputi kecamatan Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang dengan ibukotanya Sinabang.

Kemudian pada tahun 2000 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5, Kabupaten Aceh Barat dimekarkan dengan menambah 6 (enam) kecamatan baru yaitu Kecamatan Panga; Arongan Lambalek; Bubon; Pantee Ceureumen; Meureubo dan Seunagan Timur. Dengan pemekaran ini Kabupaten Aceh Barat memiliki 20 (dua puluh) Kecamatan, 7 (tujuh) Kelurahan dan 207 Desa.

Selanjutnya pada tahun 2002 Kabupaten Aceh Barat daratan yang luasnya 1.010.466 Ha, kini telah dimekarkan menjadi tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat dengan dikeluarkannya Undang-undang N0.4 Tahun 2002.

Sumber : Wikipedia

Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin.

Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin Kalimantan Selatan, sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa, dan danau, di samping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka.

Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba religius. Di samping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.

Berikut ini kumpulan kesenian tradisional Asal Kalimantan Selatan yang sudah cukup populer di kalangan masyarakat Banjarmasin :

1. MADIHIN


Seni Madihin adalah suguhan pentas monolog oleh satu atau dua orang seniman tradisional yang merangkai syair  dan pantun diiringi dengan musik gendang khas Banjar. Sajian materi  seni ini biasanya melemparkan sindiran – sindiran dan pesan sosial dan moral dengan kosa kata yang menggelitik dan lucu.

2. MAMANDA


Seni Mamanda merupakan seni pentas teater tradisional Banjar. Menceritakan kisah-kisah kehidupan masyarakat perjuangan kemerdekaan serta kritik sosial dan politik yang berkembang.

3. Tari JAPEN


Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun di daerah pantai.

Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil).

Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.

Seni Tari Klasik Merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau.

4. BALAMUT

Lamut adalah salah satu Sastra Banjar atau dikatakan juga cerita bertutur yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadi Palamutan ( orang yang bercerita lamut ), dan tidak ada yang peduli dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untuk melestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini.

Kata Lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa lamut berasal dari kesenian Dundam yaitu cerita bertutur dengan menggunakan instrumen perkusi yaitu tarbang, Bercerita sambil membunyikan ( memukul ) alat tersebut.

Konon, pendundam ketika membawakan ceritanya tidak tampak atau samar – samar dalam gelap. Cerita yang dibawakan adalah dongeng kerajaan Antah Berantah. Sedang berlamut, pelamutannya tampak oleh penonton dan ceritanya menurut pakem yang ada walau tak tertulis.

Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala.

Di dalam cerita ini ada tokoh antagonis bernama Sultan Aliudin yang sakti mandraguna dari Lautan Gandang Mirung yang jadi penghalang, dan terjadi perang tanding. Kasan Mandi dibantu oleh paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta, akhirnya Sultan Aliudin kalah.

Berlamut sudah ada pada zaman kuno yaitu tahun 1500 Masehi sampai tahun 1800 Masehi tetapi bercerita tidak menggunakan tarbang. Ketika Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan, setelah Raja Banjar Sultan Suriansyah, barulah berlamut memakai tarbang. Sebab kesenian Islam terkenal dengan Hadrah dan Burdahnya.

Seiring dengan pesatnya penyebaran agama Islam, kesenian Islam sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan kesenian Banjar. Syair – syair dan pantun hidup dan berkembang dalam masyarakat. Dan Sastra Banjar Lamut juga mendapat tempat yang strategis dalam penyebaran Islam di masyarakat Banjar.

5. MUSIK PANTING

Seni Musik Panting adalah paduan antara berbagai alat musik seperti Babun, Panting, Biola, Gong, yang menghasilkan irama khas, biasanya mengiringi lagu-lagu tradisional Banjar yang dinyanyikan, atau mengiringi tarian tradisional. Istilah panting  diambil dari salah satu jenis alat musik utamanya Panting, yaitu alat musik petik yang mirip dengan Gitar Gambus berukuran kecil.

6. UPACARA MARAAK PENGANTEN

Merupakan upacara di rumah pihak keluarga pengantin laki-laki untuk dipersiapkan dibawa ke rumah mempelai wanita. Diawali dengan doa dan selamat kecil, kemudian mempelai pria turun keluar rumah sambil mengucap doa keselamatan diiringi Shalawat Nabi oleh para sesepuh serta taburan beras kuning sebagai penangkal bala dan bahaya.

Meski acara tampak sederhana dan sangat mudah namun acara ini harus dilakukan, mengingat pada masa-masa lalu tak jarang menjelang keberangkatan mempelai pria mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat gagalnya upacara pernikahan.

7. BAMANDI-MANDI

Bapapai atau badudus, memiliki kesamaan dalam fungsinya, hanya penempatannya yang berbeda.
Badudus adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan atau yang ada hubungannya dengan keluarga candi (tutus candi). Bapapai adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh orang Banjar pada umumnya.

Kata “papai” dalam bahasa Indonesia berarti “percik”, dalam praktiknya bapapai seperti memercik-mercikkan air memakai mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandi.

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain :

  • tempat air (gayung/ember)
  • kembang (bunga-bunga harum)
  • mayang pinang 
  • daun tulak yang dicampur air 
  • piduduk yang berisi beras, gula, kelapa ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.


