Showing posts with label kisah Ali bin Abi Thalib. Show all posts
Showing posts with label kisah Ali bin Abi Thalib. Show all posts

Thursday, May 31, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Kekhalifahan Rasyidin dan Imam Syi'ah pertama, beliau dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam pada tanggal 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah.

Penyebab Kematian Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Tholib yang pada saat itu berumur 62 atau 63 tahun, meninggal karena luka-lukanya, dua hari setelah Abdurrahman bin Muljam memukul kepalanya dengan pedang yang dilapisi racun, pada tanggal 21 (atau 19) Ramadan 40 Hijriyah (28 Januari 661 M). Ali bin Abi Thalib adalah khalifah ketiga secara berturut-turut, setelah Umar dan Utsman, yang dibunuh.

Ali bin Abi Tholib menjadi khalifah setelah terbunuhnya Utsman pada tahun 656. Namun, dia menghadapi tentangan dari berbagai faksi termasuk Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Sebuah perang sipil, yang disebut Fitnah Pertama, terjadi di negara Islam awal yang mengakibatkan penggulingan Khalifah Rasyidin  dan berdirinya dinasti Umayyah.

Hal ini dimulai ketika Khalifah Utsman bin Affan dibunuh pada tahun 656 dan kemudian dilanjutkan melalui pemerintahan Ali selama empat tahun. Setelah Ali setuju untuk melakukan arbitrase dengan Muawiyah bin Abu Sufyan pada saat Pertempuran Shiffin(657), sebuah pemberontakan terjadi terhadap Ali yang dilakukan oleh beberapa anggota tentaranya, yang kemudian dikenal sebagai Khawarij ("mereka yang keluar").

Mereka membunuh beberapa pendukung Ali, namun mereka dihancurkan oleh pasukan Ali pada Pertempuran Nahrawan pada bulan Juli 658.

Pada suatu hari Abdurrahman bin Muljam bertemu dengan dua orang Khawarij lainnya yaitu Al-Burak bin Abdillah dan Amru bin Bakr at-Tamimi di Mekkah, dan menyimpulkan bahwa situasi umat Islam pada saat itu disebabkan oleh kesalahan Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash, Gubernur Mesir.

Mereka memutuskan untuk membunuh ketiganya agar menyelesaikan "situasi menyedihkan" pada masa mereka dan juga membalas dendam kepada teman-temannya yang terbunuh di Nahrawan. Bertujuan untuk membunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam menuju Kufah di mana dia jatuh cinta pada seorang wanita yang saudara dan ayahnya meninggal di Nahrawan.

Wanita tersebut setuju untuk menikah dengannya jika saja dia bisa membunuh Ali. Akibatnya, Ali ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam di Masjid Agung Kufah. Setelah kematian Ali, Abdurrahman bin Muljam dihukum matisebagai pembalasan oleh Hasan bin Ali.

Pada masa ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib RA. memanglah sangat berat. Hal itu karena pembangkangan penduduk Syam dan Irak, juga karena fitnah-fitnah yang banyak terjadi pada masa ke-khalifahannya. Setiap hari musibah semakin berat, krisis membelitnya, dan ia merasakan ajalnya semakin dekat. Ia berkata :

Kencangkanlah ikat pinggangmu untuk menjemput kematian,
Sesungguhnya kematian akan mendatangimu,
Jangalah engkau berkeluh kesah dari kematian,
Jika telah berhenti gurunmu.

Tiga orang dari golongan khawarij telah bersekongkol hendak membunuh Ali bin Abu Thalib, Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Amru bin Ash. ketiganya pun hendak dibunuh pada hari yang sama, yaitu pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan. Mereka bersepakat bahwa Abdurrahman bin Miljam-lah yang akan membunuh Ali RA.

Ibnu Miljam mengasah pedangnya selama 40 hari. Lalu, sampailah ia ke Kufah dan di sana ia bertemu dengan seorang wanita Khawarij yang membuatnya merasa kagum terhadapnya. ia kemudian meminangnya dan wanita tersebut meminta maharberupa kepala Ali bin Abu Thalib.

Ali bin Abu Thalib merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Sehari ia makan pagi di tempat Al-Hasan, sehari berikutnya di tempat Al-Husain, dan sehari lagi di tempat Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib. Ia tidak makan melainkan hanya dengan beberapa suapan saja. Tatkala ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku lebih suka bertemu dengan Allah dalam keadaan lapar hingga aku dapat merasakan nikmatnya berjumpa dengan Rabb-ku."

Pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan, seperti biasanya ia bangun dari tidurnya kemudian memgerjakan shalat malam. Setelah itu, ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh bersama kaum muslimin. lalu, terdengarlah suara ayam berkokok hingga para wanita terbangun dan hendak mengusir ayam-ayam tersebut. Ali RA.berkata, "Biarkan mereka. Mereka tengah mengabarkan kematian kepadaku."

Lalu, ia pun keluar. Sesampainya di luar, ia diserang dan disabet beberapa kali dengan pedang oleh Ibnu Miljam. Pukulan itu begitu keras hingga jenggotnya berlumuran darah. Sesudah itu, Ali tersenyum seraya berkata, "Benar kata Rasulullah."

Amirul Mukminin lantas dibawa kerumahnya. Abdurrahman bin Miljam didatangkan kehadapannya dalam keadaan tangannya terikat di belakang. Ali RA. kemudian berkata kepadanya, "Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu? Tidakkah aku telah berbuat baik kepadamu?"

Ibnu Miljam lantas menjawab, "Pedangku ini telah ku asah selama empat puluh malam yang akan kupergunakan untuk membunuh orang yang paling jahat." Ali RA.kemudian berkata lagi, "Justru kamu yang akan dibunuh dengannya.

Ali RA. kemudian berkata kepada anak-anaknya, "Muliakan dan berbuat baiklah kepadanya. Jika aku hidup, aku tahu pendapatku tentangnya. Dan jika aku mati maka bunuhlah ia dengan pedang itu dan janganlah kalian menyalibnya, serta jangalah kalian membunuh seorang pun selainnya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas."

Selama dua hari keadaan Amirul Mukminin sangat lemah dan tidak sepatah kata pun terucap dari mulutnya, kecuali hanya kalimat "La Ilaha Ilallah." Lalu, ia pun wafat dan dikafani oleh Al-Hasan dan Al-Husain kemudian dikuburkan di Kufah.

Setelah itu Al-Hasan diangkat menjadi Khalifah. Hal itu hanya berlangsung enam bulan saja. Kemudian ia melepaskan kekhalifahan kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan hingga fitnah berakhir secara sempurna, dan tahun tersebut dinamakan dengan Tahun Jama'ah.

Wallohua'lam Bisshowab

Saturday, May 13, 2017

Sejarah asal usul Kholifah Ali bin Abi Tholib ra

Ali bin ‘Abi Tholib adalah menantu Rasulillah yang mendapat nama kehormatan (kuniyyah) Abu Turab (Bapaknya tanah) dari Rasulillah. Abu Turab adalah panggilan yang paling disenangi oleh ‘Ali karena nama kehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi yang mulia. Ia dibai’at menjadi Khalifah pada hari Jumat tanggal 25 Dzul-hijjah tahun 35 Hijjriyah (4 Juni 656 M).

Sabda Nabi : “لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

"Niscaya besok pagi bendera ini akan saya berikan pada seorang lelaki yang telah diberi kemenangan karena usahanya. Ia dicintai Allah dan Utusan Allah dan utusan Allah juga mencintainya".

Pada masa perang Khaibar bulan Shafar tahun tujuh Hijriyah dia telah menjadi tokoh utama bagi umat Islam pada umumnya. Setelah sabda yang menggiurkan tersebut terucap, para shahabat membicarakan siapa orang beruntung yang akan mendapatkan kehormatan tersebut. Setelah itu mereka semua berambisi menjadi tokoh agung tersebut.

Baca juga kisah Kholifah ABU Bakar As-Shiddiq

Di suatu pagi yang indah semua sahabat termasuk Umar yang tidak pernah ingin menjadi pemimpin, berkeinginan untuk terpilih. Ternyata Ali bin Abi Taliblah yang menerima kesempatan besar tersebut. Ali bin Abi Talib  juga dianugerahi karena telah membunuh Talha ibn' Uthman di perang Uhud pada bulan Syawal tahun 3 (tiga) Hijriyyah (Januari 625 M)

