Thursday, May 31, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Ali Bin Abi Thalib

Loading...
Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Kekhalifahan Rasyidin dan Imam Syi'ah pertama, beliau dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam pada tanggal 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah.

Penyebab Kematian Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Tholib yang pada saat itu berumur 62 atau 63 tahun, meninggal karena luka-lukanya, dua hari setelah Abdurrahman bin Muljam memukul kepalanya dengan pedang yang dilapisi racun, pada tanggal 21 (atau 19) Ramadan 40 Hijriyah (28 Januari 661 M). Ali bin Abi Thalib adalah khalifah ketiga secara berturut-turut, setelah Umar dan Utsman, yang dibunuh.

Ali bin Abi Tholib menjadi khalifah setelah terbunuhnya Utsman pada tahun 656. Namun, dia menghadapi tentangan dari berbagai faksi termasuk Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Sebuah perang sipil, yang disebut Fitnah Pertama, terjadi di negara Islam awal yang mengakibatkan penggulingan Khalifah Rasyidin  dan berdirinya dinasti Umayyah.

Hal ini dimulai ketika Khalifah Utsman bin Affan dibunuh pada tahun 656 dan kemudian dilanjutkan melalui pemerintahan Ali selama empat tahun. Setelah Ali setuju untuk melakukan arbitrase dengan Muawiyah bin Abu Sufyan pada saat Pertempuran Shiffin(657), sebuah pemberontakan terjadi terhadap Ali yang dilakukan oleh beberapa anggota tentaranya, yang kemudian dikenal sebagai Khawarij ("mereka yang keluar").

Mereka membunuh beberapa pendukung Ali, namun mereka dihancurkan oleh pasukan Ali pada Pertempuran Nahrawan pada bulan Juli 658.

Pada suatu hari Abdurrahman bin Muljam bertemu dengan dua orang Khawarij lainnya yaitu Al-Burak bin Abdillah dan Amru bin Bakr at-Tamimi di Mekkah, dan menyimpulkan bahwa situasi umat Islam pada saat itu disebabkan oleh kesalahan Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash, Gubernur Mesir.

Mereka memutuskan untuk membunuh ketiganya agar menyelesaikan "situasi menyedihkan" pada masa mereka dan juga membalas dendam kepada teman-temannya yang terbunuh di Nahrawan. Bertujuan untuk membunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam menuju Kufah di mana dia jatuh cinta pada seorang wanita yang saudara dan ayahnya meninggal di Nahrawan.

Wanita tersebut setuju untuk menikah dengannya jika saja dia bisa membunuh Ali. Akibatnya, Ali ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam di Masjid Agung Kufah. Setelah kematian Ali, Abdurrahman bin Muljam dihukum matisebagai pembalasan oleh Hasan bin Ali.

Pada masa ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib RA. memanglah sangat berat. Hal itu karena pembangkangan penduduk Syam dan Irak, juga karena fitnah-fitnah yang banyak terjadi pada masa ke-khalifahannya. Setiap hari musibah semakin berat, krisis membelitnya, dan ia merasakan ajalnya semakin dekat. Ia berkata :

Kencangkanlah ikat pinggangmu untuk menjemput kematian,
Sesungguhnya kematian akan mendatangimu,
Jangalah engkau berkeluh kesah dari kematian,
Jika telah berhenti gurunmu.

Tiga orang dari golongan khawarij telah bersekongkol hendak membunuh Ali bin Abu Thalib, Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Amru bin Ash. ketiganya pun hendak dibunuh pada hari yang sama, yaitu pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan. Mereka bersepakat bahwa Abdurrahman bin Miljam-lah yang akan membunuh Ali RA.

Ibnu Miljam mengasah pedangnya selama 40 hari. Lalu, sampailah ia ke Kufah dan di sana ia bertemu dengan seorang wanita Khawarij yang membuatnya merasa kagum terhadapnya. ia kemudian meminangnya dan wanita tersebut meminta maharberupa kepala Ali bin Abu Thalib.

Ali bin Abu Thalib merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Sehari ia makan pagi di tempat Al-Hasan, sehari berikutnya di tempat Al-Husain, dan sehari lagi di tempat Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib. Ia tidak makan melainkan hanya dengan beberapa suapan saja. Tatkala ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku lebih suka bertemu dengan Allah dalam keadaan lapar hingga aku dapat merasakan nikmatnya berjumpa dengan Rabb-ku."

Pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan, seperti biasanya ia bangun dari tidurnya kemudian memgerjakan shalat malam. Setelah itu, ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh bersama kaum muslimin. lalu, terdengarlah suara ayam berkokok hingga para wanita terbangun dan hendak mengusir ayam-ayam tersebut. Ali RA.berkata, "Biarkan mereka. Mereka tengah mengabarkan kematian kepadaku."

Lalu, ia pun keluar. Sesampainya di luar, ia diserang dan disabet beberapa kali dengan pedang oleh Ibnu Miljam. Pukulan itu begitu keras hingga jenggotnya berlumuran darah. Sesudah itu, Ali tersenyum seraya berkata, "Benar kata Rasulullah."

Amirul Mukminin lantas dibawa kerumahnya. Abdurrahman bin Miljam didatangkan kehadapannya dalam keadaan tangannya terikat di belakang. Ali RA. kemudian berkata kepadanya, "Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu? Tidakkah aku telah berbuat baik kepadamu?"

Ibnu Miljam lantas menjawab, "Pedangku ini telah ku asah selama empat puluh malam yang akan kupergunakan untuk membunuh orang yang paling jahat." Ali RA.kemudian berkata lagi, "Justru kamu yang akan dibunuh dengannya.

Ali RA. kemudian berkata kepada anak-anaknya, "Muliakan dan berbuat baiklah kepadanya. Jika aku hidup, aku tahu pendapatku tentangnya. Dan jika aku mati maka bunuhlah ia dengan pedang itu dan janganlah kalian menyalibnya, serta jangalah kalian membunuh seorang pun selainnya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas."

Selama dua hari keadaan Amirul Mukminin sangat lemah dan tidak sepatah kata pun terucap dari mulutnya, kecuali hanya kalimat "La Ilaha Ilallah." Lalu, ia pun wafat dan dikafani oleh Al-Hasan dan Al-Husain kemudian dikuburkan di Kufah.

Setelah itu Al-Hasan diangkat menjadi Khalifah. Hal itu hanya berlangsung enam bulan saja. Kemudian ia melepaskan kekhalifahan kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan hingga fitnah berakhir secara sempurna, dan tahun tersebut dinamakan dengan Tahun Jama'ah.

Wallohua'lam Bisshowab


EmoticonEmoticon