Showing posts with label Karomah sunan Drajat. Show all posts
Showing posts with label Karomah sunan Drajat. Show all posts

Saturday, October 13, 2018

Inilah Kumpulan Karomah Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.


Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Berikut ini adalah kumpulan kisah Karomah Sunan Kalijaga (Raden Said) yang cukup populer :

BERTAPA SELAMA 3 TAHUN

Selama bertahun-tahun ia menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok budiman? Karena hasil rampokkannya itu tak pernah dimakannya. Seperti dahulu, selalu diberikan kepada fakir miskin.

Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya kikir, tidak menyantuni rakyat jelata. Dan tidak mau membayar zakat.

Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya dengan Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal lokajaya sudah mengincarnya. Orang itu membawa tongkat yang gagangnya berkilauan.

Terus diawasinya orang tua berjubang putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamati gagang tongkat yang dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas. Raden Said heran melihat orang tua itu menangis. Segera diulurkannya kembali tongkat itu. Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan.

Bukan tongkat ini yang kutangisi ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput ditangannya. Lihatlah ! aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi.

Hanyam beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa? Tanya Raden Said heran.

Ya, memang berdosa! Karena kau mencabutnya tanpa sesuatu keperluan. Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk sesuatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa jawab lelaki itu.

Hari Raden Said bergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.

Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari dihutan ini?

Saya menginginkan harta?

Untuk apa?

Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita,.. hem…sungguh mulia hatimu, sayang…caramu mendapatkannya yang keliru.

Orang tua….apa maksudmu?

Boleh aku bertanya anak muda? Desah orang tua itu. Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?

Sungguh perbuatan bodoh sahut Raden Said. Hanya menambah kotor dan bau pakaian saja.

Lelaki itu tersenyum, demikianlah amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram atau mencuri itu sama halnya dengan mencuci pakaian dengan air kencing.

Raden Said tercekat. Lelaki itu melanjutkan ucapannya. Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal.

Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Dipandangnya sekali lagi wajah lelaki tua itu. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik dengan lelaki tua berjubah putih tersebut.

Banyak hal yang terkait dengan usaha mengentaskan kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Kau harus memperingatkan pada penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya.

Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini. Kalau kau tak mau kerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu barang halal. Ambillah sesukamu!

Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika itu pohon berubah menjadi emas . Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti dan banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir. Kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya.

Tapi setelah mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang tua itu tidak menggunakan sihir. Ia benar-benar merasa heran dan penasaran, ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu merubah pohon menjadi emas.

Raden Said terdiam beberapa saat ditempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah jadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda itu jatuh terjerembab ke tanah roboh dan pingsan.

Ketika sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah menjadi hijau seperti aren-aren yang lainnya. Raden Said bangkit berdiri, mencari orang tua berjubah putih tadi. Tapi yang dicari nya sudah tidak ada ditempat.

Ucapan orang tua tadi masih terngiang ditelinganya. Tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing. Tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.

Raden Said mengejar oarang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat akhirnya dia dapat melihat bayangan orang tua itu dari kejauhan.

Sepertinya santai saja orang itu melangkahkan kakinya tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah setelah tenaganya habis terkuras dia baru bisa sampai dibelakang lelaki berjubah putih itu.

Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan didepannya terbentang sungai cukup lebar. Tak ada jembatan dan sungai itu tampaknya sangat dalam dengan apa dia harus menyeberang.

Tunggu……, ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.

Sudilah kiranya tuan menerima saya sebagai murid…..pintanya.

Menjadi muridku? Tanya orang tua itu sembari menoleh. Mau belajar apa?

Apa saja, asal tuan manerima saya sebagai murid….

Berat, berat sekali anak muda, bersediakah engkau menerima syarat-syaratnya?

Saya bersedia….

Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya ditepi sungai. Raden Said diperintah menunggui tongkat itu. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum orang tua itu kembali menemuinya.

Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.

Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan diatas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air, ia semakin yakin calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.

Setelah lelaki tuan itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda ini duduk bersila dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya didalam Al-Qur’an yaitu kisah Ashabul Kahfi, maka ia segera berdoa kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa kahfi ratusan tahun yang silam.

