Showing posts with label Asal usul Sunan Drajat. Show all posts
Showing posts with label Asal usul Sunan Drajat. Show all posts

Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Drajat (Raden Qosim) Walisongo

Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam ia menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Berikut ini adalah beberapa kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat (Raden Qosim) :

DISELAMATKAN OLEH IKAN TALANG DAN CUCUT


Pada waktu Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia emban, walau hati menyanyikannya, berat suci menegakkan kalimat Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke dusun barat Gresik, ada ada dearah yang menunggu kerja dakwahmu, titah Sunan Ampel kepada putranya yang sebahu muridnya itu. Raden Qosim berbakat, ia pun berkemas untuk berangkat.

Dengan menumpang wisatawan dari Raden Qosim berlayar, ia berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, harus dilakukan dengan amanah. Segala rintangan yang akan menghadang akan di hadapinya dengan hati tabah.

Angin yang baik akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa Cuaca akan memburuk, tetapi laut memang menyimpan seribu misteri, dan manusia hanya bisa menganggap-duga. Saat berada di tengah-tengah rimba lautan, tiba-tiba tiba-tiba muncul badai yang sangat dahsyat, biduk itu terombang-ambing, dipermainkan ombak tanpa ada daya sedikitpun, terang saja biduk itu menjadi seperti korek api dalam aliran sungai, diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.

Akhirnya sebuah pulau membuat perahu itu hancur berkeping-keping, sang nelayan terlempar tak kenal nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Beberapa saat lamanya di tengah gemuruh badai yang mengamuk, Raden Qosim bertahan dengan hari itu, sampai kemudian pertolongan yang tak di duga-duga datang menghampiri.

Seekor ikan Talang tiba-tiba tiba-tiba muncul dan berenang Raden Qosim, putra Sunan Ampel yang mulai di dera kepanikan ini segera menemukan bahwa ikan yang dikirim Allah swt untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk di naiki Raden Qosim. Pria berhati lembut itu dengan senang hati menaikinya.


Konon, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, ikan Cucut juga mempersilahkan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai. Tak Terkadang Lama Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah karomah paling masyhur Raden Qosim yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus yang juga ditimpa badai, ikan Paus kemudian menelan Nabi Yunus, namun ia tetap selamat sampai di bawa ke tepi pantai.

Kisah penyelamatan ikan ini dilakukan pada tahun 1485 M. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, yaitu mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk islam dan melayani dia membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.

Sebuah surau kemudian didirikan oleh Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya, surau yang di dirikan pria yang berhati lembut itu seperti memanggil orang-orang untuk mengenal Allah swt dan agamanya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pesantren.

MAMPU MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT

Desa Drajat adalah daerah terpencil, yang memilih desa yang tinggi dataran itu. Raden Qosim mendapat petunjuk melalu mimpi. Dalam mimpinya Sunan Drajar bertemu dengan Sunan Giri yang mengambarkan dirinya membuka sebuah komunitas islam baru di sisi selatan perbukitan di desa Drajat. Daerah yang ditunjuk Sunan Giri ternyata adalah hutan angker, tidak ada orang yang berani menginjakkan umpan disana.

Pembukaan hutan itupun diwarnai dengan hal-hal gaib. Konon, penghuni hutan marah dan mendatangkan balak berupa penyakit pada penduduk. Mungkin Sunan Drajat yang ikhlas dapat lolos ujian itu dengan baik. Hutan angker itu diubah menjadi pusat penyebaran islam di tendai dengan berdirinya sebuah masjid. Permukiman baru pun di bangun.

Karomah Sunan Drajat sebagai wali yang dikaruniai kesaktian dan ilmu penyembuhan memang terkenal sampai ke seantero negeri. Kerap ia dipenggil untuk melatih orang yang sedang tertimpa sakit. Kelembutan stres dan pengetahuannya terhadap ramuan-ramuan dari akar dan daun-daunan membuat semua penyakit bisa disembuhkan. Tak lupa ia selalu berpesan untuk si pasien agar selalu berdoa dan tidak meninggalkan shalat.

