Showing posts with label Karomah sunan Bonang. Show all posts
Showing posts with label Karomah sunan Bonang. Show all posts

Saturday, October 13, 2018

Inilah Kumpulan Karomah Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.


Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Berikut ini adalah kumpulan kisah Karomah Sunan Kalijaga (Raden Said) yang cukup populer :

BERTAPA SELAMA 3 TAHUN

Selama bertahun-tahun ia menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok budiman? Karena hasil rampokkannya itu tak pernah dimakannya. Seperti dahulu, selalu diberikan kepada fakir miskin.

Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya kikir, tidak menyantuni rakyat jelata. Dan tidak mau membayar zakat.

Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya dengan Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal lokajaya sudah mengincarnya. Orang itu membawa tongkat yang gagangnya berkilauan.

Terus diawasinya orang tua berjubang putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamati gagang tongkat yang dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas. Raden Said heran melihat orang tua itu menangis. Segera diulurkannya kembali tongkat itu. Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan.

Bukan tongkat ini yang kutangisi ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput ditangannya. Lihatlah ! aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi.

Hanyam beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa? Tanya Raden Said heran.

Ya, memang berdosa! Karena kau mencabutnya tanpa sesuatu keperluan. Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk sesuatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa jawab lelaki itu.

Hari Raden Said bergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.

Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari dihutan ini?

Saya menginginkan harta?

Untuk apa?

Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita,.. hem…sungguh mulia hatimu, sayang…caramu mendapatkannya yang keliru.

Orang tua….apa maksudmu?

Boleh aku bertanya anak muda? Desah orang tua itu. Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?

Sungguh perbuatan bodoh sahut Raden Said. Hanya menambah kotor dan bau pakaian saja.

Lelaki itu tersenyum, demikianlah amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram atau mencuri itu sama halnya dengan mencuci pakaian dengan air kencing.

Raden Said tercekat. Lelaki itu melanjutkan ucapannya. Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal.

Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Dipandangnya sekali lagi wajah lelaki tua itu. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik dengan lelaki tua berjubah putih tersebut.

Banyak hal yang terkait dengan usaha mengentaskan kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Kau harus memperingatkan pada penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya.

Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini. Kalau kau tak mau kerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu barang halal. Ambillah sesukamu!

Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika itu pohon berubah menjadi emas . Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti dan banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir. Kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya.

Tapi setelah mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang tua itu tidak menggunakan sihir. Ia benar-benar merasa heran dan penasaran, ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu merubah pohon menjadi emas.

Raden Said terdiam beberapa saat ditempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah jadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda itu jatuh terjerembab ke tanah roboh dan pingsan.

Ketika sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah menjadi hijau seperti aren-aren yang lainnya. Raden Said bangkit berdiri, mencari orang tua berjubah putih tadi. Tapi yang dicari nya sudah tidak ada ditempat.

Ucapan orang tua tadi masih terngiang ditelinganya. Tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing. Tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.

Raden Said mengejar oarang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat akhirnya dia dapat melihat bayangan orang tua itu dari kejauhan.

Sepertinya santai saja orang itu melangkahkan kakinya tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah setelah tenaganya habis terkuras dia baru bisa sampai dibelakang lelaki berjubah putih itu.

Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan didepannya terbentang sungai cukup lebar. Tak ada jembatan dan sungai itu tampaknya sangat dalam dengan apa dia harus menyeberang.

Tunggu……, ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.

Sudilah kiranya tuan menerima saya sebagai murid…..pintanya.

Menjadi muridku? Tanya orang tua itu sembari menoleh. Mau belajar apa?

Apa saja, asal tuan manerima saya sebagai murid….

Berat, berat sekali anak muda, bersediakah engkau menerima syarat-syaratnya?

Saya bersedia….

Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya ditepi sungai. Raden Said diperintah menunggui tongkat itu. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum orang tua itu kembali menemuinya.

Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.

Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan diatas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air, ia semakin yakin calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.

Setelah lelaki tuan itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda ini duduk bersila dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya didalam Al-Qur’an yaitu kisah Ashabul Kahfi, maka ia segera berdoa kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa kahfi ratusan tahun yang silam.

Doanya dikabulkan. Raden Said tertidur dalam semedinya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah merambati tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.

Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said. Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan pemuda itu membuka sepasang matanya.

Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian dibawa ke tuban mengapa dibawa ke tuban? Karena lelaki berjubah putih itu adalah sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya yaitu tingkat para waliyullah. Dikemudian hari Raden Said terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai, karena dia pernah bertapa ditepi sungai. Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan umat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar.

LANTUNAN AYAT SUCI AL-QUR'AN MENGGETARKAN KADIPATEN TUBAN

Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usah adipati tuban menangkap para perampok yang mengacau kadipaten tuban membuahkan hasil. Hati ibu Raden Said seketika terguncang.

Kebetulan saat ditangkap oleh prajurit tuban, kepala perampok itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis dengan yang dikenakan oleh Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah adipati tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.

Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat disayanginya itu, sang ibu tak pernah tau bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke tuban. Hanya saja tidak langsung ke istana kadipaten tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.

Untuk mengobati kerinduan sang ibu, tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi. Yaitu membaca Qur’an jarak jauh lau suaranya dikirim ke istana tuban.

Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding istana kadipaten. Bahkan mengguncangkan isi hati adipati tuban dan isternya. Tapi Raden Said, masih belum menampakkan dirinya. Banyak tugas yang masih dikerjakannya. Diantaranya menemukan adiknya kembali. Pada akhinya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan. Tak terkirakan betapa bahagianya adipati tuban dan isterinya menerima kedatangan putera-puterinya yang sangat dicintainya itu.

Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya akhirnya kedudukan adipati tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putera Dewi Rasawulan dan Empu Supa.

DIKUBUR HIDUP-HIDUP

Pada suatu hari, Sunan Kalijaga merasa hatinya belum sepenuhnya bersih, beliau datang kepada Sunan Bonang untuk meminta petunjuk. Tidak lama kemudian sunan Bonang memberikan jawaban kepada Sunan Kalijaga untuk dikubur hidup-hidup.

Atas niat yang ikhlas untuk membersihkan hati dari nafsu duniawi, sunan Kalijaga pun bersedia untuk dikubur.

Keesokan harinya upacara tersebut dilakukan, sunan Kalijaga dikubur selama 40 hari. Atas izin Allah SWT, sunan Kalijaga tetap hidup dan selamat. Namun selama di dalam kubur sunan Kalijaga terus berzikir kepada Allah SWT, dan pada malam hari terakhir ada sebuah sinar cahaya dari langit yang jatuh dan merasuk ke dalam tubuh sunan Kalijaga.

Hingga keesokan harinya anggota para Wali berkumpul untuk menggali kuburan yang telah ditempati oleh Sunan Kalijaga. Semua para anggota wali menyaksikan keberhasilan sunan Kalijaga tersebut. Selanjutnya sunan Kalijaga melanjutkan kembali untuk penyebaran agama Islam di Nusantara ini.

MEMILIKI ILMU BERUBAH WUJUD

Suatu ketika, di pinggiran hutan yang lebat, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga tengah melakukan perjalanan syiar Islam, ia dicegat oleh segerombolan perampok yang sudah terkenal kekejamannya. Dengan polos wali yang juga dikenal sebagai Syech Malaya ini mengatakan bahwa dirinya tak memiliki harta yang layak. Tetapi apa lacur, pemimpin perampok itu tak mempercayainya. Bahkan dengan garang ia memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah.

Mendapat perlakuan yang tidak senonoh, Sunan Kalijaga hanya tersenyum. Ia bertekad untuk memberi pelajaran kepada para perampok itu agar kembali ke jalan yang benar. Manakala mereka mulai mendekat, dengan tenang Kanjeng Sunan Kalijaga mengibaskan kain panjang yang tersampir di pundaknya. Dan apa yang terjadi, tenaga kibasan itu ternyata mampu membuat para perampok porak-poranda.

Melihat kejadian itu, Ki Jaghana, sang pemimpin perampok menjadi berang. Ia langsung memasang kuda-kuda dan bersiap-siap menyerang Kanjeng Sunan Kalijaga dengan pedangnya. Dengan gerakan yang garang, ia mulai mendekati sasarannya. Sekali ini, Sunan Kalijaga merapalkan ilmu Malih Rupa. Begitu usai, mendadak tubuh Kanjeng Sunan Kalijaga telah berada tak jauh dari Ki Jaghana.