Doanya dikabulkan. Raden Said tertidur dalam semedinya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah merambati tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.

Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said. Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan pemuda itu membuka sepasang matanya.

Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian dibawa ke tuban mengapa dibawa ke tuban? Karena lelaki berjubah putih itu adalah sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya yaitu tingkat para waliyullah. Dikemudian hari Raden Said terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai, karena dia pernah bertapa ditepi sungai. Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan umat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar.

LANTUNAN AYAT SUCI AL-QUR'AN MENGGETARKAN KADIPATEN TUBAN

Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usah adipati tuban menangkap para perampok yang mengacau kadipaten tuban membuahkan hasil. Hati ibu Raden Said seketika terguncang.

Kebetulan saat ditangkap oleh prajurit tuban, kepala perampok itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis dengan yang dikenakan oleh Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah adipati tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.

Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat disayanginya itu, sang ibu tak pernah tau bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke tuban. Hanya saja tidak langsung ke istana kadipaten tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.

Untuk mengobati kerinduan sang ibu, tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi. Yaitu membaca Qur’an jarak jauh lau suaranya dikirim ke istana tuban.

Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding istana kadipaten. Bahkan mengguncangkan isi hati adipati tuban dan isternya. Tapi Raden Said, masih belum menampakkan dirinya. Banyak tugas yang masih dikerjakannya. Diantaranya menemukan adiknya kembali. Pada akhinya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan. Tak terkirakan betapa bahagianya adipati tuban dan isterinya menerima kedatangan putera-puterinya yang sangat dicintainya itu.

Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya akhirnya kedudukan adipati tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putera Dewi Rasawulan dan Empu Supa.

DIKUBUR HIDUP-HIDUP

Pada suatu hari, Sunan Kalijaga merasa hatinya belum sepenuhnya bersih, beliau datang kepada Sunan Bonang untuk meminta petunjuk. Tidak lama kemudian sunan Bonang memberikan jawaban kepada Sunan Kalijaga untuk dikubur hidup-hidup.

Atas niat yang ikhlas untuk membersihkan hati dari nafsu duniawi, sunan Kalijaga pun bersedia untuk dikubur.

Keesokan harinya upacara tersebut dilakukan, sunan Kalijaga dikubur selama 40 hari. Atas izin Allah SWT, sunan Kalijaga tetap hidup dan selamat. Namun selama di dalam kubur sunan Kalijaga terus berzikir kepada Allah SWT, dan pada malam hari terakhir ada sebuah sinar cahaya dari langit yang jatuh dan merasuk ke dalam tubuh sunan Kalijaga.

Hingga keesokan harinya anggota para Wali berkumpul untuk menggali kuburan yang telah ditempati oleh Sunan Kalijaga. Semua para anggota wali menyaksikan keberhasilan sunan Kalijaga tersebut. Selanjutnya sunan Kalijaga melanjutkan kembali untuk penyebaran agama Islam di Nusantara ini.

MEMILIKI ILMU BERUBAH WUJUD

Suatu ketika, di pinggiran hutan yang lebat, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga tengah melakukan perjalanan syiar Islam, ia dicegat oleh segerombolan perampok yang sudah terkenal kekejamannya. Dengan polos wali yang juga dikenal sebagai Syech Malaya ini mengatakan bahwa dirinya tak memiliki harta yang layak. Tetapi apa lacur, pemimpin perampok itu tak mempercayainya. Bahkan dengan garang ia memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah.

Mendapat perlakuan yang tidak senonoh, Sunan Kalijaga hanya tersenyum. Ia bertekad untuk memberi pelajaran kepada para perampok itu agar kembali ke jalan yang benar. Manakala mereka mulai mendekat, dengan tenang Kanjeng Sunan Kalijaga mengibaskan kain panjang yang tersampir di pundaknya. Dan apa yang terjadi, tenaga kibasan itu ternyata mampu membuat para perampok porak-poranda.