خرج طلحة بن عثمان صاحب لواء المشركين وقال: يا معشر أصحاب محمد إنكم تزعمون أن الله يعجلنا بسيوفكم إلى النار ويعجلكم بسيوفنا إلى الجنة، فهل أحد منكم يعجله سيفي إلى الجنة أو يعجلني سيفه إلى النار ؟ فبرز إليه علي بن أبي طالب، فضربه علي فقطع رجله، فسقط وانكشفت عورته، فناشده الله والرحم فتركه، فكبر رسول الله، صلى الله عليه وسلم، وقال لعلي: ما منعك أن تجهز عليه ؟ قال: إنه ناشدني الله والرحم فاستحييت منه –

Talha bin 'Uthman pembawa bendera kaum musyrik berkata," Wahai para golongan sahabat Muhammad, engkau yang berkeyakinan bahwa Tuhan akan mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian, dan mempercepat kamu ke surga melalui pedang kami. Sekarang siapakah yang sanggup mempercepat diri kalian ke Surga karena pedang kami atau mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian? Ali akhirnya menerima tantangan tersebut, bergerak cepat memukul mematahkan kakinya. Ia jatuh hingga terlihat auratnya karena kain yang ia kenakan tersingkap, dan memohon kepada Ali agar takut kepada Allah dan meminta-minta menjadi sahabatnya, lalu Ali meninggalkannya. Tiba-tiba Nabi memekikan takbir demi melihat pemandangan tersebut dan bertanya,"Apa yang membuatmu tidak menghabisinya? Ali menjawab,"Ia memohon-mohon padaku untuk memperhatikan Allah dan keluarga kami, sehingga saya merasa enggan".[Al-Kamil fit-Tarikh 1 / 294]

Thabrani murid Achmad bin 'Ali Abu al-Abbar murid Umayyad murid Uthman ibn' Abdir-Rahman murid Isma'il ibn Rashid bercerita tentang kematian 'Ali ibn' Abi Talib, yang bertepatan dengan hari Jum'at 17 Ramadan tahun 40 Hijriyyah (24 January 661M): Konon termasuk Hadits Ibnu Muljam dan shahabat-shabatnya yang dilaknat Allah ialah: Memang ‘Abdur-Rahman bin Muljam, Al-Barku bin ‘Abdillah dan ‘Amer bin Bakr At-Taimi mengadakan pertemuan di Makkah untuk membahas tentang ihwal masyarakat umum dan mencela perbuatan tokoh-tokoh besar Muslimiin.

Baca selengkapnya Kholifah Umar bin Khattab

Pembicaraan tersebut berkembang ke arah pembahasan kepedulian mereka pada penduduk kota Nahar yang dulu pernah diperangi ‘Ali. Mereka berkata,
 “Demi Allah kita ini belum berjasa sebanyak tokoh-tokoh (Khawarij) yang telah mendahului kita. Tokoh-tokoh pendahulu kita telah menjadi dai yang mengajak orang-orang agar beribadah pada Tuhan mereka, dan di dalam beribadah mereka tidak takut caci-makian orang mencaci-maki. Hendaklah kita-kita ini mengorbankan diri-kita dengan cara mendatangi dan memastikan tokoh-tokoh besar Muslimiin terbunuh, sebagai upaya agar penduduk-kota kita tidak dendam dan agar dendam pendahulu kita terbalas. Ibnu Muljam yang konon sebagai penduduk Mesir berkata, “Sayalah yang membereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Ali.” Al-Barku bin ‘Abdillah berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.” ‘Amer bin Bakr At-Tamimi berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Amer bin ‘Ash.”

Tiga orang yang terancam kematiannya ini tokoh besar ummat Islam yang saat itu namanya menggetarkan dunia karena saat itu zaman kejayaan Islam:

’Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang sangat agung.Mu’awiyyah sebagi Gubernur yang sangat berpengaruh karena pernah menjadi sekretaris Rasulillah.‘Amer bin ‘Ash orang yang pernah diangkat sebagai panglima perang oleh Abu Bakr, bahkan tergolong Umara’ul-Ajnad (semacam jendral besar).

Mereka bertiga membuat persekongkolan dan perjanjian rahasia yang diikat dengan sumpah demi Allah tak seorangpun dari mereka mem-batalkan rencananya sehingga berhasil membunuh sasaran mereka masing-masing atau mati karena rencana gila tersebut. Mereka bertiga mengambil pedang untuk diberi racun, dan membulatkan perjanjian bahwa masing-masing mereka bertiga akan menyerang korban mereka tanggal 17 Ramadhan. Mereka bertiga pergi ke kota yang dihuni oleh sasaran mereka masing-masing.

