Showing posts with label Wafatnya Nabi Yahya. Show all posts
Showing posts with label Wafatnya Nabi Yahya. Show all posts

Wednesday, May 30, 2018

Kisah Cerita Wafatnya dan Meninggalnya Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad lahir sekitar tahun 570 (Tahun Gajah) kota Arab Mekkah, Muhammad menjadi yatim piatu di usia mudanya; ia tumbuh di bawah pengasuhan Abu Talib.

Kisah wafatnya Nabi Muhammad

Wafatnya Nabi dan Rasul Islam Muhammad(570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang beliau alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya.

Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, didalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, nabi Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan.

Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam.

Rasulullah Saw telah kembali dari haji wada 'setelah Allah SWT memberi dorongan firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

Waktu telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat. ”(QS: An-Nashr | Ayat: 1-3).

Setelah itu, Rasulullah Saw mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau Rasulullah Saw bersabda pada haji wada '

لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا

Pelajarilah dariku tata cara haji kalian, bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian saat tahun ini.” (HR. Al-Bukhari, 4430).

Kemudian di Madinah, beliau berziarah ke makam baqi ', mendoakan keluarga. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Ia juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang ingin wafat kepada yang hidup.

Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi Muhammad mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau banyak berwasiat :

Pertama: Beliau mewasiatkan agar orang-orang musyrik dari Jazirah Arab Bertobat

Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.

Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid inginnya tetap diberangkatkan pada layar Romawi.

Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.

Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat 5 waktu

Beliau mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau mengumumkan dan melarang kuburan beliau menjadi berhala yang untuk disembah.

Di antara pesan beliau adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Disebut termaktub dalam Musnad Imam Ahmad , 1/195.

Beliau berpesan dalam dunia tentang gemerlapan dunia. Janganlah berlomba-lomba dari dunia. Agar dunia tidak membuat binasa sebagaiman alam sebelumnya binasa karena dunia.

Dalam keadaan sakit berat, beliau tetap menjaga adab terhadap istri-istri, dan adil terhadap mereka. Nabi Muhammad meminta izin pada istri-istri untuk tinggal di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.

Karena sakit yang sangat berat, Nabi Muhammad Mengizinkan Abu Bakar untuk mengimami Shalat terhadap masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa Hidup Rasulullah.

Sehari sebelum wafat, beliau bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda,

لا نورث ، ما تركناه صدقة

Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami berikan menjadi sedekah. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 12/8 No. 6730).

Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi Muhammad wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia sayyidalat Adam. Bumi orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.

Aisyah bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ' Allahumma ar-rafiq al-a'la '. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 8/150 No. 4463).

Beliau memilih perjumpaan dengan Allah SWT diakhirat. Beliau wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyerahkan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang. Tidak percaya bahwa mereka memiliki tiada. Hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah tidak wafat. Beliau tidak akan pergi kepada Allah, melambungkan orang-orang munafik. ”(Ibnu Hajar dalam Fathul Bari , 8/146).

Abu Bakar hadir, "Duduklah Umar", perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar, “Amma ba'du… siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad Saw, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah,

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Muhammad itu tidak lain hanya rasul, benar-benar telah menembak sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika Anda melakukan sesuatu dengan memasukkan ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berputar ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ”(QS: Ali Imran | Ayat: 144).

Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka sangat larut dalam kesedihan. Mereka dalam keadaan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai.

Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diajarkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat di antara mereka.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah kisah menjelang Wafatnya Nabi Muhammad Saw, jika ada Kekeliruan silahkan anda memberi kami masukkan.

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Isa dan diangkatnya Nabi Isa ke langit

Nabi Isa yang merupakan sumber perselisihan setelah pengangkatannya ke langit oleh Alloh SWT agar terhindar dari kepungan orang Yahudi.

Diangkatnya Nabi Isa ke langit

Al-Qur’an al-Karim menceritakan bahwa Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa atau menyalibnya tetapi Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka lalu mengangkatnya di sisi-Nya. Mereka tidak berhasil membunuhnya dan tidak berhasil menyalibnya tetapi ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah SWT berfirman:
(QS. An-Nisa’, 4: 157-158).

Dan Allah SWT juga berflrman:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu pada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. ”, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”(QS. Ali ‘Imran, 3: 55).

Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal itu dan mereka berselisih pendapat tentang cara beragumentasi terhadap apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Sebagian mereka meyakini nas-nas Al-Qur’an saja yang menyebut tentang Isa al-Masih dan mereka tidak mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain Al-Qur’an. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahwa Nabi melarang untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Bagi kaum itu agama mereka dan bagi kita agama kita dan hanya Allah SWT yang akan memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari kiamat.

Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua mengatakan bahwa larangan Nabi tersebut terjadi pada permulaan masa Islam di mana kaum Muslim sangat dekat dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak disibukkan dengan kitab-kitab lain selain kitab mereka, yakni Al-Qur’an. Yang demikian ini dimaksudkan agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan mereka benar-benar tertanam dalam diri mereka, tetapi ilmu dan pandangan ilmiah menetapkan bahwa seorang yang alim harus banyak menggali kitab-kitab kuno dalam rangka mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati sesuatu yang sesuai dengan apa yang didapatinya dengan kebenaran, maka hatinya akan lebih merasa tenang dan damai.