Ki Jaghana semakin bernafsu. Dengan teriakan keras ia langsung menyabetkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga. Aneh, Kanjeng Sunan Kalijaga tak menghindar. Ia membiarkan pedang yang demikian tajam itu menghantam tubuhnya.

Melihat kejadian itu, sudah barang tentu membuat para pengikut Ki Jaghana menjadi berang. Dengan ganas salah seorang anak buah Ki Jaghana melabrak. Begitu ia akan melompat, sebuah tangan yang halus telah menahan gerakannya. Tangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Belum sempat ia membuka mulut, dengan penuh wibawa Kanjeng Sunan Kalijaga berkata, “Jangan panik, yang diserang hanyalah pohon asam. Bukan aku!”

Ketika anak buah Ki Jagahana ini akan bertanya lebih jauh, terdengar suara lembut Kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan, “Jika ingin tahu, pejamkanlah matamu. Lihatlah dengan mata batinmu. Maka engkau akan tahu apa yang terjadi.”

Beberapa anak buah Ki Jaghana pun melakukan apa yang disarankan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Dan apa yang terjadi, mereka melihat, dengan membabi buta Ki Jaghana yang merasa membabatkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga itu ternyata hanya menetakkan pedangnya ke batang pohon asam. Karena tubuh yang ditebas tak juga roboh, akhirnya Ki Jaghana kehabisan tenaga. Dan ia menjadi terkejut bercampur malu, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga mulai mencabut ilmunya, ternyata ia hanya menetak sebatang pohon asam. Akhirnya, Ki Jaghana menyerah dan menyatakan taubat serta memeluk agama Islam yang disebarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

MENGUBAH TANAH MENJADI EMAS

Ki Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup cukup merasa sangat menderita dan karana putri kesayangan yang cantik jelita menderita sakit lumpuh. Segala iktiar telah di lakukan , malangnya semua usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh. Sehinggalah beliau mempunyai nadzar , barang siapa dapat menyembuhkan putrinya akan diambil sebagai menantu.

Pada suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.

Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.

Mengetahui keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual rumput. Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang II yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Berulang kali Sunan Kalijaga datang memperingatkan namun tak dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan kepada Pandan Arang.

Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat. Pandan Arang melepaskan kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di tempuh tidak boleh membawa harta benda.

Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat.

MEMILIKI TONGKAT SAKTI

Tongkat Sunan Kalijaga ini memiliki makna yang unik dan sempurna, dimana Masjid Kedondong yang terletak di Yogyakarta lah yang menjadi saksi sejarahnya. Sebuah masjid di daerah Semaken 1, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi masjid intensif di Kulon Progo. menurut cerita turun temurun, masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga yang dibangun sebelum Masjid Demak.

Di sekitar area Masjid Kedondong terjadi sebuah sungai bernama sunga Tinalah yang dimaksud Sunan Kalijaga untuk menikmati dari pengembaraannya dalam memasukkan agama Islam. Saat itu, Sunan Kalijaga setuju muridnya yang bernama Adipati Terung untuk membangun masjid. Sunan Kalijaga melihat lokasi dengan menancapkan tongkatnya untuk dibangun masjid. Disinilah awal kisah keajaiban Tongkat Sunan Kalijaga.

Setelah tongkat Sunan Kalijaga digunakan Adipati Terung, beliau meletakkan tongkat di sebuah tanah di bagian timur sungai yang disebut sebagai tetenger atau tanda dibangunnya sebuah bangunan masjid. Setelah menancapkan tongkat ke tanah, Sunan Kalijaga kemudian memutuskan kembali ke Demak karena ada satu hal yang penting dan dilaksanakan untuk dilanjutkan ke daerah itu guna melihat masjid yang sudah terbangun.

Namun sayangnya tongkat Sunan Kalijaga yang disebut sebagai Tetenger ini tidak dihiraukan oleh muridnya. Setelah mendapat perintah dari Sunan Kalijaga itu, Adipati Terung meneliti tanda tau tetenger (pembangunan) dari Sunan Kalijaga. Setelah diteliti, tongkat itu dekat dengan sungai. Adipati Terung Lalu beragama yang bisa dikikis oleh Sungai Tinalah tersebut. Oleh Adipati Terung, tanda itu digeser ke timur sekitar 100 meter dari tetenger. Bangunan masjid akhirnya tidak sesuai anjuran Sunan Kalijaga.

Setelah kembali ke daerah tersebut dan mengetahui bahwa masjid yang dibangun tidak sesuai dengan perintah Sunan Kalijaga, maka beliaupun kecewa. Masjid belum selesai dan belum memberi atap. Ia mengatakan 'bodho temen opo wis tak tetenger atau melaksanakan masjid atau dikei tutup atau atap (bodoh sekali, udah dikasih tanda tidak dilaksanakan, masjid ga dikasih atap)', akhirnya bagian atas masjid diberi daun alang-alang sebagai korban atapnya. Karena sikap Adipati Terung yang tidak mendengar perintah Sunan Kalijaga itu, ia dikenal dengan sebutan nama Adipati Bodho atau Panembahan Bodho.

Menurut pengurus Masjid Kedondong, Tongkat Sunan Kalija ga yang diucapkan sebagai tetenger pun masih sampai sekarang. Pun level ajaib yang kini berubah menjadi pohon Angsana yang bisa dilihat dari area Masjid dan tumbuh begitu subur. Pasalnya, saat ini lokasi tetenger dari Sunan Kalijaga juga masih jauh dari Sungai Tinalah. Bahkan, di dekat tetenger itu juga muncul belik atau mata air yang sampai saat ini airnya masih keluar.

MURIDNYA MENJADI MONYET

Sering berdakwah dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat membuatnya mempunyai banyak murid. Namun tidak semua muridnya penurut, ada pula yang masih membangkang. Sunan Kalijaga pernah menyuruh para santrinya untuk segera bersiap menunaikan salat Jumat.

Namun santri-santri tersebut tidak mengindahkan panggilan Sunan dan masih asyik bermain di sungai. Bahkan sampai salat selesai, anak-anak tersebut masih bermain.

Tapi bukannya menegur, Sunan Kalijaga hanya mengatakan dalam hati bahwa santrinya mirip binatang. Tak disangka, tiba-tiba para santri yang tadi asyik bermain kaget melihat tubuh mereka mengeluarkan ekor seperti kera.

Mengetahui kesalahan mereka, para santri yang sudah sepenuhnya menjadi kera itu pun meminta maaf namun keadaan mereka tidak berubah. Kini para kera yang terdiri dari tiga kelompok itu diyakini jumlahnya tidak bertambah ini hidup di sekitar pertapaan Sunan Kalijaga.

MENGUBAH PASIR MENJADI BERAS

Pada saat Sunan Kalijaga tiba di sebuah dusun. Sunan Kalijaga merasa sedih karena rakyat di dusun itu banyak yang kelaparan, sementara kepala dusunnya hidup dalam kemewahan dari hasil jerih payah rakyatnya.

Kemudian Sunan Kalijaga melihat seorang miskin datang ke kepala dusun.

Dia minta dipinjami beras seliter untuk makan anaknya yang belum makan.

Namun semuanya tidak didengar kepala dusun, malahan dia berkata, bahwa karung-karung miliknya itu berisi pasir, bukan beras.

Mendengar kebohongan itu, Sunan Kalijaga lalu berdoa kepada Allah SWT agar mengubah semua beras dalam karung itu menjadi pasir. 

Ternyata, doa itu dikabulkan Allah SWT.

Kepala dusun itu terperanjat kaget, “Aku rugi gara-gara kamu, tahu! Beras-berasku berubah semua menjadi pasir,” bentak kepala dusun dengan penuh kekesalan.

“Lho, bukannya tadi kata Juragan semua karung itu memang isinya pasir, bukan beras?” kata orang miskin tadi.

Penduduk pun berdatangan melihat kejadian itu.

Kepala dusun itu segera minta tolong kepada Sunan Kalijaga.

“Kanjeng Sunan tolonglah saya. Kembalikan beras-beras saya yang akan saya jual ini.…” pinta kepala dusun setengah memelas.