Orang yang bertugas memandikan atau memapai biasanya perempuan lanjut usianya yang merupakan tetua/sesepuh dalam keluarga. Ada juga satu tradisi untuk sumber air dalam bapapai diambil dari “ulak” atau pusaran air pada sungai besar, karena ada kepercayaan bahwa ada naga yang ditinggal diulakan tersebut sehingga air ulakan dimaksudkan supaya jangan kena pengaruh buruk dari naga itu.

Tata cara dalam bapapai menurut adat kawin:


  • Calon pengantin pria diarak ke tempat calon pengantin wanita pada malam menjelang hari perkawinan.
  • pengantin didudukkan berdampingan di serambi rumah atau di bagian belakang rumah.
  • kemudian dimandikan dengan cara memercikkan air papaian oleh sesepuh wanita.
  • jumlah memandikan selalu ganjil ada 3,5, atau 7 secara bergantian.
  • setelah habis mandi, pengantin pria dan wanita disisiri, diminyaki, dan sebagainya 
  • kemudian didudukkan berdampingan (batatai) dikelilingi oleh cermin dan lilin.
  • cermin dan lilin dikelilingkan kepada mempelai sebanyak 3 kali oleh wanita yang memandikan tadi.
  • setelah selesai calon pengantin pria kembali ke rumahnya.


8. HADRAH (Sholawat Banjari)

Seni terbang al-Banjari adalah sebuah kesenian khas islami yang berasal dari Kalimantan. Iramanya yang menghentak, rancak dan variatif membuat kesenian ini masih banyak digandrungi oleh pemuda-pemudi hingga sekarang. Seni jenis ini bisa disebut pula aset atau ekskul terbaik di pondok-pondok pesantren Salafiyah.

Sampai detik ini seni hadrah yang berasal dari kota Banjar ini bisa dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati oleh kalangan santri, bahkan saat ini di beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan jenis musik ini.

Hadrah Al-Banjari masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga, Jawa. Karena perkembangannya yang menarik, kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan. Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian.

9. MAAYUN ANAK

Adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ).

Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi.

Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga dari manula yakni nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar.

Nazar ini karena sudah tercapai niat atau tujuannya seperti sudah kesampaian naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang dan panjang umur.

Tarian suku Banjar

  • Baksa Kambang 
  • Radap Rahayu
  • Kuda Gepang


Tarian suku Dayak Bukit


  • Tari Tandik Balian, 
  • Tari Babangsai (tarian ritual, penari wanita) 
  • Tari Kanjar (tarian ritual, penari pria)


Itulah beberapa kesenian tradisional Asal Kalimantan Selatan.

Daftar Kesenian Tradisional Asal Kalimantan Selatan, Indonesia

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim adalah sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.

Di wilayah Kalimantan Timur ini memiliki Kesenian Tradisional yang cukup banyak, lebih detailnya berikut ini kami merangkumnya spesial hanya untuk Anda :

1. Tari Topeng Kemindu


Tari Topeng Kemindu adalah salah tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini sering disebut juga dengan tari topeng Kutai, hal tersebut digunakan untuk membedakan dengan berbagai jenis tarian tradisional yang ada di berbagai daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Dahulu, Tari Topeng Kemindu ini hanya berkembang dikalangan terbatas. Tarian ini hanya dapat dibawakan oleh orang-orang dari strata sosial tertentu, yakni para remaja putri dari kalangan bangsawan yang ada di Kesultanan Kutai.

Seiring waktu, tarian ini mulai diperbolehkan untuk dibawakan oleh masyarakat yang ada di luar lingkungan Keraton. Perubahan ini terjadi dimasa pemerintahan Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II dengan tujuan untuk mempopulerkan dan menjaga kelestarian seni tradisi dari Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

2. Tari Jepen


Kesenian jepen adalah kesenian Melayu Rakyat Kutai Kartanegara, yang muncul pada diiringi alat musik “Gambus“ dan “Ketipung“ atau semacam “Marwas“ serta berbagai alat musik perkusi lainnya.

Tari Jepen adalah tari garapan yang tidak meninggalkan gerak ragam aslinya, yang disebut ragam penghormatan, ragam gelombang, ragam samba setangan, ragam samba penuh, ragam gengsot, ragam anak, dan lain-lain. Eroh dalam bahasa Kutai berarti ramai, riuh dan gembira. Oleh sebab itu, penataan Tari Jepen Eroh ini penuh dengan gerak-gerak yang dinamis dan penuh unsure kebahagiaan.

3. Tari Gantar


Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

4. Tari Kancet Papatai / Tari Perang


Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

5. Tari Kancet Ledo / Tari Gong


Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

6. Tari Hudoq


Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita’

Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya.

Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Belian Bawo

Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya.
Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

9. Tari  Kancet Tebengang Madang (Tari Burung Enggang).

Kancet Tebengang Madang yang dalam bahasa Indonesia berarti Tari Enggang Terbang. Tarian ini berasal dari Suku Dayak Kenyah yang menggambarkan perpindahan mereka dari Apau Kayan secara menyebar keseluruh wilaayah di Kalimantan Timur, demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Dimana burung enggang selalu mengikuti pemimpinnya, begitu juga dengan suku Dayak Kenyah, yang selalu menuruti apa perintah pemimpinnya. Burung enggang juga merupakan symbol perdamaian. Tarian ini diawali dengan “lemaloq” yang merupakan syair dalam bahasa Dayak Kenyah bercerita tentang perjalanan mereka. Tarian ini dibawakan dengan lemah gemulai oleh gadis–gadis Dayak laksana burung enggang yang sedang terbang.

10. Tari Sumpit Beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.

Tari menyumpit / Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).
Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

11. Tari Kancet Punan Letto


Tari Punan Letto adalah tari tradisional Kalimantan Timur, kata “Punan” artinya merebut, “letto” artinya gadis/wanita. Tarian ini memang menceritakan tentang dua orang pemuda yang sama-sama menyukai seorang gadis dan memperebutkannya. Pemuda yang mempertahankan gadisnya dengan gagah berani akhirnya memenangkan pertarungan tersebut. Sudah merupakan sifat suku Dayak Kenyah, untuk memepertahankan miliknya apa pun itu bentuknya.

12. Tari Leleng

Tarian Leleng merupakan tarian tradisional Kalimantan Timur. Kata "Leleng" dalam bahasa Kenyah berarti berputar-putar. Adalah Utan Along (sebutan untuk seorang gadis yatim), yang sedang bimbang karena kekasihnya pergi dan belum kembali. Berputar-putar melambangkan kebimbangan. Layaknya orang yang sedang kebingungan lalu mondar mandir. Begitu juga dengan Utan Along. Oleh sebab itu dinamakan Leleng. Tarian ini diiringi oleh nyanyian leleng. Dalam nyanyian itu menceritakan tentang Utan Along.

13. Tari Ngelewai

Tarian tradisional Ngelewai merupakan tarian tradisional yang  diiringi musik “Rendete” yaitu musik khas suku Dayak Tonyoi-Benuaq. Tarian NGelewai  ini dibawakan oleh gadis-gadis cantik dengan memakai selendang dengan lemah gemulai. Mereka menari laksana kupu-kupu yang sedang terbang mencari kembang untuk dihisap madunya. Tarian ini juga biasa dibawakan sebagai tarian menyambut tamu dan acara sukacita.

14. Tari Ganjur

Tari Ganjur adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini merupakan salah satu tarian penting didalam rangkaian Festival Erau, dimana tarian ini dibawakan setiap malam sebagai bagian dari rangkaian ritual bepelas. Selain di Festival Erau, tarian ini juga dapat ditemukan didalam seremoni penyambutan para tamu agung, upacara penobatan Sultan Kutai, dan juga acara sakral lainnya.

Tari Ganjur ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan wanita yang berasal dari kalangan dalam Keraton Kutai. Tarian ini dicirikan dengan sejenis gada kayu yang berlapis kain atau yang sering disebut dengan ganjur. Ganjur ini dimainkan oleh 2 (dua) penari pria secara berpasangan dengan gerakan seolah-olah akan saling menyerang. Selain ganjur, biasanya digunakan pula kipas sebagai perlengkapan bagi penari wanita.

15. Tari Persembahan Kutai

Tari Persembahan Kutai adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dahulu, tarian persembahan hanya bisa ditemukan di lingkungan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Tarian ini dibawakan secara khusus oleh putri putri Keraton didalam suatu upacara penyambutan resmi dengan diiringi alat musik gamelan. Tidak ada batasan yang jelas mengenai jumlah para penari dalam tarian ini, tapi dipercaya bahwa semakin banyak jumlah para penari, maka akan semakin baik. Seiring waktu, tarian ini lalu diperbolehkan untuk ditarikan oleh kalangan dari luar Keraton supaya tetap lestari sebagai bagian dari warisan kebudayaan Kutai.

16. Tari Datun Julud

Tarian Datun Julud adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari kalangan masyarakat Kayan atau Kenyah yang mendiami pedalaman Kutai, Berau, Bulungan, dan Pasir yakni kawasan persempadanan antara Sarawak dan Provinsi Kalimantan Timur.

Tarian ini biasanya dibawakan di hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan para pelawat ke rumah panjang, terutama para pelancong dari luar negeri.
Tari Datun Julud merupakan tarian wajib bagi suku dayak kenyah. Karena di dalam upacara apa saja tarian datun julud ini selalu dihadirkan, seperti pada upacara adat mecaq undat ataupun pesta panen. Bahkan dapat sehari penuh jika merayakan kemenangan di dalam peperangan.

17. Mamanda

Mamanda merupakan seni panggung (teater), kesenian klasik Melayu (setengah musical/opera) dengan menggunakan instrument Biola dan Gendang. Tema cerita yang dibawakan biasanya tentang kisah para raja.

18. Sholawat Hadrah

Merupakan kesenian islam yang ditampilkan dengan iring-iringan rebana/terbang (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair serta pujian terhadap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, yang disertai dengan gerak tari. Terdiri dari 2 kelompok, kelompok penabuh hadrah dan kelompok yang melantunkan syair berjanji. Hadrah biasa dipakai pada acara perkawinan, mengantar orang berangkat haji, hari-hari besar islam dan lain sebagainya.

