Social Items

Showing posts with label Asal Usul Kebumen. Show all posts
Showing posts with label Asal Usul Kebumen. Show all posts
Kabupaten Wonosobo adalah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kata Wonosobo berasal dari bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harafiah berarti: "tempat berkumpul di hutan". Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dari Mahabharata: "Sabhaparwa" dan "Wanaparwa".


Berdasarkan cerita rakyat pada sekitar awal abad 17 M, tersebutlah tiga orang pengelana yang masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis suatu pemukiman di daerah Wonosobo, Kyai Kolodete berada di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar Kota Wonosobo sekarang ini, dan sejak saat itu daerah ini mulai berkembang dan ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai cikal bakal dari masyarakat Wonosobo.

Pada masa Kerajaan Mataram, letak pemerintahan berada di Desa Selomanik sebagai kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Kartowaseso dan Ki Butowereng sebagai patihnya. Seperempat abad dari wafatnya Tumenggung Kartosuwiryo tersebut, pusat pemerintahan beralih ke Desa Pecekelan (Kalilusi) sebagai Kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Wiroduto, selang beberapa saat pusat pemerintahannya berpindah dari Kalilusi ke daerah Ledok Selomerto.

Tidak lama setelah wafatnya Ki Wiroduto salah seorang cucu dari Kyai Karim yang bernama Ki Singowedono yang atas jasa dan pengabdiannya kepada keraton Mataram, memperoleh penghargaan berupa daerah kekuasaan di Selomerto dan bergelar Tumenggung Jogonegoro, dengan pusat pemerintahannya berada di Ledok (sekarang desa Plobangan) Kecamatan Selomerto, kemudian setelah wafat Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen.

Memasuki awal abad ke 17 M ini pula Agama Islam sudah mulai berkembang luas di daerah Wonosobo. Seorang tokoh penyebar Agama Islam yang sangat dikenal pada masa itu adalah Kyai Asmarasufi. Beliau adalah menantu dari Kyai Wiroduto.

Kyai Asmarasufi yang mendirikan masjid di Dukuh bendosari (saparuan) yang dipercaya sebagai cikal bakal berkembangnya agama Islam dan lahirnya tokoh-tokoh Islam di Wonosobo dan sekitarnya., seperti Kyia Ali Bendosari, Kyai Syukur Sholeh, Kyai Mansur Krakal, Kyai Abdulfatah Tegalgot, Kyai Soleh Pencil, Kyai As’ari, Kyai Abdul Fakih, Kyai Matuha, dan Kyai Hasbullah. Selanjutnya pada masa perang Diponegoro (1825 – 1830), Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro.

Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro antara lain, Imam Musbach atau kemudian dikenal Tumenggung Kartosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Ki Muhammad Ngarpah. Dalam berbagai pertempuran melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah banyak berhasil memperoleh kemenangan.

Dari semua pertempuran tersebut yang memiliki nilai heroik paling tinggi adalah pertempuran di Legorok (sekarang wilayah Yogyakarta) pada tanggal 24 Juli 1825, karena keberhasilannya yang luar biasa Pangeran Diponegoro memberi gelar Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung Setjonegoro dan diangkat sebagai penguasa Ledok.

Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutlah pula Setjonegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasan dari Selomerto ke kawasan Kota Wonosobo sekarang ini.

HARI JADI KABUPATEN WONOSOBO

Hari Jadi” pada dasarnya merupakan awal daripada sejarah suatu bangsa/Negara dan sejarah itu sendiri merupakan guru abadi bagi suatu Bangsa/Negara/Daerah yang sedang membangun. Disamping itu dengan ditetapkannya Hari Jadi Kabupaten Wonosobo maka diharapkan semangat membangun darahnya dalam rangkaian satu kesatuan dengan pembangunan Negara Republik Indonesia.

Jadi Pemerintah setempat menetapkan bahwa Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yaitu tepat pada Tanggal 24 Juli tahun 1825, berdasarkan hasil penelitian dari fakultas Sastra Indonesia UGM Yogyakarta yang dipimpin oleh Dr. Joko Surya serta hasil seminar tahun 1994 yang diikuti oleh para ahli yang terkait dan para tokoh masyarakat Wonosobo.

Sejarah Asal Usul Berdirinya Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah

Sukoharjo merupakan wilayah Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sukoharjo adalah kota yang sangat nyaman, kota yang asri dan menjadi dambaan seperti slogan dari Sukoharjo itu sendiri yaitu Sukoharjo Makmur.

Sukoharjo MAKMUR juga mempunyai arti atau kepanjangan dari Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi. Disamping kota Sukoharjo nyaman, orang-orang yang tinggal di Sukoharjo juga ramah dan menyenangkan. Sukoharjo terkenal dengan hasil pertanian, kerajinan, serta produksi jamu.

