Showing posts with label Dosa besar Zina. Show all posts
Showing posts with label Dosa besar Zina. Show all posts

Wednesday, February 7, 2018

Dosa Besar Putus Asa yang dilarang Dalam Al-Qur'an dan Hadits

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman berputus asadari rahmat Allah. Misalnya, Allah berfirman:

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf ayat 87).

Firman-Nya:

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Az-Zumar ayat 53).


Oleh karenanya putus asa dari rahmat Allah, adalah salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar, sebagiamana dikatakan Ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu:

الكبائر: الإشراك بالله ، والأمن من مكر الله ، والقنوط من رحمة الله ، واليأس من روح الله

“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.”
(Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

A. PUTUS ASA DALAM MASALAH DUNIA


Allah berfirman:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
(Al-Israa’: 83)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
(Ar-Ruum: 36)

Allah juga memfirmankan tentang mereka:

لَّا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِندَهُ لَلْحُسْنَىٰ

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”.

فلننبئن الذين كفروا بما عملوا ولنذيقنهم من عذاب غليظ

Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.
(QS. Fushshilat: 49-50)

Allah juga berfirman:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa (atas apa yang sedang terjadi padanya, az) lagi kufur (ia lupa dan tidak berterima kasih atas rahmat yang dahulu diberikan padanya, az).

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga…

Firman Allah SWT :

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
(Huud: 9-11)

Allah mengabarkan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka. Yaitu mereka yang jika bencana setelah mendapatkan nikmat, maka mereka berputus asa untuk mendapatkan kebaikan di masa yang akan datang, dan mereka KUFUR (ingkar) terhadap keadaan yang telah berlalu, seakan-akan mereka tidak pernah melihat kebaikan (sebelumnya) dan setelah itu mereka tidak mengharap untuk memperoleh keberuntungan…

Ketika Allah menguji mereka dengan cobaan, sehingga seakan-akan sebelumnya mereka LUPA atas nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka pun putus asa, dan KUFUR terhadap apa yang telah Allah berikan kepada mereka.

Hal ini seperti yang dikatakan dalam hadits:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“…Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab,

بِكُفْرِهِنَّ

“Disebabkan kekufuran mereka.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab,

يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan inilah sikap orang-orang munaafiq, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi…

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ

maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu

وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ

dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

"Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata"
(Al-Hajj: 11)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ

“Celakalah hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah hamba khamilah (ranjang yang empuk).”

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Jika diberi, dia senang, tetapi jika tidak diberi, dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya.
(HR Bukhaariy)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah”
[At-Taubah:58].

Janganlah kesempitan harta atau banyaknya masalah dunia, menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Allah berfirman perkataan Nabi Ya’qub:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir

(Yusuf: 87)

Lihat perkara diatas adalah perkara duniawi, akan tetapi Nabi Ya’qub mewasiatkan anak-anaknya ketika berusaha (berikhtiar) mencari solusi problem duniawi untuk tidak berputus asa terhadap rahmatNya.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Qadarullaah wa maasyaa’a fa’al [Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendakiNya pasti terjadi].’ Sesungguhnya perkataan (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
[HR. Muslim)

Pelajarilah pula bagaimana beliau menghadapi banyaknya masalah dunia yang menimpa beliau:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ . وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku) [ditafsirkan para ulamaa’: yaitu kesabaran yang tidak diiringi keluh kesah kepada manusia]; Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ya’qub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”
(Yusuf 18 dan 86)

Kebanyakan kita melihat kaum muslimin begitu cepatnya berputus asa, ketika Allah menguji mereka akan perkara dunia mereka. Hati mereka begitu sempit, dan mereka lupa akan luasnya rahmat Allah.

firmanNya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Hud: 6)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)

Apa yang Allah takdirkan ini tak ada yang bisa mengelaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Engkau harus tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu dan sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, tidak mungkin menimpamu.”
(HR. Abu Daawud, shahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.”
(Al Fawaid, hal. 94)

Jadi, meskipun engkau berusaha sekuat tenaga pun, mendatangi dukun, atau melakuakn segala perkara haram, maka tidaklah apa yang akan engkau dapatkan kecuali apa yang sudah Allah takdirkan bagimu!

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فيِ رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan ajalnya dan mengambil seluruh rezekinya.

فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فيِ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan baik. Dan jangan sampai anggapanmu akan lambatnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.”
(Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Lihat Shahihul Jami’ no. 2085)

Bahkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة

Barangsiapa yang impiannya adalah akhirat maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah akan memudahkan urusannya, dan kenikmatan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عيينه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

Dan barangsiapa yang impiannya hanyalah dunia maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan Allah akan mempersulit urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan untuknya.
(at Tirmidziy dengan sanad yang Sahih)

Janganlah dengan diujiNya kita dengan penyakit yang berkepanjangan menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Demikian pula, contoh lainnya: seperti jika ditimpa penyakit yang berkepanjangan. Maka kita tidak boleh berputus asa dari rahmatNya! Apalagi sampai membunuh diri kita atau orang lain, karena tidak sabar menahan derita. Padahal Allah menjanjikan pahala yang besar kepada kita, apabila kita bersabar dalam menghadapi musibah tersebut, ikhlash karenaNya.

Lihatlah kesabaran nabi ayyub ketika beliau ditimpa penyakit yang berkepanjangan:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.
(Shaad: 41)

Dan lihatlah bagaimana keyakinan al-Khaliil ibrahim ‘alayhis salaam, yang disebutkan dalam firmanNya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku"
(Ash-Shu’araa: 80)

dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata, “Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang sakit panas, aku meletakkan tanganku dan aku mendapati panasnya terasa hingga di atas selimut. Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah panasnya sakit yang menimpa dirimu.”