19. Teater

Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain.

20. Sandiwara Tingkilan (Sangkilan)


Setidaknya ada tiga budaya Kalimantan Timur tumbuh berkembang secara berdampingan satu sama lain.  Ragam budaya itu di antaranya budaya pantai atau pesisir, budaya pedalaman dann budaya Istana (keraton atau peninggalan zaman kerajaan).

Budaya pantai atau pesisir umumnya mempunyai ciri-ciri identik dengan rumpun budaya melayu muda.  dan budaya pedalaman umumnya mempunyai ciri-ciri berupa tradisi suku-suku  bangsa pedalaman di wilayah Kalimantan Timur. Sangkilan (SandiwaraTingkilan) bersumber dari seni budaya pantai atau pesisir yakni seni musik tingkilan, tari jepen dan tarsul yang dipadukan dengan Sandiwara Komedi.

Sebagaimana diketahui teater tradisional sering juga disebut sebagai teater daerah, Indonesia yang luas daerahnya dan mempunyai sifat Bhineka Tunggal as aneIka  (berbeda beda tetap satu), terdiri atas aneka ragam suku bangsa yang mempunyai corak kebudayaan yanagn beragam pula, sehingga melahirkan kesenian dengan corak yang berbeda pula.

Itulah 20 kesenian tradisional asal provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

Daftar 20 Kesenian Tradisional Asal Kalimantan Timur, Indonesia

Banda Aceh adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

Sejarah Banda Aceh


Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuridipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi.

Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.
Sedangkan Hari jadi Kota Banda Aceh yaitu pada tanggal 22 April 1205 M.


SEJARAH KERAJAAN LAMURI


Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande.

Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi.

Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas.

Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande.

Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India.

Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M.

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI BANDA ACEH


Seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut.

Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia.

Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya.

Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg.

Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh.

Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur.

Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara.

Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini.

Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

Kalau diperhatikan dari letak geografisnya, maka Aceh Lamuri berkedudukan sebagai pintu masuk perlintasan laut dari Barat ke timur, atau pintu keluar dari timur ke barat. Jadi disini dapat diketahui bahwa Aceh menjadi daerah lintasan pedagang-pedagang dari segala bangsa yang terutama pelaut-pelaut atau saudagar-saudagar Arab, Persi, Phoenesia, India dan Cina.

Dengan berjalanya waktu dan bertambah majunya arus perdagangan Aceh Lamuri dengan dunia luar dan hilir mudik saudagar-saudagar Parsi, Arab maka mereka membuat perkampungan di Aceh Lamuri, sampai pada abad ke VI Masehi.

Kedatangan Islam ke Aceh Menjelang wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Juni 632 Masehi, tahun pertama Hijriah. Agama Islam sudah berkembang luas ke seluruh Jazirah Arab. Pengembangan keluar Jazirah Arab berjalan terus bahkan sudah mencapai ke Tiongkok pada Zaman Khalifah Usman bin Affan pada tahun 651 M.

Sesuai catatan sejarahwan Dinasti Tang tentang kedatangan perutusan amirul mukminin dalam bahasa tiong hoa bertana han mi mo mo ni dengan membawa sepucuk surat yang menyebut bahwa kerajaanya (Islam) sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Untuk penelitian kapan Islam mencapai Nusantara khususnya Aceh, yang cukup penting adanya fakta, yaitu:

  • Sudah terlaksananya peng-Islaman diseluruh Jazirah Arab sebelum Rasullullah wafat. 
  • Pedagang-pedagang atau pelaut-pelaut Arab yang menlintasi lautan sejak masa itu sudah terdiri dari oang-orang muslim. 
  • Pedagang/pelaut Arab selalu mondar-mandir ke Aceh untuk membeli barang-barang dagangan yang akan dibawa ke Iskandariyah. 

Seperti yang tersebut sebelumnya bahwa orang-orang Arab dan Parsi sudah membuat perkampungan di Aceh (Lamuri), jadi kegiatan merantau dan orang-orang Arab dan Parsi yang terdapat dalam catatan Tionghoa, paling sedikit ada dua yang menjadi perhatian, antara lain: a. Kesan-kesan perjalanan biksu Tionghoa I-Tsing pada tahun 672 M menuju Nusantara melewati selat malaka menyinggahi O-Shen yang dimaksud adalah pelabuhan Aceh Lamuri. b. Catatan yang dilengkapi oleh W.P Groenevelt yang didapat dalam naskah Dinasti Tang, bahwa di pantai sebelah Barat Sumatera (Aceh) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa TA-SHI.

Mengenai (a) I Tsing mengatakan bahwa dia menumpang kapal orang Po-ssu yaitu Parsi, diperhatikan dari masanya tahun 672 M yaitu sekitar 40 tahun berkembangnya Islam di Parsi, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dari Parsi sudah memeluk agama Islam.