Selain itu Kabupaten Sukoharjo juga mempunyai nama sebutan (julukan) yang cukup terkenal, antara lain: Kota Makmur, Kota Tekstil, Kota Gamelan, The House of Souvenir, Kota Gadis (perdagangan, pendidikan, industri, dan bisnis), Kabupaten Jamu, Kabupaten Pramuka, serta Kabupaten Batik.

SEJARAH KABUPATEN SUKOHARJO


Pada zaman dahulu asal mula Kabupaten Sukoharjo terkait dengan perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala akibat geger pecinan. Pada waktu itu masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana II. Perpindahan terjadi atas nasihat para sesepuh karena keraton dianggap sudah tercemar oleh darah pemberontak.

Untuk memenuhi nasihat para sesepuh Keraton, Sri Susuhunan II mengadakan pembicaraan dengan Kyai Yosodipuro, Kyai Tohjoyo, dan Pangeran Wijil. Kyai Tohjoyo menyarankan agar tanah yang akan dijadikan keraton kelak dapat mendatangkan kesejahteraan (yang dalam bahasa Jawa disebut Sokoraharjo). Kyai Yosodipuro sependapat dan menyarankan supaya tanah itu nantinya tanah yang berbau wangi atau Talawangi.

Sri Susuhunan menyetujui dan menugaskan Pangeran Wijil untuk mendapatkan lokasi keraton yang baru. Dalam pelaksanaannya Pangeran Mijilpun membentuk tim.

Tim pertama dipimpin oleh Suranata, Kyai Khalifah Buyut, dan Mas Penghulu Pekik Ibrahim. Tim kedua dipimpin oleh Raden Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Tirtowiguno.

Pada suatu hari, setelah menempuh perjalanan beberapa hari, tim kedua  menemukan tempat yang mereka anggap cocok untuk didirikan kerajaan baru. Selain menentukan lokasi keraton, kedua senopati tersebut juga mempersiapkan semua kelengkapan untuk mendirikan keraton, seperti tempat untuk bacira ngayun (alun-alun depan), bacira pungkuran (alun-alun belakang), tempat untuk membuat senjata (tempat pande), tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen), tempat untuk para istri raja, dan tempat untuk kandang gajah kendaraan baginda.

Setelah semuanya selesai, mereka melaporkan hasilnya. Sri Susuhunan pun meminta pendapat para sesepuh, yang ternyata juga mendukung hasil tersebut. Namun, menurut Kiai Yosodipuro daerah tersebut dalam segi keamanan belum memenuhi syarat untuk dibangun keratin.

Karena daerah yang yang diyakini dapat memberikan kesejahteraan itu berdekatan dengan markas Pangeran Sambernyawa di Nglaroh. Yang sedang tidak bersahabat dengan Sri Susuhunan saat itu.

Akhirnya, Sri Susuhunan Paku Buwono II pun memerintahkan untuk mencari daerah lain.Namun, meskipun tanah yang diyakini Tumenggung Honggowongso sebagai bumi Sukoraharjo tidak jadi dipakai untuk membangun keraton, kemudian hasil penelitian tersebut menjadi tonggak asal-usul  nama Sukoharjo.

Bahkan, tempat yang dulu hendak digunakan untuk tempat wantilan (kandang) gajah, kini menjadi Desa Begajah. Tempat yang akan digunakan untuk tempat pembuatan senjata (pande) menjadi desa Pandean, Tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen) menjadi desa Mranggen.Tempat yang digunakan untuk istri (selir) raja menjadi desa Seliran.

Areal luas untuk bacira pungkaran sekarang berfungsi untuk alun-alun Satyanegara,sedangkan tanah yang direncanakan untuk bacira ngayun dipergunakan untuk Kantor Kodim 9726 Sukoharjo dan Masjid Kota.

HARI JADI KABUPATEN SUKOHARJO

Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad nomor 209. Pada Bab I surat perjanjian, tertulis sebagai berikut :

Ing Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura lan Sragen, apadene ing Kawedanan Larangan kadodokan pangadilan ingaranan Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangansaikiki kadadekake kabupaten ingaranan Kabupaten Sukoharjo. 

Bahasa Indonesia

Di Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura dan Sragen, dan juga Kawedanan Larangan dibentuk pengadilan yang disebut Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan sekarang dijadikan kabupaten dengan nama Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa pada hari Kamis, tanggal 7 Mei tahun 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum itu bernama Kawedanan Larangan.