Beliau bersabda:

إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ

“Sesungguhnya begitulah kita, ketika dilipat gandakan cobaan bagi kita maka akan dilipat gandakan pula pahalanya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling keras cobaannya?”

beliau menjawab:

الْأَنْبِيَاءُ

“Para nabi.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa?”

Beliau menjawab:

ثُمَّ الصَّالِحُونَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيهَا وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

“Kemudian orang-orang shalih, salah seorang di antara mereka yang dicoba dengan kefakiran sehingga tidak menemukan kecuali mantel untuk dia pakai, dan ada salah seorang dari mereka yang senang dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian senang dengan kemewahan.”
(Shahiih; HR Ibnu Maajah, al Haakim, dan selainnya)

dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersama Abu Hurairah pernah mengunjungi orang sakit karena demam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya;

أَبْشِرْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

“Berilah kabar gembira kepadanya bahwasanya Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Api neraka-Ku Aku timpakan kepada hamba-Ku yang beriman di dunia sehingga bisa mengurangi bagiannya di akhirat.”

(Shahiih, dishahiihkan syaikh al Albaaniy dalam shahiihul jaami’ dan ash shahiihah)

Beliau juga bersabda:

اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-‘Ala`. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”
(Shahiih; HR Abu Dawud)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”
(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘Aa-isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”
(HR. Al-Bukhariy; dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Tidakkah kita bergembira dengan hal ini? Tapi ingat, kita harus bertawakkal kepada Allah, yakni kita tidak mengharapkan sakit atau menyengajakan sakit (bahkan hal ini adalah bentuk kufur dari nikmat sehat yang sudah diberikanNya)! Tapi yang dimaksudkan adlaah ketika kita ditimpa sakit, hendaknya kita bersabar karena Allah, agar sekiranya cobaan tersebut dapat bernilai menjadi pahala; bahkan jika kita MARAH dari hal tersbeut (baik itu kemarahan hati, apalagi sampai diucapkan), maka akan mendapatkan kemarahan dari Allah pula!

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”
(HR. At-Tirmidziy, lihat Silsilah Ash-Shahiihah)

Setelah kita tahu akan hal ini, maka janganlah kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana.. Apalagi kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!

B. BERPUTUS ASA APABILA JATUH KEDALAM MAKSIAT


Berkata salafush shalih:

“Sesungguhnya bersabar dalam kebenaran itu berat, namun indah akibatnya.
Dan jatuh kedalam kebathilan/kemungkaran itu ringan, namun buruk akibatnya.
Ketahuilah (bersabar dalam) meninggalkan dosa itu lebih ringan daripada berusaha bertaubat.
Dan sesungguhnya syaithan sangat pandai menipu manusia…

Ketika manusia sibuk dalam ketaatan, maka ia menipunya dengan berkata: “sesungguhnya engkau banyak beramal, dosa-dosamu telah diampuni”, hingga orang tersebut tertipu[2. Baca: Janganlah tertipu dengan amalmu], kemudian ia meremehkan dosa[3. Baca: Larangan merasa aman dari adzab Allah], kemudian ia mengamalkan dosa-dosa[4.

Ketika manusia tersebut jatuh kedalam dosa, maka ia berkata: “sesungguhnya dosa-dosamu sangat banyak dan sangat membinasakan, tiada harapan bagimu!” dan orang tersebut pun putus harapan.. mengira mustahil bagi dirinya mendapatkan ampunan Allah.. hingga akhirnya ia tidak bertaubat, bahkan terus berada dalam jurang kebinasaan..

Maka hendaknya mereka yang berada dalam ketaatan, tidak tertipu dengan ketaatannya, dan tidak meremehkan dosa, ketahuilah Allah Maha Keras AdzabNya! jika engkau memberanikan diri, maka engkau tidak tahu masa depanmu.. apakah engkau jamin engkau tetap hidup ketika sedang bermaksiat? apakah engkau jamin engkau tetap hidup setelah engkau jatuh ke dalamnya (sehingga engkau memiliki kesempatan untuk bertaubat)?

Dan hendaknya mereka yang jatuh kedalam maksiat, segera bertaubat kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat.. tidak ada yang mustahil bagi Allah, bahkan dosa kufur dan syirik pun akan diampunkanNya jika engkau jujur/benar dalam taubatmu…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“ Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(Shahih Jami’us Shaghir 4391)

Firman Allah:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Maa-idah: 74)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini:

“Allah menyeru kepada orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah, orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir, orang yang mengklaim bahwa Tangan Allah terbelenggu, dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas; agar (memohon ampun dan bertaubat) kepadaNya”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

“Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah”

Bahkan untuk dosa syirik/kufur/nifaq sekalipun, karena Allåh berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az Zumar: 53).

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,

“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/141)

Ibnu al-Qayyim –rahimahullâh– berkata:

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan membukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan, rasa bersalah, hina, membutuhkan, meminta pertolongan kepada-Nya, keinginan kembali kepada-Nya, rendah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal kebaikan. Dosa itu tidak menjadi sebab turun rahmat-Nya, hingga musuh Allah berkata: ‘Andai aku meninggalkannya dan tidak melakukannya’…”

Maka ketika diri kita terjatuh kedalam maksiat; maka janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah.. bertaubatlah kepadaNya dengan benar.. karena Allah pasti mengampuni orang-orang yang bertaubat (namun apakah taubat kita sudah kita lakukan dengan benar?!).. diantara orang yang putus asa terhadap rahmatNya adalah ia merasa bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar) “sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah.. ini keliru, padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Taubatnya orang-orang bertaubat..

Demikian pula, terhadap orang lain, yang jatuh kepada maksiat; janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun mengingatkannya dari adzabNya).. kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang hari akhir, dsb.. yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertaubat kepadaNya..