Baca juga kisah Kholifah Usman bin Affan

Ibnu Muljam Al-Muradi mendatangi sahabat-sahabatnya berada di kota Kufah, namun ia menyembunyikan rencananya karena takut akan ada yang mengetahuinya. Ibnu Muljam juga mendatangi teman-temannya dari keluarga besar Taimir-Rabab, yaitu sebuah keluarga besar yang pada zaman perang An-Nahar banyak yang mati terbunuh. Keluarga besar Taimir-Rabab membicarakan dan mengasihani keluarga mereka yang meninggal dalam peperangan tersebut. Kebetulan saat itu muncul seorang wanita bernama Qatham binti Sachnah dari keluarga besar Taimir-Rabab yang memendam dendam pada ‘Ali karena telah membunuh ayah dan saudara laki-lakinya dalam perang Nahar tersebut. Konon kecantikan Qatham binti Sachnah luar biasa (sempurna). Karena kecantikan Qatham binti Sachnah lah maka ia lupa dengan tujuan semula (tersihir). Ibnu Muljam melamar Qatham binti Sachnah. Qatham binti Sachnah menjawab, “Saya tidak akan menikah sehingga kau bisa mengobati sakit-hatiku.” Ibnu Muljam bertanya, “Sebetulnya apa yang kau inginkan?.” Ia menjawab, “Tiga ribu dinar dan budak laki-laki dan biduanita dan bunuhlah ‘Ali !.” Ibnu Muljam berkata, “Berarti ini sebagai maskawin untukmu. Namun apa betul kamu ingin ‘Ali dibunuh?.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Ayyasy Al-Muradi berkata, “وَلا مَهْرَ أَغْلَى مِنْ عَلِيٍّ (Sebetulnya tidak ada maskawin yang lebih mahal dari pada membunuh ‘Ali bin Abi Thalib ).”

Ia menjawab, “Betul!. Pastikan pembunuhan tersebut pada waktu-bulan-ghurrah (sekitar tanggal 15)!. Jika kau berhasil maka kita berdua puas, selanjutnya kita berdua hidup berbahagia penuh manfaat. Namun jika kau yang mati terbunuh, maka yang di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya.” Ibnu Muljam berkata, “Sebetulnya kedatanganku kemari memang bertujuan membunuh dia.” Ia menjawab, “Jika tekadmu telah bulat kabarilah saya, saya akan menyuruh orang agar membantu dan mendukungmu.”

Akhirnya Qatham perintah lelaki dari keluarganya yang menyanggupinya bernama Wardan. Ibnu Muljam mendatangi lelaki (shahabat karibnya) dari keluarga besar Asyja’ bernama Syabib bin Najdah untuk berkata, “Bukankah kau mau mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat?.” Ia menjawab, “Apa maksudmu?.” Ibnu Muljam menjawab, “Membunuh ‘Ali .” Ia menjawab, “Kau ini gila. لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِدًّا – Niscaya kau telah melakukan kegilaan yang nyata. Apa mungkin kau bisa membunuh dia?.” Ibnu Muljam berkata, “Saya akan bersembunyi di waktu sahur.

Jika ia telah keluar rumah untuk mengimami shalat shubuh, maka saat itu juga kita serang dan kita bunuh. Jika dalam rencana ini kita selamat maka kita puas dan dendam kita telah terbalas, namun jika kita mati maka pahala di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya. Ia berkata, “Kau memang harus kubantu. Tapi kalau rencana ini ditujukan pada selain ‘Ali niscaya urusannya lebih ringan bagiku.

