Kisah Kemenangan Cinta Rama dan Shinta dalam Ramayana, Kerajaan Ayodia

Sri Rama dan Dewi Shinta

Di dalam peperangan, pasukan Rama sebenarnya nyaris kalah, jika saja dewa tak mendengar doa tulus Shinta dan menurunkan busur sakti untuk mengalahkan Rahwana.

Rama tak tahu hal ini, ia menganggap kemenangan ini karena strategi dan keberpihakan dewa kepadanya untuk membunuh Rahwana yang lalim. Namun dewa tak tega pada ketulusan Rahwana terhadap Shinta, jasad Rahwana yang tergolek tak bernyawa diangkat dewa ke nirwana, disucikan dan ia bereinkarnasi menjadi resi, untuk menebus dosa-dosanya di masa lampau, ia bertapa menjauhkan diri dari keinginan memiliki Shinta, namun cintanya tetap tulus hanya untuk Shinta tak sedikit pun Rahwana ingin menikah dengan wanita lain setelah ia menjadi resi.

Shinta yang telah mendengar kabar bahwa Rama memenangkan peperangan dan mengharap kedatangan Rama untuk menjemputnya di taman Asoka ternyata tak jua menjadi nyata. Betapa suaminya sangatlah angkuh, Shinta dijemput oleh Laksmana karena Rama tak sudi menginjakkan kaki di istana Alengka. Shinta patah hati, setelah bertahun-tahun merindukan suaminya, ternyata Rama tak merindukannya, karena kalau Rama merindukannya ia pasti bergegas datang menjemput Shinta langsung di taman Asoka.

Kalaupun Rama merindukannya, rindunya kalah oleh egonya. Namun Shinta paham, suaminya sejatinya adalah seorang raja meski tanpa kerajaan, ada batas-batas prinsip yang dipegangnya untuk menunjukkan wibawa. Maka dengan hati lapang Shinta memaafkan Rama dan tersenyum saat memeluknya di istana kerajaan Kosala.

Di istana, Bharata sang adik tiri merasa bahwa Rama lebih berhak atas tahta dibandingkan dirinya, maka ia meyakinkan ibunya untuk tak mendendam lagi terhadap Rama, dan merelakan kedudukannya sebagai raja. Sekali lagi Rama menjadi pahlawan bukan karena dirinya, tetapi karena kebaikan orang-orang disekelilingnya.

Ia diangkat menjadi raja Kosala, dan memerintah di istana bersama Shinta. Namun, ibu tiri Rama tak menyerah begitu saja, meski ia tahu anaknya tak lagi mau menduduki singgasana raja, ia tetap tak rela Rama menjadi raja. Maka disebarkannya berita tentang Shinta yang tak lagi suci, dihasutnya rakyat untuk meminta pembuktian ratu mereka, diguncangnya pemerintahan Rama yang baru saja dikukuhkan.

Lagi-lagi Rama kalah terhadap egonya, ia mempertanyakan kesucian Shinta, meski Shinta berulang kali menjelaskan bahwa Rahwana tak pernah sekalipun menyentuhnya, Rama tak percaya. Lalu Shinta yang tak tahu harus bagaimana membuktikan pada Rama hanya bisa berdoa agar dewa memberikan petunjuk padanya.

Di hari yang telah ditentukan, Shinta meminta Rama untuk menyiapkan api unggun di pelataran istana, ia berkata bahwa meski seluruh dunia tak percaya padanya seharusnya Rama sebagai suaminya yang paling mengenal dirinya adalah orang yang akan tetap percaya padanya, karena itu yang akan Shinta lakukan jika seluruh dunia berpaling dari Rama maka dirinya adalah orang terakhir yang akan selalu berada disampingnya.

Namun Rama yang telah goyah kepercayaannya malah memalingkan muka saat istrinya masuk ke dalam api yang berkorbar, setengah hatinya percaya bahwa istrinya tak bersalah tapi setengah lagi berharap agar istrinya membuktikannya pada dunia agar tak ada lagi suara-suara sumbang yang menggoyah pemerintahannya.

Disaatat Rama bersiap untuk berduka, karena sebagai manusia biasa tak mungkin istrinya selamat dari api, ternyata dewa Agni mendengar doa Shinta dan melindunginya dari panasnya api, bahkan sehelai rambut dan ujung gaunnya pun tak tersentuh api. Shinta melangkah keluar dari kobaran api dengan anggun, rakyat terpana dan percaya bahwa dewa memang melindungi Shinta, yang berarti bahwa Shinta tak bersalah.

Rama bahagia. Pertama, karena ia mendapatkan istrinya kembali dan yang kedua kini tak ada lagi yang akan mempertanyakan keadilannya sebagai seorang raja, karena bahkan ia rela meminta istrinya masuk ke dalam api untuk membuktikan kesuciannya. Keegoisan Rama dibalas cinta sempurna Shinta.

Beberapa bulan kemudian Shinta menunjukkan tanda-tanda bahwa ia hamil. Seluruh rakyat Kosala bersuka cita menanti pewaris tahta dari raja yang mereka cintai. Namun bagi Kaikeyi, ibu tiri Rama, berita ini adalah bencana. Jika Rama memiliki pewaris maka hilang sudah kesempatan bagi Bharata, putranya, untuk menjadi raja menggantikan Rama. Hal ini tak boleh dibiarkan.