Janganlah kita sampai putus asa dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “segala usaha sudah aku kerahkan.. kayanya ia tidak mungkin untuk bertaubat”.. ini adalah keputus-asaan.. jika benar bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertaubat, tidak gampang menyerah.. ini membuktikan keputus-asaan kita akan rahmat Allah terhadap dirinya..

Jangan pula kita sampai berkata, “temanku (–yang masih muslim–) ini kayanya ahli neraka dan Allah tidak akan mengampuninya”.. ini perkataan yang berbahaya.. Darimana kita tahu bahwa dia ahli neraka? darimana kita tahu bahwa Allah tidak mengampuninya? apakah kita mendapatkan wahyu dari allah yang mengabarkan demikian?! benar, perbuatannya tersebut diancam nereka.. benar, bahwa Allah akan mengadzab orang yang berbuat demikian.. tapi apakah hal ini pasti berlaku pada setiap orang? tidak demikian..

– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepadaNya sebelum ia wafat, sehingga ia bertaubat.. dan ia mati dalam keadaan seluruh dosanya allah ampuni.. (inilah yang seharusnya yang senantiasa tertanam dalam diri kita, trhdp saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasehatinya dan tidak putus asa)

– kalaupun dia wafat dalam keadaan tidak bertaubat.. bukankah Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(An-Nisaa: 48)

Bukankah secara zhahir, dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?! Bukankah BISA JADI bahwa dia termasuk dalam ayat diatas “bagi siapa yagn dikehendakiNya”?!Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang sangat besar dan sangat parah ini..

Ketahuilah, dahulu.. ada dua orang dari bani israil, yang satunya shalih, yang satunya suka maksiat.. si shalih ini senantiasa menasehati si tukang maksiat.. teruus demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan dari temannya ini, dan dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…” maka ketika di hari kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu”
(HR al-Bukhariy)

Maka berhati-hatilah.. jangan sampai banyaknya maksiat yang kita perbuat, juga menjadikan kita putus asa dari rahmatNya.. jangan sampai pula rasa takut kita terhadap adzabNya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmatNya.. jangan sampai pula, rasa harap kita terhadap rahmatNya, menjadikan kita malah merasa aman dari adzabNya.. akan tetapi… takutlah akan adzabNya, dan jangan putus asa dari rahmatNya..

Allah berfirman:

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”.
(Al-An’aam: 147)

Menurut AN. Ubaidy, Allah SWT melarang berputus asa, karena manusia bisa mudah tenggelam dalam keputusasaan apabila otaknya hanya digunakan untuk melihat kehidupan dari hal-hal yang nyata saja (materi dengan berbagai simbolnya, duniawi dengan berbagai maknanya).

Seseorang, tegas Ubaidy, juga akan mudah putus asa jika harapannya hanya digantungkan pada kenyataan hari ini, misalnya miskin, serba kurang, tidak punya resource, dan lain-lain. Karena itu, Al-Qur’an menyuruh bahwa hanya kepada Tuhanlah manusia menggantungkan harapan. Maksudnya, urai Ubaedy, yakinilah sunnatullah, yakinilah balasan Allah, jalankan perintah Allah, dan seterusnya. Itulah, kata Ubaedy, makna dari ayat wailaaa rabbika farghab (QS. Alam Nasyrah ayat 8)

Jadi, putus asa itu bukanlah sifat orang beriman. Bahwa semua orang yang terbukti sanggup meraih prestasi di bidangnya dengan serangkaian perjuangan yang dilakukannya, sebetulnya mereka telah beriman meski itu tidak ia katakan.

Wallohua'lam Bisshowab

Monday, February 5, 2018

Inilah 10 Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT dalam Islam

Dalam ajaran Islam apabila seseorang melakukan dosa dan dia mau bertaubat pasti akan diampuni oleh Alloh SWT. Namun ada juga dosa yang sulit untuk mendapat ampunan.


Sebenarnya jika seseorang mau bertaubat dengan sungguh sungguh (Taubatan Nasuha), InsyaAlloh pasti akan mendapatkan ampunan meski dosanya sebesar Gunung Himalaya.
Berikut ini kami merangkum beberapa Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT :

1. MEMAKAN RIBA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila,” (Al Baqarah: 275).

2. LARI DARI MEDAN PERTEMPURAN

Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman : “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya,” (Al Anfaal: 16).

3. MEMAKAN HARTA ANAK YATIM

Tentang hal ini Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka),” (An Nisaa: 10)

4. BERBUAT ZINA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu,” (Al Furqaan: 68-69).

5. SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLAH SWT)

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya,” (An Nisaa: 48).

Dan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (Al Maidah: 72).

6. PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH SWT

Hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (Yusuf: 87).

7. MERASA AMAN DARI ANCAMAN ALLAH SWT

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi,” (Al A’raaf: 99)

8. DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

Karena Allah SWT mensifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy ‘orang yang sombong lagi celaka’.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka,” (Maryam: 32).

9. MEMBUNUH

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya,” (An Nisaa: 93).

10. MENUDUH WANITA BAIK-BAIK BERZINA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,” (An Nuur: 23).

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah 10 Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wednesday, January 10, 2018

Inilah Dosa Besar Membicarakan Aib Orang Lain (Ghibah) dalam Al-Qur'an dan Hadits

Ghibah atau membicarakan keburukan (aib) orang lain zaman sekarang bukan dianggap salah, bahkan sejauh ini sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. 


Mulai dari masyarakat kecil sampai dengan tingkat elit politik menjadikan pergunjingan menjadi suatu hal yang biasa, menjadi sarapan pagi yang apabila ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Rosululloh SAW telah mengingatkan terhadap umatnya betapa buruk dan besarnya dosa dari menggunjing sehingga dosanya lebih besar dari berbuat zina.