“Lho, bukannya engkau tadi mengatakan isi karung ini memang pasir?” Sunan Kalijaga menyindir kepala dusun yang kikir tersebut.

“Ampun Kanjeng Sunan. Tadi karung-karung ini memang berisi beras. Saya tadi hanya berbohong kepada orang miskin itu agar tidak meminjam beras yang saya miliki,” ujar kepala dusun.

Kepala dusun menyesal dan berjanji akan membagikan beras miliknya pada penduduk kampung.

Kepala dusun pun ingin Sunan Kalijaga berkenan mengangkatnya menjadi muridnya.

Kemudian Sunan Kalijaga pun berdoa semoga Allah SWT mengampuninya dan mengembalikan pasir itu menjadi beras kembali.

Allah SWT mengabulkan doa Sunan Kalijaga.

Maka pasir yang ada dalam karung-karung itu kembali menjadi beras.

Kemudian kepala dusun itu membagikan berasnya kepada penduduk kampung, termasuk kepada orang miskin tadi.

SUNAN KALIJAGA MENDATANGKAN HUJAN

Pada masa kemunduran kerajaan Majapahit, kondisi politik Nusantara carut marut. Perang saudara, kudeta, pemisahan wilayah, hingga korupsi upeti muncul setiap hari. Terlebih datangnya musim kemarau yang panjang, kondisi inilah yang memicu ketakutan masyarakat untuk bekerja mengolah lahan pertanian mereka. Sehingga kelaparan dan kesengsaraan melanda sebagian besar rakyat di Nusantara.

Mendengar begitu memprihatinkannya kondisi masyarakat, sunan Kalijaga mengetahui kondisi masyarakat. Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, tibalah di suatu perkampungan yang kering dan tandus.

Dari kejauhan Sunan Kalijaga melihat ada sekumpulan warga di tengah tanah lapang, setelah berusaha mendekat, beliau melihat seorang perempuan dengan tangan terikat diseret ke tengah lapangan. Kemudian perempuan yang mengenakan pakaian serba putih itu, segera dibaringkan di atas altar oleh sejumlah orang.

"Wahai Dewa Hujan, terimalah persembahan kami. Curahkan limpahan air-mu ke bumi yang gersang ini," kata pemimpin upacara sambil mencabut belati dari baik pingganggnya.

Melihat perlakuan pemimpin upacara yang menyerupai perbuatan orang jahiliyah, Kanjeng sunan Kalijaga langsung berusaha menghentikan ritual itu. Beliau kemudian mempertanyakan maksud ritual.

"Kami mengharap turunnya hujan," jawab pemimpin upacara singkat.

Setelah terjadi pembicaraan antara Sunan Kalijaga dengan Pemimpin upacara, akhirnya sang pemimpin yang tidak suka kehadiran Sunan Kalijaga yang dianggap mengganggu itu, memerintahkan dua pengawalnya untuk membunuh sunan Kalijaga dengan golok. Namun belum sempat menyentuh, golok yang diayunkan seketika berhenti.

Melihat anak buahnya gagal membunuh sunan Kalijaga, akhirnya dengan tergesa-gesa pemimpin upacara segera menikam belati ke arah jantung perempuan itu. Anehnya tangan yang memegang belati tiba-tiba tidak bisa digerakkan.

Tujuan mengorbankan perempuan itu sebagai syarat kepada dewa hujan, untuk menurunkan air hujan dari langit. Mengetahui perbuatan syirik itu kemudian sunan Kalijaga membuat kesepakatan dengan penduduk desa untuk melepaskan perempuan itu, dengan imbalan dia akan membantu memohonkan turun hujan.

"Dalam ajaran agama kami, seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya, disebut yatim piatu. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, melainkan harus disantuni dan diperhatikan nasibnya. Bukannya dikorbankan kepada Dewa Hujan, kata Sunan Kalijaga.

Setelah kesepakatan dipenuhi, beliau bersama muridnya melakukan shalat istisqo' atau meminta hujan dan berdoa dengan khusuk. Tidak lama kemudian, suasana yang tadinya kering dan tandus tiba-tiba gelap ditutupi awan hitam, satu per satu rintikan hujan turun hingga hujan lebat terjadi.

Melihat keajaiban yang terjadi, maka seluruh penduduk desa itu serentak meminta kepada Sunan Kalijaga untuk diajarkan caranya meminta hujan tanpa mengorbankan jiwa. "Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti tadi, maka kalian harus mengenal dan mempelajari dulu agama Islam. Maukah kalian?" permintaan itu kemudian disambut baik oleh seluruh masyarakat, sehingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit gambaran mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Kalijaga, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Thursday, October 11, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Giri (Raden Paku) Walisongo

Sunan Giri merupakan nama dari seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Beliau lahir di Blambangan tahun 1442, dan dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.
Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa, yang pengaruhnya bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudro.

Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai  dan Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera. Putera ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian melahirkan Pangeran Giri. Putri Pasai adalah puteri Sultan Pasai yang diambil isteri oleh Raja Majapahit yang bernama Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Mangkubumi Majapahit masa itu adalaha Patih Maudara.

Berikut ini adalah kumpulan kisah Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Giri (Raden Paku) :

MENGUBAH PASIR MENJADI BARANG DAGANGAN


Setelah Raden Paku dewasa, ia diperintahkan oleh ibu angkatnya untuk mengawal kapal dagang milik ibu angkatnya ke pulau Kalimantan. Tiga kapal segera berangkat menuju ke pulau Kalimantan dengan dipimpin juragan Abu Hurairah. Setelah tiba di Kalimantan, oleh Raden Paku barang-barang tersebut tidak dijual secara kontan melainkan dihutangkan dalam tempo sepuluh hari. Karena merasa bertanggung jawab dengan barang-barang dagangan ini, Abu Hurairah merasa khawatir karena kebanyakan penduduk setempat kurang dapat dipercaya. Selain itu sebagian barang-barang yang ada oleh Raden Paku dibagikan kepada penduduk setempat yang tidak mampu.

Melihat tindakan Raden Paku yang demikian Abu Hurairah berkata
“Raden, bagaimana nanti bila Nyai Ageng memarahi saya karena tindakan Raden Paku ini ?”

“Tenanglah paman, semua ini menjadi tanggung jawabku” jawab Raden Paku dengan tenang.

“Bagaimana nanti bila saya dipecat?” Tanya Abu Hurairah dengan penuh rasa cemas.

“Kujamin paman tidak akan dipecat.” Jawab Raden Paku untuk menghilangkan kecemasan Abu Hurairah.

Setelah tiba masa pembayaran barang-barang yang dihutangkan tersebut, tidak ada satupun orang yang kelihatan batang hidungnya, alias tidak ada yang membayar. Sementara Abu Hurairah semakin cemas dibuatnya, sebab ia merasa khawatir bila nanti dimarah Nyai Ageng. Namun Raden Paku tetap tenang, dan dalam hati berkata “Jika begini keadaannya, berarti kekayaan ibuku selama ini tidak bersih, alias masih tercampur dengan harta fakir miskin. Biarlah orang-orang tidak ada yang membayar, itu sebagai zakat yang harus dikeluarkan oleh ibuku”.

“Jika begini keadaannya, tak urung nanti kita dimarahi oleh Nyai Ageng” kata Abu Hurairah. “Tapi bagaimana kita pulang dengan perahu-perahu kosong, bias-bisa nanti perahu menjadi oleng bila diterjang badai, dan kita semua bisa mati tenggelam”. Ucap Raden Paku.

Dalam keberangkatan pulang ke Gresik, Raden Paku menyuruh Abu Hurairah dan anak buahnya untuk mengisi perahu-perahu dengan pasir pantai. Abu Hurairah tidak membantah, dia hanya menggerutu dalam hati, karena apa yang dilakukan oleh Raden Paku itu hanya pantas dikerjakan oleh orang-orang yang tidak waras.

Setibanya di Gresik, hati Abu Hurairah ketar-ketir takut kalau Nyai Ageng marah. Benar dugaan Abu Hurairah si janda kaya itu marah setelah diberi penjelasan oleh Abu Hurairah.

“Cepat panggil Paku kemari” bentak Nyai Ageng.

Raden Paku segera menghadap dan langsung bersimpuh dihadapan ibunya. Nyai Ageng marah-marah terhadap Raden Paku. Namun Raden Paku bersikap tenang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ibunya. Baru setelah ibunya selesai menumpahkan kemarahannya, Raden Paku angkat bicara.