Berkaitan dengan kelompok yang pertama yang merasa cukup dengan Al-Qur’an, kita tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha penangkapan Isa, bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana Isa diserupakan dengan salah seorang di antara mereka, bagaimana dia diserupakan dengan salah seorang di antara mereka. Allah SWT telah menyerupakannya dengan salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit.

Demikianlah penjelasan singkat mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang kedua, mereka melontarkan kisah secara lengkap. Mereka mengatakan bahwa Allah SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah Yahuda al-Askhariyutha yang menurut Injil ia menjualnya kepada musuh-musuhnya dan menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan Injil Barnabas di mana disebutkan di dalamnya: “Ketika para tentara mendekat bersama Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu’, maka Yasu’ mendengar kedatangan segerombolan orang yang menuju tempatnya. Oleh karena itu, ia segera pergi ke rumah dalam keadaan takut. Di dalam rumah itu terdapat sebelas orang yang tidur.

Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya, maka Dia merintahkan Jibril, Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang mereka semua adalah para utusan-Nya untuk mengambil Yasu’ dari dunia. Lalu datanglah malaikat-malaikat yang suci di mana mereka mengambil Yasu’ dari pintu yang dekat dengan arah selatan.

Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang ketiga dengan disertai para malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah selama-lamanya. Yahuda masuk secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu’ diangkat ke langit.

Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya, lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali dengan Yasu’ sehingga kami mengiranya Yasu’. Adapun ia (Yahuda) setelah membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada.

Oleh karena itu, kami merasa heran dan kami menjawab, “bukankah engkau wahai tuanku guru kami, apakah sekarang engkau telah melupakan kami?” Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas.

Allah SWT berfirman:

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.”. perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).(QS. Al-Maidah, 5: 75).

Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah SWT yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau.

Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya.

Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa AS. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa ‘AS dari makar jahat mereka. Allah SWT tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi.

PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA

Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-¬orang Yahudi -semoga laknat Allah SWT, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allah SWT mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam dengan membawa bukti-¬bukti (kebenaran risalah-Nya) yang nyata dan petunjuk, mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah SWT berupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata.

Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak (penyakit belang pada kulit), menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah SWT mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah SWT, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah SWT tehadap beliau ‘alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah SWT melalui kedua tangan Nabi Isa AS.

Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa ‘AS tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya (Maryam) pun ikut mengembara bersama beliau ‘alaihissalam.

Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq (Damaskus) di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani.

Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan (berita dusta) kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya (kepala daerah) yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi.

Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isa‘AS. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut.

Ketika Nabi Isa ‘AS merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia (terpaksa) keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabat¬nya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa AS memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali.

Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa ‘AS pun berkata, “(Kalau memang demikian), kamulah orangnya.” Maka Allah SWT menjadikannya mirip seperti Nabi Isa AS, hingga seolah-olah ia me¬mang Nabi Isa ‘AS sendiri.

Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa ‘AS tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah SWT mengangkat beliau ‘alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya :

"(ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS. Ali Imran, 3: 55).

Setelah Nabi Isa AS diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka (orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa AS) melihat pemuda (yang mirip Nabi Isa AS) itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa AS. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan ¬duri-duri di kepalanya.

Orang-¬orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa AS dan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-¬orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut (bahwa Nabi Isa AS disalib) karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka.

Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih ‘alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa AS diangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-¬orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam ‘alaihissalam.

Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan (sebuah mitos) bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa ‘AS (yang mereka sangka disalib itu) bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih ‘alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa AS atau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan (artinya):

Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa’4: 157).

Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al-Masih

Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa ‘AS (Yesus menurut mereka) sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah SWT telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa ‘AS masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah SWT akan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah SWT, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan.

Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa AS senantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT. Nabi Isa AS tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isa‘AS tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah SWT berfirman :

"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al-Maidah, 5: 116)

Kalau Nabi Isa AS menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah, 5: 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah, 5: 73)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. At-Taubah, 9: 30)

Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa ‘AS akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah (upeti) sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam sabda beliau :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil (yang menjalankan syariat ini), ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan (tidak memberlakukan) jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” (H.Riwayat Muttafaqun ‘Alaihi).

Wallohua'lam bisshowab

Kisah Cerita wafatnya Nabi Zakariya dan Nabi Yahya

Nabi Zakaria diutus kepada bani Israil ketika kemaksiatan, kemungkaran, kezhaliman, dan kerusakan merajalela di kalangan mereka. Selain itu, raja-raja kejam serta zhalim juga berkuasa di sana dan selalu berbuat kerusakan. Herodes, penguasa Palestina adalah raja yang paling jahat dan suka melanggar.

Kuwaluhan.com

Dialah yang memerintahkan membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Saat dibunuh, Nabi Zakariya berusia sekitar 122 tahun. Sedangkan Nabi Yahya belum jelas usianya, karena tidak banyak disebutkan.