Ketika Aisyah menyampaikan perihal Sya’iyyah, kepada Nabi bahwa Sya’iyah itu orang yang pendek, begini dan begitu. Nabi menjawab, “Wahai Aisyah kau telah mengucapkan kata-kata apabila dicampurkan air laut maka kata itu akan mengubahnya”.

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut : “Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan ghibah (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun 
bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memfitnahnya.”

Muhammad Yusuf Al-Qardawi, meriwayatkan sebuah kisah yang terjadi pda diri Khalifah Umar Bin Khattab ra..

Pada suatu malam, ketika Umar sedang berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud memeriksa keadaaan di sekeliling kota Madinah, tiba-tiba mata memandang jauh suatu cahaya yang menerangi rumah, Umar menguntit cahaya itu sehingga ia masuk ke dalam rumah penghuninya. 

Astagfirullah, di rumah itu ada seorang wanita tua yang sedang minum arak dan menari-nari dengan budak perempuannya, Umar masuk dan menghardik perempuan tua itu, “Wahai fulan tidak pernah kusaksikan sebuah pemandangan yang lebih buruk dari ini, sekarang tua Bangka yang sudah usia lanjut tetapi meminum arak dan menari-nari”.

Tuan rumah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau sampaikan adalah lebih buruk dari apa yang kau saksikan, engkau telah memata-matai pribadi orang, padahal Alloh SWT telah melarangnya dan engkau telah masuk rumahku tanpa seizinku”.

Umar membenarkannya. Dia keluar dri rumah itu dengan amat menyesal atau perbuatan yang dilakukannya. Katanya, “Sungguh telah celakalah Umar apabila Allah tidak mengampuninya.”

Orangtua itu merasa malu kepada Umar karena kepergok melakukan dosa. Dia khawatir akan dihukum atau paling tidak akan mengumumkan di depan umum. Oleh karena itu ia lama sekali tidak hadir dalam majlis Umar. Apakah Umar termasuk orang yang suka ber-ghibah?”

Suatu hari dia datang ke majelis Umar secara sembunyi-sembunyi. Dia hanya duduk di bagian paling belakang sambil menundukkan kepada agar sang Khalifah tidak melihatnya. Tiba-tiba Umar memanggilnya dengan suara yang agak keras, “Wahai Polan mari duduk di sampingku.”

Orang tua itu merasa gemetar, dia berfikir dia pasti akan dipermalukan di depan umum. Dia tidak bisa menolak sebagaimana juga dia tidak akan mungkin bisa lari, dengan wajah pucat dia pasrah menghampiri umar sambil menunduk menyembunyikan rupanya. Umar memaksa untuk duduk persis di sampingnya. Kemudian berbisik, “Wahai Polan demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, tidak akan aku beritahu seorang pun tentang apa yang aku lihat di dalam rumahmu, meskipun kepada Abdullah bin Mas’ud yang kala itu ikut ronda bersamaku.”

Kemudian orangtua ini pun menjawab sambil berbisik,”Wahai Amirul Mukminin demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul sejak saat itu sampai sekarang aku telah tinggalkan pekerjaan-pekerjaan mungkarku.”

Tiba-tiba Umar bertakbir agak keras tanpa bisa dipahami maksudnya oleh hadirin yang ada disekelilingnya.

Betapa mulia, bijaksana dan luar biasa pribadi seorang pemimpin seperti Umar dan sangat sulit menemukan orang seperti itu di zaman sekarang. Tentang Ghibah Guru saya memberi nasehat, “Jangan kau menjelek-jelekkan (menceritakan keburukan) orang lain, belum tentu dirimu lebih baik darinya”. Apabila kita menjaga aib saudara kita maka Allah akan menjaga aib kita dan apabila kita menceritakan aib saudara kita maka Allah juga akan membuka aib kita.

Karena kita bukan manusia yang sempurna, tentu kepribadian kita juga tidak sempurna dan ditengah ketidaksempurnaan itu hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat kita juga melakukan kesalahan yang apabila kesalahan atau aib kita itu diceritakan orang lain akan membuat hati kita terluka, karenanya jangan pernah menceritakan keburukan orang lain yang akan membuat dia juga terluka.

HUKUM GHIBAH

Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat(49):12 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ {12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang 
(Surah al-Hujurat(49):12).

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama.

Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya. Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir.

يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمُُ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءُُ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {11

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)

Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya.

Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah.

Justru itu Allah mengatakan: "Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan."
Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

Dalam hadisnya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam mengatakan:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu." (Riwayat Muslim)

Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya? Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas'ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang.

Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." 
(Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu'min, lebih-lebih mereka yang lemah-seperti Bilal dan 'Amman-- kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ {29} وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ {30} وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلىَ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَاكِهِينَ {31} وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَآؤُلآَءِ لَضّآلُّونَ {32} وَمَآأُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ {33} فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ {34

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. (QS. 83:29)
Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. 
(QS. 83:30)
Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. 
(QS. 83:31)
Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan:"Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", (QS. 83:32)
padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. 
(QS. 83:33)
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, (QS. 83:34)(Qs.al-Muthaffifin(83) 29-34)
Ghibah juga sama dengan riba, bahkan lebih berat lagi dosanya.

Sebagaimana Abu Ya’la meriwayatkan, Bahwa Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Tahukah kamu seberatberat riba di sisi Allah?" Jawab sahabat: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
 "Seberat-berat riba di sisi Allah ialah menganggap halal mengumpat kehormatan seorang muslim."

Kemudian Nabi shollallohi 'alaihi wasallam membaca ayat yang artinya: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (As-Silsilah As- Shahihah, 1871)

Penyakit ghibah pernah menjangkiti Aisyah, istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam Aisyah sang istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam pernah lalai melakukan hal Ghibah dan Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam sempat marah padanya dan langsung memperingatkan sang Istri.