“Wahai ibu, jangan terburu marah, lebih baik lihat dulu sesungguhnya apa isi ketiga perahu tersebut” ujar Raden Paku dengan santun terhadap ibu angkatnya.

“Apa yang harus dilihat, bukankah perahu-perahu itu kau isi dengan pasir laut, Abu Hurairah tidak pernah berbohong kepadaku. Cepat buang pasir itu” Kata Nyai Ageng dengan marah.

“Tenanglah bu, tenanglah, sebaiknya kita lihat dulu apa isinya perahu-perahu tersebut” Kata Raden Paku dengan penuh sopan.

Akhirnya Nyai Ageng menurut apa yang dikatakan Raden Paku. Dia naik keatas perahu dan memeriksa isi karung tersebut. Dengan terkejut ternyata karung-karung tersebut berisikan barang dagangan yang sangat dibutuhkan orang-orang Gresik. Melihat hal demikian, Nyai Ageng segera minta maaf kepada Raden Paku. Sejak saat itulah Nyai Ageng sadar bahwa anaknya telah memiliki karomah yang luar biasa. Dia yakin anaknya nanti akan menjadi orang yang sangat berpengaruh seperti halnya Sunan Ampel. Setelah peristiwa itu, Nyai Ageng insyaf.

Dia menjadi orang yang lebih taat dan patuh terhadap segala perintah agama. Sedang Raden Paku sendiri lebih giat dalam menyebarkan agama islam dengan dukungan Sunan Ampel dan bantuan Sunan Bonang. Sehingga agam Islam tersebar luas di wilayah Gresik dan sekitarnya.

Demikianlah keajaiban karomah Sunan Giri dengan izin alloh, karung-karung yang tadinya di isi pasir laut bisa berubah menjadi barang dagangan yang sangat dibutuhkan dan dengan peristiwa itu dapat menyadarkan ibunya yang tadinya pelit.

MENIKAH DUA KALI DALAM SEHARI

Suatu hari, Ki Ageng Mahmudin ini berniat menikahkan putrinya namun masih kesulitan untuk mencari siapa pasangan yang cocok. Hingga, akhirnya, Ki Ageng ini berucap sayembara. Uniknya, sayembara itu tidak diumumkan melainkan diucapkan dalam hati.

Untuk mencari siapa gerangan jodoh putrinya, Ki Ageng menghanyutkan buah delima di bantaran Kalimas. Saat ini sungai tersebut masih ada yakni berada di kawasan Jalan Darmo Kali. "Siapa yang menemukan buah delima itu, jika laki-laki akan diambil menantu menikah dengan Siti Wardah," begitu kira-kira nazar Ki Ageng Bungkul.

Kebetulan di bagian Hilir Kali Mas (saat ini kira-kira berada di Kawasan Jalan Pegirian) seorang santri Sunan Ampel sedang mandi dan menemukan buah delima tersebut. Santri itu kemudian menyerahkan buah delima kepada Sunan Ampel karena sebagai santri sangat terlarang memakan buah yang tidak diketahui asal usulnya. Hingga akhirnya, Sunan Ampel pun menyimpan buah delima tersebut.

Keesokkan harinya, Ki Ageng Mahmudin menelusuri sungai dan dijumpai sejumlah santri Sunan Ampel sedang mandi. Ia yakin, yang menemukan buah delima itu adalah salah satu dari santri ini. Hingga akhirnya, Ki Ageng Mahmudin menemui Sunan Ampel untuk menanyakan ikhwal buah delima itu.

Ki Ageng bertanya kepada Sunan Ampel apakah ada di antara para santri yang menemukan buah Delima yang hanyut di Sungai itu. Kontan saja, Sunan Ampel menjawab ada. Bahwa yang menemukan adalah Raden Paku. Raden Paku sendiri adalah anak Sunan Giri dan merupakan anggota Wali Songo yang memangku Giri Kedaton, Gresik.

Maka Ki Ageng akhirnya menyampaikan nazarnya bahwa yang menemukan buah tersebut harus dinikahkan dengan putrinya, Siti Wardah. Karena nazar bersifat wajib dilaksanakan, maka Raden Paku harus menikah dengan Siti Wardah.
Pada keesokan harinya, dan pada hari itu juga Raden Paku menikah dengan Dewi Murtasiah putri Sunan Ampel.

MAMPU MENAKLUKKAN SEORANG BEGAWAN

Kurang lebih tiga tahun lamanya Sunan Giri mendirikan pondok pesantren yang terletak di gunung giri, termasyurlah nama pondok itu ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Dan dalam pada itu, tersebutlah di Gunung Lawu terdapat sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang Begawan sakti bernama Minto Semeru. Konon kabarnya Begawan Minto ini sangat sakti.

Suatu ketika Begawan Minto semeru mendengar nama Sunan Giri yang baru mendirikan padepokan di Gunung Giri. Mendengar hal ini, Begawan Minto merasa tersaingi, karena itu berangkatlah Begawan Minto ke padepokan Giri. Pada saat Begawan Minto tiba, Sunan Giri sedang mengerjakan sholat. Dia hanya bertemu dengan salah satu muridnya yang menjaga pintu gerbang padepokan Giri.

“Dapatkah aku bertemu dengan Sunan Giri?”, Tanya sang Begawan.
“Siapakah tuan ini, dan dari mana asalnya?”, Tanya si penjaga gerbang.
“Katakan aku ingin bertemu dengan pemimpin padepokan ini”, ujar Begawan Minto tidak serantan.
“Kanjeng Sunan sedang Sholat” sahut penjaga pintu.

“Sudah cepat katakan ada tamu dari jauh ingin bertemu” ujar sang Begawan.
Akhirnya penjaga pintu gerbang itu segera menemui Kanjeng Sunan di tempat sholat. Kebetulan kanjeng sunan sudah selesai sholat.

“Ada apa muridku?” Tanya Kanjeng Sunan.
“Ada seorang tamu dari jauh ingin bertemu dengan Kanjeng Sunan” jawab muridnya dengan santun.
“Suruh dia masuk” ujar Kanjeng Sunan.

Akhirnya murid Kanjeng Sunan tersebut menemui sang Begawan tersebut seraya mengajaknya masuk kedalam lingkungan pesantren. Sementara Sunan Giri menyambut kedatangannya dengan ramah, sedikitpun tak ada kecurigaan bahwa kedatangan sang Begawan untuk mengajak adu kesaktian.

“Kisanak ini berasal dari mana?” Tanya Kanjeng Sunan seraya hendak berkenalan.
“Namaku Begawan Minto Semeru, datang dari Gunung Lawu. Aku mendengar berita bahwa tuan adalah guru besar padepokan Gunung Giri, seorang guru sakti berilmu tinggi. Terus terang saja, kedatanganku kemari ingin mencoba kesaktian tuan guru” ujar Begawan Minto dengan mantap.
“Mencoba kesaktianku?” Tanya Kanjeng Sunan.

“Ya, bila nanti aku yang kalah, aku bersedia mengabdi kepada tuan guru sebagai murid. Dan bila tuan guru yang kalah, maka akan kupenggal leher tuan guru agar di tanah Jawa ini tidak ada seorang pun yang dianggap sakti kecuali aku” kata Begawan Semeru dengan yakin.

“Ketahuilah kisanak, bahwa semua yang ada dialam semesta ini adalah kepunyaan Allah, dia Maha Kuasa lagi Maha Sakti. Karena itu jika kisanak hendak mengalahkan aku dan memenggal leherku, maka jika Tuhan tidak menghendaki, sejuta orang seperti kisanak pun tidak akan mampu melaksanakannya”, ujar Kanjeng Sunan dengan sopan.

“Jelasnya tuan guru telah menerima tantanganku”, ujar Begawan Minto.
“Silahkan bila tuan ingin mencoba ilmu ciptaan Tuhan kepadaku”, sahut Kanjeng Sunan.

Kedua orang itu kemudian keluar dari lingkungan Pesantren menuju lapangan luas dan saling berhadapan.
“Sebelum memulai pertarungan, marilah kita main tebak dahulu, aku akan mengubur binatang di atas Gunung Pertukangan, tuan tinggal menebak binatang apa yang aku kubur itu?”, kata sang Begawan sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Silakan”. Sahut Kanjeng Sunan.
Dengan gerakan cepat, Begawan Minto Semeru melesat menuju Gunung Pertukangan. Di sana dia menciptakan dua ekor angsa, jantan dan betina, lalu kedua angsa itu dikubur hidup-hidup. Setelah selesai dia kembali ke tempat semula Kanjeng Sunan berada.

“Nah, binatang apa yang saya kubur di gunung itu tuan guru?” Tanya sang Begawan serasa mengejek.
“Yang tuan kubur itu adalah sepasang ular naga” jawab Kanjeng Sunan kalem.
Serentak Begawan Minto tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban sunan seraya berkata “tebakan tuan salah, salah besar”. Selanjutnya sang Begawan berkata ”yang saya kubur adalah sepasang angsa”.
“Apa tuan tidak salah lihat, sebaiknya tuan kembali dan bongkarlah apa yang tuan kubur itu”. Kata Kanjeng Sunan meyakinkan.

“Justru tuanlah yang harus melihatnya, agar tuan menerima kekalahan tuan, sahut sang Begawan.
“Kalau begitu marilah kita lihat bersama-sama” kata Kanjeng Sunan.
Hanya beberapa kejap mata, kedua orang itu tiba di Gunung Pertukangan. Begawan Minto Semeru membongkar binatang ciptaannya yang dikubur itu. Tiba-tiba keluarlah sepasang ular naga. Sang Begawan terkejut seraya bergumam “Kali ini aku kalah, tapi awas untuk yang kedua kalinya”.

Berkali-kali sang Begawan mengeluarkan ilmu kesaktiannya, dan berkali-kali pula ia tidak dapat mengalahkan ilmu Kanjeng Sunan, hingga akhirnya sang Begawan mengeluarkan ilmu andalannya.

Sang Begawan melepaskan ikat kepalanya, lalu dilemparkan ke udara dengan ilmu andalannya, ikat kepala itu melesat ke udara dengan kecepatan yang sulit dipandang mata. Namun Kanjeng Sunan tidak tinggal diam, dilemparkan pula sorbannya dan melesat ke udara memburu ikat kepala sang Begawan. Sorban Kanjeng Sunan dapat menyusul ikat kepala sang Begawan bahkan dapat menumpangi ikat kepala Begawan Minto Semeru.

Dengan lambaian tangan Kanjeng Sunan, kedua benda itu meluncur kebawah, dan tepat jatuh dihadapan sang Begawan. Sorban Kanjeng Sunan tetap berada diatas, sementara ikat kepala sang Begawan berada di bawah. Hal tersebut menandakan bahwa sang Begawan tetap kalah. Sang Begawan semakin penasaran, dicobanya adu kesaktian sekali lagi. Sang Begawan menciptakan beberapa butir telur. Telur-telur itu disusunnya dari bawah ke atas.

Anehnya, telur-telur itu tidak jatuh. Melihat permainan itu, Kanjeng Sunan tidak mau kalah. Telur-telur itu diambilnya satu persatu dari bawah, dan lebih aneh lagi, telur-telur itu tidak jatuh ke bawah hingga telur itu dapat diambil semuanya.
Dengan diliputi rasa malu di hadapan para penonton, akhirnya sang Begawan Minto mengajak duel Kanjeng Sunan dengan jurus-jurus pamungkas.

Setelah keduanya siap, mulailah sang Begawan menyerang Kanjeng Sunan dengan jurus-jurus andalannya. Secepat kilat pukulan sang Begawan menghantam Kanjeng Sunan, secepat kilat pula Kanjeng sunan mengembalikan pukulan itu kepada sang Begawan dengan dorongan telapak tangannya. Tak ayal lagi pukulan itu mengenai sang Begawan sendiri. Sesuai dengan janji, akhirnya sang Begawan mengaku kalah dan berlutut dihadapan Kanjeng Sunan seraya meminta maaf atas kesombongannya.

“Kali ini kuserahkan jiwa ragaku kepada Kanjeng Sunan, aku bersedia menjadi murid Kanjeng Sunan” kata Begawan Minto Semeru.
“Soal itu mudah, yang penting tuan kenali dulu ajaran agama islam” kata Kanjeng Sunan.

“Semula aku berjanji, jika aku yang kalah, aku bersedia menjadi murid Kanjeng. Dan itu berarti aku harus belajar ilmu-ilmu yang Kanjeng miliki” sahut Begawan Minto Semeru.

Demikianlah hasil adu kesaktian sang Begawan Minto Semeru dengan Kanjeng Sunan Giri yang dimenangkan oleh Kanjeng Sunan Giri dan akhirnya Begawan Minto Semeru menjadi murid Kanjeng Sunan Giri.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Giri, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Drajat (Raden Qosim) Walisongo

Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam ia menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Berikut ini adalah beberapa kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat (Raden Qosim) :

DISELAMATKAN OLEH IKAN TALANG DAN CUCUT


Pada waktu Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia emban, walau hati menyanyikannya, berat suci menegakkan kalimat Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke dusun barat Gresik, ada ada dearah yang menunggu kerja dakwahmu, titah Sunan Ampel kepada putranya yang sebahu muridnya itu. Raden Qosim berbakat, ia pun berkemas untuk berangkat.

Dengan menumpang wisatawan dari Raden Qosim berlayar, ia berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, harus dilakukan dengan amanah. Segala rintangan yang akan menghadang akan di hadapinya dengan hati tabah.

Angin yang baik akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa Cuaca akan memburuk, tetapi laut memang menyimpan seribu misteri, dan manusia hanya bisa menganggap-duga. Saat berada di tengah-tengah rimba lautan, tiba-tiba tiba-tiba muncul badai yang sangat dahsyat, biduk itu terombang-ambing, dipermainkan ombak tanpa ada daya sedikitpun, terang saja biduk itu menjadi seperti korek api dalam aliran sungai, diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.

Akhirnya sebuah pulau membuat perahu itu hancur berkeping-keping, sang nelayan terlempar tak kenal nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Beberapa saat lamanya di tengah gemuruh badai yang mengamuk, Raden Qosim bertahan dengan hari itu, sampai kemudian pertolongan yang tak di duga-duga datang menghampiri.

Seekor ikan Talang tiba-tiba tiba-tiba muncul dan berenang Raden Qosim, putra Sunan Ampel yang mulai di dera kepanikan ini segera menemukan bahwa ikan yang dikirim Allah swt untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk di naiki Raden Qosim. Pria berhati lembut itu dengan senang hati menaikinya.


Konon, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, ikan Cucut juga mempersilahkan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai. Tak Terkadang Lama Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah karomah paling masyhur Raden Qosim yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus yang juga ditimpa badai, ikan Paus kemudian menelan Nabi Yunus, namun ia tetap selamat sampai di bawa ke tepi pantai.

Kisah penyelamatan ikan ini dilakukan pada tahun 1485 M. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, yaitu mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk islam dan melayani dia membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.

Sebuah surau kemudian didirikan oleh Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya, surau yang di dirikan pria yang berhati lembut itu seperti memanggil orang-orang untuk mengenal Allah swt dan agamanya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pesantren.

MAMPU MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT

Desa Drajat adalah daerah terpencil, yang memilih desa yang tinggi dataran itu. Raden Qosim mendapat petunjuk melalu mimpi. Dalam mimpinya Sunan Drajar bertemu dengan Sunan Giri yang mengambarkan dirinya membuka sebuah komunitas islam baru di sisi selatan perbukitan di desa Drajat. Daerah yang ditunjuk Sunan Giri ternyata adalah hutan angker, tidak ada orang yang berani menginjakkan umpan disana.

Pembukaan hutan itupun diwarnai dengan hal-hal gaib. Konon, penghuni hutan marah dan mendatangkan balak berupa penyakit pada penduduk. Mungkin Sunan Drajat yang ikhlas dapat lolos ujian itu dengan baik. Hutan angker itu diubah menjadi pusat penyebaran islam di tendai dengan berdirinya sebuah masjid. Permukiman baru pun di bangun.

Karomah Sunan Drajat sebagai wali yang dikaruniai kesaktian dan ilmu penyembuhan memang terkenal sampai ke seantero negeri. Kerap ia dipenggil untuk melatih orang yang sedang tertimpa sakit. Kelembutan stres dan pengetahuannya terhadap ramuan-ramuan dari akar dan daun-daunan membuat semua penyakit bisa disembuhkan. Tak lupa ia selalu berpesan untuk si pasien agar selalu berdoa dan tidak meninggalkan shalat.

MEMINDAHKAN MASJID DALAM WAKTU SEMALAM

Suatu ketika Sunan Sendang Dhuwur mendatangi Sunan Drajat. Dia menyampaikan keinginannya agar bisa mempunyai masjid di Desa Sendang Dhuwur. Kemudian Sunan Drajat merekomendasikan agar dia meminta Masjid Mbok Rondo Manthingan.

Masjid tersebut merupakan milik bangsawan Jepara. Datanglah Sunan Sendang Dhuwur ke Jawa Tengah, tempat masjid indah itu berada. Dia berterus terang dan meminta pada Mbok Rondo Manthingan agar masjid itu bisa dibawanya pulang.

Mbok Rondo Manthingan atau Nimas Ratu Kalinyamat membolehkan Sunan Sendang Dhuwur meminta masjid miliknya. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut ialah masjid tersebut harus sudah dipindahkan dalam waktu semalam. Selain itu, ketika memindah masjid, tidak boleh ada secuil pun serpihan bangunan yang tercecer di jalan.

“Iya, atas bantuan Allah masjid itu pindah gitu aja ke Sendang Dhuwur,” kata penjaga museum Sunan Drajat, Nurhayati di Museum Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Lantas Sunan Sendang Dhuwur senang bukan kepalang. Kemudian dalam waktu tak sampai semalam, masjid tersebut sudah tertancap kuat di tanah Desa Sendang Dhuwur.

Esok harinya masyarakat terkaget, bagaimana bisa ada masjid yang kemarin tak ada. Mereka terkesima dan terheran-heran dengan adanya masjid dadakan itu. Kemudian mereka mempergunakan masjid tersebut untuk salat dan berbagai kegiatan umat Islam yang lain.

MENGAMBIL BUAH DENGAN MENEPUK POHONNYA

Terdapatlah seorang sakti yang di Tanah Jawa bernama Raden Noer Rahmad. Sunan Drajat penasaran dengan kesaktian Raden Noer Rahmad yang sudah populer di kalangan masyarakat. Dia berniat mengujinya. Pergilah ia dengan para pengawalnya ke Kampung Patunon.

Ketika sudah bertemu dengan Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat meminta izin untuk menikmati air nira dan buah siwalan. Dia ingin mengambilnya sendiri. Dengan senang hati Raden Noer Rahmad mempersilakan.

“Itu pohonnya diketuk tiga kali, langsung buahnya jatuh sendiri. Seluruh buah di pohon itu yang jatuh enggak tersisa,” ungkap juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Setelah buahnya berjatuhan, Raden Noer Rahmad bukannya heran akan tetapi dia malah geram. Raden tersebut berkata pada Sunan bahwa jika cara mengambilnya semacam itu, maka anak cucu kita kelak tak akan bisa menikmati buah siwalan dan air legen. Pasalnya Sunan telah menjatuhkan seluruh buah dari tiap pohon siwalan.

Setelah itu Raden Noer Rahmad menghampiri salah satu pohon siwalan. Dia mengelus pohon itu sebanyak tiga kali. Seketika pohon siwalan tersebut merunduk di hadapannya. Kemudian Sunan Drajat diminta untuk mengambil air legen dan buah siwalan sebanyak yang dibutuhkan saja. Setelah buah dipetik, pohon itu kembali tegak seperti sediakala.

Akhirnya Sunan Drajat menyaksikan sendiri kesaktian yang dimiliki Raden Noer Rahmad. Atas ujian yang mampu dilewati oleh Raden Noer Rahmad tersebut, Sunan Drajat memberinya gelar sebagai Sunan Sendang Duwur.

Kejadian ini membuat keduanya kompak, dalam banyak hal akhirnya Sunan Sendang Duwur membantunya. Dulu Desa Patunon lebih sering disebut Sendang Duwur oleh masyarakat. Kini desa tersebut menjelma menjadi sebuah pemukiman yang semakin padat penduduk sehingga membutuhkan ulama lain yang dapat membantu Sunan Drajat.

Tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam di Lamongan kemudian tidak hanya dipegang Sunan Drajat semata, tetapi juga Sunan Sendang Duwur.

TEMBANG PANGKUR

Sunan Drajat biasa menyampaikan ajaran Islam melalui tembang Pangkur. Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi Isine Quran . Dalam hal ini bisa diartikan sebagai upaya untuk sungguh-sungguh untuk mendalami makna Alquran. Tembang tersebut biasa dinyanyikan bersama alunan gamelan Singo Mengkok miliknya.

Banyak yang menyebut gamelan tersebut mengandung kekuatan magis. Apalagi jika disatukan dengan bacaan tembang Pangkur.

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang penjahat sakti bernama Duratmoko. Tingkah lakunya sering merugikan dan meresahkan masyarakat, akhirnya Sunan Bonang berniat memberi pelajaran pada berandal tersebut. Apalagi Duratmoko selama ini tidak mau mengakui perbuatan buruk yang dia lakukan pada masyarakat.

Sunan Drajat mengutus para pengawalnya untuk menangkap Duratmoko. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil membawa Duratmoko ke hadapan Sunan Drajat.

Kepada Duratmoko Sunan Drajat justeru menyanyikan tembang Pangkur diiringi lantunan suara gamelan Singo Mengkoknya.

“Kanjeng Sunan Drajat waktu itu menyampaikan pitutur melalui tembang Pangkur. Sederhana memang saran beliau sampaikan melalui lirik dan diiringi alat musik,” ujar juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ketika ditemui di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Namun Duratmoko masih membisu, tidak mau mengakui kesalahannya. Akhirnya tembang Pangkur dinyanyikan lebih keras. Temponya dibuat lebih cepat.

Isi tembang tersebut kurang lebih mengenai saran untuk jadi penolong bagi sesama. Hidup tidak boleh menyakiti dan memeras orang lain. Kita harus saling berdampingan tolong-menolong. Alunan tembang Pangkur dan gamelan Singo Mengkok akhirnya membuat Duratmo menyerah.

“Dia seperti kesurupan. Karomah Kanjeng Sunan Drajat menembus sukanya. Akhirnya dia jera dan mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian meminta maaf kepada Kanjeng Sunan dan masyarakat,” ungkapnya.

Berandal yang gagah perkasa itu takluk. Dia meminta ampun dan meminta dijadikan pemeluk Islam. Akhirnya Duratmo menjadi murid Sunan Drajat. Duratmo kemudian diberi Sunan Drajat nama menjadi Ki Sulaiman.

Namun tak lama setelah kejadian itu, Ki Sulaiman jatuh sakit. Dalam keadaan koma dia meminta agar ketika dia meninggal nanti, dia berharap ada yang membiarkan penutup kepalanya terbuka. Bagi Ki Sulaiman, dia ingin agar masyarakat tahu bahwa sekuat apapun berandal pasti akan takluk juga di hadapan Allah, di hadapan kematian.

MEMBUAT MATA AIR ABADI

Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi.

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim) Walisongo

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura.

Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Berikut ini adalah beberapa kisah karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim) :

MEMILIKI TONGKAT SAKTI (MERUBAH BUAH AREN JADI EMAS)


Sunan Bonang Merupakan Guru dari Sunan Kalijaga yang kala itu awal pertemuannya adalah sebagai perampok. Raden Said ingin merampok Tongkat Sunan Bonang yang berlapis emas. Namun ternyata karomah Sunan Bonang yang satu itu jauh lebih hebat dari apapun.

Tongkat Sunan Bonang memang sangat sakti, beliau bahkan bisa mengubah benda apa saja menjadi emas berlian. Tongkat tersebut berlapis emas, dan membuat siapa saja tergiur untuk memiliki tongkat sakti itu termasuk Raden Said. Awal pertemuan mereka adalah di Hutan.

Melihat Tongkat berlapis emas, tentunya Raden Said ingin mengambil paksa tongkat tersebut dari tangan Sunan Bonang. Dengan sekali tunjung buah kolang kaling yang ada di hadapan Sunan Bonang, seketika itu pula buah kolang kaling pun berubah menjadi segerombolan emas.