Mengenai (b), orang Arab atu Ta-Shi yang bermukim dipantai barat Sumatera (Aceh) disekitar tahun 674 Masehi, tentulah pula sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Pencatat dari Tionghoa menyebut mereka orang Ta-shi. Jadi pendatang Arab, Parsi yang membangun permukiman di Aceh Lamuri atau Kampung Pande sekarang ini jumlah mereka sangat banyak, ini dapat dilihat sewaktu mereka bermaksud menyerang Holling (Keudah-Malaysia) yang juga negerinya sangat makmur sama dengan di Aceh Lamuri, sekaligus memberi petunjuk bahwa jumlah mereka tidak sedikit dan kedudukan mereka sudah sangat kuat.

Sejak tersiarnya pendapat dari Groneveldt itu, para sarjana menjadi meningkat perhatianya untuk mengetahui kedatangan Islam ke Aceh. Kolonel G. E. Gerini dalam studinya mengatakan bahwa pernah ada permukiman orang Arab, Persi di wilayah Ta-shi (Aceh) dan dia meneguhkan ketidak sangsian lagi bahwa yang dimaksud Ta-shi adalah Aceh. Antara lain diyakinkan bahwa ISLAM sudah masuk ke Aceh pada tahun 674 M atau pada abad pertama Hijriah.

Profesor Syed Naquib Al-Ahas dalam satu studinya yang kemudian disiarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kualalumpur mengatakan bahwa “catatan yang paling tua mengenai kemungkinan bermukimnya orang Arab Muslim di Aceh adalah bersumber daripada laporan Cina tentang permukiman Arab dan Parsi di ujung Sumatera bagian utara (Aceh) di tahun 55 H atau 674 M.

Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1967 telah diambil kesimpulan antara lain: a. Bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia adalah pada Abad ke I Hijriah dan langsung dari Arab. b. Bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan terbentuknya masyarakat Islam dan system kerajaan (kesultanan) di Aceh.

Professor Hamka yang dalam seminarnya itu tampil sebagai pembanding utama, yang mendukung penuh bahkan menperjelas kelansungan datangnya ISLAM dari Arab pada Abad ke I Hijriah.

Dalam tahun 1978 pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Propinsi D. I Aceh, seminar tersebut bertujuan mengupas dan mencari kesimpulan yang akurat bagian-bagian seluruh aspek yang berkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Propinsi Aceh.

Kesimpulan-kesimpulan yang berhasil diambil terbagi dalam tiga bab yaitu: - Bab pertama diambil kesimpulan yaitu, masih banyak lagi bahan-bahan yang harus dikumpulkan dan diteliti sehubungan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. - Bab kedua meliputi 29 kesimpulan - Bab Ketiga: berkenaan dengan saran-saran yang bernilai dengan Bab 2, khususnya mengenai masuk dan berkembangnya Islam, yang terpenting diantaranya adalah: a. Sebelum Islam masuk ke Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan di Aceh diantaranya Lamuri di Aceh Besar (Kampung Pande sekarang) dan kerajaan-kerajaan lain (Sumber catatan bangsa lain yang pernah atau sering berkunjung ke Lamuri). b. Pada abad ke I Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh. c. Kerajaan Islam yang pertama adalah Lamuri, Peureulak dan Pasai.

Jadi disini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Aceh pada tahun 674 M, sesuai dengan catatan dan pendapat-pendapat dari para ahli sejarah dan catatan naskah Tionghoa, dan masih banyak pendapat ahli-ahli sejarah yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini, serta dari hasill seminar-seminar yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lamuri sampai Aceh Darussalam. Sudah dikelaskan pada permulaan sekali, bahwa Aceh sudah dikenal sejak dari 1000 tahun SM dimasa pemerintahan Nabi Sulaiman A.s (The King of Salomon) sampai pada masa Periplus, tahun 376 SM, Prolemeus 301 S.M Dinasti Han I, 206 SM smpai pada abab I M s/d abad ke 4 Masehi, dimana orang-orang Arab menamakan Aceh dengan Al-Ramni atau Lamuri yang terletak di ujung barat pulau Sumatera atau di Kampung Pandee sekarang (situsnya masih ada) sampai dengan masuknya Islam pada tahun 674 M, disini penulis tidak mau mempermasalahkan apakah Aceh Besar yang pertama masuk Islam menurut “Bustanul Salatun” karangan Syech Nurdin Arraniry ataupun di Pasai menurut Hikayat raja-raja Pasai.

Sejak masuknya Islam ke Aceh Besar pada tahun 674 M dimana Islam terus berkembang pesat dan dapat diketahui system pemerintahan sejak 1000 tahun SM sampai abad ke I M sudah mulai ada dan mulai abad 1 M sampai dengan masuknya Islam sistem pemerintahan bertambah baik dan komplet.

Pada waktu itu kerajaan Lamuri di Aceh Besar atau lebih dikenal dengan nama Aceh tiga segi (Aceh Lhee Sagoe), dimana pada masa itu Aceh Lamuri masih diperintah oleh meurah-meurah dan meugat-meugat (pembesar Negara).

Pada saat Islam terus berkembang dengan pesatnya, mulailah berdatangan ulama-ulama yang mengembangkan agama Islam ke Aceh Raya, salah seorang diantaranya adalah turunan Bani Saljuk berasal dari bangsa Turky yaitu Sulthan Malik Syah Saljuk, salah seorang Sulthan Malik Syah Saljuk salah seorang Sulthan pada masa Dinastu Abbasyiah yang mana salah seorang cucu beliau yaitu Machdum Abi Abdullah Syeh Abdurrauf Baghdady atau Tuan dikandang Syeh Bandar Aceh Darussalam yang makamnya sekarang ada dikampung Pande.