Tatkala itu, Aisyah berkata kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam:
"Cukuplah bagimu Shafiyah (cukup cela untukmu Shafiyah yang bertubuh pendek)." Dengan nada keras beliau menjawab: "Sesungguhnya engkau telah mengeluarkan satu kalimat yang amat keji, andaikan dicampur dengan air laut niscaya dapat merusaknya."

Dan pada kesempatan lain, Aisyah juga berkata: "Saya mencontohkan kejelekan orang kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam" Maka Nabi bersabda: "Saya tidak suka mencontohkan (memperagakan keburukan) orang meskipun saya akan mendapat upah ini dan itu yang banyak." (HR.Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Aisyah).

Dosa ghibah juga lebih besar daripada berbuat zina.


"Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, "Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya." 
(HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Sebagaimana diharamkan seseorang melakukan ghibah, diharamkan juga mendengarkannya dan mendiamkan perbuatan tersebut.

Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya maka Allah menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat,” 
(HR. Tirmidzi)

Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” 
(dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallohu anha, dia telah berkata : Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa memberikan jaminan kepadaku terhadap apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara dua pahanya, maka aku memberi jaminan surga baginya”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas disebutkan bahwa seseorang akan dijamin keselamatan akhiratnya jika ia sendiri bisa menjamin apa yang berada di antara dua rahangnya dan dua pahanya, dan apa yang ada di antara dua rahangnya adalah lidah atau perkataannya. Karena sesungguhnya perbuatan lidah ini akan sangat banyak dampak yang dapat ditimbulkan olehnya.

Dikisahkan Ubay dan Umayyah yang kaya raya sering mengejek dan menghina Nabi Muhammad shollallohi 'alaihi wasallam yang miskin karena kesombongan mereka karena harta mereka yang banyak. Selain mereka, ada juga Akhnas dan Jamil, si pengumpat, yang suka mengejek dan menghina orang miskin karena harta mereka banyak. Mereka juga senang menimbun harta dan menghitung-hitung harta mereka. Lalu Allah menurunkan surat ini sebagai peringatan atas perbuatan mereka :

وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ {1 *

 الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ {2 *

 يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ {3 *

 كَلاَّ لَيُنبَذَنَّ فيِ الْحُطَمَةِ {4 *

 وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحُطَمَةُ {5 *

 نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ {6 *

 الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ {7 *

 إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ {8 *

 فيِ عَمَدِِ مُّمَدَّدَةٍ {9 *

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, (QS. 104:2)
ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. 
(QS. 104:4)
Dan tahukah kamu apa Huthamah itu (QS. 104:5)
(yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, (QS. 104:6)
yang (naik) sampai ke hati. (QS. 104:7)
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (QS. 104:8)
(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. 104:9) 
(Qs. Al Humazah(104) (104) : 1 – 9)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah 
berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda :

 “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). 
Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka membicarakan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau tidak dirinya saja yang menderita.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar.

Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. 
“Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” 
(HR. Muslim).

Wallohua'lam Bisshowab

Friday, January 5, 2018

Azab Orang Berzina dalam Islam dan Hukumnya Menurut Al-Qur'an dan Hadits

Dalam Agama Islam, Zina adalah perbuatan yang keji dan buruk yang termasuk dalam salah satu Dosa Besar karna melakukan Hubungan Sek-sual (Jima’), Dan juga melakukan kegiatan sek-sual (Maksiat) antara lelaki/perempuan yang telah menikah dengan lelaki/perempuan yang bukan suami/istri sahnya, termasuk Perzinaan.


Dalam Al-quran, dikatakan bahwa semua orang Muslim percaya bahwa berzina adalah dosa besar dan dilarang oleh Allah SWT.

Dalam hadits, Rasulullah SAW juga mengharamkan Zina. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
Tidak halal (ditumpahkan) darah seorang muslim melainkan karena salah satu dari tiga sebab; Orang tua (muhshon/pernah menikah) yang berzina, jiwa dengan jiwa (qishash/hukum bunuh bagi pembunuh), dan orang yang meninggalkan agama yang memisahkan diri dari kelompoknya (maksudnya murtad dari Islam).” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Maka wahai hamba Allah, masalah ini adalah masalah yang berbahaya. Dan telah datang hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia melakukan zina sedangkan dia dalam keadaan beriman (iman yang sempurna), tidaklah mencuri ketika mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman, dan tidaklah meminum khomr (minuman keras) sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan taubat terbuka (bagi pelakunya) setelah itu.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

HAL YANG (MENDEKATI) ZINA


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya:
“...Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’ : 32)

Sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a. Bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
Artinya:
"Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin."
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi Bagi Adam bagian mereka dari zina, mau tidak mau (dia pasti mengalaminya). Kedua mata bisa berzina, dan zina keduanya adalah dengan memandang (melihat). Kedua telinga bisa berzina dan zinanya mendengar. Lidah juga bisa berzina dan zina lidah adalah dengan bicara. Kaki juga bisa berzina dan zina kaki adalah langkahnya (berjalan menuju kemaksiatan). Tangan juga bisa berzina, dan zina tangan adalah dengan memegang. Hati bisa berhasrat dan berangan-anagan (berharap); Kamaluan yang akan membuaktikan zina itu kenyataan atau tidak (semua itu direalisasi oleh kelamin atau digagalkannya).” (HR. Bukhri dan Muslim)

Demikian pula bahwa barangsiapa meletakkan Tangannya pada Seorang Wanita dengan disertai Syahwat, pada hari kiamat nanti akan datang dengan Tangan Terbelenggu di Leher. Jika ia Menciumnya, Kedua Mulutnya akan Digadaikan di Neraka. Dan jika dengannya Pahanya akan berbicara dan bersaksi pada hari Kiamat nanti.