Melihat kejadian itu, Ki Jaghana, sang pemimpin perampok menjadi berang. Ia langsung memasang kuda-kuda dan bersiap-siap menyerang Kanjeng Sunan Kalijaga dengan pedangnya. Dengan gerakan yang garang, ia mulai mendekati sasarannya. Sekali ini, Sunan Kalijaga merapalkan ilmu Malih Rupa. Begitu usai, mendadak tubuh Kanjeng Sunan Kalijaga telah berada tak jauh dari Ki Jaghana.

Ki Jaghana semakin bernafsu. Dengan teriakan keras ia langsung menyabetkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga. Aneh, Kanjeng Sunan Kalijaga tak menghindar. Ia membiarkan pedang yang demikian tajam itu menghantam tubuhnya.

Melihat kejadian itu, sudah barang tentu membuat para pengikut Ki Jaghana menjadi berang. Dengan ganas salah seorang anak buah Ki Jaghana melabrak. Begitu ia akan melompat, sebuah tangan yang halus telah menahan gerakannya. Tangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Belum sempat ia membuka mulut, dengan penuh wibawa Kanjeng Sunan Kalijaga berkata, “Jangan panik, yang diserang hanyalah pohon asam. Bukan aku!”

Ketika anak buah Ki Jagahana ini akan bertanya lebih jauh, terdengar suara lembut Kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan, “Jika ingin tahu, pejamkanlah matamu. Lihatlah dengan mata batinmu. Maka engkau akan tahu apa yang terjadi.”

Beberapa anak buah Ki Jaghana pun melakukan apa yang disarankan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Dan apa yang terjadi, mereka melihat, dengan membabi buta Ki Jaghana yang merasa membabatkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga itu ternyata hanya menetakkan pedangnya ke batang pohon asam. Karena tubuh yang ditebas tak juga roboh, akhirnya Ki Jaghana kehabisan tenaga. Dan ia menjadi terkejut bercampur malu, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga mulai mencabut ilmunya, ternyata ia hanya menetak sebatang pohon asam. Akhirnya, Ki Jaghana menyerah dan menyatakan taubat serta memeluk agama Islam yang disebarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

MENGUBAH TANAH MENJADI EMAS

Ki Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup cukup merasa sangat menderita dan karana putri kesayangan yang cantik jelita menderita sakit lumpuh. Segala iktiar telah di lakukan , malangnya semua usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh. Sehinggalah beliau mempunyai nadzar , barang siapa dapat menyembuhkan putrinya akan diambil sebagai menantu.

Pada suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.

Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.

Mengetahui keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual rumput. Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang II yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Berulang kali Sunan Kalijaga datang memperingatkan namun tak dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan kepada Pandan Arang.

Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat. Pandan Arang melepaskan kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di tempuh tidak boleh membawa harta benda.

Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat.

MEMILIKI TONGKAT SAKTI

Tongkat Sunan Kalijaga ini memiliki makna yang unik dan sempurna, dimana Masjid Kedondong yang terletak di Yogyakarta lah yang menjadi saksi sejarahnya. Sebuah masjid di daerah Semaken 1, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi masjid intensif di Kulon Progo. menurut cerita turun temurun, masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga yang dibangun sebelum Masjid Demak.

Di sekitar area Masjid Kedondong terjadi sebuah sungai bernama sunga Tinalah yang dimaksud Sunan Kalijaga untuk menikmati dari pengembaraannya dalam memasukkan agama Islam. Saat itu, Sunan Kalijaga setuju muridnya yang bernama Adipati Terung untuk membangun masjid. Sunan Kalijaga melihat lokasi dengan menancapkan tongkatnya untuk dibangun masjid. Disinilah awal kisah keajaiban Tongkat Sunan Kalijaga.

Setelah tongkat Sunan Kalijaga digunakan Adipati Terung, beliau meletakkan tongkat di sebuah tanah di bagian timur sungai yang disebut sebagai tetenger atau tanda dibangunnya sebuah bangunan masjid. Setelah menancapkan tongkat ke tanah, Sunan Kalijaga kemudian memutuskan kembali ke Demak karena ada satu hal yang penting dan dilaksanakan untuk dilanjutkan ke daerah itu guna melihat masjid yang sudah terbangun.