Ishaq Bin Bisyr dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas berkata bahawa pada malam Nabi S.A.W. diisra'kan, baginda Muhammad Saw telah bertemu dengan Nabi Zakaria di langit.

Zakaria mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad S.A.W. Setelah itu baginda bertanya kepada Nabi Zakaria mengenai perkara yang terjadi ke atasnya.

"Wahai Abu Yahya,beritahu kepadaku ketika engkau dibunuh, bagaimana kejadiannya dan mengapa Bani Israil membunuhmu?"

Nabi Zakaria menjawap,"Wahai Muhammad, Yahya adalah orang yang paling baik pada zamannya. Paling tampan dan cukup menawan wajahnya."

"Sebagaimana yang difirmankan Allah,dia juga menjadi pemimpin yang handal. Inilah yang menyebabkan isteri Bani Israil(Herod Antipas) jatuh hati kepadanya meskipun dia itu asalnya seorang pelacur."

"Dia telah mengirim utusan kepada beliau namun Allah memelihara dirinya hingga Yahya menolak dan enggan kepadanya. Maka dia bertekad untuk membuat Yahya sengsara."

"Bani Israil mempunyai hari raya setahun sekali. Pada hari itu mereka akan berkumpul. Menjadi kebiasaan raja ini,dia sentiasa menepati janji dan dia tidak pernah berdusta. Raja ini sangat cinta kepada isterinya. Jadi pada hari raya itu, raja bersama isterinya yang cantik."

"Ketika berjalan-jalan itulah raja bertanya kepada isterinya supaya meminta sesuatu dan raja akan mengikut kehendaknya. Isteri raja pun memberitahu bahawa dia ingin mendapatkan darah Yahya Bin Zakaria."

"Raja berkata,mintalah selain daripada itu. Tetapi isterinya tetap menginginkan darah nabi Yahya juga dan tidak mahu yang lain. Raja pun bersetuju. Kemudian dia pun mengutuskan para pengawal untuk menemui Yahya yang pada ketika itu sedang berada di mihrab,sedang bersolat."

"Saat itu,aku(Nabi Zakaria) berada di sisi Yahya ikut sholat. Seketika itu juga Yahya dipenggal lehernya dan darahnya ditampung pada sebuah bekas bersama kepalanya,"begitu cerita Nabi Zakaria mengenai kejadian yang berlaku di depan matanya.

Nabi S.A.W. bertanya bagaimana Zakaria boleh bersabar melihat kejadian itu?

"Aku tidak menoleh dari sholatku. Sewaktu kepala Yahya dibawa ke hadapan isteri raja itu, maka Allah membalikkan raja dan segenap keluarganya."

"Pada pagi harinya, Bani Israil berkata bahawa Tuhan Zakaria telah marah disebabkan peristiwa itu tetapi orang Bani Israel lebih berhak untuk marah semata-mata kerana hendak membela rajanya. Justru itu mereka hendak membunuh Zakaria pula."

"Mereka pun mencariku untuk membunuhku. Ada orang memberitahu niat mereka itu kepadaku menyebabkan aku pun lari menghindarkan diri dari mereka. Pihak Iblis pun ada di hadapan mereka untuk menunjukkan arah di mana aku berada."

"Ketika aku sudah putus-asa dan tidak ada harapan untuk lari dari mereka,tiba-tiba ada pohon yang berkata kepadaku: Masuklah ke mari."

"Pohon itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya. Iblis pula datang dan dia melihat hujung serbanku yang masih  kelihatan di luar pohon."

Kuwaluhan.com

"Setelah Bani Israil tiba,  Iblis berkata, Adakah kamu tidak melihat bahwa dia Zakariya berada di dalam batang pohon itu? Inilah hujung serbannya, Dia masuk ke dalam batang pohon dengan kekuatan sihir."

"Mereka bertanya sesama mereka apakah pohon ini boleh dibakar saja? sebaliknya Iblis menyarankan supaya pohon itu dibelah dengan gergaji. Sebab itulah mereka membelahnya dengan gergaji."

Demikian kisah panjang yang diceritakan semula oleh Nabi Zakaria A.S. kepada Nabi Muhammad S.A.W.di malam Isra' mi'raj.

Pembunuhan kepada Nabi Zakaria adalah atas bantuan Iblis yang memang tugasnya mengoda manusia supaya melakukan sesuatu termasuk membunuh.

Hasutan Iblis ke atas isteri raja sehingga dia sanggup meminta darah Nabi Yahya dengan maksud membunuh kerana tidak mahu tunduk kepada kehendak isteri raja.

Begitulah nasib yang menimpa Nabi Zakaria. Beliau mati digergaji oleh Bani Israil atas hasutan Iblis.

Kedua-dua Nabi ini mati syahid dalam mempertahankan ajaran Allah. Kedua-duanya tidak takut mengkritik raja yang mau mengawini anak tirinya kerana perbuatan tersebut adalah melanggar syariat.

Wallohua'lam bisshowab