Ia akan berkata, “Aku telah berbuat sesuatu yang haram.” Maka Allah akan memandang dengan pandangan yang murka. Pandangan Allah ini mengenai wajah orang itu dan ia pun mengingkarinya. malah bertanya, “Apa yang telah aku lakukan?” Tiba-tiba seraya bersaksi lidahnya berkata, “Aku telah mengucapkan kata-kata yang haram.” Kedua tangannya bersaksi, “Aku telah memegang sesuatu yang haram.” Kedua matanya juga bersaksi, “Aku telah melihat yang diharamkan.”Kedua kakinya juga bersaksi, “Aku telah berjalan menuju kepada yang haram.” Kemaluannya berkata, “Aku telah melakukannya.” Malaikat penjaga berkata, “Aku telah mendengarnya,” Yang satu lagi berkata, “Aku telah melihatnya.”

Dan Akhirnya Allah SWT berfirman:

Wahai para malaikat-Ku, bawa orang itu dan timpakan kepadanya adzab-Ku. Aku sudah teramat murka kepada seseorang yang tidak punya malu kepada-Ku.”

Riwayat ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
Artinya:
pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur : 24)

HUKUMAN BAGI YANG BERZINA


Zina atau pelaku perzinaan dibedakan menjadi dua, yaitu pezina 'Muhshan' dan 'Ghayru Muhshan'. Pezina Muhshan adalah pezina yang Sudah Memiliki Pasangan sah atau Sudah Menikah, sedangkan pezina Ghayru Muhshan adalah Pelaku Pezina yang Belum Pernah Menikah dan Tidak Memiliki Pasangan Sah.

Pelakunya mendapatkan Hukuman Khusus di Dunia. Yaitu; Cambuk 100 kali (bagi pezina ghairu Muhshon, yang belum menikah), dan Rajam (bagi pezina Muhshon -yang sudah menikah).

Hukuman Pezina diawal Islam adalah berupa 'Kurungan bagi yang Telah Menikah' dan 'Ucapan Kasar dan Penghinaan kepada Pezina yang Belum Menikah'.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Artinya:
"Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.." (QS. An Nisaa : 15-16)

Kemudian sanksi Hukuman untuk para pezina itu diganti dengan:
1-  Jika pelakunya Telah/Sudah Menikah melakukannya secara sukarela (tidak dipaksa atau tidak diperkosa), mereka 'Dicambuk 100 kali', kemudian di 'Rajam' (dilempar batu).
2- Jika pelakunya Belum Menikah, maka mereka 'Didera (dicambuk) 100 kali'. Kemudian diasingkan selama setahun (Pengasingan Setahun).

Hukum di atas berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Artinya:
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka hendaklah kalian dera tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman." (QS. An-Nuur : 2)

Artinya, jangan sampai kalian tidak melaksanakan hukum Allah dengan alasan kasihan dan perasaan iba, karena perasaan kasihan seperti itu adalah perasaan yang Bodoh. Dan jika tidak melaksanakan hukuman maka keimanan kepada Allah dan hari kiamat diragukan.

Dan berdasarkan hadis, dari Ubadah bin Samit:

"Ambillah dariku! Ambillah dariku! Sungguh Allah telah memberi jalan kepada mereka. Jejaka yang berzina dengan gadis didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Dan orang yang telah menikah melakukan zina didera seratus kali dan dirajam." (HR. Muslim)

Ayat yang menjelaskan tentang Hukuman Rajam dalam al-Qur`an meski telah dihapus Lafadznya namun hukumnya masih tetap diberlakukan. Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anh menjelaskan dalam khuthbahnya:

إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ عَلَى نَبِيِّهِ الْقُرْآنَ وَكَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا وَرَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ وَ أَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُوْلُوْا : لاَ نَجِدُ الرَّجْمَ فِيْ كِتَابِ الله فَيَضِلُّوْا بِتَرْكِ فَرِيْضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

Artinya:
Sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur`an kepada Nabi-Nya dan diantara yang diturunkan kepada beliau adalah ayat Rajam. Kami telah membaca, memahami dan mengetahui ayat itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan hukuman rajam dan kamipun telah melaksanakannya setelah beliau. Aku khawatir apabila zaman telah berlalu lama, akan ada orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak mendapatkan hukuman rajam dalam kitab Allah!” sehingga mereka sesat lantaran meninggalkan kewajiban yang Allah Azza wa Jalla telah turunkan. Sungguh (hukuman) rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah untuk orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshân), bila telah terbukti dengan pesaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri.”

Ini adalah persaksian Khalifah Umar bin al-Khatthâb Radhiyallahu ‘anhu diatas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para sahabat sementara itu tidak ada seorangpun yang mengingkarinya.

Sedangkan Lafadz Ayat Rajam tersebut diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Mâjah berbunyi:

وَالشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَهْ نَكَلاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya:
Syaikh lelaki dan perempuan apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya sebagai balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana..”