Kalau kita mengikuti catatan dari naskah tua yang disimpan di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur (foto copy dari naskah tersebut tersimpan dalam perpustakaan Ali Hasyimi Banda Aceh) oleh Ayahnda Ali Hasyimi menyimpulkan dan beliau lebih condong dan sangat meyakinkan fakta-fakta yang tercatat dalam naskah tua tersebut, selain itu dalam naskah itu terdapat banyak lagi fakta-fakta sejarah yang sangat penting mengenai Aceh.

Kesimpulan yang diambil oleh Prof. Ali Hasyimi, bahwa sebagian raja-raja dan para pembesar yang memerintah Aceh dan para ulama. Ulama yang mengembangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dan daerah-daerah kekuasaanya adalah turunan dari Bani Saliuk yang berasal dari Kabilah kecil keturunan Turki, yaitu Kabilah Qunuq.

Kabilah ini bersama dengan duapuluh kabilah-kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Chuz, semula gabungan Kabilal ini tidak memiliki nama hingga muncul tokoh Saljuk bin Tuqaq yang mempersatukam mereka dengan memberi nama suku Saljuk.

Suku ini bermukim atau mendiami pengunungan emas di Asia Barat, mereka terkenal salah satu suku yang berdarah panas dan berani, daerah tempat suku ini bermukim di daerah Turkistan. Dibawah pemerintahan Raja Bighu yang mengangkat Saljuk bin Tugaq sebagai pemimpin militer dari suku Saljuk. Suku ini bertetangga dengan Dinasti Samaniyah dan Dinasti Gaznawijah, suku ini memihak pada Dinasti Samaniyah ketika terjadi persengketaan anatara samaniyah dengan Gaznawijah dimana Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Saljuk menolak untuk bergabung dengan Gaznawiyah dan memproklamirkan wilayah yang diduduki suku ini sebagai negeri merdeka.

Bahkan ketika muncul tokoh generasi Saljuk yang bernama Tughrilbek, suku Saljuk berhasil mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Ghaznawiyah pada tahun 429 H (1036 M), dan semenjak itu Dinasti Saljuk sukses dalam setiap upaya ekspansi. Pada masa kepemimpinan Tughril Bek tahun1037-1063 M (430-456 H) suku Saljuk berhasil memasuki Bagdad, setelah mengalahkan DInasty Buwaihiyyah.

Mulai dari sini Bani Saljuk mulai memerintahkan didalam DInasty Abbasiyah. Setelah Tughril beg wafat dan diganti oleh kemenakannya yang bernama Alp Arselan (1063-1072 atau 456 H-465 H), pada masa itu ekspansi besar-besaran kea rah timur, menundukan Armenia, ke Arab bagian barat sampai ke Asia kecil, begitu hebat perkembangan pada masa itu sehingga semakin luas daerah kekuasaan Bani Saljuk. Disini tercatat Alp Arsilan sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, beliau mangkat pada tahun 465 H/1072 M dan digantikan oleh putranya bernama Malik Syaj.

Pada masa Pemerintahan Sultan Malik Syah seluruh wilayah kesultanan saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup, pembangunan dalam segala bidang berkembang dengan pesat, demikian juga bidang seni dan budaya terutama bidang ilmu pengetahuan pengembanganya sangat maju sekali.

Yang paling menonjol adalah ilmu teknik pemerintahan , ilmu astronomi, ilmu matematika (Aljabar) dengan penemuan system hitungan decimal, aritmatika, geometri, logaritma. Selain itu mereka juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu kimia yaitu “Term chemistry” yang mereka sebut Al Kimia. Demikian masa pemerintahan Sulthan Malik Syah sampai dengan mangkatnya beliau tahun 485 H/1092M.

Kemudian sulthan-sulthan pengganti beliau tidak memiliki kecakapan dalam memerintah sehingga kesulthanan Bani Saljuk mengalami kemunduran, sampai pada masa perang salib dan kehancuran Bani Saljuk oleh serangan bangsa Mongol (Hulagu Khan) pada masa itu sedang dibentuk Dinasti Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil yakni Kabilah Ughu semula mereka tinggal disebelah utara negeri Cina.

NENEK MOYANG MASYARAKAT BANDA ACEH


Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, mereka dibawah pimpinan Sulaiman Syah, berpindah kearah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk di Asia Kecil. Dibawah pimpinan Usman mereka membentuk kerajaan Turki Usmani dengan raja yang pertama Usman I yang bergelar “Padinsyah Ali Usman” pada tahun 1281-1324 kemudian Dinasti Usman berjalan terus sampai terjadi perang dunia pertama (1915 M), dan pada masa Mustafa Kamal dalam kapasitas pemimpin dewan majelis menghapus jabatan Khalifah pada tahun 1924 semenjak itu berakhir Imperium Turki Usmani dan sejarah Turki memasuki era modern dengan system pemerintahan republik.

