Showing posts with label Wafatnya Nabi Idris. Show all posts
Showing posts with label Wafatnya Nabi Idris. Show all posts

Wednesday, May 30, 2018

Kisah Cerita Wafatnya dan Meninggalnya Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad lahir sekitar tahun 570 (Tahun Gajah) kota Arab Mekkah, Muhammad menjadi yatim piatu di usia mudanya; ia tumbuh di bawah pengasuhan Abu Talib.

Kisah wafatnya Nabi Muhammad

Wafatnya Nabi dan Rasul Islam Muhammad(570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang beliau alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya.

Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, didalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, nabi Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan.

Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam.

Rasulullah Saw telah kembali dari haji wada 'setelah Allah SWT memberi dorongan firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

Waktu telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat. ”(QS: An-Nashr | Ayat: 1-3).

Setelah itu, Rasulullah Saw mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau Rasulullah Saw bersabda pada haji wada '

لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا

Pelajarilah dariku tata cara haji kalian, bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian saat tahun ini.” (HR. Al-Bukhari, 4430).

Kemudian di Madinah, beliau berziarah ke makam baqi ', mendoakan keluarga. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Ia juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang ingin wafat kepada yang hidup.

Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi Muhammad mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau banyak berwasiat :

Pertama: Beliau mewasiatkan agar orang-orang musyrik dari Jazirah Arab Bertobat

Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.

Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid inginnya tetap diberangkatkan pada layar Romawi.

Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.

Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat 5 waktu

Beliau mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau mengumumkan dan melarang kuburan beliau menjadi berhala yang untuk disembah.

Di antara pesan beliau adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Disebut termaktub dalam Musnad Imam Ahmad , 1/195.

Beliau berpesan dalam dunia tentang gemerlapan dunia. Janganlah berlomba-lomba dari dunia. Agar dunia tidak membuat binasa sebagaiman alam sebelumnya binasa karena dunia.

Dalam keadaan sakit berat, beliau tetap menjaga adab terhadap istri-istri, dan adil terhadap mereka. Nabi Muhammad meminta izin pada istri-istri untuk tinggal di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.

Karena sakit yang sangat berat, Nabi Muhammad Mengizinkan Abu Bakar untuk mengimami Shalat terhadap masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa Hidup Rasulullah.

Sehari sebelum wafat, beliau bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda,

لا نورث ، ما تركناه صدقة

Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami berikan menjadi sedekah. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 12/8 No. 6730).

Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi Muhammad wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia sayyidalat Adam. Bumi orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.

Aisyah bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ' Allahumma ar-rafiq al-a'la '. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 8/150 No. 4463).

Beliau memilih perjumpaan dengan Allah SWT diakhirat. Beliau wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyerahkan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang. Tidak percaya bahwa mereka memiliki tiada. Hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah tidak wafat. Beliau tidak akan pergi kepada Allah, melambungkan orang-orang munafik. ”(Ibnu Hajar dalam Fathul Bari , 8/146).

Abu Bakar hadir, "Duduklah Umar", perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar, “Amma ba'du… siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad Saw, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah,

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Muhammad itu tidak lain hanya rasul, benar-benar telah menembak sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika Anda melakukan sesuatu dengan memasukkan ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berputar ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ”(QS: Ali Imran | Ayat: 144).

Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka sangat larut dalam kesedihan. Mereka dalam keadaan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai.

Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diajarkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat di antara mereka.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah kisah menjelang Wafatnya Nabi Muhammad Saw, jika ada Kekeliruan silahkan anda memberi kami masukkan.

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Isa dan diangkatnya Nabi Isa ke langit

Nabi Isa yang merupakan sumber perselisihan setelah pengangkatannya ke langit oleh Alloh SWT agar terhindar dari kepungan orang Yahudi.

Diangkatnya Nabi Isa ke langit

Al-Qur’an al-Karim menceritakan bahwa Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa atau menyalibnya tetapi Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka lalu mengangkatnya di sisi-Nya. Mereka tidak berhasil membunuhnya dan tidak berhasil menyalibnya tetapi ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah SWT berfirman:
(QS. An-Nisa’, 4: 157-158).

Dan Allah SWT juga berflrman:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu pada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. ”, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”(QS. Ali ‘Imran, 3: 55).

Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal itu dan mereka berselisih pendapat tentang cara beragumentasi terhadap apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Sebagian mereka meyakini nas-nas Al-Qur’an saja yang menyebut tentang Isa al-Masih dan mereka tidak mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain Al-Qur’an. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahwa Nabi melarang untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Bagi kaum itu agama mereka dan bagi kita agama kita dan hanya Allah SWT yang akan memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari kiamat.

Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua mengatakan bahwa larangan Nabi tersebut terjadi pada permulaan masa Islam di mana kaum Muslim sangat dekat dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak disibukkan dengan kitab-kitab lain selain kitab mereka, yakni Al-Qur’an. Yang demikian ini dimaksudkan agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan mereka benar-benar tertanam dalam diri mereka, tetapi ilmu dan pandangan ilmiah menetapkan bahwa seorang yang alim harus banyak menggali kitab-kitab kuno dalam rangka mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati sesuatu yang sesuai dengan apa yang didapatinya dengan kebenaran, maka hatinya akan lebih merasa tenang dan damai.

Berkaitan dengan kelompok yang pertama yang merasa cukup dengan Al-Qur’an, kita tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha penangkapan Isa, bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana Isa diserupakan dengan salah seorang di antara mereka, bagaimana dia diserupakan dengan salah seorang di antara mereka. Allah SWT telah menyerupakannya dengan salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit.

Demikianlah penjelasan singkat mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang kedua, mereka melontarkan kisah secara lengkap. Mereka mengatakan bahwa Allah SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah Yahuda al-Askhariyutha yang menurut Injil ia menjualnya kepada musuh-musuhnya dan menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan Injil Barnabas di mana disebutkan di dalamnya: “Ketika para tentara mendekat bersama Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu’, maka Yasu’ mendengar kedatangan segerombolan orang yang menuju tempatnya. Oleh karena itu, ia segera pergi ke rumah dalam keadaan takut. Di dalam rumah itu terdapat sebelas orang yang tidur.

Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya, maka Dia merintahkan Jibril, Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang mereka semua adalah para utusan-Nya untuk mengambil Yasu’ dari dunia. Lalu datanglah malaikat-malaikat yang suci di mana mereka mengambil Yasu’ dari pintu yang dekat dengan arah selatan.

Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang ketiga dengan disertai para malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah selama-lamanya. Yahuda masuk secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu’ diangkat ke langit.

Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya, lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali dengan Yasu’ sehingga kami mengiranya Yasu’. Adapun ia (Yahuda) setelah membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada.

Oleh karena itu, kami merasa heran dan kami menjawab, “bukankah engkau wahai tuanku guru kami, apakah sekarang engkau telah melupakan kami?” Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas.

Allah SWT berfirman:

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.”. perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).(QS. Al-Maidah, 5: 75).

Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah SWT yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau.

Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya.

Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa AS. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa ‘AS dari makar jahat mereka. Allah SWT tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi.

PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA

Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-¬orang Yahudi -semoga laknat Allah SWT, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allah SWT mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam dengan membawa bukti-¬bukti (kebenaran risalah-Nya) yang nyata dan petunjuk, mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah SWT berupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata.

Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak (penyakit belang pada kulit), menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah SWT mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah SWT, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah SWT tehadap beliau ‘alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah SWT melalui kedua tangan Nabi Isa AS.

Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa ‘AS tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya (Maryam) pun ikut mengembara bersama beliau ‘alaihissalam.

Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq (Damaskus) di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani.

Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan (berita dusta) kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya (kepala daerah) yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi.

Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isa‘AS. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut.

Ketika Nabi Isa ‘AS merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia (terpaksa) keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabat¬nya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa AS memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali.

Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa ‘AS pun berkata, “(Kalau memang demikian), kamulah orangnya.” Maka Allah SWT menjadikannya mirip seperti Nabi Isa AS, hingga seolah-olah ia me¬mang Nabi Isa ‘AS sendiri.

Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa ‘AS tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah SWT mengangkat beliau ‘alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya :

"(ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS. Ali Imran, 3: 55).

Setelah Nabi Isa AS diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka (orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa AS) melihat pemuda (yang mirip Nabi Isa AS) itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa AS. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan ¬duri-duri di kepalanya.

Orang-¬orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa AS dan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-¬orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut (bahwa Nabi Isa AS disalib) karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka.

Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih ‘alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa AS diangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-¬orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam ‘alaihissalam.

Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan (sebuah mitos) bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa ‘AS (yang mereka sangka disalib itu) bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih ‘alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa AS atau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan (artinya):

Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa’4: 157).

Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al-Masih

Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa ‘AS (Yesus menurut mereka) sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah SWT telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa ‘AS masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah SWT akan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah SWT, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan.

Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa AS senantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT. Nabi Isa AS tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isa‘AS tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah SWT berfirman :

"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al-Maidah, 5: 116)

Kalau Nabi Isa AS menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah, 5: 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah, 5: 73)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. At-Taubah, 9: 30)

Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa ‘AS akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah (upeti) sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam sabda beliau :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil (yang menjalankan syariat ini), ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan (tidak memberlakukan) jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” (H.Riwayat Muttafaqun ‘Alaihi).

Wallohua'lam bisshowab

Tuesday, May 29, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Sulaiman As

Pada suatu ketika nabi Sulaiman menyendiri di Baitul Maqdis yang saat itu dibangun pada tahun keempat kekuasaannya. Nabi Sulaiman AS menyendiri dalam waktu satu atau dua tahun, satu atau dua bulan.

Kuwaluhan.com

Beliau membawa makanan dan minumannya. Beliau tidak bangun pagi dan di dalam Baitul Maqdis sudah tumbuh pohon. Nabi Sulaiman AS mendatangi pohon itu dan bertanya,

“Siapa namamu?”
“Namaku ini dan ini,” jawab pohon itu.
“Akan tumbuh sebagai tumbuhan atau sebagai obat?” tanya Nabi Sulaiman lagi.
“Aku tumbuh sebagai obat itu dan ini,” jawab pohon tersebut.

Akhirnya pohon itu dinamakan Al Kharubah (Perusak).

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Siapa namamu?”

“Namaku Kharubah,” jawab pohon itu lagi.
“Kenapa engkau tumbuh?” tanya Nabi Sulaiman.

“Aku tumbuh untuk merusak masjid ini,” jawab pohon itu.

Nabi Sulaiman berkata, “Allah tidak akan merusak masjid ini selama aku hidup. Pada wajahmu, ada kebinasaanku dan kerusakan Baitul Maqdis.”

Nabi Sulaiman lalu mencabut pohon itu dan menanamnya di dinding rumahnya. Lalu, Nabi Sulaiman masuk ke mihrab dan berdiri shalat sambil bersandar pada tingkatnya dan kemudian meninggal tanpa setan pun tahu.

Setan-setan yang sedang bekerja untuk Nabi Sulaiman pun takut kalau Nabi Sulaiman akan keluar dan memberikan hukuman pada mereka. Akhirnya mereka berkumpul di sekeliling mihrab dan di depan serta belakang Nabi Sulaiman ada dinding.

Setan yang ingin mencabut pohon Al Kharubah berkata, "Bukankah akan menjadi kuat jika aku masuk dan keluar dari sisi itu?"

Maka setan itu pun masuk dari sisi tersebut hingga keluar dari sisi yang lain. Setan yang berjalan di mihrab itu tidak melihat maupun mendengar suara Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang berada di dalam mihrab dan setan tersebut malah terbakar.

Hingga setan itu kembali berada di Baitul Maqdis dan tidak terbakar lagi, ia lalu melihat Nabi Sulaiman telah jatuh dalam keadaan wafat.

Setan tersebut lalu keluar dan memberitahukan pada orang-orang bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia. Mereka pun membuka pintu dan mengeluarkan Nabi Sulaiman, lalu menemukan tongkat yang telah dimakan oleh tanah dan mereka tidak mengetahui sejak kapan Nabi Sulaiman telah meninggal dunia.

Mereka lalu menaruh tanah di atas tongkat tersebut, sehingga tanah itu memakannya siang dan malam hari. Akhirnya, mereka memperkirakan bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia sejak satu tahun yang lalu.

Ibnu Mas'ud berkata, "Kemudian mereka mencermati secara bersungguh-sungguh untuknya setelah kematian Sulaiman selama satu tahun penuh sehingga orang-orang pun yakin bahwa jin telah berdusta.

Seandainya bangsa jin mengetahui hal ghaib, niscaya mereka mengetahui kematian Sulaiman. Kemudian mereka akan merasakan azab yang menghinakan. Dan itulah makna firman Allah ta'ala yang diterangkan dalam Al-Quran Surat Saba’ ayat 14.
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba' ayat 14).

Peristiwa kematian Nabi Sulaiman yang penuh dengan misteri dan keajaiban, wafat dalam keadaan duduk di kursi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin yang bekerja.. Hal ini menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ibnu Mas'ud mengemukakan, "Tampak oleh orang-orang secara jelas bahwa jin-jin itu telah berbohong. Kemudian setan-setan itu berkata kepada bumi, 'Jika kamu memakan makanan, niscaya aku akan datangkan kepadamu makanan yang paling lezat untukmu. Dan jika kamu meminum minuman, niscaya aku akan memberikan minuman yang paling segar kepadamu.
Tetapi, kami akan memindahkan air dan tanah kepadamu.'

Asbagh mengatakan, "Aku pernah mendengar juga dari ulama lainnya bahwa binatang-binatang itu tinggal di sana selama satu tahun memakan tongkat Sulaiman hingga akhirnya rapuh dan roboh,"

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Daud As

Nabi Daud meninggal dalam usia sekitar 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak).

Kuwaluhan.com

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Nabi Daud adalah seorang nabi yang memiliki rasa cemburu tinggi. Setiap Kali Beliau keluar Selalu Pintu-Pintu Nirkabel, tidak ada yang bisa masuk ke rumah Nabi Daud sebelum beliau pulang.

Suatu hari beliau ke luar dan rumah pun telah dikunci. Tiba-tiba tiba-tiba mengintip dan melihat ada lelaki ber-diri di ruang tengah. Istrinya bertanya, 'siapa yang di dalam kamar?' Dari mana lelaki itu bisa masuk padahal pintu terkunci? Demi Allah, ini merupakan cara untuk mencemarkan nama baik Daud .

Kemudian Nabi Daud datang, lelaki itu masih berada di ruang tengah, lalu Daud bertanya kepada lelaki tersebut, 'Kamu siapa?' Dia menjawab, 'Aku adalah yang tidak pernah merasa takut dengan para raja dan tidak ada sesuatu yang dapat terkendali!'

Nabi Daud berkata, 'Demi Allah, Tuhan adalah malaikat pencabut nyawa. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kepadamu untuk melaksanakan perintah Allah. '

Kemudian Nabi Daud akan menuju kamar yang di situ akan dicabut ruhnya .

Setelah semua tanggung jawab jenazah ditunaikan dengan baik, matahari pun terbit. Nabi Sulaiman berkata kepada burung, 'Naungilah ayahku, Nabi Daud.' Kemudian burung itu menaunginya hingga sekian hari. Sulaiman berkata lagi, 'Lepaskan sayapmu satu persatu!'

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah itu kepada kami apa yang dilakukan burung itu. Ketika beliau wafat, beliau dinaungi oleh burung-burung bersayap lebar. ”

Jenazah Daud terpayungi, begitu pula para pengantarnya. Langit matahari tidak berhasil menyusupkan dosa ke para pengantar. Menyesuaikan bumi menjadi gelap. Kisah-kisah tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Musa As

Disebutkan dalam riwayat, bahwa para malaikat yang mengurus pemakamannya dan yang menyalatkannya. Ketika itu, usia nabi Musa sekitar 120 tahun.

Kuwaluhan.com

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenceritakan tentang wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai berikut:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ»

Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Penuhilah Tuhanmu.” Maka Nabi Musa segera memukul mata malaikat maut dan mencoloknya, kemudian malaikat itu kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, “Engkau mengirimku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.” Dan ia telah mencolok mataku, lalu Allah mengembalikan matanya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan, “Apakah engkau ingin hidup?” Jika engkau ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung sapi, maka hidupmu sampai waktu sebanyak bulu yang tertutup tanganmu. Engkau masih dapat hidup setahun.” Kemudian Musa berkata, “Selanjutnya apa?” Allah berfirman, “Selanjutnya engkau mati.” Musa berkata, “Kalau begitu sekaranglah segera.” Wahai Tuhanku, matikanlah aku di dekat negeri yang suci yang jaraknya sejauh lemparan batu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, kalau sekiranya aku berada dekat sana, tentu aku akan memberitahukan kalian kuburnya di pinggir jalan, di dekat bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Pada suatu hari malaikat Izrail mendekati Musa as. Musa bertanya,“ Apakah engkau datang untuk mengunjungiku atau mencabut nyawaku?“

Izrail,“Untuk mengambil nyawamu.“
Musa,“Bisakah engkau beri kesempatan kepadaku untuk melakukan perpisahan dengan anak-anakku.“
Izrail,“Tidak ada kesempatan untuk itu.“
Musa bersujud kepada Tuhan memohon agar memerintahkan Izrail untuk memberikan kesempatan kepada Musa menyampaikan kata perpisahan kepada anak-anaknya.

Tuhan berkata kepada Izrail, “Berikan kesempatan kepada Musa.“
Izrail memberinya kesempatan. Musa as., mendatangi ibunya dan berkata,“Saya sebentar lagi mau melakukan safar.“
Ibunya bertanya,“Safar apa?“
Musa berkata,“Perjalanan ke akhirat“
Ibunya pun menangis.

Kemudia Musa mendatangi istrinya. Ia mengucapkan perpisahan kepada istrinya. Anak-anaknya mendekati pangkuan Musa as., dan menangis. Musa as., terharu dan ia menangis juga.

Tuhan berkata kepada Musa as.,“Hai Musa, kamu akan datang menemui-Ku. Untuk apa tangisan dan rintihan ini?“
Musa as. ,berkata,“Hatiku mencemaskan anak-anakku.“

Tuhan berfirman,“Hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. Biarkan aku menjaga mereka. Biarkan Aku mengurus mereka dengan kecintaanku.“ Barulah hati Musa as., berfikir tenang.

Musa bertanya kepada Izrail,“Dari mana engkau akan mengambil nyawaku ?“
Izrail,“Dari mulutmu.“

Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku lewat mulut yang sudah bermunajat kepada Tuhan?“
Izrail,“Kalau begitu lewat tanganmu.“
Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku melalui tangan yang pernah membawa lembaran-lembaran Taurat?“
Izrail,“Kalau begitu dari kakimu.“
Musa,“Apakah engkau mengambil nyawa dari kaki yang pernah berjalan ke bukit Thur untuk bermunajat kepada Tuhan ?“

Izrail kemudian memberikan jeruk yang harum untuk dihirup Musa dan Musa menghembuskan nafas yang terakhir.
Para malaikat bertanya kepada Musa,“ Ya ahwanal anbiya` mawtan. Kaifa wajadta al-mawt? Hai Nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian ?“
Musa berkata,“Kasyatin tuslaku wa hiya hayyatun. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup.“

Sungguh betapa sakit yang luar biasa ketika menghadapi kematian, oleh karenya ada sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca rutin agar diselamatkan Allah dari kepedihan jelang kematian.

Wallohua'lam Bisshowab


Kisah Cerita Wafatnya Nabi Ya'qub As

Setelah Nabi Ya’qub memiliki 12 keturunan yang disebut dengan asbath (keturunan Ya’qub). Dengan istri pertamanya, Rahiil, Nabi Ya’qub mendapatkan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dan Bunyamin.

Kuwaluhan.com

Dari istri keduanya, Laya, lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon. Sedangkan dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.
Beliau pun juga semakin dekat dengan datangnya kematian.

Alloh berfirman :

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.

“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.

“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami,  Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.

Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.

Suatu hari Nabi Ya’qub sedang berbincang dengan Malaikat Maut. Di tengah-tengah perbincangannya, Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti.”

Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Kemudian Malaikat itupun pergi meninggalkan Nabi Ya’qub.

Setelah beberapa lama, Malaikat itu datang menghampiri Nabi Ya’qub. Karena biasanya bertamu, Nabi Ya’qub tak kaget lagi melihat Malaikat itu datang menemuinya.

Nabi Ya’kub bertanya, “Apa kedatangan engkau sekadar bertamu seperti biasanya?”

Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.”

Kaget, Nabi Ya’qub lantas berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga : pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.”

Kemudian Malaikat mau mencabut nyawa Nabi Ya’qub. Ayah dari Nabi Yusuf itupun meninggalkan dunia dengan kedamaian.

Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita. Bukan tanpa peringatan, Allah dan Malaikat-Nya sudah memberikan tanda-tanda seseorang yang akan menemui ajalnya melalui 3 hal tersebut.

Melaui uban pula seseorang akan ditinggikan derajatnya dan dihitung sebagai kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”

Maka ketika tanda-tanda tersebut telah muncul, hendaknya menjadi alarm kita bahwa sebentar lagi akan meninggalkan dunia yang fana. Bukan lagi waktunya untuk bersenang-senang dengan memperbanyak dosa, melainkan mnimbun pahala.

Alangkah baiknya seseorang yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya seperti hadits Nabi berikut, ”Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” (HR Thabrani).

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Kisah cerita Wafatnya Nabi Ibrahim As

Bismillahirrahmanirrohim

Artikel berikut ini mengisahkan tentang Wafatnya Nabi Ibrahim As dalam berbagai sumber. Langsung saja berikut kisahnya :

Ketika Siti Sarah meninggal, Nabi Ibrahim menikahi perempuan dari bangsa Kan'an. Lahir darinya lima  anak ; Bakisyan bin Ibrahim, Zamran bin Ibrahim, Madyan bin Ibrahim, Sabaq bin Ibrahim, dan Syuh bin Ibrahim. Mereka semua tidak menjadi nabi, akan tetapi yang menjadi nabi hanya keturunan Nabi Ishaq dan Nabi Ismail.

Kuwaluhan.com

Pada umur 150 tahun, Allah menampakkan uban Nabi Ibrahim. Ulama berkata, "Alasan Allah memunculkan uban kepada Nabi Ibrahim adalah karena Ishaq, putra beliau sangat mirip dengan beliau. Masyarakat tidak bisa membedakan antara keduanya.

Adab seseorang yang datang kepada Ishaq dan menyangka bahwa dia adalah Ibrahim. Orang tersebut menyapa, "Assalamualaikum, wahai kholilullah." Akhirnya Ishaq menjawab, "Aku adalah anak dari kholilullah. Ia lebih baik dari pada aku. Dia bak tuanku dan aku ibarat budaknya."

Saat orang-orang mulai tidak bisa membedakan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq maka Allah memberinya tanda berupa uban. Nabi Ibrahim merasa sedih melihat rambut ubannya yang memutih. Namun beliau tidak bisa menolak apa yang dialaminya. Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali beruban dari keturunan Nabi Adam.

"Wahai Tuhanku, apakah ini(uban)" tanya Ibrahim.

"Itu adalah kewibawaan, ketenangan, kebijaksanaan dariku." Jawab Allah.

"Wahai Allah, tambahkan kewibawaan, ketenangan, dan kegembiraan dengannya." Doa Ibrahim.

Nabi Ibrahim tetap hidup hingga 25 tahun kemudian. Umur beliau seluruhnya adalah 175 tahun. Ada yang mengatakan 200 tahun.

Ketika Allah hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim, terlebih dahulu Allah mengutus malaikat maut kepadanya. Saat itu Ibrahim berada di sebuah rumah, yang sama sekali tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali dengan izin beliau.

Suatu ketika malaikat maut masuk ke rumah beliau. Namun saat itu Nabi Ibrahim tidak di rumah. Hingga ketika Nabi Ibrahim kembali, dia mendapati laki-laki yang sangat buruk rupanya. Nabi Ibrahim pun tidak menginginkan kehadirannya.

"Siapa yang memperbolehkan kamu masuk?" Tanya beliau.

"Dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah lebih berhak atas rumah ini."

Lalu Malaikat maut keluar dari beliau.

Keesokan harinya, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya. Beliau mengunci pintu rumah tersebut. Malaikat maut kembali datang. Dia masuk.

Nabi Ibrahim pulang. Ternyata, di rumah beliau melihat laki-laki yang sangat bagus rupanya. Tidak pernah dia melihat orang yang lebih tampan darinya. Ketampanannya benar-benar membuat Nabi Ibrahim tercengang.

"Siapa kamu? Dan siapa yang mengizinkan kamu masuk rumahku?" Tanya beliau.

"Yang memberi izin kepadaku adalah dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah ini lebih berhak atasnya. Siapa sebenarnya dirimu?"

"Saya adalah malaikat maut, dan sayalah yang menemuimu kemarin." Dia berhenti. Kemudian melanjutkan ucapannya.

"Sesungguhnya ketika Allah menghendaki buruk terhadap seorang hamba maka dia akan mengutusku dalam keadaan yang engkau lihat kemarin. Apabila dia menghendaki baik maka dia mengutusku dalam wujud seperti ini."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya Allah berkata kepada malaikat maut, "Pergilah kepada kekasihku, Ibrahim. Dia sudah tidak senang lagi dengan kehidupan dunia dan lebih suka kematian." Lalu malaikat maut pergi dengan wujud orang tua, yang punggungnya  menghitam, matanya buram, dan lubang hidungnya telah meleleh. Dia bersandar di tongkatnya.

Sedangkan Nabi Ibrahim duduk di rumahnya. Datang kepadanya orang-orang miskin, maka beliau menghormati mereka sebagai tamu. Lalu datang malaikat dengan rupa tersebut. Dia mengucapkan salam kepada beliau. Beliau mempersilakannya untuk makan. Dia duduk. Nabi Ibrahim melihat dia hendak makan. Namun saat ia menelan makanannya dari mulut, seketika itu makanannya terjatuh dari bawah. Nabi Ibrahim heran melihatnya.

"Wahai orang tua, apa yang terjadi dengan makananmu? Dan apa yang sebenarnya menimpamu?" Tanya beliau.

"Ini karena umurku yang sudah tua. Orang yang umurnya sudah tua juga akan mengalaminya." Jawab orang tua tersebut.

"Berapakah umurmu?"

"201 tahun."

Saat itu umur Nabi Ibrahim sudah 200 tahun. Beliau berkata dalam hati, "Masa antara diriku dan orang ini hanya satu tahun. Melihat apa yang dialaminya membuatku benci akan kehidupan dunia dan ingin segera meninggal." Kemudian orang tua tersebut pulang.

Setahun berlalu orang tua atau malaikat datang dengan wujud yang tampan. Nabi Ibrahim tahu bahwa dia adalah malaikat maut.

"Hai malaikat maut, aku ingin waktumu sebentar." Nabi Ibrahim menceritakan kejadian orang tua kemarin.

"Sedangkan aku diperintah untuk mencabut nyawamu."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya malaikat maut datang kepada Nabi Ibrahim untuk mencabut nyawanya. Dia mengucapkan salam kepada beliau dan beliau pun menjawabnya.

"Siapa kamu?" Tanya nabi Ibrahim.

"Aku adalah malaikat maut. Aku diperintah karenamu," jawab malaikat.

Nabi Ibrahim menangis. Kemudian Nabi Ishaq mendengar tangisannya. Nabi Ishaq pun masuk, menemui beliau.

"Wahai kholilurrahman, apa yang membuatmu menangis?" Tanya Nabi Ishaq.

"Dia adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawaku." Jawab beliau.

Nabi Ishaq pun ikut menangis. Karenanya, malaikat maut kembali kepada Tuhannya.

"Wahai Tuhanku, kekasihmu bersedih karena kematian," kata malaikat.

"Hai Jibril, ambilah wewangian dari surga. Pergilah bersama malaikat maut menuju Ibrahim. Tenangkan perasaannya dengan bau tersebut, dan katakan kepadanya, "Sesungguhnya seseorang akan rindu bila sudah lama tidak bisa berjumpa. Apakah kamu tidak rindu kepada-Ku, padahal kamu adalah kekasih-Ku." Perintah Allah kepada malaikat Jibril.

Jibril datang kepada Nabi Ibrahim, menyampaikan pesan dari Allah dan memberikannya wewangian surga. Nabi Ibrahim berkata, "Iya, wahai Tuhanku. Aku benar-benar rindu bertemu dengan-Mu dan akan bau wewangian ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau.

Dan diriwayatkan bahwa, ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim as, maka beliau berkata, "Hai malaikat maut, apakah kamu pernah tahu seorang kekasih mencabut nyawa orang yang dicintainya." Maka malaikat maut naik ke langit untuk melaporkannya kepada Allah Swt. Lalu Allah berkata, "Katakanlah kepada kekasihku, "Apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?" Lalu malaikat maut kembali kepada Nabi Ibrahim.

Dia menyampaikan apa yang dikatakan Allah Swt. Mendengarnya, Nabi Ibrahim berkata kepada dirinya, "Tenanglah dirimu untuk saat ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau. Beliau dikuburkan di perkebunan Hairun. Kebun ini adalah kebun milik seorang yang telah beliau beli. Beliau berwasiat agar dikuburkan di sana.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah singkat Wafatnya Nabi Ibrahim As, jika ada kekeliruan silahkan anda berkomentar.