Namun sayangnya tongkat Sunan Kalijaga yang disebut sebagai Tetenger ini tidak dihiraukan oleh muridnya. Setelah mendapat perintah dari Sunan Kalijaga itu, Adipati Terung meneliti tanda tau tetenger (pembangunan) dari Sunan Kalijaga. Setelah diteliti, tongkat itu dekat dengan sungai. Adipati Terung Lalu beragama yang bisa dikikis oleh Sungai Tinalah tersebut. Oleh Adipati Terung, tanda itu digeser ke timur sekitar 100 meter dari tetenger. Bangunan masjid akhirnya tidak sesuai anjuran Sunan Kalijaga.

Setelah kembali ke daerah tersebut dan mengetahui bahwa masjid yang dibangun tidak sesuai dengan perintah Sunan Kalijaga, maka beliaupun kecewa. Masjid belum selesai dan belum memberi atap. Ia mengatakan 'bodho temen opo wis tak tetenger atau melaksanakan masjid atau dikei tutup atau atap (bodoh sekali, udah dikasih tanda tidak dilaksanakan, masjid ga dikasih atap)', akhirnya bagian atas masjid diberi daun alang-alang sebagai korban atapnya. Karena sikap Adipati Terung yang tidak mendengar perintah Sunan Kalijaga itu, ia dikenal dengan sebutan nama Adipati Bodho atau Panembahan Bodho.

Menurut pengurus Masjid Kedondong, Tongkat Sunan Kalija ga yang diucapkan sebagai tetenger pun masih sampai sekarang. Pun level ajaib yang kini berubah menjadi pohon Angsana yang bisa dilihat dari area Masjid dan tumbuh begitu subur. Pasalnya, saat ini lokasi tetenger dari Sunan Kalijaga juga masih jauh dari Sungai Tinalah. Bahkan, di dekat tetenger itu juga muncul belik atau mata air yang sampai saat ini airnya masih keluar.

MURIDNYA MENJADI MONYET

Sering berdakwah dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat membuatnya mempunyai banyak murid. Namun tidak semua muridnya penurut, ada pula yang masih membangkang. Sunan Kalijaga pernah menyuruh para santrinya untuk segera bersiap menunaikan salat Jumat.

Namun santri-santri tersebut tidak mengindahkan panggilan Sunan dan masih asyik bermain di sungai. Bahkan sampai salat selesai, anak-anak tersebut masih bermain.

Tapi bukannya menegur, Sunan Kalijaga hanya mengatakan dalam hati bahwa santrinya mirip binatang. Tak disangka, tiba-tiba para santri yang tadi asyik bermain kaget melihat tubuh mereka mengeluarkan ekor seperti kera.

Mengetahui kesalahan mereka, para santri yang sudah sepenuhnya menjadi kera itu pun meminta maaf namun keadaan mereka tidak berubah. Kini para kera yang terdiri dari tiga kelompok itu diyakini jumlahnya tidak bertambah ini hidup di sekitar pertapaan Sunan Kalijaga.

MENGUBAH PASIR MENJADI BERAS

Pada saat Sunan Kalijaga tiba di sebuah dusun. Sunan Kalijaga merasa sedih karena rakyat di dusun itu banyak yang kelaparan, sementara kepala dusunnya hidup dalam kemewahan dari hasil jerih payah rakyatnya.

Kemudian Sunan Kalijaga melihat seorang miskin datang ke kepala dusun.

Dia minta dipinjami beras seliter untuk makan anaknya yang belum makan.

Namun semuanya tidak didengar kepala dusun, malahan dia berkata, bahwa karung-karung miliknya itu berisi pasir, bukan beras.

Mendengar kebohongan itu, Sunan Kalijaga lalu berdoa kepada Allah SWT agar mengubah semua beras dalam karung itu menjadi pasir. 

Ternyata, doa itu dikabulkan Allah SWT.

Kepala dusun itu terperanjat kaget, “Aku rugi gara-gara kamu, tahu! Beras-berasku berubah semua menjadi pasir,” bentak kepala dusun dengan penuh kekesalan.