Ternyata, kesaktian Tongkat Sunan Bonang terletak pada hati sang Sunan yang memang sangat suci, ketaatan, keimanan dan ketaqwaan Sunan Bonang pada Allah SWT sangatlah luar biasa. Dan ini membuat beliau dikaruniai ALLAH berupa karomah. Karomah yang bisa mengubah apa saja menjadi emas. Andaikata Tongkat sakti itu dipegang selain Sunan Bonang tentu saja serta merta kekuatannya akan hilang. Tongkat itu tak lagi bisa mengubah benda menjadi emas.

Melihat kesaktian sang Sunan melalui Tongkat Sunan Bonang, seketika itu juga Raden Said menyatakan bahwa dirinya siap menjadi murid sang Sunan. Sunan Bonang memang tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah. Karena ibadah dzikir beliau inilah yang membuat Allah menurunkan rof rof satir emas dari langit ke tujuh kepada Sunan Bonang.

Selain tongkat Sunan Bonang, sebenarnya hati sang Sunan itulah yang mampu mengubah segalanya jadi emas. Karomah yang sangat berharga bagi beliau adalah emasnya budi pekerti, adab, tata krama terhadap Allah dan terhadap sesama makluk Allah. Karomah ini yang sering kita lupakan dari sosok Aulia Sunan bonang dan wali songo lainnya.

MENGALAHKAN SEORANG BRAHMANA


Cerita lain mengisahkan seorang brahmana bernama Sakyakirti yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.

“Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian,” sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.

“Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya,” sumpah sang Brahmana.

Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di Perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat.

Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya.

Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut.

Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.

Walaupun pada akhirnya dia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah ikut tenggelam ke dasar laut.

Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.

Dia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Dia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang.

Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan dia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sambil membawa tongkat.

Dia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?” tanya sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu.

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan,” jawab sang Brahmana.

“Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan,” kata sang Brahmana.

Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?,” tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Sementara itu para murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja meminum air jernih yang memancar itu.

Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.

“Segar…Aduuh…segarnya…” seru murid-murid sang Brahmana.

Brahmana Sakyakirti termenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Dia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.

Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.

Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.

Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir.

Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.

Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati. Dengan perasaan takut dan was-was, dia menatap wajah lelaki berjubah itu.

“Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?,” gumannya dalam hati.

Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?,” tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.

“Tuan berada di Pantai Tuban,” jawab lelaki berjubah putih itu.

Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.

“Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku. Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung,” kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.

“Ampun…Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya…,” ujar sang Brahmana meminta dikasihani.

“Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?,” tukas Sunan Bonang.

“Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya,” kata Brahmana Sakyakirti.

“Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang,” ujar Sunan Bonang.

Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama Islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan. Lalu sang brahmana dan pengikutnya menjadi murid dari Sunan Bonang.

MENAKLUKAN PEMIMPIN PERAMPOK

Sunan Bonang menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat.

Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh Kebondanu dan anak buahnya, Sunan Bonang hanya memperdengarkan tembang Dharma ciptaannya.

Seketika itu juga Kebondanu dan seluruh anak buahnya tidak dapat bergerak. Kaki dan tangan serta seluruh anggota badannya terasa kaku, tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu para perampok tersebut tidak dapat berbuat lain kecuali berteriak minta ampun kepada Sunan Bonang. ”Ampun… hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,” begitu konon kata Kebondanu.

Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Bonang.

MENENDANG KAPAL LAUT SAUDAGAR CHINA HINGGA HANCUR

Dahulu kala, ada seorang saudagar kaya yang bernama Dampo Awang yang berasal dari China.

Dia ingin pergi tanah Jawa untuk mengajarkan ajaran Khong Hu Cu bersama para pengawal setianya. Suatu hari, dia sampai di tanah Jawa bagian timur.

Dampo Awang sangat senang akan daerah itu sehingga bermaksud untuk berlabuh di sana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Kemudian Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang.

Dampo Awang takut jika ajaran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama Islam.

Kemudian Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang, tetapi dengan mudah Sunan Bonang dapat mengalahkan pengawal-pengawal termasuk Dampo Awang.

Lalu Dampo Awang pulang ke negeri China untuk menyusun stategi dan kekuataan baru. Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah Jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Pada saat sampai di tanah Jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk di daerah itu sudah menganut agama Islam.

Dampo Awang marah lalu mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak bisa menahan amarahnya ketika bertemu dengan Sunan Bonang, sehingga dia langsung menyerangnya lebih dahulu.

Tetapi Sunan Bonang tetap bisa mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya. Kemudian Dampo Awang diikat di dalam kapalnya, lalu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh bagian kapal tersebar kemana-mana.

Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “Kerem (Tenggelam)”, sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “Kemambang (Terapung)”.

Kemudian lambat laut, masyarakat menyebut Rembang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya, daerah tersebut dinamakan Rembang yang sekarang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah.

Jangkarnya, sekarang ada di Taman Kartini, sedangkan layar kapalnya berada di Batu atau biasanya sering disebut “Watu Layar” dan kapalnya konon menjadi Gunung Bugel yang berada di Kecamatan Pancur, karena bentuknya menyerupai sebuah kapal besar.

MAKAM SUNAN BONANG TIDAK MEMPAN DIBAKAR DAN MEMBAWA BERKAH

Komplek Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur yang di bangun tahun 1525 M diceritakan secara turun menurun menyimpan berbagai keajaiban. Salah satu keajaiban itu adalah tidak mempan dibakar meski sudah terbakar sebanyak dua kali.

“Kejadian mistis itu biasa. Pernah dibakar zaman Gestapu awalnya api kelihatan besar. Setelah itu padam sendiri dan enggak ada bekas terbakar,” ungkap Juru Kunci Makam Sunan Bonang Abdul Muchith ketika di temui di kompleks makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Selain itu, tahun 2013 silam. Ada orang berkelainan mental masuk ke dalam kompleks makam dan menumpahkan emosinya di sana.

“Dua tahun yang lalu dibakar orang gila. Bakarnya pakai minyak tanah. Tapi anehnya tidak terbakar,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Abdul Muchith dulu di bagian belakang makam Sunan Bonang tumbuh pohon besar sekali. Posisi pohon itu hingga menjangkau tepat di atas cungkup makam. Namun ketika musim hujan lebat, angin membuat pohon itu tumbang.

“Waktu ada puting beliung, kok bisa pohonnya malah roboh menjauhi makam,” ujarnya.

Ada pula cerita seseorang yang bernazar akan ziarah ke makam Sunan Bonang jika anaknya sembuh dari penyakit keras. Kejaiban mendadak datang selang tak lama dari waktu dia bernazarnya.

“Kalau sembuh dari kanker otak bakal diajak ziarah ke makam Sunan Bonang. Enggak lama ternyata sembuh. Ibunya cerita ke saya waktu mampir sini,” tuturnya.

Selain itu pernah ada juga orang dari Sumatera yang dulunya sulit mendapat keturunan. Kemudian dia bernazar akan ke makan Sunan Bonang jika dihadiahi momongan. Peristiwa tersebut diketahui oleh Abdul Muchith ketika ada orang yang tiba-tiba memintanya menyembelih kambing akikah. Ternyata kambing tersebut adalah akikah dari anaknya.

WAFATNYA SUNAN BONANG

Sunan Bonang wafat karena usia lanjut saat berdakwah di Pulau Bawean pada tahun1525. Beritanya, segera tersebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di pulau tersebut.

Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah, mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan oleh orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban.

Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah mungkin karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah sedikit kisah mengenai kisah Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Kisah Kumpulan Karomah Sunan Ampel (Raden Rahmat) Walisongo

Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah Putra Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo.

Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakankeponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi).

Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.

Berikut ini adalah beberapa kisah tentang karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Ampel :

Berjalan Di Atas Air


Saat diutus Raja Brawijaya V untuk membuka lahan perdikan (otonom) itu, Raden Rahmat berangkat dari Trowulan menyusuri Sungai Brantas menuju Ujung Galuh (Surabaya). Dalam perjalanan itu, dia berhenti di Sungai Kalimas. Nah di Sungai inilah beliau menunjukkan karomah yang dimilikinya. Beliau menyeberangi Sungai ini tanpa menggunakan perahu atau alat apapun. Beliau hanya menggunakan peralatan seadanya.