Karena saya tahu sepenuhnya bahwa jasa dia di dalam Islam sangat besar. Ia juga termasuk shahabat Nabi yang awal. Terus terang dalam hal ini saya merasa keberatan. Ibnu Muljam berkata, “Bukanakah kau sendiri tahu bahwa dia yang memerangi penduduk Nahar yang tekun beribadah dan shalat?.” Ia menjawab, “Betul.” Ibnu Muljam berkata, “Kita membunuh dia karena membalaskan saudara-saudara kita yang dia bunuh saat itu.” Setelah Syabib bin Najdah menyetujuinya, mereka bertiga segera berpamitan, “Kami semua telah mufakat akan membunuh ‘Ali,” pada Qatham yang saat itu sedang i’tikaf di dalam Masjid Agung. Qatham menjawab, “Jika kalian telah siap berangkat datanglah kemari lagi!.” Ibnu Muljam datang untuk berkata pada Qatham, “Saya dan dua teman saya telah berjanji akan bahwa masing-masing kami akan membunuh seorang tokoh besar.” Tak lama kemudian Qatham minta kain sutra untuk dibalutkan pada mereka bertiga"

Mereka bertiga mengambil pedang mereka masing-masing lalu selanjutnya berangkat menuju depan pintu yang biasanya dipergunakan keluar oleh ‘Ali. Akhirnya ‘Ali keluar untuk mengimami shalat shubuh sambil berkata, “Shalat shalat.” Syabib bin Najdah bergerak cepat menyerang ‘Ali dengan pedang, namun pedangnya menghantam gawang pintu atau ornament. Ibnu Muljam bergerak cepat memukul ujung kepala ‘Ali dengan pedang.

Wardan berlari cepat pulang ke rumahnya; dikejar anak laki-laki ibunya. Lelaki tersebut memasuki rumah Wardan di saat Wardan sedang melepas kain sutra dan meletakkan pedangnya. Lelaki tersebut bertanya, “Ada apa dengan kain sutra dan pedang ini?.” Wardan terpaksa berterus terang padanya. Lelaki tersebut bergegas pulang ke rumah untuk mengambil dan menebaskan pedangnya hingga Wardan mati.

Syabib melarikan diri ke arah pintu-gerbang-pintu-gerbang kota Kindah dikejar masya. Syabib roboh bersimbah darah karena kakinya dipedang dan dibanting oleh ‘Uwaimir dari Chadhramaut. Ketika masya pengejar Syabib telah makin dekat; saat itu Syabib telah menguasai pedangnya. ‘Uwaimir membiarkan Syabib kabur dan memasuki kerumunan masya dari pada dirinya terkena serangannya.

Ibnu Muljam jatuh saat melarikan diri dari kejaran lelaki dari Hamdan yang biasa dipanggil Aba Adama karena kakinya dipatahkan dengan pedang oleh lelaki tersebut. ‘Ali  mendorong punggung جَعْدَةَ بن هُبَيْرَةَ بن أَبِي وَهْبٍ (Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahb) agar mewakili mengimami jamaah shalat shubuh; sebagaian jamaah berlarian dari segala penjuru untuk menyerang Ibnu Muljam.

Sejumlah orang melaporkan bahwa Muhammad bin Chunaif berkata: “Demi Allah, di malam ‘Ali bin Abi Thalib dipedang; saat itu saya shalat bersama lelaki-lelaki kota tersebut di dalam Masjid Agung tersebut, yaitu di dekat pintu-keluar rumah ‘Ali menuju Masjid. Di antara mereka ada yang sedang berdiri, ada yang sedang rukuk, ada yang sedang sujud. Mereka tak bosan-bosan melakukan shalat sejak awal hingga akhir malam. Tiba-tiba ‘Ali keluar pintu untuk mengimami shalat shubuh sambil menyerukan, “Shalat shalat.” Saya sendiri tidak tahu apakah lebih dulu ia mengucapkan kalimat tersebut ataukah duluan kulihat pedang-pedang mengkilap. Saya mendengar, “الْحُكْمُ للَّهِ ، لا لَكَ يَا عَلِيُّ وَلا لأَصْحَابِكَ(Tiada hukum kecuali kekuasaan Allah, bukan hakmu ya ‘Ali, dan bukan hak shahabat-shahabatmu).” Lalu kulihat pedang berkelebat. Lalu kulihat masya berdatangan. Saya mendengar ‘Ali  perintah, “Jangan sampai lelaki itu lepas!.” Sejenak kemudian masya dari segala penjuru berlari cepat mengejarnya. Saya berada di dalam lokasi tersebut hingga Ibnu Muljam tertangkap dan dimasukkan ke rumah ‘Ali bin Abi Thalib.

Saya memasuki rumah ‘Ali mengikuti orang-orang. Tiba-tiba saya mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata:

“النَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، إِنْ هَلَكْتُ فَاقْتُلُوهُ كَمَا قَتَلَنِي

(Jiwa dibalas dengan jiwa. Jika saya mati maka bunuhlah dia sebagaimana memedangku)!. Namun jika saya masih hidup, maka telah punya pandangan sebaiknya dia diapakan?.” Di saat Ibnu Muljam dibawa masuk ke rumah ‘Ali; ‘Ali bertanya, “Ya musuh Allah, bukankah saya telah berbuat baik padamu?, bukankah saya telah memperlakukan kamu dengan baik?.” Ia menjawab, “Betul.” ‘Ali bertanya, “Lalu apa yang mendorongmu melakukan ini?.” Saya telah mengasah pedangku selama empat puluh shubuh lalu berdoa agar Allah membunuh sejelek-jelek makhluq-Nya dengan pedang ini.” ‘Ali berkata, “Saya yakin kamu akan mati terbunuh dengan pedang ini, dan kamu termasuk makhluq Allah paling jelek.” Konon dua tangan Ibnu Muljam diikat erat hingga belikat di depan Chasan.

Tiba-tiba putri ‘Ali bernama Ummu Kultsum menangis, “Hai musuh Allah, ayahku tidak apa-apa; sementara kamu akan dihinakan oleh Allah.” Ibnu Muljam menjawab, “Kenapa kau menangis?. Demi Allah pedang itu kubeli seharga seribu (dinar), dan telah kuberi seribu racun. Kalau pukulan pedangku ini melukai seluruh penduduk kota ini pasti mereka tidak mampu bertahan hidup satu jam pun. Namun ayahmu masih juga hidup hingga saat ini.” ‘Ali berkata pada Chasan, “Jika aku bertahan hidup, aku telah mempunyai perhitungan. Namun jika aku mati karena pukulan pedang ini, maka pukullah dengan pedang sekali saja, jangan kau siksa. Sebab sungguh aku pernah mendengar Rasulallah melarang menyiksa meskipun pada anjing buas.” Sebuah riwayat menjelaskan bahwa Jundub bin ‘Abdillah memasuki rumah ‘Ali untuk memohon, “Jika kami kehilangan tuan, maka kami akan berbai’at pada Chasan.” ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, “Yang ini saya tidak perintah dan tidak melarang, kalian yang lebih tahu.”

Ketika ‘Ali bin Abi Thalib telah wafat; Chasan perintah agar Ibnu Muljam dibawa masuk ke rumahnya. Ibnu Muljam berkata ketika telah masuk ke rumah Chasan, “Bolehkah saya minta sesuatu?, demi Allah sejak dulu jika saya bersumpah pada Allah pasti saya laksanakan. Saya pernah bersumpah pada Allah akan membunuh ‘Ali dan Mu’awiyyah, atau saya mati saat menyerang mereka berdua. Jika kau setuju lepaskanlah saya agar membunuh dia. Saya bersumpah pada Allah jika saya gagal membunuhnya, saya akan menyerahkan tanganku pada tanganmu.”

Sepertinya Ibnu Muljam yakin sepenuhnya bahwa Chasan sangat benci Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, sehingga ia menawarkan jasa membunuh Mu’awiyyah agar Chasan mau melepaskannya.

Chasan  menjawab, “Demi Allah tidak bisa, atau kamu akan menyaksikan neraka.” Chasan  perintah agar Ibnu Muljam diajukan untuk dibabat kepalanya dengan pedang. Selanjutnya mayat tersebut dimasukkan dalam bawari (tempat). Tak lama kemudian masya membakarnya dengan api. Sebelum itu ‘Ali bin Abi Thalib telah berpesan, “Ya keluarga besar ‘Abdul-Muthalib, jangan sampai terjadi suatu saat nanti saya menjumpai kalian berkecimpung dalam darahnya Muslimiin hanya karena beralasan ‘ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh, ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh. Ingat, tidak boleh ada yang dibunuh kecuali orang yang telah membabatkan pedangnya padaku!.”

Luar biasa, di saat kemarahan ‘Ali bin Abi Thalib  di puncak, ia masih bisa berbicara dengan arif dan bijaksana. Sebetulnya wasiat terakhir sebelum wafatnya panjang dan indah luar biasa. Pantaslah jika Rasulullah pernah bersabda, “يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ (Ia cinta Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya cinta dia).”

Wallohua'lam Bisshowab