“Lho, bukannya tadi kata Juragan semua karung itu memang isinya pasir, bukan beras?” kata orang miskin tadi.

Penduduk pun berdatangan melihat kejadian itu.

Kepala dusun itu segera minta tolong kepada Sunan Kalijaga.

“Kanjeng Sunan tolonglah saya. Kembalikan beras-beras saya yang akan saya jual ini.…” pinta kepala dusun setengah memelas.

“Lho, bukannya engkau tadi mengatakan isi karung ini memang pasir?” Sunan Kalijaga menyindir kepala dusun yang kikir tersebut.

“Ampun Kanjeng Sunan. Tadi karung-karung ini memang berisi beras. Saya tadi hanya berbohong kepada orang miskin itu agar tidak meminjam beras yang saya miliki,” ujar kepala dusun.

Kepala dusun menyesal dan berjanji akan membagikan beras miliknya pada penduduk kampung.

Kepala dusun pun ingin Sunan Kalijaga berkenan mengangkatnya menjadi muridnya.

Kemudian Sunan Kalijaga pun berdoa semoga Allah SWT mengampuninya dan mengembalikan pasir itu menjadi beras kembali.

Allah SWT mengabulkan doa Sunan Kalijaga.

Maka pasir yang ada dalam karung-karung itu kembali menjadi beras.

Kemudian kepala dusun itu membagikan berasnya kepada penduduk kampung, termasuk kepada orang miskin tadi.

SUNAN KALIJAGA MENDATANGKAN HUJAN

Pada masa kemunduran kerajaan Majapahit, kondisi politik Nusantara carut marut. Perang saudara, kudeta, pemisahan wilayah, hingga korupsi upeti muncul setiap hari. Terlebih datangnya musim kemarau yang panjang, kondisi inilah yang memicu ketakutan masyarakat untuk bekerja mengolah lahan pertanian mereka. Sehingga kelaparan dan kesengsaraan melanda sebagian besar rakyat di Nusantara.

Mendengar begitu memprihatinkannya kondisi masyarakat, sunan Kalijaga mengetahui kondisi masyarakat. Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, tibalah di suatu perkampungan yang kering dan tandus.

Dari kejauhan Sunan Kalijaga melihat ada sekumpulan warga di tengah tanah lapang, setelah berusaha mendekat, beliau melihat seorang perempuan dengan tangan terikat diseret ke tengah lapangan. Kemudian perempuan yang mengenakan pakaian serba putih itu, segera dibaringkan di atas altar oleh sejumlah orang.

"Wahai Dewa Hujan, terimalah persembahan kami. Curahkan limpahan air-mu ke bumi yang gersang ini," kata pemimpin upacara sambil mencabut belati dari baik pingganggnya.

Melihat perlakuan pemimpin upacara yang menyerupai perbuatan orang jahiliyah, Kanjeng sunan Kalijaga langsung berusaha menghentikan ritual itu. Beliau kemudian mempertanyakan maksud ritual.

"Kami mengharap turunnya hujan," jawab pemimpin upacara singkat.

Setelah terjadi pembicaraan antara Sunan Kalijaga dengan Pemimpin upacara, akhirnya sang pemimpin yang tidak suka kehadiran Sunan Kalijaga yang dianggap mengganggu itu, memerintahkan dua pengawalnya untuk membunuh sunan Kalijaga dengan golok. Namun belum sempat menyentuh, golok yang diayunkan seketika berhenti.

Melihat anak buahnya gagal membunuh sunan Kalijaga, akhirnya dengan tergesa-gesa pemimpin upacara segera menikam belati ke arah jantung perempuan itu. Anehnya tangan yang memegang belati tiba-tiba tidak bisa digerakkan.

Tujuan mengorbankan perempuan itu sebagai syarat kepada dewa hujan, untuk menurunkan air hujan dari langit. Mengetahui perbuatan syirik itu kemudian sunan Kalijaga membuat kesepakatan dengan penduduk desa untuk melepaskan perempuan itu, dengan imbalan dia akan membantu memohonkan turun hujan.