Maka dibuatlah rencana untuk membuang Shinta, ibu tiri Rama meminta Rama dan Bharata untuk berburu burung yang sangat indah bulunya karena ia mendengar bahwa tak ada seorang pun yang memiliki burung itu, ia ingin sekali memilikinya. Dengan khidmat, kedua putra nya tersebut tanpa curiga memenuhi keinginan ibu mereka, Laksmana yang tak bisa terpisahkan dari Rama curiga bahwa ini jebakan ibu tiri mereka untuk membunuh Rama, ia membuntuti kedua ksatria tersebut. Laksmana salah. Karena yang diincar Kaikeyi bukanlah Rama melainkan Shinta.

Shinta dibuang ke suatu tempat yang sangat jauh, ditutup matanya agar tak bisa kembali ke Kosala. Pada Rama yang baru saja kembali dari perburuan, dikatakan bahwa Shinta yang tengah mencari buah di hutan dekat istana hilang tanpa kabar. Para pengawal dan Rama langsung menyusuri hutan dan mencari tanda-tanda keberadaan Shinta. Tentu saja mereka tak menemukan sedikit pun tanda yang bisa menjadi petunjuk dimana Shinta berada.

Pencarian dilakukan berminggu-minggu, hingga akhirnya Rama putus asa dan menyerah. Ia akhirnya mengumumkan bahwa istrinya hilang dan mungkin saja telah mati dimakan hewan buas atau raksasa. Rama berduka, rakyat Kosala berduka, Kaikeyi tersenyum menang. Akhirnya, impiannya untuk menempatkan Bharata sebagai raja menunjukkan titik terang.

Shinta, yang dibuang ke hutan sendiri dan kelaparan tak kuasa menahan tangisnya, ia meratapi nasibnya dan bertanya pada dewa mengapa terus-menerus ia menderita. Ratapan Shinta terdengar oleh resi yang sedang bertapa di dalam gua yang terletak tak jauh dari tempat Shinta berada.

Biasanya suara apapun tak pernah mengganggu tapa sang resi, meski petir dan badai sekalipun tak pernah menggoyahkan keteguhan semedinya. Namun ratapan tangis perempuan ini sanggup menyayat hatinya, membuatnya tak mampu berkonsentrasi memanjatkan puja pada sang dewata.

Ia memutuskan keluar dari guanya dan mendapati Shinta yang terduduk dengan baju terkoyak tak berdaya, saat itu dia terkejut, jelas baginya mengapa tapanya terganggu, wanita yang paling dicintainya sedang menangis tersedu. Ia adalah Rahwana yang telah bereinkarnasi menjadi resi.

Shinta yang tak lagi mengenali Rahwana yang telah menjadi Resi merasa sangat tertolong. Sang resi memberinya tempat berteduh di dalam gua dan mencarikan makanan untuk dirinya. Shinta mulai menerima kenyataan bahwa takdir mungkin harus memisahkannya dari Rama, ia tak lagi meratap dan bersedih, rasa cintanya kepada Rama terlalu besar. Hingga saat ia melahirkan kedua anak kembarnya, Kusa dan Lawa, selalu diajarkan kepada anak-anaknya tentang kehebatan ayah mereka.

Rahwana yang telah menjadi resi merasa dewa mengabulkan doanya. Meski tak menikahi dan memiliki Shinta, ia mampu melindungi Shinta dan bahkan membesarkan anak-anak Shinta layaknya anaknya sendiri. Kini hidupnya telah lengkap, berada disisi wanita yang sangat dicintainya tanpa dibenci oleh Shinta bahkan sekarang Shinta menatapnya dengan pandangan hormat, ia tak pernah meminta lebih dari ini. Bahagia itu sederhana, melihat Shinta-nya tersenyum setiap hari, sehat dan tak membencinya, sudah cukup baginya.

Sepuluh tahun berlalu, Rama yang sedang melakukan kunjungan ke kerajaan sekutu, melewati hutan tempat tinggal Shinta. Ia mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Kusa dan lawa yang sedang bermain. Lagu yang menceritakan kehebatan dirinya.

Didatanginya kedua anak leleki tersebut, dan ia meminta mereka bercerita siapa diri mereka. Dari cerita Kusa dan Lawa, ia sadar bahwa Shinta belum mati dan kedua anak tersebut adalah anaknya. Maka diboyonglah Shinta dan kedua anaknya ke Ayodhia, meninggalkan Resi yang kali ini telah rela ditinggalkan oleh Shinta dan melanjutkan tapanya tanpa tertinggal keinginan duniawi lagi dan akhirnya diterima dewa dan diangkat ke nirwana.

Ditengah kebahagiaan Rama yang berkumpul kembali dengan istri dan anaknya, Kaikeyi menyebarkan sangsi tentang anak-anak Shinta dan dengan cepat rakyat Kosala lagi-lagi terpedaya. Shinta yang kali ini mendengar kabar tersebut, sebelum sempat terucap kalimat ketidakpercayaan Rama (karena ia melihat mata Rama yang mulai menatapnya tak percaya) ia berdoa kepada dewa Bumi agar menerimanya jika memang kedua anak tersebut merupakan anak kandung Rama dan dirinya tetap suci.

Rama yang tidak sempat mencegah doa Shinta hanya mampu menatap bumi yang terbelah dan menelan Shinta yang meneteskan air mata. Rama terguncang, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa istri yang sangat ia cintai telah meninggalkannya karena dirinya tak mampu meyakinkan rakyatnya bahwa istrinya tak bersalah, bahwa Shinta adalah wanita yang menjaga kesuciannya, dimanapun ia berada. Maka Rama meninggalkan tahtanya dan menjadi petapa, untuk menebus seluruh dosa-dosanya terhadap Shinta.

Sekian...!!

Belum ada Komentar untuk "Kisah Kemenangan Cinta Rama dan Shinta dalam Ramayana, Kerajaan Ayodia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel