Showing posts with label Hukum Membuka Aib Orang lain. Show all posts
Showing posts with label Hukum Membuka Aib Orang lain. Show all posts

Wednesday, February 7, 2018

Pengertian Riba dan Akibatnya Memakan Harta Riba dalam Islam

Ketika Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan unta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah.

Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).

Larangan memakan harta hasil riba juga berlaku bagi orang yang membayar atau memberi riba kepada orang lain, baik secara individu maupun lembaga keuangan seperti bank, bmt, koperasi, pegadaian, dan semisalnya.


Demikian pula setiap orang yang terlibat dalam proses berlangsungnya muamalah ribawi, seperti orang yang mencatat atau menjadi saksinya. Mereka semua di hadapan Allah sama dalam hal hukum dan kedudukan, yaitu sama-sama telah berbuat dosa besar dan terkena laknat (kutukan) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana diterangkan di dalam hadits berikut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa, pent).”(Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim III/1219 no. 1598).

Arti laknat ialah diusir dan dijauhkan dari rahmat dan kebaikan Allah ta’ala. Maka setelah kita mengetahui sedemikian besar akibat berinteraksi dengan riba, yaitu pelakunya dikutuk oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka apakah kita masih merasa tenang dan nyaman dalam menjalani hidup tanpa berhenti dan bertaubat kepada Allah.

Dalam rangka menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari ancaman laknat tersebut, dan demi membersihkan harta benda kita dari hal yang mengotorinya dan menghilangkan keberkahannya.

Bencana yang ditimbulkan oleh riba bagi pelakunya adalah sebagai berikut:

- HARTA TIDAK BERKAH

Allah ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

- DI PADANG MAHSYAR SEPERTI ORANG GILA

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

- BERENANG DI SUNGAI DARAH

Diriwayatkan dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda menceritakan tentang siksaan Allah kepada para pemakan riba, bahwa

“Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya.”. (HR. Bukhari II/734 nomor 1979).

- TIDAK DITERIMANYA ZAKAT, AMAL DAN SEDEKAH MEREKA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا 

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu maha baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR. Muslim II/703 nomor 1015, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

- DO’A PEMAKAN RIBA TIDAK AKAN DIKABULKAN ALLAH

Di dalam hadits yang shohih, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

"Bahwa ada seseorang yang melakukan safar (bepergian jauh), kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Akan tetapi makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan oleh barang yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan (oleh Allah)?”. (HR. Muslim II/703 no. 1015).

- MEMAKAN HARTA RIBA MENYEBABKAN HATI MENJADI KERAS DAN BERKARAT

 Allah ta’ala berfirman:

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ 

Ketahuilah di dalam jasad terdapat sepotong daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ketahuilah sepotong daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari 1/28 no. 52, dan Muslim III/1219 no.1599)

-  TERBAKAR DENGAN API NERAKA

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab bi ‘Ujroh radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram, akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. At-Tirmidzi II/512 no.614. dan dinyatakan Shohih Lighoirihi oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/150 no.1729).

 - DILAKNAT OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa). (Diriwayatkan oleh Muslim III/1219 no. 1598).

- MAKAN HARTA RIBA DOSANYA LEBIH BURUK DARI ZINA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa yang didalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).

- DOSA TERKECIL MAKAN RIBA SEPERTI DOSA ZINA DENGAN IBU KANDUNGNYA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).


Wallohua'lam Bisshowab

Demikian Pengertian Tentang makan Harta Riba, dan Akibatnya di dunia dan di Akhirat.

Wednesday, January 10, 2018

Inilah Dosa Besar Membicarakan Aib Orang Lain (Ghibah) dalam Al-Qur'an dan Hadits

Ghibah atau membicarakan keburukan (aib) orang lain zaman sekarang bukan dianggap salah, bahkan sejauh ini sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. 


Mulai dari masyarakat kecil sampai dengan tingkat elit politik menjadikan pergunjingan menjadi suatu hal yang biasa, menjadi sarapan pagi yang apabila ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Rosululloh SAW telah mengingatkan terhadap umatnya betapa buruk dan besarnya dosa dari menggunjing sehingga dosanya lebih besar dari berbuat zina.

Ketika Aisyah menyampaikan perihal Sya’iyyah, kepada Nabi bahwa Sya’iyah itu orang yang pendek, begini dan begitu. Nabi menjawab, “Wahai Aisyah kau telah mengucapkan kata-kata apabila dicampurkan air laut maka kata itu akan mengubahnya”.

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut : “Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan ghibah (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun 
bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memfitnahnya.”

Muhammad Yusuf Al-Qardawi, meriwayatkan sebuah kisah yang terjadi pda diri Khalifah Umar Bin Khattab ra..

Pada suatu malam, ketika Umar sedang berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud memeriksa keadaaan di sekeliling kota Madinah, tiba-tiba mata memandang jauh suatu cahaya yang menerangi rumah, Umar menguntit cahaya itu sehingga ia masuk ke dalam rumah penghuninya. 

Astagfirullah, di rumah itu ada seorang wanita tua yang sedang minum arak dan menari-nari dengan budak perempuannya, Umar masuk dan menghardik perempuan tua itu, “Wahai fulan tidak pernah kusaksikan sebuah pemandangan yang lebih buruk dari ini, sekarang tua Bangka yang sudah usia lanjut tetapi meminum arak dan menari-nari”.

Tuan rumah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau sampaikan adalah lebih buruk dari apa yang kau saksikan, engkau telah memata-matai pribadi orang, padahal Alloh SWT telah melarangnya dan engkau telah masuk rumahku tanpa seizinku”.

Umar membenarkannya. Dia keluar dri rumah itu dengan amat menyesal atau perbuatan yang dilakukannya. Katanya, “Sungguh telah celakalah Umar apabila Allah tidak mengampuninya.”

Orangtua itu merasa malu kepada Umar karena kepergok melakukan dosa. Dia khawatir akan dihukum atau paling tidak akan mengumumkan di depan umum. Oleh karena itu ia lama sekali tidak hadir dalam majlis Umar. Apakah Umar termasuk orang yang suka ber-ghibah?”

Suatu hari dia datang ke majelis Umar secara sembunyi-sembunyi. Dia hanya duduk di bagian paling belakang sambil menundukkan kepada agar sang Khalifah tidak melihatnya. Tiba-tiba Umar memanggilnya dengan suara yang agak keras, “Wahai Polan mari duduk di sampingku.”

Orang tua itu merasa gemetar, dia berfikir dia pasti akan dipermalukan di depan umum. Dia tidak bisa menolak sebagaimana juga dia tidak akan mungkin bisa lari, dengan wajah pucat dia pasrah menghampiri umar sambil menunduk menyembunyikan rupanya. Umar memaksa untuk duduk persis di sampingnya. Kemudian berbisik, “Wahai Polan demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, tidak akan aku beritahu seorang pun tentang apa yang aku lihat di dalam rumahmu, meskipun kepada Abdullah bin Mas’ud yang kala itu ikut ronda bersamaku.”

Kemudian orangtua ini pun menjawab sambil berbisik,”Wahai Amirul Mukminin demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul sejak saat itu sampai sekarang aku telah tinggalkan pekerjaan-pekerjaan mungkarku.”

Tiba-tiba Umar bertakbir agak keras tanpa bisa dipahami maksudnya oleh hadirin yang ada disekelilingnya.

Betapa mulia, bijaksana dan luar biasa pribadi seorang pemimpin seperti Umar dan sangat sulit menemukan orang seperti itu di zaman sekarang. Tentang Ghibah Guru saya memberi nasehat, “Jangan kau menjelek-jelekkan (menceritakan keburukan) orang lain, belum tentu dirimu lebih baik darinya”. Apabila kita menjaga aib saudara kita maka Allah akan menjaga aib kita dan apabila kita menceritakan aib saudara kita maka Allah juga akan membuka aib kita.

Karena kita bukan manusia yang sempurna, tentu kepribadian kita juga tidak sempurna dan ditengah ketidaksempurnaan itu hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat kita juga melakukan kesalahan yang apabila kesalahan atau aib kita itu diceritakan orang lain akan membuat hati kita terluka, karenanya jangan pernah menceritakan keburukan orang lain yang akan membuat dia juga terluka.

HUKUM GHIBAH

Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat(49):12 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ {12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang 
(Surah al-Hujurat(49):12).

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama.

Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya. Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir.

يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمُُ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءُُ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {11

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)

Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya.

Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah.

Justru itu Allah mengatakan: "Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan."
Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

Dalam hadisnya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam mengatakan:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu." (Riwayat Muslim)

Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya? Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas'ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang.

Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." 
(Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu'min, lebih-lebih mereka yang lemah-seperti Bilal dan 'Amman-- kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ {29} وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ {30} وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلىَ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَاكِهِينَ {31} وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَآؤُلآَءِ لَضّآلُّونَ {32} وَمَآأُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ {33} فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ {34

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. (QS. 83:29)
Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. 
(QS. 83:30)
Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. 
(QS. 83:31)
Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan:"Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", (QS. 83:32)
padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. 
(QS. 83:33)
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, (QS. 83:34)(Qs.al-Muthaffifin(83) 29-34)
Ghibah juga sama dengan riba, bahkan lebih berat lagi dosanya.

Sebagaimana Abu Ya’la meriwayatkan, Bahwa Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Tahukah kamu seberatberat riba di sisi Allah?" Jawab sahabat: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
 "Seberat-berat riba di sisi Allah ialah menganggap halal mengumpat kehormatan seorang muslim."

Kemudian Nabi shollallohi 'alaihi wasallam membaca ayat yang artinya: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (As-Silsilah As- Shahihah, 1871)

Penyakit ghibah pernah menjangkiti Aisyah, istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam Aisyah sang istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam pernah lalai melakukan hal Ghibah dan Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam sempat marah padanya dan langsung memperingatkan sang Istri.

Tatkala itu, Aisyah berkata kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam:
"Cukuplah bagimu Shafiyah (cukup cela untukmu Shafiyah yang bertubuh pendek)." Dengan nada keras beliau menjawab: "Sesungguhnya engkau telah mengeluarkan satu kalimat yang amat keji, andaikan dicampur dengan air laut niscaya dapat merusaknya."

Dan pada kesempatan lain, Aisyah juga berkata: "Saya mencontohkan kejelekan orang kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam" Maka Nabi bersabda: "Saya tidak suka mencontohkan (memperagakan keburukan) orang meskipun saya akan mendapat upah ini dan itu yang banyak." (HR.Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Aisyah).

Dosa ghibah juga lebih besar daripada berbuat zina.


"Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, "Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya." 
(HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Sebagaimana diharamkan seseorang melakukan ghibah, diharamkan juga mendengarkannya dan mendiamkan perbuatan tersebut.

Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya maka Allah menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat,” 
(HR. Tirmidzi)

Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” 
(dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallohu anha, dia telah berkata : Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa memberikan jaminan kepadaku terhadap apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara dua pahanya, maka aku memberi jaminan surga baginya”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas disebutkan bahwa seseorang akan dijamin keselamatan akhiratnya jika ia sendiri bisa menjamin apa yang berada di antara dua rahangnya dan dua pahanya, dan apa yang ada di antara dua rahangnya adalah lidah atau perkataannya. Karena sesungguhnya perbuatan lidah ini akan sangat banyak dampak yang dapat ditimbulkan olehnya.

Dikisahkan Ubay dan Umayyah yang kaya raya sering mengejek dan menghina Nabi Muhammad shollallohi 'alaihi wasallam yang miskin karena kesombongan mereka karena harta mereka yang banyak. Selain mereka, ada juga Akhnas dan Jamil, si pengumpat, yang suka mengejek dan menghina orang miskin karena harta mereka banyak. Mereka juga senang menimbun harta dan menghitung-hitung harta mereka. Lalu Allah menurunkan surat ini sebagai peringatan atas perbuatan mereka :

وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ {1 *

 الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ {2 *

 يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ {3 *

 كَلاَّ لَيُنبَذَنَّ فيِ الْحُطَمَةِ {4 *

 وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحُطَمَةُ {5 *

 نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ {6 *

 الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ {7 *

 إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ {8 *

 فيِ عَمَدِِ مُّمَدَّدَةٍ {9 *

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, (QS. 104:2)
ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. 
(QS. 104:4)
Dan tahukah kamu apa Huthamah itu (QS. 104:5)
(yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, (QS. 104:6)
yang (naik) sampai ke hati. (QS. 104:7)
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (QS. 104:8)
(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. 104:9) 
(Qs. Al Humazah(104) (104) : 1 – 9)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah 
berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda :

 “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). 
Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka membicarakan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau tidak dirinya saja yang menderita.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar.

Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. 
“Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” 
(HR. Muslim).

Wallohua'lam Bisshowab

Sunday, April 16, 2017

Inilah Dosa besar Durhaka kepada Orangtua

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua), sekarang kita membahas kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua. Sebagaimana tingginya keutamaan dan urgensi birrul walidain, maka konsekuensinya betapa besar dan bahayanya hal yang menjadi kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua.


Bahkan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Ini secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ

“dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Dalam hadits Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

“maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari – Muslim).

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkali-kali memperingatkan para sahabat mengenai besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Subhaanallah!.

Dan perhatikan, sebagaimana perintah untuk birrul walidain disebutkan setelah perintah untuk bertauhid, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36). 

Maka di hadits ini dosa durhaka kepada orang tua juga disebutkan setelah dosa syirik. Ini menunjukkan betapa besar dan fatalnya dosa durhaka kepada orang tua.

Namun perlu di ketahui, sebagaimana dosa syirik itu bertingkat-tingkat, dosa maksiat juga bertingkat-tingkat, maka dosa durhaka kepada orang tua juga bertingkat-tingkat.

Durhaka kepada ibu, lebih besar lagi dosanya.

Sebagaimana kita ketahui dari dalil-dalil bahwa berbuat baik kepada ibu lebih diutamakan daripada kepada ayah, maka demikian juga durhaka kepada ibu lebih besar dosanya. Selain itu, ibu adalah seorang wanita, yang ia secara tabi’at adalah manusia yang lemah. Sedangkan memberikan gangguan kepada orang yang lemah itu hukuman dan dosanya lebih besar dari orang biasa atau orang yang kuat.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ حرَّمَ عليكم عقوقَ الأمَّهاتِ ، ومنعًا وَهاتِ ، ووأدَ البناتِ وَكرِه لَكم : قيلَ وقالَ ، وَكثرةَ السُّؤالِ ، وإضاعةَ المالِ

“sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka kepada para ibu, pelit dan tamak, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah juga tidak menyukai qiila wa qaala, banyak bertanya dan membuang-membuang harta” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahu ‘alam bis shawab.