Kembali pada masalah datangnya ulama-ulama ke Aceh Besar, yaitu ada lima orang ulama yang mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan di Aceh Bandar Darussalam (Lamuri-Aceh Besar). Kelima ulama-ulama pengembang Islam tersebut adalah:

  • Abdullah, berasal dari Persia, Mazhab hanafi, Ahlus sunnah wal jama’ah, datan ke Aceh pada tahun 229 H (843 M). 
  • Sulaiman bin Abdullah Yamani, Mazhab Zidi, datang ke Aceh pada tahun 236 H (850 M). 
  • Syeck Umar bin Abdullah Malabari, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 275 H (879 M). 
  • Abdullah Hasan Al-Makki, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 284 H (889 M). 
  • Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Rauf Baghdadi bergelar Tuan dikandang Syekh Bandar Aceh Darussalam, beliau keturunan dari Sultan Malik Syah Saljuk, kuburan di Kampung Pandee. 

Beliau inilah nenek moyang dari pada raja-raja, pembesar-pembesar dan Ulama-ulama dalam zaman kerajaan Aceh Lamuri (Bandar Aceh Darussalam) sampai pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau datang ke Aceh pada Abad ke 11 Masehi atau ke IV Hijriah.

Setelah ulama-ulama berdatangan ke Aceh, perkembangan Islam yang mencapai puncaknya, apalagi dengan datangnya ulama pendiri Tharikat Kadriyah yaitu Sykh Abdulkadir Jaelani, pada abad k XI atau pada masa Tuan Dikandang atau Makhdun Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi, dari sinilah mulai terbentuk kerajaan Islam Aceh Lamuri atau Bandar Aceh Darussalam dilembah Aceh Tiga Segi (Aceh Lhee Sagoe) Aceh Besar.

Menurut Naskah tua yang terdapat di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, terdapat sarakata (Ranji) sisilah dari raja-raja Aceh, mulai dari raja-raja kerajaan Aceh Lamuri sampai kepada raja-raja dan ratu-ratu kerajaan Aceh-Darussalam.

Begitulah sarakata atau ranji atau silsilah daripada raja-raja dari kerajaan Aceh, dan menurut keterangan dari salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bagian Purbakala NAD, juga pernah ada silsilah atau sarakata dari raja-raja kerajaan Aceh yang persis sama dengan yang terdapat pada perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, tetapi sewaktu terjadi kebakaran pada tahun 2002, silsilah tersebut turut terbakar.

Sudah dijelaskan di atas bahwa kuburan dari pada Tuan di Kandang atau Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi terletak di Kampung Pandee, dan kuburan itu rusak dilanda tsunami, juga kuburan Sulthan Abdul Aziz Johan Syah serta Sulthan-Sulthan sesudahnya, Putroe Ijo, kuburan Raja Si Uroe atau Sulthan Alaiddin Mukminsyah, juga bernama raja Mukhal Ibnu Ali Riatsyah, beliau pernah menjadi raja di Pariaman Sumatera Barat dengan panggilan Sulthan Seri Alam Firmansyah.

Selain dari kuburan raja-raja juga terdapat kuburan ulama-ulama dan raja-raja di Kampung Jawa, Pelanggahan di Kecamatan Kutaraja, seperti kuburan Tengku Di Anjong atau Syekh Abubakar Al Fakih. Banyak kuburan-kuburan lama itu belum disentuh atau diselidiki oleh ahli-ahli sejarah dan juga bekas istana (pendopo) dan bekas mesjid pada masa kerajaan Lamuri.

Rangkuman Dari : Sejarah.Aceh.my.id dan Wikipedia

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kota Banda Aceh Indonesia

Provinsi Aceh yang terletak di ujung pulau Sumatera adalah salah satu wilayah di Indonesia yang paling menonjol dalam hal kebudayaan. Melalui sejarah yang begitu panjang, di daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah ini tercipta budaya yang khas mewakili identitas masyarakatnya.

Dan berikut ini merupakan daftar kesenian tradisional yang berasal dari Provinsi Banda Aceh :

1. Tari Saman


Tari tradisional ini dulunya adal tarian etis suku Gayo, ras gayo merupakan ras tertua di pesisir aceh saat itu, tujuan utama tari saman adalah sebagai media untuk penyebaran Agama Islam, islam masuk ke Aceh disesuaikan dengan adat istiadat daerah tersebut.

Sehingga penyebaran Islam di Aceh tidak mendapat penolakan, bahkan bisa dikatakan daerah yang paling mudah memeluk Islam, karena budaya Aceh tidak bertentangan dengan ajaran Islam, hanya memerlukan sedikit polesan budaya islam sudah sesuai dengan ajaran Islam. Tari saman dimainkan oleh 9 Orang karena jumlahnya harus Ganjil, tari saman bahkan sudah populer ke tingkat Internasional, bukan hanya Nasional.

2. Tari Likok Pulo


Tari Likok Pulo adalah tarian tradisi oleh masyarakat di Pulau Aceh. Dibawakan dengan duduk memanjang posisi selang seling atas bawah. Setiap gerakan biasanya memuat nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair.

3. Tari Seudati


Tari Seudati. Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cukup banyak ragam kebudayaan dengan sebagian besarnya masih sarat akan nilai-nilai Islam.