Diriwayatkan dalam Hadis dari Abu Hurairah:

Artinya:
"Ada seorang laki-laki yang datang kepada rasulullah S.A.W. Ketika dia sedang berada di dalam masjid. Laki-laki itu memanggil-manggil rasulullah seraya mengatakan, "Hai rasulullah aku telah berbuat zina, tapi aku menyesal." Ucapan itu diulanginya sampai empat kali. Setelah rasulullah mendengar pernyataan yang sudah empat kali diulangi itu, lalu dia pun memanggilnya, seraya berkata, "Apakah engkau ini gila?" "Tidak.", jawab laki-laki itu. Nabi bertanya lagi, "Adakah engkau ini orang yang muhsan?" "Ya.", jawabnya. Kemudian, rasulullah bersabda lagi, "Bawalah laki-laki ini dan langsung rajam oleh kamu sekalian." (HR. Bukhari dan Muslim)

DOSA BALASAN SIKSA BAGI YANG BERZINA


Di antara dalil yang menunjukkan betapa buruknya perbuatan maksiat ini adalah bahwa ia digandengkan dengan dosa murtad dan membunuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an:

Artinya:
"Dan orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah. dan orang-orang tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan orang-orang itu tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu (yang berzina atau membunuh dengan cara melanggar syariat), niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) adzab yang berat,, (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,," (QS. Al Furqaan : 68-69)

Adzab di Neraka dengan Cambuk Api


Para ulama berkata,
“Ini adalah hukuman bagi pezina perempuan dan laki-laki yang berzina, yang masih belum menikah di dunia. Jika sudah menikah walaupun baru sekali seumur hidup, maka hukuman bagi keduanya adalah di rajam dengan bebatuan sampai mati. Demikian pula telah disebutkan dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya jika hukuman qishash ini belum di laksanakan bagi keduanya di dunia dan keduanya mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa-dosa zina itu niscaya keduanya akan di adzab di neraka dengan cambuk api."

Dalam kitab zabur tertulis,
“Sesungguhnya para pezina itu akan di gantung pada kemaluan mereka dineraka dan akan disiksa dengan cambuk besi. Maka jika mereka melolong karena pedihnya cambukan," malaikat Zabaniyah berkata, “Kemana suara ini ketika kamu tertawa-tawa, bersuka ria dan tidak merasa di awasi oleh Allah serta tidak malu kepada-Nya"."

1- Berteriak Tela-njang Bulat Di Tungku Pembakaran Neraka

Dan dari Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu berkata dalam hadits yang panjang, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
Sesungguhnya semalam datang kepadaku dua malaikat. (Dalam mimpi) keduanya membangunkanku. Lalu keduanya berkata kepadaku: "Berangkatlah!” Lalu aku berangkat bersama keduanya.”… sampai sabda beliaus SAW: "Lalu kami berangkat lagi. Lalu kami mendatangi sesuatu yang (bentuknya) seperti tungku pembakaran.” (Perawi berkata: Saya kira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabda: "Ternyata di dalamnya ada hiruk pikuk teriakan dan suara-suara.”). Beliau bersabda: "Maka kami melihat ke dalamnya. Ternyata di dalamnya ada kaum laki-laki dan kaum perempuan yang semuanya bertela-njang bulat. Tiba-tiba mereka diterpa jilatan api yang datang dari sebelah bawah mereka. Ketika jilatan api itu datang menerpa, mereka berteriak-teriak.” Aku berkata kepada keduanya: "Siapa mereka.” Keduanya berkata kepadaku: "Pergilah, pergilah!.” hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Dan adapun para lelaki dan para kaum wanita yang sama-sama tela-njang bulat di suatu tempat yang mirip tungku pembakaran adalah para pezina." (HR. Bukhari)

Merasakan Pedih Sakitnya Sengatan Kalajengking Selama 1000 Tahun


Rasulullah SAW juga bersabda:

Artinya:
“Di Jahanam ada sebuah lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta. Ukurannya sebesar leher unta. Ular-ular ini akan mematuk orang yang meninggalkan shalat dan bisanya akan menggerogoti tubuhnya selama 70 tahun, lalu terkelupaslah daging-dagingnya. Di sana juga ada lembah yang namanya Jubb al-Huzn. Ia dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkinya sebesar bighal (peranakan kuda dan keledai). Ia memiliki 70 sengat. Masing-masingnya memiliki kantung bisa. Ia akan menyengat pezina dan memasukkan isi kantung bisanya ke dalam tubuh pezina itu. Ia akan merasakan pedih sakitnya selama 1000 tahun. Lalu terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk."

2- Neraka Jahanam Paling Panas dan Paling Busuk Baunya

Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (QS. Al-Hijr 44).

Atha’ berkata:

Artinya:
“Pintu yang paling hebat panas dan sengatannya dan yang paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang berzina setelah mereka tahu keharamannya."

3- Berzina Sekali Dengan Tetangga Lebih Buruk Dari Berzina Dengan 10 Perempuan

Dan berzina akan lebih besar lagi Dosa dan Kukumannya jika dilakukan dengan "Tetangganya".

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَِّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

Artinya:
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Aku telah bertanya kepada Rasulullah:.. “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah (berbuat syirik), padahal Allah Azza wa Jalla lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda: “Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda lagi: “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Dari Shahabat al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para Shahabatnya:

Artinya:
Apa yang kalian katakan pada masalah zina?” Mereka menjawab: “Ia telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, maka ia haram sampai hari kiamat.” Maka Rasulullah bersabda kepada para Sahabatnya: “Sungguh, seseorang berzina dengan sepuluh perempuan, adalah lebih ringan (dosanya) daripada ia berzina (sekali) dengan istri tetangganya.” (HR. Ahmad)

4- Zina Dilakukan Orang yg Sudah Tua Lebih Buruk & Jelek Daripada yg Dilakukan Anak Muda

Dan kejahatan zina yang dilakukan oleh Orang yang Sudah Tua Lebih Buruk dan Jelek dibandingkan yang dilakukan oleh Anak Muda (walaupun keduanya sama-sama Buruk)..
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya:
Tiga (golongan manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak dilihat oleh-Nya (dengan pandangan kasih), tidak disucikan oleh-Nya dan bagi mereka siksa yang pedih, yaitu; Laki-laki tua yang berzina, Raja yang suka berbohong dan orang miskin yang berlagak sombong.” (HR. Ahmad & Muslim)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:
Wahai sekalian orang-orang Islam, takutlah kalian dari melakukan zina. Sungguh padanya ada enam azab; tiga di dunia dan tiga di akhirat. Yang di dunia adalah hilangnya kharisma wajah, pendeknya umur, dan kefakiran yang berkepanjangan. Adapun yang di akhirat adalah kemurkaan Allah, buruknya hisab dan adzab neraka.”