Pada era kemerdekaan atau Pemerintahan Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo dengan adanya Penetapan Pemerintah No.16/SD, tepatnya pada hari / tanggal Senin Pon, 15 Juli 1946 dan juga adanya pembentukan Pemerintah Daerah di karesidenan Surakarta, pada Minggu Wage, 16 Juni 1946.

Sejarah Asal Usul Berdirinya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah

Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah bagian selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling merupakan wilayah Kerajaan Galuh. Oleh karena itu, menurut Profesor Purbocaraka wilayah itu disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai Pagalihan.


Dari nama Pagalihan ini lama kelamaan berubah menjadi Pagelen, dan terakhir menjadi Bagelen hingga sekarang. Di kawasan tersebut mengalir sungai besar yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama Watukuro sampai sekarang masih ada dan menjadi nama sebuah desa yang terletak dekat muara pantai Congot (Kulon Progo, Yogyakarta). Desa Watukuro sendiri masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dulu, di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakat hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dibidang pertanian dan memiliki kebudayaan yang tinggi.

Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Margasira, bertepatan dengan Siva (5 Oktober 901 Masehi), terjadilah suatu peristiwa penting yaitu pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai Prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.

Prasasti yang ditemukan dibawah pohon Sono di dusun Boro Tengah tersebut (sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan, Kecamatan Banyuurip) disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 sejak tahun 1890. Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.

Dalam Prasasti Boro Tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga kuat adalah Rakryan Mahamantri / Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajraprati paksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari naik tahta sebagai raja pengganti iparnya tersebut.

Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.

Pematokan tersebut sebagai tanda bahwa desa Kayu Ara Hiwang telah dijadikan Tanah Perdikan (Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan” atau para Hyang berada. Dalam peristiwa tersebut juga dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.

“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”

Wilayah yang dijadikan tanah perdikan juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang, antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).

Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut diduga jika guha yang dimaksud adalah Goa Seplawan, karena di dekat mulut goa Seplawan memang terdapat bangunan suci yaitu Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoni-nya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” seperti yang tertulis dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.

Perlu diketahui bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen, kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain. Saat itu sejarah mencatat sejumlah tokoh yang disegani, misalnya tokoh Sunan Geseng dalam pengembangan agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan yang dikenal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola yang pada saat itu pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang.

Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelenadalah pasukan andalan dari Sutawijayayang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani.

Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikan Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, yaitu Kedungkebo dan Brengkelan. Pada periode Karesidenan Begelen inilah muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang memiliki pengaruh hingga ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Dalam perjalanan sejarah, yaitu dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, wilayah Mataram kemudian dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Hal ini terjadi akibat ikut campur tangannya pihak Belanda. Akibat Perjanjian Giyanti (13 pebruari 1755), Tanah Bagelen yang juga sebagai wilayah Negara Gung dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu dan diumpamakan sebagai campur baur seperti “rujak”.
Pada Perang Diponegoro (abad ke XIX), wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pada saat itu Pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas dari masyarakat setempat.

Pada Perang Diponegoro tersebut wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama.

Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo.
Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesidenan Bagelen dihapus dan digabungkan dengan karesidenan kedu.

Kota Purworejo yang semula Ibu kota Karesidenan Bagelen, statusnya kemudian berubah menjadi Ibukota Kabupaten. Pada tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan,Kabupaten Karanganyar dan Ambaldigabungkan menjadi satu dengan Kebumen dan menjadi Kabupaten Kebumen.

Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk wilayah administrasi Kabupaten Urut Sewu / Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.

Dalam perkembangan sejarahnya, Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan juga sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer. Tokoh-tokoh yang muncul antara lain W.R. Supratman (komponis lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”), Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal Ahmad Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya.

Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri pada jamannya.

Hari JADI KABUPATEN PURWOREJO

Upacara yang diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi di Boro Tengah dihadiri sekitar 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (Kalongan, Loano).

Kepada para pejabat yang hadir diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa yang terjadi pada 5 Otober 901 Masehi tersebut akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo melalui sidang DPRD Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Purworejo Jawa Tengah

Asal usul Nama Kabupaten ini berasal dari Kebumen terestrial cara di mana Kyai Bumi bar daerah membuat melarikan diri pertahanan atau PangeranMangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677 , ketika muncul bahwa raja ne Sunan Amangkurat I.


Sebelumnya, daerah ini telah dicatat dalam peta sejarah nasional menjadi salah satu pilar dalam tentara perang patriotik Mataran pada hari-hari dari Sultan Agung di Calçoene yang alkali di Batavia . Pada saat Kebumen masih dengan bersinar.