"Dalam ajaran agama kami, seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya, disebut yatim piatu. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, melainkan harus disantuni dan diperhatikan nasibnya. Bukannya dikorbankan kepada Dewa Hujan, kata Sunan Kalijaga.

Setelah kesepakatan dipenuhi, beliau bersama muridnya melakukan shalat istisqo' atau meminta hujan dan berdoa dengan khusuk. Tidak lama kemudian, suasana yang tadinya kering dan tandus tiba-tiba gelap ditutupi awan hitam, satu per satu rintikan hujan turun hingga hujan lebat terjadi.

Melihat keajaiban yang terjadi, maka seluruh penduduk desa itu serentak meminta kepada Sunan Kalijaga untuk diajarkan caranya meminta hujan tanpa mengorbankan jiwa. "Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti tadi, maka kalian harus mengenal dan mempelajari dulu agama Islam. Maukah kalian?" permintaan itu kemudian disambut baik oleh seluruh masyarakat, sehingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit gambaran mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Kalijaga, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Drajat (Raden Qosim) Walisongo

Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam ia menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Berikut ini adalah beberapa kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat (Raden Qosim) :

DISELAMATKAN OLEH IKAN TALANG DAN CUCUT


Pada waktu Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia emban, walau hati menyanyikannya, berat suci menegakkan kalimat Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke dusun barat Gresik, ada ada dearah yang menunggu kerja dakwahmu, titah Sunan Ampel kepada putranya yang sebahu muridnya itu. Raden Qosim berbakat, ia pun berkemas untuk berangkat.

Dengan menumpang wisatawan dari Raden Qosim berlayar, ia berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, harus dilakukan dengan amanah. Segala rintangan yang akan menghadang akan di hadapinya dengan hati tabah.

Angin yang baik akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa Cuaca akan memburuk, tetapi laut memang menyimpan seribu misteri, dan manusia hanya bisa menganggap-duga. Saat berada di tengah-tengah rimba lautan, tiba-tiba tiba-tiba muncul badai yang sangat dahsyat, biduk itu terombang-ambing, dipermainkan ombak tanpa ada daya sedikitpun, terang saja biduk itu menjadi seperti korek api dalam aliran sungai, diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.

Akhirnya sebuah pulau membuat perahu itu hancur berkeping-keping, sang nelayan terlempar tak kenal nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Beberapa saat lamanya di tengah gemuruh badai yang mengamuk, Raden Qosim bertahan dengan hari itu, sampai kemudian pertolongan yang tak di duga-duga datang menghampiri.

Seekor ikan Talang tiba-tiba tiba-tiba muncul dan berenang Raden Qosim, putra Sunan Ampel yang mulai di dera kepanikan ini segera menemukan bahwa ikan yang dikirim Allah swt untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk di naiki Raden Qosim. Pria berhati lembut itu dengan senang hati menaikinya.


Konon, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, ikan Cucut juga mempersilahkan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai. Tak Terkadang Lama Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah karomah paling masyhur Raden Qosim yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus yang juga ditimpa badai, ikan Paus kemudian menelan Nabi Yunus, namun ia tetap selamat sampai di bawa ke tepi pantai.

Kisah penyelamatan ikan ini dilakukan pada tahun 1485 M. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, yaitu mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk islam dan melayani dia membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.

Sebuah surau kemudian didirikan oleh Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya, surau yang di dirikan pria yang berhati lembut itu seperti memanggil orang-orang untuk mengenal Allah swt dan agamanya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pesantren.

MAMPU MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT

Desa Drajat adalah daerah terpencil, yang memilih desa yang tinggi dataran itu. Raden Qosim mendapat petunjuk melalu mimpi. Dalam mimpinya Sunan Drajar bertemu dengan Sunan Giri yang mengambarkan dirinya membuka sebuah komunitas islam baru di sisi selatan perbukitan di desa Drajat. Daerah yang ditunjuk Sunan Giri ternyata adalah hutan angker, tidak ada orang yang berani menginjakkan umpan disana.