Peralatan ini berupa, kayu dan batang pohon pisang lalu dirangkai dengan tangannya sendiri. Beliau memanfaatkan sampan sederhana ini untuk menyeberang. Uniknya beliau tidak basah sedikitpun meski sampan yang digunakan sangat sederhana dan banyak kebocoran disana sini. Karomah Sunan Ampel ini membuat warga sekitar sungai penasaran siapakah gerangan orang sakti yang mampu menyeberangi sungai tanpa menggunakan perahu itu.

Setelah menyeberangi sunagi, Kanjeng Sunan memberitahukan kepada si laki-laki yang memberanikan diri menanyakan siapakah diri beliau sebenarnya. Beliau menyarankan kepadanya agar menggunakan akalnya dengan baik, agar memanfaatkan karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala dalam rangka ibadah kepada-Nya.

Kisah Ayam Jago

Dalam perjalanannya membuka lahan kosong menjadi sebuah pemukiman, Sunan Ampel bertemu dengan banyak warga yang masih belum beriman kepada ALLAH. Warga di sekitar daerah itu ternyata masih sangat abangan (pengetahuan agama nya sangat rendah). Saat itu warga sekitar banyak penjudi dan penganut kepercayaan animisme serta doyan dengan namanya sabung ayam.

Dari sini kembali karomah Sunan Ampelditunjukkan. Beliau ditantang oleh warga sekitar yang suka main judi untuk beradu ayam jago. Sunan Ampel pun selalu menang dalam pertarungan sabung ayam Karena ayam jago yang beliau miliki bukan ayam jago biasa. Terus menang dalam setiap pertandingan, membuat Sunan Ampel disegani oleh warga sekitar. Melihat kehebatan sang Sunan warga kemudian menyatakan taubat dan beriman kepada Allah.

Masjid Perahu Terbalik

Melihat kondisi masyarakat peneleh itu, Sunan Ampel memutuskan untuk mendirikan masjid. Tujuannya agar bisa merangkul mereka ke jalan yang lebih baik. Memang sejak kedatangan Raden Rahmatullah di desa Peneleh, beliau selalu melihat situasi di Peneleh hingga akhirnya menetap di sekitar Peneleh sekaligus mensyiarkan ketauhidan ajaran Allah.

Kehebatan Sabung Ayam yang ditunjukkan Sunan Ampel dengan karomah yang dimilikinya membuat warga semakin tunduk dan segan pada beliau. Kemudian, setiap hari masyarakat terus mengikuti dirinya. Seiring berjalannya waktu juga diajarkan tentang keimanan dan tata cara beribadah yang benar. Di tempat itu pula didirikan langgar atau surau untuk tempat ibadah.

‎Sunan Ampel mengajarkan tata cara beribadah yang benar. Termasuk meninggalkan kebiasaan berjudi dan sabung ayam. Jika dilihat dari atas, Masjid Jami Peneleh ini mirip seperti perahu terbalik yang menghadap ke arah barat. Maknanya, mengajak masyarakat untuk beribadah (salat) ke arah kiblat (Mekah).

Memanggil Mbah Soleh Yang Sudah Wafat Bisa Hidup Lagi

Mbah Sholeh memang sangat terkenal sebagai sosok yang biasa menjaga kebersihan. Hal itu banyak diakui teman sesama santri dan juga Sunan Ampel, gurunya sendiri.

Hingga suatu hari ajal datang menjemput Mbah Sholeh. Jasadnya kemudian dimakamkan di samping masjid. Sepeninggal Mbah Sholeh, Sunan Ampel tak juga menemukan sosok pengganti yang bisa serajin Mbah Sholeh. Masjid jadi kurang terurus dan kotor. Saat itulah Sunan Ampel tiba-tiba ingat dengan Mbah Sholeh dan bergumam dalam hari. "Kalau Mbah Sholeh masih ada, masjid pasti bersih," gumam Sunan Ampel.

Seketika itu tiba-tiba sosok serupa Mbah Sholeh muncul dan menjalankan rutinitas yang biasa dilakukan Mbah Sholeh, yakni membersihkan masjid. Tapi tak lama sosok itu meninggal lagi dan dimakamkan di samping makam Mbah Sholeh sebelumnya.

Peristiwa tersebut terulang hingga sembilan kali. Menurut cerita, Mbah Sholeh baru benar-benar meninggal setelah Sunan Ampel wafat. Setiap meninggal, Mbah Sholeh selalu dimakamkan di samping makam yang sebelumnya. Karena meninggal hingga 9 kali, maka makamnya yang ada di samping Masjid Ampel pun ada 9.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang dimiliki oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, April 12, 2017

Kisah Sunan Bonang lengkap, Walisongo


Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga


Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.


Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.

Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.

                Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Beliau adalah putera Sunan Ampel yang beristri Nyai Ageng Manila seorang putera Arya Teja, salah seorang Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban dan sekitarnya. Menurut sejarah wali songo Sunan Bonang lahirh pada tahun 1465 dan wafat pada tahun 1525. Semasa hidupnya Sunan Bonang menyebarkan Agama Islam di daerah pesisir Jawa Timur sekitar Tuban sampai perbatasan hingga ke daerah Lasem Jawa Tengah.
           Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Sebagai halnya Sang ayah Sunan Ampel, Sunan Bonang mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban dan mendidik murid-muridnya yang kelak juga ikut menyebarkan Agama Islam ke pelosok Pulau Jawa. Konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama nama nahas/sial, nama dewa-dewa menurut kepercayaan Hindu menjadi nama-nama malaikat serta nabi-nabi.Hal ini dimaksudkan untuk mendekati rakyat Jawa waktu itu dan mengenalkan ajaran baru sehingga memeluk Islam. Desa Bonang sebagai salah satu tempat wisata ziarah Sunan Bonang terletak di Kecamatan Lasem, Rembang. Terletak di antara jalan penghubung pantura antara Lasem ke Tuban Jawa Timur.

Semasa hidupnya dikatakan Sunan Bonang pernah belajar ke Pasai. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam bangsawan dari Keraton Majapahit dan mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul murid-muridnya.Perjuangan Sunan Bonang menanamkan pengaruh ke dalam. Siasat Sunan Bonang adalah memberikan didikan Islam kepada Raden Patah putera Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit serta mendirikan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dengan Demak sebagai pusat pemerintahan Islam.

Objek wisata pantai bahari di Kabupaten Rembang antara lain memiliki hamparan pantai utara dengan panjang 60 km dengan kekayaan alam lain berupa perbukitan, hutan serta peninggalan sejarah petilasan Makam Sunan Bonang ini. Dengan potensi wisata alam Pemkab Rembang mengelompokkan daerah ini menjadi 3 sub sistem yaitu subsistem Rembang, Lasem dan Bonang. Setiap subsistem wisata budaya dan sejarah terangkai dalam kesatuan segregasi kewilayahan. Kekayaan potensi alam dan sejarah ini kini menjadi modal utama untuk pengembangan wisata.

             Kisah Sunan Bonang    Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel. Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.   Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama – Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf’ ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.  Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula. Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.                                               Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga

Untuk menjangkau objek wisata ini sangatlah mudah. Bila berkendara baik roda dua maupu empat, setelah tiba di Lasem arahkan kendaraan Anda menyusuri pantai sepanjang 5 km ke timur hingga tiba di desa Bonang yang terletak di pinggir laut. Jarak Lasem-Bonang sekitar 5 km. Subsistem Bonang misalnya memiliki objek pemandangan laut yang indah. Di samping makam Sunan Bonang ada juga makam Putri Chempa, salah seorang pengikut setia Sunan Bonang. Selain makam ada juga petilasan batu pasujudan Sunan Bonang dan Bende Beca.

Sunan Bonang wafat dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di halaman rumah kediamannya yang terletak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Sekarang situs peninggalan makam Sunan Bonang hanya berupa pelataran yang dikelilingi oleh batu bata merah. Sunan Bonang mempunyai banyak murid. Mereka berasal dari daerah yang ada di Pulau Jawa.Tetapi yang paling banyak berasal dari daerah Tuban, Rembang dan Madura. Ketika Sunan Bonang meninggal, jenazahnya menjadi rebutan murid-muridnya yang berasal dari berbagai daerah. Mereka ingin memakamkan Sang Guru di tempat masing-masing. Ketika terjadi rebutan, setiap murid merasa berhasil mendapatkan jenazah Sunan Bonang. Setelah itu mereka pulang ke daerah asal untuk memakamkan jenazah.