4. Tari Laweut Aceh


Tarian Laweut adalah tarian yang berasal dari daerah Pidie, Laweut asl kata dari Shalawat yang merupakan kata pujian kepada Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wasallam. Tarian Laweut ini dulunya diberi nama Tarian Seudati dengan jumlah delapan (8) orang personil, sama dengan tari Saman.

Tari Laweut ini juga sudah go Internasional namun sama-sama tidak terlalu Femiliar lagi dikalangan Masyarakat, hanya sedikit Masyarakat Aceh yang mengenal Tari Laweut. Bisa dikatakan yang masih mempertahankan kesenian Aceh adalah kalangan Seniman asli Aceh, itupun yang memang mencintai dan menghargai kesenian Aceh.

5. Tarek Pukat


Tari tarek pukat berasal dari para nelayan Aceh, asal muasal tari tarek pukat juga sangat unik. pada saat itu banyak Masyarakat Aceh kesulitan kesulitan terhadap ikan, karena para nelayan tidak mendapatkan ikan pada saat penagkapan, sehingga Masyarakat pada saat itu berkesimpulan bergotong-royong mencari ikan, dan Alhamdulillah hasi tangkapannya luar biasa.

Setelah ikan berhasil di tangkap dan Masyarakat menikmati hasil jerih payah mereka, kemudian mereka mengadakan rapat untuk mengadakan pesta, pada saat rapat mereka berkesimpulan akan mengadakan suatu pesta yang menggambarkan tentang kebersamaan para Nelayan.

Dari hasil rapat maka terpilihlah nama acara "Tari Tarek Pukat", tari tarek pukat tersebut rupanya bisa menghipnotis berbagai kalangan pada saat itu. Tari Tarek Pukat sangat bernuansa tradisonal, sehingga sangat mudah masuk ke berbagai kalangan, jumlah personil tujuh (7) orang juga mengambarkan bahwa tari tarek pukat penuh kebersamaan, sehingga sangat wajar tari tarek pukat terkenal sampai kedunia Internasional.

6. Tari Bines

Tarian Banes ini berasal dari daerah Gayo Lues, dengan jumlah personil harus genap, bisa 10 atau 12 orang dengan gaya tari mulai dari lambat, sedang sampai dengan cepat hingga berhenti serentak.

7. Tari Didong

Tari didong merupakan kesenian dari hasil gabungan beberapa Tari, Vokal, dan Sastra, pencetus utamanya adalah : Abdul Kadir To’et. Tari ini berasal dari Bener Meriah dan Aceh tengah.

8. Rapai Geleng

Tarian ini berasala dari Aceh Selatan, kemudian di kembangkan oleh seorang Anonim. Tari Rapai Geleng di mainkan oleh para lelaki, karena alatnya dan modelnya memberatkan para Wanita.

9. Tari Ula ula lembing

Tarian ini bernuansa Arab, dengan model dan cara memainkannya yang mirip tradisi arab, hingga pakain juga bernuasa Arab. Tari Ula Ula Lembing dulu sangat Populer dikalangan Masyarakat Aceh, karena tarian tersebut merupakan tarian yang dipakai untuk ritual adat dan acara Pernikahan.

10. Tari Ratoh Duek Aceh

Tarian ini dipopulerkan oleh para Wanita sebagai ganti Tari Saman, karena setelah Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Warisan Manusia, para wanita tidak diperbolehkan lagi memainkan tari saman. Pada saat itu para seniman perempuan asal aceh berusaha mencari jalan keluar, mereka mencetuskan ide dengan sedikit memodifkasi Tari Saman, dan Mendeklarasikan Tari Ratoh Duek Aceh sebagai kesenian baru di Aceh yang hampir-hampir mirip dengan Tari Saman, cuma pesertanya adalah perempuan.

Sekedar informasi Nama Ratoeh berasal dari bahasa Arab yaitu Rateb. Jumlah personuil Tari Ratoh Duek Aceh juga berbeda, yaitu genap berbeda dengan tari saman yang berjumlah ganjil. Tari tersebut juga menggunakan rebana sebagai alat musik, juga behasa aceh sebagai ca e.

11. Tari Pho

Tari Pho berasal dari kata peubae, dalam bahasa aceh adalah penghormatan. Tari ini adalah simbol kesedihan, asal muasal tari tersebut penuh dengan misteri, dimana pada saat itu ada seorang anak yatim piatu yang cantik jelita tinggal dirumah kakak ibunya, kakak ibunya juga mempunyai seorang anak laki-laki yang ganteng dan rupawan.

Pada suatu saat ada seorang yang iri terhadap mereka, sehingga difitnah mereka berdua melakukan zina, hukuman zina pada saat itu adalah hukuman mati, dan merekapun dihukum mati. Setelah kejadian tersebut Ibu laki-laki tadi menari-nari untuk mengekspresikan kesedihannya hingga lahirlah Tari pho.

Itulah beberapa ragam kesenian tradisional asla Provinsi Banda Aceh Indonesia.

Sumberhttps://steemit.com/budayakan/@safwaninisam/kesenian

Daftar 11 Kesenian Tradisional Asal Banda Aceh, Indonesia