Salah satu cicit dari Pangeran Agung yaitu Bagus , yang lahir di Desa Dawan, bersinar, atas permintaan Ki Suwarno , utusan Mataram yang menjabat sebagai petugas pengadaan, berhasil mengumpulkan makanan dari orang-orang di daerah ini dengan cara pembelian.

Keberhasilan membuat lumbung sangat penting untuk Mataram, sebagai Sultan Agung, Ki Suwarno menjadi bupati, oleh Bagus ikut dikirim ke Batavia sebagai tentara menjaga makanan.

Penambahan angka di atas, ada legenda tentang nama Jim Sangrib, ia adalah putra Maaf / I Paku Buwono Mataram, dimana ibu dari Jim Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun.

Sebagai orang dewasa ia memiliki nama Menteri Honggowongso, ia berbagi Wijil dan Menteri Yosodipuro saya berhasil pindah ke istana Kartosuro Surakarta hari ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil menumpas pemberontakan di wilayah Banyumas, karena itu maka dengan Keraton Surakarta ia diangkat menjadi Menteri nya Arungbinang I, sesuai dengan kehendak administrasi ayahnya. Dalam Gubernur keluaran Kebumen Chronicle Yogyakarta, banyak nama di kabupaten Kebumen adalah berkat usulannya.

Dalam Menteri Mataram Chronicle juga menyebutkan Arungbinang I berperan dalam perang Mataram / PangeranMangkubumi Perang, ketika ia menjabat sebagai komandan tentara di Surakarta.

Dalam perang itu konyol bukan sampai ke masyarakat, yang harus disesuaikan dengan masyarakat karena ia adalah putra Paku Buwono I / Maaf. Ternyata ia menjabat sebagai penghubung antara mata2 masyarakat Surakarta dengan Tuhan, waktu yang tiap2 sebagai utusan Surakarta untuk membawa biaya perang kepada masyarakat.

Bagaimana untuk membawa biaya perang dalam bentuk emas dan berlian dimasukkan dalam utama gendang, tidak ada yang tahu, baik Belanda, awak Kerajaan Solo dan tentara dari masyarakat itu sendiri. Bagaimana untuk mendapatkan dia tersampir di punggungnya saat mengendarai kuda, posisi sehingga menembus dekat PangeranMangkubumi lalu cepat-cepat meletakkan drum dekat PangeranMangkubumi, kemudian pergi lagi.

Demikian juga dengan waktu tiap2 Arungbinang melakukan misi rahasia, sehingga perang PangeranMangkubumi bisa dikenakan biaya, bahkan perang ini tidak disebutkan dari drum perang. Tampaknya untuk alasan ini posisi Arungbinang sebagai utusan rahasia. tugas-tugas seperti yang dilakukan berkali-kali.

HARI JADI KABUPATEN KEBUMEN

Menurut sejarahnya menurut sejarahnya, Panjer berasal dari tokoh yang bernama Ki Bagus Bodronolo. Pada waktu Sultan Agung menyerbu ke Batavia ia membantu menjadi prajurit menjadi pengawal pangan dan kemudian diangkat menjadi senopati.

Ketika Panjer dijadikan menjadi kabupaten dengan bupatinya Ki Suwarno( dari Mataram ), Ki Bodronolo diangkat menjadi Ki Gede di Panjer Lembah ( Panjer Roma ) dengan gelar Ki Gede Panjer Roma I, Pengangakatan tersebut berkat jasanya menangkal serangan Belanda yang akan mendarat di Pantai Petanahan sedangkan anaknya Ki Kertosuto sebagai patihnya Bupati Suwarno.

Demang Panjer Gunung, Adiknya Ki Hastrosuto membantu ayahnya di Panjer Roma, kemudian menyerahkan jabatannya kepada Ki Hastrosuto dan bergelar Ki Panjer Roma II. Tokoh ini sangat berjasa karena memberi tanah kepada Pangeran Bumidirja. yang terletak di utara Kelokan sungai Lukulo dan kemudian dijadikan padepokan yang amat terkenal.

Kedatangan Kyai P Bumidirja menyebabkan kekhawatiran dan prasangka, maka dari itu beliau menyingkir ke desa Lundong sedang Ki panjer Roma II bersama Tumenggung Wongsonegoro Panjer gunung menghindar dari kejaran pihak Mataram.

Sedangkan Ki Kertowongso dipaksa untuk taat kepada Mataram dan diserahi Penguasa dua Panjer, sebagai Ki Gede Panjer III yang kemudian bergelar Tumenggung Kolopaking I ( karena berjasa memberi kelapa aking pada Sunan Amangkurat I ). dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa lahirnya Kebumen mulai dari Panjer yaitu tanggal 26 Juni tahun 1677.

Itulah sejarah asal mula berdirinya kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Kebumen Jawa Tengah