Tetapi jika mereka (kita) bertobat beriman dan beramal shalih, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya..
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an:

Artinya:
"Kecuali ia (orang-orang) yang bertaubat, beriman dan beramal shalih. Maka dosa-dosa (kejahatan) mereka akan Allah tukar dengan pahala (kebajikan). Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya. (QS. Al-Furqan : 70)

Itulah sedikit gambaran tentang Pengertian Zina dan Hukum Berzina Dalam Islam menurut Al Qur'an dan Hadits Rasulullah yang insya Allah bisa menambah pengetahuan bagi kita semua.
Dan semoga atas Perlindungan Alloh SWT kita dijauhkan dari dosa-dosa besar salah satunya seperti Zina tersebut.

AMIN YA ROBBAL AL-AMIN

SUMBER : ariepinoci.web.id

Thursday, January 4, 2018

Hukum Menikahi Wanita yang telah Hamil, Menurut Islam

Zaman sekarang sudah tak heran jika ada banyak orang dilingkungan kita yang menikahkan Putrinya dalam keadaan Hamil. Mereka lebih memilih menyembunyikan rasa malu daripada menanggung beban Dosa yang telah diperbuatnya di luar pernikahan.

Dan pada pembahasan ini kita akan membahas tentang hukum menikahi wanita yang sedang hamil.


Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam:

1- Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.
2-  Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini.

Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya, tidak boleh dinikahi sampai lepas ‘iddahnya. Dan ‘iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.”(QS. Al-Baqarah: 235)

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas ‘iddah-nya.” Kemudian beliau berkata: “Dan para ‘ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa ‘iddah.”

Adapun perempuan hamil karena zina, kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya.

Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‘Alim Al-Khabir, masalah ini di uraikan sebagai berikut:

Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak, dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para ‘ulama.

Secara umum para ‘ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina.

Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para ‘ulama:

1- Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah, Ishaq dan Abu ‘Ubaid.

2- Tidak disyaratkan taubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik, Syafi’iy dan Abu Hanifah.

Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa32/109:

Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan.

Tarjih di atas berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.”(QS. An-Nur: 3)

Dan dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata:

أَنَّ مَرْثَدَ بْنَ أَبِيْ مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَحْمِلُ الْأَسَارَى بِمَكَّةَ وَكَانَ بِمَكَّةَ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُقَالُ لَهَا عَنَاقٌ وَكَانَتْ صَدِيْقَتَهُ. قَالَ: فَجِئْتُ إِلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْكِحُ عَنَاقًا ؟ قَالَ: فَسَكَتَ عَنِّيْ فَنَزَلَتْ: ((وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ)) فَدَعَانِيْ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ. وَقَالَ: لاَ تَنْكِحْهَا

"Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) ‘Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, Saya nikahi ‘Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam, maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia.” (Hadits hasan, riwayat Abu Daud)

Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah)

Adapun para ‘ulama yang mengatakan bahwa kalimat ‘nikah’ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima’ atau yang mengatakan ayat ini mansukh(terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima’atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat, ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan.

Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik.

Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny berpendapat lain, beliau berkata:

 “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur’an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?”

Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat:

1. Ikhlas bertaubat karena Allah.
2. Menyesali perbuatannya.
3. Meninggalkan dosa tersebut.
4. Ber‘azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.
5. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan.

Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini.

Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah.

Para ‘ulama berbeda pendapat apakah lepas ‘iddah, apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak, ada dua pendapat:

Pertama: Wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry, An-Nakha’iy, Rabi’ah bin ‘Abdurrahman, Imam Malik, Ats-Tsaury, Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.

Kedua: Tidak wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikahdengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya.

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikahdengannya dan boleh ber-jima’dengannya, apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.

Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib ‘iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallambersabda tentang tawanan perang Authos:

لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعُ وَلاَ غَيْرُ حَامِلٍ حَتَّى تَحِيْضَ حَيْضَةً

“Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.”(HR. Ahmad)

2. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَسْقِ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.” (HR. Ahmad)

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

أَنَّهُ أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُلِمَّ بِهَا فَقَالُوْا نَعَمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ.

"Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.”

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil, apakah hamilnya itu karena suaminya, tuannya (kalau ia seorang budak-pent.), syubhat(yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent.) atau karena zina.”

Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib ‘iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syinqithy, Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daima.

Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan, maka ini ‘iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya, ‘iddahnya diperselisihkan oleh para ‘ulama yang mewajibkan ‘iddah bagi perempuan yang berzina. Sebagian para ‘ulama mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Dan ‘ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan ‘iddah perempuan yang ditalak.

Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry di atas. Dan ‘iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur’an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوْءٍ

Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid).” (QS. Al-Baqarah: 228)

KETERANGAN

1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu, bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas ‘iddah-nya.

2. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas ‘iddahadalah sebagai berikut:

• Kalau ia hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.

• Kalau ia belum hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut.

Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para ‘ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah.

Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242.

Jumhur (kebanyakan) ‘ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas ‘iddah-nya.”

Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi harambaginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan hal tersebut.

Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi’iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar ‘Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas ‘iddah. Wal ‘Ilmu ‘Indallah.

3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima’ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut.

Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan.

Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتُحِلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi’iy)

Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa ‘iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.

Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَآتُوا النِّسَاءَ صُدَقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author : “‘Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.”

Wallohua'lam Bisshowab