Pembukaan hutan itupun diwarnai dengan hal-hal gaib. Konon, penghuni hutan marah dan mendatangkan balak berupa penyakit pada penduduk. Mungkin Sunan Drajat yang ikhlas dapat lolos ujian itu dengan baik. Hutan angker itu diubah menjadi pusat penyebaran islam di tendai dengan berdirinya sebuah masjid. Permukiman baru pun di bangun.

Karomah Sunan Drajat sebagai wali yang dikaruniai kesaktian dan ilmu penyembuhan memang terkenal sampai ke seantero negeri. Kerap ia dipenggil untuk melatih orang yang sedang tertimpa sakit. Kelembutan stres dan pengetahuannya terhadap ramuan-ramuan dari akar dan daun-daunan membuat semua penyakit bisa disembuhkan. Tak lupa ia selalu berpesan untuk si pasien agar selalu berdoa dan tidak meninggalkan shalat.

MEMINDAHKAN MASJID DALAM WAKTU SEMALAM

Suatu ketika Sunan Sendang Dhuwur mendatangi Sunan Drajat. Dia menyampaikan keinginannya agar bisa mempunyai masjid di Desa Sendang Dhuwur. Kemudian Sunan Drajat merekomendasikan agar dia meminta Masjid Mbok Rondo Manthingan.

Masjid tersebut merupakan milik bangsawan Jepara. Datanglah Sunan Sendang Dhuwur ke Jawa Tengah, tempat masjid indah itu berada. Dia berterus terang dan meminta pada Mbok Rondo Manthingan agar masjid itu bisa dibawanya pulang.

Mbok Rondo Manthingan atau Nimas Ratu Kalinyamat membolehkan Sunan Sendang Dhuwur meminta masjid miliknya. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut ialah masjid tersebut harus sudah dipindahkan dalam waktu semalam. Selain itu, ketika memindah masjid, tidak boleh ada secuil pun serpihan bangunan yang tercecer di jalan.

“Iya, atas bantuan Allah masjid itu pindah gitu aja ke Sendang Dhuwur,” kata penjaga museum Sunan Drajat, Nurhayati di Museum Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Lantas Sunan Sendang Dhuwur senang bukan kepalang. Kemudian dalam waktu tak sampai semalam, masjid tersebut sudah tertancap kuat di tanah Desa Sendang Dhuwur.

Esok harinya masyarakat terkaget, bagaimana bisa ada masjid yang kemarin tak ada. Mereka terkesima dan terheran-heran dengan adanya masjid dadakan itu. Kemudian mereka mempergunakan masjid tersebut untuk salat dan berbagai kegiatan umat Islam yang lain.

MENGAMBIL BUAH DENGAN MENEPUK POHONNYA

Terdapatlah seorang sakti yang di Tanah Jawa bernama Raden Noer Rahmad. Sunan Drajat penasaran dengan kesaktian Raden Noer Rahmad yang sudah populer di kalangan masyarakat. Dia berniat mengujinya. Pergilah ia dengan para pengawalnya ke Kampung Patunon.

Ketika sudah bertemu dengan Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat meminta izin untuk menikmati air nira dan buah siwalan. Dia ingin mengambilnya sendiri. Dengan senang hati Raden Noer Rahmad mempersilakan.

“Itu pohonnya diketuk tiga kali, langsung buahnya jatuh sendiri. Seluruh buah di pohon itu yang jatuh enggak tersisa,” ungkap juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Setelah buahnya berjatuhan, Raden Noer Rahmad bukannya heran akan tetapi dia malah geram. Raden tersebut berkata pada Sunan bahwa jika cara mengambilnya semacam itu, maka anak cucu kita kelak tak akan bisa menikmati buah siwalan dan air legen. Pasalnya Sunan telah menjatuhkan seluruh buah dari tiap pohon siwalan.

Setelah itu Raden Noer Rahmad menghampiri salah satu pohon siwalan. Dia mengelus pohon itu sebanyak tiga kali. Seketika pohon siwalan tersebut merunduk di hadapannya. Kemudian Sunan Drajat diminta untuk mengambil air legen dan buah siwalan sebanyak yang dibutuhkan saja. Setelah buah dipetik, pohon itu kembali tegak seperti sediakala.