MEMINDAHKAN MASJID DALAM WAKTU SEMALAM

Suatu ketika Sunan Sendang Dhuwur mendatangi Sunan Drajat. Dia menyampaikan keinginannya agar bisa mempunyai masjid di Desa Sendang Dhuwur. Kemudian Sunan Drajat merekomendasikan agar dia meminta Masjid Mbok Rondo Manthingan.

Masjid tersebut merupakan milik bangsawan Jepara. Datanglah Sunan Sendang Dhuwur ke Jawa Tengah, tempat masjid indah itu berada. Dia berterus terang dan meminta pada Mbok Rondo Manthingan agar masjid itu bisa dibawanya pulang.

Mbok Rondo Manthingan atau Nimas Ratu Kalinyamat membolehkan Sunan Sendang Dhuwur meminta masjid miliknya. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut ialah masjid tersebut harus sudah dipindahkan dalam waktu semalam. Selain itu, ketika memindah masjid, tidak boleh ada secuil pun serpihan bangunan yang tercecer di jalan.

“Iya, atas bantuan Allah masjid itu pindah gitu aja ke Sendang Dhuwur,” kata penjaga museum Sunan Drajat, Nurhayati di Museum Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Lantas Sunan Sendang Dhuwur senang bukan kepalang. Kemudian dalam waktu tak sampai semalam, masjid tersebut sudah tertancap kuat di tanah Desa Sendang Dhuwur.

Esok harinya masyarakat terkaget, bagaimana bisa ada masjid yang kemarin tak ada. Mereka terkesima dan terheran-heran dengan adanya masjid dadakan itu. Kemudian mereka mempergunakan masjid tersebut untuk salat dan berbagai kegiatan umat Islam yang lain.

MENGAMBIL BUAH DENGAN MENEPUK POHONNYA

Terdapatlah seorang sakti yang di Tanah Jawa bernama Raden Noer Rahmad. Sunan Drajat penasaran dengan kesaktian Raden Noer Rahmad yang sudah populer di kalangan masyarakat. Dia berniat mengujinya. Pergilah ia dengan para pengawalnya ke Kampung Patunon.

Ketika sudah bertemu dengan Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat meminta izin untuk menikmati air nira dan buah siwalan. Dia ingin mengambilnya sendiri. Dengan senang hati Raden Noer Rahmad mempersilakan.

“Itu pohonnya diketuk tiga kali, langsung buahnya jatuh sendiri. Seluruh buah di pohon itu yang jatuh enggak tersisa,” ungkap juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Setelah buahnya berjatuhan, Raden Noer Rahmad bukannya heran akan tetapi dia malah geram. Raden tersebut berkata pada Sunan bahwa jika cara mengambilnya semacam itu, maka anak cucu kita kelak tak akan bisa menikmati buah siwalan dan air legen. Pasalnya Sunan telah menjatuhkan seluruh buah dari tiap pohon siwalan.

Setelah itu Raden Noer Rahmad menghampiri salah satu pohon siwalan. Dia mengelus pohon itu sebanyak tiga kali. Seketika pohon siwalan tersebut merunduk di hadapannya. Kemudian Sunan Drajat diminta untuk mengambil air legen dan buah siwalan sebanyak yang dibutuhkan saja. Setelah buah dipetik, pohon itu kembali tegak seperti sediakala.

Akhirnya Sunan Drajat menyaksikan sendiri kesaktian yang dimiliki Raden Noer Rahmad. Atas ujian yang mampu dilewati oleh Raden Noer Rahmad tersebut, Sunan Drajat memberinya gelar sebagai Sunan Sendang Duwur.

Kejadian ini membuat keduanya kompak, dalam banyak hal akhirnya Sunan Sendang Duwur membantunya. Dulu Desa Patunon lebih sering disebut Sendang Duwur oleh masyarakat. Kini desa tersebut menjelma menjadi sebuah pemukiman yang semakin padat penduduk sehingga membutuhkan ulama lain yang dapat membantu Sunan Drajat.

Tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam di Lamongan kemudian tidak hanya dipegang Sunan Drajat semata, tetapi juga Sunan Sendang Duwur.

TEMBANG PANGKUR

Sunan Drajat biasa menyampaikan ajaran Islam melalui tembang Pangkur. Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi Isine Quran . Dalam hal ini bisa diartikan sebagai upaya untuk sungguh-sungguh untuk mendalami makna Alquran. Tembang tersebut biasa dinyanyikan bersama alunan gamelan Singo Mengkok miliknya.

Banyak yang menyebut gamelan tersebut mengandung kekuatan magis. Apalagi jika disatukan dengan bacaan tembang Pangkur.

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang penjahat sakti bernama Duratmoko. Tingkah lakunya sering merugikan dan meresahkan masyarakat, akhirnya Sunan Bonang berniat memberi pelajaran pada berandal tersebut. Apalagi Duratmoko selama ini tidak mau mengakui perbuatan buruk yang dia lakukan pada masyarakat.

Sunan Drajat mengutus para pengawalnya untuk menangkap Duratmoko. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil membawa Duratmoko ke hadapan Sunan Drajat.

Kepada Duratmoko Sunan Drajat justeru menyanyikan tembang Pangkur diiringi lantunan suara gamelan Singo Mengkoknya.

“Kanjeng Sunan Drajat waktu itu menyampaikan pitutur melalui tembang Pangkur. Sederhana memang saran beliau sampaikan melalui lirik dan diiringi alat musik,” ujar juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ketika ditemui di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Namun Duratmoko masih membisu, tidak mau mengakui kesalahannya. Akhirnya tembang Pangkur dinyanyikan lebih keras. Temponya dibuat lebih cepat.

Isi tembang tersebut kurang lebih mengenai saran untuk jadi penolong bagi sesama. Hidup tidak boleh menyakiti dan memeras orang lain. Kita harus saling berdampingan tolong-menolong. Alunan tembang Pangkur dan gamelan Singo Mengkok akhirnya membuat Duratmo menyerah.

“Dia seperti kesurupan. Karomah Kanjeng Sunan Drajat menembus sukanya. Akhirnya dia jera dan mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian meminta maaf kepada Kanjeng Sunan dan masyarakat,” ungkapnya.

Berandal yang gagah perkasa itu takluk. Dia meminta ampun dan meminta dijadikan pemeluk Islam. Akhirnya Duratmo menjadi murid Sunan Drajat. Duratmo kemudian diberi Sunan Drajat nama menjadi Ki Sulaiman.

Namun tak lama setelah kejadian itu, Ki Sulaiman jatuh sakit. Dalam keadaan koma dia meminta agar ketika dia meninggal nanti, dia berharap ada yang membiarkan penutup kepalanya terbuka. Bagi Ki Sulaiman, dia ingin agar masyarakat tahu bahwa sekuat apapun berandal pasti akan takluk juga di hadapan Allah, di hadapan kematian.

MEMBUAT MATA AIR ABADI

Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi.

Itulah sedikit kisah mengenai Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Friday, May 25, 2018

Kisah Asal Usul dan Sejarah Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Qubro berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Ia diyakini sebagai keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Kuwaluhan.com

Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islam di tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit.

Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya.

Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut.

Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif.

Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.

Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak.

Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban.

Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). 

Bermula dari usulan yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci.

Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.

Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. 

Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.

Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.

Wallohua'lam Bisshowab

Sumber : Kompasiana.com

Wednesday, April 12, 2017

Sejarah Lengkap Sunan Drajat, kisah Wali songo

Sunan Drajat Nama kecilnya adalah Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang”. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Kisah Perjalanan Hidup Sunan Drajat
Alkisah, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.
Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.
Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.
Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.
Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.
Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.
Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.
Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.
Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.
”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.
Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.
Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.
Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.
Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.
Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.
Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.