Akhirnya Sunan Drajat menyaksikan sendiri kesaktian yang dimiliki Raden Noer Rahmad. Atas ujian yang mampu dilewati oleh Raden Noer Rahmad tersebut, Sunan Drajat memberinya gelar sebagai Sunan Sendang Duwur.

Kejadian ini membuat keduanya kompak, dalam banyak hal akhirnya Sunan Sendang Duwur membantunya. Dulu Desa Patunon lebih sering disebut Sendang Duwur oleh masyarakat. Kini desa tersebut menjelma menjadi sebuah pemukiman yang semakin padat penduduk sehingga membutuhkan ulama lain yang dapat membantu Sunan Drajat.

Tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam di Lamongan kemudian tidak hanya dipegang Sunan Drajat semata, tetapi juga Sunan Sendang Duwur.

TEMBANG PANGKUR

Sunan Drajat biasa menyampaikan ajaran Islam melalui tembang Pangkur. Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi Isine Quran . Dalam hal ini bisa diartikan sebagai upaya untuk sungguh-sungguh untuk mendalami makna Alquran. Tembang tersebut biasa dinyanyikan bersama alunan gamelan Singo Mengkok miliknya.

Banyak yang menyebut gamelan tersebut mengandung kekuatan magis. Apalagi jika disatukan dengan bacaan tembang Pangkur.

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang penjahat sakti bernama Duratmoko. Tingkah lakunya sering merugikan dan meresahkan masyarakat, akhirnya Sunan Bonang berniat memberi pelajaran pada berandal tersebut. Apalagi Duratmoko selama ini tidak mau mengakui perbuatan buruk yang dia lakukan pada masyarakat.

Sunan Drajat mengutus para pengawalnya untuk menangkap Duratmoko. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil membawa Duratmoko ke hadapan Sunan Drajat.

Kepada Duratmoko Sunan Drajat justeru menyanyikan tembang Pangkur diiringi lantunan suara gamelan Singo Mengkoknya.

“Kanjeng Sunan Drajat waktu itu menyampaikan pitutur melalui tembang Pangkur. Sederhana memang saran beliau sampaikan melalui lirik dan diiringi alat musik,” ujar juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ketika ditemui di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Namun Duratmoko masih membisu, tidak mau mengakui kesalahannya. Akhirnya tembang Pangkur dinyanyikan lebih keras. Temponya dibuat lebih cepat.

Isi tembang tersebut kurang lebih mengenai saran untuk jadi penolong bagi sesama. Hidup tidak boleh menyakiti dan memeras orang lain. Kita harus saling berdampingan tolong-menolong. Alunan tembang Pangkur dan gamelan Singo Mengkok akhirnya membuat Duratmo menyerah.

“Dia seperti kesurupan. Karomah Kanjeng Sunan Drajat menembus sukanya. Akhirnya dia jera dan mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian meminta maaf kepada Kanjeng Sunan dan masyarakat,” ungkapnya.

Berandal yang gagah perkasa itu takluk. Dia meminta ampun dan meminta dijadikan pemeluk Islam. Akhirnya Duratmo menjadi murid Sunan Drajat. Duratmo kemudian diberi Sunan Drajat nama menjadi Ki Sulaiman.

Namun tak lama setelah kejadian itu, Ki Sulaiman jatuh sakit. Dalam keadaan koma dia meminta agar ketika dia meninggal nanti, dia berharap ada yang membiarkan penutup kepalanya terbuka. Bagi Ki Sulaiman, dia ingin agar masyarakat tahu bahwa sekuat apapun berandal pasti akan takluk juga di hadapan Allah, di hadapan kematian.

MEMBUAT MATA AIR ABADI

Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi.

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, April 12, 2017

Sejarah Lengkap Sunan Drajat, kisah Wali songo

Sunan Drajat Nama kecilnya adalah Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang”. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Kisah Perjalanan Hidup Sunan Drajat
Alkisah, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.
Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.
Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.
Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.
Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.
Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.
Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.
Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.
Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.
”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.
Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.
Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.
Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.
Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.
Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.
Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.